You are on page 1of 9

KELOMPOK 1:

1. Rasyidta Qurania Rora (02300170009)


2. Divayanti Sabrina Rosadi (023001700013)
3. Afifah Nidaul Hukama (023001700044)
4. Delyana Utami Koesningrum (023001700048)
5. Edho Bimo Saputra (023160053)

1. Makna Bangsa Indonesia


Nama yang pernah di pakai oleh Indonesia:
1. Hindia Timur
2. Insulinde
3. Nusantara
4. Indonesia
Indo= India
Nesos= pulau
dikemukakan oleh James Richardson Logan dalam Journal of Indian Archipelago.
Belanda--> Nederlandsch Indie-Indonesia
Terkait dengan ini, Muh. Yamin menggunakan istilah bangsa negara dengan landasan teori
ini.
Teori Bangsa:
1. Cultuur-Natie theorie: Bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki persamaan
kebudayanaan.
2. Staats-Natie theorie: bangsa adalah sekolompok manusia yang hidup dalam lindungan
suatu negara.
3. Gevoels-en wits theorie: bangsa adalah sekolompok manusia yang mempunyai perasaan
dan kemauan untuk hidup bersama.

Bangsa Indonesia adalah sekolompok manusia yang mempunyai keinginan untuk hidup
bersama karena nasib yang sama, bertempat tinggal di suatu wilayah tertentu sebagai satu
kesatuan dari sabang sampai merauke.
Bangsa Indonesia secara geografis terletak di antara dua samudra hindia dan pasifik, serta
terletak di antara dua benua, yaitu benua Asia dan Australia. Wilayah tersebut memiliki iklim
tropis yang terletak di 6o LU (Lintang Utara) - 11o LS (Lintang Selatan), serta berada di garis
bujur 95o BT (Bujur Timur) - 141o BT (Bujur Timur).
Kata Indonesia terkait dengan hal tersebut mempunyai makna bangsa; yaitu seluruh
penduduk yang mendiami wilayah itu. pengertian Negara: yaitu organisasi kekuasaan yang
merdeka dan berdaulat di wilayah itu
Dalam arti bahasa, yaitu bahasa resmi negara Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
yang sah di seluruh Negara Kesatuan Indonesia. Dalam arti geopolitik, Indonesia adalah tanah
air kita atau tumpah darah kita dari Sabang sampai Merauke.
2. Nilai-nilai Pancasila pada masa Prasejarah
Berdasarkan pada penemuan artefak manusia purba yang pernah hidup di Indonesia,
mereka sudah mengenal dan mengalami hidup tiga zaman, yaitu Paleolithikum, Mesolithikum,
dan Neolithikum. Dimana masing-masing zaman memiliki ciri budaya tersendiri. Seperti
contohnya saat zaman paleolithikum, manusia masih menggunakan batu untuk berburu hewan
dan tanaman, ini menandakan bahwa manusia sudah memiliki isnting atau disebut
foodgathering. Sedangkan saat Neolithikum, manusia sudah mengenal bercocoktanam atau
disebut foodproducing.
Berikut adalah nilai-nilai pancasila yang sudah timbul saat masa prasejarah:
1. Nilai Religi
Adanya kerangka mayat pada Paleolitikum menggambarkan adanya penguburan, terutama
Wajakensis dan mungkin Pithecanthropus Erectus, serta dalam menghadapi tantangan alam
tenaga gaib sangat tampak. Selain itu ditemukan alat-alat baik dari batu maupun perunggu
yang digunakan untuk aktifitas religi seprti upacara mendatangkan hujan, dll.
Adanya keyakinan terhadap pemujaan roh leluhur juga dan penempatan menhir di tempat-
tempat yang tinggi yang dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat yang penuh keajaiban
dan slelebagai batas antara dunia manusia dan roh leluhur.
2. Nilai Peri Kemanusiaan
Penghargaan terhadap hakekat kemanusiaan yang ditandai dengan penghargaan yang tinggi
terhadap manusia meskipun sudah meninggal. Hal ini menggambarkan perilaku berbuat
