You are on page 1of 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Secara umum kita tahu bahwa Fungsi Bank pemerintah adalah untuk memberikan
pelayanan kepada pemerintah, dunia usaha dan perorangan. Kegiatan yang penting adalah
membiayai proyek pembangunan yang bertujuan menggairahkan industri baru maupun yang
sedang berkembang, dalam wujud menyediakan dana atau pemberian kredit.
Pemberian kredit ini megandung suatu tingkat resiko (degree of risk) tertentu. Untuk
menghindari maupun untuk memperkecil resiko kredit yang mungkin terjadi, maka permohonan
kredit harus dinilai oleh bank atas dasar syarat bank teknis.
Analisis kredit mengandung pengertian penilaian kredit dalam segala aspek, baik keuangan
maupun non-keuangan. Menurut Lukman Dendawijaya (2005:88) Analisis kredit adalah suatu
proses yang dimaksudkan untuk menganalisis atau menilai suatu permohonan kredit yang diajukan
oleh calon debitur kredit sehingga dapat memberikan keyakinan kepada pihak bank bahwa proyek
yang akan dibiayai dengan kredit bank cukup layak (feasible). Dari pengertian diatas, dapat
dikatakan bahwa Analisis kredit adalah suatu proses analisis kredit dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan dan rasio-rasio keuangan untuk menentukan kebutuhan kredit yang wajar.
tujuan analisis kredit untuk melihat / menilai suatu usaha atas dasar kelayakan usaha, menilai
risiko usaha dan bagaimana mengelolanya, dan memberikan kredit atas dasar kelayakan usaha.
Pada dasarnya analisis kredit digunakan untuk meneliti atau menilai pemohon kredit secara
mendalam tentang keadaan usaha atau proyek pemohon kredit agar pelaksanaan kredit yang akan
dilakukan dapat berjalan dengan lancar sehingga tidak menimbulkan kredit macet.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka perlu kita membahas “Apa itu analisis
kredit, apa pertimbangan bank untuk memberikan kredit kepada nasabah-nasabahnya, fungsi
analisis kredit itu sendiri, aspek-aspek dan prinsip-prinsip analisis terhadap kredit itu sendiri.”
2

BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum kita Mengetahui Lebih lanjut tentang Analisi Kredit kita harus tahu dulu apa itu
kredit ?? Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
jumlah bungan, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
Analisis kredit merupakan suatu proses analisis yang dilakukan oleh bank untuk menilai
suatu permohonan kredit yang telah diajukan oleh calon debitur. Pemberian kredit oleh bank
kepada debitur merupakan penempatan aktiva produktif kepada aktiva berisiko. Yang dimana
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 Tentang
Penilaian Kualitas Aktiva Produktif Bank Umum pada Pasal 1 angka 3: Aktiva Produktif adalah
penyediaan dana Bank untuk memperoleh penghasilan, dalam bentuk kredit, surat berharga,
penempatan dana antar bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan
janji dijual kembali (reverse repurchase agreement), tagihan derivatif, penyertaan, transaksi
rekening administratif serta bentuk penyediaan dana lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.
Dengan demikian, bank selaku pihak yang akan menempatkan aktiva produktifnya kepada
aktiva berisiko melalui pemberian kredit, harus meyakini dan secara selektif dalam mengucurkan
kreditnya. Untuk meyakini hal tersebut, maka setiap permohonan kredit yang diterima, haruslah
secara seksama dilakukan analisisis kreditnya untuk menilai layak tidaknya kredit diberikan.
Maksud dan tujuan dilakukan analisis kredit atas permohonan kredit agar aktiva produktif yang
ditempatkan tersebut tidak menjadi kredit bermasalah atau kredit macet (Non Performing Loan).
Menurut Supriyono (2011:161) menyatakan proses analisis kredit mempunyai tujuan utama yang
paling hakiki, yaitu agar bank membuat satu keputusan kredit yang baik dan benar “make a good
loan”, sehingga terhindar dari keputusan kredit yang keliru yang menyebabkan kredit bermasalah
“bad loan”.
Analisis kredit harus dibuat secara lengkap, akurat dan objektif yang minimal meliputi
hal-hal sebagai berikut:
o Menggambarkan semua informasi yang berkaitan dengan usaha dan data pemohon termasuk hasil
penelitian pada daftar kredit macet.
3

o Penilaian atas kelayakan jumlah permohonan kredit dengan proyek atau kegiatan usaha yang akan
dibiayai, dengan sasaran menghindari kemungkinan terjadinya praktek mark-up yang dapat
merugikan bank.
o Menyajikan penilaian yang objektif dan tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan
dengan pemohon kredit. Analisis kredit tidak boleh merupakan suatu formalitas yang dilakukan
semata-mata untuk memenuhi prosedur. (Banker Association for Risk Management (BARA)
dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan (LSPP), 2011)

