You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organik, Reaksi ini
terjadi dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari
molekul yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Proses
hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan
banyak digunakan dalam pembuatan bermacam-macam senyawa organik. Proses ini
umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah molekul. Reaksi
dilakukan pada suhu dan tekanan yang berbeda tergantung pada substrat dan aktivitas
katalis.
Proses hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan banyak
digunakan dalam pembuatan bermacam-macan senyawa organik. Industri yang
menggunakan proses hidrogenasi antara lain adalah industri sorbitol methanol,
margarine, ammonia dan lain-lainnya Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas
hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang menggunakan sumber hidrogen
alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer.
Dunia memiliki cadangan minyak yang dikenal cukup untuk hanya 41 tahun, tapi
memiliki cadangan batubara hingga 155 tahun. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif
untuk menggantikan energi minyak bumi. Saat ini telah dikembangkan teknologi
pencairan batubara sebagai bahan bakar yang hampir setara dengan output minyak
bumi. Pengembangan teknologi untuk menghasilkan energi baru juga berhasil
mengembangkan suatu teknologi pencairan batubara bituminous dengan
menggunakan tiga proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system, dan
direct hydrogenation to liquefy bituminous coal. Ketiga proses tersebut terintegrasi
dalam proses NEDOL (NEDO Liquefaction), suatu proses pencairan batubara yang

1
dikembangkan oleh NEDO (lembaga kajian teknologi Jepang), dengan tujuan untuk
mendapatkan hasil pencairan yang lebih tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang di bahas dalam penulisan ini adalah;
1. Pembuatan Batubara cair menggunakan metode Hidrogenesasi.
2. Sistem pengolahan Batubara Cair.
3. Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang Batubara cair.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Mengetahui pengolahan Batubara cair .
2. Mengetahui apa itu Metode Hidrogenesasi dalam pencairan Batubara.
3. Mengetahui Kebijakan Pemerintah Indonesia Tentang Batubara Cair.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penulisan ini hanya membahas:
1. Pengolahan Batubara cair Menggunakan Metode Hidrogenesasi.
2. Manfaat Batubara cair .
3. Kebijakan Pemerintah Indonesia Tentang Batubara cair.

1.5 Metode Penilitian


Metode yang diterapkan didalam penulisan seminar ini adalah studi literatur,
merupakan metode pengumpulan data terhadap literatur-literatur yang berkaitan
dengan materi yang dibahas dan mencari data sekunder antara lain:
1. Kegiatan penambangan yang terkait dengan pembahasan penulisan.
2. Artikel yang membahas mengenai Proses Pencairan Batubara.
Studi ini didapat dari pencarian bahan-bahan pustaka yang diperoleh dari :
1. Perpustakaan.

2
2. Bulletin, brosur-brosur.
3. Gambar dan table.
4. Jurnal.
5. Internet

Metode download data merupakan metode yang dilakukan untuk pengumpulan


data. Dengan memanfaatkan internet untuk mendapatkan file atau data yang
berhubungan dengan materi yang akan dibahas.

1.6 Manfaat Penulisan


Diharapkan dari hasil penulisan kali ini dapat bermanfaat untuk pengetahuan bagi
pembaca tentang proses pembuatan batubara cair , Serta manfaat Batubara cair bagi
ketahanan energi nasional.

3
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertia Batubara Secara Umum


Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang terbentuk dari endapan,
batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara
terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan
diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga
membentuk lapisan batubara.
Proses Pembentukan batubara itu sendiri dimulai sejak zaman batubara
pertama (Carboniferous Period / Periode Pembentukan Karbon atau Batubara), yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu.

(sumber : Anonim2, 2012)


Gambar 2.1 Ilustrasi proses pembentukan Batubara
Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta
lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai‘maturitas organik’. Proses awalnya
gambut berubah menjadi lignite (batubara muda) atau‘brown coal (batubara coklat)’

4
– Ini adalah batubara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan
batubara jenis lainnya, batubara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari
hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.

Akibat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun,
batubara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batubara ‘sub-bitumen’.

Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batubara menjadi


lebih keras dan warnanya lebih hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’.
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus
berlangsung hingga membentuk antrasit.

2.2 Batubara di Indonesia

Produksi & Ekspor Batubara Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia.
Sejak tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia menjadi eksportir
terdepan batubara thermal. Porsi signifikan dari batubara thermal yang diekspor
terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis
kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram) yang sebagian besar permintaannya berasal
dari Cina dan India. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, cadangan batubara Indonesia
diperkirakan habis kira-kira dalam 83 tahun mendatang apabila tingkat produksi saat
ini diteruskan.

Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati


peringkat ke-9 dengan sekitar 2.2 persen dari total cadangan batubara global terbukti
berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan

5
batubara total Indonesia terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-
bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.

Ada banyak kantung cadangan batubara yang kecil terdapat di pulau Sumatra,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan
cadangan batubara terbesar di Indonesia adalah :

1. Sumatra Selatan
2. Kalimantan Selatan
3. Kalimantan Timur

(sumber : Indonesia Investments, 2018)


Gambar 2.2 Peta Pesebaran Batubara Terbesar di Indonesia

Industri batubara Indonesia terbagi dengan hanya sedikit produsen besar dan
banyak pelaku skala kecil yang memiliki tambang batubara dan konsesi tambang
batubara (terutama di Sumatra dan Kalimantan).

Sejak awal tahun 1990an, ketika sektor pertambangan batubara dibuka


kembali untuk investasi luar negeri, Indonesia mengalami peningkatan produksi,
ekspor dan penjualan batubara dalam negeri. Namun penjualan domestik agak tidak
signifikan karena konsumsi batubara dalam negeri relatif sedikit di Indonesia. Toh
dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan penjualan batubara domestik yang
pesat karena pemerintah Indonesia berkomitmen terhadap program energi

6
ambisiusnya (menyiratkan pembangunan berbagai pembangkit listrik, yang sebagian
besar menggunakan batubara sebagai sumber energi karena Indonesia memiliki
cukup banyak cadangan batubara). Selain itu, beberapa perusahaan pertambangan
besar di Indonesia (misalnya penambang batubara Adaro Energy) telah berekspansi
ke sektor energi karena harga komoditas yang rendah membuatnya tidak menarik
untuk tetap fokus pada ekspor batubara, sehingga menjadi perusahaan energi
terintegrasi yang mengkonsumsi batubara mereka sendiri.

Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari total produksi
batubara, sisanya dijual di pasar domestik.

Tabel 2.1 Produksi, Ekspor, Konsumsi & Harga Batubara

2014 2015 2016 2017 2018 2019


Produksi
458 461 456 461 425¹ 400¹
(dalam juta ton)
Ekspor
382 375 365 364 311¹ 160¹
(dalam juta ton)
Domestik
76 86 91 97 114¹ 240¹
(dalam juta ton)
Harga (HBA)
72.6 60.1 61.8 n.a. n.a. n.a.
(USD/ton)

*Proyeksi

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013


Produksi
217 240 254 275 353 412 474
(dalam juta ton)
Ekspor
163 191 198 210 287 345 402
(dalam juta ton)
Domestik
61 49 56 65 66 67 72
(dalam juta ton)
Harga (HBA)
n.a n.a 70.7 91.7 118.4 95.5 82.9
(USD/ton)

(Sumber: Indonesian Coal Mining Association (APBI) & Ministry of Energy and Mineral
Resources)

7
Selama tahun 2000-an, "boom komoditas" menjadikan industri pertambangan
batubara sangat menguntungkan karena harga batubara cukup tinggi. Oleh karena itu,
banyak perusahaan Indonesia dan keluarga kaya memutuskan untuk mengakuisisi
konsesi pertambangan batubara di pulau Sumatera atau Kalimantan pada akhir tahun
2000an.

