You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Retina atau selaput jala, merupakan bagian mata yang mengandung


reseptor yang menerima rangsangan cahaya dan mengubahnya menjadi
sinyal listrik. Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat
terorganisasi, yang terdiri dari lapisan badan sel dan prosessus sinaptik.
Walaupun ukurannya kompak dan tampak sederhana, apabila
dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina
memiliki daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan visual retina
diuraikan oleh otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman dan bentuk
berlangsung dikorteks.
Retina merupakan jaringan neurosensoris yang terletak pada bagian dalam
dinding mata. Seperti film pada kamera, retina mengubah cahaya menjadi
penglihatan dimata. Fungsi retina pada dasarnya ialah menerima bayangan
visual yang dikirim ke otak. Bagian sentral retina atau daerah makula
mengandung lebih banyak fotoreseptor kerucut daripada bagian perifer retina
yang memiliki banyak sel batang.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang kelompok angkat dalam makalah ini,antara
lain :
1. Bagaimana konsep Ablasio retina ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada Ablasio retina ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Asuhan Keperawatan pasien

dengan Ablasio retina

2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :

1
a. Untuk memahami definisi dari Ablasio retina
b. Untuk mengetahui klasifikasi dari Ablasio retina
c. Untuk mengetahui etiologi dari Ablasio retina.
d. Untuk mengetahui patofisiologi dari Ablasio retina.
e. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Ablasio retina.
f. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Ablasio retina.
g. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dan penunjang dari

Ablasio retina.
h. Untuk mengetahui komplikasi dari Ablasio retina.
i. Untuk mengetahui konsep keperawatan dari Ablasio retina.

D. MANFAAT PENULISAN

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Bagi Pembaca
Agar pembaca dapat menambah pengetahuan tentang Ablasio retina
2. Bagi Penulis
Mampu memahami tentang bagaimana asuhan keperawatan pada pasien P

Ablasio retina

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI ABLASIO RETINA

Ablasio retina terjadi bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan
epitel berpigmen retina dibawahnya karena retina neurosensori, bagian retina
yang mengandung batang dan kerucut, terkelupas dari epitel berpigmen
pemberi nutrisi, maka sel fotosensitif ini tak mampu melakukan aktivitas
fungsi visualnya dan berakibat hilangnya penglihatan (C. Smelzer, Suzanne,
2002).
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang
retina dengan dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen
masih melekat erat dengan membrane Bruch. Sesungguhnya antara sel kerucut
dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan structural dengan koroid
atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk
lepas secara embriologis.
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen
epitel akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah
koroid yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang
menetap.

B. KLASIFIKASI
Dikenal 3 bentuk Ablasio Retina:
1. Ablasi Retina Regmatogenesa

3
Ablasi terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan
masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina. Terjadi
pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) yang masuk
melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
Ablasio Regmatogen (akibat robekan) merupakan ablasio yang
paling sering, terutama pada kelompok usia 40-70 tahun. Terdapat
kecendrungan pada pria yang diperkirakan akibat trauma. Ablasi terjadi
pada mata yang mempunyai factor predisposisi untuk terjadi ablasi retina.
Kondisi yang merupakan predisposisi meliputi: myopia (pandangan
dekat) tinggi (lebih dari 8 dioptri), degenerasi latis, afakia (pengangkatan
bedah sebagian atau keseluruhan lensa kristalina), dan trauma.
2. Ablasi Retina Eksudatif
Ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina
dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat
keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid (ekstra vasasi).
Hal ini disebabkan penyakit koroid kelainan ini dapat terjadi pada
skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopati, toksemia
gravidarum. Cairan dibawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi kepala.
Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat
berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap
bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.
3. Ablasi Retina Traksi (Tarikan)
Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan
jaringan parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina
dan penglihatan menurun tanpa rasa sakit.
Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan
diabetes mellitus proliferative, trauma, dan perdarahan badan kaca akibat
bedah atau infeksi.

4
Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca dilakukan dengan
melepaskan tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca
dengan tindakan yang disebut sebagai vitrektomi.

C. ETIOLOGI
1. Malformasi congenital
2. Kelainan metabolism
3. Penyakit vaskuler
4. Inflamasi intraokuler
5. Neoplasma
6. Trauma
7. Perubahan degeneratif dalam vitreus atau retina (C. Smelzer, Suzanne,
2002).

