You are on page 1of 26

LAPORAN PRAKTIKUM

INDUSTRI PAKAN TERNAK


(Pembuatan Pakan Mash, Crumble Dan Pellet)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Melulusi Mata Kuliah


Industri Pakan Ternak Pada Jurusan Ilmu Peternakan
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Islam Negeri Alauddin
Makassar

Oleh:

Kelompok I

IDFAR
JUSMI
RIFAL
TAHAQ
MUH. ILHAM
NUR ALFIANTI
ERVINA SULFANA
NURMIANI SYAM
ALIF SATRIAN
RISAL ARISANDI
ANDI SRI NOVITASARI

JURUSAN ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2016
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengolaan pakan merupakan suatu kegiatan untuk mengubah pakan

tunggal atau campuran menjadi bahan pakan baru atau pakan olahan. Bahan pakan

baru yang dihasilkan dari proses pengolahan diharapkan mengalami peningkatan

kualitas (Amrullah, 2011).

Pakan merupakan setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dicerna dan

tidak membahayakan bagi kesehatran ternak. Agar bahan dapat disebut dengan

pakan maka harus memenuhi persyaratan tersebut. Pakan adalah bahan yang dapat

dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan tidak

menimbulkan keracuan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang

mengkonsumsinya (Amrullah, 2011).

Pengolahan dan pengawetan bahan pakan dapat dilakukan dengan cara

fisik atau mekanik, kimiawi, biologis dan kombinasinya. Perlakuan secara fisik

dapat dilakukan dengan cara penjemuran, pencacah atau pemotongan,

penggilingan, penghancuran serta pembuatan pellet (Wahyono, 2014).

Mhas, crambel dan pellet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan

sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk

mengurangi sifat keambaan pakan, keuntungan pakan bentuk pellet adalah

meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi

metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang


tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat

nutrrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin (Wahyono, 2014).

Mash (tepung) adalah suatu bahan atau campuran bahan yang bentuknya

tepung, Crumble (berbentuk pecah/butiran) Bentuk ini merupakan perkembangan

lebih lanjut dari bentuk pellet. Pellet (berbentuk bulat panjang) Bentuk ini

merupakan perkembangan dari bentuk tepung. Kelemahan dari bentuk ini adalah

memungkinkan terjadinya kanibalisme, kurang cocok untuk anak ayam (Rasyaf,

2011).

Hal tersebut diatas yang melatarbelakangi diadakannya praktikum industri

pakan mengenai pengolahan bahan pakan untuk unggas sehingga dalam

pembuatannya menjadi lebih efektif dan efisien.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara penyusunan ransum untuk pakan mash, crumble dan pellet?

2. Bagaimana proses pembuatan pakan dalam bentuk mash, crumble, dan

pellet?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan dalam pelaksanan praktikum adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui cara penyusunan ransum untuk pakan mash, crumble dan

pellet.

2. Untuk mengetahui proses pembuatan pakan dalam bentuk mash, crumble,

dan pellet.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mash

1. Gambaran Umum Mash

Mash (tepung) adalah suatu bahan atau campuran bahan yang bentuknya

tepung. Pembuatan tepung ini dilakukan secara mekanis yaitu dengan cara

dihancurkan dengan alat penghancur. Ukuran partikel dapat disesuaikan dengan

menggunakan saringan (Rasyaf, 2011).

Tepung ikan merupakan salah satu komponen pakan ternak yang sangat

penting karena mengandung senyawa dan unsur-unsur yang diperlukan untuk

pertumbuhan ternak. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa tepung ikan

mengandung unidentified growth factor yang dapat merangsang pertumbuhan

ternak. (Zalniati, 2015).

Tepung ikan merupakan salah satu bahan baku pakan yang banyak

mengandung protein. Protein ikan dibutuhkan karena selain mudah dicerna, juga

mengandung asam amino dengan pola yang hampir sama dengan pola asam amino

yang terdapat dalam tubuh ternak. Pada umumnya, para peternak menambahkan

tepung ikan dalam formula pakan ternak untuk merangsang pertumbuhan daging

ternak mereka (Zalniati, 2015).

Protein tepung ikan mengandung 10 macam asam amino essensial yang

dibutuhkan oleh ikan, dimana umumnya mengandung Lysine yang relatif tinggi.

