You are on page 1of 16

JENIS KEMITRAAN SAPI DAN UNGGAS

ANGGOTA KELOMPOK:

 ICHWANNUL AL ISLAM (C31180147)


 LUQMAN BIMO AJI (C31181293)
 ERSAN SULASTIO PAMBUDI (C31181050)
 FERI IRAWAN (C31180562)
 MUHAMMAD DIMAS FISAL TRIO ASHAR (C31181339)

PROGAM STUDI DIPLOMA III PRODUKSI TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT sebab karena limpahan
rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk menyelesaikan makalah kami
dengan judul “JENIS-JENIS KEMITRAAN SAPI PEDAGING DAN UNGGAS” ini.
Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi
agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah
SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni
Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling besar
bagi seluruh alam semesta.
Selanjutnya dengan rendah hati kami meminta kritik dan saran dari pembaca
untuk makalah ini supaya selanjutnya dapat kami revisi kembali. Karena kami sangat
menyadari, bahwa makalah yang telah kami buat ini masih memiliki banyak
kekurangan.
Kami ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak yang telah
mendukung serta membantu kami selama proses penyelesaian makalah ini hingga
rampungnya makalah ini.
Demikianlah yang dapat kami haturkan, kami berharap supaya makalah yang
telah kami buat ini mampu memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.

Jember, 18 Oktober 2018

Tim Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kemitraan di negara-negara yang telah lebih maju itu adalah karena kemitraan usahanya
terutama didorong oleh adanya kebutuhan dari pihak-pihak yang bermitra itu sendiri, atau
diprakarsai oleh dunia usahanya sendiri sehingga kemitraan dapat berlangsung secara
alamiah. Hal ini dimungkinkan mengingat iklim dan kondisi ekonomi negara mereka seperti
Korea Selatan, Jepang dan Taiwan dan sebagainya telah cukup memberikan rangsangan
ke arah kemitraan yang berjalan sesuai dengan kaidah ekonomi yang berorientasi pasar.
Sebagai suatu strategi pengembangan usaha kecil, kemitraan telah terbukti berhasil
diterapkan di banyak negara, antara lain di Jepang dan empat negara macan Asia, yaitu
Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan sebagainya. Di negara-negara tersebut kemitraan
umumnya dilakukan melalui pola sub kontrak yang memberikan peran kepada industri kecil
dan menengah sebagai pemasok bahan baku dan komponen industri besar.
Oleh karena itu, demi kemajuan suatu kemitraan di Negara Indonesia sendiri, maka
makalah ini dibuat agar dapat memberi kejelasan secara pasti mengenai kemitraan usaha
agar dapat diterapkan secara nyata dan konkret.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kemitraan?

2. Apa saja jenis-jenis kemitraan sapi pedaging dan ungags?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis kemitraan sapi
pedaging dan unggas
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini antara lain :
1. lebih mengenal kemitraan dalam peternakan
BAB II
Pembahasan
I. pengertian kemitraan pada sapi