D. PATOFISIOLOGI
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan
rongga vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada
mata yang matur dapat berpisah :
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami
likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio
progresif (ablasio regmatogenosa).
2. Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,
misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus (ablasio
retina traksional).
3. Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina
akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan
(ablasio retina eksudatif)

5
Ablasio retina idiopatik (regmatogen) terjadinya selalu karena adanya
robekan retina atau lubang retina. Sering terjadi pada miopia, pada usia lanjut,
dan pada mata afakia. Perubahan yang merupakan faktor prediposisi adalah
degenerasi retina perifer (degenerasi kisi-kisi/lattice degeration), pencairan
sebagian badan kaca yang tetap melekat pada daerah retina tertentu, cedera,
dan sebagainya.
Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut juga terjadi di
koroid. Sklerosis dan sumbatan pembuluh darah koroid senil akan
menyebabkan berkurangnya perdarahan ke retina. Hal semacam ini juga bisa
terjadi pada miopia karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah
retina. Perubahan ini terutama terjadi di daerah ekuator, yaitu tempat
terjadinya 90% robekan retina. Terjadinya degenerasi retina pada mata miopia
10 sampai 15 tahun lebih awal daripada mata emetropia. Ablasi retina delapan
kali lebih sering terjadi pada mata miopia daripada mata emetropia atau
hiperopia. Ablasi retina terjadi sampai 4% dari semua mata afakia, yang
berarti 100 kali lebih sering daripada mata fakia.
Terjadinya sineresis dan pencairan badan kaca pada mata miopia satu
dasawarsa lebih awal daripada mata normal. Depolimerisasi menyebabkan
penurunan daya ikat air dari asam hialuron sehingga kerangka badan kaca
mengalami disintegrasi. Akan terjadi pencairan sebagian dan ablasi badan
kaca posterior. Oleh karenanya badan kaca kehilangan konsistensi dan
struktur yang mirip agar-agar, sehingga badan kaca tidak menekan retina pada
epitel pigmen lagi. Dengan gerakan mata yang cepat, badan kaca menarik
perlekatan vireoretina. Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya terdapat di
daerah sekeliling radang atau daerah sklerosis degeneratif. Sesudah ekstraksi
katarak intrakapsular, gerakan badan kaca pada gerakan mata bahkan akan
lebih kuat lagi. Sekali terjadi robekan retina, cairan akan menyusup di bawah
retina sehingga neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid.

6
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya atau keduanya.
2. Floater dipersepsikan sebagai titik-titik hitam kecil/rumah laba-laba.
Partikel floater ini tersusun atas sel-sel retina dan darah yang terlepas
ketika terjadi robekan dan memberi bayangan pada retina ketika mereka
bergerak.
3. Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang
pandang, mengakibatkan pandangan kabur dan kehilangan lapang pandang
ketika retina benar-benar terlepas dari epitel berpigmen.
4. Penurunan tajam pandangan sentral aau hilangnya pandangan sentral
menunjjukkan bahwa adanya keterlibatan macula.

F. PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring dan aktivitas dibatasi
2. Bila kedua mata dibalut, perlu bantuan oranglain untuk mencegah cidera
3. Jika terdapat gelombang udara di dalam mata, posisi yang dianjurkan
harus dipertahannkan sehingga gas mampu memberikan tamponade yang
efektif pada robekan retina
4. Pasien tidak boleh terbaring terlentang
5. Dilatasi pupil harus dipertahankan untuk mempermudah pemeriksaan
paska operasi
6. Cara Pengobatannya:
a. Prosedur laser
Untuk menangani ablasio retina eksudatif/serosa sehubungan dengan
proses yang berhubungan dengan tumor atau inflamasi yang
menimbulkan cairansubretina yang tanpa robekan retina.
Tujuannya untuk membentuk jaringan parut pada retina sehingga
melekatkannya ke epitel berpigmen.
b. Pembedahan