Asam amino tersebut antara lain, Arginine 4,10, Threonine 6,00, Leucine 5,40,

Iso-Leucine 3,39, Valine 3,81, Tryptophan 0,81, Histidine 1,73, Lysine 5,46.
Methionine 2,16, Phenylalanine 3,04. Tepung ikan mengandung beberapa vitamin

B komplek seperti B12, Ribolflavin, Niacin, Pantothenic acid dan choline.Selain

itu, tepung ikan juga mengandung mineral seperti kalsium dan fosfor, besi,

tembaga, serta beberapa trace mineral lainnya (Hidayat dkk, 2013).

Namun mutu tepung ikan yang ada di pasar sangat beragam.Adanya

keragaman mutu ini disebabkan oleh perbedaan jenis dan kesegaran ikan yang

diolah, juga disebabkan oleh teknik dan cara-cara pengolahannya (Zalniati, 2015).

2. Cara Pembuatan Mash

Pengolahan tepung ikan pada prinsipnya adalah perubahan bentuk dari

ikan utuh menjadi tepung ikan melalui tahap-tahap pemasakan, pengepresan,

pengeringan dan penggilingan. Sedangkan teknologi pengolahannya dapat

ditentukan berdasarkan ketersediaan bahan mentah yang akan diolah. Jika bahan

mentah yang akan diolah menjadi tepung ikan terdapat dalam jumlah yang besar

dan teratur pengadaanya, maka dapat dipilih cara konvensional yang lazim

digunakan dalam industri tepung ikan. Sebaliknya jika bahan mentah yang akan

diolah menjadi tepung ikan terdapat dalam jumlah yang kecil dan tidak teratur

pengadaanya, maka hasil tangkapan tersebut dapat diolah dalam skala kecil

dengan menggunakan metode sederhana (Zalniati, 2015).

Metode pengolahan tepung ikan yang banyak dilakukan adalah metode

tradisional dan konvensional. Selain metode tersebut tepung ikan juga dapat

diolah dengan metode semi konvensional, kelebihan pengolahan tepung ikan

secara konvensional adalah dilakukan secara mekanis dan tahap-tahap

pengolahannya merupakan suatu rangkaian yang kontinyu.Bahan mentah masuk


kedalam unit pengolahan dan keluar sudah dalam bentuk produk akhir (tepung

ikan).Sistem pengolahannya telah diterapkan oleh beberapa pabrik tepung

ikan.Mutu tepung ikan mudah untuk dikontrol, karena semua tahap-tahap

pengolahan dan kondisinya dapat diatur dengan baik (Mulki, 2014).

B. Crumble

1. Gambaran Umum Crumbel

Pakan crumble banyak digunakan dalam budidaya ternak unggas

khususnya ayam, karena ukuranya yang dinilai cocok sesuai ukuran paruh ayam.

Untuk menghasilkan crumble berkualitas, pengemasan merupakan salah satu

aspek yang menentukan baik tidaknya crumble. Karena dengan pengemasan yang

baik maka dihasilkan pula crumble yang berkualitas. Crumble merupakan tipe

ransum yang dihasilkan dari campuran bahan pakan pada mesin pellet dan

kemudian pellet tersebut dihancurkan dengan ukuran lebih kasar daripada mash.

Pemberian pakan dalam bentuk crumble diharapkan dapat lebih menjamin

campuran bahan pakan, termasuk bioaktif di dalam pakan lebih homogen. Dengan

demikian, bioaktif yang diberikan dalam pakan dapat dikonsumsi oleh ternak

seluruhnya. Ransum bentuk crumble memberi hasil yang lebih baik karena

bioaktif dapat tercampur secara homogen di dalam pakan yang dikonsumsi

(Retnani, 2011).

Menurut Kartadisastra (2013), crumble memiliki spesifikasi sebagai

berikut:

a. Pakan tidak berdebu dan mudah untuk dikonsumsi.

b. Kehilangan pakan yang disebabkan oleh angin sangat sedikit.


c. Bahan-bahan pakan penyusunya sangat kompak dan tercampur merata.

d. Meningkatkan konsumsi pakan.

e. Relatif tidak mengandung bakteri membahayakan.

f. Pemborosan pakan (akibat hilang) dapat ditekan.

g. Formula pakan menjadi lebih efisien.