2.3 Pencairan Batubara (Coal Liquefaction)

Coal liquefaction adalah terminologi yang dipakai secara umum mencakup


pemrosesan batubara menjadi BBM sintetik (synthetic fuel). Pendekatan yang
mungkin dilakukan untuk proses ini adalah: pirolisis, pencairan batubara secara
langsung (Direct Coal Liquefaction-DCL) ataupun melalui gasifikasi terlebih dahulu
(Indirect Coal Liquefaction-ICL). Secara intuitiv aspek yang penting dalam
pengolahan batubara menjadi bahan bakar minyak sintetik adalah: efisiensi proses
yang mencakup keseimbangan energi dan masa, nilai investasi, kemudian apakah
prosesnya ramah lingkungan sehubungan dengan emisi gas buang, karena ini akan
mempengaruhi nilai insentiv menyangkut tema tentang lingkungan. Undang-Undang
No.2/2006 yang mengaatur tentang proses pencairan batubara.

2.3.1 Perkembangan Teknologi Liquifikasi


Pengembangan produksi bahan bakar sintetis berbasis batu bara pertama kali
dilakukan di Jerman tahun 1900-an dengan menggunakan proses sintesis Fischer-
Tropsch yang dikembangkan Franz Fisher dan Hans Tropsch. Pada 1930, disamping
menggunakan metode proses sintesis Fischer-Tropsch, mulai dikembangkan
pulapencairan batubara melalui proyek Sunshine tahun 1974 sebagai pengembangan
Energi alternatif. .
Pada 1983, NEDO (The New Energy Development Organization), organisasi
yang memfokuskan diri dalam pengembangan teknologi untuk menghasilkan energi
baru juga berhasil mengembangkan suatu teknologi pencairan batubara bituminous

8
dengan menggunakan tiga proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system
dan direct hydrogenation to liquefy bituminous coal. Cadangan batubara di dunia
pada umumnya tidak berkualitas baik, bahkan setengahnya merupakan batubara
dengan kualitas rendah, seperti: sub-bituminous coal dan brown coal. Kedua jenis
batubara tersebut lebih banyak didominasi oleh kandungan air. Peneliti Jepang
kemudian mulai mengembangkan teknologi untuk menjawab tantangan ini agar
kelangsungan energi di Jepang tetap terjamin, yaitu dengan mengubah kualitas
batubara yang rendah menjadi produk yang berguna secara ekonomis dan dapat
menghasilkan bahan bakar berkualitas serta ramah lingkungan. Dikembangkanlah
proses pencairan batubara dengan nama Brown Coal Liquefaction Technology (BCL
proses Bergius untuk memproduksi bahan bakar sintesis. Sementara itu, Jepang juga
melakukan inisiatif pengembangan teknologi.

2.3.2 Macam- macam Proses Likuifikasi

1. Hidrogenasi (Hydrogenation)

Hidrogenasi adalah proses reaksi batubara dengan gas Hidrogen bertekanan


tinggi. Reaksi ini diatur sedemikian rupa (kondisi reaksi, katalisator dan kriteria
bahan baku) agar dihasilkan senyawa hidrokarbon sesuai yang diinginkan, dengan
spesifikasi mendekati minyak mentah. Sejalan perkembangannya, hidrogenasi
batubara menjadi proses alternativ untuk mengolah batubara menjadi bahan bakar
cair pengganti produk minyak bumi, proses ini dikenal dengan nama Bergius proses,
disebut juga proses pencairan batubara (coal liquefaction).

2. Fisher Tropsch Proses

Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau


disebut senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Sintetik oil banyak digunakan

9
sebagai bahan bakar mesin industri/transportasi atau kebutuhan produk pelumas
(lubricating oil).
(2n+1)H2 + nCO → CnH(2n+2) + nH2O

3. Brown Coal Liquefaction Technology (BCL)

Teknologi yang mengubah kualitas batubara yang rendah menjadi produk


yang berguna secara ekonomis dan dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas serta
ramah lingkungan.Langkah pertama adalah memisahkan air secara efisien dari
batubara yang berkualitas rendah. Langkah kedua melakukan proses pencairan di
mana hasil produksi minyak yang dicairkan ditingkatkan dengan menggunakan
katalisator, kemudian dilanjutkan dengan proses hidrogenasi di mana heteroatom
(campuran sulfur-laden, campuran nitrogen-laden, dan lain lain) pada minyak
batubara cair dipisahkan untuk memperoleh bahan bakar bermutu tinggi, kerosin, dan
bahan bakar lainnya. Kemudian sisa dari proses tersebut (debu dan unsur sisa
produksi lainnya) dikeluarkan.

