You are on page 1of 20

Catetan Kulit - SEMOGA BERMANFAAT :)

Sumber : dr Nurrachmat M, M.Sc, Sp.KK, FINS DV

DASAR-DASAR DIAGNOSIS
UKK PRIMER

UKK primer terdapat 3 macam perubahan :

1. Perubahan Warna tanpa Perubahan Konsistensi


a. Makula
 < 1 cm
 Jenisnya : hiperpigmentasi/ hipopigmentasi (produksi melanosit menurun)/ eritem/
depigmentasi (tidak ada melanosit)
b. Patch
 > 1 cm
 Gabungan dari beberapa makula
 Contoh: Melasma
c. Purpura dan Ekimosis
 Karena perdarahan dibawah kulit
 Contoh : Vaskulitis, SJS
 Pemeriksaan : DIASKOPI (ditekan dengan jari atau object glass)
- Hilang  Purpura non palpable (kapiler)
- Tidak hilang  Purpura palpable (arteri dan Vena), contoh: SJS
2. Penonjolan
> 1 cm Bertangkai
< 1 cm

< 1cm >1 cm Bertangkai


Isi Masa Padat - PAPILOMA
PAPULA NODUL Ex/ kutil, kondiloma
Infiltrasi sel radang pada Infiltrasi sel radang pada akuminata
epidermis atau dermis dermis-subkutis
bagian atas
Contoh penyakit yang disertai sel radang:
Dermatitis, skabies, acne nodulari, karbunkle, furunkle
Isi Cairan
VESIKEL BULA
Vesikel dan Bula berisi cairan akibat proses Akantolisis yaitu
desmosom (ikatan antar sel) pada keratin lepas/ renggang
sehingga terjadi perpindahan cairan dari ekstrasel ke intrasel
Proses Akantolisis dibagi menjadi:
- Primer : Proses autoimun
Ex/ Vestibulosa : pemvigus (diserang oleh antibodi sendiri
yaitu IgE)
- Sekunder: Proses infeksi, hipersensitivitas, trauma
Ex/ Varisela, DKA, terkena air panas
Pemeriksaan : Tzank Test  dengan cara dipecahkan
kemudian diambil dasarnya, ditetesi Giemsa, bila
dimikroskop didapatkan Multinucleated Giant Cell  (+)
Infeksi Virus
Isi Nanah
PUSTUL  Infeksi bakteri gram + / Stapphilococcus
Pemeriksaan: Gram  dipecahkan kemudian diswab
(+) ungu  mengikat Gram A
(-) merah  mengikat Gram D

3. Peninggian

Saat palpasi seperti ada yang tebal

a. Plakat
 Suatu peninggian yang mendatar,berbatas tegas
 Menunjukkan penyakit kronis atau residif
 Ex/
LSK  bekas garukan menunjukkan likenifikasi (alur/ garis-garis kulit (garis langer))
terlihat
Psoriasis  Plakat + skuama tebal (skuama mikaseus)
b. Urtikaria
 Plakat + edem
c. Sikatrik
 Jaringan fibroblas yang menonjol ke permukaan kulit
 Hiperproliferasi dari jaringan fibroblas kalau ada luka kronis
 Ada 2 jenis
1. Skar Hipertrofi : sama bentuknya (tidak melebihi batas kulit)
2. Keloid : besar (melebihi batas kulit)

UKK SEKUNDER

1. Eksoriasi
 Defek pada keratinosit yang mengenai papila dermis yang bentuknya linier
 Lebih dalam dari erosi karena ada pin point bleeding
2. Erosi
 Kehilangan jaringan yang tidak melewati membrana basalis
 Ex/ bekas vesikel atau bula yang pecah
3. Krusta
4. Skuama
 Lepasnya stratum korneum yang nampak dipermukaan kulit
 Jenisnya:
a. Skuama halus (powdery) : Pitiriasis Versicolor
b. Skuama tebal (mikaseus): Psoriasis
c. Skuama berminyak (greasy) : Dermatitis seboroic
5. Ulkus
 Defek sampai dermis/hipodermis/subkutan
 Karena infeksi : leprae
Karena tekanan: ulkus dekubitus
Karena pembuluh darah: ulkus statis, ulkus varicosum
 Prinsip ulkus: harus ditutup oklusif
 Medikasi ulkus: debridement  dressing (intrasid dan salep antibiotik)  diberi kain kassa
lembab  medikasi tiap 72 jam (3 hari)  sampai ada jaringan granulasi
 Prinsip wound healing :
- Pembekuan : platelet aktif
- Inflamasi
- Proliferasi : pembentukan luka baru
- Remodelling

DESKRIPSI UKK

1. Regio
- Reg. Facial/trunkus anterior post/colli/cruris dll
- Reg. Generalisata (hampir seluruh bagian tubuh) : eritroderma
2. UKK Primer
3. Deskripsikan UKK primer
- Warna
- Diameter
- Tepi: reguler/irreguler
- Batas: tegas (peninggian)/ tidak tegas (perubahan warna)
- Bentuk
4. UKK Sekunder
5. Jumlah
- Soliter : 1
- Multiple : > 1  Distribusi : diskrit/ konfluens