Dalam melakukan analisis tersebut sekurang-kurangnya melakukan penerapan prinsip


dasar yaitu prinsip 5C, 5P, 3R serta 6A.
Analisis 5C
Adapun Analisis 5C yaitu:
a. Character, suatu keyakinan bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang diberikan kredit benar-
benar dapat dipercaya. Hal ini tercermin dari latar belakang nasabah baik latar belakang pekerjaan,
mapun yang bersifat pribadi seperti : Cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan
keluarga, hobi dan social standing-nya.
b. Capacity, untuk melihat kemampuan nasabah dalam bidang bisnis yan g dihubungkan dengan
bidang pendidikannya, kemampuan bisnis juga diukur dengan kemampuannya dalam memahami
tentang ketentuan-ketentuan pemerintah. Begitu juga dengan kemampuannya dalam menjalankan
usahanya termasuk kekuatan yang dimiliki. Pada akhirnya akan terlihat kemampuannya dalam
mengembalikan kredit yang disalurkan.
c. Capital, untuk melihat penggunaan modal apakah efektif dilihat dari laporan keuangan (neraca
dan laporan rugi/laba) dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas/solvabilitas,
rentabilitas dan ukuran lainnya. Capital juga harus dilihat dari sumber mana modal yang ada
sekarang ini.
d. Collateral, merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non
fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti
keabsahaanya, sehingga tidak terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat
dipergunakan secepat mungkin.
4

e. Condition, dalam menilai kredit hendaknya dinilai kondisi ekonomi sekarang dan kemungkinan
untuk masa yang akan datang sesuai dengan sektor masing-masing, serta diakibatkan dari prospek
usaha sektor yang dijalankan. (Abdullah & Tantri, 2012:173-174)

Analisis 7P
Adapun analisis 7P, sebagai berikut:
a. Personality, menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun
masa lalunya. Sifat, kepribadian calon debitur dipergunakan sebagai dasar pertimbangan
pemberian kredit.
b. Party, mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu
berdasarkan modal, loyalitas serta karakter.
c. Purpose, untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang
diinginkan nasabah.
d. Prospect, untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan atau tidak, atau
dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.
e. Payment, merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil
atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit.
f. Profitability, untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
g. Protection, tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan
perlindungan. Perlindungan dapat berupa barang atau orang atau jaminan asuransi. (Kasmir,
2004:106)

Analisis 3R
Adapun Analisis 3R yaitu:
1. Return (hasil yang dicapai)
Return disini dimaksudkan penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh perusahaan debitur setelah
dibantu kredit oleh bank.
2. Repayment (pembayaran kembali)
Dalam hal ini bank harus menilai berapa lama perusahaan pemohonan kredit dapat membayar
kembali pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar kembali (repayment capacity) dan
apakah kredit harus diangsur/dicicil/atau dilunasi sekaligus diakhir periode.
5

3. Risk Bearing Ability (kemampuan untuk menanggung risiko)


Dalam hal ini bank harus mengetahui dan menilai sampai sejauh mana perusahaan pemohon kredit
mampu menanggung risiko kegagalan andaikata terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (Firdaus &
Ariyanti, 2009:89-90).

Analisis 6A
Menurut Ismail (2010) Analisis 6A, artinya terdapat 6 aspek yang perlu dilakukan analisi
terhadap permohonan kredit calon debitur. Keenam aspek tersebut terdiri dari: 1) Analisis Aspek
Hukum, 2) Analisis Aspek Pemasaran, 3) Analisis Aspek Teknis, 4) Analisis Aspek Manajemen,
5) Analisis Aspek Keuangan dan 6) Analisis Aspek Sosial Ekonomi.
1) Analisis Aspek Hukum
Dalam analisis aspek hukum, pihak Bank melakukan analisis menyangkut dokumen-dokumen
yang disampaikan oleh calon debitur/debitur mengenai identitas diri pemohon, legalitas perizinan
usaha (SIUP, SITU, TDP, Izin Gangguan) dan NPWP, Akte pendirian (untuk calon debitur
berbentuk badan hukum seperti PT, Yayasan, Koperasi ataupun bukan badan hukum seperti CV
dan Firma), Pengesahaan Akte pendirian dari Kemenkumham untuk calon debitur berbentuk badan
hukum dan pengesahaan dari pengadilan untuk calon debitur bukan badan hukum,
2) Analisis Aspek Pemasaran
Dalam analisis aspek pemasaran, maka pihak bank akan melakukan analisis mengenai barang yang
dipasarkan, luas daerah pemasaran dan besarnya pangsa pasar, jumlah pesaing, strategi dalam
menghadapi persaiangan, rencana penjualan.
3) Analisis Aspek Teknis
Dalam analisis aspek teknis, maka pihak bank melakukan analisis mengenai ketersediaan bahan
baku, lokasi usaha (pabrik), proses produksi, layout pabrik.
4) Analisis Aspek Manajemen
Untuk aspek umum, maka analisis dilakukan terhadap aspek manajemen seperti pengalaman
usaha, pengendali usaha (Key Person), jumlah tenaga kerja, regenerasi, struktur organisasi.
5) Analisis Aspek Keuangan
Didalam aspek keuangan, maka perlu dilakukan analisis mengenai Liquidity, Leverage, Activity,
Profitabilty serta analisis sumber dan penggunaan dana
6) Analisis Aspek Sosial Ekonomi
6

