You are on page 1of 7

A Season

Musim semi tiba, di daerah pedesaan kebanyakan siswa berjalan kaki menuju ke sekolahnya, dan
sisanya memilih untuk naik sepeda. Jeno tengah merekam bunga bunga yang berguguran dengan
handycam nya. Ia tidak berjalan sendirian, dua orang temannya tengah sibuk memikirkan
rencana untuk musim semi ini, terutama tentang masalah cinta. Jeno hanya bisa tersenyum kecil
saat mendengar kedua temannya tersebut sambil terus merekam. Seorang gadis dengan seragam
serupa tengah menaiki sepeda. Dia tersenyum sambil menghirup udara segar di musim semi.
Tapi senyumannya berubah menjadi teriakan tatkala sadar bahwa rem sepedanya tak berfungsi.
Sepedanya terus melaju membelah jalanan yang menurun. Siswa siswa lain cepat cepat menepi
menghindari sepeda itu.

Mendengar teriakan tak asing, Jeno menoleh dan melihat gadis itu. Roda sepeda gadis itu
menabrak gundukan batu dan membuat gadis itu terlempar hingga melayang ke udara. Jeno
langsung melempar handycamnya dan langsung berlari untuk menangkap gadis tersebut. Mereka
bertatapan sebentar lalu buru buru untuk duduk. Jeno menuntut ucapan terima kasih dari gadis
itu. Gadis itu salah tingkah. Jeno tersenyum “Sudah lama ngga berjumpa Irene.” Gadis yang
dipanggil Irene itu tersenyum pelan.

Terdapat dua orang bayi yang sedang berhadapan, laki laki dan perempuan. Bayi itu adalah Jeno
dan Irene. Mereka terlihat bahagia.

Di musim semi ke enam saat umur mereka masih 5 tahun, mereka merayakan ulang tahun
bersama. Jeno kecil mengajari Irene kecil naik sepeda roda tiga. Di musim semi ke delapan,
mereka bermain kereta mainan dengan jalur yang dipasang dari jendela rumah Jeno ke jendela
rumah Irene, karena rumah mereka yang bersampingan. Dan mereka juga membuat telepon jadul
dari dua kaleng bekas yang dihubungkan seutas tali panjang dengan dihiasi bel logam didalam
kaleng bekas itu, jadi saat menggerakannya bel tersebut akan bunyi. Jeno kecil dan Irene kecil
berkomunikasi melalui itu. Sampai di musim panas saat umur mereka menginjak 14 tahun,
mereka masih berhubungan lewat jendela kamar mereka. Di suatu malam, Irene tidak sengaja
melihat Jeno yang sedang bertelanjang dada karena habis mandi. Irene kaget, dan refleks
melempar Jeno dengan bonekanya, lalu menutup jendela kamarnya dengan dengan kesal. Jeno
hanya bengong melihat tingkah Irene tersebut.

Dan saat Irene membuka jendela kamarnya di malam lain, Ia menatap kesal Jeno yang sedang
melakukan sesuatu pada tali telepon mainan mereka. Tanpa berkata apapun, Jeno menghentikan
kegiatannya dan menutup jendelanya dengan kesal. Dan mereka pun bermusuhan.

Saat Jeno keluar dan menuntun sepedanya keluar rumah, tak lama Irene juga keluar dari
rumahnya dan melihat tangan Jeno yang dibalut perban akibat ia menolongnya pada saat ia
terjatuh dari sepedanya. “Sekarang aku tidak bisa berangkat mengendarai sepedaku, aku hanya
punya satu itu” Muka Jeno menggambarkan masih bingung dengan apa yang dimaksud Irene,
jadilah ia terdiam sambil melihat Irene. “Emm, Aku hanya memberitahu mu saja. Terima kasih
buat kemarin.” akhirnya Jeno tahu apa yang dimaksud Irene, Ia menawarkan boncengan kepada
Irene “Naiklah”. Melihat tangan Jeno yang diperban, Irene berinisiatif agar dia yang
membonceng Jeno. Jadilah Irene memboncengnya.
Sepanjang jalan, Jeno kebingungan berpegangan Irene dimananya. Irene senyum senyum melihat
ekspresi Jeno yang kebingungan dari spion. Melihat hal itu, iseng Irene mengerem mendadak.
Tubuh Jeno langsung terdorong ke depan. Dengan menahan tawa Irene meminta maaf dan
beralasan kalau dia tidak sengaja mengerem. “Pegangan yang erat” Irene berkata sambil
tersenyum. Akhirnya Jeno memutuskan untuk memeluk tas Irene kuat kuat. Di hari berikutnya,
Pagi pagi Irene mengetuk jendela Jeno dan menanyakan buku catatannya. Jeno membuka jendela
dengan mata yang masih mengantuk dan langsung melempar buku yang Irene minta.