Ransum dalam bentuk crumble menghasilkan produksi lebih baik

daripada ransum bentuk mash dan pellet pada broiler komersil selama umur 21-56

hari, selain itu ransum dalam bentuk crumble dan pellet juga lebih efisien dari

pada ransum mash ukuran partikel bahan baku akan menyebabkan crumble

semakin kuat karena semakin halus partikel tersebut maka akan semakin luas

permukaan kontak antar partikel, sehingga ikatan antar partikel kuat. Serat kasar

yang tinggi pada bahan dapat menjadikan crumble menjadi kurang kokoh dan

mudah rapuh (Retnani, 2013).

Bentuk ini merupakan perkembangan dari bentuk tepung. Kelemahan

dari bentuk ini adalah memungkinkan terjadinya kanibalisme, kurang cocok untuk

anak ayam.

2. Cara Pembuatan Crumble

Menurut Retnani (2013), menyatakan bahwa proses pembuatan crumble

sangatlah mudah diantaranya:

a. Pengeringan ( Drying)

Pengeringan bahan pakan dilakukan dengan tujuan untuk menurangi

kadar air sehingga dalam proses penggilingan diperoleh tepung yang baik.
Pada umumnya pengeringan dilakukan hingga memperoleh kadar air sampai

20%

b. Penggilingan (Milling)

Proses penggilingan dilakukan terhadap bahan baku berbentuk

butiran, yaitu jagung, bungkil kelapa dan bungkil kacang kedelai untuk diolah

menjadi tepung halus. Sebelum digiling bahan disaring dengan scanner yang

di dalamnya dipasang magnet untukmemisahkan bahan dari benda-benda

logam halus yang dapat mengakibatkan rusaknya mesin giling. Bahan-bahan

halus hasil penggilingan kemudian disimpan sementara di dalam Bin

(chamber) dengan conveyor dan elevator untuk proses selanjutnya

c. Pencampuran (Mixing)

Pencampuran bertujuan untuk mencampur semua bahan baku dan

bahan tambahan dengan komposisi tertentu untuk menjadi

pakan.Pencampuran dilakukan berdasarkan formula atau ramuan pakan ternak

yang akan diproduksi. Sebelum dicampur semua bahan ditimbang dengan

timbangan otomatis yang terdapat diatas mesin pencampur dan kemudian

dicurahkan ke dalam mesin pencampur (mixer) untuk dicampur dan diaduk

dengan CPO (Crude Palm Oil), obat-obatan, vitamin dan mineral.

d. Pembutiran (Pelleting)

Pembutiran bertujuan untuk membetuk hasil pencampuran menjadi

bentuk pellet, hasil pencampuran terlebih dahulu dipanaskan dengan uap

panas bersuhu 980 yang dialirkan ke dalam chamber pellet sehingga bentuk

bahan tersebut menajadi bubur panas. Bubur panas ini kemudian dialirkan
menuju hygieneseryang suhunya 920 dan bertujuan untuk menghigieniskan

pakan, kemudian dialirkan menuju cetakan berbentuk lingkaran dengan

saringan berdiameter 3-5 mm disisinya yang terdapat di ujung mesin pellet

dan ditekan/dipress keluar melalui saringan tersebut.Hasil pengepresan adalah

pakan berbentuk bulat memanjang dengan diameter yang sesuai dengan

diameter saringan pellet.Selanjutnya, pakan dipotong sesuai ukuran oleh

pisau-pisau yang bergerak secara otomatis. Hasil dari proses ini berbentuk

butiran-butiran yang disebut pellet. Pellet kemudian dialirkan melalui pipa ke

mesin pendinginan (cooler).

e. Pendinginan (Cooler)

Pendinginan bertujuan untuk mendinginkan pelletdan mengurangi

kelembaban pada pellet akibat dipanaskan dengan uap panas di chamber

pellet. Karena pellet yang masih panas dan mengandung kadar air tinggi akan

mudah terserang jamur sehingga produk tidak tahan lama.Pelletdidinginkan di

mesin pendingin (Cooler) dengan bantuan dua blower, blower pertama

mengalirkan udara dingin ke pellet, sedangkan blower kedua menghisap dan

mengalirkan udara panas ke udara bebas.

f. Penghancuran (Crumbling)

Proses ini khusus digunakan untuk produk crumble. Penghancuran

bertujuan untuk menghancurkan pellet menjadi butiran-butiran yang lebih

kecil dan halus yang disebut crumble.


