You are on page 1of 21

ANALISA MAKROSKOPIK DAN MIKROSKOPIK

Syzigium polyanthum FAMILI Myrtaceae

Disusun oleh :
Anggie Fuji Lestari 12017007
Farmasi A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PRIMA INDONESIA

JURUSAN SARJANA FARMASI

BEKASI

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. Karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ANALISA MAKROSKOPIK
DAN MIKROSKOPIK Syzigium polyanthum FAMILI Myrtaceae. Maksud dan tujuan dibuat
makalah ini adalah agar lebih memahami mengenai ciri Makroskopis dan Mikroskopis
fragmen pengenal dari tanaman Syzigium polyanthum yang akan kami bahas dalam makalah
ini.

Makalah ini dibuat berdasarkan beberapa sumber yang bersangkutan dengan materi.
Dalam penyusunan makalah ini, tentulah saya banyak menemukan berbagai hambatan dan
kendala karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang saya punya. Saya menyadari
bahwa makalah ini jauh dari sempurna baik secara penyajian ataupun kelengkapannya. Oleh
karena itu, saya siap menerima segala kritik dan saran demi sempurnanya makalah-makalah
yang lainnya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak di bidang farmasi dan bidang
kesehatan pada umumnya.

Bekasi, 09 Januari 2019

Anggie Fuji Lestari

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii


DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ vi
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................. 1
1.2 TUJUAN ...................................................................................................... 2
1.3 MANFAAT.................................................................................................. 2
BAB II : KAJIAN TEORI
2.1 DEFINISI TANAMAN .............................................................................. 3
2.2 KLASIFIKASI TANAMAN ...................................................................... 3
2.3 MAKROSKOPIK ...................................................................................... 3
2.4 MIKROSKOPIK ....................................................................................... 4
BAB III : METODOLOGI
3.1 SUMBER TANAMAN .............................................................................. 7
3.2 PROSEDUR ............................................................................................... 7
3.2.1 PRA ANALISIS ................................................................................... 7
3.2.1.1 PENGAMBILAN SAMPEL ......................................................... 7
3.2.1.2 PEMBERSIHAN SAMPEL .......................................................... 7
3.2.1.3 PERAJANGAN SAMPEL ............................................................ 8
3.2.1.4 PENGERINGAN SAMPEL .......................................................... 9
3.2.1.5 PENYIMPANAN .......................................................................... 9
3.2.2 ANALISA MAKROSKOPIK .............................................................. 10
3.2.2.1 ORGANOLEPTIK ........................................................................ 10
3.2.3 ANALISA MIKROSKOPIK ................................................................ 10
3.2.3.1 TEKNIK SAMPLING ................................................................... 10
3.2.3.2 TEKNIK ANALISA DENGAN MIKROSKOP ........................... 10
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL.......................................................................................................... 11
4.2 PEMBAHASAN .......................................................................................... 13
BAB V : PENUTUP

iii
5.1 KESIMPULAN............................................................................................ 14
5.2 SARAN ........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 15

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi Tanaman Daun Salam................................................................ 3

Tabel 2. Organoleptik Simplisia Daun Salam............................................................ 10

Tabel 3. Hasil Praktikum Analisa Makroskopis dan Mikroskopis Daun Salam........ 11

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tanaman Daun Salam segar ..................................................................... 4

Gambar 2. Simplisia Daun Salam .............................................................................. 4

Gambar 3. Epidermis bawah dengan stomata tipe parasitis ...................................... 5

Gambar 4. Berkas pengangkut ................................................................................... 5

Gambar 5. Serabut sklerenkim ................................................................................... 5

Gambar 6. Epidermis atas .......................................................................................... 6

Gambar 7. Kristal kalsium oksalat ............................................................................. 6

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga ruang


lingkupnya menjadi luas seperti yang didefenisikan sebagai fluduger, yaitu penggunaan
secara serentak sebagai cabang ilmu pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu
diketahui tentang obat.

