You are on page 1of 5

NAMA : ILMAN AZHARI

NIM : 1607111664
KELAS : T. KIMIA S1 A

6.2 Consider ethyl-tertiary-butyl-ether (ETBE) as an alternative gasoline


oxygenate to MTBE. Although the latter appears to have the best combination of
properties such as oxygen content, octane number, energy content, and cost, the
former can be manufactured using ethanol according to:

Because ethanol can be manufactured from biomass, it is potentially more


acceptable to the environment.

(a) Rework Example 6.1 for this process.

(b) Is reactive distillation promising for combining the reaction and separation
operations? If so, suggest a distribution of chemicals using a reactive distillation
operation

Jawab:

(a) Rework Example 6.1 for this process

 ETBE (Etil Tersier Butil Eter) merupakan salah satu dari eter komersial
yang digunakan sebagai zat aditif untuk meningkatkan kualitas bensin
melalui peningkatan bilangan oktan dan kandungan oksigennya. ETBE
diproduksi dari mereaksikan antara etanol dan isobutana.
 Karena ethanol dapat diproduksi dari biomass maka akan lebih
menguntunglkan jika kita membuat pabrik yang dapat memperoduksi
bioetanol dari biomassa:

Biomassa Hidrolisis Fermentasi

Bioetanol
C2H5OH

Iso butana
ETBE
Etherifikasi ETBE
ETBE
C2H5OH
Iso-butana ETBE

Dengan molar ratio (MR) 1 didapatkan konversi isobutana menjadi ETBE 88%
dengan temperature operasi 62 oC.

Perhitungan economic potensial


C2H5OH + iso-butene >>ETBE
lbmol 1 1 1
Molecular weight 46 56 102
lb 46 56 102
lb/lb of ETBE 0,450 0,549 1
cents/lb 0 31,46 36,29

EP : 36,29(1) – 31,46(0,549) – 0(0,450) = 19,018 cent/lb ETBE

Karena nilai economic potensial bernilai positif maka produksi ETBE layak
dilakukan.

(b) Is reactive distillation promising for combining the reaction and


separation operations? If so, suggest a distribution of chemicals using a
reactive distillation operation?
Proses destilasi dengan kombinasi operasi reaksi dan pemisahan. Flow sheet dari
operasi ini ditampilkah seperti dibawah

Etanol

water
destilate

Iso-butana

ETBE

6.5 For the reaction system:

select an operating temperature that favors the production of C. The pre-


exponential factor and activation energy for the reactions are tabulated as follows:

Reaksi ko ( m6/kmol2.s) E ( kJ/ kmol)


1 3.7 × 106 65,800
2 3.6 × 106 74,100
3 5.7 × 106 74,500
4 1.1 × 106 74,400

k = Ae –Ea/RT

ln k = ln Ae –Ea/RT
𝐸𝑎
= ln A -
𝑅𝑇

Sehingga,
𝐸𝑎 1
ln k =− + ln 𝐴
𝑅 𝑇

ket :

k = konstanta laju reaksi


A = faktor pre-exponensial
Ea = energi aktivasi
R = konstanta gas ideal
T = suhu
Rx k0 E R E/R
1 3700000 65800 8,314472 7913,912
2 3600000 74100 8,314472 8912,171
3 5700000 74500 8,314472 8960,28
4 11000000 74400 8,314472 8948,253

Dari rumus tersebut


T 1/T ln K1 ln K2 ln K3 ln K4
10 0,1 -776,267 -876,121 -880,472 -878,612
100 0,01 -64,0153 -74,0253 -74,0468 -73,2691
300 0,003333 -11,2559 -14,6108 -14,3116 -13,6141
500 0,002 -0,70398 -2,7279 -2,36458 -1,6831
800 0,00125 5,231453 3,95623 4,355626 5,028089
1200 0,000833 8,528917 7,669635 8,089076 8,756528
3000 0,000333 12,48587 12,12572 12,56922 13,23065

Suhu operasi yang direkomendasi nilai ln k 1> ln k 2, ln k3, ln k4


Suhu operasi yang tidak direkomendasi karena ln k 1 lebih kecil

Nilai operasi yang direkomendasikan harus mengarah kepada produk yang


diinginkan yaitu harus ke C artinya nilai ln k1 harus lebih besar dari ln k2, ln k3
dan ln k4. Untuk kasus reaksi ini diperhatikan pengaruh suhu terhadap konstanta
kecepatan reaksinya. Dapa dilihat pada tabel perhitungan suhu paling optimal
digunakan adalah pada suhu 800 oC, karena jika diatas suhu tersebut nilai lnk 1
lebih rendah dari ln k4 sehingga reaksi akan cenderung membentuk produk E
(undesired).

100
0
-100 0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
-200
-300 ln k1
-400
lnk -500 ln k2
-600 ln k3
-700 ln k4
-800
-900
-1000
1/T