baik terhaap sesama manusia, yang pada hakekatnya merupakan wujud kesadaran akan
nilai kemanusiaan.
Mereka tidak hidup terbatasdi wilayahnya, sudah mengenal sistem barter antara kelompok
pedalaman dengan pantai dan persebaran kapak. Selain itu mereka juga menjalin hubungan
dengan bangsa-bangsa lain.
3. Nilai Kesatuan
Adanya kesamaan bahasa Indonesia sebagai rumpun bahasa Austronesia, sehingga muncul
kesamaan dalam kosa kata dan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan teori perbandingan
bahasa menurut H.Kern dan benda- benda kebudayaan Pra Sejarah Von Heine Gildern.
Kecakapan berlayar karena menguasai pengetahuan tentang laut, musim, perahu, dan
astronomi, menyebabkan adanya kesamaan karakteristik kebudayaan Indonesia. Oleh
karena itu tidak mengherankan jika lautan juga merupakan tempat tinggal selain daratan.
Itulah sebabnya mereka menyebut negerinya dengan istilah Tanah Air.
4. Nilai Musyawarah
Kehidupan bercocok tanam dilakukan secara bersama-sama. Mereka sudah memiliki aturan
untuk kepentingan bercocok tanam, sehingga memungkinkan tumbuh kembangnya adat
sosial.
Kehidupan mereka berkelompok dalam desa-desa, klan, marga atau suku yang dipimpin
oleh seorang kepala suku yang dipilih secara musyawarah berdasarkan Primus Inter Pares
(yang pertama diantara yang sama).
5. Nilai Keadilan Sosial
Dikenalnya pola kehidupan bercocok tanam secara gotong-royong berarti masyarakat pada
saat itu telah berhasil meninggalkan pola hidup foodgathering menuju ke pola hidup
foodproducing. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu upaya kearah perwujudan
kesejahteraan dan kemakmuran bersama sudah ada.
3. a. Nilai – Nilai Pancasila Pada Masa Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke VII, di bawah kekuasaan Wangsa Sailendra
dikenal sebagai Kerajaan Maritim yang mengadakan jalur perhubungan laut. Sistem
perdagangan telah diatur dengan baik, supaya rakyat mengalami kemudahan dalam
pemasarannya. Selain itu juga sudah ada badan yang bertugas mengurus pajak, harta benda
kerajaan, kerohaniawan yang menjadi pengawas teknis pembangunan dan patung-patung suci
sehingga kerajaan dapat menjalakan sistem negaranya dengan nilai-nilai ketuhanan.
Cita – cita kesejahteraan bersama dalam suatu Negara telah tercermin dalam Kerajaan
Sriwijaya sebagaimana tersebut dalam perkataan “Marvuai Vannua Criwijaya Siddhayatra
Subhika” (suatu cita – cita negara yang adil dan makmur).
Pada hakekatnya nilai – nilai budaya Kerajaan Sriwijaya telah menunjukan nilai – nilai
Pancasila, yaitu sebagai berikut :
1) Nilai sila pertama, terwujud dengan adanya agama Budha dan Hindu yang hidup
berdampingan secara damai. Pada Kerajaan Sriwijaya terdapat pusat kegiatan pembinaan
dan pengembangan agama Buddha.
2) Nilai sila kedua, terjalinnya hubungan antara Sriwijaya dengan India (Dinasti Marsha).
Pengiriman para pemuda untuk belajar ke India menunjukan telah tumbuh nilai-nilai politik
luar negeri yang bebas aktif.
3) Nilai sila ketiga, sebagai Negara Maritim, Kerajaan Sriwijaya telah menerapkan konsep
Negara kepulauan sesuai dengan konsep wawasan nusantara.
4) Nilai sila keempat, Kerajaan Sriwijaya telah memiliki kedaulatan yang luas meliputi Siam
dan Semenanjung Melayu.
5) Nilai sila kelima, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pelayanan dan perdagangan sehingga
kehidupan rakyatnya sangat makmur.

