You are on page 1of 51

PRE EKLAMPSIA BERAT

Disusun oleh:
Dr. Arina Setyaningrum
Pembimbing:
Dr. Khairul Amin D, Sp.OG
Dr. Merlin Mariandari
BAB I STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN

• Nama : Ny. S
• Umur : 35 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Alamat : Jl. Samarinda-Bontang
Km. 69 Marangkayu
• Agama : Islam
• Status dlm Keluarga : Isteri
• Masuk RS : 17 Januari 2018
• Nomor RM : 08-18-XX
ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA : Tekanan darah tinggi


RPS : - Seorang G4P3A0 35 tahun
- UK:39-40 minggu kontrol rutin kehamilannya di Poli Kandungan
- Dari pemeriksaan tanda vital diketahui pasien tekanan darahnya tinggi
- Pasien merasa hamil 9 bulan
- Gerakan janin masih dirasakan
- Kenceng-kenceng masih belum dirasakan
- Air kawah sudah dirasakan keluar, lendir darah(+)
- Keluhan nyeri kepala(+), pandangan kabur(-), mual(-), muntah(-)
Pasien memeriksakan kehamilan di bidan 1 bulan sekali dan di dokter kandungan 2-3
minggu sekali.
RPD : Riw. Hipertensi(-), TD diketahui tinggi saat periksa di poli Kandungan;
Riw. DM(-); Riw. Asma(-); Riw. Alergi(-); Riw. Jantung(-)
RPK : Riwayat Keluarga Sakit Serupa (-)
ANAMNESIS

RIWAYAT OBSTETRI : I : Laki-laki, 17 tahun, BBL 1700 g, spontan, di klinik bersalin


II : Perempuan, 12 tahun, BBL 2900 g, spontan, di rumah
III : Perempuan, 8 tahun, BBL 3000 g, spontan, di klinik bersalin
IV : Hamil saat ini

RIWAYAT MENSTRUASI : - Menarche : Usia 14 tahun


- Lama haid : 5-7 hari
- Siklus haid : Teratur

RIWAYAT PERNIKAHAN : - Menikah : 1 kali


- Lama pernikahan : 19 tahun

RIWAYAT KONTRASEPSI : Pasien tidak pernah menggunakan kontrasepsi


PEMERIKSAAN FISIK UMUM

KEADAAN UMUM
KU : Baik
Kesadaran : Compos Mentis (GCS E4 V5 M6)
BB : 71 kg
TB : 155 cm

TANDA VITAL
Tekanan Darah : 190/130 mmHg
Nadi : 90x/menit, kuat angkat, reguler
RR : 20x/menit
S : 36o C, peraxiler.
GENERAL SURVEY

1 2 3 4 5 6

TELINGA
TENGGOROKAN
KEPALA

MATA

HIDUNG

MULUT
• Bentuk • Uvula di • Odema • Napas • Mukosa • Daun
mesosefal tengah palpebra cuping basah (+) telinga
• Rambut • Mukosa (+/-) hidung (-/-) dalam
• Konjungtiva • Sianosis batas
warna faring • Sekret (-/-)
hitam hiperemis anemis (-/-) (-) normal
• Darah (-/-)
(-) • Sklera • Gusi • Sekret (-/-)
• Sukar
ikterik (-/-) berdarah
dicabut • Tonsil T1 - • Mastoid
• Mata cekung
• Moon face T1
(-/-)
(-) pain (-/-)
(-) • Pseudome • Air mata • Tragus
mbran (-) (+/+) pain (-/-)
• Pupil isokor
(3mm/3mm)
• Reflek
cahaya (+/+)
Leher :
PEMERIKSAAN FISIK • Bentuk normocolli
• Limfonodi tidak membesar
• Glandula thyroid tidak membesar
• JVP tidak meningkat
• Kaku kuduk (-)

Jantung:
• Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
• Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
• Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
• Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)

Thorak:
• Normochest
• Retraksi (-)
• Gerakan simetris kanan kiri

Pulmo:
• Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri
• Palpasi : fremitus raba dada kanan = kiri
• Perkusi : sonor /sonor di seluruh lapang paru
• Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK

Abdomen :
• Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi daripada dinding dada
• Auskultasi : bising usus (+) normal
• Perkusi : timpani, undulasi (-), pekak beralih (-),
• Palpasi: supel, NT (-), teraba janin tunggal, memanjang, puka, preskep, kepala
masuk panggul 1/3 bagian, his (-), djj (+) 148x/mnt, TFU: 29 cm.