Irene keluar rumah, dan sudah ada Jeno yang menunggunya di luar dengan sepedanya. Irene
melihat sepeda Jeno, lalu ia protes karena sepedanya sudah tidak layak pakai dan menyarankan
agar Jeno membawanya ke bengkel sepeda. Jeno langsung melilitkan syal tebal ke leher Irene
sekaligus menutupi mulut Irene agar berhenti mengoceh. Jeno bersikukuh bahwa sepedanya baik
baik saja. Setelah beberapa debat tersebut, mereka akhirnya berangkat. Jeno yang membonceng
dan Irene yang duduk dibelakang sambil masih menggerutu pelan.

Di tengah jalan, Jeno merasa ada yang tidak beres dengan sepedanya. Ia berhenti dan memeriksa
sepedanya dan menyuruh Irene turun sebentar. Ternyata rantai sepeda itu lepas dan Jeno tidak
bisa memperbaikinya. Melihat hal itu, Irene kesal dan ingin menendang Jeno dengan kakinya.
Jeno menghindar dan mencoba beralasan sambil menyandarkan sepedanya di jembatan. Lalu
Jeno mengencangkan tali sepatu Irene. Irene tak mengerti apa yang Jeno lakukan. “Irene, lari.”
Irene yang mendengar hal itu langsung ingin menendang Jeno lagi, tetapi sebelum hal itu terjadi,
Jeno berlari terlebih dahulu dan berteriak menyuruh Irene berlari sambil tertawa. Irene berteriak
kesal sambil mengejar Jeno.

Karena kejadian sepeda tadi, mereka berdua datang ke sekolah terlambat. Jeno langsung
menggandeng tangan Irene menuju tembok belakang sekolah mereka. Tembok tersebut tidak
terlalu tinggi. Lalu Irene menaiki tembok itu. Jeno mengikhlaskan kepalanya diinjak injak Irene
dan menyuruh Irene gerak cepat. Saat Irene sudah sampai di atas tembok, ia terkejut saat melihat
seorang pemuda dengan sebatang rokok yang belum menyala di bibirnya. Jeno menaiki tembok
lalu muncul, tapi secara tak sengaja mendorong Irene. Irene terpeleset dan terjatuh ke tanah
sebelum sempat ditolong oleh kedua pemuda tersebut. Jeno cepat cepat turun dan menolong
irene saat pemuda itu mendekati irene. Pemuda itu tahu diri dan memilih mundur. Jeno beralih
ke pemuda itu, dan melihat rokok yang ada ditanah. Jeno menatap curiga pada pemuda itu dan
bertanya siapa dia.

Kelas dimulai, ternyata pemuda tersebut satu kelas dengan Jeno dan Irene. Dia memperkenalkan
dirinya sebagai Mark. Ibu guru berkata pada Mark bahwa ia bisa meminta bantuan selama ada
disini pada Irene karena ia adalah ketua kelasnya. Mark mengiyakan hal itu. Lalu ia berjalan
menuju tempat duduknya. Dia melewati bangku Irene dan tersenyum sopan padanya. Jeno yang
melihat itu berdecak kesal. Sewaktu istirahat, Irene menghampiri Jeno sambil mengulurkan
tangan dan meminta ikat rambutnya. Mark melihat hal itu. Jeno melepas ikat rambut itu dan
memberikannya pada Irene. Sambil mengikat rambut, Irene bertanya mengapa ia selalu
membawa ikat rambutnya. Alih alih menjawab, Jeno malah berkata kalau ia harus menjaga Irene
mulai sekarang. Irene yang mendengar hanya bisa memutar malas matanya. Lalu Irene
membantu mengikatkan tali sepatu Jeno. Sambil mengejek Jeno yang tidak bisa mengikat sepatu
dengan benar. Jeno mendesis kesal.
Sepulang sekolah pada sore hari, Jeno dan Irene pergi ke perpustakaan untuk belajar. Irene yang
belajar serius terganggu dengan Jeno yang dihadapannya sedang tertidur pulas. Irene menendang
kaki Jeno hingga ia terbangun kaget. “Pulang saja kalau hanya tidur disini”. Jeno mengiyakan
tetapi dia mengalih fungsikan kamus sebagai bantal dan melanjutkan tidurnya.