DIAGNOSIS KERJA

DIAGNOSIS BANDING

Contoh: erytrasma : plakat di daerah inguinal  DD: Tinea cruris, candidiasis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Spora, Hifa, Psedohifa Pemeriksaan KOH 10-20%


Bakteri Pemeriksaan Gram
Virus Pemeriksaan Tzank
Parasit (skabies, trikomoniasis) NaCl
BTA (Bakteri Tahan Asam) Pemeriksaan Ziehl-Nelson
PENYAKIT INFEKSI

Penyakit infeksi dibagi menjadi: Jamur, Virus, Bakteri, dan Parasit (Investasi)

A. Jamur
a. Dermatofita
 Kelompok jamur memiliki sifat keratinofilik (butuh keratin) sehingga mengenai bagi
tubuh bagian yang ada keratin: kulit, rambut, dan kuku
 3 Jenis:
1. Tricophyton : kulit, rambut, kuku
2. Epidermophyton: kulit dan kuku
3. Microsporum : kulit dan rambut
 Jenis Penularan :
Antro filik  Kontak fisik antar kulit manusia. Ex/ olahraga tinju, bergulat, tine korporis
Zoofilik Kontak dengan hewan biasanya kucing dan anjing, sering terjadi pada anak-
anak. Ex/ tinea capitis
Geofilik  karena tumbuhan atau lingkungan sekitar
 UKK :
Plakat, tepi aktif lebih meninggi, tepi berbentuk polisiklik (setengah lingkaran)
Central healing  karena jamur makan keratin dari tengah dan bergerak melingkar

RAMBUT

Tinea Kapitis

- Pada tinea capitis terdapat alopesia (area kebotakan rambut), ada area lesinya
- Jenis:
1. Kerion celsi  tertutup karena inflamasi seperti sarang lebah
2. Black dot  titik hiitam, punya hifa endotrik  rambut sebelum tumbuh sudah
patah duluan
3. Grey patch  skuama tebal, punya hifa eksotrik  rambut mau tumbuh tetapi
tertutup skuama
- Terapi:
 Wajib oral
Terapi : griseofulvin, tidak perlu diberi AH
Cara kerja Griseofulvin : kulit bisa penetrasi membran basalis supaya keratin
tersebut tidak rusak oleh keratinisasi si jamur (proses keratinisasi 2-4minggu)
Dosis:
Dewasa 500mg/ hari, anak-anak : 200mg/kgBB
Edukasi: minum obat berbarengan dengan makanan berlemak atau susu
 Tidak bisa diberi salep tapi diberi shampoo ketokonazole atau selenium sulfid

KUKU

Tinea Ungeum

- Tanpa keterlibatan kulit sekitar


- Ciri -ciri:
1. Perubahan warna : discolorisasi menjadi kekuningan
2. Penebalan : hiperkeratosis subungual
3. Erosi : onikodistrofi (erosi mulai dari distal ke proksimal)
4. Kuku bisa lepas dari bantalan kuku : Onikolisis
- Terapi :
 Itrakonazole :
 PULSE THERAPY ( 1 minggu pertama minum obat, 2 minggu berikutnya off
 diulang 3x)
 Dosis: 2x 200mg (2x2tab)
 Kuku tangan diberi selama 3 bulan
 Kuku tangan dan kaki  diberi selama 6 bulan
 Terbinefrin :
 Dosis : 200mg/hari
 Kuku tangan : 2 bulan
 Kuku tangan dan kaki : 3 bulan
 Obat oles kuku : Siklopiroksalamin
 Obatnya seperti kuteks, jadi sebelum dioles harus dikikir terlebih dahulu
 Cara pakai: sehari oles sehari tidak

Tambahan:
Kalo disekitar kuku biasanya disebabkan oleh candida  onikomikosis candida