C. Pellet

1. Gambaran Umum Pellet

Pellet adalah bentuk masa bahan atau pakan yang dibentuk dengan cara

ditekan dan dipadatkan melalui lubang cetakan secara mekanis. Pelleting

merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara mekanik yang banyak

diterapkan di industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak

yang bersifat selektif terhadap pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang

disukai. Ayam menyukai pakan berbentuk biji-bijian (grains) terkait dengan

morfologi sistem pencernaannya, yaitu memiliki paruh untuk mematuk dan

gizzard sebagai lokasi pencernaan secara mekanik (Syamsu, 2014).

Pellet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa

dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat

keambaan pakan. Keambaan pakan yang diolah menjadi pellet berkurang karena

densitasnya meningkat. Pellet yang memiliki densitas tinggi akan meningkatkan

konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer, serta mencegah de-

mixing yaitu peruraian kembali komponen penyusun pellet sehingga konsumsi

pakan sesuai dengan kebutuhan standar (Fani,2012).

Kualitas pellet merupakan aspek yang penting baik bagi produsen pakan

maupun peternak. Kualitas pellet ditentukan dengan durabilitas, kekerasan

(Hardness) dan ukuran. Kualitas pellet yang baik membutuhkan konsekuensi bagi

produsen pakan, yaitu berupa tingginya biaya produksi, tingginya energi dan

modal yang dibutuhkan. Bagi peternak unggas, kualitas pellet yang baik akan

menghasilkan konversi pakan yang rendah, pertambahan bobot badan yang tinggi,
dan meminimalkan pakan yang terbuang. Faktor-faktor yang mempengaruhi

kualitas pellet adalah formulasi (pengaruhnya sebesar 40%), Conditioning (20%),

ukuran partikel (20%), spesifikasi Die (cetakan) dari mesin pellet (15%), dan

pendinginan (5%) (Rasyaf, 2011).

Menurut hasil sejumlah penelitian, manfaat pelleting adalah untuk

memudahkan penanganan pakan dan meningkatkan performans ternak. Pelleting

meningkatkan kepadatan dan daya alir, mencegah pakan tercecer dan

diterbangkan angin, serta meningkatkan konversi ransum.Peningkatan performans

terjadi karena terjadi peningkatan kecernaan, penurunan pemisahan bahan

penyusun ransum, lebih sedikit energi untuk mencerna pakan, serta peningkatan

palatabilitas (Rasyaf, 2011).

2. Cara pembuatan Pellet

Yang dapat ditempuh dalam pembuatan pakan berbentuk pellet, yaitu

secara manual dan atau dengan menggunakan mesin (Feedmill). Pembuatan pakan

secara manual dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana. Alat

yang dipergunakan adalah sekop (Paddle) atau drum yang dirancang dengan

mengunakan prinsip kerja mixer. Cara yang kedua dengan menggunakan mesin.

Mesin pembuat pakan ini terdiri atas mesin-mesin penggiling (Hammer mill),

mesin penimbang (Weigher), mesin pemusing (Cyclone), mesin

pengangkat/pemindah bahan (Auger, Elevator), mesin penghembus (Blower),

mesin pencampur (Mixer), dan mesin pembuat pellet. Untuk pembuatan pellet

menggunakan alat blower, boiler, mash bin, cooler, die, screw conveyor, mixer,

vibrator dan transporter (Syamsu ,2014).


Menurut Syamsu (2014), Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap,

yaitu pengolahan pendahuluan, pembuatan pellet dan perlakuan akhir.

a. Proses pendahuluan

Proses pendahuluan bertujuan untuk pemecahan dan pemisahan

bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Setelah

seluruh bahan baku disiapkan, tahap selanjutnya adalah menggiling bahan baku

tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ukuran partikel yang seragam--

berbentuk tepung (mash). Peralatan yang digunakan adalah mesin penggiling

atau penghalus yang bisa digerakkan motor listrik atau motor bakar yang bahan

bakarnya bisa berupa bensin atau solar. Alat ini dikenal dengan nama disk

milldan hammer mill.

