You are on page 1of 85

Sebagaimana yang firman Alloh Swt :

/< @ne Y
l: p
Dan BERSERULAH kepada manusia dengan haji
(QS. Al-Hajj: 22)
)(1






HR. Al-Bukhori: 608, Muslim: 389, shohih
)(2






) ( HR. Al-Bukhori: 609, An-Nasai: 2/12, shohih
)(3






) ( HR. Al-Bukhori: 615, Muslim: 437, Shohih
( 4 )



Para muadzin adalah orang-orang yag paling panjang lehernya
pada Hari Kiamat

( HR. Muslim: 387, Ibnu Majah: 725, Ahmad: 4/95 )


)(5






(6)

oj%i l:U p
oiM hiv
o}:jfe =ZUp
jyv kepada 9E<Y
Imam adalah penanggung, dan muadzin adalah orang yang diberi
amanah, maka Alloh memberi petunjuk imam dan memberi
ampunan kepada para muadzin
( HR. Abu Daud: 517, At-Tirmidzi: 207, Ahmad: 2/ 284, 419, shohih )








) ( HR. Al-Bukhori: 604, Muslim: 377, Shohih
Semua umat islam sepakat disyariatkannya Adzan, sebab
hal itu dipakai sejak masa kenabian hingga saat ini, dan
tidak ada satupun yang berbeda pendapat

Namun, sebagian ulama berbeda pendapat, apakah ia


wajib atau hanya sunnah muakkadah saja ?

Yang benar dan agar tidak menimbulkan keraguan dlm


peribadatan seperti ini, bahwa hukum adzan adalah
fardlu kifayah
Adzan adalah ibadah, ia adalah syiar islam dan ajaran yg
paling dikenal dlm agama
Ia selalu dilakukan sejak disyariatkan Alloh hingga
Rosululloh meninggal, baik waktu siang maupun
malam, saat bepergian atau ketika cuaca buruk.
Tidak pernah ada yg memberi keringanan utk
meninggalkannya
Sesengguhnya Rosululloh Saw menjadikan Adzan sbg tanda utk
Islam, diriwayatkan dari Anas, ia berkata :




Bahwa Nabi Saw ketika memerangi suatu kaum bersama kami,
beliau tidak memerangi hingga waktu Subuh, kemudian beliau
melihat, jika beliau mendengar adzan, maka beliau berhenti
memerangi mereka, dan jika tidak mendengar adzan, maka
beliau memerangi mereka.
( HR. Al-Bukhori: 610, Muslim: 382, Shohih )
Dari Malik bin Hawarits, bahwa Nabi Saw bersabda kepadanya dan
para sahabatnya :



Jika waktu sholat telah tiba, maka salah seorang diantara kalian
mengumandangkan adzan, dan hendaklah orang yang paling tua
mengimami kalian.
( HR. Al-Bukhori: 631, Muslim: 674, Shohih )



Dari Anas bin Malik, ia berkata, Bilal diperintahkan menggandakan
bacaan pada- kalimat adzan dan menunggalkan bacaan pada-
kalimat iqomat.
( HR. Al-Bukhori: 603, Muslim: 378, Shohih )
Dalam hadits Abdulloh bin Zaid, tentang kisah mimpinya yang
berkenaan dengan masalah adzan, Nabi Saw bersabda :




Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insya Alloh, maka
bergegaslah kepada Bilal dan ajarkan padanya apa yang kamu
lihat dalam mimpi agar Bilal adzan dengannya, karena ia
memeiliki suara yang lebih indah dari kamu.

