You are on page 1of 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KETERAMPILAN KIMIA

Tugu Hitam Manis dan Secret Message

Disusun Oleh :

1. Vikhi Qomariyah (17312241001)

2. Meli Fitriani (17312241002)

3. Anis Hazimah (17312241006)

4. Faridatul Liana (17312241005)

5. Indah Ayu K. (17312241008)

6. Agusto Ayomi Tri P (17312241012)

Kelompok `: 1

Kelas : Pendidikan IPA A

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
A. Judul
Tugu Hitam Manis dan Secret Message
B. Tujuan

1. Untuk mengamati penguraian zat yang terkandung di dalam gula pasir (C12H22O11)
2. Mengetahui reaksi yang terjadi pada Secret Messege.

C. Dasar Teori
1. Tugu Hitam Manis
Karbohidrat adalah senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen.
Contoh yaitu glukosa C6H12O6, sukrosa C12H22O11, selulosa (C6H10O5)n. Rumus umum
karbohidrat Cn(H2O)m. Karena komposisi yang demikian, senyawa ini pernah disangka
sebagai hidrat karbon, tetapi sejak 1880, senyawa tersebut bukan hidrat dari karbon. Nama
lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab "sakkar" artinya gula.
Karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Melihat
struktur molekulnya, karbohidrat lebih tepat didefinisikan sebagai suatu polihidroksialdehid
atau polihidroksiketon. Contoh glukosa adalah suatu polihidroksi aldehid karena mempunyai
satu gugus aldehid da 5 gugus hidroksil (OH) (Anna Poedjiadi, 2006 : 8).
Karbohidrat terbagi menjadi 3 kelompok :
1. Monosakarida, terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak dapat lagi dihidrolisis oleh
larutan asam dalam air menjadi karbohidrat yg lebih sederhana. Kelompok
monosakarida dibedakan menjadi dua macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima
atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam atom
karbon (fruktosa/levulosa, glukosa, dan galaktosa). Struktur glukosa dan fruktosa
digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula nonreduksi.
Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (–CHO pada
glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan
merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat
tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki
gugus keton (C=O).
2. Disakarida, senyawanya terbentuk dari 2 molekul monosakarida yg sejenis atau tidak.
Disakarida dpt dihidrolisis oleh larutan asam dalam air sehingga terurai menjadi 2
molekul monosakarida.
3. Oligosakarida merupakan golongan karbohidrat yang molekulnya terdiri dari 2 sampai
10 unit monosakarida dan dapat larut dalam air serta banyak terdapat di alarn. Dua
unit monosakarida yang dikombinasikan akan menghasilkan disakarida dan kombinasi
dalain satu rantai unit monosakarida menghasilkan trisakarida, tetrasakarida dan
seterusnya sampai pada rantai polimer tertinggi yaitu terdiri dari beberapa unit
monosakarida. Sebagai contoh misalnya maltosa yang dibentuk dari 2 glukosa. Contoh
disakarida lainnya yang sering dijumpai adalah sukrosa atau gula tebu yang terdiri dari
l molekul glukosa dan I molekul fruktosa dan laktosa atau gula susu yang terdiri dari I
molekul glukosa dan 1 molekul galaktosa.
4. Polisakarida, senyawa yg terdiri dari gabungan molekul2 monosakarida yang banyak
jumlahnya, senyawa ini bisa dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida.
Golongan karbohidrat yang mengandung lebih dari 10 unit monosakarida yang
tergabung bersama disebut polisakarida. Meskipun polisakarida diklasifikasikan
sebagai polimer yang mengandung lebih dari 10 unit gula, namun tidak terdapat
banyak dalam bentuk yang kurang dari 100 unit. Kebanyakan ditemukan dalam jumlah
lebih dari 100 unit sampai beberapa ribu unit monosakarida. Sebagai contoh misalnya
amilum atau antar satuannya, α pati adalah rangkaian glukosa dengan ikatan antar
satuannya. (Lehninger, 1982: 180).
Fungsi Karbohidrat ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di
industri pangan, farmasi maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari. Diantara fungsi dan
kegunaan itu ialah :
a. Sebagai sumber kalori atau energi
b. Sebagai bahan pemanis dan pengawet
c. Sebagai bahan pengisi dan pembentuk
d. Sebagai bahan penstabil
e. Sebagai sumber flavor (karamel)
f. Sebagai sumber serat (Anna Poedjiadi, 2006 : 30).
Asam Sulfat murni yang tidak diencerkan dapat ditemukan secara alami di bumi
karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian asam sulfat merupakan komponen
utama hujan asam yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida di atmosfer dengan keberadaan
air. Asam Sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida seperti besi sulfida.
(Chang, Raymond, 2004).
Contoh dari asam kuat : asam klorida (HCL), Asam Sulfat (H2SO4) dan contoh dari
asam lemah yaitu: asam asetat (CH3COOH) , Asam sianida (HCN)