Seluruh bahan yang telah digiling ditimbang dengan menggunakan

timbangan duduk.Selanjutnya, bahan–bahan tersebut dicampurkan.

Pencampuran bisa menggunakan berbagai macam mesin pengaduk (mixer),

tipe vertikal, tipe horisontal, drum mixer dan mixer yang biasa digunakan

untuk mengaduk beton atau beton molen. Pencampuran bahan – bahan baku

pakan bisa juga digunakan secara manual dengan menggunakan cangkul atau

sekop dan beralaskan papan.

Untuk bahan baku dengan jumlah sedikit, terlebih dahulu

dilakukan pre-mixing atau pencampuran awal. Bahan yang dicampur pada

tahap awal meliputi vitamin, mineral, kalsium karbonat, asam amino kristal,

pemacu pertumbuhan, koksidiostat dan antioksidan. Penimbangan bahan –


bahan ini harus dilakukan dengan timbangan yang mempunyai tingkat

ketelitian tinggi.

Minimal diperlukan waktu 15 menit untuk mencampur bahan pakan

dengan menggunakan mesin pencampur jenis beton molen supaya diperoleh

campuran yang merata.Apabila digunakanmixer horisontal, diperlukan waktu

pencampuran lebih singkat.

Tahap akhir pencampuran adalah menambahkan bahan baku cairan,

yaitu minyak kelapa dengan menggunakan sprayer atau penyemprot sambil

terus dilakukan pengadukan. Jika dalam formula pakan diperlukan bahan

bakucair, sebaiknya alat yang digunakan berupa beton molen. Beton molen ini

umumnya mempunyai dua kapasitas volume. Ini berbeda halnya dengan mixer

jenis lain yang mempunyai kapasitas beragam, hingga 1.000 kg campuran

pakan setiap kali pengadukan.

b. Pembuatan pellet

Pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan

pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan

pergudangan. Proses penting dalam pembuatan pellet adalah pencampuran

(mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan

pendinginan (cooling).

Proses conditioning dilakukan dengan bantuan steam boiler yang

uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Apabila penguapan dilakukan

dengan mixer jenis beton molen, proses penguapan dilakukan sambil

mengaduk campuran pakan tersebut. Penguapan tidak boleh dilakukan di atas


suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 80°C. Pengukusan dengan suhu terlalu

tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi

kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino.

Dalam proses pembuatan pakan ayam ras pedaging, penguapan tidak mutlak

diperlukan. Selama proses kondisioning terjadi penurunan kandungan bahan

kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan menguapnya

sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air

bahan berkisar 15 – 18%.

Sistem kerja mesin pencetak sederhana adalah dengan mendorong

bahan campuran pakan di dalam sebuah tabung besi atau baja dengan

menggunakan ulir (Screw) menuju cetakan (Die) berupa pelat berbentuk

lingkaran dengan lubang – lubang berdiameter 2 – 3 mm, sehingga pakan akan

keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pellet. Kelemahan sistem ini adalah

diperlukannya tambahan air sebanyak 10 – 20% ke dalam campuran pakan,

sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut.

Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan

menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa

menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Di samping itu,

pellet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat.

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di

dalam pakan menjadi kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan

ternak pada umumnya. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan

dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin


pellet sistem kering, cukup dikering anginkan saja hingga uap panasnya

hilang, sehingga pellet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke

bentuk tepung.

Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran di bawah

terik sinar matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan

dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada

cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan

sampai tercemar debu atau kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang

dikhawatirkan akan membawa penyakit. Jika alat yang digunakan mesin

pengering, tentu akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang

cukup tinggi.

c. Perlakuan akhir

Penentuan ukuran pellet disesuaikan dengan jenis ternak.


BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu Dan Tempat

Waktu dan tempat yang digunakan dalam praktikum industri pakan

dilaksanakan pada hari Sabtu dan Selasa 18 dan 21 Juni 2016, bertempat di

Laboratorium Animal Jurusan Ilmu Peternakan, Fakultas Sains dan Teknologi,

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

B. Alat dan Bahan

1. Mash

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan mash atau

konsentrat adalah sebagai berikut :

a. Alat

Alat yang digunakan dalam pembuatan (mash) atau konsentrat yaitu :

ayakan atau saringan, pengaduk, blender. timbangan, oven dan baskom.

b. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu: Limbah ikan.