Dalam aspek ini, maka pihak bank akan menganalisis dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan
calon debitur, apakah perusahaan telah memiliki amdal serta pengaruh perusahaan dalam lapangan
kerja.
Unsur-unsur Kredit
Kredit yang diberikan oleh suatu lembaga kredit didasarkan atas kepercayaan, sehingga
dengan demikian pemberian kredit merupakan pemberian kepercayaan. Ini berarti bahwa suatu
lembaga kredit baru akan memberikan kredit kalau ia betul-betul yakin bahwa si penerima kredit
akan mengembalikan pinjaman yang diterimanya sesusai dengan jangka waktu dan syarat-syarat
yang telah disetujui oleh kedua pihak. Tanpa keyakinan tersebut, suatu lembaga kredit tidak akan
menerimakan simpanan masyarakat yang diterimanya.
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah
sebagai berikut:
1. Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberi bahwa yang diberikan (berupa uang, barang atau jasa) akan
benar-benar diterima kembali di masa datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, di mana
sebelumnya sudah dilakukan penyelidikan tentang nasabah baik secara interen maupun eksteren.
Penelitian dan penyelidikan tentang kondisi masa lalu dan sekarang terhadap nasabah pemohon
kredit.
2. Kesepakatan
Di samping unsur percaya di dalam kredit juga mengandung antara si pemberi kredit dengan si
penerima kredit. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian di masa masing-masing
pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.
3. JangkawaktuSetiap kredit yang diberikan memiliki waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup
masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka
waktu pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
4. Risiko Adanya risiko senggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak
tertagihnya/macet pemberian kredit. Semakin panjang waktu kredit semakin besar risikonya pula
sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang disengaja oleh nasabah yang
lalai, maupun oleh risiko yang tidak disengaja. Misalnya terjadi bencan alam atau bangkrutnya
nasabah tanpa adaunsurkesengajaanlainnya.
7

5. Balas jasa Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita
kenal dengan nama bunga. Balas jasa dalam bentuk bunga dan biaya administrasi kredit ini
merupakan keuntungan bank. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya
ditentukan dengan bagi hasil. Menurut Prof. Subekti, SH., dalam bukunya Hukum Perjanjian,
bahwa yang dimaksud dengan risiko adalah kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena
suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak. Berkaitan dengan pemberian kredit oleh pihak
bank kepada debitor tentu pula mengandung risiko usaha bank. Risiko di sini adalah risiko dari
kemungkinan ketidakmampuan dari debitor untuk membayar angsuran atau melunasi kreditnya
karena sesuatu hal tertentu yang tidak dikehendaki.
Oleh karena itu, semakin lama jangka waktu atau tenggang waktu yang diberikan untuk
pelusanan kredit,maka makin besar juga risiko bagi bank. Setiap perjanjian tentu mengandung
adanya prestasi dan kontraprestasi. Oleh karena itu, dalam perjanjian kredit sejak saat adanya
kesepakatan atau persetujuan dari kedua belah pihak (bank dan nasabah debitor) telah
menimbulkan hubungan hukum atau menimbulkan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak
sesuai kesepakatan yang telah meraka sepakati. Bank sebagai kreditor berkewajiban untuk
memberikan kredit sesuai dengan jumlah yang disetujui, dan atas prestasinya tersebut bank berhak
untuk memperoleh pelunasan kredit dan bunga dari debitor sebagai kontraprestasinya.
Jenis-jenis Kredit
Bagaimana jenis usaha, menyebabkan beragam pula kebutuhan akan dana. Kebutuhan dana yang
beragam menyebabkan jenis kredit juga menjadi beragam. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan
dana yang diinginkan nasabah. Dalam praktiknya kredit yang diberikan bank umum dan bank
perkreditan rakyat untuk masyarakat terdiri dari berbagai jenis. Secara umum jenis-jenis kredit
dapat dilihat dari berbagai segi antara lain :

1. Dilihat dari segi kegunaan


a. Kredit investasi
Kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk
keperluan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau usaha keperluan rehabilitasi. Contoh
kredit investasi misalnya untuk membangun pabrik atau membeli mesin-mesin. Masa
pemakaiannya untuk suatu periode yang relative lama dan dibutuhkan modal yang relative besar
pula.
8

b. Kredit modal kerja


Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan
produksi dalam operasionalnya, sebagai contoh kredit modal kerja diberikan untuk membeli bahan
baku, membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan proses produksi
perusahaan.

2. Dilihat dari segi tujuan kredit


a. Kredit produksi
Kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini
diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa. Sebagai contohnya kredit untuk membangun
pabrik yang nantinya akan menghasilkan barang dan kredit pertanian akan menghasilkan produk
pertanian, kredit pertambangan menghasilkan bahan tambang atau kredit industri.
b. Kredit konsumtif
Kredit yang digunakan untuk konsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada
pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh
seseorang atau badan usaha. Sebagai contoh kredit untuk perumahan kredit mobil pribadi, kredit
perabotan rumah tangga dan kredit konsumtifnya.
c. Kredit perdagangan
Merupakan kredit yang diberikan kepada pedagangan dan digunakan untuk membiayai
aktivitas perdagangannya seperti untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya
diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada
suplier atau agen-agen perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar. Contoh kredit
ini misalnya kredit ekspor dan impor.
3. Dilihat dari segi jangka waktu
a. Kredit jangka pendek
Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1
tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja. Contoh untuk peternakan, misalnya
kredit peternakan ayam atau jika untuk pertanian misalnya tanaman padi atau palawija.
b. Kredit jangka menengah
Jangka waktu yang kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai 3 tahun dan biasanya kredit ini
digunakan untuk melakukan investasi. Sebagai contoh kredit untuk pertanian seperti jeruk, atau
9