Kemitraan adalah kerja sama antar pelaku agribisnis mulai dari proses praproduksi,
produksi hingga pemasaran yang dilandasi oleh azas saling membutuhkan dan
menguntungkan bagi pihak yang bermitra. Pemeliharaan sapi potong dengan pola seperti ini
diharapkan dapat meningkatkan produksi daging sapi nasional yang hingga kini belum
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Sapi potong adalah salah satu ternak ruminansia penghasil daging di Indonesia. Produksi
daging dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat
produktivitas ternak yang rendah. Rendahnya populasi sapi potong antara lain disebabkan
sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal
terbatas (Sugeng, 2007). Permintaan daging sapi yang tinggi merupakan peluang bagi usaha
pengembangan sapi potong lokal sehingga upaya pengembangan ternak sapi potong
beriorentasi agribisnis dengan pola kemitraan merupakan salah satu alternatife untuk
meningkatkan populasi sapi.
Agribisnis sapi potong diartikan sebagai suatu kegiatan usaha yang menangani berbagai
aspek siklus produksi secara seimbang dalam suatu paket kebijakan yang mutu melalui
pengelolaan pengadaan, penyediaan, dan penyaluran sarana produksi, kegiatan budi daya
pengelolaan pemasaran dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (Stakeholders),
dengan tujuan unutuk mendapatkan keuntungan yang seimbang dan proporsinal bagi kedua
belah pihak (Petani peternak dan perusahaan swasta). Pemeliharaan sapi di Provinsi Riau
yaitu usaha pembibitan dengan tujuan menghasilkan anak sapi dan usaha pemeliharaan
penggemukan (fattening). Usaha pembibitan ini bertujuan untuk memproduksi anak hasil
keturunan sapi untuk dibesarkan baik untuk tujuan penggemukan maupun untuk tujuan
pembibitan.
 Biaya Tetap (Fixed Cost). Biaya tetap adalah biaya yang penggunaannya tidak habis
dalam satu kali periode dan tidak bergantung pada besar kecilnya skala produksi.
Usahatani penggemukan sapi potong yang termasuk biaya tetap yaitu biaya
penyusutan kandang dan peralatan (sekop, garpu dan sapu lidi). Penyusutan adalah
alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang
diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara
langsung maupun tidak langsung.
 Biaya Variabel (Variable Cost) Biaya variabel merupakan biaya yang besar kecilnya
tergantung pada skala produksi yang terdiri dari biaya pembelian bibit sapi, biaya
pakan tambahan (ampas tahu), biaya obat-obatan dan biaya transportasi.
 Total biaya produksi merupakan penjumlahan biaya tetap (fixed cost) dan biaya
variabel.
Keuntungan merupakan hasil pengurangan dari penerimaan dengan seluruh biaya yang
dikeluarkan.
Untuk mencapai efisiensi usaha yang tinggi, diperlukan pengelolaan usaha secara terintegrasi
dari hulu hingga hilir serta berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan, sehingga dapat
memberikan keuntungan yang layak secara berkelanjutan. Kemitraan dimaksudkan sebagai
upaya pengembangan usaha yang dilandasi kerja sama antara perusahaan dan peternakan
rakyat, dan pada dasarnya merupakan kerja sama vertikal (vertical partnership). Kerja sama
tersebut mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus memperoleh keuntungan
dan manfaat (Mudikdjo dan Muladno 1999).
Alasan pentingnya peningkatan populasi sapi potong dalam upaya mencapai swasembada
daging antara lain adalah:
1). subsektor peternakan berpotensi sebagai sumber pertumbuhan baru pada sektor pertanian
2). rumah tangga yang terlibat langsung dalam usaha peternakan terus bertambah,
3). tersebarnya sentra produksi sapi potong di berbagai daerah, sedangkan sentra konsumsi
terpusat di perkotaan sehingga mampu menggerakkan perekonomian regional,
4). mendukung upaya ketahanan pangan, baik sebagai penyedia bahan pangan maupun
sebagai sumber pendapatan yang keduanya berperan meningkatkan ketersediaan dan
aksesibilitas pangan (Kariyasa 2005).

Beberapa komponen yang mendukung sistem agribisnis sapi potong, yaitu:


 Pola usaha sapi potong, yaitu Pembibitan dan Penggemukan
 Sistem pemeliharaan sapi potong di Indonesia dibedakan menjadi tiga, yaitu: intensif,
ekstensif, dan usaha campuran (mixed farming)
 Klasifikasi usaha peternakan menjadi empat kelompok
 Beberapa permasalahan dalam industri perbibitan sapi potong
 Pembibitan sapi potong
 Pola usaha penggemukan sapi potong
 Pola integrasi sapi-tanaman
 Sistem agribisnis sapi potong kemitraan
 Peluang pengembangan
Skala usaha dan tingkat pendapatan peternak menentukan pola kemitraan:
1) peternakan sebagai usaha sambilan, yaitu petani mengusahakan komoditas pertanian
terutama tanaman pangan, sedangkan ternak hanya sebagai usaha sambilan untuk
mencukupi kebutuhan keluarga (subsisten) dengan tingkat pendapatan usaha dari
peternakan <30 %.
2) peternakan sebagai cabang usaha, yaitu peternak mengusahakan pertanian campuran
dengan ternak dan tingkat pendapatan dari usaha ternak mencapai 30-70 %,
3) peternakan sebagai usaha pokok, yaitu peternak mengusahakan ternak sebagai usaha
pokok dengan tingkat pendapatan berkisar antara 70-100 %.
4) peternakan sebagai industri dengan mengusahakan ternak secara khusus (specialized
farming) dan tingkat pendapatan dari usaha peternakan mencapai 100%.
Saran untuk penulis agar jurnal ini melakukan penelitian ke lapang terkait sapi potong.
Bagaimana pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola
kemitraan jika menggunakan studi kasus?