b. Nilai – nilai Pancasila Pada Masa Kerajaan Majapahit


Sebelum Kerajaan Majapahit berdiri telah berdiri kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur
secara silih berganti yaitu, Kerajaan Kalingga(abad ke-VII), Sanjaya(abad ke – VIII), sebagai
refleksi puncak budaya kerajaan tersebut dibangunnya Candi Borobudur dan Candi
Prambanan.
Agama yang dilaksanakan pada zaman Kerajaan Majapahit ini adalah Agama Hindu dan
Budha yang saling hidup berdampingan secara damai. Pada masa ini mulai dikenal beberapa
istilah dan nilai-nilai Pancasila pada Kerajaan Majapahit, yaitu sebagai berikut :
1) Nilai sila pertama, terbukti pada waktu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan
secara damai. Istilah Pancasila terdapat dalam bukuNegarakertagama karangan Empu
Prapanca dan Empu Tantular mengarang buku Sutasoma yang terdapat Sloka persatuan
nasional yang berbunyi ”Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua” yang artinya,
walaupun berbeda –beda namun tetap satu jua dan tidak ada agama yang memiliki tujuan
berbeda.
2) Nilai sila kedua, terwujud pada hubungan baik Raja Hayam Wuruk dengan Kerajaan
Tiongkok, Ayoda, Champa, dan Kamboja. Disamping itu juga menjalin persahabatan
dengan Negara – negara tetangga.
3) Nilai sila ketiga, terwujud dengan keutuhan kerajaan. Khususnya dalam Sumpah Palapa
yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri pada
tahun 1331.
4) Nilai sila keempat, terdapat semacam penasehat dalam tata pemerintahan Majapahit yang
menunjukan nilai – nilai musyawarah mufakat. Menurut Prasasti Kerajaan Brambang
(1329), dalam tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat
kerajaan. Seperti, Rakryan I Hino, I Sirikan dan I Halu yng berarti memberikan nasehat
kepada Raja. Kerukunan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat telah
menumbuhkan adat bermusyawarah untuk mufakat dalam memutuskan masalah bersama.
5) Nilai sila kelima, terwujud dengan berdirinya kerajaan selama beberapa abad yang
ditopang dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

4. Nilai Patriotisme Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan


Patriotisme bangsa Indonesia merupakan perwujudan dari rasa cinta tanah air dalam bentuk
kesadaran nasional untuk hidup bersama, yang dilandasi oleh pendirian rohani, perasaan setia
kawan dalam upaya membentuk suatu bangsa.
Manifestasi dari patriotisme bangsa Indonesia adalah:
a. Hak menentukan nasib sendiri sebagai suatu negara merdeka, berdaulat ke dalam dan
ke luar.
b. Dijiwai oleh suatu ideologi nasional, yaitu semangat nasionalisme Indonesia.
c. Mewujudkan aspirasi nasional baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan
agama.
Semangat patriotisme bangsa Indonesia untuk melawan penjajah diawali akibat dari
dampak penjajahan yaitu kedaulatan bangsa Indonesia hilang, persatuan dihancurkan, dan
kemakmuran lenyap.
1) Patriotime Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Belanda
(a) Patriotisme bangsa Indonesia sebelum abad ke XX
Patriotisme bangsa Indonesia terlihat pada bentuk perlawanan diberbagai wilayah
Indonesia. Perlawanan ini dilakukan dalam rangka usaha bangsa Indonseia untuk
mempertahankan wilayahnya dan ekspansi kekuasaan Barat dan membela nilai-nilai
kemanusiaan serta keadilan dari tindakan semena-mena penjajah mengalami
kegagalan.
(b) Patriotisme bangsa Indonesia abad ke XX
Pada awal abad ke XX semangat patriotism bangsa Indonesia tumbuh kembang
menjadi suatu gerakan yang bersifat nasional. Gerakan ini dimotori oleh kaum
intelektual. Sejak awal abad ke XX perjuangan patriotisme bangsa Indonesia selalu
diwujudkan dalam bentuk menempa dengan sekuat tenaga makna persatuan melalui
sistem organisasi modern.
2) Patriotisme Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Jepang
Pemerintahan Jepang di Indonesia diawali pada saat terjadinya penyerahan tanpa syarat
Pemerintah Hindia Belanda kepada Pemerintah Militer Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.
Tujuan Jepang datang di Indonesia bukan untuk memerdekakan bangsa Indonesia, tetapi
untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber material dan sumber tenaga dalam rangka
perang Asia Timur Raya. Tindakan Jepang ini menimbulkan akibat negatif bagi Indonesia.
Sikap manis Jepang dengan mengaku sebagai “Saudara Tua” berubah menjadi kekejaman
dan ekploitasi.
Situasi ini mendorong semangat patriotisme bangsa Indonesia memuncak dan berusaha
untuk mengusir Jepang dari bumi Indonesia. Upaya mengusir penjajah Jepang dari bumi
Indonesia dilakukan dengan berbagai strategi, yaitu:
(a) Gerakan Legal, didirikan badan-badan resmi dalam rangka politik propaganda, namun
badan-badan ini menjadi pusat gerakan dan penyebaran ide-ide nasional bagi tokoh
pergerakan nasional Indonesia.
(b) Gerakan Ilegal, gerakan ini dilakukan oleh para tokoh nasional yang berada di luar
badan-badan resmi buatan Jepang atau gerakan bawah tanah yang terorganisir. Gerakan
Ilegal dibagi menjadi dua kelompok yaitu golongan-golongan revolusioner dan
pemberontakan-pemberontakan.