( HR. Abu Daud: 499, At-Tirmidzi: 189, Ibnu Majah: 706, hadits hasan )
Dari Abu Darda, bahwa Nabi Saw bersabda:

)(


Tidaklah dari tiga orang (yang tidak mengumandangkan adzan)
dan tidaklah mendirikan sholat, kecuali syetan akan menugasai
mereka.
( HR. Abu Daud: 547, An-Nasai: 672, Ahmad: 6/447, isnad-nya layyin )
Bagi orang yg melakukan safar, ia harus
mengumandangkan adzan saat akan mengerjakan
sholat, spt halnya orang mukim
Hal ini berdasarkan keumuman
dalil yg ada, juga karena Rosululloh juga
melakukannya, baik ketika dalam perjalanan atau tidak
Utk menunaikan sholat lima waktu, wajib mengumandangkan
adzan, baik yg tepat pd waktunya maupun yg
meng-qodlo-nya
Hal ini berdasarkan pd kejadian saat Rosululloh Saw dan para
sahabat tertidur dlm safar mereka- dan tdk sholat Subuh pd
waktunya, hingga matahari terbit
Lalu beliau memerintahkan Bilal utk mengumandangkan
adzan dan iqomat
Menurut jumhur ulama salaf dan kholaf dari empat madzhab,
bahwa wanita tdk wajib mengumandangkan adzan dan iqomat

Berdasarkan hadits marfu dari Asma

Rj- v p i] vp
Bagi wanita tidak ada adzan, iqomah dan jumatan

l: xBnfe C~e ( HR. Al-Baihaqy: 1/408, dhoif )


Namun hadits ini dloif, sehingga tidak sah dipakai sebagai dalil,
namun tidak juga terdapat perintah adzan bagi wanita
mengumandangkan adzan
Adapun adzan bagi wanita adalah ketika mereka mengadakan
jamaah sendiri dan terpisah dari kaum laki-laki
Karena adzan dan iqomah adalah seruan dan pemberitahuan dng
cara mengeraskan suara, sementara dalam syariat
wanita dilarang mengeraskan suara
Hal ini tidak pernah didapati pada masa Kenabian, Sahabat dan
orang-orang setelahnya
Yang terlihat adalah kaum
wanita bisa mendirikan jamaah
tersendiri dan
mengumandangkan adzan dan
iqomah, maka hal itu lebih baik,
karena ia adalah dzikrulloh
Ibnu Umar pernah ditanya tentang hal tersebut:

NVY l: xBne
=a: fQ
oQ tmd]p
gs
Apakah wanita juga harus mengumandangkan adzan? Maka ia
pun marah, dan berkata, Apakah mereka dilarang
untuk berdzikir kepada Alloh?
( HR. Ibnu Abi Syaibah: 1/223, isnad-nya hasan )

Imam Syafii berpendapat:


Wanita tidak boleh mengeraskan suaranya, ia mengumandangkan
adzan untuk diri mereka dan bisa didengar para sahabatnya,
demikian juga ketika iqomah
( Al-Umm: 1/84 )
Siapa yg mengerjakan sholat sendiri di kampungnya, maka
hendaknya ia kumandangkan adzan, namun jika ia merasa
cukup dengan adzan jamaah yg ada di Masjid Jami,
maka hal itu adalah sah
Demikian juga ketika orang datang ke masjid sudah tidak
mendapatkan jamaah, maka cukup baginya adzan dan
iqomah yang dikumandangkan pada awal waktu
Jika ia adzan dan iqomah sendiri, maka ia mendapat
keutamaan
Diriwayatkan dariAbu Utsman, ketika mendatangi Anas bin Malik di
masjid Tsalabah, lalu ia bertanya:

kRm nf^Y
9Ve
Qj-Y fI k) h]p wI ce:p
l:Y
Apakah kalian k&~fI
l:g-=e
sudah mengerjakan 9]
sholat? d^Y
Laluj kami menjawab,
Sudah. Kemudian ia berkata kepada seorang laki-laki, :Adzanlah.
Maka ia pun melaksanakan sholat berjamaah

( HR. Ibnu Abi Syaibah: 1/221, isnad-nya shohih )