b. Non Dermatofita
Jamur yang menjadi flora normal  kolonisasinya meningkat dalam tubuh
1. Candida albican
 FR: pemberian steroid tinggi, immunocompremized, penggunaan AB penicilin jangka
panjang, DM, B20
 Terjadi pada :
Kulit Mukosa
Plakat yang dikelilingi papul eritem (lesi Pada bibir : selaput putih pseudomembran
satelit) Genital vagina: discharge keputihan
UKK: membasah (mandidans) seperti susu, gumpal, gata, seperti
FR: wanita gemuk kebakar
 Terapi:
Golongan azole
Ketokonazole: 200mg (7-14 hari)
Pada mukosa  Flukonazole (single dose), Itrakonazole (200mg/hari)
2. Malasezia Furfur
Ptiriasis Versicolor
 Orang kulit putih  panu kecoklatan
Kenapa? Karena malasezia dianggap sbg antigen (karena tidak ada melaninnya) ->
bersifat antigenik -> inflamasi -> produksi melanosit meningkat
 Orang kulit coklat  panu putih
Kenapa? Karena malasezia furfur menghasilkan asam azaleat, asam dekarboksilat
yang menurunkan produksi melanosit dengan menghambat enzim tirosinase
 Pemeriksaan paling sederhana: FINGER NAIL SIGN (digaruk pake kuku  keluar
skuama seperti bedak)
KOH  ditemukan spageti and meatball
Lampu wood  kuning keemasan
 DD :
P. Alba  karena sinar matahari UV menutup melanin sehingga hipopigmentasi
(pada wajah dianak-anak, lampu wood (-))
P. Ovale
 Terapi
1. Ketokonazole 200mg (14 hari)
2. Itrakonazole 200mg (14 hari)
3. Shampoo dioles dikulit dengan cara 15 menit sebelum mandi (1 hari sekali)
Kenapa sebelum mandi? Karena supaya hilang saat dibilas dan tidak bisa dipakai
setelah mandi karena mengandung deterjen
 Edukasi: apabila sudah diberikan terapi selama 14 hari PVC tetap membekas
warna putih (sulit dihilangkan), sering dikira belum sembuh maka disarankan
untuk berjemur untuk merangsang produksi melanin
B. Virus
a. Varicela Zooster Virus
- Menular dengan kontak fisik atau droplet (udara, percikan ludah)
- Patogenesis :
Virus masuk  menyebar ke KGB  timbul gejala prodormal (demam, flu, gatal) 
1. Stadium Rest (keluar bercak bercak merah)
2. Stadium Erupsi
 Papul keluar secara sentrifugal yaitu dari bagian tengah tubuh keluar tubuh
 Polimorfis  papul dan vesikel (karena virus replikasinya tidak bersamaan)
3. Stadium Krusta (mengering menjadi krusta)
4. Stadium Remisi (krusta lepas)

Setelah sembuh, virus dorman pada ganglia dorsalis  bisa aktif kembali saat dewasa
saat imunitas menurun  HERPES ZOOSTER (vesikel bergerombol sesuai dermatom)

- Pengobatan efektif saat Stadium Erupsi karena stadium tsb tidak lebih dari 3 hari
- Terapi:
1. Asiclovir
Dewasa : 5x800mg
Anak-anak : 200mg/kgBB
Diberikan pada hari ke 1-3
Masih dapat diberikan asiclovir pada hari ke 5-7 : tetapi harus ada lesi baru yang
masih efektif seperti papul atau plenting-plenting
Pada lebih dari hari ke 7 sudah tidak efektif lagi diberikan asiclovir, jadi diberi
Antibiotik. Kenapa? Karena sering disertai infeksi sekunder (staph. Aureus)
2. Valacyclovir (valtrec)
Dewasa : 1 gr/8jam
Anak-anak : 10mg/kgBB 3x1
- Kenapa pada anak-anak manifestasi kliniknya lebih ringan?
Karena pada anak-anak imunitas selulernya belum sempurna
b. Herpes Zooster
- Kenapa terasa sangat nyeri?
 Ramsay Hunt Syndrome
- Disebabkan oleh varicela zooster virus
- Mengenai N. VIII
- Klinis : Bells palsy, otalgia, bercak ditelinga/ lesi vesikel diauricula
 Kemudian terjadi neuritis pada saraf atau biasa disebut PHN (post herpetic
neuralgia). PHN dapat dicegah dengan cara saat herpes zooster diberi
kortikosteroid (setara 40mg Prednisolon) . Rumusnya dosis/5x4
 Ex/ Metilprednisolon 40/5x4 = 32 (2 tab MP) kemudian di tappering off tiap 5 hari
pada MP jadi 8
- PHN terapi :
1. Gabapentin 300-600mg/ hari lansia
2. Pregabalin 3x75mg  lansia
3. Amitriptilin  diberi pada usia muda, ES: dizziness

C. Parasit (Investasi)
a. Skabies
- 4 tanda :
1. Menyerang orang berkelompok
2. Bentuk klinis canaliculi (terowongan)
Pemeriksaan : burrow ink test ( diteteskan pada lesi yang jaraknya berdekatan 
ditunggu  tinta diapus  liat di mikroskop
Pakai pengecatan NaCl  bisa melihat telur, skabies
3. Proritus nocturia  karena aktif kawin dimalam hari
4. Ada Sarcoptei scabiei
- Predileksi: sela-sela jari, ketiak, perut, bokong, genital pria, payudara (aerola)
- Jenis skabies:
1. Skabies atipikal : gejala tidak khas, misal pada bayi atau orang yang hidup bersih
2. Skabies inkognito : Pemakaian kortikosteroid topikal atau sistemik dapat
memperbaiki gejala dan tanda klinis skabies, tetapi infestasi kutu dan kemungkinan
penularan nya tetap ada.
- Terapi
1. Permethrin
Cara pemakaian : oleskan agak digosokkan ke seluruh tubuh terutama yang ada lesi
kecuali wajah, sebelum dioleskan mandi terlebih dahulu, tidak boleh kena air selama
8-10jam
Ulang 1 minggu karena permetrin hanya bisa membunuh larva, tidak bisa telur selain
itu permetrin merupakan insektisida sehingga apabila digunakan tiap hari bisa DKI
2. Sulfur Peritriatum (pengganti permethrin jika tidak ada) – SALEP 24
Kandungan : 2% asam salisilat 4 % sulfur peritriatum
Cara pemakaian : dioleskan seluruh badan 3 malam berturut-turut
3. Emulsi Benzil Benzoate (EBB)
Dipakai selama 3 hari
- Edukasi : Rendam pakaian, sprei dengan air mendidih, apabila tidak ada kompor bisa
dengan cara dimasukkan ke plastik diamkan 3 hari