Karena sudah malam, mereka berdua pulang dengan naik bus karena sepeda Jeno yang rusak.
Mereka berdua duduk depan belakang. Irene berkata harusnya Jeno langsung pulang saja,
daripada ke perpus tapi malah tidur. Jeno beralasan bahwa tidur di perpustakaan itu enak. Irene
tertawa “Ya ya, kamu hebat bisa belajar dalam keadaan tidur”. Semenit kemudian, Irene sudah
terlelap. Irene langsung menahan kepala Irene yang mau oleng ke samping. Dia menyandarkan
tasnya ke kaca bus dan mendorong kepala Irene agar bersandar di tasnya.

Dikamarnya, Jeno sedang menulis sesuatu. Di sana tertulis tugas target kinerja semester 1. Target
kinerja Jeno adalah melakukan ciuman pertamanya, bukan keinginannya untuk melakukan hal
itu, tetapi dua temannya lah yang memaksanya dan gurunya pun menyetujuinya. Jeno mengisi
tiap pertanyaan di catatan itu. Kapan? Sebelum liburan musim panas. Dimana? Di kamarku.
Bagaimana? Melakukannya dengan lembut. Dengan siapa?. Jeda beberapa saat untuk pertanyaan
terakhir. Dan ketika Jeno ingin menulis siapa orangnya, tiba tiba Irene muncul dari pintu. Jeno
kaget dan langsung menyembunyikan catatannya. Jeno memprotes, harusnya dia mengetuk pintu
terlebih dulu sebelum masuk. Irene tertawa melihat sikap Jeno yang tak biasa, lagipula itu bukan
pertama kali Irene datang ke sana. Irene mendekati Jeno sambil memasang wajah jahil. Lalu
bertanya apa yang ia lakukan. Irene tertawa dan mengalah untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Irene lalu mengeluarkan sesuatu dari balik sweaternya. Mie gelas. Irene meminta tolong pada
Jeno untuk memasakkan mie tersebut. Jeno merampas mie gelas tersebut dengan wajah kesal.
Sebelum Jeno keluar dari kamar, Irene meminta Jeno untuk membawakannya minuman soda
juga. Jeno memutar malas matanya tak menjawab dan membanting pintu.

Jeno melihat Irene yang sedang menyantap mie nya sambil menonton sebuah film. Tiba tiba
Irene berhenti makan, lalu memasukkan kepalanya di rak buku dan menghadap Jeno. Refleks,
Jeno pun deg-degan. Dengan memasang muka malas, Irene meminta semangkuk kecil nasi. Jeno
menghela napas malas. Tapi Jeno tetap mengambilkan nasi untuk Irene.

Sehabis Irene makan, mereka menonton film barat. Di akhir film, kedua pemeran utama
berciuman. Jeno salah tingkah. Tetapi Irene mengatakan bahwa ia tidak suka kalau endingnya
berciuman. Jeno menegakkan badan dan berpendapat kalau ending ciuman adalah ending yang
pas. Irene mengatakan akan lebih pas jika endingnya berpelukan, karena itu akan terasa hangat
dan pembicaraan mereka akan membekas di ingatan. Jeno terdiam dan menatap Irene seolah olah
ia kecewa oleh jawaban Irene. Kemudian Jeno menyuruh Irene pulang karena dia ingin tidur.

Keeseokan harinya, Irene tidak bersemangat saat disekolah. Jeno menghampirinya sambil
membawa snack dan susu kotak untuk Irene. Ia mengomel karene Irene diam saja seperti orang
bodoh. “Nih aku beliin makanan, soalnya aku tau kamu lapar”. Irene berkata dia tidak minta
dibelikan apa-apa. “Udah makan aja.” kata Jeno. Alih-alih memakan snacknya, Irene malah
melihat susu coklat yang diminum Jeno. Jeno mengerti ekspresi Irene, lalu memberikan susu
kotaknya pada Irene dan Jeno mengambil susu kotak yang seharusnya Irene minum.

Tiba-tiba, Mark datang mendekati Irene untuk meminta bantuan. Mark memanggil Irene dan
Irene langsung mengangguk dan segera berdiri, tetapi Jeno langsung menahannya agar duduk
kembali. Jeno berdiri dan meminta Mark untuk mengikutinya karena dia ingin berbicara sesuatu.
Mark berkata dia tdiak bisa karena dia butuh bantuan Irene. Jeno tersenyum sambil merangkul
Mark “Ikuti saja aku.” Lalu mereka keluar.