Ketika dua sholat ( jama) akan dilaksanakan, spt: Dhuhur
dan Ashar yg dilakukan di Arofah, Maghrib dan Isya di
Muzdalifah, maka cukuplah satu kali adzan saja,
namun setiap kali akan memulai sholat
didahului dgn iqomah
Hal ini seperti yg dilakukan Nabi Saw ketika
menunaikan haji Wada
Para ulama sepakat bahwa adzan disyariatkan utk setiap
sholat wajib yang lima waktu
Sedangkan sholat selain itu tidak disyariatkan, seperti :
Sholat Jenazah, Witir, Sholat Ied dan lainnya
Karena adzan bertujuan untuk menyeru dan
memberitahukan masuknya waktu sholat, sedangkan
sholat sunnah adalah mengikuti sholat wajib
Dasarnya adalah hadits Jabir bin Samuroh, ia berkata:

=i RU 9~Re hH
dqA<
i] vp l: =~V Si #~fI
G%=i
tidak hanya vp
Saya pernah melaksanakan sholat ied bersama Rosululloh Saw
sekali, tanpa adzan dan iqomah.

( HR. Muslim: 887, Abu Daud; 1148, At-Tirmidzi: 532, Shohih )


Imam As-Syafii berpendapat:
Sholat yang tidak memakai adzan cukup mengucapkan
Ash-Sholaatu Jaamiah.
Hal ini disepakati oleh golongan Hanbali, namun hanya utk sholat
Ied, Khusuf dan Istisqo
Adapun golonan Hanafi dan Maliki sepakat hanya untuk
sholat Khusuf saja.
Namun yang benar dalam masalah ini adalah yang berdasarkan
nash. Bahwa ucapan Ash-Sholaatu Jaamiah hanya sunnah saja,
Jika tidak dipakai, maka sesungguhnya hal itu tidak disyariatkan
Adzan disyariatkan ketika akan masuk waktu sholat wajib, maka
tidak sah jika adzan dikerjakan sebelum masuk waktu sholat,
kecuali ketika fajar, karena disunnahkan untuk adzan
di awal waktu
Diriwayatkan dari Jabir bin Samuroh, ia berkata:

CjFe #e> :
Bilal adzan ketika matahari telah tergelincir
l:} dw la
( HR. Muslim: 606, Abu Daud: 537, At-Tirmidzi: 202,
Ahmad: 5/91, shohih )
Malik, Syafii, Al-Auzai, Ahmad, Ishaq, Abu Tsur, Abu Yusuf dan Ibnu
Hazm berpendapat:
Adzan Fajar yg pertama - sebelum masuk waktunya (sebelum
muncul Fajar Shodiq)
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi Saw bersabda:



Sesunggguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat malam, maka
makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum adzan.

( HR. Al-Bukhori: 617, shohih )


Membangunkan orang yang tidur agar mempersiapkan diri untuk sholat,
Dan orang yang melakukan sholat malam agar beristirahat sejenak
sebelum Sholat Subuh dengan semangat,
Juga orang yang akan berpuasa bisa melaksanakan sahur
Diriwayatkan dari Ibnu Masud, bahwa Nabi Saw bersabda:



Janganlah adzan yang dikumandangkan Bilal mencegah makan sahur
kalian, sebab ia mengumandangkan adzan di malam hari. Hal itu agar
orang yang sholat kembali pada posisinya dan untuk membangunkan
orang yang masih tidur.
( HR. Bukhori: 621, Muslim: 1093, shohih)
Dalam mengumandangkan adzan disyaratkan adanya niat
sebagaimana ibadah lainnya
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw:



Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat, dan setiap orang
mendapatkan dari apa yang diniatkan.
( HR. Al-Bukhori )
Jika seseorang berdzikir dng takbir, lalu ingin adzan, maka ia harus
mengulang takbir dan memulainya dng niat adzan
Adzan harus dikumandangkan dng bahasa Arab, dan tidak boleh
menggunakan bahasa manapun, walapun hal tersebut juga
disebut adzan
( Hanafi, Hanbali dan lainnya )