Dalam kehidupan sehari-sehari, kita ketahui bahwa banyak masyarakat didunia ini sudah
kenal bahwa sebagian dari tanaman ini adalah obat. Sering kita lihat bahwa sebagian dari
masyarakat memanfaatkan tanaman sebagai makanan, sedangkan pada bidang farmasi
mengenal bahwa sebagaian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan.

Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat indonesia khususnya seorang


farmasi harus semakin mengenal tentang jaringan-jaringan yang terdapat dalam tanaman
khususnya simplisia yang dapat dijadikansebagai obat.

Hal ini perlu kita ketahui agar pengetahuan kita semakin berkembang, mengenai jaringan
didalam didalam suatu simplisia pada daun.

Daun salam (Syzygium polyanthum Wight) famili myrtaceaea merupakan salah satu
tanaman dari Indonesia yang potensial digunakan sebagai bahan baku obat herbal.
Masyarakat telah menggunakan daun salam sebagai obat untuk hiperglikemia (diabetes
mellitus), hipertensi, gout, antidiare, menurunkan kadar kolesterol, dan gastritis (Joshi et al.,
2012; Malik and Ahmad, 2013).

Secara farmakologis daun salam telah dibuktikan memiliki aktivitas antioksidan,


antidiare, antibakteri, menurunkan kadar kolesterol darah, antiglikemia dan antihipertensi
(Bakri dan Widodo, 2007; Prahastutti et al., 2011; Har and Ismail, 2012; Joshi et al., 2012;
Malik and Ahmad, 2013).

Daun salam mengandung flavonoid kuersetin, kuersitrin, mirsetin dan mirsitrin.


Kuersitrin dalam Farmakope herbal Indonesia digunakan sebagai penanda dalam identifikasi
daun salam. (Fitri, 2007)

1
1.2 Tujuan

 Mampu mengidentifikasi simplisia secara organoleptik, meliputi bentuk, rasa, warna,


dan bau.
 Mampu mengidentifikasi simplisia dengan metode mikroskopik.
 Mampu mengenali fragmen-fragmen dari simplisia Daun Salam (Syzygium
polyanthum)

1.3 Manfaat
 Dapat mengetahui ciri-ciri simplisia secara organoleptis
 Dapat mengetahui fragmen pengenal pada simplisia Daun Salam

2
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Definisi Tanaman


Daun salam adalah daun Syzygium polyanthum Wight, suku Myrtaceae, mengandung
flavonoid total tidak kurang dari 0,40% dihitung sebagai kuersetin.

2.2 Klasifikasi Tanaman


Berikut klasifikasi dari Tanaman Daun Salam (Syzigium polyanthum)
Tabel 1. Klasifikasi Tanaman Daun Salam
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Superdivision Spermatophyta
Division Magnoliophyta
Class Magnoliopsida
Subclass Rosidae
Ordo Myrtales
Family Myrtaceae
Genus Syzigium P. Br. ex Gaertn
Spesies Syzigium polyanthum

2.3 Makroskopis
Identitas Simplisia, berupa daun warna kecokelatan, bau aromatik lemah, rasa kelat.
Daun tunggal bertangkai pendek, panjang tangkai daun 5-10 mm . Helai daun berbentuk
jorong memanjang, panjang 7-15 cm, lebar 5-10 cm; ujung dan pangkal daun meruncing, tepi
rata; permukaan atas berwarna cokelat kehijauan, licin, mengkilat; permukaan bawah
berwarna cokelat tua; tulang daun menyirip dan menonjol pada permukaan bawah, tulang
cabang halus.

3
Gambar 1. Tanaman Daun Salam segar

Gambar 2. Simplisia Daun Salam

2.4 Mikroskopis
Fragmen pengenal pada Daun Salam adalah epidermis bawah dengan stomata tipe
parasitis, berkas pengangkut, serabut sklerenkim, epidermis atas dan kristal kalsium oksalat
bentuk roset, lepas.