peternakan kambing.
c. Kredit jangka panjang
Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit jangka panjang waktu
pengembaliannya di atas 3 tahun atau 5 tahun. Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang
seperti perkebunan karet, kelapa sawit, dan kredit konsumtif seperti kredit perumahan.
4. Dilihat dari segi jaminan
a. Kredi tdengan jaminan
Merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan. Jaminan tersebut dapat berbentuk
barang berwujud atau tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang akan
dikeluarkan akan dilindungi minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus
melebihi jumlah kredit yang diajukan sicalon debitur.
b. Kredit tanpa jaminan
Merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini
diberikan dengan melihat prospek usaha, charakter serta loyalitas atau nama baik sicalon debitur
selama berhubungan dengan bank atau pihak lain.
5. Dilihat dari segi sektor usaha
a. Kredit pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sektor perkebunan atau pertanian.
Sektor usaha pertanian dapat berupa jangka pendek atau jangka panjang.
b. Kredit peternakan, merupakan kredit yang diberikan untuk sektor peternakan baik jangka
pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek misalnya peternakan ayam dan jangka
panjang ternak kambing atau sap ternak.
c. Kredit industri, merupakan kredit yang diberikan untuk membiayai industri, baik industri
kecil, industri menengah atau industri besar.
d. Kredit pertambangan, merupakan kredit yang diberikan kepada usaha tambang. Jenis usaha
tambang yang dibiayainya biasanya dalam jangka panjang, seperti tambang emas, minyak atau
timah.
e. Kredit profesi, merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan profesional seperti
dosen, dokter atau pengacara.
f. Kredit perumahan, yaitu kredit untuk membiayai pembangunan atau pembelian perumahan
dan biasanya berjangka waktu panjang.
10

Prosedur Kredit

Prosedur pemberian dan penilaian kredit oleh dunia perbankan secara umum antarbank yang satu
dengan bank yang lain tidak jauh berbeda. Yang menjadi perbedaan mungkin hanya terletak dari
prosedur dan persyaratan yang ditetapkannya dengan pertimbangan masing-masing.
Prosedur pemberian kredit secara umum dapat dibedakan antara pinjaman perseorangan dengan
pinjaman oleh suatu badan hukum, kemudian dapat pula ditinjau dari segi tujuannya apakah
untuk konsumtif atau produktif.
Secara umum akan dijelaskan prosedur pemberian kredit oleh hukum badan sebagai berikut:
1. Pengajuan berkas-berkas
Dalam hal ini pemohon kredit mengajukan permohonan kredit yang dituangkan dalam suatu
proposal. Kemudian dilampiri dengan berkas-berkas lainnya yang dibutuhkan. Pengajuan
proposal kredit hendaknya yang berisi antara lain sebagai berikut:
- Latar belakang perusahaan seperti riwayat hidup singkat perusahaan, jenis bidang usaha,
identitas perusahaan, nama pengurus berikut pengetahuan dan pendidikannya, perkembangan
perusahaan serta relasinya dengan pihak-pihak pemerintah dan swasta.
- Maksud dan tujuan
Apakah untuk memperbesar omset penjualan atau mengingkatkan kapasitas produksi atau
mendirikan pabrik baru (perluasan) serta tujuan lainnya.
- Besarnya kredit dan jangka waktu
Dalam hal ini pemohon menentukan besarnya jumlah kredit yang ingin diperoleh dan jangka
waktu kreditnya. Penialaian kelayakan besarnya kredit dan jangka waktunya dapat kita lihat dari
cash flow serta laporangan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) tiga tahun terakhir. Jika dari
hasil analisis tidak sesuai dengan permohonan, maka pihak bank tetap berpedoman terhadap
hasil analisis mereka dalam memutuskan jumlah kredit dan jangka waktu kredit yang layak
diberikan kepada si pemohon.
- Cara pemohon mengembalikan kredit, dijelaskan secara rinci cara-cara nasabah dalam
mengembalikan kreditnya apakah dari hasil penjualan atau cara lainnya.
- Jaminan kredit. Hal ini merupakan jaminan untuk menutupi segala risiko terhadap
kemungkinan macetnya sutua kredit yang baik yang ada unsur kesengajaan atau tidak. Penilaian
jaminan kredit haruslah teliti jangan sampai terjadi sengketa, palsu dan sebagainya. Biasanya
11

jaminan diikat dengan suatu asuransi tertentu. Selanjutnya proposal ini dilampiri dengan berkas-
berkas yang telah dipersyaratkan seperti:
- Akte notaris
Dipergunakan untuk perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan Terbatas) atau yayasan
- TDP (Tanda Daftar Perusahaan)
Merupakan tanda daftar perusahaan yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan
Perdagangan dan biasanya berlaku lima tahun, jika habis dapat diperpanjang kembali.
- NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Nomor pokok wajib pajak, di mana sekarang ini setiap pemberian kredit terus dipantau oleh
Bank Indonesia adalah NPWP-nya.
- Neraca dan laporan rugi laba tiga tahun terakhir
- Bukti diri dari pinjaman perusahaan
- Foto kopi sertifikat jaminan
Penilaian yang dapat kita lakukan untuk sementara adalah dari neraca dan laporan rugi laba yang
ada dengan menggunakan rasio-rasio sebagai berikut:
- Current ratio
- Acid test ratio
- Inventory turn over
- Sales to receiveble ratio
- Profit margin ratio
- Return on net worth
- Working capital
2. Penyelidikan berkas pinjaman
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap sesuai
persyaratan dan sudah benar. Jika menurut pihak perbankan belum lengkap atau cukup, maka
nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan apabila sampai batas tertentu nasabah tidak
sanggup melengakapi kekurang tersebut, maka sebaliknya permohonan kredit dibatalkan.
3. Wawancara I
Merupakan penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon
peminjam, untuk meyakinkan apakah berkas-berkas tersebut sesuai dan lengkap seperti dengan
bank inginkan. Wawancara ini juga untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang
12

