You are on page 1of 28

KETENTUAN KHUSUS PPN DAN PPNBM

BERLIANDI WARTOYO HETTY SETIYANI

FASILITAS KHUSUS DI BIDANG PPN/PPNBM : TIDAK DIPUNGUT, DIBEBASKAN

Fasilitas di bidang PPN dan PPnBM adalah PPN dan PPnBM yang terutang dibebaskan atau tidak dipungut, baik sebagian atau seluruhnya, sementara waktu atau selamanya Fasilitas PPN dan PPn BM terutang tidak dipungut atau dibebaskan, diberikan terhadap : Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean, seperti Kawasan Berikat, KAPET. Penyerahan BKP/JKP Tertentu. Impor BKP Tertentu. Pemanfaatan BKP tdk berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Pemanfaatan JKP tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean

PPN DAN PPNBM ATAS PENYERAHAN KEPADA PEMUNGUT PAJAK

A. PEMUNGUT PPN
Kep Pres Nomor 56 tahun 1988 KMK No.547/KMK.04/2000 Namun seiring dengan penyederhanaan sistem pemungutan PPN, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK.03/2003 mulai 1 Januari 2004 pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM adalah Bendaharawan pemerintah dan kantor perbendaharaan dan kas negara. Dan sekarang berdasarkan PMK No. 85/PMK.03/2012 jo. PMK No.136/PMK.03/2012 BUMN kembali ditunjuk sebagai pemungut PPN.

B. OBYEK PEMUNGUTAN DI BIDANG PPN


1.

Setiap pembayaran yang dilakukan oleh Pemungut PPN, kecuali : a. Pembayaran yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 500.000 termasuk PPN/PPnBM dan tidak merupakan jumlah yang terpecah-pecah b. Pembayaran un`tuk pembebasan tanah c. Pembayaran atas penyerahan BKP yang PPNnya ditanggung oleh Pemerintah d. Pembayaran BBM dan Non BBM yang penyerahannya dilakukan oleh Pertamina e. Pembayaran atas jasa telekomunikasi yang diserahkan oleh PT Telkom f. Pembayaran atas Jasa Angkutan Udara Dalam Negeri g. Pembayaran kepada perseorangan yang mnyewakan ruangan atau rumah tinggal yang nilai sewa seluruhnya tidak melebihi Rp 30.000.000 setahun

C. OBYEK PEMUNGUTAN DI BIDANG PPN


Pembayaran untuk penyerahan bukan BKP dan bukan JKP i. Pembayaran untuk penyerahan JKP yang dilakukan oleh Instansi Pemerintah yang menjalankan fungsi Pemerintah j. Pembayaran atas penyerahan JKP yang dilakukan oleh Instansi Pemerintah kepada Instansi Pemerintah lainnya sepanjang dananya berasal dari APBN/D dan Instansi Pemerintah yang menerima pembayaran memasukkannya kedalam Mata Anggaran penerimaan instansi tersebut k. Pembayaran kepada Rekanan non PKP atau non NPWP yang tidak didasarkan atas kontrak. 2 Pembayaran kepada Rekanan non PKP atau non NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP berdasarkan kontrak /purchase order
h.

D. MEKANISME PEMUNGUTAN
1.

2.

3.
4. 5.

Saat pajak terutang adalah pada saat pembayaran. Dalam pasal 30 PP nomor 50/ 1994 ditetapkan bahwa pajak yang terutang dipungut pada saat pembayaran oleh Pemungut PPN Pada saat PKP Rekanan memasukkan tagihan diwajibkan membuat : a. Faktur Pajak yang sudah diisi lengkap b. SSP yang hanya diisi Identitas PKP Rekanan dan Jumlah PPN terutang, sedangkan kolom Masa Pajak dan tanggal pembuatan serta tanda tangan dikosongi Faktur Pajak dibuat rangkap 3 (tiga) SSP dibuat rangkap 5 (lima) Dalam hal Bank Pemerintah atau Bank Pembangunan Daerah bertindak sebagai Kasir dari Bendaharawan Pemerintah, maka Faktur Pajak dan SSP yang diteruskan ke Bank yang bersangkutan melalui Bendaharawan. Yang diwajibkan memungut dan melapor adalah Bank yang bersangkutan

6.

Saat Pelaporan

KETENTUAN ATAS TRANSAKSI/INDUSTRI KHUSUS

PAJAK PROPERTI ( APARTEMEN, REAL ESTATE, DAN KONSTRUKSI


Pajak Properti terdiri dari membeli property baik secara perorangan maupun melalui developer/ pengembang property, ada pajak-pajak yang dikenakan pemerintah kepada anda. PPN atas property hanya dikenakan satu kali saat membeli property baru, baik dari developer maupun perorangan. Besarnya pajak 10 persen dari nilai transaksi. Properti yang dipungu.t PPN nilainya diatas 36 juta

PEDAGANG PERHIASAN (EMAS)


Pengusaha Toko Emas Perhiasan adalah orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha di bidang penyerahan emas perhiasan, berdasarkan pesanan maupun penjualan langsung, baik produksi sendiri maupun pihak lain; yang memiliki karakteristik pedagang eceran Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak

Penyerahan Emas Perhiasan oleh Pengusaha Toko Emas Perhiasan terutang PPN sebesar 10% dari harga jual emas perhiasan. Yang Perlu Dilakukan Oleh Pengusaha Toko Emas Perhiasan : a. Pengusaha Toko Emas Perhiasan wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. b. Pengusaha Toko Emas Perhiasan yang melakukan penyerahan emas perhiasan wajib membuat Faktur Pajak, memungut, dan menyetor Pajak Pertambahan Nilai yang terutang, serta melaporkannya pada Surat Pemberitahuan Masa PPN

TRANSAKSI SYARIAH

Dalam hal Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Syariah melakukan kegiatan usaha yang sama, perlakuan PPN atas kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Syariah tersebut adalah sama dengan perlakuan PPN atas kegiatan usaha Bank Umum. Pembiayaan murabahah menggunakan prinsip jual beli sehingga memunculkan margin yang merupakan selisih antara dana yang diberikan dengan total dana yang harus dikembalikan oleh penerima dana. Karena terkait dengan pembiayaan, bukan semata-mata transaksi jual beli. Maka terhadap margin tersebut diperlakukan sebagai penghasilan yang merupakan objek pemotongan Pajak Penghasilan. Jika peraturan perpajakan merupakan satu kesatuan, tidak dilihat secara parsial, maka Peraturan Pemerintah ini menegaskan bahwa pembiayaan bukan jual beli sehingga atas transaksi pembiyaan murabahah tidak terutang PPN [bukan objek PPN]. Disini, bank tidak ditempatkan sebagai penjual atau pembeli, tapi dianggap sebagai lembaga keuangan

PEDAGANG ECERAN (RETAIL)

Pengertian Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran (PKP PE)


Pedagang Eceran yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Pengusaha Orang Pribadi dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto selama 1 (satu) tahun buku tidak lebih dari Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah); dan Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Pengusaha Orang Pribadi dan atau Badan yang menyelenggarakan pembukuan, Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran Pedagang Eceran yang telah memenuhi kriteria tersebut, wajib melaporkan usahanya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak paling lambat akhir bulan berikutnya setelah bulan dilampauinya batas nilai peredaran BK

LEASING
Transaksi sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi 1. Dalam hal Barang Kena Pajak berupa barang modal yang menjadi objek pembiayaan berasal dari pemasok (Supplier): 2. Barang Kena Pajak tersebut dianggap diserahkan secara langsung oleh Pengusaha Kena Pajak pemasok (supplier) kepada lessee; 3. Lessor tidak perlu dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak karena dianggap hanya menyerahkan jasa pembiayaan yang merupakan jenis jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai. 4. Pengusaha Kena Pajak pemasok wajib menerbitkan Faktur Pajak kepada lessee dengan menggunakan identitas lessee sebagai pembeli Barang Kena Pajak/penerima Jasa Kena Pajak (tidak menggunakan metode qualitate qua (q.q.)). 5. Dasar Pengenaan Pajak yang dicantumkan dalam Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 3 adalah sebesar Harga Jual dari Pengusaha Kena pajak pemasok.

LEASING
Transaksi penjualan dan penyewagunausahaan kembali (sale and leaseback) Dalam hal penyewagunausahaan kembalinya merupakan sewa guna usaha dengan hak opsi: 1. penyerahan Barang Kena Pajak tersebut dari lessee kepada lessor pada dasarnya merupakan penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang piutang; 2. penyerahan jasa sewa guna usaha dengan hak opsi oleh lessor kepada lessee (leaseback) merupakan jasa pembiayaan yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai,

LEASING
Dalam hal penyewagunausahaan kembalinya merupakan sewa guna usaha tanpa hak opsi: 1. penyerahan Barang Kena Pajak dari lessee kepada lessor (sale) dikenai Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; 2. penyerahan jasa sewa guna usaha tanpa hak opsi oleh lessor kepada lessee (leaseback) dikenai Pajak .

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)


Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN apabila : 1. Membangun sendiri tersebut dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan, yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain, termasuk yang dilakukan melalui kontraktor atau pemborong tetapi atas kegiatan membangun sendiri tersebut tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai. 2. Bangunan adalah berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada satu kesatuan tanah/ dan atau perairan dengan criteria:
A. Konstruksi

utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bara atau bahan sejenis dan/atau baja; B. Diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; C. Luas keseluruhan paling sedikit 300m2 (tiga ratus meter persegi)

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)


3.

Termasuk kegiatan membangun sendiri adalah kegiatan membangun bangunan yang dilakukan melalui kontraktor atau pemborong tetapi atas kegiatan membangun tersebut tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai, dan kontraktor atau pemborong tersebut bukan merupakan Pengusaha Kena pajak

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)

Tarif dan Pengenaan Pajak Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN sebesar 10 % (sepuluh persen) dari Dasar Pengenaan Pajak. Dasar Pengenaan Pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah 40% (empat puluh persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan, tidak termasuk harga perolehan tanah. Termasuk dalam pengertian jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan untuk membangun sendiri adalah juga jumlah PPN yang dibayar atas perolehan bahan dan jasa untuk kegiatan membangun sendiri tersebut.