Pola Usaha Sapi Potong Pola Kemitraan


1. Penggemukan 1. Skala usaha
2. Pembibitan 2. Skala
pendapatan
Gambar 1. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis dengan Pola
Kemitraan
Model pengembangan yang dapat menjadi alternatif adalah kemitraan inti-plasma.
Dengan membentuk wadah berupa organisasi/kelembagaan/koperasi sebagai inti dan anggota
kelompok ternak sebagai plasma. Inti memiliki peran utama dalam pendampingan kelompok
ternak berupa bimbingan teknis dan pembinaan manajemen.
selain itu memfasilitasi akses permodalan, pasar baru, sapronak, dan teknologi.
Anggota kelompok berperan sebagai plasma yang memiliki kewajiban budidaya(on
farm), dan menjual hasil produksi kepada inti. Pemilihan Plasma dilakukan melalui
mekanisme seleksi sehingga plasma merupakan anggota kelompok ternak yang memiliki
kualifikasi, dan telah memenuhi persyaratan tertentu.
Kemitraan usaha agribisnis ini merupakan hubungan bisnis antara inti dan plasma
dimana masing-masing pihak memperoleh penghasilan dari usaha bisnis yang saling terkait
dengan tujuan untuk mencai keuntungan bersama dengan dilandasi rasa saling membutuhkan
dan saling menguntungkan. Model pengembangan usaha meliputi dua jenis usaha yaitu,
usaha pembibitan dan usaha penggemukkan sapi potong. Model ini sangat mendukung
program pemerintah yaitu pembibitan ternak di pedesaan atau VBC (Village Breeding
Centre)untuk mewujudkan peternakan yang tangguh serta mewujudkan kecukupan daging
tahun 2010.
Dalam lingkup peternak usaha pembibitan dimaksudkan untuk memperbanyak jumlah
populasi sapi dan penjualan bibit sapi, sedangkan usaha penggemukan difokuskan untuk
memenuhi kebutuhan hidup bagi peternak. Penggabungan dua model usaha ini untuk
mengantisipasi penjualan sapi induk hanya untuk menutupi kebutuhan hidup peternak,
sehingga pertambahan populasi ditingkat peternak tidak berkurang.
Dalam pelaksanaanya sangat dibutuhkan kerjasama yang sinergis
diantara stakeholder peternakan yaitu pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan lembaga
keuangan. Pemerintah dewasa ini lebih berperan sebagai steering dari pada rowing. Artinya,
masyarakat dan pihak swastalah yang menjadi motor penggerak pengembangan peternakan,
sedangkan pemerintah hanya menyiapkan kondisi dan lingkungan yang baik untuk tumbuh
dan berkembangnya kegiatan agribisnis peternakan. Pemerintah berperan dalam membantu
mendukung penyediaan permodalan dengan menyediakan fasilitas permodalan yang layak.
Inti sebagai pendamping menyediakan rancangan kerja agribisnis mencakup manajemen,
aturan kerjasama, teknologi yang digunakan yang ditetapkan melalui musyawarah mufakat.
Dengan penerapan model ini akan mengarahkan pada kemandirian petani dalam mewujudkan
usaha tani berwawasan agribisnis.

PENGEMBANGAN INTI
Inti merupakan lembaga yang diharapkan dapat mendampingi petani dengan memberikan
pelayanan aspek teknis dan non teknis dari hulu hingga hilir sehingga tercipta usaha yang
produktif dan efisien. Dalam rangka pendampingan petani pengembangan inti diarahkan pada
kegiatan diantaranya:
1. Manajer pelayanan Inseminasi Buatan (IB) dan kesehatan ternak.
2. Penyediaan obat-obatan dan pakan ternak.
3. Pelayanan penelitian dan jasa pelatihan.
4. Akses pasar dan pengelolaan permodalan.
Karena inti merupakan penanggung jawab program sehingga diperlukan beberapa fasilitas
penunjang yaitu:
1. Sekertariat
2. Kandang percontohan
3. Pakan ternak dan obat-obatan.
4. Induk sapi potong.
5. Sapi jantan untuk penggemukkan.
6. Timbangan ternak
7. Bahan dan perlengkapan Inseminasi Buatan (IB).
Pemeliharaan ternak sapi potong membutuhkan waktu yang cukup lama dan modal yang
besar sehingga banyak orang merasa enggan beternak sapi potong. Meski begitu, kendala ini
bisa diatasi dengan mengembangkan usaha penggemukan sapi yang hanya membutuhkan
waktu selama 4 bulan. Usaha penggemukan sapi merupakan bagian dari rangkaian bisnis
ternak sapi guna mempercepat pemenuhan kebutuhan sapi potong.