sebenarnya. Hendaknya dalam wawancara ini dibuat serilek mungkin sehingga diharapkan hasil
wawancara akan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
4. One the spot
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai objek yang akan
dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasil one the spot dicocokkan dengan hasil wawancara
I. Pada saat hendak melakukan one the spot hendaknya jangan diberitahu kepada nasabah.
Sehingga apa yang kita lihat di lapangan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
5. Wawancara II
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurang-kekurangan pada saat
setelah dilakukan one the spot dilapangan. Catatan yang pada permohonan dan pada saat
wawancara I dicocokkan dengan pada saat one the spot apakah ada kesesuaian dan mengandung
suatu kebenaran.
6. Keputusan kredit
Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolak,
jika diterima, maka dipersiapkan administrasinya, biasanya keputusan kredit yang akan
mencakup:
- Jumlah uang yang diterima
- Jangka waktu kredit
- Dan biaya-biaya yang harus dibayar
Keputusan kredit biasanya merupakan keputusan team. Begitu pula bagi kredit yang ditolak,
maka hendaknya dikirim surat penolakan sesuai dengan alasannya masing-masing.
7. Penandatanganan akad kredit/perjanjian lainnya
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum kredit dicairkan
maka terlebih dulu calon nasabah menandatangi akad kredit, mengikat jaminan dengan hipotek
dan surat perjanjian atau pernyataan yang dianggap perlu. Penandatanganan dilaksanakan:
- Antara bank dengan debitur secara langsung atau
- Dengan melalui notaris.
8. Realisasi kredit
Reaslisasi kredit diberikan setelah penandatangan suarat-surat yang diperlukan dengan membuka
rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.
9. Penyaluran/penarikan dana
13

Adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit
dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit yaitu:
- Sekaligus atau
- Secara bertahap

E. Administrasi Kredit
Kata administrasi atau dalam bahasa latin yang disebut “Administratio” secara umum dapatlah
diartikan kegiatan tata usaha badan-badan pemerintahan atau swasta dalam arti yang luas, bukan
saja tentang keuangan tetapi juga tentang hal-hal penyelenggaraan pimpinan, surat-menyurat,
perjanjian dan sebagainya.
Adapun beberapa orang ahli mendefinisikan administrasi sebagai berikut:
 Salah satu cabang dari kegiatan manajemen yang memusatkan kegiatannya pada masalah-
masalah supervisi dan pelaksanaan usaha dari organisasi.
 Suatu penyelenggaraan dari suatu kegiatan usaha atau tindakan-tindakan lainnya yang
melibatkan sekelompok tenaga kerja dan dalam hubungannya dalam pihak lain.
Dan masih banyak lagi yang memberikan pengertian dari administrasi yang mana ada intinya
merupakan “suatu kegiatan yang memberikan pelayanan” terhadap fungsi pokoknya. Jadi dalam
administrasi kredit yaitu juga memberikan pelayanan terhadap kegiatan perkreditan. Dan
bagaimana bentuk sifat, ruang lingkup pelayan tersebut? Yaitu sangat luas tentunya sesuai
dengan kegiatan perkreditan yang dilaksanakan oleh suatu bank. Semakin komplek kegiatan
perkreditan yang dilakukannya maka semakin luas pula bentuk, sifat dan ruang lingkup dari
administrasi perkreditan yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. Oleh karena itu dapat
melibatkan berbagai pihak dengan suatu dasar sistematik tertentu, bekerja sama untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu yaitu untuk menunjang keberhasilan proses
perkreditan tersebut.
Administrasi dalam segala kegiatan merupakan hal yang sangat penting apabila disusun secara
rapi akan memudahkan pencarian bila diperlukan di kemudian hari.
Administrasi berkas-berkas kredit dapat dikelompokkan menjadibb 2 yaitu berkas yang diterima
sebelum kredit dicairkan dan setelah kredit dicairkan. Sedangkan bila dilihat dari sumber
dokumen dapat dibedakan dokumen asli dan tembusan. Untuk memudahkan pengelompokan
penyimpanan arsip-arsip kredit dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu arsip luar dan arsip
14

dalam.
a. Arsip luar
Arsip ini berisikan arsip-arsip tidak asli, namun merupakan data pendukung yang dapat
digunakan untuk melakukan monitoring atas pelaksanaan pemberian fasilitas kredit yang terdiri
dari:
Surat permohonan pengajuan kredit
Copy izin dari komisari dan lain-lain
Copy indetitas diri
Pas photo
Copy izin-izin usaha sesuai bidang usahanya
Bank to bank information
Laporan keuangan
Laporan stock, piutang dan utang
Copy sales contract
Laporan perkembangan proyek
Copy surat perintah kerja (SPK)
Copy NPWP
Proposal kredit
Laporan check on the spot
Copy surat persetujuan pemberian kredit
Surat pemberitahuan perpanjangan kredit
b. Arsip dalam
Yaitu arsip dan atau berkas-berkas kredit yang harus dipinjam di tempat yang aman dan tahan
api. Berkas-berkas tersebut meliputi:
Asli persetujuan kredit.
Asli perjanjian kredit.
Asli surat askep.
Asli surat akte pengikatan jaminan.
Asli bukti pemilikan jaminan.
Asli akte personal guarantee.
Asli corporate guarantee.
15

Asli polis asuransi barang jaminan.