7
Retinopati diabetika /trauma dengan perdarahan vitreus memerlukan
pembedahan vitreus untuk mengurangi gaya tarik pada retina yang
ditimbulkan.
Pelipatan (buckling) sklera merupakan prosedur bedah primer untuk
melekatkan kembali retina.
Jenis pembedahan ablasio retina:
1) Pneumoretinopeksi: operasi singkat untuk melekatkan kembali
retina yang lepas (ablasio retina).
2) Scleral Buckling: Operasi untuk melekatkan kembali retina yang
lepas.
3) Vitrektomi: Operasi ini memerlukan alat khusus, ahli bedah akan
melakukan operasi didalam rongga bola mata untuk membersihkan
vitreus yang keruh, melekatkan kembali vitreus yang mengalami
ablasio, mengupas jaringan ikat dari permukaan retina, dan
tindakan-tindakan lain yang diperlukan
c. Krioterapi transkleral
Dilakukan pada sekitar tiap robekan retina menghasilkan adhesi
korioretina yang melipat robekan sehingga cairan vitreus tak mampu
lagi memasuki rongga subretina. Sebuah/ beberapa silikon (pengunci)
dijahitkan dan dilipatkan ke dalam skler, secara fisik akan
mengindensi/melipat sklera, koroid, danlapisan fotosensitif ke epitel
berpigmen, menahan robekan ketika retina dapat melekat kembali ke
jaringan pendukung dibawahnya, maka fungsi fisiologisnya ormalnya
dapat dikembalikan. (C. Smelzer, Suzanne, 2002).

8
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENUNJANG
1. Anamnesis
Gejala yang sering dikeluhkan pasien, adalah:
a. Floaters (terlihat benda melayang-layang), yang terjadi karena adanya
kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau
degenerasi vitreus itu sendiri.
b. Fotopsia/ light flashes (kilatan cahaya) tanpa adanya cahaya di
sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam
keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.
c. Penurunan tajam penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya
sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada
keadaan yang telah lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan
yang lebih berat.
2. Pemeriksaan Oftalmologi
a. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat
terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan
atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan
akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat.
b. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti
tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan
kedudukan ablasio retina, pada lapangan pandang akan terlihat pijaran
api seperti halilintar kecil dan fotopsia.
c. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk
mendiagnosis ablasio retina dengan menggunakan binokuler indirek
oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan
hilangnya refleks fundus dan pengangkatan retina. Retina tampak
keabu-abuan yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat
akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina, didapatkan
pergerakkan undulasi retina ketika mata bergerak. Suatu robekan pada
retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid
dibawahnya. Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang

9
terdiri dari darah dan pigmen atau ruang retina dapat ditemukan
mengambang bebas.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya
penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun
kelainan darah.
b. Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga
digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis
lain yang menyertainya seperti proliverative vitreoretinopati, benda
asing intraokuler. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk
mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif
misalnya tumor dan posterior skleritis.
c. Pemeriksaan angiografi fluoresin akan terlihat:
1) Kebocoran didaerah parapapilar dan daerah yang berdekatan
dengan tempatnya ruptur, juga dapat terlihat
2) Gangguan permeabiltas koriokapiler akibat rangsangan langsung
badan kaca pada koroid.
3) Dapat dibedakan antara ablasi primer dan sekunder
4) Adanya tumor atau peradangan yang menyebabkan ablasi

H. KOMPLIKASI
1. Komplikasi awal setelah pembedahan:
a. Peningkatan TIO
b. Glaukoma
c. Infeksi
d. Ablasio koroid
e. Kegagalan pelekatan retina
f. Ablasio retina berulang
2. Komplikasi lanjut
a. Infeksi

10
b. Lepasnya bahan buckling melalui konjungtiva atau erosi melalui
bola mata
c. Vitreo retinpati proliveratif (jaringan parut yang mengenai retina)
d. Diplopia
e. Kesalahan refraksi
f. Astigmatisme

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Data Klinis
a. Data Biografi
Berupa nama pasien, usia, TB, BB, Tanggal masuk, TD, RR, Nadi dan
Suhu .
b. Keluhan Utama
Pasien biasanya melaporkan:
1) Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya atau
keduanya.
2) Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak
dilapang pandang, mengakibatkan pandangan kabur dan kehilangan
lapang pandang.
3) Penurunan tajam pandangan sentral atau hilangnya pandangan
sentral menunjukkan bahwa adanya keterlibatan macula.
c. Riwayat perjalanan penyakit
1) Tanyakan sejak kapan pasien merasa melihat benda mengapung
atau pendaran cahaya atau keduanya.
2) Tanyakan sejak kapan pasien melihat bayangan berkembang atau
tirai bergerak dilapang pandang, yang mengakibatkan pandangan
kabur.
3) Tanyakan sejak kapan pasien mengalami penurunan tajam
pandangan sentral atau hilangnya pandangan sentral.
d. Riwayat kesehatan masa lalu
1) Apakah klien ada riwayat penyakit diabetes mellitus.
2) Apakah pernah mengalami trauma pada mata.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit ini sebelumnya.
2. Persepsi dan Penanganan Kesehatan