Menjelang petang, di sebuah lapangan basket, Jeno menemani Irene berlatih basket. Sambil
mengatur letak handycam nya, Jeno bertanya, apakah Irene dekat dengan Mark. Irene
menggeleng dan bertanya “Emang kenapa?” Jeno menjawab bukan apa-apa. Irene bertanya lagi
apakah Jeno terganggu dengan kehadiran Mark, Jeno salah tingkah, dia malah menyuruh Irene
untuk cepat berlatih.

Mereka pulang bersama. Irene menggerutu karena bola lemparannya tidak ada yang masuk ke
ring. Irene bertekad untuk berlatih lebih keras. Jeno bertanya, kenapa Irene suka basket, padahal
tidak bisa main. Ia menyuruh Irene tidak perlu memaksakan diri kalau memang tidak bisa. Irene
tertawa mendengar omongan Jeno. Jeno bertanya lagi, apakah besok Irene punya waktu luang.
Jeno berencana mengajak Irene jalan. Tapi Irene menolak karena dia akan bertemu teman.
“Siapa dan di mana?” tanya Jeno.”Karena kamu kepo, aku ngga akan cerita.” Jawab Irene
terkekeh. Jeno berdecak, lalu memukul kepala Irene dengan bola basket dan langsung kabur.

Keesokan harinya, Irene berada di taman, ia menunggu temannya disana. Tidak lama kemudian,
ia mendapat pesan bahwa temannya hari ini tidak bisa bertemu dengannya. Saat ingin pulang, ia
tidak sengaja bertemu dengan Mark dijalan. Mark lalu menyapanya dan mengajak untuk makan.
Karena Irene tidak ada kegiatan lain, ia mengiyakan ajakan Mark.

Sampailah dikedai makanan sushi, mereka berdua makan bersama. Mark tersenyum melihat cara
makan Irene dan ia terus menerus melihat Irene saat makan. Merasa dilihat, Irene bertanya “Apa
ada sesuatu diwajahku?” Irene masih bingung karena Mark tidak juga menjawabnya “Kamu
cantik.” Irene tersedak mendengarnya lalu Mark memberikan Irene minum.

Mark dan Irene duduk di bangku halte. Mereka mengobrol ringan. “Irene, tanggal ulang tahunmu
berapa? Aku 17 mei.” Irene menjawab tanggal lahirnya 24 januari. Mark bertanya lagi seberapa
jauh rumah Irene ke sekolah. Irene menjawab tidak terlalu jauh. Irene menatap Mark curiga,
“tapi kenapa kamu bertanya tentang rumahku?” “aku kepo, memangnya tidak boleh ya?” Irene
tertawa dan menyebut Mark itu lucu. Mark tertawa, lalu berkata “apa itu artinya kamu
menyukaiku?” Irene bengong. Mereka pun tertawa.
Tiba-tiba ponsel Irene bergetar, panggilan dari Jeno. Mark mengetahuinya, tetapi Irene menolak
panggilan dari Jeno. “Tidak apa-apa, jawab saja.” Celetuk Mark. “Tidak, ini tidak penting”. Di
sisi lain, Jeno merenung dan curiga karena tidak biasanya teleponnya ditolak oleh Irene.

Keesokannya, Irene melihat Jeno batuk-batuk. Irene menyentuh dahi jeno, lalu menyarankan
agar ia beristirahat di rumah dulu. Jeno menolak, dia bersikukuh kalau dia baik-baik saja. Tetapi
Irene tetap memaksa Jeno untuk pulang, akhirnya ia menurut dan pulang ke rumah.

Bel pulang berbunyi, Irene lekas pulang. Tetapi rantai sepeda Irene lepas, saat ia memperbaiki
rantai sepedanya, hujan turun tanpa permisi. Tiba-tiba ada seseorang yang memayunginya dari
belakang. Dia adalah Mark. Mark menyarankan agar sepedanya ditinggal saja dulu dan mengajak
Irene pulang bersama. Irene ragu, tetapi akhirnya menerima ajakan Mark.

Mark dan Irene terlibat obrolan seru sepanjang perjalanan. Tak terasa hujan mereda. Mark
mengantar Irene sampai depan rumahnya. Irene berterima kasih dan bersiap masuk. Tapi Mark
berkata “Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku ingin
melihatmu terus. Aku nyaman bersama denganmu. Aku tak tau apakah kamu merasakan hal
yang sama, tapi aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?” Irene terdiam mendengar
pengakuan Mark. Lalu Irene menoleh ke arah rumah Jeno.