F. Pelaporan Bank Indonesia


Bank umum atau yang lebih dikenal dengan nama bank komersiil merupakan bank yang paling
banyak beredar di Indonesia. Bank umum juga memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan
dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), baik dalam bidang ragam pelayanan maupun jangkauan
wilayah operasinya. Artinya bank umum memiliki kegiatan pemberian jasa yang paling lengkap
dan dapat beroperasi di seluruh wilayah Indonesia.
Kegiatan bank umum meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Menghimpun Dana (funding)
Kegiatab menghimpun dana merupakan kegiatan membeli dana dari masyarakat. Kegiatan
membeli dana dapat dilakukan dengan cara menawarkan berbagai jenis simpanan. Simpanan
sering disebut dengan nana rekening atau account. Jenis-jenis simpanan yang dewasa ini adalah:
a. Simpanan giro
Simpanan giro merupakan simpanan pada bank yang penarikannya dilakukan dengan
menggunakan cek atau bilyet giro.
b. Simpanan tabungan
Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh
bank.
c. Simpanan deposito
Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu (jatuh tempo).
2. Menyalurkan dana/kredit (lending)
3. Memberikan jasa-jasa bank lainnya (services)

G. Kredit Bermasalah
Penyebab kegagalan kredit dapat berasal dari dalam bank maupun pihak luar. Bila ditari
suatu garis besar terjadinya kegagalan kredit (kredit bermasalah/macet) adalah karena kurang
cakapnya pihak pengelola kredit, lemahnya monitoring penggunaan kredit, dan adanya itikad
yang kurang baik dari debitur. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan kredit
antara lain sebagai berikut:
a. Faktor internal
16

Ada beberapa faktor intern bank yang dapat menyebabkan kredit macet antara lain:
Adanya tindak kecurangan dari aparat pengelola bank
Bank terlalu mengejar target
Petugas bank terlalu memfokuskan terhadap jaminan
Petugas bank merasa berhutang budi, karena telah memperoleh hadiah dari debitur
Bank terlambat mencairkan pinjaman
Terlalu kecil atau terlalu besar memberikan kredit
Debitur memperoleh katabelece dari pejabat yang lebih tinggi baik dari top manajeman bank
itu sendiri atau dari pejabat pemerintah yang berkuasa
Kurangnya pengetahuan tehnis para pengelola kredit
Pengelola kredit tidak tegas dan lemah dalam melalukan monitoring penggunaan kredit
Kurang baiknya manajement information system yang ada di bank tersebut
Kebijakan kredit yang ada belum memadai
Lemahnya monitoring terhadap penggunaan kredit
Adanya sikap yang ceroboh, dan menggampangkan dari pengelola kredit
b. Faktor eksternal
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terhadap kegagalan/penyebab kredit macet,
antara lain:
Kebijakan pemerintah (sosial, politik, ekonomi) yang berpengaruh terhadap operasional
perusahaan.
Terjadinya bencana alam, kerusuhan yang merusak/menghancurkan usaha debitur.
Itikad buruk dari debitur.
Adanya penyalahgunaan fasilitas kredit.
Pemalsuan suara.
Mengguankan anggunan milik pihak III.
Debitur melarikan diri.
Mis manajemen.
Tersangka pihak pidana.
Adanya tekanan yang dilakukan oleh penguasa (kredit tuntas).
Jaminan yang tidak marketable, sehingga sulit dilakukan likuidasi pada saat kredit macet.
Hampir setiap bank mengalami kredit bermasalah alias nasabah tidak mampu lagi untuk
17

