You are on page 1of 40

Nama : Tn.

AN
Usia : 25 tahun Keluhan Utama
Alamat : Cianjur Lemas dan pusing
Pekerjaan : Karyawan
sejak 1 bulan lalu
Status : Menikah
Agama : Islam
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan lemas dan pusing sejak 1
bulan SMRS. Keluhan ini disertai dengan wajah dan kulit yang terlihat pucat.
Pasien juga mengeluhkan sesak. Sesak dirasakan hilang timbul dan biasanya
timbul kapan saja. Sesak tidak disertai dengan bunyi ngik-ngik, biasanya
sesak menghilang bila beristirahat. Sesak dirasakan memberat sejak 2 minggu
SMRS. Keluhan seperti pingsan, demam, mual dan muntah disangkal. Pasien
mengeluhkan bahwa sering BAB berdarah, darah berwarna merah segar dan
biasanya darah menetes. Pada bagian anus jg pasien mengaku terdapat
benjolan dengan ukuran 1 cm yang kadang-kadang timbul dan kadang-
kadang hilang. Biasanya benjolan pada anus tersebut timbul bila pasien
BABnya keras. BAK tidak ada keluhan. Riwayat mengkonsumsi jamu, obat-
obat warung dan setelan disangkal.
Riwayat Riwayat asma (-)

Penyakit Riwayat hipertensi dan DM disangkal.


Dahulu Riwayat ambeien (+)
Riwayat Alergi Disangkal
Tidak ada keluarga yang mengalami hal
Riwayat
yang sama. Riwayat tekanan darah tinggi,
Penyakit
diabetes melitus, dan asma pada keluarga
Keluarga
disangkal.
Pasien baru saja berhenti merokok dan
minum kopi sejak 2 bulan lalu. Pasien jg
Riwayat
mengaku jarang sekali mengkonsumsi
Psikososial
sayuran. Tidak pernah mengkonsumsi obat-
obatan dalam jangka panjang sebelumnya.
Pasien laki-laki berusia 25 tahun tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis dan
masih bisa berkomunikasi dengan baik. TD
120/80 mmHg, nadi 120 kali/menit reguler isi
cukup, pernapasan 20 kali/menit, suhu
36.5 C.
Kepala : normochepal
Mata : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Hidung : tidak ada sekret keluar
Bibir : lembap
Mulut : lidah tidak kotor, gusi tidak bengkak
Telinga : tidak ada serumen yang keluar
Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-/-), JVP tdk
meningkat
Thoraks :
Cor : I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus cordis teraba di ICS V
A : BJ I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo : I : thoraks simetris,
P : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus sama di
kedua lapang paru
P : sonor diseluruh lapang paru
A : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : I : tampak datar
A : bising usus 9 kali/menit
P : hepar dan lien tidak teraba membesar. Nyeri
tekan epigastrium (+)
P : shifting dullness (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT <2, edema (-/-)
1. Hematoschezia ec hemoroid interna
2. Anemia ec perdarahan GI
11 Maret 2017
Hematologi

Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hematologi lengkap
Hemoglobin 4.8 13.5 17.5 g/dl
Hematokrit 18.9 42 52 %
Eritrosit 3.37 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 6.6 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 996 150 450 10^3/ul
MCV 56.1 80 84 fL
MCH 14.2 27 31 pg
MCHC 25.4 33 37 %
RDW-SD 58.3 37 54 fL
PDW 15 9 14 fL
MPV 6.4 8 12 fL
Hasil Nilai Rujukan Satuan
Differential
LYM % 29.8 26 36 %
MXD % 7 0 11 %
NEU % 62.4 40 70 %
EOS % 0.3 1-3 %
BAS % 0.5 <1 %
Absolut
LYM # 1.98 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.46 0 12 10^3/L
NEU # 4.13 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.02 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.03 0.00 0.10 10^3/L
1. Hematoschezia e.c dd/ Hemoroid interna
2. Anemia trombositosis e.c perdarahan GI
Tanggal S O A P
12-03-2017 Pusing, lemas, sesak Kes : CM Haematochezia 1. Ivfd Nacl 0.9 %
(-), nyeri ulu hati, BAB TD : 110/70 ec dd/hemoroid 1000cc/ 24 jam
berdarah kadang- N : 92 x/m interna, 2. Transfusi PRC 2
kadang tapi hari ini S : 36,5 oC Anemia labu/ hari target
tidak RR : 18 x/m trombositosis ec Hb > 8
Mata : ca +/+, si -/- perdarahan GI 3. Kalnex 3 x 1
Leher : JVP tidak 4. Vit. K 3 x 1
meningkat 5. Metronidazole 3
Cor : BJ I dan II x 500mg
normal, murmur -, 6. Konsul bedah
gallop
Pulmo : VBS kanan =
kiri, wh -/-, rh -/-
Abd :BU +, NT
epigastrium (+)
Eks : akral hangat,
edema (-)
12 Maret 2017
Hematologi

Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hematologi lengkap
7.9
Hemoglobin 13.5 17.5 g/dl
Post tranfusi
Hematokrit 27.2 42 52 %
Eritrosit 4.48 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 6.8 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 848 150 450 10^3/ul
MCV 50.7 80 84 fL
MCH 17.6 27 31 pg
MCHC 29.1 33 37 %
PDW 14.9 9 14 fL
MPV 6.2 8 12 fL
Hasil Nilai Rujukan Satuan
Differential
LYM % 26.9 26 36 %
MXD % 6.9 0 11 %
NEU % 64.9 40 70 %
EOS % 0.8 1-3 %
BAS % 0.5 <1 %
Absolut
LYM # 1.83 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.48 0 12 10^3/L
NEU # 4.42 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.05 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.03 0.00 0.10 10^3/L
12 Maret 2017
Hematologi

KIMIA KLINIK
Glukosa Darah
Glukosa Darah 46 70 - 110 mg%
Puasa
Fungsi Hati
AST (SGOT) 30 15 37 U/L
ALT (SGPT) 19 14 59 U/L
Fungsi Ginjal
Ureum 15.7 10 50 mg%
Kreatinin 0.7 0.5 1.0 mg%
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan
URINE
Urin Rutin
Kimia Urine
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak keruh Jernih
Berat jenis 1.010 1.013 1.030
pH 7.0 4.6 8.0
Nitrit Negatif Negatif
Protein urin Negatif Negatif mg/dL
Glukosa (Reduksi) Normal Normal mg/dL
Keton Negatif Negatif mg/dL
Urobilinogen Normal Normal UE
Bilirubin Negatif Negatif mg/dL
Eritrosit Negatif Negatif /L
Lekosit Negatif Negatif /L
Mikroskopi
Lekosit 12 1-4 /LPB
Eritrosit Negatif 0-1 /LPB
Epitel 0-1
Kristal Negatif Negatif
Silinder Negatif Negatif /LPK
Lain-lain Negatif Negatif
IMUNOSEROLOGI
Feritin 42 12 - 300 ng/mL
12 Maret 2017
EKG
Tanggal S O A P
13-03-2017 lemas, nyeri ulu hati, Kes : CM Haematochezia 1. Ivfd Nacl 0.9 %
BAB keras, berdarah TD : 120/70 ec dd/hemoroid 1000cc/ 24 jam
sedikit (+) N : 88 x/m interna, 2. Transfusi PRC 2
S : 36,7 oC Anemia labu/ hari target
RR : 18 x/m trombositosis ec Hb > 8
Mata : ca +/+, si -/- perdarahan GI 3. Kalnex 3 x 1
Leher : JVP tidak 4. Vit. K 3 x 1
meningkat 5. Metronidazole 3
Cor : BJ I dan II x 500mg
normal, murmur -, 6. Konsul bedah
gallop
Pulmo : VBS kanan =
kiri, wh -/-, rh -/-
Abd :BU +, NT
epigastrium (+)
Eks : akral hangat,
edema (-)
13 Maret 2017 , Hematologi

Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hematologi lengkap
Hemoglobin 9.1 13.5 17.5 g/dl
Hematokrit 30.6 42 52 %
Eritrosit 4.71 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 7.2 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 730 150 450 10^3/ul
MCV 64.9 80 84 fL
MCH 19.3 27 31 pg
MCHC 29.8 33 37 %
PDW 15.1 9 14 fL
MPV 6.4 8 12 fL
Hasil Nilai Rujukan Satuan
Differential
LYM % 18 26 36 %
MXD % 3.3 0 11 %
NEU % 76.7 40 70 %
EOS % 1.4 1-3 %
BAS % 0.6 <1 %
Absolut
LYM # 1.29 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.23 0 12 10^3/L
NEU # 5.49 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.10 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.04 0.00 0.10 10^3/L
BAB darah, Hb : 9
Rectal toucher :
Masa (-), ST : fases (-), darah (-)
Kesan : saat ini tidak terdapat kelainan anorectal
Saran : berobat jalan poli bedah untuk follow up
Hematochezia diartikan sebagai darah segar atau berwarna
merah maroon yang keluar melalui anus dan merupakan
manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna
bagian bawah. Namun, perdarahan dari saluran pencernaan
bagian atas yang masif juga dapatmenimbulkan hematochezia
1. Perdarahan divertikel kolon
2. Angiodisplasia
3. Arteriovenous Malformation
4. Kolitis
5. Penyakit perianal
6. Neoplasia kolon
7. Divertikulum Meckel
Hemorhoid adalah pelebaran pleksus hemorrhoidalis yang tidak
merupakan keadaan patologik. Hanya jika hemorhoid ini
menimbulkan keluhan atau penyulit sehingga diperlukan
tindakan.

Kata hemorrhoid berasal dari kata haemorrhoides (Yunani) yang


berarti aliran darah (haem = darah, rhoos = aliran) jadi dapat
diartikan sebagai darah yang mengalir keluar.7
Hemoroid dibedakan atas hemorrhoid interna dan eksterna.
Tingkat I Tingkat II Tingkat III Tingkat IV

Derajat Pada Hemorrhoid Interna


Klasifikasi Tingkat Penyakit Hemoroid (IH=Internal Hemoroid, EH=External
Hemoroid, AC=Anal Canal, AT=Anchoring Tisue, PL=Pecten Ligamen.
Hemoroid Tingkat III dan IV, Pleksus Hemoroid berada diluar anal kanal.
1. Hemoroid eksterna
Nyeri
Udem
perdarahan ke jaringan sekitarnya
Akibatnya dapat timbul rasa mengganjal, gatal dan iritasi.
2. Hemoroid interna
nyeri tumpul dan pruritus
Prolaps
Rasa tidak nyaman
pendarahan darah segar tanpa nyeri perrektum selama
atau setelah defekasi.
Hemoroid eksterna
1. dapat dilakukan eksisi dengan local anestesi.
2. Kemudian dilanjutkan dengan pengobatan non operatif.

Hemoroid interna
Non InvasiveTreatment
Diperuntukan bagi penderita dengan keluhan minimal.Yang disampaikan
meliputi
a. Nasehat
jangan mengedan terlalu lama
mengkonsumsi makanan yang berserat tinggi
membiasakan selalu defekasi, jangan ditunda
minum sekira 8 gelas sehari5
b. Obat-obatan vasostopik
Obat Hydroksyethylen kombinasi Diosmin dan Hesperidin (ardium) yang
Ardium diberikan 3x2tab selama 4 hari kemudian 2x2 selama 3 hari dan
selanjutnya1x1tab.
Anemia adalah penurunan massa eritrosit (red cell
mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya
untuk menghantarkan oksigen yang cukup ke
jaringan perifer (penurunan oxygen carrying
capacity)

Bakta, I Made. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pendekatan terhadap Pasien Anemia. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Anemia didefinisikan sebagai keadaan dimana kadar
hemoglobin <14 mg/dL atau hemtokrit <40% pada pria, atau
<12 mg/dL dan <38% pada wanita.

Anemia bukanlah merupakan suatu kesatuan penyakit


tersendiri (disease entity) tetapi merupakan suatu gejala
berbagai macam penyakit dasar (underlying disease)...

