You are on page 1of 10

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM IPA 1

IDENTIFIKASI LARUTAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


MENGGUNAKAN INDIKATOR ALAMI

Oleh:
Nama : Presti Anugrah Pinantu
NIM : 17312241011
Kelas : Pendidikan IPA I
Kelompok : 1 (satu)

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
A. Judul
Identifikasi Larurtan dalam Kehidupan Sehari-hari Menggunakan Indikator Alami
B. Tujuan
1. Dapat membuat kertas indikator alami.
2. Dapat mengidentifikasi berbagai jenis larutan menggunakan indikator alami.
C. Dasar Teori
Menurut Adelya (2017 : 3-4) Asam adalah senyawa yang dapat melepas ion
hidrogen jika dilarutkan dalam air, senyawa yang dapat memberi proton kepada
senyawa lain, dan merupakan senyawa yang dapat menerima pasangan elektron bebas
dari senyawa lain. Asam memiliki sifat korosif (merusak) / bereaksi dengan asam,
memiliki rasa masam, derajat keasaman (PH) kurang dari 7, memerahkan kertas lakmus
biru, dan tidak merubah warna kertas lakmus merah.
Menurut Adelya (2017:13), indikator asam basa adalah senyawa yang
ditambahkan dalam larutan (dalam jumlah kecil) untuk mengetahui kisaran PH larutan
dengan tanda memberikan warna sesuai dengan kondisi (asam/basa/netral). Biasanya
berupa asam atau basa organik lemah, dan tidak akan ikut bereaksi namun menandai
terjadinya reaksi.

Menurut Das (2005:50), syarat dapat tidaknya suatu zat dijadikan indikator asam
basa adalah terjadinya perubahan warna apabila suatu indikator diteteskan pada larutan
asam dan larutan basa.

Menurut Rufaida (2009:6), indikator asam basa yang dibuat dari tumbuhan
dinamakan indikator asam basa alami. Indikator asam basa alami dapat dibuat dari
bagian tanaman yang berwarna, misalnya kunyit, daun rhadiscolor, dan kayu secang.
Menurut Agung Suprihatin (2013: 3) Berikut adalah contoh beberapa tanaman
yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator asam dan basa :
1. Daun rhoeo discolor atau nanas kerang merupakan tanaman herba yang
kuat dengan batang tegak, daun yang menghadap ke bawah berwarna ungu
tua, sedangkan yang menghadap ke atas berwarna hijau, dengan posisi antar
daun saling menelungkup melingkari batangnya. Ada juga yang mengenal
tanaman ini dengan sebutan nanas-nanasan. Cara memanfaatkannya sebagai
indikator adalah dengan mengiris-iris daun bangka-bangkaan ini dan
dikeringkan. Kemudian irisan daun yang sudah kering ini dilarutkan dalam
alkohol, maka akan diperoleh larutan dengan warna kuning kemerahan.
Dalam suasana asam warnanya berubah menjadi merah muda (pink) dan
dalam suasana basa berubah menjadi hijau. Dengan demikian larutan
daun rhoeo discoloratau bangka-bangkaan juga dapat digunakan sebagai
indikator alami (Agung , 2013: 3)
2. Kayu secang (Caesalpinia sappan) disebut juga kayu sapang, kebanyakan
digunakan sebagai bahan pengecat. Saat ini kayu secang banyak diolah
sebagai minuman yang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit.
Seperti halnya daun bangka-bangkaan, maka bila kayu secang diiris tipis-
tipis dan dikeringkan (pengeringan biasanya dilakukan dalam oven), lalu
dilarutkan dalam alkohol, akan diperoleh larutan berwarna merah orange.
Dalam suasana asam akan berubah warna menjadi kuning, sedangkan
dalam suasana basa berwarna merah. Dengan demikian larutan kayu
secang ini juga dapat digunakan sebagai indikator alami (Agung, 2013: 3)
3. Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.),
adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia
Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah
Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Kunyit tergolong dalam
kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah
dengan beberapa nama lokal,
seperti turmeric (Inggris), kurkuma(Belanda), kunyit (Indonesia dan
Malaysia), kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura). Sebagai
indikator asam basa, yang dimanfaatkan dari tanaman kunyit adalah
ekstrak dari rimpangnya. Dari larutan ekstrak yang berwarna kuning pekat
(mendekate oranye), akan berubah menjadi kuning jernih dalam suasana
asam dan berwarna merah bata dalam suasana basa (Agung, 2013: 3)
D. Metodologi
1. Waktu dan tempat
Hari, tanggal : Selasa, Oktober 2018
Waktu : 13.40-15.20 WIB
Tempat : Laboratorium FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Alat
- Mortar
- Corong
- Gelas beker
- Silet
b. Bahan
- Kertas saring
- Kertas lakmus merah
- Kunyit
- Daun Rhoeo discolor
- Kayu Secang

3. Prosedur percobaan

Menyiapkan alat dan bahan.

