You are on page 1of 20

1.

Pembengkakan Skrotum akut:


Definisi
Akut skrotum merupakan suatu gejala nyeri dan bengkak pada skrotum beserta isinya yang
bersifat mendadak serta menimbulkan gejala lokal dan sistemik.
Etiologi
Penyebab tersering dari timbulnya akut skrotum adalah :
– Infeksi, seperti epididimitis, epididimoorchitis, orchitis, dll
– Trauma, seperti saat berolahraga, bersepeda, dll
– Torsio, seperti torsio testis, torsio appendiks testikularis
Penyebab lain yang jarang menimbulkan akut skrotum adalah :
– Tumor testis
– Hernia inguinalis inkarserata
– Kerusakan Nervus Pudendus (bicycle seat neuropathy), akibat lomba balap sepeda,
lomba pacu kuda, konstipasi berkepanjangan, dll
– Tindakan Pembedahan, seperti pada post operasi hernia, post operasi vasektomi
– Batu Ginjal
– Benjolan yang disertai dengan rasa tidak nyaman, berupa hidrokel, varikokel,
spermatokel, dll.
– Ereksi yang berkepanjangan
Untuk menentukan diagnosis dari akut skrotum dilakukan melalui :
1. Anamnesa
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan adalah :
· Usia pasien. Torsio testis lebih banyak terjadi pada bayi dan anak laki-laki post pubertas.
Henoch-scchonlein purpura dan torsio appendiks testis terjadi pada anak laki-laki
prepubertas dan epididimitis dapat dijumpai pada anak laki-laki postpubertas.
Henoch-schonlein purpura sebagai bagian dari proses infeksi sistemik yang
menimbulkan vaskulitis sering menyebabkan epididimitis dimana 38% anak-anak
yang menderita Henoch-scchonlein purpura juga mengalami nyeri pada skrotumnya.
· Onset dan durasi nyeri. Torsio testis biasanya dimulai dengan nyeri yang mendadak
seolah-olah ada tombol yang terlempar dimana hal ini disebabkan oleh puntiran pada
funikulus spermatikus yang terjadi tiba-tiba sehingga membuat testis terangkat
mendadak, nyeri semakin memberat dan pasien merasa sangat tidak nyaman. Bila
terdapat nyeri yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan (menengah) dan terjadi
dalam beberapa hari cenderung mengarahkan kepada epididimitis ataupun torsio
appendiks testis.
· Riwayat trauma: Adanya riwayat trauma tidak mengesampingkan diagnosis torsio testis.
Terjadinya trauma pada skrotum saat berolahraga sering menimbulkan nyeri dalam
waktu singkat. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut bila didapatkan adanya nyeri
menetap setelah satu jam dari terjadinya trauma untuk mengesampingkan diagnosis
ruptur testis dan torsio akut.
· Adanya riwayat hidrokel saat lahir serta undescensus testis dapat menjadi predisposisi
terjadinya hernia inguinalis ataupun torsio testis.
· Adanya gejala pada infeksi pada traktus urinarius lebih mengarahkan diagnosa kepada
epididimitis ataupun orkhitis. Gejala ini juga diikuti oleh gejala sistemik seperti
demam, nyeri perut, mual atau muntah serta adanya riwayat pernah menderita infeksi
pada traktus urinarius, pemasangan alat pada saluran kemih, trauma maupun tindakan
pembedahan. Kebanyakan proses inflamasi yang terjadi pada anak-anak tidak hanya
berhubungan dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri tapi juga disebabkan oleh