Asam sulfat (H2SO4), memiliki massa molar 98,08 g/mol,tampilan berupa cairan
bening, tak berwarna, tak berbau, densitas 1.84 g/ , cair. Asam sulfat mempunyai banyak
kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industry kimia. Kegunaan utamanya
termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan
minyak.

Asam sulfat bersifat oksidator kuat. Reaksi asam sulfat pekat dengan air sangat kuat
dan menimbulkan panas tinggi. Asam sulfat pekat juga bertindak sebagai dehydrator, yang
menarik air dari senyawa lain. Hal ini disebabkan perbedaan massa jenis kedua zat, sehingga
air akan mengapung diatas asam sulfat kaena massa jenisnya lebih rendah. Oleh sebab itu jika
pengenceran di lakukan dengan cara menambahkan aquades pada asam sulfat maka akan
terjadi reaksi yang keras atau mendidih (Hart, Harold, 1983: 120).

Asam sulfat diproduksi dari belerang, oksigen, dan air melalui proses kontak. Pada
langkah pertama, belerang dipanaskan untuk mendapatkan sulfur dioksida:
S (s) + O2 (g) SO 2 (g). Sulfur dioksida kemudian dioksidasi menggunakan oksigen
dengan keberadaan katalis vanadium(V) oksida: 2 SO2 + O2(g) 2 SO3 (g) (dengan
keberadaan V2O5). Sulfur trioksida diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7),
juga dikenal sebagai asam sulfat berasap. Kemudian diencerkan ke dalam air menjadi asam
sulfat pekat (Oxtoby, et. al, 1999: 104).

Sebagian besar dari efek asam sulfat menghasilkan keasaman yang kuat dan afinitas
yang besar untuk air. Korosi logam oleh asam sulfat disebabkan oleh keasaman. Efek dari
asam sulfat pada bahan organik termasuk jaringan manusia, sebagian besar hasil dari
menghidrasi sifat-sifatnya. Bahan-bahan seperti kain kayu, kertas dan kapas dengan cepat
hangus di bagian yang bersentuhan dengan asam (Rhio, 2002: 67).

Efek dari asam sulfat pada logam khas dari asam kuat: ia akan bereaksi dengan logam
tersebut yang lebih reaktif daripada hidrogen untuk membentuk garam logam sulfat dan
melepaskan gas hidrogen. Ini akan bereaksi dengan cara ini dengan banyak logam biasa,
termasuk zat besi, seng dan aluminium. Reaksi ini lebih kuat dengan asam encer
dibandingkan dengan asam pekat. Ini membatasi bahan yang dapat digunakan untuk
menyimpan asam, meskipun dalam bentuk terkonsentrasi dapat disimpan dalam tangki
stainless steel. Pelepasan gas hidrogen menimbulkan risiko ledakan potensial dalam hal
terjadi tumpahan atau kebocoran, jika asam mengalami kontak dengan logam (Rhio, 2002:
68).

Asam sulfat adalah agen dehidrasi sangat kuat dan banyak panas yang dilepaskan
ketika asam pekat datang ke dalam kontak dengan air. Jika air ditambahkan ke kelebihan
asam, panas yang dihasilkan menyebabkan air mendidih segera, yang dapat mengakibatkan
asam disemprotkan di daerah yang luas. Untuk alasan ini, asam sulfat pekat harus selalu
diencerkan dengan menambahkan – perlahan – dengan air, proses tersebut tidak harus dibalik.
Efek dehidrasi asam sulfat menjelaskan reaksi dengan banyak bahan organik yang
umum. Ini akan menghapus hidrogen dan oksigen dari molekul yang mengandung unsur-
unsur ini dalam rasio 2:1 ditemukan dalam molekul air (H2O) – misalnya, karbohidrat – yang
meliputi gula, pati dan selulosa. Asam sulfat akan bereaksi dengan karbohidrat untuk
menghapus hidrogen dan oksigen, meninggalkan karbon. Sebuah demonstrasi laboratorium
terkenal menggambarkan hal ini, asam sulfat pekat ditambahkan ke gula meja sukrosa dalam
gelas kimia dan cepat mengkonversi ke gumpalan arang, dengan banyak panas yang
dihasilkan. Ini adalah alasan bahwa asam sulfat mengarangkan kayu dan kertas – zat yang
terutama terdiri dari karbohidrat (Taba, 2009: 60).