b. Cutaneus Larva Migran


- Pada orang yang suka berjemur dipantai, jalan dipasir, petani
- Penyebab: ancylostoma
- Terdapat peradangan linier dan berkelok-kelok (canaliculi serpiginosa)
- Terapi :
1. Albendazole 400mg/3hari berturut-turut
2. Albendazole topikal
Caranya: 1 tablet digerus, dicampur salep Antibiotik atau steroid ringan
(hidrokortison)  jadi albendazole salep  diolesin  ditutup rapat  dibiarkan
3 hari (cacing akan terabsorbsi)

D. Bakteri

Erisipelas Selulitis

Lokasi Epidermis dan dermis Dermis dan subkutan

Etiologi Streptococcus B hemoliticus Streptococcus B hemoliticus dan


Staphylococcus aureus

Batas Tegas Tidak tegas

Tepi Meninggi Tidak meninggi


PENYAKIT ALERGI PADA KULIT

 Penyakit alergi pada kulit dibagi menjadi :


1. Cepat (< 24 jam)
Merupakan Hipersensitivitas tipe I
URTIKARIA
- Jenis :
a. Akut  < 6 minggu
Terapi : AH 1 (1x1 selama 7 -14 hari dapat diperpanjang sampai 1 bulan)
b. Kronis  > 6 minggu
Terdapat reaksi silang IgG dan IgE
Terapi : AH1 (cetirizin/loratadin) PAGI +AH 2 (cimetidin) MALAM
c. Kronik idiopatik  belum jelas
- Patogenesis :
Antigen + antibodi (IgE)  menempel pada sel mast melalui fc∑EI  sel mas
bergranulasi (mengeluarkan granul-granul salah satunya histamin)  histamin
bertemu reseptor
Pada histamin terdapat 3 reseptor :
1. H1 (endotel pembuluh darah)
Co/ Urtikaria
Prosesnya : Histamin + reseptor  permeabilitas pembuluh darah meningkat
 komponen pembuluh darah keluar (cairan dan sel terutama eosinofil)
menempel di pembuluh darah  edem jaringan (pembengkakan kulit lokal)
 urtikaria
2. H2 (saluran pencernaan, otot polos, dan jantung)
3. H3 (pernapasan, SSP)
IgE

Fc∑RI

Sel
Mas Sel mas kelurkan granul (histamin)

IgG (kronik sel mast)  sisifatnya deestruktif

- Obat AH (antihistamin)  memblok reseptor hsitamin


- Pemeriksaan Penunjang : SKIN PRICK TEST
1. Kontrol (+) : histamin
DI BAGIAN VOLAR
2. Kontrol (-)

Cara : ditunggu setengah jam  tunggu reaksi WHEAL  terus ukur diameter
dengan kontrol (+)
Syarat skinpricktest :
 Bebas lesi
 Bebas obat AH dan kortikosteroid selama 7 hari
- Jenis lain urtikaria :
Cold Urtikaria : karena dingin
Vesikel Urtikaria :
Colinergic Urtikaria : karena olahraga
Adrenergic Urtikaria : karena stress
Solar Urtikaria : karena panas matahari

2. Lambat (Hipersensitivitas Tipe 4)


DERMATITIS KONTAK ALERGI (DKA)
- Hanya terjadi pada orang tertentu yang punya antigen atau spesifik alergen (HLA)
 dapat diturunkan
- Co/ alergi nikel, jeans, emas, karet (handscoen), kosmetik
- DD: Dermatitis Kontak Iritan (DKI)
 Tanpa proses hipersensitivitas
 Tergantung konsentrasi bahan iritan (bahan toxic) dikulit
 Ada 2 macam : akut dan kronis
 Dapat terjadi pada semua orang
- Patogenesis :
Fase Sensitisasi (butuh waktu 24 jam)
Alergen masuk ke dalam kulit bentuk hapten (BM kecil)  tertangkap oleh sal
Langerhans  diproses dulu karena bentuknya kecil (hapten) dibantu oleh CD 4 &
CD 8 ( untuk inisiasi mengecilkan)  bila sudah dikenal disimpan di sel T Memory.
Ketika ada paparan ulang  langsung disajikan sel T  sitokin inflamasi aktif 
timbul gatal merah
Fase Elisitasi
- Pemeriksaan Penunjang : SKIN PATCH TEST
 Bahan alergen harus diencerkan sampai 100x (karena harus dalam bentuk
hapten). Bila bahan padat diencerkan dengan vaselin album. Bahan cair
diencerkan dengan aquades
 Ditempel dengan alergen selama 48 jam di punggung  tidak boleh terkena
paparan sinar matahari, air dan keringat
 Syarat :
- Bebas lesi
- Bebas obat AH dan kortikosteroid selam 7 hari
 Dilepas patchnya  dikatakan alergen apabila selama 3 hari setelah 48 jam
 ++ bertambah  (+) DKA
Jika ++ menurun  DKI
*Tambahan
PATCH TEST DENGAN OBAT  DRUG PATCH TEST
 Pemeriksaan penunjang pada FDE (fixed Drug ruption)
 FDE : alergi obat yang manifestasi kliniknya (bercak hitam) ditempat yang
sama terus seperti di genital atau bibik
- Terapi DKA dan DKI
1. AH untuk gatal
2. Kortikosteroid
 Poten (Desoxymetason) atau Superpoten (Clobetason)
Efek : antiinflamasi dan antimitotik
 Mild-moderate
Klinis: Cuma eritem-eritem
Efek : antiinflamasi
Co/ hidrokotison (untuk anak-anak), betametason
3. Antibiotik  hanya jika terdapat infeksi sekunder