12
a. Tanyakan kepada klien tentang gambaran kesehatannya secara umum
saat ini.
b. Tanyakan alasan kunjungan klien dan harapan klien terhadap
penyakitnya.
c. Tanyakan gambaran terhadap sakit yang dirasakan klien,
penyebabnya, dan penanganan yang dilakukan.
d. Tanyakan apa dan bagaimana tindakan yang dilakukan klien dalam
menjaga kesehatannya.
e. Tanyakan kepada klien apakah klien pernah menggunakan obat resep
dokter dan warung.
f. Tanyakan kepada klien apakah klien seorang perokok, alkoholik, atau
mengonsumsi tembakau.
g. Tanyakan kepada klien tentang riwayat kesehatan keluarganya.
Apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang
sama.
3. Nutrisi-Metabolik
a. Tanyakan pada klien tentang gambaran yang biasa dimakan dan
frekuensi makannya.
b. Tanyakan apakah klien mempunyai riwayat alergi.
c. Tanyakan bagaiamana proses penyembuhan luka pada klien (cepat-
lambat).
4. Eliminasi
a. Tanyakan kepada klien bagaimana kebiasaan defekasi dan
eliminasinya.
b. Tanyakan apakah ada gangguan pada proses eliminasi dan
defekasinya.
5. Aktivitas-Latihan
Tanyakan bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, seperti:
mandi, berpakaian, eliminasi, mobilisasi ditempat tidur, merapikan rumah,
ambulasi, dan makan, apakah mandiri atau dibantu orang lain.
6. Tidur-Istirahat
Tanyakan waktu, frekuensi dan kualitas tidur klien.
7. Kognitif-Persepsi
a. Kaji status mental dan bicara klien.
b. Tanyakan apakah ada kesulitan dalam mendengar dan melihat.
8. Peran-Hubungan

13
a. Tanyakan bagaimana status pekerjaan klien.
b. Tanyakan bagaimana hubungan klien dengan keluarga dan orang
disekitarnya.
c. Tanyakan bagaimana status pernikahan klien.
9. Seksualitas-Reproduksi
a. Tanyakan bagaimana hubungan seksualitas klien.
b. Kaji apakah klien telah menopause.
10. Koping-Toleransi Stress
Tanyakan apakah klien pernah mengalami perubahan besar dimasa lalunya
dan bagaimana cara klien menghadapinya.

11. Nilai-Kepercayaan
Tanyakan agama klien dan bagaimana pengaruh agama pada kehidupan
klien sehari-hari.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko cedera
2. Gangguan persepsi sensori: penglihatan
3. Ansietas

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA TUJUAN & INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
(NOC)
Resiko cedera Perilaku keamanan: Manajemen keamanan
Faktor yang lingkungan fisik rumah Aktifitas :
berhubungan: Indikator : • Ciptakan lingkungan
• Eksternal • Perlengkapan yang nyaman bagi
- Kimia, pencahayaan klien
misalnya: • Penggunaan system • Identifikasi
racun, polutan, alarm pribadi kebutuhan

14
obat-obatan, • Kelengkapan alat keamanan klien
alcohol. bantuan pada lokasi • Pindahkan benda-
- Nutrisi yang mudah dicapai benda berbahaya
(vitamin, jenis • Penyusunan dari sekitar klien
makanan) perabotan untuk • Pindahkan benda-
• Internal mengurangi resiko benda berisiko dari
- Usia lingkungan klien
perkembangan Pengetahuan: keamanan • Sediakan tempat
pribadi tidur yang nyaman
Indikator : dan bersih
• Gambaran untuk • Posisikan tempat
mencegah jatuh tidur agar mudah
• Gambaran resiko terjangkau
keamanan khusus • Kurangi stimulus
berdasarkan usia lingkungan
• Gambaran perilaku
individu yang Pencegahan jatuh
berisiko tinggi Aktifitas :
• Gambaran resiko • Identifikasi deficit
keamanan bekerja fisik yang berpotensi
untuk jatuh
• Identifikasi
karakteristik
lingkungan yang
meningkatkan
potensi jatuh (seperti
lantai yang licin)
• Berikan peralatan
yang menunjang
untuk mengokohkan
jalan
• Ajarkan klien
bagaimana berpindah
untuk meminimalisir
trauma
• Hindari barang-
barang berserakan di
lantai
• Ajarkan keluarga
tentang faktor resiko
yang berkontribusi
pada jatuh dan
bagaimana
mengurangi resiko
jatuh
• Kaji keluarga dalam