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)

Saat dan tempat pajak terutang: 1. Saat yang menentukan PPN terutang adalah saat dimulainya secara fisik kegiatan membangun sendiri (menggali fondasi, memasang tiang pancang dan lain-lain). 2. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara bertahap dianggap merupakan satu kesatuan kegiatan sepanjang tenggang waktu antara tahapan-tahapan tersebut tidak lebih dari 2 (dua) tahun. 3. Tempat pajak terutang atas kegiatan pajak membangun sendiri adalah di temapt bangunan tersebut didirikan.

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)

Kegiatan Membangun Sendiri Di Kawasan Real Estat

Membangun sendiri pada kawasan Real Estat di atas tanah yang diperoleh sesudah 31 Desember 1994, tidak dikategorikan sebagai membangun sendiri, tetapi dianggap dibangun oleh Real Estate. Karena pada dasarnya Real Estat tidak boleh menjual tanah. Dengan demikian kegiatan membangun sendiri pada kawasan Real Estat di atas tanah yang diperoleh sebelum 1 Januari 1995 masih dapat dikategorikan sebagai kegiatan membangun sendiri.

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI (KMS)

a.
b.

c.

d.

e.

Dalam hal perolehan tanah kavling pada kawasan Real Estat e terjadi sesudah tanggal 1 Januari 1995, maka : Kegiatan membangun sendiri oleh pemilik kavling, dianggap dibangun oleh PKP Real Estat. Dasar Pengenaan Pajak adalah sebesar nilai bangunan (tidak termasuk harga tanah) yang dihitung oleh PKP Real Estat seandainya rumah tersebut dibangun oleh PKP Real Estat. Seluruh biaya yang dikeluarkan oleh pemilik kavling sehubungan dengan pembangunan rumah tersebut, dilaporkan kepada PKP Real Estat setiap bulan dan dianggap sebagai pembayaran termin. Apabila rumah tersebut telah selesai dibangun, PKP Real Estat harus menentukan nilai bangunan rumah tersebut sesuai dengan patokan harga yang berlaku. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang digunakan untuk membangun rumah tersebut tidak dapat dikreditkan

KASUS PERBANKAN SYARIAH (PERMASALAHAN PAJAK GANDA MURABAHAH)

LATAR BELAKANG MASALAH

Permasalahan pajak ganda yang dikenakan kepada bank-bank Syariah dengan skim murabahahnya sebenarnya issue yang sudah lama. Rumor ini muncul sejak tahun 1997, dan saat ini kembali ramai diperdebatkan lantaran pajak yang harus dibayarkan kepada Ditjen Pajak jauh lebih besar dari pendapatan yang diterima oleh bank-bank syariah dengan transaksi murabahahnya. Pada prinsipnya Murabahah itu jual beli, ketika ada permintaan dari nasabah, bank terlebih dahulu membeli pesanan sesuai permintaan nasabah, lalu bank menjualnya kembali kepada pemesan dengan harga aslinya lalu ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati oleh pemesan.

Karena transaksi jual beli itu terjadinya dua kali, maka terjadi dua kali peralihan kepemilikan sehingga PPN-nya dikenakan dua kali juga. Menurut UU No. 18 Tahun 2000 (tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, utamanya Pasal 1A ayat (1), huruf a dan b,) berarti juga terbebani dua kali pembayaran pajak.

Alasan pemerintah ngotot menarik pajak berganda ini karena melihat nilai pembiayaan murabahah yang lumayan. Tengok saja, dari total pembiayaan perbankan syariah sebesar Rp 60 triliun, sekitar 57% atau Rp 34,2 triliun merupakan pembiayaan akad murabahah. Jadi, ada potensi pajak Rp 3,42 triliun

ALASAN PENGHAPUSAN
Paling tidak ada dua alasan mendesak pentingnya dihapus pajak ganda (double taxation) tersebut yaitu pajak ganda ini menjadi penghambat perkembangan perbankan syariah, padahal saat ini sedang dilakukan pencapaian target aset perbankan syariah menjadi dua persen , penghapusan pajak ganda menjadi sangat penting terkait dengan kepentingan masuknya investasi asing di Indonesia

SOLUSI

penghapusan ini dengan melakukan amandemen regulasi yang menyangkut pajak yakni UU No. 18 Tahun 2000 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No.8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan pajak Penjualan Atas Barang Mewah dengan memanfaatkan momentum yang ada, yakni saat ini RUU Perbankan Syariah dan RUU Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sedang dibahas, perlu memasukkan klausula yang menyangkut penghapusan pajak ganda pada kedua RUU tersebut Pentingnya Sinergi antara Ahli Akuntansi dan Ahli Syariah. Dalam penetapan suatu hal baik itu standar akuntansi di perbankan syariah (PSAK), produk-produk di takaful maupun di pasar modal syariah seharusnya diserahkan kepada pihak yang ahli Urgensi Memiliki Shariah Committee dalam Penetapan Standar PSAK