5. Proses perumusan Pancasila dan UUD 1945


Menjelang tahun 1945 Jepang mengalami kekalahan di Asia Timur Raya, banyak cara yang
digunakan jepang untuk menarik simpati khususnya kepada bangsa Indonesia, salah satunya
adalah janji Jepang untuk memberi kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang diucapkan oleh
Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944.
Sebagai kelajutan dari janji tersebut, maka pada tanggal 29 April 1945, Jepang membentuk
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI atau Dokuritsu
Zyunbi Tyoosakai), yang bertugas untuk menyelidiki segala sesuatu mengenai persiapa n
kemerdekaan Indonesia. BPUPKI diketuai oleh DR. Rajiman Widiodiningrat, wakil ketua R.
Panji Suroso dan Tuan Hachibangase dari Jepang dan beranggotakan 60 orang. Selama masa
tugasnya BPUPKI melakukan dua kali sidang.
1. Sidang BPUPKI I (29 Mei–1 Juni 1945)
Setelah terbentuk BPUPKI segera mengadakan persidangan. Masa persidangan pertama
BPUPKI dimulai pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan 1 Juni 1945. Pada masa
persidangan ini, BPUPKI membahas rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Pada
persidangan dikemukakan berbagai pendapat tentang dasar negara yang akan dipakai
Indonesia merdeka. Pendapat tersebut disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr.
Soepomo, dan Ir. Soekarno.
 Mr. Mohammad Yamin
Pada sidang tanggal 29 Mei 1945 Mr. M. Yamin, sebagai Ketua Panitia Konsep UUD
mengusulkan secara lisan Dasar Nagara Indonesia, yaitu:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Peri Kesejahteraan Rakyat
Kemudian secara tertulis, tercantum dalam Rancangan Pembukaan UUD Negara RI,
sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia
Dari hasil yang dikemukakan oleh Mr. M. Yamin ini, jelas bahwa beliau adalah
penggali Pancasila yang lebih khusus, yakni Pancasila sebagai Dasar Negara.
 Prof. Dr. Soepomo ( 31 Mei 1945)
Beliau mengemukakan teori-teori Negara sebagai berikut :
1. Teori Negara perseorangan (individualis) yaitu paham yang menyatakan bahwa
Negara adalah masyarakat hukum yang disusun, atas kontrak antara seluruh
individu (paham yang banyak terdapat di eropa dan amerika).
2. Paham Negara kelas (class theory) teori yang diajarkan oleh Marx, Engels dan lenn
yang mengatakan bahwa Negara adalah alat dari suatu golongan (suatu klasse)
untuk menindas klasse lain.
3. Paham Negara integralistik, yang diajarkan oleh Spinoza, Adam Muler, Hegel.
Menurut paham ini Negara buknla unuk mejamin perseorangan atau golongan akan
tetapi menjamin kepentingan masyrakat seluruhnya sebagi suatu persatuan.
 Ir. Soekarno
Ir. Soekarno mengusulkan Dasar Negara itu adalah Pancasila. Usul ini dikemukakan
beliau dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia) tanggal 1 Juni 1945, yakni:
1. Nasionalisme
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. KeTuhanan yang berkebudayaan
Pidato ini ketika diterbitkan pada tahun 1947 diberi judul: Lahirnya Panca Sila.
Karena Ir. Soekarno juga mengemukakan butir-butir yang kemudian dikenal dengan
