You are on page 1of 33

APPENDISITIS

INSIDENS

 Abdomen akut yg tersering


 Dekade 2 dan 3; paralel dg jar limfe
apendiks, jarang pd bayi
 Banyak pada laki-laki;
laki-laki : perempuan = 1.3 : 1
 Saat ini insidens cenderung turun
ANATOMI

 65% intraperitoneal
 Persarafan
 parasimpatis : N. vagus
 simpatis : N. thorakalis X
 Pendarahan
 A. appendicularis (end artery) cabang
A. ileocolica
ANATOMI
FISIOLOGI

 Jar limfe umur 2 mgg, puncaknya


12 – 20 th : 200 bh
 Imunoglobulin A  GALT ( gut associated
lymphoid tissue)
 Hubungan appendektomi dengan Ca
colon dan kekebalan?
 Radang appendiks sering pada
* dewasa muda ?
ETIOLOGI

 Diit
Rendah serat  fekalit
Fekalit : 52% di Canada
23% di Afrika
 Obstruksi
* fekalit
* hiperplasia kel limfe
ETIOLOGI
ETIOLOGI

 Flora colon
60%  pd appendisitis anaerob
25%  pd normal apendiks anaerob

* E. coli * Streptococcus
* Bacteroides * Pseudomonas
PATOFISIOLOGI

 Sumbatan lumen :
* fekalit
* jaringan limfe
* konstipasi  sumbatan fungsional
 Radang mukosa
 Radang seluruh lapisan
 Nekrosis jaringan
PATOFISIOLOGI

 Periappendicular mass
* usaha tubuh untuk melokalisir infeksi
* berhasil bila pertahanan tubuh kuat; pada
dewasa muda--- jarang pada anak / geriatri
* bila berhasil  infeksi mereda sikatriks
* terdiri dari organ / jar sekitar appendiks
- omentum
- usus halus
- adnexa
PATOFISIOLOGI

 Berdasarkan patologi :
* Appendicitis catarrhalis
* Appendicitis suppurativa
* Appendicitis gangrenosa
* Appendicitis perforata
* Appendicitis chronica
PATOFISIOLOGI

 apendisitis  perforasi  peritonitis


 apendisitis  massa periapendikuler  sembuh
 diurai  kronis
 apendisitis  massa periapendikuler  abses 
peritonitis
 apendisitis  massa periapendikuler  perforasi
 peritonitis
KELUHAN

 Mual (hampir semua)


 Nyeri perut
* diffuse, sekitar umbilikus  nyeri
visceral
* menetap di kanan bawah  nyeri
somatik
 Muntah
 Demam
PEMERIKSAAN FISIK

 Berbaring, tungkai dilipat


Posisi nyaman baring telentang, tungkai dilipat
 Nyeri bila bergerak atau batuk
 Demam
 Hiperestesi sekitar pusat
( N Th 10, 11 dan 12)
PEMERIKSAAN FISIK

 Rovsing’s sign
 Psoas sign
posisi dimana patient berada pada sisi samping dan
mengarahkan pinggul ke kanan
 Obturator sign
posisi dimana pasien terlentang dan kemudian berputar
menekuk paha kanan ke dalam, dari lateral ke medial
LABORATORIUM

 Lekosit
Mula-mula normal; perlu serial
 Urinalisis
Membedakan dg UTI; atau apendix dekat ureter
 Tes kehamilan
KET ? Jangan percaya anamnesis
 Amilase
Pankreatitis
IMAGING

 Foto polos abdomen


perubahan sebaran gas, fekalit
 Apendikogram
bila terisi penuh  bukan apendisitis
 Ultrasonografi
 CT - scan
IMAGING
DIAGNOSIS

 riwayat → riwayat classic dari nyeri


* onset * radiation
* quality * gejala penyerta
* location * perpindahnnyeri ke RLQ

 riwayat masa lalu


* post laparotomy
* setelah nyeri RLQ
* masalah kesehatan lain yang
berhubungan
* riwayat obgyn dan terakhir mens (
tanggal )
DIAGNOSIS