virus, trauma, atau adanya refluks urin.
2. Pemeriksaan Fisik
· Dilakukan pemeriksaan terhadap abdomen untuk mencari adanya nyeri pada regio flank
dan distensi vesika urinaria.
· Pemeriksaan pada region inguinal dilakukan untuk menentukan secara jelas adanya
hernia inguinalis, bengkak maupun eritema.
· Pemeriksaan pada genitalia dimulai dengan melakukan inspeksi pada skrotum. Kedua
sisi diperiksa untuk melihat adanya perbedaan ukuran yang nyata, derajat bengkak,
eritema, perbedaan ketebalan kulit dan posisi testis. Terdapatnya bengkak yang
unilateral tanpa diikuti perubahan warna kulit menandakan adanya hernia atau
hidrokel. Bila kulit skrotum terlihat mengkilat, gambaran blue dot sign dari testis
ataupun appendiks epididimis yang infark akan terlihat. Palpasi dimulai dari daerah
inguinal untuk menyingkirkan hernia inguinalis inkarserata. Kemudian dilanjutkan
dengan mempalpasi di daerah funikulus. Adanya funikulus spermatikus yang menebal
dan teraba lembut mendukung torsio tests, sedangkan bila teraba lembut saja
mengindikasikan epididimitis. Anak laki-laki diperiksa sambil berdiri sehingga dapat
dilihat posisi testis. Adanya peninggian dari salah satu testis menandakan adanya
torsio testis.
· Pemeriksaan refleks kremaster.
Refleks kremaster negatif pada torsio testis dan tetap positif pada torsio appendiks
epididimis.
· Pemeriksaan transiluminasi untuk membedakan hidrokel dengan hernia.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan urin dilakukan untuk menyingkirkan diagnosa infeksi traktus urinarius pada
pasien dengan nyeri akut pada skrotum. Pyuria dengan atau tanpa bakteri mengindikasikan
adanya suatu proses infeksi dan mungkin mengarah kepada epididimitis. Selain itu perlu juga
dilakukan pemeriksaan darah dan sediment urin.
Pemeriksaan Radiologis
Sampai saat ini, pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan adalah :
1. Color Doppler Ultrasonography
• Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis.
• Merupakan Gold Standar untuk pemeriksaan torsio testis dengan sensitivitas 82-90%
dan spesifitas 100%.
• Pemeriksaan ini menyediakan informasi mengenai jaringan di sekitar testis
yang echotexture
• Ultrasonografi dapat menemukan abnormalitas yang terjadi pada skrotum seperti
hematom, torsio appendiks dan hidrokel.
• Pada torsio testis, akan timbul keadaan echotexture selama 24-48 jam dan adanya
perubahan yang semakin heterogen menandakan proses nekrosis sudah mulai terjadi.
2. Nuclear Scintigraphy
• Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk melihat aliran
darah testis.
• Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang
meragukan dengan memakai ultrasonografi.
• Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah iskemia akibat
infeksi.
• Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu
• Adanya daerah yang mengandung sedikit proton pada salah satu skrotum merupakan
tanda patognomonik terjadinya torsio.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan akut skrotum tergantung dari diagnosis yang ditegakkan.