4
Gambar 3.
Epidermis bawah dengan stomata tipe parasitis

Gambar 4.
Berkas pengangkut

Gambar 5.
Serabut sklerenkim

5
Gambar 6.
Epidermis atas

Gambar 7.
Kristal kalsium oksalat

6
BAB III
METODOLOGI

3.1 Sumber Tanaman


Tanaman diambil pada tanggal 2 Desember 2018 pada jam 08.48 WIB, di kebun yang
berada di Kp.Kedaung, Desa Babelan, Bekasi.
3.2 Prosedur
3.2.1 Pra Analisis
3.2.1.1 Pengambilan Sampel
Pemanenan daun dilakukan pada saat fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu
ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif yang terdapat dalam daun akan
mencapai maksimum dibandingkan ditangkai pada saat sebelum berbunga

3.2.1.2 Pembersihan Sampel


 Sortasi Basah
Sortasi basah bertujuan untuk memisahkan kotoran atau bahan asing serta
bagian tanaman lain yang tidak diinginkan dari bahan simplisia. Kotoran tersebut
dapat berupa tanah, kerikil, rumput/gulma, tanaman lain yang mirip, bahan yang
telah rusak atau busuk, serta bagian tanaman lain yang memang harus dipisahkan
dan dibuang. Pemisahan bahan simplisia dari kotoran ini bertujuan untuk menjaga
kemurnian dan mengurangi kontaminasi awal yang dapat mengganggu proses
selanjutnya, mengurangi cemaran mikroba, serta memperoleh simplisia dengan
jenis dan ukuran seragam.

Sortasi basah harus dilakukan secara teliti dan cermat. Kotoran ringan yang
berukuran kecil dapat dipisahkan menggunakan nyiru dengan arah gerakan ke atas
dan ke bawah serta memutar. Kotoran akan berterbangan dan memisah dari bahan
simplisia. Kegiatan sortasi basah dapat juga dilakukan secara bersamaan dengan
pencucian dan penirisan. Pada saat pencucian, bahan dibolak-balik untuk
memisahkan kotoran yang menempel atau terikut dalam bahan.

 Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran lain yang melekat
pada bahan simplisia. Proses ini dilakukan dengan menggunakan air bersih (standar

7
air minum), air dari sumber mata air, air sumur, atau air PDAM. Khusus untuk
bahan yang mengandung senyawa aktif yang mudah larut dalam air, pencucian
dilakukan secepat mungkin (tidak direndam).

Pencucian sebaiknya dilakukan dengan menggunakan air mengalir agar


kotoran yang terlepas tidak menempel kembali. Kotoran yang melekat pada bagian
yang sulit dibersihkan dapat dihilangkan dengan penyemprotan air bertekanan
tinggi atau dengan disikat.

 Penirisan
Setelah bahan dicuci bersih, dilakukan penirisan yang bertujuan untuk
mengurangi atau menghilangkan kandungan air di permukaan bahan dan dilakukan
sesegera mungkin setelah pencucian. Selama penirisan, bahan dibolak-balik untuk
mempercepat penguapan dan dilakukan di tempat teduh dengan aliran udara cukup
agar terhindar dari fermentasi dan pembusukan. Setelah air yang menempel di
permukaan bahan menetes atau menguap, bahan simplisia dikeringkan dengan cara
yang sesuai.

3.2.1.3 Perajangan Sampel


Perajangan atau pengubahan bentuk dilakukan untuk memudahkan kegiatan
pengeringan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan
selanjutnya. Selain itu, proses ini bertujuan untuk memperbaiki penampilan fisik
dan memenuhi standar kualitas (terutama keseragaman ukuran) serta meningkatkan
kepraktisan dan ketahanan dalam penyimpanan. Pengubahan bentuk harus
dilakukan secara tepat dan hati-hati agar tidak menurunkan kualitas simplisia yang
diperoleh. Perajangan bisa dilakukan dengan pisau yang terbuat dari stainless steel
ataupun alat perajang khusus untuk menghasilkan rajangan yang seragam. Semakin
tipis ukuran hasil rajangan, maka akan semakin cepat proses penguapan air
sehingga waktu pengeringannya menjadi lebih cepat. Namun ukuran hasil rajangan
yang terlalu tipis dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya senyawa aktif
yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi komposisi, bau, dan rasa yang
diinginkan. Selain itu, perajangan yang terlalu tipis juga menyebabkan simplisia
mudah rusak saat dilakukan pengeringan dan pengemasan. Ukuran ketebalan
simplisia harus seragam tergantung pada bagian tumbuhan yang diiris. Ketebalan

8
irisan simplisia untuk bahan baku berupa daun dipotong melintang dengan lebar
daun ± 2 cm.