Callaham, Michael L. and Christopher W. Barton. 1997. Decisison Making in Emergency


Medicine. Jakarta: Binarupa Aksara.
Parameter yang paling umum dipakai
untuk menunjukkan penurunan massa
eritrosit adalah kadar :
1. Hemoglobin
2. Hematokrit
3. Hitung eritrosit
NO KELOMPOK KRITERIA ANEMIA

1. Laki-laki dewasa < 13 g/dl

2. Wanita dewasa tidak hamil < 12 g/dl

3. Wanita hamil < 11 g/dl


www.idi-rf.org
Gangguan pembentukan
eritrosit dari sumsum tulang.

Kehilangan darah keluar


tubuh (perdarahan).

Proses penghancuran eritrosit dalam tubuh


sebelum waktunya (hemolisis).

Bakta, I Made. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pendekatan terhadap Pasien Anemia. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Anemia MCV <80 fl
Hipokromik MCH <27
Mikrositer pg.

Anemia MCV 80-95 fl


Normokrom MCH 27-34
Normositer pg

Anemia MCV >95 fl.


Makrositer

Bakta, I Made. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pendekatan terhadap Pasien Anemia. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
MORFOLOGI DEFINISI PENYAKIT
1 Anemia Normositik normokrom Dimana ukuran dan 1. kehilangan darah akut,
bentuk eritrosit normal 2. hemolysis, penyakit kronik
serta mengandung termasuk infeksi
Hemoglobin dalam jumlah 3. Gangguan endokrin
normal (MCV dan MCHC 4. Gangguan ginjal
normal atau normal 5. Kegagalan sumsum tulang
rendah ) (aplasia)

2 Anemia Makrositik normokrom Ukuran eritrosit lebih besar Gangguan atau terhentinya sintesis
dari normal dan asam nukleat DNA seperti yang
nomokrom berarti ditemukan pada :
konstentrasi Hb normal 1. defisiensi besi
(MCV meningkat ; MCHC 2. Defisiensifolat.
normal )
3 Anemia Mikrositik hipokrom Mikrositik berarti kecil, 1. anemia defisiensi besi
Hipokrom berarti 2. Keadaan sideroblastik
mengandung jumlah Hb 3. Kehilangan darah kronik
kurang (MCV dan MCHC 4. Penyakit thalassemia
kurang)

Keterangan :
MCV = Mean corpuscular volume (hemoglobin eritrosit rata-rata)
MCHC = Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata)
MCH = Mean Corpuscular Hemoglobin (Hemoglobin eritrosit rata-rata)
Sindrom anemia terdiri dari:
Rasa lemah, lesu, cepat lelah,
Telinga mendenging (tinnitus),
Mata berkunang-kunang,
Kaki terasa dingin,
Sesak nafas dan dispepsia.

Pada pemerikaan,:
Pasien tampak pucat yang mudah dilihat pada
konjungtiva, mukosa mulut , telapak tangan dan
jaringan di bawah kuku.

Sindrom anemia bersifat tidak spesifik karena dapat


ditimbulkan oleh penyakit di luar anemia dan tidak
sensitif karena timbul setelah penurunan yang berat
(Hb<7 gr/dl).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien
anemia ialah :
Pengobatan hendaknya diberikan berdasarkan diagnosis definitif yang
telah ditegakkan terlebih dahulu
Pemeberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan

Pengobatan anemia dapat berupa :


Terapi untuk keadaan darurat seperti misanya pada perdarahan akut akibt
anemia aplastik yang mengancam jiwa pasien, atau pada anemia pasca
perdarahan akut yang disertai gangguan hemodinamik
Terapi suportif
Terapi yang khas untuk masing-masing anemia
Terapi kausal untuk mengobati penyakit dasar yang menyebabkan anemi
tersebut.
Transfusi diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda-
tanda gangguan hemodinamik. Pada anemia kronik transfusi hanya
diberikan jika anemia bersifat simtomatik atau adanya ancaman payah
jantung.
Di sini diberikan packed red cell,
Pada anemia kronik sering dijumpai peningkatan volume darah, oleh
karena itu transfusi diberikan dengan tetesan pelan. Dapat juga diberikan
diuretik kerja cepat seperti furosemid sebelum transfusi.