2. Crumble dan Pellet

Adapun alat dan bahan dalam pembuatan crumble adalah sebagai

berikut :

a. Alat

Alat yang digunakan dalam pembuatan (Crumble dan pellet) yaitu :

Ayakan untuk Crumble, kompor, mesin cetak (pelting) untuk pembuatan pellet,

oven, panci, pengaduk, timbangan, wadah pencampuran bahan (ember, baskom).


b. Bahan

Bahan yang digunakan dalam pembuatan crumble dan pellet yaitu: Air

secukupnya, dedak, jagung giling, konsentrat, mineral/ premix, tepung tapioka/

kanji.

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Mash

a. Menimbang bahan yang akan di gunakan

b. Mengeringkan bahan tersebut, dengan cara memasukkan kedalam oven

dengan suhu 60 selama 72 jam.

c. Menghaluskan bahan yang sudah kering dengan menggunakan belender dan

mengayat bahan sampai halus

d. Mencampur semua bahan sampai homogen

2. Crumble dan pellet

a. Menimbang bahan yang akan digunakan

b. Mencampur semua bahan sampai homogen

c. Menambahkan air secukupnya hingga membentuk adonan dengan kadar air

25-30%

d. Memasak adonan tersebut sampai berwarna kecoklatan sambil diaduk

e. Setelak masak angkat adonan dari panci dan siap dicetak.

f. Khusus crumbele, hanya dianyak dan untuk pellet dicetak menggunakan

mesin pencetak pellet

g. Kemudian mengeringkan menggunakan oven atau trik matahari.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Mash


No. Klasifikasi Keterangan
1. Warna Krem
2. Rasa Asin
3. Aroma Amis
4. Tekstur Lembut
Sumber: Laboratorium Basic Animal Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2016.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pembuatan Crumble


No. Klasifikasi Sebelum Sesudah
1. Warna Coklat kekuningan Coklat kekuningan
2. Rasa Hambar Hambar
3. Aroma Khas dedak Khas pakan
4. Tekstur Kasar Kasar
Sumber: Laboratorium Basic Animal Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2016.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Pembuatan Pellet


No. Klasifikasi Sebelum Sesudah
1. Warna Coklat kekuningan Coklat kekuningan
2. Rasa Hambar Hambar
3. Aroma Khas dedak Khas pellet
4. Tekstur Kasar Kasar
Sumber: Laboratorium Basic Animal Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2016.
B. Pembahasan

1. Pembuatan Mash

Mash adalah bahan pakan atau campuran bahan berbentuk tepung. Bahan

yang digunakan dalam pembuatan mash yaitu ikan kering yang terlebih dahulu

digiling sebelum dicampurkan dalam pembuatan crumble dan pellet. Tujuan

penggilingan ikan kering tersebut untuk memperkecil dan menghaluskan bahan

baku sehingga permukaannya menjadi lebih luas serta mempermudah dalam

proses pencampuran dan pencetakan.

Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa tepung ikan memiliki warna

krem, rasa asin, beraroma amis serta tekstur yang lembut. Warna krem ini

tergantung dari lama proses pengeringan ikan, selain itu rasa asin dari tepung ikan

dipengaruhi oleh lama perendaman dalam air garam pada saat proses pengasinan,

aroma amis tepung ikan tergantung dari jumlah garam yang digunakan pada saat

perendaman sebelum dikeringkan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Riansyah,

2013), yang menyatakan bahwa pengolahan dengan cara pemberian garam akan

meningkatkan rasa serta aroma pada produk yang dihasilkan. Selama proses

pengolahan akan terjadi proses hidrolisa protein menjadi asam-asam amino dan

peptida, kemudian asam-asam amino akan terurai lebih lanjut menjadi komponen-

komponen yang berperan dalam pembentukan cita rasa.