Sumber: (Taba, 2009: 60)

Efek dari asam sulfat pada kulit tertulis dengan baik, dan sekali lagi karena
mendehidrasi sifat asam dan bukan keasaman. Asam pekat kontak dengan kulit akan
menghasilkan rasa sakit dan pembengkakan jaringan dalam beberapa detik. Jika kontak cukup
lama, luka bakar yang mendalam dan dapat mengakibatkan mungkin ada beberapa bagian
yang hangus, menghasilkan warna coklat. Karena pembengkakan yang disebabkan luka bakar
asam sulfat, sering mengakibatkan jaringan parut permanen (Rhio, 2002: 67).
Bila menggunakan asam sulfat, sarung tangan pelindung dan kacamata pengaman
harus selalu dipakai, pelindung wajah dan celemek pelindung juga dianjurkan. Tumpahan
kecil ke kulit yang tidak terlindung dapat ditangani dengan mencuci cepat dengan air yang
banyak. Tumpahan yang lebih besar menimbulkan risiko penyemprotan asam jika air segera
diterapkan – lebih baik untuk cepat membersihkan asam tersebut sebanyak mungkin sebelum
mencuci (Rhio, 2002: 67).
Asam sulfat tidak mudah menguap pada suhu kamar sehingga biasanya tidak
menimbulkan bahaya penghirupan, namun dalam hal ini asam atau prekursor industrinya,
sulfur trioksida bersentuhan dengan air, reaksi yang keras dapat menghasilkan kabut halus
tetesan asam sulfat. Hal ini dapat merusak mata, saluran pernapasan dan paru-paru bila
terhirup. Paparan kronis kabut asam sulfat – misalnya, di sebuah pabrik asam sulfat – dapat
memiliki efek kesehatan jangka panjang dan dapat menimbulkan risiko kanker bagi para
pekerja (Rhio, 2002: 67).
Reaksi asam sulfat dengan bahan lain dapat menyebabkan produk berbahaya. Ini akan,
misalnya, melepaskan uap beracun dan korosif saat bersentuhan dengan halida, seperti
klorida, fluorida dan bromida. Kontak dengan klorat dan permanganates menghasilkan
oksidasi kuat senyawa yang menimbulkan kebakaran atau risiko ledakan (Rhio, 2002: 67).
Gula adalah satu istilah bagi sekelas kristal karbohidrat yang boleh dimakan, terutama
sukrosa, laktosa, dan fruktosa dicirikan oleh suatu rasa manis. Di dalam makanan, gula
kebanyakan dirujuk hampir-hampir ekslusif merujuk kepada sukrosa, yang utamanya datang
dari Gula tebu dan gula bit. Gula lain digunakan di dalam industri penyediaan makanan, tetapi
ia biasanya diketahui oleh nama-nama yang lebih spesifik nama-nama glukosa, fruktosa atau
gula buah, air gula jagung fruktosa tinggi, dll ( Taba, 2009: 60).

D. Metodologi Percobaan
1. Waktu dan Tempat
a. Hari, tanggal : Jumat, 16 November 2018
b. Waktu : 08.30 – 09.20 WIB
c. Tempat : Selasar Laboratorium IPA UNY
2. Alat dan bahan
Percobaan Tugu Hitam Manis
a. Alat
1) Tabung reaksi
2) Pipet tetes
3) Sendok
b. Bahan
1) Gula pasir
2) H2SO4 pekat

Percobaan ..................
a. Alat :
1)
b. Bahan :
1)
2)
3. Prosedur percobaan
a. Tugu Hitam Manis
b. Percobaan ...........