Menghaluskan satu per satu indikator alami seperti kunyit dan daun rhoeo
discolor sedangkan kayu secang cukup di seduh.

Menambahkan akuades secukupnya.

Menyaring larutan dari indikator alami yang sudah ditumbuk dengan


menggunakan corong yang dilapisi kertas saring.

Mencelupkan kertas saring ke dalam larutan hasil penyaringan.

Mengeringkan kertas saring menggunakan hair dryer.

Jika sudah kering, kemudian menguji berbagai jenis larutan menggunakan


indikator alami dan kertas lakmus merah.

Mencatat hasil percobaan ke dalam tabel.


E. Data hasil
No Bahan Uji A (Ph = 9) B (Ph = 7) C (Ph = 0)
1. Lakmus Merah Biru Ungu Merah
2. Lakmus Biru Biru Ungu Merah
3. Ekstrak 1 Coklat Kuning Tua Kuning Muda
(Kunyit)
4. Ekstrak 2
(Daun Rhoeo Coklat Ungu Orange
discolor)

5. Ekstrak 3 Merah Tua Merah Kuning


(Kayu Secang)

F. Pembahasan
Praktikum yang berjudul “identifikasi larutan dalam kehidupan sehari-hari
menggunakan indikator alami” telah dilaksanakan pada hari Selasa, Oktober 2018.
Tujuan dari praktikum ini yaitu dapat membuat kertas indikator alami dan dapat
mengidentifikasi berbagai jenis larutan menggunakan indikator alami. Adapun bahan
alami yang digunakan yaitu Kunyit, Daun Rheoe discolor, dan kayu secang.

Pada praktikum ini kegiatan pertama yaitu membuat kertas indikator alami dari
Kunyit, Daun Rheoe discolor, dan kayu secang. Caranya yaitu menumbuk masing-
masing bahan dan menambahkan air untuk dibuat ekstrak yang nantinya akan disaring.
Kemudian hasil penyaringan bahan-bahan tersebut digunakan untuk mewarnai kertas
saring. Kertas saring yang sudah berwarna kemudian dikeringkan dan siap digunakan
untuk menguji masing-masing larutan. Setelah membuat kertas indikator alami,
kemudian mengidentifikasi berbagai jenis larutan menggunakan indikator alami.
Berikut hasil dari identifikasi berbagai jenis larutan menggunakan kertas indikator alami