3. Idiopatik
DERMATITIS ATOPIK
- Merupakan reaksi hipersensitivitas tipe cepat dan lambat (reaksi cepat namun
dikeluarkan secara lambat)
- Belum diketahui causa
- Diagnosis berdasarkan kriteria 3 MAYOR + 2 MINOR
MAYOR 1. Pruritus  lecet  mudah infeksi
2. Lesi kronik residif (kambuhan)
3. Lesi sesuai dengan munculnya
Bayi : wajah/ pipi
Remaja : ekstensor
Dewasa : flexor
4. Riw. Atopik (asma/ Rhinitis alergi/ DA) pada diri sendiri dan
keluarga
MINOR 1. Xerotic Cutis (kering  mudah gatal)
*karena fungsi pelembab (nature moisturized factor) yaitu seramid
berkurang
Sehingga bila kulit kering diberi Seramid sintesis / emolien
pelembab
2. Mundah muncul secondary infection

- UKK : Polimorfisme (bermacam-macam) UKK


Akut (Eritem):
 TH 2 (yang mengaktifkan IL – 4 sbg aktivasi sitokin proinflamasi) masih aktif
meningkat
 DA ekstrinsik
 IgE meningkat
Kronik (Plakat Likenifikasi):
 TH 1 (sitokin IL-10 antiinflamasi) meningkat
 DA Intrinsik
 IgE normal

*TAMBAHAN
LSK  lesi hanya ditungkai (punggung kaki) leher, pemicu stress
Bila terjadi pada orang atopik  DA intrinsik (lesi dimana-mana)
Kalo LSK hanya 1 lesi

DM  sering terjadi tinea, candidiasis (karena metabolisme jamur buth glukosa)


IMS (INFEKSI MENULAR SEKSUAL)

3 Gejala :
1. Sindrom Discharge (keluar dari introitus uretra/vagina)
2. Sindrom ulkus genital
3. Sindrm Tumor

1. Sindrom Discharge (keluar dari introitus uretra/vagina)


- Laki-laki : Neiseria Gonore atau uretritis gonore
- Perempuan : cervisitis gonore
Etiologi : koitus dengan beda pasangan.
3-5 hari muncul  muncul gejala dipagi hari, mukopurulen disuria
- Sering ditumpangi Clamidia
- Pemeriksaan penunjang : GRAM
Discharge langsung ditempelkan pada object glass. Apabila discharge tidak keluar secara
langsung maka dapat diurut secara distal
Hasil :
a. (+) DGNI (diplococcus gram negatif intraseluler : kuman merah berpasang-pasangan) 
uretritis gonore
(-) DGNI  uretritis non gonore
b. Bila ada infeksi clamidia ditemukan sel PMN
Laki-laki : (+) bila > 10
Perempuan : (+) bila > 30  lebih banyak karena pada wanita asimptomatik sehingga
tidak merasa ada gejala biasanya datang sudah dalam keadaan kronis
- Komplikasi paling sering: abses bartolinitis
Tx : insisi dan drainase
- Komplikasi GO :
Laki-laki :
 Epididimitis (testis bengkak separuh)  riw. Kencing nanah
 Striktur uretra
 Prostatitis
Perempuan
 Salphingitis, infertilitas (one child infertility)  saat melahirkan tuba steril secara
spontan
 Tulang : phreng arthritis
 SSP : meningitis ec GO
- Terapi :
 Cefixime 400mg (single dose)
 (+) clamidia : Doxyciclin 2x100mg selama 7 hari atau azitromicin 1 gram (single dose)
 Injeksi : ceftriaxone 250mg (single dose)
- Terapi disertai Komplikasi
 Cefixime 400mg selama 5 hari
 Doxyciclin 2x100mg selama 7 hari
 Inj cextriaxone 250mg (3 hari)
CANDIDIASIS VAGINALIS TRIKOMONIASIS BACTERIAL VAGINOSIS
Candida Albicans Trichomonas Vaginalis Gardnerella vaginalis
Putih susu, Cottage cheese Encer, berbusa Sangat kental, putih, berbau
(gumpalan keju)
Gatal, tidak berbau Gatal hilang timbul, bau Gatal hilang timbul, Amis
telur busuk, (fishy odor)
Lengket, nempel ke CD Masif gonta ganti Bau
CD/pentiliner
Gadis Aktif hubungan sex Gadis
Aktif hubungan sex Aktif hubungan sex
Swab : Swab : Swab :
Dinding vagina 1/3 bawah Fornix posterior Dinding vagina 1/3 atas
Pada spekulum terlihat
papul eritem pada servix
(strawberry servix), kolpitis
makularis, hiperemis servix
Tetes : Tetesi : Tes AMIN (KOH) apabila
KOH  pseudohifa NaCl  flagela dikipas-kipas bau amis
seperti ikan (fishy odor)
Tes Salin (wet mount)
ditemukan clue cell yaitu
epite vagina yang dikelilingi
sel radang PMN