Genitalia:
V/U tenang, dinding vagina dbn, portio lunak, pembukaan 2 cm, kepala
hodge I, penunjuk belum dapat dinilai, AK (+), KK (+), STLD (+)

Ekstremitas superior:
kanan = kiri simetris, oedem (-), akral dingin(-), CRT < 2 detik,

Ekstremitas inferior dextra et sinistra:


kanan = kiri simetris, oedem (+), akral dingin(-), CRT < 2 detik, ADP teraba kuat dan cepat
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN


Hb 12.4 gr% 12-16
Leukosit 12.200 /mm3 5.0-10.0
Hct 33 % 40.0-48.0
Trombosit 160.000 /mm3 200.000 – 400.000
MCV 87 fL 80 - 94
MCH 33 Pg 28 – 32
MCHC 38 % 32 – 36
Eos 2 1-3
Bas 1 2-6
Stab 0 2-6
Segment 70 50 – 70
Lymphosit 9 20 – 40
Monosit 4 2–8
Protein urin +2
DIAGNOSIS : Pre-Eklampsia Berat
TATA LAKSANA VK RENCANA TINDAKAN : Sectio Caesaria
PS-ASA :2
TEKNIK ANESTESI : Epidural Anesthesia
POSISI : Supine
• IVFD RL 20 tpm
• O2 NK 5 lpm
• Nifedipine tablet 10 mg p.o
• Induksi gastrul pervagina ¼ tablet -> tunda
• Observasi Tekanan Darah 1 jam post Nifedipine -> TD: 200/140
• Konsul dr. Khairul, Sp.OG -> Sectio Caesaria cito
 Inj. Cefotaxime 2g iv
 Inj. MgSO4 Bolus pelan 4 gr MgSO4 (dosis awal)
 Drip MgSO4 6 gr dalam RL 1 kolf 28 tpm (dosis lanjutan)
• Konsul anestesi ke dr. Helda, Sp.An -> acc anestesi
 IVFD RL 20 tpm
 EKG
• Informed consent untuk operasi
• Pasien dipuasakan
ALUR PENANGANAN PASIEN

18-01-2018
17-01-2018 17-01-2018 17-01-2018
17-01-2018 (01.00)
(23.00) (23.30) (00.00)
(22.00) Pasien
Konsul ACC Operasi
Masuk dipindah ke
Obgyn dan tindakan Sectio
MBCU ruangan
Anestesi anestesi Caesaria
Shafa 2
TERAPI POST OPERASI

- Drip oxytocin 2 ampul masing2 dalam IVFD RL:D5% = 1:1 28 tpm


- O2 NK 5 lpm
- Terpasang monitor
- Inj. Cefotaxime 2x1
- Inj. Ranitidine 2x1
- Inj. Ketorolac 3x1
- Inj. Vit C 2x1
- Fentanyl SP 1cc/jam
- Nifedipine tab 3x1 p.o
FOLLOW UP (NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

18 Januari Nyeri luka • TD: 140/85 P4A0 post SC ec • Drip oxytocin 2 ampul
2018 bekas • N: 86x/m PEB hari ke-0 masing2 dalam IVFD
(07.00) operasi • RR: 20x/m RL:D5% = 1:1 28 tpm
• T: 36 ‘C • O2 NK 5 lpm
• Terpasang monitor
• Terpasang DC : urin • Inj. Cefotaxime 2x1
tampung 550cc warna • Inj. Ranitidine 2x1
kuning • Inj. Ketorolac 3x1
• Inj. Vit C 2x1
• TFU sepusat • Fentanyl SP 1cc/jam
• Perdarahan normal • Nifedipine tab 3x1 p.o
• UC keras • Obs PPV
• Flatus (-)
FOLLOW UP (NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