Madzhab Syafii berpendapat:


Adzan boleh dikumandangkan dng bahasa yang
dipahami - selain bahasa arab jika tidak ada
satupun orang yang dapat mengumandangkannya
Yang dimaksud adalah seperti memanjangkan
hamzah pada kata Akbar, atau memanjangkan
ba pada kata Akbar, atau kalimat lain yang
bisa merubah makna

Jika makna kalimat adzan berubah, maka batallah


adzannya
Adzan yang dikumandangkan harus pas, sesuai dengan
redaksi yang ada dan harus tertib, tanpa mendahulukan
kalimat yang terakhir dan mengakhirkan kalimat yang
mestinya didahulukan
Jika hal itu terjadi, maka dianggap tidak sah, sebab akan
merusak maksud disampaikannya adzan
Hal ini seperti sabda Rosululloh Saw :


Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada
perintahnya dari Kami, maka pastilah amalannya itu
tertolak. ( HR. Bukhori: 2550 )
Menurut pendapat Jumhur ulama, yang dimaksud
adalah mengucapkan lafadz-lafadz adzan secara
bersambung tanpa ada jeda yang panjang dan
disela oleh perkataan atau perbuatan
Jida ada jeda/sela yang tidak panjang, seperti bersin,
ketika melafadzkannya, hendaknya ia melanjutkannya
dengan mengulang kalimat yang terpotong
Jika jeda antara kalimat-kalimat adzan seperti
pembicaraan atau timbulnya ayan pada diri muadzin,
maka batal adzan-nya
Baik dengan mengeraskan suara muadzin maupun menggunakan
alat Pengeras Suara agar maksud yang disampaikan tercapai
Namun jika ia adzan untuk dirinya sendiri, maka tidak perlu
mengeraskan suaranya, cukup bila bisa didengar dirinya sendiri
dan orang-orang yang bersamanya
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudhri:

x9ne c%qI
Keraskanlah suaramu dalam mengumandangkan adzan.
SY<Y( HR. Al-Bukhori: 609, Muslim: 389, Shohih )
Adalah orang yang tidak mengambil upah dari adzan dan iqomah-
nya, sebab memperjual-belikan untuk urusan ketaatan kepada
Alloh tidak diperbolehkan
Nabi Saw pernah bersabda kepada Utsman bi Abu Al-Ash :

=- um: fQ
;5} v m:i
Pilihlah Muadzin yang tidak mengambil upah atas adzannya.

( HR. Abu Daud: 531, An-Nasai: 672, At-Tirmidzi: 209, Ibnu Majah: 714, Shohih )
Karena Muadzin adalah orang yang diberi amanah,
Seorang yang dapat dipercaya menjadwal sholat,
Tidak suka pada kemaksiatan

Walaupun orang fasik diperbolehkan untuk melakukan


adzan dengan hukum makruh menurut Jumhur ulama
Sabda Nabi Saw kepada Abdulloh bin Zaid:



Maka bergegaslah kepada Bilal dan ajarkan padanya apa yang
kamu lihat dalam mimpi agar Bilal adzan dengannya, karena ia
memeiliki suara yang lebih indah dari kamu.

( HR. Abu Daud: 499, At-Tirmidzi: 189, Ibnu Majah: 706,


hadits hasan )
Hal ini karena muadzin adalah orang yang mengumandangkan
adzan pada awal waktu
Namun orang yang tidak mengetahui waktu,
boleh mengumandangkan adzan, dengan catatan ada orang yang
menunjukkan waktu masuknya sholat
Sebab Ibnu Ummi Maktum - adalah orang buta tidak
mengumandangkan adzan kecuali dikatakan kepadanya :