Terapi : Terapi : Terapi :


- Flukonazole 150 mg - Metronidazole 2x500mg - Metronidazole 2x500mg
(single dose) (7 hari) (7 hari)
- Itrakonazole (3 hari) - Tinidazole - Clindamisin 2x300mg
- Ketokonazole 2x200mg (7hari)
(7 hari) -> bisa reccurent

c. Sindrom ulkus genital

ULKUS DURUM (CANCRE) ULKUS MOLE HERPES LGV DONOVANOSIS


(CANCROID) GENITAL (LYMPHOGRANULOMA GRANULOMA
VENERUM) INGUINALE
Treponema Pallidum Haemophilus HSV (herpes Chlamydia trachomatis Kleibslella
ducreyi simplex virus) granulomatosis (gram
(-))
- Soliter - Multiple Awalnya vesikel Gejala khas: ulkus Ulkus meluas sampai
- Bersih (tanpa ada jaringan - Kotor yang mudah genital disertai edem perineum
nekrotik/darah/pus/slough - Nyeri pecah inguinal/ KGB asimetris
- Tidak nyeri - Ulkus indurasi Laki : pd corpus atau unilateral
- Ulkus menggaung penis
Prmpuan: pd FR: Homosexual
labia mayor
Bisa reccurent
tanpa hub sex
Mikroskopis : Mikroskopis : >3x/tahun  Komplikasi : Mikroskopis :
Treponema bentuk spiral Skull of fish cek CD 4 Sexophone penis, Donovan bodies (+)
Medan gelap HIV (+) ; < 500 elefantiasis genital,
TPHA (+) seumur hidup AIDS (+) : < 200 penis bengkak
VDRL : 1/16 dan kelipatan Pmx :
Bila sdh diobati hasilnya IgM (akut), IgG
VDRL (-) (reccurent)
TPHA tetap (+)
Terapi Terapi Terapi : Terapi: Terapi :
Penicilin Benzatin 2,4 juta Eritromisin Asiclovir Doxycilin 2mg (1bulan) Azytromicin
IU (single dose) 3x500mg (7hari) 5x200mg (7hr)
Doxycilin 2x100mg (14 hari) Azitromisin 1 gram Atau 3x400mg
Tetrasiklin 4x 500mg (14 (single dose) (7hr)
hari) Vanasiclovir
Eritromisin 4x500mg (14hr) 2x500mg (7hr)

Perbedaan Ulkus Durum Stad II dan III


Stad II : (+) kondilomaakuminata, kerontokan rambut (moth-eaten alopesia), psoriasis
Stad III : gejalanya sistemik seperti kardio (karditis), SSP (meningoencepalitis ec sifilis)

d. Sindrom Tumor
KONDILOMA AKUMINATA
- Disebabkan oleh virus HPV yaitu nononkogenik (tipe 6 dan 11) dan onkogenik (tipe 16 dan
18)
- Pemeriksaan : IVA TEST ( diberikan asam asetat  berubah menjadi warna putih)
- Terapi :
1. Bedah Listrik  dibakar (elekto desikasi) , bisa menanggulangi sampai ke akar
2. Bedah kimia  ditutul cairan TCA 80% efeknya nyeri atau Podovilin 20% efeknya bisa
reccurent
3. Bedah beku  Cryotherapy menggunakan nitrogen cair, bisa digunakan untuk
condyloma giant, setelah itu ditambahkan salep 5FU (Fluorouracil) gunanya untuk
mempercepat apoptosis
MORBUS HANSEN (KUSTA)

 Penyakit infeksi kronik disebabkan Mycobacterium leprae (basil tahan asam, gram positif)
 Penyakit menular tetapi sulit menular karena butuh kontak yang erat selama 1-2 tahun dengan
pasien
 Gejala khas : bercak yang jika tersentuh tidak terasa lagi
 Diagnosis: 3 tanda kardinal (min. 1 tanda)
1. Bercak yang mati rasa (eritem/hipopigmentasi/hiperpigmentasi)
2. Penebalan saraf tepi (motorik dan sensorik)
Diketahui dari palpasi 6 saraf tepi :
- N. Auricularis magnus
- N. Ulnaris
- N. Medianus
- N. Radius
- N. Perineus Communis
- N. Tibialis posterior
3. BTA positif
- Dilakukan setiap 3 bulan
- Cara :
 Ambil dari 6 lokasi : 2 cuping telinga, 2 cuping hidung (sudah jarang dilakukan karena
sakit -> sering diganti 2 ruas jari), lesi aktif
 Ambil serum (cairan putih) → diswab → lakukan pemeriksaan Ziehl Neelsen,
kemudian perhatikan :
a. Indeks Bakteri (IB)
- Hitung kuman/LP
- Biasanya apabila belum pernah diobat hasilnya < 3
b. Indeks Morfologi (IM)
- Hitung morfologi kuman
- Untuk mengetahui infeksius/tidak, keberhasilan terapi, resistensi kuma BTA
- Semakin tinggi semakin menular (> 10 %) → jika menular langsung
lakukan screening pada orang sekitar pasien karena risiko tertular
 Klasifikasi