15
mengidentifikasi
bahaya di rumah dan
bagaimana
memodifikasikannya

Gangguan persepsi Kontrol Kecemasan: Peningkatan


sensori: penglihatan Indicator: Komunikasi: Defisit
• Memantau Penglihatan
Batasan karakteristik: intensitas • Kenali diri sendiri
• Berubahnya kecemasan ketika memasuki
ketajaman • Menghilangkan ruang pasien
pancaindera pencetus kecemasan • Menerima reaksi
• Berubahnya respon • Menurunkan pasien terhadap
yang umum rangsang rusaknya
terhadap rangsangan lingkungan ketika penglihatan
• Gagal penyesuaian cema • Catat reaksi pasien
• Distorsi pancaindera • Mencari informasi terhadap rusaknya
untuk mengurangi penglihatan (misal,
kecemasan depresi, menarik
• Merencanakan diri, dan menolak
strategi koping kenyataan)
terhadap situasi • Andalkan
yang menekan penglihatan pasien
• Menggunakan yang tersisa
strategi koping yang sebagaimana
efektif mestinya
• Menggunakan • Gambarkan
teknik relaksasi lingkungan kepada
untuk mengurangi pasien
rasa cemas • Jangan
• Menjaga hubungan memindahkan
sosial benda-benda di
• Melaporkan kamar pasien tanpa
ketidakhadiran memberitahu pasien
penyimpangan • Identifikasi
persepsi pada makanan yang ada
pancaindera dalam baki dalam
• Melaporkan kaitannya dengan
ketidakhadiran angka-angka pada
manifestasi fisik jam
akan kecemasan • Sediakan kaca
pembesar atau
Kompensasi kacamata prisma
Tingkahlaku sewajarnya untuk
Penglihatan: membaca
Indicator: • Rujuk pasien

16
• Pantau gejala dari dengan masalah
semakin buruknya penglihatan ke agen
penglihatan yang sesuai
• Posisikan diri
untuk Manajemen
menguntungkan Lingkungan
penglihatan • Ciptakan
• Ingatkan yang lain lingkungan yang
untuk aman untuk pasien
menggunakan • Hilangkan bahaya
teknik yang lingkungan (misal,
menguntungkan permadani yang
penglihatan bisa dilepas-lepas
• Gunakan dan kecil, mebel
pencahayaan yang yang dapat
cukup untuk dipindah-
aktivitas yang pindahkan)
sedang dilakukan • Hilangkan objek-
• Memakai kacamata objek yang
dengan benar membahayakan dari
• Merawat kacamata lingkungan
dengan benar • Lindungi dengan
• Menggunakan alat sisi rel/ lapisan
bantu penglihatan antar rel,
yang lemah sebagaimana
mestinya
• Kawal pasien
selama kegiatan-
kegiatan di bangsal
sebagaimana
mestinya
• Sediakan tempat
tidur tinggi-rendah
yang sesuai
• Sediakan alat-alat
yang adaptif (misal,
bangku untuk
melangkah atau
pegangan tangan)
yang sesuai
• Susun perabotan di
dalam kamar dalam
tatakan yang sesuai
yang bagus dalam
mengakomodasi
ketidakmampuan

17
pasien ataupun
keluarga
• Tempatkan benda-
benda yang sering
digunakan dekat
dengan jangkauan
• Manipulasi
pencahayaan untuk
kebaikan terapeutik
• Batasi pengunjung