E. Data Hasil
a. Tugu Hitam Manis

Gambar Deskripsi

Gula berubah menjadi warna


hitam semua dan warna hitam
tersebut bergerak naik

b. Secret Message
F. Pembahasan
Praktikum yang berjudul Tugu Hitam Manis dan Secret Message ini bertujuan untuk
mengamati penguraian zat yang terkandung di dalam gula pasir (C 12H22O11) dan untuk
mengetahui reaksi yang terjadi pada Secret Messege. Praktikum dilakukan pada hari Jum’at
tanggal 16 November 2018 di Selasar Laboratorium IPA FMIPA UNY pukul 07.30-09.10
WIB.
a. Tugu Hitam Manis

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu tabung reaksi yang
digunakan sebagai tempat bahan-bahan yang akan direaksikan, pipet tetes yang berfungsi
untuk meneteskan asam sulfat pekat ke dalam tabung reaksi, dan sendok yang digunakan
untuk mengambil gula pasir, sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah asam sulfat
pekat dan gula pasir.
Berdasarkan prosedur yang sudah dilakukan, dapat diperoleh hasil yaitu gula berubah
menjadi warna hitam dan warna hitam tersebut bergerak naik. Larutan gula tersebut semakin
lama semakin hitam dan terbentuk karbon (tugu hitam) mengeras dan membentuk semacam
tugu hitam kimia.

Gambar 1. Hasil Percobaan Tugu Hitam


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Mekanisme reaksi hidrolisis sakarosa menjadi fruktosa dan glukosa adalah sebagai berikut:
C12H22O11+ H2O C6H12O6+ C6H12O6

Sukrosa merupakan gula yang paling luas tersebar di alam, dengan kadar berkisar dari
0,1-25% dari bahan segar. Buah matang, khususnya tinggi kandungan sukrosanya. Sukrosa
tersusun dari D-glukosa dan 2)-glikosidik yang juga dapat disebut -(1 D-fruktosa dengan
ikatan 1)-glikosidik. Sukrosa bukan gula reduktif karena gugus OH -(2 ikatan bebas pada
glukosa dan fruktosa telah berikatan. Hidrolisa sukrosa oleh asam menghasilkan campuran
equimolar glukosa dan fruktosa. Produk hidrolisa sukrosa umumnya dinamakan gula invert.
Istilah ini muncul dari berubahnya rotasi spesifik sukrosa yang putar kanan menjadi rotasi
spesifik campuran equimolar glukosa+fruktosa yang putar kiri (Sudarmanto, 2000: 54).
Sukrosa merupakan oligosakarida (disakarida) yang mempunyai peran penting dalam
pengolahan pangan dan banyak terdapat pada tebu, bit dan kelapa kopyor. Untuk industri-
industri makanan biasanya digunakan sukrosa dalam bentuk kristal halus atau kasar dan
dalam jumlah banyak dipergunakan dalam bentuk cairan sukrosa (sirup). Pada pembuatan
sirup sukrosa dilarutkan dalam air dan dipanaskan sebagian sukrosa akan terurai menjadi
glikosa dan fruktosa yang disebut gula invert. Inversi sukrosa terjadi dalam suasana asam.
Sukrosa yang merupakan disakarida terdiri atas gabungan dua monosakarida yairu furktosa
dan glukosa.
Gula adalah satu istilah bagi sekelas kristal karbohidrat yang boleh dimakan, terutama
sukrosa, laktosa, dan fruktosa dicirikan oleh suatu rasa manis. Di dalam makanan, gula
kebanyakan dirujuk hampir-hampir ekslusif merujuk kepada sukrosa, yang utamanya datang
dari Gula tebu dan gula bit. Gula lain digunakan di dalam industri penyediaan makanan, tetapi
ia biasanya diketahui oleh nama-nama yang lebih spesifik nama-nama glukosa, fruktosa atau
gula buah, air gula jagung fruktosa tinggi, dll ( Taba, 2009: 60).
Asam sulfat menghilangkan air dari gula dalam reaksi eksoterm, melepaskan panas,
uap, dan gas sulfur oksida. Selain bau belerang, reaksi ini juga berbau seperti karamel. Gula
putih berubah menjadi arang hitam yang mendorong dirinya keluar dari gelas.
Gula adalah karbohidrat, jadi ketika kita menghilangkan air dari molekulnya, pada
dasarnya yang tertinggal adalah elemen karbon. Reaksi dehidrasi ini adalah jenis reaksi
eliminasi : C12H22O11 (gula) + H2SO4 (asam sulfat) → 12C (karbon) + 11H2O (air) + campuran
air dan asam. Meskipun gula mengalami dehidrasi, air tidak hilang dalam reaksi. Beberapa
tetap sebagai cairan dalam asam. Karena reaksi adalah eksoterm, banyak air yang menjadi
uap.
Mekanisme reaksi hidrolisis sakarosa menjadi fruktosa dan glukosa adalah sebagai
berikut: C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6
Asam sulfat merupakan asam yang bersifat dehidrator atau menarik air dari suatu
karbohidrat sehingga yang tinggal hanyalah karbon nya yang membentuk endapan hitam
(tugu hitam kimia).
Pada praktikum ini terjadi reaksi “dehidrasi gula” yaitu perubahan sukrosa (gula)
menjadi molekul air dan sisa dehidrasi. Asam sulfat merupakan pereaksi yang higroskopis /
dapat menarik air disekitarnya
Persamaan reaksi yang terjadi :