KLASIFIKASI WHO

PB (PAUSIBASILER) MB (MULTIBASILER)
Lesi Kering Lesi Basah

1-5 Lesi > 5 lesi

1 saraf > 1 saraf

asimetris simetris
KLASIFIKASI RIDLEY JOPLING --> harus dicek histopatologi

Khas : Granuloma epiteloid diseluruh lapang pandang dermis


TT
PB - Fungsi makrofa baik tetapi menurun
- Khas : sel Datya Langhans (lesi satelit mirip candidiasis ) pada granuloma epiteloid
BT
- Granuloma epiteloid berkurang
- Khas : lesi Punchout (makula hipopigmentasi ditengah), dermis bersih dari sel epiteloid
(Clear zone/green zone)
BB
Makrofag tidak bisa fagositosis sehingga apabila ada bagian sel Schwan lisis maka kuman
lepra keluar dan multiplikasi dalam tubuh → bisa menyebar ke daerah :
a. Tulang → tulang jadi memendek
MB b. Mata → lagoftalmus menjadi kebutaan, madarosis (bulu mata rontok)
LL c. Testis → orchitis → infertil
d. Otot atrofi hipotenar
e. Hidung → saddle nose

Khas : Foam Cell (Sel berbuih) pada vakuolalisasi

BL Khas : Sel epiteloid + foam cell (granuloma histiosid)

Intermediate (I)
- Lepra yang lesinya cuma 1 (lesi tunggal/soliter)
- Patogenesis : kuman lepra ada didalam vaskulae yang dikelilingi sel mononuklear sehingga bisa
mengelabuhi karenatidak dipresentasi oleh MHC II
- Histopatologi : belum dijumpai sel epiteloid
- Terapi : Single dose (ROM)
Rifampicin : 500mg
Ofloxacin : 400 mg
Minociclin : 100 mg

 Pemeriksaan Fisik
1. Penebalan Saraf Tepi

N. Auricularis Magnus Cara :


- Raba Musculus SCM (mulai dari scapula keatas)
- Bandingkan kanan dan kiri
- Perhatikan mimik penderita
- Hasil :
(+) apabila teraba keras seperti senar
Bila kesakitan → terdapat reaksi

N.Radialis Tidak dapat diraba

N.Medianus Tidak dapat diraba

N.Ulnaris Cara :
Posisikan tangan 90° → raba olecranon dan epicondilus
Hasil :
Kesemutan/geli → saraf menebal
Sakit → reaksi (radang/neuritis)

N.Perineus Communis Cara:


Kaki rapat → raba caput fibula digulir ke belakang
Hasil :
Kesemutan/geli → saraf menebal
Sakit → reaksi (radang/neuritis)

N.Tibialis posterior Cara:


Kaki dibuka → raba menyilang
Hasil :
Kesemutan/geli → saraf menebal
Sakit → reaksi (radang/neuritis)

2. Pemeriksaan Sensorik
 Lakukan pada daerah lesi dan normal
 Alat : kapas dipilin/ tabung reaksi yang diisi air hangat/ pulpen/jarum
 Cara : pasien disuruh tutup mata → hipoanastesi (terasa tapi kebas)
Kenapa? Karena ada granul yang menekan saraf tepi (tekanan intraneural) → fungsi
terganggu
 Lakukan pada : telapak tangan (10 titik sentuhan) dan telapak kaki (pasien disuruh duduk

sila) → deteksi kecacatan STOCKING AND GLOVE ANASTESIA (khususnya pada tipe LL)

3. Pemeriksaan Motorik

Lagoftalmus ~ Kelainan N.VII (gangguan memejamkan mata) sehingga disarankan


memakai kacamata geap agar tidak terkena sinar UV karena lama-
lama bisa infeksi → buta
~ Cara : pasien diminta memejamkan mata yang kuat sambil angkat
dagu ke atas (pastikan benar-benar bisa dipejamkan)
~ Tanyakan sejak kapan?
< 6 bulan → bisa difisioterapi
> 6 bulan → cacat permanen, rawat sendiri