3.2.1.4 Pengeringan Sampel


Daun yang dipanen muda biasanya dikeringkan secara perlahan mengingat
kandungan airnya cukup tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya reaksi
enzimatis masih dapat berlangsung dengan cepat. Selain itu, jaringan yang dimiliki
oleh daun muda masih sangat lunak sehingga daun sangat mudah hancur atau
rusak. Sementara daun-daun yang dipanen pada umur tua diberi perlakuan khusus
berupa proses pelayuan yang dilanjutkan dengan proses pengeringan secara
perlahan agar diperoleh warna yang menarik. Untuk proses pengeringan, dalam
kapasitas besar, daun langsung dikeringkan tanpa melalui proses pencucian. Hal ini
tentunya akan mempengaruhi kualitas simplisia yang dihasilkan. Proses
pengeringan daun, bila dikeringkan dimatahari langsung sebaiknya tidak langsung
terkena cahaya matahari, karena akan merubah senyawa khlorofilnya, sehingga
produk yang dihasilkan akan berwarna agak kecoklatan. Bila menggunakan
pengering mekanik, suhu diatur agar tidak melebihi 40°C, karena pada suhu
tersebut senyawa khlorofilnya tidak akan rusak. Setelah dihasilkan simplisia
kering, bahan bisa diolah lebih lanjut sesuai kebutuhan kedalam menjadi bentuk
serbuk, ekstrak dan produk obat lainnya.

3.2.1.5 Penyimpanan
Dalam proses penyimpanan perlu perhatian khusus terhadap wadah dan
tempat penyimpanan simplisia, suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan lain-lain
selama penyimpanan. Lama penyimpanan setiap jenis bahan berbeda-beda
sehingga perlu diperhatikan pula agar mutu simplisia dapat dijamin. Simplisia
dapat disimpan di tempat dengan suhu kamar (15-30 °C), tempat sejuk (5-15 °C),
atau tempat dingin (0-5 °C), tergantung pada sifat dan ketahanan simplisia.

9
3.2.2 Analisa Makroskopis
3.2.2.1 Organoleptik
Berikut ciri-ciri organoleptik dari Simplisia Daun Salam
Tabel 2. Organoleptik Simplisia Daun Salam
Bentuk Serbuk
Warna Cokelat
Rasa Kelat
Bau Berbau khas aromatik lemah

3.2.3 Analisa Mikroskopis


3.2.3.1 Teknik Sampling
1. Ambil serbuk simplisia Syzigium polyanthum (Daun salam), dan diamati
organoleptisnya
2. Tuangkan sedikit saja serbuk simplisia ke atas kaca objek
3. Tambahkan Kloral hidrat satu tetes
4. Lalu pada sampel yang sudah ditetesi kloral hidrat ditutup dengan kaca penutup
5. Kemudian diletakan diatas mikroskop lalu diamati secara mikroskopis dan
diperhatikan fragmen pengenalnya

3.2.3.2 Teknik Analisa dengan Mikroskop


Pada saat pengamatan dengan mikroskop menggunakan lensa objectif dengan
perbesaran 45 kali dan lensa okuler perbesaran 10 kali maka perbesaran totalnya
adalah 10x45=450 kali ukuran semula. Terdapat 3 macam perbesaran dalam
mikroskop yang digunakan dalam praktikum, yaitu perbesaran 4x10 , 10x10 , dan
40x10.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Tabel 3. Hasil Praktikum Analisa Makroskopis dan Mikroskopis Daun Salam
Nama Latin Syzigium polyanthum
Nama Lokal Daun Salam
Makroskopis -Warna : Hijau
-Bentuk : Helaian daun
- Bau : Berbau khas aromatik lemah