19 Januari Nyeri • TD : 120/80 P4A0 post SC ec • Drip oxytocin 2 ampul


2018 luka • N : 88x/m PEB hari ke-1 masing2 dalam IVFD
(07.00) bekas • RR : 20x/m RL:D5% = 1:1 28 tpm
operasi • T : 36 ‘C • O2 NK 5 lpm
• Inj. Cefotaxime 2x1
• Terpasang DC : urin • Inj. Ranitidine 2x1
tampung 500cc warna • Inj. Ketorolac 3x1
kuning • Inj. Vit C 2x1
• Fentanyl SP Aff
• TFU sepusat • Nifedipine tab 3x1 p.o
• Perdarahan normal
• UC keras
• Flatus (+)
FOLLOW UP (NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

20 Januari Nyeri luka • TD: 140/85 P4A0 post SC ec • Infus Aff


2018 bekas • N: 88x/m PEB hari ke-2 • BLPL, Obat pulang:
(07.00) operasi • RR: 20x/m Molocco 3x1,
• T: 36 ‘C cefadroxyl 2x1, asam
mefenamat 3x1, vip
• DC : aff albumin 1x1
• Kontrol dr. Khairul,
• TFU 2 jari bawah pusat Sp.OG satu minggu
• Perdarahan normal lagi
• UC keras
• Flatus (+)
FOLLOW UP (Bayi NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

18 Januari - • KU : Baik NCB SMK post SC Observasi


2018 • Suhu : 37’C e.c PEB hari ke-0
• BB : 4000 gr
• GDA : 72
• APGAR Score: 8-9-10
• ASI : +
• BAB/BAK : +/+
• TT : + , LT : + min
FOLLOW UP (NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

19 Januari - • KU : Baik NCB SMK post SC Observasi


2018 • Suhu : 37’C e.c PEB hari ke-1
• BB : 4000 gr
• GDA : 72
• APGAR Score: 8-9-10
• ASI : +
• BAB/BAK : +/+
• TT : + , LT : + min
FOLLOW UP (NY. S)

TANGGAL SUBJECT OBJECT ASSESSMENT PLAN

20 Januari - • KU : Baik NCB SMK post SC • BLPL


2018 • Suhu : 37’C e.c PEB hari ke-2 • kontrol dr. Made, Sp.A
• BB : 4000 gr satu minggu lagi
• GDA : 72
• APGAR Score: 8-9-10
• ASI : +
• BAB/BAK : +/+
• TT : + , LT : + min
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih merupakan


salah satu yang tertinggi di negara Asia Tenggara.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2012, AKI di Indonesia sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Empat penyebab utama kematian ibu adalah
perdarahan (30%), hipertensi dalam kehamilan (25%),
abortus dan infeksi (12%)
PENDAHULUAN

• PEB :hipertensi dalam kehamilan yang ditandai dengan hipertensi (TD ≥ 160/110 mmHg)
dan Proteinuria (uji celup urin +1) atau tanpa proteinuria tetapi terdapat hipertensi
yang baru muncul disertai salah satu tanda berikut :
 trombositopenia, insufisiensi renal, gangguan fungsi hat i , edema paru, dan keluahan
serebral atau visual
• Edema pret i bial bukan tanda khas preeklampsia.
• Bila terdapat edema anasarka, menjadi petanda perburukan keadaan preeklampsia.
TERMINOLOGI

• Hipertensi Kronik
Hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu ATAU pertama kali
didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12
minggu pasca persalinan

• Preeklampsia
Hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria

• Eklampsia
Preeklampsia yang disertai kejang kejang atau koma

• Hipertensi Kronik Superimposed preeklampsia


Hipertensi kronik disertai tanda preeklampsia atau proteinuria

• Hipertensi Gestasional/transient hypertension


Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan menghilang
setelah 3 bulan pasca persalinan (dapat disertai tanda tanda preeklampsia)
TERMINOLOGI

• Hipertensi :
– TD sistolik ≥ 140 mmHg, diastolik ≥ 90 mmHg,
pengukuran dilakukan minimal 2x (interval 4 jam)

• Proteinuria :
– 300 mg protein dalam urin 24 jam atau ≥ +1
dipstick
PATOFISIOLOGI PRE-EKLAMPSI