Pengawasan:
Keamanan
• Pantau perubahan
fungsi fisik atau
kognitif pasien yang
menyebabkan
perilaku yang
membahayakan
• Pantau lingkungan
yang berpotensi
membahayakan
keamanan
• Tentukan derajat
pengawasan yang
dibutuhkan pasien,
berdasarkan tingkat,
fungsi dan
kehadiran bahaya
dalam lingkungan
• Sediakan tingkat
pengawasan yang
sesuai untuk
memantau pasien
dan memberikan
tindakan terapeutik,
jika dibutuhkan
• Tempatkan pasien
pada lingkungan
yang paling terbatas
yang menyedikan
level yang
dibutuhkan untuk
observasi
• Mulai dan
pertahankan status

18
pencegahan pada
resiko tinggi dari
bahaya yang
dikhususkan untuk
pengaturan
perawatan
• Komunikasikan
informasi tentang
resiko pasien pada
perawat lainnya

Ansietas • Kontrol cemas Penurunan kecemasan


Batasan karakteristik: Indikator : Aktivitas:
• Scaning dan • Pantau intensitas • Tenangkan klien
kewaspadaan kecemasan • Jelaskan seluruh
• Kontak mata yang • Menyingkirkan tanda posedur tindakan
buruk kecemasan kepada klien dan
• Ketidakberdayaan • Mencari informasi perasaan yang
meningkat untuk menurunkan mungkin muncul
• Kerusakan cemas pada saat melakukan
perhatian • Mempertahankan tindakan
konsentrasi • Berikan informasi
• Laporankan durasi diagnosa, prognosis,
dari episode cemas dan tindakan
• Koping • Berusaha memahami
Indikator: keadaan klien
• Memanajemen • Kaji tingkat
masalah kecemasan dan reaksi
• Melibatkan anggota fisik pada tingkat
keluarga dalam kecemasan
membuat keputusan • Gunakan pendekatan
• Mengekspresikan dan sentuhan, untuk
perasaan dan meyakinkan pasien
kebebasan emosional tidak sendiri.
• Menunjukkan strategi • Sediakan aktivitas
penurunan stres untuk menurunkan
Menggunakan support ketegangan
sosial • Bantu pasien untuk
identifikasi situasi
yang mencipkatakan
cemas
• Instruksikan pasien
untuk menggunakan
teknik relaksasi

Peningkatan koping

19
Aktivitas:
• Hargai pemahamnan
pasien tentang
pemahaman penyakit
• Gunakan pendekatan
yang tenang dan
berikan jaminan
• Sediakan informasi
aktual tentang
diagnosa,
penanganan, dan
prognosis
• Sediakan pilihan
yang realisis tentang
aspek perawatan saat
ini
• Tentukan
kemampuan klien
untuk mengambil
keputusan
• Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
strategi positif untuk
mengatasi
keterbatasan dan
mengelola gaya
hidup atau perubahan
peran

20
PATHWAYS

Inflamasi intraokuler/tumor Perub degeneratif dlm viterus

Konsentrasi as. Hidlorunat ber(-)


Peningkatan cairan eksudattif/sserosa
Vitreus mjd makin cair

Vitreus kolaps dan bengkak ke depan

Tarikan retina

Robekan retina Resti Infeksi

Sel-sel retina dan darah terlepas

Retina terlepas dari epitel berpigmen

Penurunan tajam pandang sentral


Ditandai dengan:
- floater dipersepsikan sbg titik-titik hitamkecil/rumah
laba-laba
- Bayangan berkembang/tirai bergerak dilapang pandang

Gangguan persepsi :
penglihatan

21
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Retina atau selaput jala, merupakan bagian mata yang mengandung
reseptor yang menerima rangsangan cahaya dan mengubahnya menjadi
sinyal listrik. Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat
terorganisasi, yang terdiri dari lapisan badan sel dan prosessus sinaptik.
Walaupun ukurannya kompak dan tampak sederhana, apabila
dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina
memiliki daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan visual retina
diuraikan oleh otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman dan bentuk
berlangsung dikorteks.
Ablasio retina terjadi bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan
epitel berpigmen retina dibawahnya karena retina neurosensori, bagian retina
yang mengandung batang dan kerucut, terkelupas dari epitel berpigmen
pemberi nutrisi, maka sel fotosensitif ini tak mampu melakukan aktivitas
fungsi visualnya dan berakibat hilangnya penglihatan

B. SARAN
Dalam penulisan makalah ini, penyusun menyadari masih terdapat banyak
kekurangan karena kurangya pengetahuan yang penyusun miliki. Maka
dari itu penyusun meminta saran dan kritik dalam penyempurnaan
makalah ini.

22