Cn(H2O)m + H2SO4 → C(s) + H2O

C12H22O11 + H2SO4 → 12C + 11H2O

Uap air yang terbentuk cenderung ke atas dan mendesak sisa dehidrasi (karbon),
sehingga hasil reaksi dapat mengembang ke atas seperti tugu.

G. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1) Terjadi reaksi “dehidrasi gula” yaitu perubahan sukrosa (gula) menjadi molekul air dan
sisa dehidrasi. Asam sulfat merupakan pereaksi yang higroskopis / dapat menarik air
disekitarnya. Persamaan reaksi yang terjadi :

Cn(H2O)m + H2SO4 → C(s) + H2O

C12H22O11 + H2SO4 → 12C + 11H2O


Uap air yang terbentuk cenderung ke atas dan mendesak sisa dehidrasi (karbon), sehingga
hasil reaksi dapat mengembang ke atas seperti tugu.

2)

H. Jawaban Pertanyaan

a. Tugu Hitam Manis

1) Apa yang terjadi pada gula?


Jawab: Gula pasir akan terbakar dan membentuk tugu berwarna hitam dan warna
hitam tersebut bergerak naik. Larutan gula semakin lama semakin hitam dan terbentuk
karbon (tugu hitam) mengeras dan membentuk semacam tugu hitam kimia.

2) Mengapa bisa terjadi hal tersebut?


Jawab: Karena terjadi reaksi “dehidrasi gula” yaitu perubahan sukrosa (gula) menjadi
molekul air dan sisa dehidrasi. Asam sulfat merupakan pereaksi yang higroskopis /
dapat menarik air disekitarnya. Persamaan reaksi yang terjadi :
Cn(H2O)m + H2SO4 → C(s) + H2O

C12H22O11 + H2SO4 → 12C + 11H2O


3) Jelaskan fungsi penambahan masing-masing bahan?
Jawab: 1. Gula sebagai bahan utama dalam percobaan, zat yang mudah terdehidrasi.
2. Asam sulfat pekat yaitu sebagai asam anorganik yang kuat dan larut dalam
air, sebagai pereaksi yang dapat menarik air disekitarnya, sebagai
pendehidrasi
3. Akuades yaitu sebagai sebagai bahan agar asam sulfat bereaksi
Daftar Pustaka

Anna Poedjiadi. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

Chang, Raymond. 2004 . Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.

Hart, Harold. 1983. Kimia Organik. Jakarta. Erlangga.

Lehninger.1982. Dasar-Dasar Biokimia. Penerjemah : Maggy Thenawijaya. Jakarta :

Erlangga.

Oxtoby, D. W., Gillis, H. P. dan Nachtrieb, N. H. 1999. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.

Rhio. 2002. Belajar Kimia. Bogor: Sekata Media.

Taba. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Makassar.LaboratoriumKimia Fisika Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin.
LAMPIRAN

a. Tugu Hitam Manis

Gambar 1. Hasil Percobaan Tugu Hitam


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2. Bahan yang digunakan dalam percobaan Tugu Hitam (akuades dan asam
sulfat pekat)
Sumber : Dokumentasi Pribadi

b. Secret Messege