Protocol for the diagnosis and treatment of the acute scrotum

1. EPIDIDIMITIS
Penatalaksanaan epididimitis meliputi dua hal yaitu penatalaksanaan medis dan
bedah, berupa :
a. Penatalaksanaan Medis
Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses infeksi. Antibiotik yang sering
digunakan adalah :
· Fluorokuinolon, namun penggunaannya telah dibatasi karena terbukti resisten terhadap
kuman gonorhoeae
· Sefalosforin (Ceftriaxon)
· Levofloxacin atau ofloxacin untuk mengatasi infeksi klamidia dan digunakan pada
pasien yang alergi penisilin
· Doksisiklin, azithromycin, dan tetrasiklin digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri
non gonokokal lainnya
Penanganan epididimitis lainnya berupa penanganan suportif, seperti :16
· Pengurangan aktivitas
· Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan tirah baring total selama dua sampai tiga
hari untuk mencegah regangan berlebihan pada skrotum.
· Kompres es
· Pemberian analgesik dan NSAID
· Mencegah penggunaan instrumentasi pada urethra
b. Penatalaksanaan Bedah
Penatalaksanaan di bidang bedah meliputi :4,19
Scrotal exploration
Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari epididimitis dan orchitis
seperti abses, pyocele, maupun terjadinya infark pada testis. Diagnosis tentang
gangguan intrascrotal baru dapat ditegakkan saat dilakukan orchiectomy.
Epididymectomy
Tindakan ini dilaporkan telah berhasi mengurangi nyeri yang disebabkan oleh kronik
epididimitis pada 50% kasus.
Epididymotomy
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan epididimitis akut supurativa.
2. TORSIO TESTIS
Penatalaksanaan trauma testis dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
Konservatif
Terapi konservatif dilakukan bila hanya terjadi pembengkakan dan nyeri tekan
minimal, atau pada ultrasonografi tidak terbukti terdapat ruptur testis. Terapi
konservatif terdiri dari elevasi skrotum, aplikasi kantong es, dan pemberian antibiotik.
Antibiotik diberikan terutama pada kasus skin avulsion dan luka tusuk pada daerah
skrotum.
Tindakan Bedah
Tindakan bedah yang dilakukan tergantung dari jenis trauma, seperti :
– Trauma tumpul pada skrotum
Eksplorasi skrotum dilakukan untuk menyelamatkan testis, mencegah infeksi,
mengontrol perdarahan, dan mempercepat pemulihan. Bila terjadi ruptur epididimis,
maka tindakan yang dilakukan adalah epididimektomi sedangkan bila terjadi torsio
testis maka tindakan yang dilakukan adalah orchidopexy.
– Trauma tusuk (tembus) pada skrotum
Bila terjadi ruptur total pada pembuluh darah, dapat dilakukan reanastomosis
mikrovaskular, sedangkan bila terjadi trombosis pada funikulus spermatikus, maka
perlu dilakukan mikroreimplantasi.
– Skin avulsion
Pada keadaan ini yang perlu dilakukan pertama kali adalah debridement. Bila hanya
kehilangan sebagian besar, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah melakukan
penutupan dengan menjahitkan antar bagian luka dengan benang yang diserap dan
menggunakan jarum yang atraumatik. Bila kulit yang hilang hampir seluruhnya maka
perlu dilakukan skin grafting.

3. HERNIA INGUINALIS INKARSERATA


Penanganan Hernia Inkarserata
• Tidak ada terapi konservatif untuk hernia jenis ini. Yang harus dilakukan adalah operasi
secepatnya untuk menghilangkan ileus.
• Jenis operasi :
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya. Kantong dibuka
dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-
ikat setinggi mungkin lalu dipotong
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam
mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode
hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis internus dangan jahitan terputus,
menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus
abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke
ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m.
transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc
Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis
seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.
2. TORSIO TESTIS
Definisi
Torsio testis adalah terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan
aliran darah pada testis. Keadaan ini diderita oleh I diantara 4000 pria yang berumur kurang
dari 25 tahun, paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun). Disamping
itu, tak jarang janin yang masih berada dalam uterus atau bayi baru lahir menderita torsio
testis yang tidak terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral
maupun bilateral.

Torsio testis atau terpeluntirnya funikulus spermatikus yang dapat menyebabkan terjadinya
strangulasi dari pembuluh darah, terjadi pada pria yang jaringan di sekitar testisnya tidak
melekat dengan baik ke scrotum. Testis dapat infark dan mengalami atrophy jika tidak
mendapatkan aliran darah lebih dari enam jam.
Etiologi
Torsio testis terjadi bila testis dapat bergerak dengan sangat bebas. Pergerakan yang bebas
tersebut ditemukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
1. Mesorchium yang panjang.
2. Kecenderungan testis untuk berada pada posisi horizontal.
3. Epididimis yang terletak pada salah satu kutub testis.
Selain gerak yang sangat bebas, pergerakan berlebihan pada testis juga dapat menyebabkan
terjadinya torsio testis. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan pergerakan berlebihan itu
antara lain ; perubahan suhu yang mendadak (seperti saat berenang), ketakutan, latihan yang
berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi atau trauma yang mengenai scrotum.
Pada masa janin dan neonatus, lapisan yang menempel pada muskulus dartos masih belum
banyak jaringan penyangganya sehingga testis, epididimis dan tunika vaginalis mudah sekali
bergerak dan memungkinkan untuk terpeluntir pada sumbu funikulus spermatikus.
Terpeluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal.

Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan sistem
penyangga testis. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada
permukaan anterior dan lateral testis, pada keadaan ini tunika mengelilingi seluruh
permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. Keadaan ini
menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis
dan menggantung pada funikulus spermatikus. Keadaan ini dikenal sebagai anomali bell
clapper. Keadaan ini menyebabkan testis mudah mengalami torsio intravaginal.
Gambaran Klinis
Pasien-pasien dengan torsio testis dapat mengalami gejala sebagai berikut :
1. Nyeri hebat yang mendadak pada salah satu testis, dengan atau tanpa faktor
predisposisi
2. Scrotum yang membengkak pada salah satu sisi
3. Mual atau muntah
4. Sakit kepala ringan
Pada awal proses, belum ditemukan pembengkakan pada scrotum. Testis yang infark dapat
menyebabkan perubahan pada scrotum. Scrotum akan sangat nyeri kemerahan dan bengkak.
Pasien sering mengalami kesulitan untuk menemukan posisi yang nyaman.
Selain nyeri pada sisi testis yang mengalami torsio, dapat juga ditemukan nyeri alih di daerah
inguinal atau abdominal. Jika testis yang mengalami torsio merupakan undesendensus testis,
maka gejala yang yang timbul menyerupai hernia strangulata.

Pemeriksaan Fisik
Testis yang mengalami torsio letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi
kontralateral. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru terjadi, dapat diraba adanya lilitan
atau penebalan funikulus spermatikus. Keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam.
Testis kanan dan testis kiri seharusnya sama besar. Pembesaran asimetris, terutama jika
terjadi secara akut, menandakan kemungkinan adanya keadaan patologis di satu testis.
Perubahan warna kulit scrotum, juga dapat menandakan adanya suatu masalah. Hal terakhir
yang perlu diwaspadai yaitu adanya nyeri atau perasaan tidak nyaman pada testis. (6)Reflex
cremaster secara umum hilang pada torsio testis. Tidak adanya reflex kremaster, 100%
sensitif dan 66% spesifik pada torsio testis. Pada beberapa anak laki-laki, reflex kremaster
dapat menurun atau tidak ada sejak awal, dan reflex kremaster masih dapat ditemukan pada
kasus-kasus torsio testis, oleh karena itu, ada atau tidak adanya reflex kremaster tidak bisa
digunakan sebagai satu-satunya acuan mendiagnosis atau menyingkirkan diagnosis torsio
testis.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan keadaan akut
scrotum yang lain adalah dengan menggunakan stetoskop Doppler, ultrasonografi Doppler,
dan sintigrafi testis, yang kesemuanya bertujuan untuk menilai aliran darah ke testis.
(2)
Sayangnya, stetoskop Doppler dan ultrasonografi konvensional tidak terlalu bermanfaat
dalam menilai aliran darah ke testis. Penilaian aliran darah testis secara nuklir dapat
membantu, tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kasus bisa terlambat ditangani.
Ultrasonografi Doppler berwarna merupakan pemeriksaan noninvasif yang keakuratannya
kurang lebih sebanding dengan pemeriksaan nuclear scanning. Ultrasonografi Doppler
berwarna dapat menilai aliran darah, dan dapat membedakan aliran darah intratestikular dan
aliran darah dinding scrotum. Alat ini juga dapat digunakan untuk memeriksa kondisi
patologis lain pada scrotum.
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin, dan pemeriksaan
darah tidak menunjukkan adanya inflamasi kecuali pada torsio yang sudah lama dan
mengalami keradangan steril.

