You are on page 1of 4

ADZAN DUA KALI KETIKA JUM’AT

Pada zaman sekarang ini banyak masyarakat khususnya di negara kita dimana
Sebagian masjid di Indonesia melakukan dua kali adzan ketika shalat Jumat, yakni
adzan ketika khatib belum naik mimbar, dan adzan ketika khatib duduk di atas
mimbar. Pada zaman nabi, Abu Bakar, dan Umar r.a. hanya terjadi adzan ketika
khatib duduk di mimbar dan iqamat menjelang shalatnya (Adzan dan iqamat ini di
isitilahkan adzanain (dua adzan), karena hakikatnya iqamat juga merupakan
panggilan/ an-nidaa’). Adzan yang dilakukan sebelum khatib naik mimbar, dalam
hadits di istilahkan adzan ketiga. Namun, pada pertanyaan dalam fatwa ini di
isitilahkan dengan adzan pertama. Apa pun penamaannya, secara maksud adalah
sama, yaitu satu adzan tambahan, diluar dua buah adzan (adzan ketika khatib duduk di
mimbar dan iqamat), yang dikumandangkan diurutan pertama dari kesemuanya.

Tentunya berpijak dari hukum Islam yang didasari atas dari al-Quran dan Hadis.
Dalam sebuah kitab fiqih dijelaskan:

Dua adzan untuk shalat Subuh hukumnya sunat, waktu adzan pertama sebelum
fajar dan adzan kedua ketika fajar. Kalau mau satu saja, maka adzan yang
kedua lebih utama. Dan disunahkan pula dua adzan ketika Jumat, yang pertama
ketika Khatib naik mimbar dan yang kedua sebelumnya (Fathul Mu’in, fasal
Adzan dan Iqamat).

Adzan shalat pertama kali disyari’atkan oleh Islam adalah pada tahun pertama
Hijriyah. Di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khathab
mengumandangkan adzan untuk shalat Jum’at hanya dua kali, yaitu sesudah Khatib
naik mimbar dan setelah shalat. Tetapi di zaman Khalifah Utsman bin Affan r.a.
menambah adzan satu kali lagi sebelum khatib naik ke atas mimbar, sehingga adzan
Jum’at menjadi dua kali.
Ijtihad ini beliau lakukan karena melihat manusia sudah mulai banyak dan
tempat tinggalnya berjauhan. Sehingga dibutuhkan satu adzan lagi untuk memberi
tahu bahwa shalat Jumat hendak dilaksanakan. Dalam kitab Shahih al-Bukhari
dijelaskan :
Dari Sa’ib ia berkata, “Saya mendengar dari Sa’ib bin Yazid, beliau berkata,
“Sesungguhnya adzan di hari Jumat pada asalnya ketika masa Rasulullah
SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk di atas
mimbar. Namun ketika masa Khalifah Utsman RA dan kaum muslimin sudah
banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan adzan yang ketiga. Adzan
tersebut dikumandangkan di atas Zaura’ (nama pasar). Maka tetaplah hal
tersebut (sampai sekarang)”. (Shahih al-Bukhari: 865)

Yang dimaksud dengan adzan yang ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum
khatib naik ke mimbar. Sementara adzan pertama adalah adzan setelah khathib naik
ke mimbar dan adzan kedua adalah iqamah. Dari sinilah, Syaikh Zainuddin al-
Malibari, pengarang kitab Fath al-Mu’in, mengatakan bahwa sunnah
mengumandangkan adzan dua kali. Pertama sebelum khatib naik ke mimbar dan yang
kedua dilakukan setelah khatib naik di atas mimbar :

“Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat Shubuh, yakni sebelum fajar dan
setelahnya. Jika hanya mengumandangkan satu kali, maka yang utama
dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua adzan untuk shalat Jum’at. Salah
satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain sebelumnya”. (Fath al-
Mu’in: 15)