Jenis atau Pola Kemitraan

Dalam Pasal 27 Undang-Undang Usaha Kecil ditentukan pola-pola kemitraan sebagai


berikut:

1. Inti Plasma
Pola inti plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau
usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan
usaha kecil selaku plasma, perusahaan inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan
sarana produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.

1. Subkontrak

Pola subkontrak adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau
usaha besar yang di dalamnya usaha kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh
usaha menengah atau usaha besar sebagai bagian dari produksinya. Kelemahan pola
subkontrak ini adalah pada besarnya kebergantungan pengusaha kecil pada pengusaha
menengah atau besar. Hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap kemandirian dan
keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha kecil.

Manfaat yang diperoleh pengusaha kecil melalui pola subkontrak ini adalah dalam hal :

 Kesempatan untuk mengerjakan sebagian produksi dan atau komponen.


 Kesempatan yang seluas-luasnya dalam memperoleh bahan baku.
 Bimbingan dan kemampuan teknis produksi dan atau manajemen.
 Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang digunakan.
 Pembiayaan.

3. dagang Umum

Pola dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah
atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar memasarkan produksi
usaha kecil atau usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau
usaha besar mitranya.

4. Waralaba

Pola waralaba adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha menengah atau usaha
besar pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi merk dan saluran distribusi
perusahaan kepada usaha kecil penerima waralaba dengan disertai bantuan dan bimbingan
manajemen.

Pengaturan yang terinci mengenai kemitraan bisnis pola waralaba ini telah diatur di dalam
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 26 Tahun 1997 tentang waralaba. Di dalam
peraturan pemerintah kemitraan sendiri terdapat pengaturan khusus tentang waralaba ini,
antara lain dalam pasal 7 yang menentukan sebagai berikut :

 usaha besar dan atau usaha menengah yang bermaksud memperluas usahanya dengan
memberi waralaba, memberikan kesempatan dan mendahulukan usaha kecil yang
memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai penerima waralaba untuk usaha yang
bersangkutan.
 Perluasan usaha oleh usaha besar dan atau usaha menengah dengan cara waralaba di
kabupaten atau kotamadya Daerah Tingkat II di luar ibukota propinsi hanya dapat
dilakukan melalui kemitraan dengan usaha kecil.

5. Keagenan

Pola keagenan adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha kecil diberi hak khusus
untuk memasarkan barang dan jasa usaha menengah atau usaha besar mitranya. Pengertian
agen hampir sama dengan distributor karena sama-sama menjadi perantara dalam
memasarkan barang dan jasa perusahaan menengah atau besar (prisipal). Namun, secara
hukum berbeda karena mempunyai karakteristik dan tanggungjawab hukum yang berbeda.

6. Modal Ventura

Modal Ventura dapat didefinisikan dalam berbagai versi. Pada dasarnya berbagai macam
definisi tersebut mengacu pada satu pengertian mengenai modal ventura yaitu suatu
pembiayaan oleh suatu perusahaan pasangan usahanya yang prinsip pembiayaannya adalah
penyertaan modal.Meskipun prinsip dari modal ventura adalah “penyertaan” namun hal
tersebut tidak berarti bahwa bentuk formal dari pembiayaannya selalu penyertaan. Bentuk
pembiayaannya bisa saja obligasi atau bahkan pinjaman, namun obligasi atau pinjaman itu
tidak sama dengan obligasi atau pinjaman biasa karena mempunyai sifat khusus yang pada
intinya mempunyai syarat pengembalian dan balas jasa yang lebih lunak.