Keesokannya, Irene tak sengaja berpapasan dengan Mark. Mereka bersikap seolah-olah tidak
terjadi apa-apa. Dan Mark tersenyum sopan pada Irene.

Jeno masih terlihat pucat, kedua sobatnya cuma bisa berharap agar Jeno tidak sakit lagi. Jeno
menonton teman-temannya bermain bola. Dia melihat Mark yang baru saja mencetak gol. Jeno
mendapati Irene yang ikut menonton. Seketika Jeno menahan kesal. Dia melempar tasnya dan
melepas seragamnya dengan paksa. Dia turun ke lapangan dan ikut bermain bola, setelah
menyuruh temannya untuk keluar sebagai gantinya. Tiap bola ada di Mark, Jeno langsung
menarik, mendorong dan merebut hingga Mark terjatuh. Sampai akhirnya Jeno terjedut tiang
gawang karena tidak fokus saat menggiring bola.

Jeno terbangun di UKS. Disana ada Irene yang menungguinya. Irene mengomel karena Jeno
nekat bermain bola saat sedang sakit. Jeno pura-pura tidur tak memperhatikan omongan Irene.
Irene tahu Jeno pura-pura tidur, lalu ia memukul mukul punggung Jeno karena merasa
terabaikan. Tiba-tiba Jeno duduk dan menatap Irene. Jeno berkata “Aku sedang berpikir, aku
bingung.” “Maksudmu?” Tanya Irene. Bel berbunyi “Datanglah pukul jam 8 malam nanti di
lapangan basket. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Jawab Jeno dengan ekspresi serius.

Jam 8 malam pun tiba, ketika Irene ingin menemui Jeno, ia melihat ayahnya berjalan dengan
wanita lain dengan mesra di depannya. Ayah Irene menyadari jika ada Irene yang melihatnya
sedari tadi. Ketika ayahnya ingin menjelaskan semuanya, Irene berlari menjauh dengan mata
yang berkaca-kaca.
Dilapangan basket, Jeno menunggu. Irene datang namun hanya menatap Jeno dari kejauhan
dengan mata yang membengkak. Irene mengingat ketika Mark mengungkapkan perasaannya
malam itu, ternyata Irene saat itu menolak Mark. Mark bertanya apakah karena Jeno. Irene hanya
terdiam. Kemudian Irene mengingat tadi bersama ayahnya yang sedang bersama wanita lain.
Irene menangis menatap punggung Jeno. Hingga akhirnya Irene memutuskan untuk tak menemui
Jeno dan mengirim pesan pada Jeno maaf tak bisa menemuinya.

Paginya Jeno dengan lesu menuntun sepedanya keluar dari rumah. Ternyata Irene telah berada
didepan rumahnya dengan membawa sepedanya sendiri. Irene mengatakan pada Jeno bahwa ia
sudah bisa berangkat sekolah sendiri karena sepedanya sudah diperbaiki. Jeno langsung
melempar sepedanya dan menghampiri Irene dengan mata yang menatap tajam. “Ada apa
denganmu?” Tanya Jeno. Irene menjawab kalau tak ada apa-apa. “Malam itu, kenapa kamu tak
datang?” Tanya Jeno menghentikan langkah Irene. “Aku tidak enak badan.” Jeno kecewa dengan
jawaban Irene.

Diperjalanan Jeno mengikuti Irene dibelakangnya. Jeno tak tahan bertanya kenapa Irene terus
diam. Irene menjawab seadanya kalau sudah tak ada lagi yang ingin dikatakan dan seharusnya
Jeno tak mengikutinya. “Kenapa seperti itu?” tegas Jeno. Irene berbalik menghadap Jeno “Kita
sudahi saja semuanya.” “Bocah sialan itu benar-benar suka padamu sekarang, dan kau pun juga
menyukainya kan” Irene tak menjawab kemudian berlalu menuntun sepedanya lagi.

Di lorong sekolah, Irene berjalan dibelakang Jeno. “Jeno” panggil Irene. Tanpa menatap Irene,
Jeno bertanya sejak kapan Irene jadi seperti ini. “Aku marah karena semua orang berbohong
padaku, aku tak bermaksud meluapkan amarahku padamu, aku tak tau harus bagaimana”. Jeno
menahan tangisnya karena sangat kecewa dengan Irene. Kemudian tanpa melihat Irene
dibelakangnya, Jeno memilih untuk meninggalkan Irene disana. Irene yang melihat hal itu tak
bisa membendung air matanya lagi.