2. Pembuatan Crumble

Crumble adalah pakan berbentuk butiran halus yang ukurannya lebih kecil

dari pellet dan merupakan campuran dari beberapa bahan pakan bentuk mash.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada proses pembuatan crumble


bahan yang digunakan yaitu konsentrat berupa tepung ikan 150 gram, jagung

giling 413 gram, dedak padi 517 gram, tepung tapioka dan mineral sebanyak 7,7

gram. Alat yang digunakan berupa timbangan, panci, kompor, baskom, pengaduk,

ayakan, serta oven.

Hasil uji organoleptik pembuatan crumble yaitu sebelum dikeringkan

menggunakan oven berwarna coklat kekuningan dan setelah dikeringkan juga

berwarna coklat kekuningan. Rasa dari crumble sebelum dikeringkan yaitu

hambar dan setelah dikeringkan juga memiliki rasa hambar. Aroma dari crumble

sebelum dikeringkan yaitu khas dedak dan setelah dikeringkan memiliki aroma

khas pakan, perubahan aroma terjadi karena pada saat pengeringan menggunakan

oven aroma khas dedak yang terdapat pada crumble ikut menguap bersama

dengan uap air. Tekstur dari crumble sebelum dan sesudah dikeringkan yaitu

kasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriyono (2003), yang menyatakan bahwa

kandungan air dalam bahan pangan merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi aktivitas metabolisme, aktivitas enzim, aktivitas mikroba dan

aktivitas kimiawi, yaitu terjadinya ketengikan dan reaksi-reaksi non enzimatis,

sehingga menimbulkan perubahan sifat organoleptik, penampakan, tekstur dan

citarasa serta kandungan nutrisinya.

3. Pembuatan Pellet

Pellet adalah pakan yang dipadatkan sedemikian rupa berbentuk bulat

memanjang dan merupakan campuran dari beberapa bahan pakan bentuk mash.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada proses pembuatan pellet bahan

yang digunakan yaitu konsentrat berupa tepung ikan 150 gram, jagung giling 413
gram, dedak padi 517 gram, tepung tapioka dan mineral sebanyak 7,7 gram. Alat

yang digunakan berupa timbangan, panci, kompor, baskom, pengaduk, mesin

cetak pellet (pelleting) serta oven.

Hasil uji organoleptik pembuatan pellet yaitu sebelum dikeringkan

menggunakan oven berwarna coklat kekuningan dan setelah dikeringkan juga

berwarna coklat kekuningan. Rasa dari pellet sebelum dikeringkan yaitu hambar

dan setelah dikeringkan juga memiliki rasa hambar. Aroma dari pellet sebelum

dikeringkan yaitu khas dedak dan setelah dikeringkan memiliki aroma khas pellet,

adanya perubahan aroma ini karena selama proses pengeringan dalam oven terjadi

penguapan kadar air yang menyebabkan perubahan aroma pellet yang tadinya

khas dedak menjadi khas pellet. Tekstur dari pellet sebelum dan sesudah

dikeringkan yaitu kasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasibun (2005), yang

menyatakan bahwa pengeringan akan menyebabkan tejadinya perubahan warna,

tekstur dan aroma bahan pangan. Pada umumnya bahan pangan yang dikeringkan

akan mengalami pencoklatan (browning) yang disebabkan oleh reaksi-reaksi non

enzimatik.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini yaitu:

1. Cara penyusunan ransum untuk pembuatan pakan mash, crumble dan pellet

yaitu dengan menghitung kebutuhan protein 20% untuk 1 kg menggunakan

metode bujur sangkar dimana PK tepung ikan 55%, PK jagung 10%, PK dedak

12%, sehingga diperoleh hasil yaitu jagung giling sebanyak 413,6 gram, dedak

halus 517 gram, tepung ikan 54 gram, tepung tapioka 7,7 gram dan mineral 7,7

gram.

2. Pembuatan pakan ternak dalam bentuk mash yaitu dengan cara menimbang

bahan yang akan digunakan kemudian mengeringkannya, selanjutnya menggiling

bahan sampai halus menggunakan blender. Pembuatan pakan ternak dalam bentuk

crumble dan pellet yaitu dengan cara menimbang bahan yang akan digunakan

kemudian mencampur semua bahan tersebut sampai homogen, menambahkan air

secukupnya hingga membentuk adonan kemudian memasak adonan tersebut

sampai berwarna kecoklatan sambil sesekali diaduk, setelah masak adonan

diangkat dan siap dicetak. Khusus crumble cukup diayak menggunakan ayakan

dan untuk pellet dicetak menggunakan mesin pelleting. Terakhir mengeringkan

crumble dan pellet tadi menggunakan oven bersuhu 60°C selama 72 jam.
B. Saran

Saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini yaitu sebaiknya

praktikum selanjutnya bahan digunakan dalam pembuatan pellet ditambah lagi

untuk melengkapi apabila terdapat kekurangan zat nutrisi (gizi) dari salah satu

bahan pakan yang digunakan.