#2I #2I
Kamu telah masuk waktu Subuh, kamu telah masuk waktu Subuh.
( HR. Bukhori: 617 )
Lafadz Adzan yang diajarkan Rosululloh Saw ada 3 macam:

Allohu Akbar X4
Asyhadu allaa ilaaha illalloh X2
Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh X 2
Hayya alash-Sholaah X2
Hayya alal Falaah X2
Allohu Akbar X2
Laa ilaaha illallooh
Berdasarkan hadits Abu Daud yang diriwayat dari Abdulloh bin Zaid
Cara ini dipakai Abu Hanifah, Ahmad dan yang paling masyhur










)(499
Dari hadits Abu Daud, At-tirmidzi, An-nasai, Ibnu Majah
Allohu Akbar X4
Asyhadu allaa ilaaha illalloh X4
Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh X4
Hayya alash-Sholaah X2
Hayya alal Falaah X2
Allohu Akbar X2
Laa ilaaha illallooh
Pengulangan pada dua kalimat syahadat dengan suara pelan
namun dapat didengar orang yang hadir setelah itu mengucapkan
kalimat tersebut dengan keras
Cara ini dipakai oleh As-Syafii








)(502
Allohu Akbar X2
Asyhadu allaa ilaaha illalloh X4
Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh X4
Hayya alash-Sholaah X2
Hayya alal Falaah X2
Allohu Akbar X2
Laa ilaaha illallooh
Dari Hadits riwayat Muslim: 379
Namun riwayat ini tidak sah, sebab yang benar mengucapkan takbr
adalah empat kali
Cara ini dipakai oleh Malik dan pengikit madzhab Hanafi








) ( 379:
Taswib adalah mengucapkan Ash-sholatu hoirun minan-naum
dua kali setelah mengucapkan Hayya alash-Sholaah dan
Hayya alal Falaah pada adzan Subuh
Hal ini sunnah menurut Jumhur Ulama
Berdasarkan hadits dari Abu Mahdzuroh :

hqne oi R5 wJe
#f] 3Je wI
3JeoiepvY laZe
..Jika untuk sholat Subuh, maka saya mengucapkan ash-sholatu
lY
khoirun minan-naum... Yriwayat
Dalam p yang berbunyi lain, Saat
pertama waktu Subuh.
( HR. Abu Daud: 501 )
Pada hadits-hadits yang tersebut di depan dijelaskan bahwa
pengucapan taswib tidak ditentukan
Apakah di awal ataukah pada adzan yang kedua
Dan didapati nash yang menyatakan taswib diucapkan pada adzan
pertama, dan tidak ada hadits yang menjelaskan taswib diucapkan
pada adzan kedua
Dengan demikian, pensyariatan taswib itu pada adzan yang
pertama, sebab kalimat yang dimaksud berfungsi membangunkan
orang yang masih tidur
Adapun adzan kedua berfungsi memberitaukan masuknya waktu
sholat dan mengajak manusia untuk mengerjakan sholat
Untuk masalah siapa yang mengumandangkan adzan
Nabi Saw mempunyai dua orang Muadzin

Bilal :
Adzan pertama waktu fajar dengan kalimat taswib

Ibnu Ummi Maktum :


Adzan kedua fajar tanpa kaliman taswib
Sebagian pengikut Madzhab Hanafi dan Asy-Syafiiyah
memperbolehkan muadzin mengumandankan taswib untuk adzan
Sholat Isya
Mereka berkata: Sebab saat itu banyak orang yang lupa
mengerjakan sholat Isya dan waktu orang-orang tidur
seperti waktu fajar

Sebagian dari pengikut Imam Asy-Syafii memperbolehkan taswib


pada setiap adzan untuk sholat

Tentu hal ini adalah BIDAH yang bertentangan dengan SUNNAH


Rosululloh saw
Umar bin Khothob mengingkari ketika masuk masjid, mendengar
Muadzin mengucapkan Taswib pada adzan untuk Sholat Dzuhur

Kemudian ia keluar, lalu dikatakan kepadanya:

Q9e n&-=5
d^Y o}
Hendak kemana engkau? Ia menjawab, Bidah yang engkau
kerjakan ini yang mengeluarkanku (dari masjid).

( HR. Abu Daud: 538, Al-Baihaqy: I/424, dishohihkan oleh Al-Albany)


Berdasarkan keumuman dalil yang menyatakan sunnahnya adzan
dalam keadaan suci saat dzikir kpd Alloh
Jika seorang adzan dlm keadaan berhadats kecil, maka
diperbolehkan menurut seluruh ahli fikih
Dan menurut pendapat yg benar, orang junub pun boleh
mengumandangkan adzan, krn tidak ada dalil yg melarangnya,
dan juga orang junub bukan orang yg najis
Adapun riwayat yg menyebutkan :

{Mq&i v l:} v
Tidak sah mengumandangkan adzan ,kecuali dlm keadaan wudlu,
maka hadits ini tdk shohih
Tidak ada pertentangan diantara ulama, bahwa adzan disunahkan
dm keadaan berdiri, kecuali ada kondisi yg menyebabkan ia
tdk bisa melakukannya
Telah dijelaskan dlm hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi Saw bersabda:


Bangkitlah wahai Bilal, maka kumandangkan adzan untuk sholat.
( HR. Al-Bukhori: 604, Muslim: 377, Shohih )

Dalam hadits Abdulloh bin Zaid dijelaskan, Saya melihat seorang


laki-laki dlm tidurku berdirilalu ia adzan dua-dua
( HR. Ibnu Abi Syaibah: I/203, Ahmad: V/232 )
Menurut para ulama, menghadap qiblat adalah sunnah
( Al-Awsath: III/28 )

Hal ini seperti yg diterangkan dlm hadits Abdulloh bin


Zaid, bahwa malaikat yg ia lihat dlm mimpinya
mengumandangkan adzan dgn
menghadap qiblat



(197)
Saya melihat Bilal mengumandangkan adzan, dan memutar-mutar
(mengarahkan kepala ke arah kanan dan kiri), diikuti mulutnya ke
arah sini dan sana serta jari tangannya berada di telinganya.
( HR. At-Tirmidzi: 197, Ahmad: IV/ 308, Shohih )



Jika seorang muadzin mengucapkan Allohu Akbar - Allohu Akbar,
maka salah seorang diantara kalian yg mendengar menjawab
Allohu Akbar - Allohu Akbar

( HR. Abu Daud: 527, shohih )






Jika utk sholat Subuh, maka saya mengucapkan Ash-Sholaatu
Khoirun Minan-Nauum, Alloohu Akbar-Allohu Akbar, Laa ilaaha
illallooh
( HR. Abu Daud: 501, An-Nasai: II/7-8, Ahmad: III/408,
di-shohih-kan Al-Albany )



Jika kalian mendengar panggilan adzan, maka ucapkanlah seperti
yang diucapkan muadzin.

( HR. Bukhori: 611, Muslim: 383, shohih )





Kemudian jika muadzin mengucapkan Hayya alash-Sholaah
maka salah seorang dari kalian menjawab Laa haula walaa
Quwwata illaa billaah, Kemudian jika muadzin mengucapkan
Hayya alal-Falaah, maka salah seorang dari kalian menjawab Laa
haula walaa Quwwata illaa billaah,
( HR. Muslim: 385, Abu Daud: 523, shohih )
Jika muadzin mengucapkan :


Maka orang yang mendengarnya mengucapkan :


Hal ini karena umumnya hadits Abdulloh bin Zaid yang telah
disebutkan

Adapun ucapan Shodaqta wa bararta, adalah ucapan yang tidak


ada dalil shohih yang mendasarinya, karena tidak dikategorikan sbg
ibadah.
Wallohu alam








( HR. Muslim: 384, Abu Daud: 523, A-Tirmidzi: 3694, An-Nasai: II/25,
) shohih






) ( HR. Bukhori: 614, Abu Daud: 529, At-Tirmidzi: 211, An-Nasai; II/27, shohih





( HR. Muslim: 386, Abu Daud: 525, At-Tirmidzi: 210, An-Nasai: II/26,
) shohih
Hal ini karena doa pada saat itu mustajab


Tidak ditolak doa antara adzan dan iqomah.