Kemitraan terpadu
A. Organisasi
Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang
melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi
kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. Tujuan PKT
antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma, meningkatkan keterkaitan dan
kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma, serta membantu bank dalam
meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien.
Dalam melakukan kemitraan hubungan kemitraan, perusahaan inti (Industri Pengolahan
atau Eksportir) dan peternak plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara.
Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari
penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi. Proyek
Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga
unsur, yaitu
 Peternak / kelompok usaha kecil.
 Pengusaha besar atau eksportir.
 Bank pemberi KKPA.
Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang
usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok peternak/usaha kecil dengan Pengusaha
Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan
Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Peternak/usaha kecil merupakan plasma dan
Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi
terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan
usaha peternak plasma. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan
mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.
1. Peternak Plasma
Sesuai keperluan, peternak yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas
a. Peternak yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan
perkebunan atau usaha kecil lain,
b. Peternak /usaha kecil
yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu
memerlukan bantuan modal.
Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau
penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok
(b), kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas masih
bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha. Luas lahan atau skala
usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing
peternak/usaha kecil. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan
Sekretaris merangkap Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan
koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para peternak anggotanya,
didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu,
sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan
kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.
2. Koperasi
Para peternak/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya menjadi anggota
suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk
membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA
hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA
harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk
keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. Jika menggunakan
skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan
3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir
Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti
dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan
untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk
selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu
memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk
keperluan peternak plasma/usaha kecil. Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki
kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa
dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk
diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi peternak atau
plasma. Meskipun demikian peternak plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah
hasil panennya, yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti. Dalam hal perusahaan
inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh
Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang
dikoordinasikan oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian
Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi
memberikan bantuan biaya yang diperlukan.
Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki
keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing peternak/usaha kecil dengan
dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang
bisa kemudian dibebankan kepada peternak, dari hasil penjualan secara proposional menurut
besarnya produksi.
Sehingga makin tinggi produksi kebun peternak/usaha kecil, akan semakin besar pula honor
yang diterimanya.
4. Bank
Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Peternak Plasma
dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti, dapat kemudian
melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun.
Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi
yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi,
juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang
diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan
untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan
bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih peternak
yang paling besar. Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara peternak plasma
akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan, dan
bagaimana peternak akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta
bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti,
berdasarkan kesepakatan pihak peternak/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan
memotong uang hasil penjualan peternak plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati
bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan
rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak
peternak/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan
peternak plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung
kepada Bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat
pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak peternak plasma dengan bank.
B. Pola Kerjasama
Kemitraan antara peternak/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra, dapat dibuat
menurut dua pola yaitu :
a. Peternak yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian
kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/ Pengolahan Eksportir.
Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA kepada
peternak plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent, dan
pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani. Sedangkan masalah pembinaan
harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra.
b. Peternak yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, melalui koperasinya
mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili anggotanya) dengan
perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir. Dalam bentuk kerjasama seperti ini,
pemberian KKPA kepada peternak plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi
sebagai Executing Agent. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan
usaha, apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra, akan menjadi
tanggung jawab koperasi.

II. Kemitraan pada unggas

Konsep kemitraan dengan sistem kontrak atau yang lebih dikenal masyarakat dengan
sistem kemitraan adalah perusahaan inti berkewajiban menyediakan sapronak (pakan, DOC,
dan OVK) dan tenaga pembimbing teknis (PPL, dokter hewan), sedangkan peternak yang
bertindak sebagai mitra berkewajiban menyediakan kandang, peralatan, operasional, dan
tenaga kerja. Kerja sama tersebut dituangkan dalam dokumen kontrak yang disepakati kedua
belah pihak. Isi dokumen kontrak tersebut antara lain kontrak harga sapronak, harga jual
ayam, bonus prestasi, dan SOP atau aturan main kerja samanya.
Keuntungan dari sistem kontrak adalah peternak mendapat jaminan pemasaran dan
kepastian harga ayam, selain mendapat bantuan modal kredit sapronak dan bimbingan teknis.
Peternak hanya fokus dalam beternak dan berusaha semaksimal mungkin agar performance
ayam optimal. Peternak tidak memikirkan fluktuasi harga karena yang dipakai dalam
perhitungan laba rugi adalah harga kontrak.

Kelemahan sistem kontak adalah keuntungan peternak relatif lebih tipis karena ada
tambahan harga sapronak (untuk keuntungan inti). Selain itu, ketika harga di atas nilai
kontrak, harga ayam dalam perhitungan rugi laba tetap menggunakan harga kontrak yang
berlaku meskipun biasanya ada kebijaksanaan dari inti (tergantung kesepakatan/kontrak
awal) Dalam satu tahun, realisasi di lapangan tidak selamanya kedua belah pihak
memperoleh keuntungan. Bisa jadi ketika inti memperoleh keuntungan (dari penjualan
sapronak dan selisih harga pasar), mitra mengalami kerugian. Sebaliknya, ada kalanya mitra
untung, tetapi inti mengalami kerugian. Untuk itu, hendaknya antara mitra dan inti bisa saling
memahami satu sama lain sehingga terjalin kerja sama yang saling menguntungkan karena
ada kalanya untung dan ada kalanya rugi, baik pihak inti maupun plasma.