melunasi kreditnya. Kemacetan suatu fasilitas kredit disebabkan oleh 2 faktor yaitu:
1. Dari pihak perbankan
Dalam hal ini pihak analisis kurang teliti baik dalam mengecek kebenaran dan keaslian dokumen
maupun salah dalam melakukan perhitungan dengan rasio-rasio yang ada. Akibatnya apa yang
seharusnya terjadi, tidak diprediksi sebelumnya. Kemacetan suatu kredit kolusi dari pihak
analisis kredit dengan pihak debitur sehingga dalam analisnya dilakukan secara tidak obyektif.
2. Dari pihak nasabah
Kemacetan kredit yang disebabkan oleh nasabah diakibatkan oleh dua hal yaitu:
a. Adanya unsur kesengajaan. Artinya nasabah sengaja tidak mau membayar kewajibannya
kepada bank sehingga kredit yang diberikan dengan sendiri macet.
b. Adanya unsur tidak sengaja. Artinya nasabah memiliki kemauan untuk membayar akan
tetapi tidak mampu dikarenakan usaha yang dibiayai terkena musibah misalnya kebanjiran atau
kebakaran.
Untuk mengatasi kredit bermasalah pihak bank perlu melakukan penyelamatan, sehingga tidak
akan menimbulkan kerugian. Penyelamatan dapat dilakukan dengan memberikan keringan
berupa jangka waktu pembayaran atau jumlah angsuran terutama bagi kredit terkena musibah
atau dengan melakukan penyitaan bagi kredit yang sengaja lalai untuk membayarnya.
Mengenai penyelamatan kredit bermasalah dapat dilakukan dengan berpedoman kepada Surat
Edaran Bank Indonesia No. 26/4/BPPP tanggal 29 Mei 1993 yang pada prinsipnya mengatur
penyelamatan kredit bermasalah sebelum diselesaikan melalui lembaga hukum adalah melalui
alternatif penanganan secara penjadwalan kembali kembali (rescheduling), persyaratan kembali
(reconditioning), dan penataan kembali (restructuring). Dalam surat edaran tersebut yang
dimaksud dengan penyelamatan kredit bermasalah melalui rescheduling, reconditioning, dan
restructuring adalah sebagai berikut:
a. Melalui rescheduling (penjadwalan kembali), yaitu sutu upaya hukum untuk melakukan
perubahan terhadap beberapa syarat perjanjian kredit yang berkenaan dengan jadwal pembayaran
kembali/jangka waktu kredit termasuk tenggang (grace period), termasuk perubahan jumlah
angsuran. Bila perlu dengan penambahan kredit.
b. Melalui reconditioning (persyaratan kembali), yaitu melakukan perubahan atas sebagian atau
seluruh persyaratan perjanjian, yang tidak terbatas hanya kepada perubahan jadwal angsuran,
dan/atau jangka waktu kredit saja. Tetapi perubahan kredit tersebut tanpa memberikan tambahan
18

kredit atau tanpa melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity
perusahaan.
c. Restructuring (penataan kembali), yaitu upaya berupa melakukan perubahan syarat-syarat
perjanjian kredit berupa pemberian tambahan kredit, atau melakukan konversi atas seluruh atau
sebagian kredit menjadi perusahaan, yang dilakukan dengan atau tanpa rescheduling dan/atau
reconditioning.
Sedangkan mengenai penyelesaian kredit bermasalah dapat dikatakan merupakan langkah
terakhir yang dapat dilakukan setelah langkah-langkah penyelamatan sebagaimana diatur dalam
Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/4/BPPP yang berupa restrukturisasi tidak efektif lagi.
Dikatan sebagai langkah terakhir karena penyelesaian kredit bermasalah melalui lembaga hukum
memang memerlukan waktu yang relatif lama, dan bila melalui badan peradilan maka kepastian
hukumnya baru ada setelah putusan pengadilan itu memperolah kekuatan hukum tetap (inkraacht
van bewijs). Mengingat penyelesaian melalui badan peradilan itu membutuhkan waktu yang
relatif lama, maka penyelesaian keredit bermasalah itu dapat pula melalui lembaga–lembaga lain
yang kompoten dalam membantu menyelesaikan kredit bermasalah. Kehadiran lembaga-lembaga
lain itu dimaksudkan dapat mewakili kepentingan kreditor dan debitor dalam penanganan kredit
mecat.
Beranjak dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa dalam penyelesaian kredit bermasalah
melalui lembaga hukum itu dapat berupa penyelesaian melalui Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN) dan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN), melalui Badan Peradilan,
dan melalui Arbitrase atau badan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Sebagaimana diketahui Panitia Urusan Piutang Negara dan Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah khusus untuk menyelesaikan
utang-utang kepada negara atau utang kepada badan-badan, baik secara langsung maupun tidak
dikuasai negara. Tujuan utama dibentuknya lembaga ini adalah untuk mempercepat,
mempersingkat dan mengefektifkan penagihan piutang negara. Mekanisme penyelesaian piutang
negara melalui lembaga yang terdapat beberapa tahapan, yaitu:
(1) Setelah dirundingkan oleh panitia dengan penanggung utang dan diperoleh kata sepakat
tentang jumlah utangnya yang masih harus dibayar, termasuk bunga utang, denda, serta biaya-
biaya yang bersangkutan dengan piutang ini, maka oleh ketua panitia dan penanggung utang atau
penjamin utang dibuat suatu pernyataan bersama yang memuat jumlah tersebut dan memuat
19

kewajiban penanggung utang untuk melunasinya.