Lampiran

Diketahui PK tepung ikan 55% dengan maksimal penggunaan 1-10%, PK

yang dibutuhkan dalam pembuatan crumble dan pellet yaitu 20% untuk 1 kg.

Bahan yang digunakan yaitu tepung ikan (konsentrat), tepung jagung, dedak

halus, mineral dan tepung tapioka (PK jagung 10%, PK dedak 12%, PK tepung

ikan 55%, PK yang dibutuhkan 20%). Menggunakan metode bujur sangkar.

Diketahui :

Campuran A

Jagung 10 8

20

Dedak 12 10 +
18%
Tepung Ikan

Campuran A 18 35

20

Tepung ikan 55 2 +
37%
8 35
Jagung = x x 100 = 41, 36
18 37

10 35
Dedak = x x 100 = 51,70
18 37

2
Tepung ikan = x 100 = 5,40 +
37
98, 46%

Untuk tepung tapioka dan mineral yang digunakan yaitu masing-masing

sebanyak 0,77%.
Untuk pembuatan 1 kg pakan maka bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu:
41,36
Jagung = x 1000 = 413,6 gram
100

51,70
Dedak = x 1000 = 517 gram
100

5,40
Tepung ikan = x 1000 = 54 gram
100

0,77
Tepung tapioka = x 1000 = 7,7 gram
100

0,77
Mineral = x 1000 = 7,7 gram +
100

1000 gram (1 kg)


DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, I.K, 2011. Nutrisi Ayam Broiler. Ed ke-1. Bogor. Lembaga Satu Gunung
Budi.

Bian, Arbian. 2013. Teknik Pengendalian KEAMANAN Bahan Baku dan Pakan
di PT. Charoen Pokphan Indonesia. Balaraja Feed Mill Co. Ltd. Laporan
Magang. Jurusan ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Intitut Pertanian Bogor. (Tanggal 21 Juni 2016).

Fani, Fanya. 2012.Kriteria Pakan Berkualitas. Jakarta: Universitas Indonesiaa


Press.

Hidayat, D. dan Ningrum, S. 2013. Kualitas Dan Kuantitas Tepung Ikan Dalam
Ransum Ikan.Prosiding Rapat Teknis Tepung Ikan No. 6/RTTI/1985 hal
85.(Tanggal 20 Juni 2016).

Hakim Lukmanul. 2012. Pengertian Pakan Mash, Pellet dan Crumble.


http://weblight.pengertian_pakan_mash_pellet_dan_crambel.com.(Tangga
21 Juni 2016).

Johan, Alian. 2015. Mutu dan Kualitas Pakan.Jakarta: UI Press.

Mulki. 2014. Pemilihan Teknologi Tepung Ikan. Mimbar Ilmiah No. 2/15/2014.
(Tanggal 20 Juni 2014)

Syamsu, Jasmal. 2014. Karakteristik Fisik Pakan Itik Bentuk Pellet Yang Diberi
Bahan Perekat Berbeda Dan LamaPenyimpanan Yang Berbeda.Jurnal
Ilmu Ternak, vol 7 no.2, 128-134.(Tanggal 20 Juni 2014).

Rasyaf. M. 2011. Metode Kuantitatip. Industri Ransum Ternak.Kanisius.


Yogyakarta.

Retnani, Yuli. 2013. Alur Industri Pakan dan Mekanisme Kerja.Laporan


Penelitian Litbang.ac.id.(Tanggal 20 Juni 2016).

Kartanisastra. 2013. Ilmu Makanan Ternak Umum. Yokyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Wahyono. 2014. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. Agromedia Pustaka,


Jakarta.S

Zalniati, Nur. 2015. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Yogyakarta: Liberty.