1. Larutan Detergen
Pada larutan detergen ini hasil yang diperoleh dari pengujian
menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan warna ungu sedangkan
menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna biru.
Selain menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan
yaitu kertas lakmus merah yang menghasilkan warna biru dan kertas lakmus
biru menghasilkan warna biru. Dari hasil yang diperoleh maka larutan
detergen merupakan larutan yang bersifat basa dilihat dari perubahan warna
menjadi biru. Selain itu, menurut Feby (2015:4), basa memiliki sifat licin
dan rasa pahit contoh yang termasuk larutan basa yaitu natrium hidroksida
sebagai bahan baku rumah tangga seperti sabun cuci, detergen, sabun mandi,
pemutih, dan pembersih lantai.
2. Asam cuka
Pada asam cuka, hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan
kertas indikator kunyit menghasilkan warna kuning sedangkan
menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna merah.
Selain menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan
yaitu kertas lakmus merah yang menghasilkan warna merah dan kertas
lakmus biru menghasilkan warna merah. Dari hasil yang diperoleh maka
asam cuka merupakan zat yang bersifat asam dilihat dari perubahan
warnanya yang tidak merubah warna kuning pada indikator kunyit dan
merubah warna indikator bunga sepatu menjadi lebih merah. Menurut Feby
(2015:2), asam organik berasal dari sumber alami, umumnya bersifat asam
lemah contohnya asam sitrat dalam jeruk, asam format, dan asam asetat
yang terdapat dalam cuka makanan.
3. Saos
Pada larutan saos, hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan
kertas indikator kunyit menghasilkan warna merah sedangkan
menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna merah.
Selain menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan
yaitu kertas lakmus merah yang menghasilkan warna merah dan kertas
lakmus biru menghasilkan warna merah. Dari hasil yang diperoleh maka
larutan saos merupakan zat yang bersifat asam dilihat dari perubahan
warnanya yaitu merah. Saos asam karena bahan dasar penyusunnya adalah
buah tomat dan buah tomat memiliki kandungan asam askorbat.
4. Air Kapur
Pada air kapur, hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan kertas
indikator kunyit menghasilkan warna ungu sedangkan menggunakan kertas
indikator bunga sepatu menghasilkan warna biru. Selain menggunakan
indikator alami, juga menggunakan indikator buatan yaitu kertas lakmus
merah yang menghasilkan warna biru dan kertas lakmus biru menghasilkan
warna biru. Dari hasil yang diperoleh maka air kapur merupakan zat yang
bersifat basa dilihat dari perubahan warnanya yaitu biru. Menurut Feby
(2015:4), air kapur merupakan senyawa elektrolit kuat dan tergolong ke
dalam basa kuat.
5. Kecap
Pada kecap, hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan kertas
indikator kunyit menghasilkan warna kuning sedangkan menggunakan
kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna hitam. Selain
menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan yaitu
kertas lakmus merah yang menghasilkan warna merah dan kertas lakmus
biru menghasilkan warna merah. Dari hasil yang diperoleh maka kecap
(larutan) merupakan zat yang bersifat asam dilihat dari perubahan warnanya
yaitu merah meskipun pada indikator bunga sepatu menghasilkan warna
hitam karena kecap warnanya terlalu hitam.
6. Tape
Pada tape (larutan), hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan
kertas indikator kunyit menghasilkan warna kuning sedangkan
menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna merah.
Selain menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan
yaitu kertas lakmus merah yang menghasilkan warna merah dan kertas
lakmus biru menghasilkan warna merah. Dari hasil yang diperoleh maka
tape (larutan) merupakan zat yang bersifat asam dilihat dari perubahan
warnanya yaitu merah. Menurut Feby (2015:2), tape merupakan asam
beralkohol hasil dari fermentasi dengan ragi.

7. Air Jeruk
Pada air jeruk, hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan kertas
indikator kunyit menghasilkan warna kuning sedangkan menggunakan
kertas indikator bunga sepatu menghasilkan warna merah. Selain
menggunakan indikator alami, juga menggunakan indikator buatan yaitu
kertas lakmus merah yang menghasilkan warna merah dan kertas lakmus
biru menghasilkan warna merah. Dari hasil yang diperoleh maka air jeruk
merupakan zat yang bersifat asam dilihat dari perubahan warnanya yaitu
merah. Menurut Feby (2015:2), asam organik berasal dari sumber alami,
umumnya bersifat asam lemah contohnya asam sitrat dalam jeruk, asam
format, dan asam asetat yang terdapat dalam cuka makanan.

G. Kesimpulan
1. Cara membuat kertas indikator alami yaitu menumbuk kunyit dan bunga sepatu
secara bergantian dan menambahkan air untuk dibuat ekstrak yang nantinya akan
disaring. Kemudian hasil penyaringan bahan-bahan tersebut digunakan untuk
mewarnai kertas saring. Kertas saring yang sudah berwarna kemudian dikeringkan
dan siap digunakan untuk menguji masing-masing larutan.
2. Mengidentifikasi berbagai jenis larutan menggunakan indikator alami:
a. Larutan detergen dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit
menghasilkan warna ungu sedangkan menggunakan kertas indikator bunga
sepatu menghasilkan warna biru.
b. Asam cuka dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan
warna kuning sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu
menghasilkan warna merah.
c. Saos dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan warna
merah sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan
warna merah.
d. Air kapur dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan
warna ungu sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu
menghasilkan warna biru.
e. Kecap dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan warna
kuning sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan
warna hitam.
f. Tape dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan warna
kuning sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu menghasilkan
warna merah.
g. Air jeruk dari pengujian menggunakan kertas indikator kunyit menghasilkan
warna kuning sedangkan menggunakan kertas indikator bunga sepatu
menghasilkan warna merah.
Daftar Pustaka
Adelya.2017.Asam Basa.diunduh dari adelyadesi.lecture.ub.ac.id pada hari Senin tanggal 08
Oktober 2018 pukul 17.40 WIB.
Agung Suprihatin. 2013. Mengenal Indikator Alami di Sekitar Kita. Malang : Widyaiswara
Dept. Pendidikan Lingkungan Hidup PPPPTK BOE Malang
Das Salirawati.2005.Kontekstual Sains Kimia.Jakarta:Erlangga.
Rufaida.2009.Asam Basa.diunduh dari eprints.ums.ac.id pada hari Senin tanggal 3 November
2018 pukul 20.08 WIB.