 Nyeri pada saat batuk / gerakan


 Facial flush
 Perlunakan pada titik mc burney
 Kegawatan pada titik mc burney
 Pemeriksaan rectal : > nyeri pada bagian kanan
 Pemeriksaan pelvis : discharge / adnexa
perlunakan ( - )
 suhu
DIAGNOSIS

 Urinalysis
* WBC * RBC
* pregnancy test
→ pyuria terjadi ketika terjadi radang pada appendix yang
terletak dekat dengan urether / kandung kemih
 tes darah :
* WBC: mild leukcytosis 10.000 – 18.000/mm3
* shift to the left / PMN predominance
 (Imaging)
DIAGNOSIS
 Alvarado score
* Leukocytosis (>10.000) = 1 pt
* Shift to the left (>75%) = 1 pt
* perpindahan nyeri = 1 pt
* anorexia = 1 pt
* nausea / vomiting = 1 pt
* perlunakan RLQ = 2 pts
* rebound tenderness = 1 pt
* peningkatan suhu = 2 pts
DIAGNOSIS

Alvarado Score :

5 – 6 pts  sesuai

6 – 7 pts  ragu

8 – 9 pts  sangat
meragukan
KESALAHAN DIAGNOSIS
15 – 20%
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 keadaan dimana appendix berada


diatas caecum
* cholecystitis
* perforated duodenal ulcer
* hydronephrosis / perinephric abscess
* pneumonia w/ pleurisy
* hepatitis
* pancreatitis
* ginjal / batu urethra
* torsi omental
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 Keadaan dimana appendix didalam posisi illium


* Acute mesenteric adenitis
* Perforated duodenal ulcer
* Crohn’s disease
* Cecal carcinoma
* Lymphoma
* batu urethra
* Virus infection, tb infection
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

* Psoas abscess
* Cecal ulcer
* Typhoid fever
* Primary peritonitis
* radang pada diverticulum meckel’s
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 keadaan dimana appendix berada


dalam posisi pelvis
* Intestinal obstruction
* Diverticulitis colon
* Perforation typhoid ulcer
* Gastroenteritis
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 pada wanita
* kehamilan ectopic
* ruptur kista ovarii
* PID
* Ruptured graafian follicle (Mittelschmerz)
* Ruptured corpus luteum cyst
* Endometriosis
* torsi ovarium

DIAGNOSIS PAR – EXCLUSIONAM !!!


KOMPLIKASI

 Ruptur / perforasi
* sebelah distal sumbatan / fekalit
* antimesenterial
* terjadi pada 15 – 25% kasus, terutama
pada anak-anak dan geriatri
* memperburuk prognosis
TERAPI

 Apendisitis akut
Operatif  apendektomi (appendicectomy) ter-
buka atau laparoskopi
 Apendisitis dg massa periapendikuler
bila ada abses atau massa tidak terfiksir 
operasi apendektomi
 Apendisitis perforasi  operasi
 Apendisitis kronis  operasi
TERAPI

 Massa periapendikuler / apendiks


infiltrat yg fixed
* operasi
* konservatif / expectant treatment
. Bed rest, diit lunak
. Wbc
. Besar / konsistensi massa
. Nyeri tekan
. Suhu badan
 tanda-tanda perforasi  operasi
TERAPI

 Antibiotik
Pada apendisitis yg tidak perforasi diberikan
24 jam
Pada apendisitis perforasi dan dengan massa
periapendikuler diberikan sampai demam
hilang dan lekosit normal

Antibiotika yg diberikan:
Clindamycin kombinasi dg aminoglikosida
atau sesuai kultur
Cefalosporin generasi 3 - 4
PROGNOSIS

 Apendisitis tdk ruptur


prognosis baik, mortalitas kurang dari 0.1%
 Apendisitis ruptur
prognosis lebih buruk, kematian rata-rata 3%
pada geriatri kematian sampai 15%

kematian karena sepsis, komplikasi penyakit


yg sudah ada (DM,jantung), dehisensi luka,
adhesi