Spasmus arteriola spiralis desidua

Menurunnya aliran darah ke plasenta

Gangguan fungsi plasenta

Menurunnya aliran nutrisi, oksigen dan Lainnya

Kegagalan aliran nutrisi sebagai akibat tumbuh


kembang plasenta
PATHOGENESIS PRE-EKLAMPSI
PATHOGENESIS PRE-EKLAMPSI
IMUNO PATHOGENESIS
IMUNO PATHOGENESIS
IMUNO PATHOGENESIS

Summary of the pathogenesis of preeclampsia Immune


factors (such as AT1-‐AA), oxidative stress, NK cell
abnormalities, and other factors may cause placental
dysfunction, which in turn leads to the release of anti--
‐angiogenic factors (such as sFlt1 and sEng) and other
inflammatory mediators to induce hypertension,
proteinuria, and other complications of preeclampsia.
PENATALAKSANAAN

• DIAGNOSTIK LANJUTAN
• TERAPEUTIK
 Medisinalis : antihipertensi, MgSO4, kortikosteroid, dll
 Operatif : EF, EV atau SC
 Paliatif : stadium terminal
• EDUKATIF
 Merupakan komponen terpenting dalam tatalaksana pasien
dengan PEB, berikan penjelasan dengan bahasa awam yang
mudah dipahami, pastikan pasien dan keluarga sudah
mengerti akan apa yang direncanakan, risiko, dan
kemungkinan kematian. Dokumentasikan kegiatan edukasi
ini secara tertulis
PENATALAKSANAAN

MAGNESIUM SULFAT : Mencegah terjadi kejang/eklampsia


• DOSIS AWAL :
• 4 gr MgSO4 (10 ml konsentrasi 40% atau 20 ml konsentrasi 20%) IV
selama 5 - 8 menit (kecepatan 0,5 -1 gr per menit)
• Untuk 10 ml konsentrasi 40% dilarutkan menjadi 20 ml dengan aquadest

• DOSIS PEMELIHARAAN :
• Lanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%) atau 6 gr dalam larutan Ringer Asetat /
Ringer Laktat selama 6 jam (1 gr per Jam)
• Jika terjadi kejang ulangan, berikan MgSO4 2 gr IV selama 5 menit
• Infus MgSO4 1 gr / jam diberikan hingga 24 jam pascapersalinan/setelah bayi
lahir
PENATALAKSANAAN

MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMSIA DAN EKLAMPSIA


SEBELUM PEMBERIAN MgSO4, LAKUKAN PEMERIKSAAN :
• Frekuensi pernafasan ≥ 16 kali/menit
• Refleks patella (+)
• Urin minimal 25 ml/jam dalam 4 jam terakhir

HENTIKAN PEMBERIAN MgSO4, JIKA :


• Refleks patella (-), bradipnea (<16 kali/menit)
• Jika terjadi henti nafas  Bantu pernafasan dengan pernapasan buatan/ventilator
• Urin ≤ 20 ml/jam

ANTIDOTUM
• Berikan Calsium glukonas 1 g (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai
pernafasan mulai lagi
PENATALAKSANAAN

Anti Hipertensi : Target penurunan tekanan darah


adalah sistolik < 160 mmHg dan diastolik < 110 mmHg
• Pilihan pertama adalah nifedipin oral short acting,
hidralazine, dan labetalol parenteral
KONTRAINDIKASI KONSERVATIF
PENATALAKSANAAN • Keluhan menetap atau hipertensi berat
• Eklampsia, edema paru, sindrom HELLP
PEB • Disfungsi Ginjal bermakna, koagulopati
• Rawat Ruang PONEK • Solusio Plasentae
• Evaluasi Ibu dan Janin • Janin Previable
• Terapi MgSO4 • Gawat Janin
• Antihipertensi
ADA TIDAK ADA

OBSERVASI AWAL 24-48 JAM


• Kortikosteroid untuk pematangan paru
• Evaluasi Berkala (tanda vital dan UOP)
TIMBUL KONTRAINDIKASI
LAHIRKAN • Periksa Lab Harian untuk Sindrom HELLP