Pancasila tersebut, maka beliau juga adalah penggali Pancasila.
2. Piagam Jakarta (22 juni 1945)
Pada tanggal 22 juni 1945 sembilan tokoh yang terdiri dari : Ir. Soekarno, Wachid
Hasyim, Mr Muh. Yamin, Mr Maramis, Drs. Moh. Hatta, Mr. Soebardjo, Kyai Abdul Kahar
Moezakir, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Haji Agus Salim yang juga tokoh Dokuriti
Zyunbi Tioosakay mengadakan pertemuan untuk membahs pidto serta usul-usul mengenai
dasar Negara yang telah dikemukakan dalam sidang Badan Penyelidik. Sembilan tokoh
tersebut dikenal dengan “Panitia Sembilan” setelah mengadakan sidang berhasil menyusun
sebuah naskah piagam yag dikenal denga “Piagam Jakarta”.
Adapun rumusan pancasila yang termuat dalam Piagam Jakarta antara lain :
 Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya
 Kemanusiaan yang adil dan beradab
 Persatuan Indonesia
 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
3. Sidang BPUPKI ke-2 (10-16 juli1945)
Ada tambahan 6 anggota pada siding BPUPKI kedua ini. Selain itu Ir Soekarno juga
melaporkan hasil pertemuan panitia Sembilan yang telah mencapai suatu hasil yang baik
yaitu suatu modus atau persetujuan antara golongan Islam dengan golongan kebangsaan.
Peretujuan tersebut tertuang dalam suatu rancangan Pembukaan hukum dasar, rancangan
preambul Hukum dasar yang dipermaklumkan oleh panitia kecil Badan Penyelidik dalam
rapat BPUPKI kedua tanggal 10 juli 1945. Panitia kecil badan penyelidik menyetujui
sebulat-bulatnya rancangan preambule yang disusun oleh panitia Sembilan tersebut.
Keputusan-kepuusan lain yaitu membentuk panitia perancangan Undang-Undang
Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno, membentuk panitia ekonomi dan keuangan yang
diketuai oleh Drs. Moh. Hatta, dan juga membentuk panitia pembelaan tanah air diketuai
oleh Abikusno Tjokrosoejoso. Dan pada tanggal 14 Juli Badan Penyelidik bersidang lagi
dan Panitia Perancanga Undang-Undang dasar yang diusulkan terdiri atas 3 bagian, yaitu:
o Pernyataan Indonesia merdeka, yang berupa dakwaan di muka dunia atas penjajahan
Belanda
o Pembukaan yang didalamnya terkandung dasar Negara Pancasila
o Pasal-pasal UUD (Pringgodigdo, 1979: 169-170)
4. Sidang PPKI pertama (18 Agustus 1945)
Sebelum sidang resmi dimulai dilakukan pertemuan untuk membahas beberapa
perubahan yang berkaitan dengan rancangan naskah pembukan UUD 1945 yang pada saat
itu disebut piagam Jakarta, terutama yang menyangkut sila pertama pancasila. Dan sidang
yang dihadiri 27 orang ini menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut:
 Mengesahkan UUD 1945 yang meliputi :
a. Setelah melakukan beberapa perubahan pada piagam Jakarta sehingga dihasilkan
pembukaan Undang-undang Dasar 1945
b. Menetapkan rancangan Hukum Dasar yang telah diterima dari Badan Penyelidik
pada tanggal 17 Juli 1945, setelah mengalami beberapa perubahan karena berkaitan
dengan perubahan piagam Jakarta, kemudian menjadi Undang-Undang Dasar 1945
 Memilih Presiden (Ir. Soekarno) dan wakil presiden (Drs. Moh. Hatta)
 Menetapkan berdirinya Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai musyawarah darurat.