(HR. Abu Daud: 521, At-Tirmidzi: 212, Ibnu Khuzaimah: 425, Ahmad:III/155,
shohih)




Wahai Rosululloh, Para muadzin mempunyai keutamaan lebih
banyak dari kami. Maka beliau menjawab, Ucapkanlah seperti yg
mereka ucapkan, dan jika telah selesai, mintalah, engkau akan
diberi.
( HR. Abu Daud: 524, Ahmad: II/172, Ibnu Hibban: 1695 )




Kami pernah bersama Abu Huroiroh di masjid, lalu muadzin
mengumandangkan adzan sholat Ashar, setelah itu seorang laki-laki
berdiri dan berjalan keluar dari masjid, melihat hal itu Abu Huroiroh
memandanginya hingga keluar dari masjid, lalu ia berkata, Adapun
orang itu, telah durhaka kepada Abul Qosim Saw.
( HR. Muslim: 655, Abu Daud: 524, An-Nasai:2/29, At-Tirmidzi:131 )
Makruh hukumnya keluar dari masjid setelah
dikumandangkan adzan hingga melaksanakan
sholat wajib, kecuali karena ada udzur.
( Syarah Muslim: 5/157, Sunan At-Tirmidzi: 1/398)

Udzur yg membolehkan orang keluar masjid setelah iqomah


misalnya; wudlu, mandi dan lain sebagainya
Sebab Rosululloh Saw pernah keluar dari masjid setelah iqomah
sholat dan shof dirapikan, kemudian beliau mandi dan
kembali lagi ke masjid.





Ketika telah dikumandangkan iqomat untuk sholat, orang-orang
telah berada pada shof-shof mereka, keluarlah Rosululloh dan berdiri
pada posisi beliau. Kemudian beliau berisyarat kepada orang-orang
agar tetap di tempat mereka. Lalu beliau keluar untuk mandi dan dgn
kepala yg meneteskan air beliau sholat bersama mereka.

( HR. Muslim: 605, shohih )


Adzan adalah ibadah, karenanya ia harus bersesuaian dgn Nash
( Dalil Syari ) yg ada. Tidak disyrariatkan melakukan apapun kecuali
yg telah disyariatkan oleh Alloh melalui lisan Rosul-Nya.
Namun telah banyak berkembang kesalahan dan pertentangan yg
berkaitan dgn adzan, diantaranya :
1. Memanjangkan dan melagukan kalimat adzan
secara berlebihan
2. Menambah lafadz Sayyidina ketika
mengucapkan Syahadat
3. Bertasbih sebelum adzan
4. Mengucapkan sholawat dan doa dgn keras setelah
adzan
1. Tidak melaksanakan sunnah-sunnah yg ada
2. Sebagian orang menambah kalimat:

RY=e ~eRe
-<9e p dan 8R~je
3. Perkataan mereka : v
[f6% v cm
ue v ketika muadzin
mengucapkan takbir terakhir
dan berlomba cepat
Riwayat yg datang dari Nabi Saw menjelaskan bahwa sifat
Iqomah ada dua cara :

Terdiri dari 11 kalimat (hadits Abdulloh bin Zaid) :


Allohu Akbar X2
Asyhadu alla ilaaha illalloh
Asyhadu anna Muhammadar Rosuululloh X1
Hayya alash Sholaah
Hayya alal Falaah
Qod Qoomatish Sholaah X2
Allohu Akbar X2
Laa ilaaha illalloh
( HR. Bukhori: 605, Muslim: 378, Shohih )
Terdiri dari 17 kalimat ( hadits Abu Mahdzuroh ) :

Allohu Akbar X4
Asyhadu alla ilaaha illalloh X2
Asyhadu anna Muhammadar Rosuululloh X2
Hayya alash Sholaah X2
Hayya alal Falaah X2
Qod Qoomatish Sholaah X2
Allohu Akbar X2
Laa ilaaha illalloh X1
Yang afdhol adalah: Orang yang adzan-lah yang harus
mengumandangkan iqomah, sebab inilah yang
dilakukan Bilal, dan demikian pula yang
diyakini para ulama

Namun jika seorang mengumandangkan adzan, lalu


yang iqomah orang lain, maka hal ini juga
diperbolehkan
Disyariatkan bagi yang mendengar Iqomah menirukan
seperti yang diucapkan orang orang yang Iqomah
Hal ini seperti keumuman hadits Nabi Saw :



Jika kalian mendengar panggilan adzan, maka ucapkanlah seperti
yang diucapkan muadzin.
( HR. Bukhori: 611, Muslim: 383, shohih )
Iqomah disebut juga dengan Adzan dan Nida yang berarti seruan
atau panggilan
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw :

wI Gm: ga
G
Setiap diantara dua adzan ada sholat.
( HR. Bukhori: 624, Muslim: 838)

Yakni antara adzan dan iqomah


Disunnahkan utk mengucapkan apa yg didengar, yaitu:

Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi Saw

Adapun pendapat yg mengatakan jawabannya adalah:

Maka perlu diketahui bahwa hal ini


tidak tertera dalam hadits
Berdasarkan riwayat dari Jabir bin Samuroh :




Bilal mengumandangkan adzan ketika matahari terelincir ke barat,
dan tidak mengumandangkan iqomah hingga Nabi keluar-menuju
masjid. Jika beliau keluar dan Bilal melihatnya, maka ia
mengumandangkan iqomah.
( HR. Muslim: 606, shohih )
Berdasarkan riwayat dari Abu Huroiroh :




Sesungguhnya sholat telah di-iqomahi-i untuk Rosululloh Saw,
kemudian jamaah meluruskan shof mereka sebelum
Rosululloh Saw berdiri di tempatnya.
( HR. Muslim: 605, shohih )
Jamaah berdiri untuk Sholat ketika melihat Imam

Pendapat ini berdasarkan pada hadits Qotadah, bahwa Rosululloh


Saw bersabda:



Jika sholat telah didirikan, maka janganlah kalian berdiri untuk
mengerjakan sholat-kecuali setelah melihatku.
( HR. Bukhori: 637, Muslim: 604, shohih )
Asy-Syafii dan Jumhur Ulama berpendapat:
Makmum tidak boleh berdiri kecuali iqomah selesai
dikumandangkan.

Ahmad berpendapat :
Ketika Muadzin mengumandangkan Qod qoomatish-
Sholah , maka waktu sholat dimulai

Malik berpendapat :
Sholat didirikan setelah iqomah selesai
Yang jelas, mereka melakukan sholat ketika mereka
telah melihat imam berdiri untuk sholat

Sebab berdirinya imam di tempatnya sama artinya


dengan keluarnya imam dari rumah menuju
tempat sholat

Nabi Saw dalam hal ini bersabda:


Maka janganlah kalian berdiri untuk mengerjakan sholat-kecuali
setelah melihatku.
( HR. Bukhori: 637, Muslim: 604, shohih )
Wajib hukumnya, meninggalkan sholat rowatib atau sholat
lainnya bila telah dikumandangkan iqomah

Berdasarkan riwayat dari Abu Huroiroh, Nabi saw bersabda :


Jika iqomah telah dikumandangkan, maka yang ada hanyalah
sholat wajib.
( HR. Muslim: 710 )