TATALAKSANA PASIEN RAWAT INAP


• Evaluasi Harian Ibu
• Laboratorium Serial Fungsi Ginjal dan Sindrom HELLP
TIMBUL KONTRAINDIKASI • Evaluasi Harian Janin dan Evaluasi Setiap Pertumbuhan
Janin dan Indeks Cairan Amnion
BAB III PEMBAHASAN
ANAMNESIS

TEORI
Dx jika tidak didapatkan protein urin, hipertensi dapat diikuti
salah satu dibawah ini :
• Trombositopeni
• Gangguan ginjal
• Gangguan Liver
• Edema Paru
• Gejala Neurologis (Stroke, Nyeri kepala, Gangguan visus)
• Gangguan Sirkulasi Uteroplasenta
KASUS
• Pasien mengeluh nyeri kepala seharian tapi tidak disertai
dengan pandangan kabur
PEMERIKSAAN TANDA VITAL

TEORI
PEB : hipertensi dalam kehamilan yang ditandai dengan hipertensi
(TD ≥ 160/110 mmHg) dan Proteinuria (uji celup urin +1)
KASUS
• Tekanan Darah : 190/130 mmHg
• Nadi : 90x/menit, kuat angkat, reguler
• RR : 20x/menit
• S : 36o C, peraxiler
PEMERIKSAAN FISIK

TEORI
Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan adanya hipertensi spesifik
yang disebabkan kehamilan disertai dengan gangguan sistem organ lainnya
pada usia kehamilan diatas 20 minggu
KASUS
PEMERIKSAAN FISIK PASIEN ( ABDOMEN )
• Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi daripada dinding dada
• Auskultasi : Bising usus (+) normal
• Perkusi : Timpani, undulasi (-), pekak beralih (-),
• Palpasi : Supel, NT (-), teraba janin tunggal, memanjang, puka, preskep,
kepala masuk panggul 1/3 bagian, his (-), djj (+) 148x/mnt,
TFU: 29 cm.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

TEORI
KRITERIA MINIMAL PREEKLAMPSIA
• HIPERTENSI : Tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik atau
90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15
menit menggunakan lengan yang sama
• PROTEIN URIN : Protein urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes urin
dipstik > + 1
KASUS
Pada pemeriksaan urin ditemukan Proteinuria +2,
TATALAKSANA

TEORI
• Anti kejang
 MgSO4 dosis awal :4 gr MgSO4 (10 ml konsentrasi 40% atau 20 ml
konsentrasi 20%) IV selama 5 - 8 menit (kecepatan 0,5 -1 gr per
menit). Dosis pemeliharaan: Lanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%)
atau 6 gr dalam larutan Ringer Asetat / Ringer Laktat selama 6 jam (1
gr per Jam)
• Antihipertensi :
 Nifedipine 10 – 20 mg (ulangi 30 menit), dilanjutkan 4 x 10 mg
(maksimal 120 mg/24 jam)
TATALAKSANA

KASUS
VK
• IVFD RL 20 tpm
• O2 NK 5 lpm
• Nifedipine tablet 10 mg p.o
• Observasi Tekanan Darah 1 jam post Nifedipine -> TD: 200/140
• Induksi gastrul pervagina ¼ tablet -> tunda
• Konsul dr. Khairul, Sp.OG -> Sectio Caesaria cito
 Cefotaxime inj 2g iv
 MgSO4: Inj. Bolus pelan 4 gr MgSO4 (dosis awal). Drip 6 gr MgSO4
dalam RL 1 kolf 28 tpm (dosis lanjutan)
TATALAKSANA

KASUS
VK
• Konsul anestesi ke dr. Helda, Sp.An -> acc anestesi
 IVFD RL 20 tpm
 EKG
• Informed consent untuk operasi
• Pasien dipuasakan
PROGNOSIS

• Ad vitam : dubia ad bonam


• Ad functionam : dubia ad bonam
• Ad sanam : dubia ad bonam
BAB IV KESIMPULAN
KESIMPULAN