Perusahaan inti bisa mengalami kerugian dalam sistem kemitraan kontrak. Berikut beberapa
kondisi perusahaan inti menjadi rugi.

1) Harga pasar ayam hidup jatuh jauh di bawah harga pokok produksi inti. Pihak inti tidak
bisa menurunkan harga garansi karena inti sudak terikat kontrak harga sebelum proses
pemeliharaan dimulai.

2) Peternak mitra berbuat curang denganmemanipulasi hasil panen, menjual ayam tanpa
sepengetahuan pihak inti, dan memakai sebagian sapronak dari luar (bukan dari inti sesuai
dengan perjanjian).

3) Peternak tidak mau membayar hutang saat mengalami kerugian yang menimbulkan adanya
hutang dari mitra kepada inti.

Adapun mitra akan mengalami kerugian jika beberapa kondisi berikut.

1) Performance ayam jelek karena sakit atau pertumbuhan tidak optimal sehingga hasil
penjualan ayam tidak bisa menutupi hutang sapronak. Selisih antara biaya sapronak dan
penjualan ayam adalah kerugian peternak yang harus dilunasi kepada pihak inti. Selain itu,
mitra rugi dari biaya operasional yang telah terpakai.

2) Terjadi pencurian atau bencana lain yang disebabkan oleh kelalaian peternak mitra. Untuk
kejadian yang disebabkan oleh kelalaian, pihak mitra tetap berkewajiban membayar hutang
sapronak kepada inti.

Beberapa kondisi yang mengakibatkan kerugian kedua belah pihak, baik inti maupun plasma
(mitra), sebagai berikut.

1) Terjadinya force major, seperti gempa bumi dan banjir bandang yang menyebabkan semua
atau sebagian besar ayam mati. Biasanya dalam keadaan force major, mitra tidak
berkewajiban membayar kerugian. Kedua-duanya rugi. Mitra rugi biaya operasional,
sedangkan perusahaan inti rugi karena sapronak yang telah dikeluarkan tidak dibayar.
Ketentuan ini biasanya sudah dituangkan dalam pasal di dalam perjanjian kerja sama yang
telah disepakati bersama.

2) Kondisi ayam sakit sehingga harga jual ayam jauh di bawah dari harga kontrak. Meskipun
ada perjanjian potong harga jika ayam sakit, terkadang besarnya potongan belum bisa
menutupi kerugian bagi inti. Demikian juga bagi mitra, kondisi ayam sakit (FCR
membengkak) mengakibatkan penjualan ayam tidak bisa menutupi hutang sapronak.

Setiap perusahaan inti atau poultry shop mempunyai SOP masing-masing, tetapi model
konsep SOP kerja sama kemitraan yang umum digunakan sebagai berikut.

1) Perusahaan inti bertanggung jawab untuk menyediakan sarana produksi, seperti DOC,
pakan, OVK (obat, vaksin, dan vitamin) kepada peternak plasma.

2) Plasma bertanggung jawab menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta


perlengkapannya, termasuk biaya operasional dan tenaga kerja untuk pemeliharaan sapronak
yang disediakan inti.

3) Plasma tidak diperkenankan menggunakan tambahan sapronak di luar perjanjian yang


sudah disepakati.
4) Perusahaan inti berkewajiban untuk memasarkan kembali seluruh hasil panen dari
sapronak yang dibudidayakan oleh peternak plasma tersebut dengan harga jual yang telah
disepakati kedua belah pihak.

5) Status sapronak yang didapat oleh peternak plasma adalah hutang dari perusahaan inti
dengan diterapkannya harga beli kontrak. Adapun status ayam yang dipanen adalah piutang
peternak plasma kepada perusahaan inti dengan diterapkannya harga jual bergaransi.
DAFTAR PUSTAKA

https://ternakonline.wordpress.com/2009/08/15/usaha-kemitraan-agribisnis-peternakan-sapi/

file:///C:/Users/Win_8.1/Downloads/0da701e690724435b01713b83f0c59dfPenggemukanSapiPoton
g1.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/200478-analisis-usaha-sapi-potong-dengan-pola-k.pdf