Meskipun adzan tersebut tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW,
ternyata ijtihad Utsman r.a. tersebut tidak diingkari (dibantah) oleh para sahabat Nabi
SAW yang lain. Itulah yang disebut dengan “ijma sukuti”, yakni satu kesepakatan
para sahabat Nabi SAW terhadap hukum suatu kasus dengan cara tidak
mengingkarinya. Diam berarti setuju pada keputusan hukumnya. Dalam kitab al-
Mawahib al-Ladunniyyah disebutkan :

“Sesungguhnya apa yang dilakukan Sayyidina Ustman ra. itu merupakan ijma’
sukuti (kesepakatan tidak langsung) karena para sahabat yang lain tidak
menentang kebijakan tersebut” (al-Mawahib al Laduniyah, juz II,: 249)

Apakah itu tidak mengubah sunah Rasul? Tentu Adzan dua kali tidak mengubah
sunnah Rasulullah SAW karena kita mengikuti Utsman bin Affan ra. itu juga berarti
ikut Rasulullah SAW. Beliau telah bersabda:

“Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-
Khulafa’ al-Rasyidun sesudah aku “. (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Apalagi adzan kedua yang dilakukan sejak zaman Utsman bin Affan RA itu,
sama sekali tidak ditentang oleh sahabat atau sebagian dari para sahabat di kala itu.
Jadi menurut istilah ushul fiqh, adzan Jum’at dua kali sudah menjadi “ijma’ sukuti”.
Sehingga perbuatan itu memiliki landasan yang kuat dari salah satu sumber hukum
Islam, yakni ijma’ para sahabat.
Adzan pertama pada hari Jum'at bukan termasuk bid'ah yang dibuat-buat,
bahkan termasuk sebuah sunnah dari sunnah Khalifah Rasyidin 'Utsman bin 'Affan
memerintahkan untuk berpegang teguh dengannya. Dalam, hal ini Nabi SAW
bersabda :

”Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah
khulafa' rasyidin yang di beri petunjuk, dan gigitlah oleh kalian atas keduanya
dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad (9/35)

Imam Abu Al Hasan Al Mawardi Asy Syafi'i berkata :


"Adapun adzan kedua adalah muhdats (hal baru), yang dilakukan oleh Utsman r.a
agar orang mampu bersiap-siap menghadiri khutbah karena kota Madinah waktu itu
semakin banyak penduduknya.” (Imam Al Qurthubi, Jami’ul Ahkamil Quran, Juz. 18,
Hal. 100)

Bila melihat alasan-alasan diatas, nampaklah bahwa adzan tersebut dilakukan karena
ada ‘illat (alasan) yang mendukung untuk dilakukan hal tersebut.
Namun, untuk daerah yang sudah ada pengeras suara, yang suara tersebut sudah
mampu menjangkau beberapa kilometer, tentu adzan sekali lebih utama, sebab alasan
(‘illat) Utsman bin Affan ditambahnya adzan itu adalah agar yang dipasar juga
mendengar. Kalau pun ingin benar-benar secara total ingin mengikuti Utsman,
seharusnya kelompok yang berpendapat adzan dua kali, mereka juga melakukan

3
4
adzan yang pertamanya di pasar. Saat ini. ketika alasan sebagaimana Utsman sudah
tidak ada, maka hukumnya pun tidak ada.

Jadi, masalah ini tergantung ‘illat (alasan) nya, jika sebuah daerah memiliki ‘illat
sebagaimana masa Utsman, bahwa adzan sekali saja tidak cukup karena tidak
terdengar, maka sebaiknya adzan memang dua kali. Namun, jika sebuah daerah
dengan adzan sekali sudah memadai karena sudah menggunakan pengeras suara,
maka itu lebih utama. Nampaknya, inilah yang menjadi kondisi umumnya kita saat
ini.