Diagnosis
Diagnosis torsio testis dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Secara umum, digambarkan pada bagan Alogaritma dan Clinical Pathway Torsio
Testis / Testicular Torsion;

Diagnosis Banding
1. Epididimitis akut: Penyakit ini secara umum sulit dibedakan dengan torsio testis. Nyeri
scrotum akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu, keluarnya nanah dari uretra, adanya
riwayat coitus suspectus (dugaan melakukan senggama dengan selain isterinya), atau
pernah menjalani kateterisasi uretra sebelumnya. Pada pemeriksaan, epididimitis dan
torsio testis, dapat dibedakan dengan Prehn’s sign, yaitu jika testis yang terkena dinaikkan,
pada epididmis akut terkadang nyeri akan berkurang (Prehn’s sign positif), sedangkan
pada torsio testis nyeri tetap ada (Prehn’s sign negative). Pasien epididimitis akut biasanya
berumur lebih dari 20 tahun dan pada pemeriksaan sedimen urin didapatkan adanya
leukosituria dan bakteriuria.
2. Hernia Scrotalis Incaserata: Pada anamnesis didapatkan riwayat benjolan yang dapat
keluar masuk ke dalam scrotum
3. Hidrokel

4. Tumor testis: benjolan dirasa tidak nyeri, kecuali jika terdapat perdarahan.

5. Edema scrotum yang dapat disebabkan oleh hipoproteinemia, filariasis, adanya sumbatan
saluran limfe inguinal, kelainan jantung, atau kelainan-kelainan yang tidak diketahui
sebabnya (idiopatik).

Diagnosis of Selected Conditions Responsible for the Acute Scrotum

Onset of Cremasteric
Condition symptoms Age Tenderness Urinalysis reflex Treatment
Testicular Surgical
torsion Acute Early puberty Diffuse – + exploration

Bed rest and


Appendic Localized to scrotal
eal torsion Subacute Prepubertal upper pole – + elevation

Epididymi
tis Insidious Adolescence Epididymal +/– + Antibiotic

Torsio testis torsio appendix testis epididimitis


Penatalksanaan
1. Non operatif
Pada beberapa kasus torsio testis, detorsi manual dari funikulus spermatikus dapat
mengembalikan aliran darah.
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu dengan jalan memutar
testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial, maka
dianjurkan untuk memutar testis ke arah lateral terlebih dahulu, kemudian jika tidak ada
perubahan, dicoba detorsi ke arah medial.
Metode tersebut dikenal dengan metode “open book” (untuk testis kanan), Karena
gerakannya seperti membuka buku. Bila berhasil, nyeri yang dirasakan dapat menghilang
pada kebanyakan pasien. Detorsi manual merupakan cara terbaik untuk memperpanjang
waktu menunggu tindakan pembedahan, tetapi tidak dapat menghindarkan dari prosedur
pembedahan.
Dalam pelaksanaannya, detorsi manual sulit dan jarang dilakukan. Di unit gawat darurat,
pada anak dengan scrotum yang bengkak dan nyeri, tindakan ini sulit dilakukan tanpa
anestesi. Selain itu, testis mungkin tidak sepenuhnya terdetorsi atau dapat kembali menjadi
torsio tak lama setelah pasien pulang dari RS. Sebagai tambahan, mengetahui ke arah mana
testis mengalami torsio adalah hampir tidak mungkin, yang menyebabkan tindakan detorsi
manual akan memperburuk derajat torsio.

2. Operatif

Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk mempercepat
proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya iskemia, oleh karena itu,
waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk pemeriksaan pencitraan, laboratorium,
atau prosedur diagnostik lain yang mengakibatkan testis tak dapat dipertahankan.
Tujuan dilakukannya eksplorasi yaitu :
1. Untuk memastikan diagnosis torsio testis
2. Melakukan detorsi testis yang torsio
3. Memeriksa apakah testis masih viable
4. Membuang (jika testis sudah nonviable) atau memfiksasi jika testis masih viable
5. Memfiksasi testis kontralateral
Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan oleh kecilnya
kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung lama (>24-48 jam). Sebagian
ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk tetap melakukan eksplorasi dengan alasan
medikolegal, yaitu eksplorasi dibutuhkan untuk membuktikan diagnosis, untuk
menyelamatkan testis (jika masih mungkin), dan untuk melakukan orkidopeksi pada testis
kontralateral.
Saat pembedahan, dilakukan juga tindakan preventif pada testis kontralateral. Hal ini
dilakukan karena testis kontralaeral memiliki kemungkinan torsio di lain waktu.
Jika testis masih viable, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian
disusul pada testis kontralateral. Orkidopeksi dilakukan dengan menggunakan benang yang
tidak diserap pada tiga tempat untuk mencegah agar testis tidak terpuntir kembali. Sedangkan
pada testis yang sudah mengalami nekrosis, dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan
kemudian disusul orkidopeksi kontralateral. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap
berada di scrotum dapat merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi
kemampuan fertilitas di kemudian hari.

Komplikasi
1. Atropi testis
2. Torsio rekuren
3. Wound infection
4. Subfertility
3. Bagaimana cara terjadinya batu struvit?

Batu struvit = batu infeksi


Dibentuk oleh Urease spliting bakteri
Reaksi terjadinya batu struvit:
(MAP = triple phospate = batu infeksi )
Urea Urease
CO(NH2)2 + H2O  2NH3 + CO2
NH3 + H2O  NH4 + OH –
CO2 + H2O  H2CO3

Akibatnya  PH urin naik sampai lebih dari 7.2


NH4+ + Mg2+ + PO43- + 6H2O  MgNH4PO4.6 H2O
(batu struvit)

Organisme Sering Jarang


(>90 %isolat) (5–30%isolat)

Gram - Proteus mirabilis - Kliebsielapneumonia


( > 90%) - Kliebsiela oxytoca
Negatif
- P.Retgeri,Vulgaris, magapnii - Serratia m
- Providentia s. - Hemofulus para
- Hemofilus influensa influensa
- Bordetella Pertusis - Bordetella brondu septica
- Bacteriodes C - Aeromonas sp
- Yersinia - Pasteurela sp.
Enterocolica
- Brucella Sp.
- Flavo bacterium Sp.

Gram - Stafilokokus aureus - - Stafilokok epidermidis


- Mikrokokus various - Bacillus sp.
Positif
- Korinebakterium : - Korinebakterium murium
- ulseran, rende, ovis, - Korinebakterium equine
- hofmanni - Streptokokus spesies
- Clostridium tetani
- Mycobacterium spesies

Mycoplasma - Strain Mycoplasma -


- Ureaplasma urelitikum
Yeast - Kriptokokus -
- Rhodotorula
- Sporobolmises
- Kandida humikola
- Tricho sporon c

Gejala Klinis:
- Batu cepat membesar  Staghorn stone
- Demam
- Nyeri pinggang
- Disuria
- Polakisuria
- Hematuria
- Badan lemah dan nafsu makan hilang
- pH urine> 7, kultur urine USB /UPB pos.
- FPA : Batu opaq, lamelar dan besar
Penatalaksanaan:
 Kultur dan test sensitivitas urine
 Belum / tak ada kultur +TS
 aminoglikosida
 Operasi / PCN / litotripsi / ESWL  dilindungi antibiotik ( Kuman tersembunyi di
pori-pori batu )
 Antibiotik:
 Sesui kultur + sensitivitas
 Bisa :
– Golongan quinolon
- Golongan Aminiglikosida ( terbaik)
 Tak boleh jangka panjang
 Antibiotika  2 minggu  kultur + Sensitivitas
Bila (+)  antibiotika 2 minggu
 kultur + tes sensitivitas
Bila (-)  Stop  2 minggu ulang kultur

 Mencegah kekambuhan:
o Minum banyak ( minimal 2 liter/24 jam)

o Cegah infeksi kambuh

o Kultur urine tiap 3 – 6 bulan sekali

o Cegah stasis urine