6. Masalah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945


a. Proses Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pada saat kekalahan Jepang kegiatan kaum pergerakan nasional terbagi dalam dua
kelompok, yaitu golongan tua yang dimotori oleh Soekarno, Muh. Hatta, Radjiman
Widyodiningrat dan A. Subardjo, yang berkecimpung dalam pergerakan nasional selama 20
tahun, dan golongan muda yang dimotori oleh Chariul Saleh, Sukarni, Adam Malik, Subianto,
Margono, Wibisono, Darwis, Djohar Nur dan masih banyak pemuda-mahasiswa lain, yang
baru terjun dalam pergerakan pada masa pendudukan Jepang.
Kedua golongan itu sepakat tidak lama lagi Indonesia merdeka, hanya beda dalam cara
merdekakannya. Golongan tua mempunyai pendapat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia perlu
melibatkan eksponen yang telah ada yang berusaha menajuhkan dari konflik dan pertumpahan
darah. Sedangkan golongan muda berpendapat kemerdekaan Indonesia segera
diproklamasikan tidak menunggu waktu dan menjauhkan dari iktu campurnya badan yang telah
dibentuk Jepang (PPKI)
Situasi ini mendorong golongan muda mengambil keputusan mengadakan pertemuan untuk
membulatkan tekad tentang proklamasi kemerdekaan. Rapat diadakan pada tanggal 15 Agustus
1945 dihadiri oleh Chariul Saleh, Suyoto, Darwis, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto,
Margono, Eri Sadewa, Wikono dan Armansyah. Segala ikatan dan hubungan dengan janji
kemerdekaan dari Jepang harus dputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannnya
perundingan dengan Soekarno dan Muh. Hatta, agar mereka turut menyatkaan proklamasi.
Mereka akhirnya menunjuk Wikono dan Darwis untuk menemui Soekarno di Pegangsaan
Timur 56.
Pukul 23.30 utusan tersebut meninggalkan rumah Sukarno dengan penuh kekecewaaan.
Walaupun demikian ada keingan yang kuat dalam hati mereka, mengenai kesanggupan para
pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Setelah kedua utusan itu berada kembali di tempat teman-temannya, mereka secara
bersama-sama tanggal 16 Agustus 1945 pukul 4.30 membawa Soekarno dan Muh. Hatta yang
juga diikuti oleh Fatmawati dan Guntur, Sukarni dan J. Kunto. Rombongan itu menuju
Rengasdengklok ke sebuah tempat yang aman dari pengawasan tentara Jepang. Alasan kedua
tokoh itu dibawa ke luar Jakarta untuk menjauhkan dari pengaruh Jepang dan agar bersedia
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Soekarno menyetujui proklamasi tanpa campur tangan Jepang dan peristiwa penting itu
harus di Jakarta. Jusuf Kunto membawa Achmad Subardjo bersama Sudiro menjemput
Soekarno dan Muh. Hatt adi Rengasdengklok untuk kembali ke Jakarta.
Rombongan Soekarno Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.00 setelah singgah di
rumahnya masing-masing. Akhirnya mereka ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam
Bonjol No, I. Di rumah ini mereka membuat naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Teks
ditulis oleh Soekarno sendiri dari selembar kertas berwarna putih dan bergaris biru yang
disobek dari sebuah notes. Pada saat itu timbul permasalahan, siapa yang akan menandatangani
teks proklamasi.
Pada hari jumat pukul 10.00 teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno dengan didampaingi
oleh Moh. Hatta di halaman rumahnya Jalan Pegangsaan Timur 56. Kejadian itu disaksikan
oleh beberapa orang dan didahului dengan pidoato singkat oleh Soekarno, baru kemudian teks
proklamasi dibacakan.

PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang
mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45


Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta

b. Makna proklamasi Kemerdekaan Indonesia

1) Merupakan titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Ionesia yang telah lama
mengalami penindasan penajajh dan sekaligus merupakan pencetusan jiwa atau
semangat untuk mewujudkan cita-cita bangsa seperti yang tertuang dalam Pembukuan
UUD 1945 alinea ke IV.
2) Pernyataan kemerdekaan pada hakikatnya merupakan pembertiauan kepada bangsa
sendiri dan dunia internasional bahwa pada saat itu bangsa Indonesia telah merdeka
lepas dari penajajahan.
3) Proklamasi kmerdekaan bangsa Indonesia melahirkan Negara Proklamasi, yaitu Negara
Republik Indonesia.
4) Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia dilihat dari ilmu hukum, pada hakikatnya
merupakan keputusan atau pernyataan yang telah menghapus tata hukum colonial
diganti dengan atata hukum nasional.
5) Proklamasi Kemerdekaan jika ditinjau dari sudut politis-ideologis merupakan
pembentukan perumahan bangsa Indonesia yang baru bebas dari penajajahan, merdeka
dan berdaulat penuh, baik ke dalam maupun ke luar.
c. Proses Pengesahan Pancasila dan UUD 1945
Di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945 tersebut,
terkandung 4 alinea-alinea yang berintikan pernyataan kebulatan tekad Bangsa
Indonesia dalam menentukan perjuangan dan nasib Bangsa Indonesia pada masa selanjutnya,
dan berperan serta dalam perdamaian dunia yang menentang bentuk-bentuk pejajahan ataupun
kolonialisme di muka bumi ini.
Dan pada Alinea yang ke-4, dinyatakan pula rangkaian susunan Dasar Negara Indonesia,
yakni Pancasila, dengan susunan sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia