You are on page 1of 18

Rhematik

Rematik adalah orang yang menderita rheumatism(Encok) , arthritis (radang sendi) ada 3
jenis arthritis yang paling sering diderita adalah osteoarthritis ,arthritis goud, dan rheumatoid
artirtis yang menyebabkan pembengkakan benjolan pada sendi atau radang pada sendi secara
serentak. (utomo.2005:60). Penyakit rematik meliputi cakupan luas dari penyakit yang
dikarakteristikkan oleh kecenderungan untuk mengefek tulang, sendi, dan jaringan lunak
(Soumya, 2011).

Penyakit rematik dapat digolongkan kepada 2 bagian, yang pertama diuraikan sebagai
penyakit jaringan ikat karena ia mengefek rangka pendukung (supporting framework) tubuh dan
organ-organ internalnya. Penyakit yang dapat digolongkan dalam golongan ini adalah
osteoartritis, gout, dan fibromialgia. Golongan yang kedua pula dikenali sebagai penyakit
autoimun karena ini terjadi apabila sistem imun yang biasanya memproteksi tubuh dari infeksi
dan penyakit, mulai merusakkan jaringan-jaringan tubuh yang sehat. Antara penyakit yang dapat
digolongkan dalam golongan ini adalah rheumatoid artritis,spondiloartritis, lupus eritematosus
sistemik dan skleroderma. (NIAMS, 2008)

Jenis-jenis Reumatik

Ditinjau dari lokasi patologis maka jenis rematik tersebut dapat dibedakan dalam dua
kelompok besar yaitu rematik artikular dan rematik Non artikular . Rematik artikular atau
arthritis (radang sendi) merupakan gangguan rematik yang berlokasi pada persendian .
diantarannya meliputi arthritis rheumatoid,osteoarthritis dan gout arthritis. Rematik non artikular
atau ekstra artikular yaitu gangguan rematik yang disebabkan oleh proses diluar persendian
diantaranya bursitis,fibrositis dan sciatica(hembing,2006 dalam Iwayan:9)

Rematik dapat dikelompokan dalam beberapa golongan yaitu :

1. Osteoartritis.

2. Artritis rematoid.

3. Olimialgia Reumatik.

4. Artritis Gout (Pirai).

1. Osteoartritis.

Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan
berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran
sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
2. Artritis Rematoid.

Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama
poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.

Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih
lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa
kelemahan umum cepat lelah.

3. Olimialgia Reumatik.

Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama
mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia
pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

4. Artritis Gout (Pirai).

Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut.
Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia
pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause.

ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO

Penyebab dari Reumatik hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor
resiko untuk timbulnya Reumatik antara lain adalah :

1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat.
Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur.
Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering
pada umur diatas 60 tahun.

2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena
osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi
osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis
lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
patogenesis osteoartritis.

3. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita
dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis
pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih
sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku.
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara
masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit
hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang
Amerika asli dari pada orang kulit putih.
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi
kelainan kongenital dan pertumbuhan.

5. Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya
osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukanternyata tak hanya berkaitan dengan
osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan
atau sternoklavikula).

Manifestasi Klinis Artritis Reumatoid (RA)


Gambaran klinis RA bervariasi bukan hanya per klien, namun dalam satu individu
tersebut selama perjalanan peyakit tersebut. Ledakan akut poliartikuler selama beberapa hari
dapat saja muncul. RA akan muncul bertahap selama beberapa minggu hingga bulan dan diikuti
dengan gejala sistemik , seperti anoreksia , penurunan berat badan, kelelahan, nyeri otot dan
kaku. Nyeri sendi dan pembengkakan berhubungan dengan kaku-kaku di pagi hari selama
beberapa jam. Keterlibaan sendi bisanya simetris dan poliartikuler, paling sering terjadi pada
jari, tangan, pergelangan tangan, lutut, dan kaki.

Sebagai penyakit sistemik, RA memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh. Gejala yang
paling sering muncul, antara lain nodulus reumatoid, sindrom Sjörgen, dan sindrom Felty.
Nodulus reumatoid, yaitu tipe granuloma yang muncul di sekitar pembuluh darah kecil dapat
muncul pada 50 % klien RA . Biasanya yang memiliki kadar RF tinggi. Biasanya akan muncul
benjolan padat, dapat digerakkan dan tidak terasa sakit, nodulus muncul pada permukaan sendi
ekstensor, seperti siku dan jari, serta pada bagian tubuh yang lain seperti paru. Nodulus ini
mudah pecah atau ruptur dan terinfeksi.

Sindrom Sjörgen sekunder, keratokonjungtivis Sikka , terjadi pada 10-15 % klien. Klien
dengan sindrom Sjörgen kehilangan sekresi kelenjar saliva dan lakrimalis. Klien menderita
keluhan mata kering, terbakar, atau sensasi pasir pada mata dengan penurunan fotosensitvitas,
kejernihan, dan gatal.

Sindrom Felty digambarkan sebagai gabungan RA, splenomegali, leukopenia, dan ulkus
tungkai. Sindrom Felty terjadi pada klien dengan RA pembentuk nodul berat. Masalah RA
ekstraartikular lainnya antara lain masalah inflamasi mata, infeksi, penyakit paru, vaskulitis dan
kelainan jantung.
PENATALAKSANAAN MEDIS

Manajemen Medis

Penatalaksanaan RA yang melibatkan kombinasi pengobatan, istirahat, latihan dan


perlindungan sendi. Tujuan utama terapi RA adalah untuk mengurangi nyeri, menurunkan
inflamasi sendi, menjaga atau mengobati fungsi sendi, serta mencegah kerusakan tulang dan
kartilago. Perawatan artritis harus dilakukan terus-menerus dan uji klinis yang aman dan
membawa manfaat dari salah satu atau beberapa area di bawah ini.

1. Mengurangi Nyeri dan Inflamasi

Berkurangnya nyeri dan inflamasi biasanya didapatkan melalui penatalaksanaan


farmakologis, yang biasanya menggunakan kombinasi antara obat antiinflamasi
nonsteroid (NSAID), disease-modifying antirheumatic drug/biological response modifier
(DMARD/BRM), dan pengobatan jangka pendek dengan glukokortikosteroid oral.
Pengobatan diganti apabila tidak ada perubahan kondisi atau tidak efektif. Penggunaan
obat dosis tunggal hanya memberikan sedikit perubahan pada pengobatan RA. Mayoritas
klien diberi resep obat tunggal kurang dari 3 tahun. Pengobatan kombinasi diketahui
paling efektif diberikan dalam 2 tahun pertama pengobatan RA. Metoreksat (MTX)
dikombinasikan dengan BRM menunjukkan efek sinergis, begitu pula dengan
imunomodulator Leflunomida. Seperti yang telah dijelaskan, pengobatan ini mengurangi
nyeri dan inflamasi, sekaligus mengendalikan keterlibatan sistemik.

2. Kolom PROSORBA

Kolom PROSORBA merupakan alat medis yang digunakan terkait afersis,


memberikan sekitar 200 mg protein A terikat secara kovalen dengan matriks silika yang
terdapat dalam 300 ml tempat polikarbonat. Setiap kolom berisi 123 ± 2g matriks. Protein
A merupakan komponen bakteri stafilokokus, dan memiliki kecenderungan untuk
mengikat IgG dan IgG berikatan dengan antigen, yaitu kompleks imun yang bersirkulasi.
Kolom PROSORBA digunakan dalam terapi reduksi gejala RA pada klien lansia dengan
penyakit yang gagal berespons atau intoleransi terhadap DMARD. Prosedurnya
membutuhkan waktu 12 minggu untuk prosedur aferesis. Volume plasma sebesar 1.250
±250 ml diberikan melalui kolom. Klien harus memiliki akses intravena yang baik. Hasil
pengobatan tidak akan terlihat hingga pengobatan selesai pada 12 minggu.

3. Lindungi Permukaan Artikular

Salah satu area penting dalam manajemen medis adalah prinsip perlindungan
sendi dan mempermudah pekerjaan. Pada tatanan multidisiplin, proteksi sendi dan
penyederhanaan kerja dilakukan oleh terapis dan dikuatkan oleh perawat. Edukasi pada
area ini dapat memberikan hasil positif pada peningkatan tenaga dan berkurangnya
keletihan, sehingga meningkatkan kemampuan klien beraktivitas dan merasakan kendali.

Anjuran khusus atau panduan antisipasi mengenai perawatan mandiri akan sangat
bermanfaat. Misalnya klien harus memilih sikat dan sisir dengan pegangan yang lebar.
Alat seperti ini banyak tersedia di toko. Menggunakan sikat mandi bergagang panjang
dapat mengurangi tekanan pada sendi. Memilih baju yang atraktif dan dapat disesuaikan
kini lebih mudah karena berbagai toko dan katalog online mencakup seksi perawatan di
rumah. Baju jogging/senam dengan celana tarik dan berukuran besar, atasan yang mudah
dikancing terasa hangat nyaman dan menarik. Peralatan adaptif untuk pakaian antara lain,
shoehorn tangkai panjang, ritsleting tarik, dan kancing. Keterlibatan kaki pada
metatarsalfalangeal (MTP) dapat memengaruhi kemampuan pergerakan dan menikmati
hidup. Rujukan ke spesialis tulang untuk sepatu pendukung yang tepat dan/atau ortotik
penting untuk mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut.

4. Pertahankan Fungsi

Latihan fisik terapeutik merupakan hal penting dalam perawatan awal RA maupun
yang sudah berlangsung. Tiga jenis latihan yang biasa digunakan adalah: rentang gerak
(range of motion [ROM]), latihan kekuatan/penguatan, dan ketahanan. Latihan ROM
dapat pasif, aktif, atau dibantu. ROM pasif dilakukan jika klien tidak mampu
menggerakkan sendi sama sekali karena kurangnya kekuatan atau kontrol sadar. Tujuan
latihan ROM pasif adalah untuk menjamin pergerakan sendi ketika terdapat risiko
kontraktur. Penelitian menunjukkan pentingnya latihan tahanan nyeri pada klien tertentu
untuk meningkatkan kekuatan, nyeri,dan kelelahan tanpa memperparah kondisi penyakit
dan nyeri sendi. Meskipun latihan sudah diprogramkan, klien tidak boleh berlatih jika
terdapat pembengkakakn sendi. Meskipun mungkin klien mampu melakukan latihan
rekreasional atau terapeutik, mereka harus memahami bahwa aktivitas harian bukan
merupakan pengganti untuk ROM.

Latihan kekuatan dilakukan untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan kerja


otot. Latihan kekuatan ada 2 jenis, yaitu isometrik dan isotonik. Pada latihan isometrik,
otot dikontraksikan selama 5-6 detik namun sendi tidak diperkenankan bergerak. Teknik
isometrik antara lain bantalan gluteal dan latihan kuadriseps. Latihan isotonik harus
dilakukan dengan hati-hati karena memerlukan pergerakan sendi berulang kali. Akan
tetapi, setelah nyeri sendi dan inflamasi dapat dikendalikan, dan klien memperoleh
peningkatan kekuatan isometrik, dinamil, maka latihan tahanan rendah cocok dilakukan.
Latihan tahanan rendah untuk klien RA antara lain bersepeda, berenang, golf, ping-pong,
dan menari.

Terapi fisik lain juga berguna. Pada sendi yang bengkak parah, bidai membantu
penyembuhan lebih cepat, daripada sendi tidak dibidai. Terapi panas dan dingin juga
penting sebagai tambahan untuk program rehabilitasi dan latihan.

Terapi panas permukaan dapat diberikan melalui kompres panas, hidroterapi, atau
mandi parafin. Panas yang lebih dalam dilakukan dengan diatermia atau ultrasonografi.
Panas permukaan digunakan untuk mendinginkan sendi dengan meningkatkan peredaran
darah lokal, sedangkan panas yang lebih dalam digunakan untuk meningkatkan suhu
sendi intraartikular. Akibatnya, panas permukaan lebih banyak dipilih daripada panas
yang dalam. Panas bermanfaat pada perawatan kondisi kronis, yang ditandai dengan
bengkak dan inflamasi minimal. Dapat juga digunakan untuk latihan peregangan yang
efektif.

Beberapa klien merasakan terapi dingin mengurangi nyeri dan kaku. Kompres
dingin tidak boleh diberikan pada klien dengan fenomena Raynaud, sensitivitas dingin
atau krioglobulinemia atau yang merasa tidak nyaman. Arthritis Foundation memiliki
banyak literatur mengenai RA. Tersedia kelompok pendukung, kelas pertolongan
mandiri, dan latihan berbasis air atau tanah.
Terapi Farmakologis

Tujuan dari pengobatan RA yaitu untuk :

 Meringankan gejala nyeri, inflamasi, dan kesakitan


 Menjaga fungsi sendi dan ROM
 Mengurangi keterlibatan sistematik
 Memperlambat perkembangan penyakit

Terapi RA harus dilakukan sedini mungkin supaya menurunkan angka perburukan penyakit.
Beberapa ahli menganjurkan untuk menggunakan pendekatan step down bridge dengan
menggunakan kombinasi beberapa jenis DMARD (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs)
yang dimulai sejak dini kemudian dihentikan secara bertahap pada saat aktivitas RA sudah dapat
terkontrol (Suarjana, 2009).

1. Pengobatan NSAID(Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs)


NSAID merupakan obat yang mampu menghambat enzim siklooksigenase (COX)
sehingga mampu menghambat pembentukan prostaglandin, prostasiklin, dan trombokson,
maka NSAID mempunyai sifat analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi. Pemakaian
NSAID mampu mengurangi kekakuan yang terjadi pada rheumatoid arthritis. Pemberian
NSAID pada pasien RA tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ataupun mencegah
kerusakan sendi.
Siklooksigenase merupakan enzim kunci dalam produksi prostaglandin yang
dihambat oleh NSAID, terdapat bentuk enzim ini yaitu siklooksigenasi-1 (COX-1) dan
siklooksigenasi-2 (COX-2). COX-1 terdapat pada seluruh sel dan berperan dalam
produksi prostaglandin yang mengatur proses normal selular, obat yang menghambat
enzim ini disebut obat NSAID nonselektif. COX-2 diekspresikan hampir lengkap pada
respon inflamasi. memproduksi prostaglandin di sendi dan sinovium, obat untuk
kelompok ini disebut NSAID selektif..
Penggunaan NSAID pada pasien RA harus diberikan dengan dosis efektif
serendah mungkin dan dalam waktu sesingkat mungkin. Penggunaan kombinasi
NSAIDharus dihindari karena tidak akan menambah efektivitas tetapi meningkatkan efek
samping (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014b ).
Efek samping paling umum dari terapi NSAID mual, iritasi saluran cerna, dan
ulkus pada lambung dan duodenum.
Beberapa NSAID yang sering digunakan dalam terapi rheumatoid arthritis yaitu,
diklofenak yang merupakan turunan asam fenilasetat dan merupakan non selektif
inhibitor COX, meloxicam merupakan enolkarboksamida yang berkaitan dengan
piroxicam dan terbukti menghambat COX-2 daripada COX-1 khususunya dalam
penggunaan dosis rendah 7,5 mg/hari, celecoxib dan rofecoxib merupakan selektif COX-
2 (Wagner, 2012).

2. Terapi DMARD (Disease Modyfing Anti-Rheumatic Drug)

Disease modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDs) adalah kategori obat yang
sering digunakan untuk mengobati kondisi autoimun, seperti artritis reumatoid dan lupus
eritematosus sistemik (lupus). DMARDs bekerja dengan menekan sistem kekebalan
tubuh untuk membantu mengontrol penyakit autoimun. Hal ini dapat memperlambat laju
kerusakan jaringan dan perkembangan penyakit. Karena DMARDs menekan sistem imun
tubuh, selama mengkonsumsi DMARDs selalu perhatikan tanda-tanda infeksi. DMARD
berfungsi mengurangi kerusakan sendi, mempertahankan integritas dan fungsi sendi serta
meningkatkan produktivitas pasien RA.Golongan DMARD yang sering digunakan pada
pengobatan RA yaitu metroteksat (MTX), sulfasalazine , leflunomid (Avara),
Hidroksiklorokuin (HCQ, Plaquenil) , siklosporin, azatioprin.

Biasanya pengobatan dimulai dengan NSAID tunggal, karena pada beberapa


bulan pertama pengobatan, biasanya, kondisi reumatik artritisnya sulit diduga dan
diagnosisnya tidak pasti. Namun demikian, DMARDs sebaiknya diberikan oleh dokter
setelah diagnosis, perkembangan dan keparahan penyakit sudah dipastikan. Jika
memberikan respon terhadap DMARDs, dosis NSAID dapat diturunkan.

DMARD bersifat slow acting yang menghasilkan efek 1-6 bulan pengobatan.
Pemberian DMARD dapat diberikan tunggal atau kombinasi. Pada pasien yang tidak
respon dengan pengobatan DMARD dengan dosis dan waktu optimal, diberikan
pengobatan DMARD tambahan atau diganti dengan jenis DMARD lainnya
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014a ).
Jenis DMARD yang digunakan pada pengobatan rheumatoid arthritis adalah
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia 2014a ) :

a) Metotreksat
Metotreksat saat ini digunakan sebagai lini pertama dalam pengobatan
rheumatoid arthritis. Obat ini mampu menghambat produksi sitokin dan
menstimulasi pelepasan adenosin. Dosis yang digunakan adalah 7,5-15
mg/minggu. Metotreksat memiliki onset yang cepat, hasilnya dapat dilihat setelah
2-3 minggu terapi.
Metotreksat dikontraindikasikan pada ibu hamil, ibu menyusui, pasien
dengan gangguan hati kronis dan pasien dengan gangguan ginjal. Penggunaan
metotreksat pada usia lanjut perlu di hindari dan dipantau dengan hati-hati karena
dapat menurunkan metabolisme, menurunkan fungsi ginjal dan adanya interaksi
dengan riwayat penyakit.
Pasien juga harus mendapatkan asam folat saat menggunakan metotreksat,
karena metotreksat dapat menyebabkan defisiensi asam folat. Efek samping dari
obat ini adalah mual, diare, dan muntah.
b) Sulfasalazin
Sulfasalazin merupakan suatu prodrug yang diubah menjadi obat oleh
bakteri di dalam kolon, dimana obat ini metabolitnya diekskresikan lewat urin.
Efekantireumatik dapat dilihat setelah 2 bulan. Dosis yang digunakan yaitu 2x500
mg/hari ditingkatkan sampai 3x100 mg.
c) Hidroksiklorokuin
Hidroksiklorokuin biasa digunakan pada rheumatoid arthritis ringan atau
sebagai adjuvant pada kombinasi DMARD untuk penyakit yang lebih progresif.
Onset dari obat ini salama 6 minggu. Dosis yang diberikan adalah 6,5 mg/kg
bb/hari.
d) Leflunamid
Leflunamid bekerja menghambat enzim dihidroorotat dehydrogenase
sehingga pembelahan sel limfosit T auto menjadi terhambat. Dosis yang
digunakan adalah 20 mg/hari.
e) Siklosporin
Siklosporin bekerja menghambat IL-1 dan IL-2. Dosis yang digunakan
adalah 2,5-5 mg/kgbb. Efek samping yang dapa terjadi adalah gagal ginjal
3. Pengobatan Agen Biologik
Penggunaan agen biologik diberikan pada pasien yang tidak menunjukkan respon
baik dengan kombinasi DMARD. Penggunaan agen biologik yang baru diharapkan dapat
mengontrol penyakit rheumatoid arthritis (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014a).
Agen biologik merupakan molekul protein hasil rekayasa genetika yang
menghambat sitokin proinflamasi TNF-α (infliximab, etanercept (Enbrel), adalimumab)
dan IL-1 (anakinra). Obat ini efektif digunakan jika penggunaan DMARD gagal, namun
harganya jauh lebih mahal untuk digunakan (Schuna, 2008).
4. Pengobatan Glukokortikoid
Glukokortikoid oral dosis rendah atau sedang dapat digunakan dalam pengobatan
rheumatoid arthritis. Glukokortikoid yang biasa digunakan dalam pengobatan RA yaitu
prednison dan metilprednisolon. Penatalaksanaan kronis dapat digunakan prednison dosis
rendah 5-10 mg/hari untuk pengendalian aktivitas penyakit pada pasien rheumatoid
arthritis. Namun, penggunaan terapi prednison dosis rendah beresiko osteoporosis.
Glukokortikoid dosis tinggi diperlukan untuk pengobatan ekstraartikular berat
pada rheumatoid arthritis. ACR merekomendasikan pencegahan primer osteoporosis
akibat glukokortikoid dengan bisphosphonate (Schuna,2008).
5. Terapi kombinasi
Kombinasi satu atau dua pengobatan dapat diberikan untuk meredakan nyeri,
bengkak, dan kekakuan serta untuk memperlambat degenerasi sendi. Keunntungan
memberikan lebih dari satu jenis pengobatan adalah untuk memaksimalkan efek
pengobatan dan meminimalkan efek samping dengan dosis yang lebih kecil untuk semua
pengobatan yang diresepkan. Kombinasi umum termasuk MTX+HCQ, MTX+Enbrel,
atau MTX+Arava.

PEMERIKSAAN PENUNJANG ARTRITIS REUMATOID

1. Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia dan
leukositosis,Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi
sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang
menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan
osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
3. Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium
4. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi
tulang pada sendi
5. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal:
buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk
pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan
komplemen ( C3 dan C4 ).
6. Biopsi membran sinovial: menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas.
7. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration) atau atroskopi;
cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak leukosit dan kurang kental
dibanding cairan sendi yang normal.

Komplikasi rheumatoid arthritis


 Peradangan menyebar luas

Peradangan dapat menjangkit jaringan tubuh lain, seperti hati, pembuluh darah, paru-
paru, dan mata. Kondisi ini jarang terjadi dengan perawatan dini.

 Cervical myelopathy

Saraf tulang belakang tertekan akibat dislokasi persendian tulang belakang bagian atas.
Walau jarang terjadi, jika tidak segera dioperasi, kondisi ini bias menyebabkan kerusakan
saraf tulang belakang permanen dan akan berdampak kepada aktivitas sehari-hari.

 Sindrom lorong karpal

Kondisi ini terjadi karena saraf median, yaitu saraf yang mengendalikan gerakan dan
sensasi di pergelangan tangan tertekan dan menimbulkan gejala kesemutan, nyeri, dan
mati rasa. Kondisi ini bias diringankan dengan suntikan steroid atau menggunakan bebat
untuk pergelangan tangan. Namun, umumnya operasi diperlukan untuk melepaskan
tekanan pada saraf median.

 Penyakit kardiovaskular

Penyakit seperti stroke dan serangan jantung bias terjadi akibat dampak rheumatoid
arthritis yang memengaruhi pembuluh darah atau jantung. Risiko terkena penyakit ini
bias dikurangi dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur dan
berhenti merokok.
 Kerusakan sendi

Kerusakan sendi akibat radang bias menjadi permanen jika tidak ditangani dengan baik.
Ada beberapa masalah yang dapat memengaruhi persendian, seperti kelainan bentuk
persendian, penipisan tulang (osteroporosis), kerusakan pada tulang dan tulang rawan,
serta tendon di area sekitar terjadinya peradangan.

 Sindrom Sjogren

Penderita rheumatoid arthritis rentan mengalami sindrom Sjogren, yakni kondisi dimana
kelembapan pada mata dan mulut berkurang.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN REUMATIK

 PENGKAJIAN
I. Biodata
 Identitas klien meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, tanggal
masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, No register, dan dignosa medis.
 Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, agama, alamat, pekerjaan,
penghasilan, umur, dan pendidikan terakhir.
 Identitas saudara kandung meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
hubungan dengan klien.
II. Keluhan Utama
Keluhan dapat berupa kaki kanan atau kaki kiri sering terasa sakit
III. Riwayat kesehatan
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Riwayat Kesehatan Dahulu
 Riwayat Kesehatan Keluarga
IV. DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN REMATIK
 AKTIVITAS/ISTIRAHAT
 Gejala:
 Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi :
kekakuan pada pagi hari,
 Keletihan.
 Tanda:
 Malaise,
 Keterbatasan rentang gerak, atrofi otot,
 Kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot
 KARDIOVASKULER
 Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun
 INTEGRITAS EGO
 Gejala:
 Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, factor-faktor hubungan
 Keputusasaan dan ketidak berdayaan
 Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya
ketergantungan pada orang lain
 MAKANAN ATAU CAIRAN
 Gejala:
 Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan
adekuat : mual.
 Anoreksia
 Kesulitan untuk mengunyah
 Tanda:
 Penurunan berat badan
 Kekeringan pada membran mukosa
 HIGIENE
 Gejala: berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan
pada orang lain.
 NEUROSENSORI
 Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
 Tanda: Pembengkakan sendi
 NYERI / KENYAMANAN
 Gejala: fase akut dari nyeri, terasa nyeri kronis dan kekakuan
 KEAMANAN
 Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
Kekeringan pada mata dan membran mukosa
 INTERAKSI SOSIAL
 Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga / orang lain : perubahan peran: isolasi

 KASUS
Ny.S berusia 67 tahun , pasien mengatakan bahwa kaki kanan dan kirinya sering
sakit, dan dahulu pernah bengkak dari lutut ke bawah. Klien mengatakan bahwa pernah
dibawa ke praktek dokter dan sakitnya itu asam urat. Nenek terlihat memijat-mijat kakinya
dan wajahnya terlihat meringis. Klien juga mengatakan tidak sanggup berjalan jauh
terkadang juga berjalan menggunakan tongkat

 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Rasa Nyaman (nyeri) b/d penurunan fungsi tulang
2. Intoleran Aktivitas b/d Perubahan Otot
3. Resiko Tinggi Cedera b/d Penurunan Fungsi Tulang
4. Perubahan Pola Tidur b/d Nyeri
5. Defisit Perawatan Diri b/d Nyeri
6. Gangguan Citra Tubuh/ Perubahan Penampilan Peran b/d Perubahan Kemampuan Untuk
Melakukan Tugas-Tugas Umum
 ANALISA DATA

DATA MASALAH ETIOLOGI

DS:
Klien mengatakan bahwa kaki
kanan dan kirinya sakit apa lagi di
bantu berjalan Penurunan fungsi
Nyeri
DO: tulang
 Klien memijat-mijat kakinya saat
pengkajiaN
 Wajahnya terlihat meringis

DS:
Klien mengatakan tidak sanggup
berjalan jauh
DO: Intoleransi
Perubahan otot
 klien berjalan menggunakan alat aktivitas
bantu tongkat
 klien lebih banyak duduk
 klien berjalan lambat

DS:
Klien mengatakan takut untuk
berjalan jauh Resiko tinggi Penurunan fungsi
DO: cidera tulang
 Klien tampak berhati-hati saat
berjalan

 RENCANA KEPERAWATAN

Hari/Ta
Dx. Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan
nggal
Nyeri b/d Setelah dilakukan  Mandiri
Penurunan tindakan keperawatan  Kaji keluhan nyeri, catat lokasi
Fungsi Tulang selama 3x24 jam, dan intensitas (skala 0 – 10).
diharapkan masalah Catat factor-faktor yang
Gangguan rasa nyaman mempercepat dan tanda-tanda
(nyeri) dapat teratasi, rasa sakit non verbal
dengan kriteria hasil :
 Berikan matras atau kasur
 Menunjukkan tanda- keras, bantal kecil. Tinggikan
tanda nyeri fisik dan linen tempat tidur sesuai
perilaku dalam nyeri : kebutuhan
 Skala nyeri  Biarkan pasien mengambil
berkurang posisi yang nyaman pada
 Tidak meringis waktu tidur atau duduk di
kesakitan
kursi. Tingkatkan istirahat di
 Lokasi nyeri
tempat tidur sesuai indikasi
berkurang
 Dorong untuk sering
mengubah posisi. Bantu pasien
untuk bergerak di tempat tidur,
sokong sendi yang sakit di atas
dan di bawah, hindari gerakan
yang menyentak
 Anjurkan pasien untuk mandi
air hangat atau mandi pancuran
pada waktu bangun. Sediakan
waslap hangat untuk
mengompres sendi-sendi yang
sakit beberapa kali sehari.
Pantau suhu air kompres, air
mandi
 Berikan masase yang lembut
 Kolaborasi
 Beri obat sebelum aktivitas
atau latihan yang direncanakan
sesuai petunjuk seperti asetil
salisilat (aspirin).
Intoleran Setelah dilakukan  Pertahankan istirahat tirah
Aktivitas b/d tindakan keperawatan baring/duduk jika diperlukan.
Perubahan Otot selama 3x24 jam,  Bantu bergerak dengan bantuan
diharapkan masalah seminimal mungkin.
Intoleransi aktivitas dapat  Dorong klien mempertahankan
teratasi, dengan kriteria postur tegak, duduk tinggi, berdiri
hasil :
dan berjalan.
 Klien mampu
berpartisipasi pada  Berikan lingkungan yang aman
aktivitas yang dan menganjurkan untuk
diinginkan menggunakan alat bantu.
 Berikan obat-obatan sesuai
indikasi seperti steroid
Resiko Tinggi Setelah dilakukan  Kendalikan lingkungan dengan :
Cedera b/d tindakan keperawatan Menyingkirkan bahaya yang
Penurunan selama 3x24 jam, tampak jelas, mengurangi
Fungsi Tulang diharapkan masalah Resiko potensial cedera akibat jatuh ketika
tinggi cedera dapat teratasi, tidur misalnya menggunakan
dengan kriteria hasil : penyanggah tempat tidur,
 Klien dapat usahakan posisi tempat tidur
mempertahankan rendah, gunakan pencahayaan
keselamatan fisik malam siapkan lampu panggil
 Memantau regimen medikasi
 Izinkan kemandirian dan
kebebasan maksimum dengan
memberikan kebebasan dalam
lingkungan yang aman, hindari
penggunaan restrain, ketika pasien
melamun alihkan perhatiannya
ketimbang menaggetkannya
Perubahan Pola Setelah dilakukan  Mandiri
Tidur b/d Nyeri tindakan keperawatan  Tentukan kebiasaan tidur
selama 3x24 jam, biasanya dan perubahan yang
diharapkan masalah terjadi
Perubahan pola tidur dapat  Berikan tempat tidur yang
teratasi, dengan kriteria nyaman
hasil :  Buat rutinitas tidur baru yang
 Klien dapat memenuhi dimasukkan dalam pola lama
kebutuhan istirahat dan dan lingkungan yang baru
tidur  Instruksikan tindakan relaksasi
 Tingkatkan regimen
kenyamanan waktu tidur
misalnya mandi atau message
 Gunakan pagar tempat tidur
sesuai indikasi: rendahkan
tempat tidur bila mungkin.
 Kolaborasi
 Berikan sedative, hipnotik
sesuai indikasi
Defisit Perawatan Setelah dilakukan  Kaji tingkat fungsi fisik
Diri b/d Nyeri tindakan keperawatan  Pertahankan mobilitas, kontrol
selama 3x24 jam, terhadap nyeri dan progran
diharapkan masalah Defisit latihan
perawatan diri dapat  Kaji hambatan terhadap
teratasi, dengan kriteria partisipasi dalam perawatan diri,
hasil : identifikasi untuk modifikasi
 Klien dapat lingkungan
melaksanakan aktivitas  Identifikasi untuk perawatan yang
perawatan diri secara diperlukan, misalnya lift,
mandiri peninggi dudukan kursi toilet,
kursi roda.

Gangguan Citra Setelah dilakukan


Tubuh/ tindakan keperawatan  Mandiri
Perubahan selama 3x24 jam,  Dorong pengungkapan
Penampilan diharapkan masalah mengenai masalah proses
Peran b/d Gangguan Citra Tubuh/ penyakit, harapan masa depan.
Perubahan Perubahan Penampilan  Diskusikan arti dari
Kemampuan Perandapat teratasi, dengan kehilangan / perubahan pada
Untuk kriteria hasil : pasien atau orang terdekat.
Melakukan  Klien mengungkapkan Memastikan bagaimana
Tugas-Tugas peningkatan rasa pandangan pribadi pasien
Umum percaya diri dalam dalam memfungsikan gaya
kemampuan untuk hidup sehari-hari termasuk
menghadapi penyakit, aspek-apek seksual.
perubahan gaya hidup  Diskusikan persepsi pasien
dan kemungkinan mengenai bagaimana orang
keterbatasan terdekat menerima
keterbatasan
 Perhatikan perilaku menarik
diri, dan terlalu
memperhatikan tubuh.
 Ikut sertakan pasien dalam
merencanakan perawatan dan
membuat jadwal aktivitas

 Kolaborasi
 Berikan obat-obat sesuai
petunjuk
 Rujuk pada konseling prikitri