N.Ulnaris ~ Cara: kelingking abdukksi maksimal / pasien diminta menjepit kertas


~ Hasil :
~ Bisa melakukan → kekuatan sedang

~ Didorong

Bisa menahan → kekuatan kuat


Tidak bisa menahan → kekuatan lemah

N.Medianus ~ Cara: Jempol keatas/ pasien diminta mengancingkan baju


~ Hasil :
~ Bisa melakukan → kekuatan sedang

~ Didorong

Bisa menahan → kekuatan kuat


Tidak bisa menahan → kekuatan lemah

N.Radialis ~ Cara: Posisi tangan seperti ngegas motor


~ Hasil :
~ Bisa melakukan → kekuatan sedang
~ Didorong
Bisa menahan → kekuatan kuat
Tidak bisa menahan → kekuatan lemah

N.Tibialis posterior ~ Cara: posisi kaki dorsofleksi


~ Biasanya pasien tidak bisa pakai sendal/lepas

 Tatalaksana :
a. Pengobatan tersedia di Puskesmas
Terapi Kusta PB (6-9 bulan)

Minum depan petugas Minum dirumah


Rifampicin : 600mg/bln DDS (Dapson) : 100mg/hari
DDS (Dapson) : 100mg/bln
Terapi Kusta MB (12-18 bulan)

Minum depan petugas Minum dirumah


Rifampicin : 600mg/bln DDS (Dapson): 100mg/hari
DDS (Dapson) : 100mg/bln Clofazimine (Lamprene) : 50 mg/ bln
Clofazimine (Lamprene) : 300mg/ bln
Efek samping :
Dapson → anemia → lemas
Lamprene → fotosensitif → kulit jadi gosong (namun bisa putih lagi setelah selesai
pengobatan)

b. Pemantauan PB (2 tahun) dan MB (4 tahun)


Release From Treatment (RFT)
Setelah selesai pengobatan → BTA (-) → belum dikatakan sembuh masih perlu dilakukan
pemantauan 3-6bulan karena bisa terjadi :
1. Reaksi
Reaksi Tipe 1  Reaksi Hipersensitifas tipe IV
 PB

 Awal kulit putih menjadi merah

 Nyeri (neuritis)

 Saat diperiksa saraf tepi sakit

 Histopatologi : sel PMN (sel radang) pada dermis

 Terapi : Antiinflamasi + analgesik

Kortikosteroid
Prednisone : 40mg (neuritis (-)) / 60 mg (neuritis (+))
Atau Metilprednisolon 32mg/48mg

Reaksi Tipe 2  Reaksi ENL (Erythema Nodusum Leprosum), Reaksi Hipersensitifas


tipe III
 Tanda awal : ada purpura-purpura, UKK : nodul eritem (papul di
epidermis/dermis bag atas)
 Paling sering terjadi setelah pengobatan
 Sering pada LL dan BL
 Histopatologi : sel PMN (sel radang) pada subkutis (kanakuliyis) pada
lobulus atau septalnya
 IB dan IM meningkat lagi
 Dapat terjadi Fenomena Lucio
Biasanya pada LL yang belum diobati
Khas : nekrotik gambaran seperti gerigi/ stelat(bintang)
 Terapi :
- Kortikosteroid : Prednisone
- Thalidomide → lebih bagus dari KS namun Kontraindikasi pada
wanita hamil karena bersifat teratogen

2. Relaps
Gejalanya sama saat pertama kali pasien datang

Release Of Control (ROC)

 Klasifikasi Derajat Kecacatan


Derajat 0 : Tanpa kecacatan

Derajat 1 : Kecacatan dapat diketahui dengan pemeriksaan (motorik menurun,


hipoestesi dll)

Derajat 2 : Tanpa dilakukan pemeriksaan terlihat kecacatan (drop foot, lagoftalmus,


tulang memendek, dll)
OBAT ANTI JAMUR

Griseofulvin  Cara Kerja : menghambat mitosis jamur


 Edukasi :
Diberikan bersamaan makanan berlemak dan minum susu karena akan
meningkatkan penyerapan obat
Tidak boleh bersamaan dengan H2 blocker karena dapat menurukan
efektifitas H2 blocker

Azol  Cara Kerja : menghambat pembentukan dinding jamur (ergosterol) dengan


cara menghambat enzim demitelase → lanosterol meningkat → toxic →
mati
demetilase
Lanosterol (bersifat toxic) ergosterol
 Dibagi menjadi :
1. Imidazole : Ketokonazole
Belum aktif → harus berikatan di hepar → hepatotoksik → harus dicek
SGOT, SGPT nya dulu sebelum obat diberikan
2. Itrikonazol (+) gugus : flukonazole
Sudah aktif → tidak perlu cek SGOT SGPT (lebih sering digunakan)
 Edukasi : minum dipagi hari karena dipagi hari banyak berkeringa → obat
keluar dari keringat → sekalian jadi obat topikal

Alilamin  Contoh : Terbinafin


 Cara kerja : menghambat squalene epoksidase (merubah antioksidan
menjadi oksidan)

Polilen  Contoh : Nystatin, amphotericin B


 Cara kerja : sebagai kompetitor

Syarat pemberian obat oral pada jamur :


 Luas >20%
 Tinea capitis dan ungium
 Tinea incognito
 Pemberian topikal tetapi tidak sembuh
 Mengenai area yang tertutup rambut
 Pasien Immunocompromised

You might also like