Mikroskopis a. Epidermis bawah dengan


stomata tipe parasitik

11
b. Berkas pengangkut

c. Serabut klerenkim

d. Epidermis atas

12
e. Kristal kalsium oksalat

4.2 PEMBAHASAN
Syzigium polyanthum Folium
 Pertama diambil serbuk simplisia Syzigium polyanthum (Daun Salam) , lalu damati
organoleptisnya, hasil pengamatannya adalah simplisia berwarna hijau, bentuknya
helaian daun, dan berbau khas aromatik lemah.
 Kemudian dituangkan sedikit saja serbuk simplisia ke atas kaca objek.
 Lalu ditambahkan Kloral hidrat satu tetes, Tujuannya untuk menghilangkan
kandungan sel seperti amilum dan protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah
mikroskop. Namun, untuk pemeriksaan amilum dilakukan dengan penetesan air saja.
 Pada sampel yang sudah ditetesi ditutup dengan kaca penutup.
 Dan diletakan diatas mikroskop lalu diamati secara mikroskopis dan diperhatikan
fragmen pengenalnya, pada hasil pengamatan terdapat fragmen Epidermis bawah
dengan stomata tipe parasitik, Berkas pengangkut, Serabut sklerenkim,
Epidermis atas, dan Kristal kalsium oksalat (pada literatur terdapat fragmen
Epidermis bawah dengan stomata tipe parasitik, Berkas pengangkut, Serabut
sklerenkim, Epidermis atas dan kristal kalsium oksalat bentuk roset, lepas) sesuai
dengan yang disebutkan pada literatur.

13
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Pada praktikum Analisa makroskopis dan mikroskopis simplisia Syzigium polyanthum


Folium dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Pada analisa makroskopis secara organoleptis hasil pengamatannya adalah simplisia
berwarna hijau, bentuknya helaian daun, dan berbau khas aromatik lemah.
 Pada analisa mikroskopis dengan cara dilihat dibawah mikroskop terdapat fragmen
Epidermis bawah dengan stomata tipe parasitik, Berkas pengangkut, Serabut sklerenkim,
Epidermis atas, dan Kristal kalsium oksalat.

5.2 SARAN
Pada praktikum berikutnya sebaiknya lebih teliti pada saat melihat fragmen, dan
sebisa mungkin pada saat pengerjaan dilakukan secara cepat untuk menghemat waktu.

14
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.2008.FARMAKOPE HERBAL INDONESIA EDISI I.Jakarta, Kemenkes RI

United States Department of Agriculture. online:


https://plants.sc.egov.usda.gov/java/ClassificationServlet?source=display&classid=SYZYG
(diakses pada tanggal 8 Desember 2018 pukul 14.47)

Gholib, Djaenudin.2015. TANAMAN HERBAL ANTICENDAWAN:Badan Penelitian Dan


Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. online:
http://bbalitvet.litbang.pertanian.go.id/ind/images/publikasi/tanamanherbal (diakses pada
tanggal 8 Desember 2018 pukul 23.39)

Tjahjohutomo, Rudy.Tanpa Tahun. Teknologi Pascapanen Tanaman Obat :Balai Besar


Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. online:
http://pascapanen.litbang.pertanian.go.id/assets/media/publikasi/Tanaman_Obat_2101.pdf
(diakses pada tanggal 9 Desember 2018 pukul 00.02)

Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI.2014.Hasil Identifikasi/determinan


Tumbuhan:Universitas Sumatera Utara. online:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/52060/Appendix.pdf?sequence=1&is
Allowed=y (diakses pada tanggal 9 Desember 2018 pukul 11.02)

Ningsih, Indah Yulia.2016.Penanganan Pasca Panen.online:


http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/77275/Modul%20SJ%20Pasca%20P
anen_Indah%20Yulia%20Ningsih.pdf?sequence=1 (diakses pada tanggal 9 Desember 2018
pukul 11.15)

15