Keesokan dan hari-hari berikutnya, Jeno menjaga jarak dengan Irene. Irene berharap bisa seperti
dulu lagi dengan Jeno. Terlihat Irene menunggu Jeno sebelum berangkat sekolah. Namun Jeno
sama sekali tak pernah muncul. Dikelaspun Jeno memilih untuk menyendiri dan memandang kea
rah luar jendela. Irene sedih melihat Jeno menjauhinya dan tak pernah melihatnya.

Malam hari saat sedang belajar, Irene terkaget mendengar lonceng di mainan teleponnya berbuyi,
yang berarti Jeno memanggilnya. Irene bergegas membuka jendelanya “Kenapa kau tak pernah
menghubungiku walaupun sekali” sapa Irene. Tanpa melihat Irene, Jeno melemparkan flashdislk
milik Irene. Ternyata Jeno hanya ingin mengembalikan flashdisk Irene. Saat Irene menunduk,
Jeno berani menatap Irene. Kemudian ia berkata “Dengarkan aku, karena kau ada disini
sebaiknya kita tak perlu berbicara lagi, jangan pernah mencoba menghubungiku, aku tak
membencimu, aku hanya memberi jarak diantara kita” ucap Jeno kemudian hendak menutup
jendelanya. “Seharusnya kau tak seperti itu” Irene menyela. “Seharusnya memang seperti ini.”
Lalu Jeno menutup jendelanya meninggalkan Irene.

Musim telah berganti. Dikamarnya Irene sedang bertelepon dengan temannya. Ia mengatakan
kalau tak akan pergi lama dan akan segera kembali. Sebelum pergi, Irene membuka jendela dan
menjatuhkan kaleng teleponnya. Irene sedih melihat benang teleponnya pernah putus dan
disambung lagi.

Ketika Irene sudah berada di stasiun kereta api, Irene berkaca kaca melihat Jeno tersenyum
berdiri didepan nya. Perlahan Irene melepaskan kopernya. Jeno melangkah maju mendekati
Irene. Saat berjalan, Jeno mengingat kejadian dulu ketika ada perselisihan, Jeno kecil
menyambung lagi benang telepon yang putus. Irene kecil melihatnya dan hendak mengatakan
sesuatu. Tapi Jeno segera menutup jendelanya. Lagi, saat Jeno dan Irene masih SMA. Jeno
sengaja menunggu Irene keluar rumah agar bisa berangkat bersama Irene dan membuatnya
seperti kebetulan untuk bisa berbaikan dengan Irene. Dan terakhir saat Irene dipayungi oleh
Mark, ternyata Jeno sebelumnya ingin menghubungi Irene namun ponsel nya mati. Dan itu
membuat Jeno kedahuluan Mark. Dan Jeno melihat saat Mark memayungi Irene. Lagi, saat Mark
menghampiri Irene menangis setelah melihat ayahnya bersama wanita lain dan mengirim pesan
bahwa Irene tidak bisa menemuinya, ternyata Jeno juga melihat keduanya dari kejauhan.

Jeno menghampiri Irene yang sudah berkaca kaca. “Lama tidak bertemu Irene.” “Lama tidak
bertemu? Kau menghilang lama sekali, bagaimana bisa kau ada di disini?” Tanya Irene. “Terima
kasih sudah datang kesini” sahut Jeno. “Aku datang bukan untuk mendengar mu bilang terima
kasih. Bagaimana kabarmu?” “Seperti yang kau lihat, bagaimana bisa aku tak baik-baik saja
setelah bertemu denganmu.” Jawab Jeno pelan. Irene tak bisa membendung air matanya lagi dan
Jeno mengusap air mata Irene. “Maafkan aku, selama ini aku tak bisa berhenti memikirkanmu,
sekali lagi aku ingin kita memulai segalanya dari awal” ucap Jeno.

Salju turun, Irene mengangguk tersenyum dalam tangisnya. Wajah Jeno berubah berkaca kaca
karena mendengar suara kereta api yang akan membawa Irene. Jeno memeluk dan mendekap
Irene. Jeno mengingat saat menonton film bersama Irene. “Akhir cerita kita tak seperti akhir
sebuah film.” Jeno meneteskan air mata begitu juga Irene.

Nama: Erlika Yusfiarista

Kelas: XI Adam Smith