• G4P3A0 35 tahun UK: 39-40 minggu kontrol rutin kehamilannya di Poli


Kandungan. Dari pemeriksaan tanda vital diketahui pasien tekanan
darahnya tinggi. Air kawah sudah dirasakan keluar. Lendir darah (+).
Keluhan nyeri kepala (+), tekanan darah 190/130 mmHg. Pada
pemeriksaan laboratorium ditemukan proteinuria (+)
• Advice dr. Khairul, Sp.OG Nifedipine tablet 10 mg p.o lalu observasi
tekanan darah 1 jam Post Nifedipine. Tekanan darah pasien setelah 1
jam 200/140 mmHg. Segera dilakukan SC Cito.
• Bayi : KU: Baik
 Suhu: 37’C
 BB: 4000 gr
 GDA: 72
 APGAR Score: 8-9-10
DAFTAR PUSTAKA
1. Profil data kesehatan tahun 2011. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2012
2. Roeshadi RH. Ilmu Kedokteran Fetomaternal : Hipertensi dalam kehamilan. Hal 494 – 499
3. Cunningham, dkk. Williams obstetrics : Prenatal care. Edisi 23. McGraw-Hill. 2010
4. Panduan penatalaksanaan kasus obstetri : Penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan.
Himpunan Kedokteran Fetomaternal Indonesia. Jakarta. 2010. Hal 16 – 55
5. Pernoll ML. Benson & Pernoll Handbook of Obstetrics & Gynecology : Pregnancy-induced
Hypertensive. Edisi 10. McGraw Hill. New york. 2001. Hal 380 – 404.
6. Eruo FU, et all. Clinical Obstetrics the Fetus and Mother : Hypertensive diseases in pregnancy.
Edisi 3. Blackwell Publishing. Massachusetts. 2007. Hal 684 – 695
7. Marchiano D. NMS Obstetrics and gynecology : Hypertension in pregnancy. Edisi 6. Lippincott
Williams & Wilkins. New York. 2008. Hal 164 – 171
8. Shennan A. Dewhurst’s Textbook of Obstetrics and Gynaecology : hypertensive disorders. Edisi
7. Blackwell publishing. Massachusetts. 2007. Hal 227 – 234
DAFTAR PUSTAKA
9. Current diagnosis and treatments in obstetrics and gynecology : Hypertension in pregnancy.
McGraw-Hill. Amerika Serikat. 2006.
10. Gerda G, et all. Chesley’s hypertensive disorders in pregnancy. Edisi 3. Elsevier. Amerika
Serikat. 2009. Hal 227 – 240.
11. Chamberlain G, Morgan M. ABC of Antenatal Care : Raised blood pressure in pregnancy. Edisi 4.
BMJ Books. London. 2002. Hal 55 - 58
12. Ghulmiyyah LM, Sibal BM. Management of High-Risk Pregnancy An Evidence-Based Approach :
Gestational hypertension-preeclampsia and eclampsia. Hal 271 – 279.
13. Barton JR, Sibai BM. Manual of Obstetrics : Preeclampsia. Edisi 7. Lippincott Williams &
Wilkins. New York. 2007. Hal 178 – 189
14. Bailis A, Witter FR. The Johns hoplins manual of Gynecology and obstetrics : Hypertensive
disorders of pregnancy. Edisi 3. Lippincott william and wilkins. Amerika Serikat. 2007. Hal 181
– 191
DAFTAR PUSTAKA
15. Aghamohammadi A, et all. Casp J Intern Med : High maternal hemoglobin concentration in
first trimester as risk factor for pregnancy induced hypertension. Islamic Azad University. Iran.
2011
16. Tamas P, et all. Gynaecology perinatology : Hypertensive disorders of pregnancy. Volume 19 no.
4. University of Pecs. Hunggaria. 2010.
17. Vazquez BYS. Vascular health and risk management : Blood pressure and blood viscosity are
not correlated in normal healthy subjects. Vol.8. Dove Press Journal, Sandiego. 2012. Hal 1 – 6.
18. Golboni, et all. Eastern Mediterranian Health Journal : Predictive value of plasma haematocrit
level in early diagnosis of preeclampsia. Vol. 17 no.10. Iran. 2011
19. Nelson KE, Angelo RD. Handbook of Obstetric Anesthesia : Pregnancy induced hypertension and
preeclampsia. Bios Scientific Publisher. Yorkshire. 2002 Hal 130 – 136.
TERIMA KASIH