(2) Pernyataan bersama ini mempunyai kekuatan pelaksanaan seperti putusan hakim yang telah
berkekuatan hukum tetap.
(3) Pelaksanaan dilakukan oleh ketua panitia dengan suatu surat paksa, melalui cara penyitaan,
pelelangan barang-barang kekayaan penanggung utang atau penjamin utang dan penyanderaan
penanggung utang dan pernyataan lunas piutang negara.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa penyelesaian kredit bermasalah melalui Panitia Urusan
Piutang Negara dan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara telah memosisikan kedua
lembaga tersebut sebagai lembaga mediator antara bank sebagai kreditor dengan debitor,
walaupun sebenarnya menurut undang-undang lemabag ini memiliki kewenangan sebagai
eksekutor. Lembaga Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara oleh undang-undang
diberikan kewenangan untuk melakukan penetapan Surat Paksa, Sita Jaminan, Pelelangan
Jaminan Kredit sampai pencekalan ke luar negeri bahkan dapat melakukan penyenderaan
(gizzeling) terhadap para penanggung. Namun demikian, dalam hal kredit bermasalah itu masih
memiliki nilai bisnis atau ekonomis, Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara secara
persuatif hendaknya mengedepankan bisnis atau ekonomi, selain menggunakan langkah-langkah
pendekatan hukum. Penanganan cara ini selain akan memberikan kontribusi terhadap
penerimaan negara dari kredit bermasalah, juga akan memberikan keuntungan yang bersifat
ekonomis, dan sosial. Tentunya pendekatan dengan cara ini memerlukan penelaahan, evaluasi,
dan penetapan secara hati-hati.
Penyelesaian kredit bermasalah dapat melalui badan peradilan. Melalui mekanisme ini apabila
debitor tidak memenuhi kewajibannya, maka setiap kreditor dapat mengajukan gugutan untuk
memperoleh keputusan pengadilan. Peradilan yang dapat menyelesaikan dan menangani kredit
bermasalah adalah badan peradilan umum melalui gugutan perdata, dan peradilan niaga melalui
gugutan kepalitan.
Selain penyelesaian melalui Panitia Uruasa Piutang Negara dan Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara, dan badan peradilan, penyelesaian kredit bermasalah juga dapat dilakukan
arbitrase atau badan altrernatif penyelesaian sengketa. Penyelesaian kredit bermasalah melalui
mekanisme ini adalah berpedoman kepada Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Penyelesaian melalui arbitrase ini dapat
dijalankan apabila dalam perjanjian kredit dimuat klausal arbitrase atau perjanjian arbitrase
20

bermasalah tersebut. Dan cara penyelesaian inin dilakukan oleh lembaga arbitrase, yaitu suatu
badan yang dipilih oleh pihak yang bersengketa, untuk memberikan putusan mengenai sengketa
tertentu.
Berkaitan dengan upaya penyelamatan dan penyelesaian kredit macet tersebut dalam ketentuan
Pasal 7 butir c Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 dikemukakan bahwa:
“Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, Bank Umum dapat
pula: melakukan kegiatan poenyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit
atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali
penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.”
Dalam bagian penjelasannya dikatakan bahwa, pokok-pokok ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia memuat antara lain:
a. Penyertaan modal sementara oelh bank yang berasal dari konversi kegagalan kredit atau
kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah pada perusahaan yang bersangkutan.
b. Persyaratan kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang
dapat dikonversi menjadi penyertaan modal.
c. Penyertaan modal tersebut wajib ditarik kembali apabila:
i) Telah melebihi jangka waktu paling lama 5 tahun, atau,
ii) Perusahaan telah memperoleh laba.
d. Penyertaan sementara tersebut wajib dihapusbukukan dari neraca bank, apabila dalam
jangka waktu paling lama 5 tahun, bank belum berhasil menarik penyertaannya.
e. Pelaporan kepada Bank Indonesia mengenai penyertaan modal sementara bank.
Berdasarkan ketentuan Pasal 7 butir c Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
beserta penjelasannya tersebut di atas, menunjukkan bahwa apabila terjadi kegagalan kredit atau
kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah oleh debitor, maka kegagalan kredit atau
pembiayaan itu oleh bank dapat dikonversi menjadi penyertaan modal sementara oleh bank yang
bersangkutan dalam jangka waktu paling lama 5 tahun atau perusahaan (debitor) tersebut telah
memperoleh laba.
21

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara etimologis istilah kredit berasal dari bahasa Latin, credere, yang berarti kepercayaan.
Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang
disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi di penerima
kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali
pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Oleh karen itu, untuk meyakinkan bank
bahwa si nasabah benar-benar dapat dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dulu bank
mengadakan analisis kredit. Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan,
jaminan yang diberikan serta faktor-faktor lainnya. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin
bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.
Dalam operasional bank penyaluran dana di sebut juga kredit secara sistematiknya sebagai
berikut:
a. Jenis-jenis kredit
b. Prosedur kredit
c. Administrasi kredit
d. Pelaporan bank Indonesia
e. Kredit bermasalah
22

DAFTAR PUSTAKA
Kasmir. 2011. Dasar-Dasar Perbankan, Cetakan Kesembilan, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Kasmir, 2012, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta, Penerbit: PT Raja Grafindo Persada.
Malayu S. P. Hasibuan, 2008, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta, Penerbit: PT. Bumi Aksara,
Maryanto Supriyono, 2011, Buku Pintar Perbankan, Yogyakarta, Penerbit: Andi Yogyakarta.
Modul Uji Kompetensi Profesi Bankir Bidang Manajemen Resiko Level 1, Edisi ke 3, 2012,
Jakarta.
Modul Uji Kompetensi Profesi Bankir Bidang Manajemen Resiko Level 2, Edisi ke 2, 2012,
Jakarta.
Mudrajat Kuncoro dan Suhardjono, 2010, Manajemen Perbankan, Teori Dan Aplikasi, Edisi
Kedua, Yogyakarta, Penerbit: BPFE Yogyakarta.
Republik Indonesia, Undang Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 Nopember
1998.
Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, 2012, Bank dan Lembaga Keuangan, Ed.1-1, Jakarta,
Penerbit: Rajawali Pers.