Dalam Ajwibah Nafi’ah, kata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

“Kita tidak mengikut perbuatan Utsman secara mutlak tanpa memperhatikan alasan-
alasan beliau, dan telah kita ketahui bahwa Utsman menambah adzan karena
beberapa sebab yang rasional, yaitu jumlah penduduk Madinah yang bertambah
ramai dan jarak antara kawasan perumahan yang semakin jauh dari Masjid Nabi,
maka siapa saja yang mengikut pendapat Utsman secara taqlid buta tanpa
memperhatikan sebab-sebab ini maka dia telah berbeda dengan Utsman, dengan
menambah-nambah sunah Nabi SAW dan sunah para Khulafa’ur Rasyidin
setelahnya.” (Al Ajwibah An Nafi’ah, Hal. 3. Syamilah)

Dalam kitabnya, Al Umm Imam Asy-Syafi’i berkata: “Dan aku sukai bahwa Adzan
pada hari jum’at adalah ketika imam masuk kedalam masjid dan duduk diatas
tempatnya yakni tempat ia hendak berkhutbah yang terbuat dari kayu. atau mimbar
atau sesuatu yang dapat menjadikannya tinggi, atau tanah. Maka apabila telah
selesai (imam naik keatas mimbar) hendaklah Muadzin mengumandangkan adzan
dan apabila selesai adzan tersebut hendaklah imam berkhutbah tanpa ada tambahan
lain. Dan aku sukai bahwa muadzin mengumandangkan adzan seorang diri apabila
ia (imam) telah diatas mimbar, dan tidak boleh mengumpulkan dua muadzin.” Telah
mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami
Asy-Syafi’i ia berkata; telah mengabarkan kepada kami secara tsiqah (terpercaya)
dari Az-Zuhri dari Saib bin Yazid bahwa Adzan pertama kali untuk jum’at adalah
ketika imam telah duduk diatas mimbar, ini pada masa Rasulullah SAW, dan Abu
Bakar dan Umar, kemudian pada masa khalifah Utsman sedangkan saat itu manusia
telah banyak maka Utsman memerintahkan untuk mengadakan adzan kedua, maka
terjadilah adzan (kedua) pada masa itu, dan menjadi baku-lah hal itu. Berkata Imam
Asy-Syafi’i: Dan sesungguhnya ‘Atha mengingkari (tidak menyetujui) perbuatan itu
bahwa Utsman telah melakukan perbuatan muhdats (baru) akan tetapi ia (‘Atha)
berkata bahwa Mu’awiyah lah yang melakukan perbuatan muhdats itu. Wallahu
Ta’ala a’lam. Berkata Asy-Syafi’i: “Yang mana saja, dari kedua hal itu (pada masa
Utsman atau Muawiyah) maka Apa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW lebih
aku sukai. (yakni adzan sekali).” (Imam Asy Syafi’i, Al-Umm, Juz. 1, Hal. 224. Darul
Fikri, Beirut- Libanon. Cet. 2. 1983M/1403H)

Sekalipun demikian, permasalahan ini adalah sebuah perkara yang longgar, karena
tidak ada seorangpun yang mengatakan wajibnya adzan tersebut. Oleh karena itu,
tidak selayaknya sebagian kaum muslimin berpecah belah, dan berselisih hanya
karena khilaf dalam sebagian permasalahan ijtihadiyah seperti ini.
Maka barangsiapa menjadikan shalat Jum'at dengan satu adzan selepas khatib naik
mimbar, maka dia telah mengamalkan sunnah. Dan barangsiapa menjadikan dua

5
adzan untuk shalat Jum'at, sebagai bentuk pengamalan dari apa yang diamalkan oleh
khalifah Rasulullah dan ini adalah perbedaan dalam masalah furu’iyyah yang
mungkin akan terus menjadi perbedaan hukum di kalangan umat, tetapi yang
terpenting bahwa adzan Jum’at satu kali, dua kali atau tiga kali itu bisa demi
melaksanakan syari’at Islam untuk mendapat ridla Allah SWT.

Dikutip dari buku Siradjuddin Abbas, Masalah Agama. Pustaka Tarbiyah Baru.
Jakarta. 2009