4. Pencairan batubara metode langsung (DCL)

Pencairan batubara metode langsung atau dikenal dengan Direct Coal


Liquefaction-DCL,dikembangkan cukup banyak oleh negara Jerman dalam
menyediakan bahan bakar pesawat terbang. Proses ini dikenal dengan Bergius
Process, baru mengalami perkembangan lanjutan setelah perang dunia kedua.DCL
adalah proses hydro-craacking dengan bantuan katalisator. Prinsip dasar dari DCL
adalah meng-introduksi-an gas hydrogen kedalam struktur batubara agar rasio
perbandingan antara C/H menjadi kecil sehingga terbentuk senyawa-senyawa
hidrokarbon rantai pendek berbentuk cair. Proses ini telah mencapai rasio konversi
70% batubara (berat kering) menjadi sintetik cair.
Pada tahun 1994 proses DCL kembali dikembangkan sebagai komplementasi
dari proses ICL terbesar setelah dikomersialisasikan oleh Sasol Corp.Tahun 2004

10
kerjasama pengembangan teknologi upgrade (antara China Shenhua Coal
Liquefaction Co. Ltd. dengan West Virginia University) untuk komersialisasi.

Proses Pencairan Batubara Muda rendah emisi (Low Emission Brown Coal
Liquefaction) .Tahapan proses pencairan batubara muda (Brown Coal Liquefacion):

1. Pengeringan/penurunan kadar air secara efisien.


2. Reaksi pencairan dengan limonite katalisator
3. Tahapan hidrogenasi untuk menghasilkan produk oil mentah
4. Deashing Coal Liquid Bottom/heavy oil (CLB)
5. Fraksinasi/pemurnian light oil (desulfurisasi,pemurnian gas,destilasi produk)

11
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Hidrogenasi

Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan
adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke
sebuah molekul. Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organik.
Reaksi ini terjadi dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap
dari molekul yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh.
Penggunaan katalis diperlukan agar reaksi yang berjalan efisien dan dapat digunakan,
hidrogenasi non-katalitik hanya berjalan dengan kondisi temperatur yang sangat
tinggi. Hidrogen beradisi ke ikatan rankap dua dan tiga hidrokarbon. Oleh karena
pentingnya hidrogen, banyak reaksi-reaksi terkait yang telah dikembangkan untuk
kegunaannya. Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada
pula beberapa yang menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini disebut
hidrogenasi transfer. Reaksi balik atau pelepasan hidrogen dari sebuah molekul
disebut dehidrogenasi. Reaksi di mana ikatan diputuskan ketika hidrogen diadisi
dikenal sebagai hidrogenolisis. Hidrogenasi berbeda dengan protonasi atau adisi
hidrida, pada hidrogenasi, produk yang dihasilkan mempunyai muatan yang sama
dengan reaktan. Substrat dari hidrogenasi tercantum dalam tabel berikut :
Tabel 3.1 Substrat Hidrogenasi
Alkena, R2C = CR2 Alkana, 2R2 CHCHR’
Alkuna, RCCR Alkena, cis-RHC = CHR’
Aldehida, RCHO Alcohol utama, RCH2OH
Keton, R2CO Sekunder alcohol, R2CHOH
Ester, RCO2R’ Dua alcohol, RCH2OH, R’OH

12
Imina, RR’CNR” Amina, RR’CHNHR”
Amida. RC (O) NR2 Amina, RCH2NR2
Nitril, RCN Imina, RHCNH
Nitro, RNO2 Amina, RNH2
(Sumber : Anonim1, 2009)

3.2 Pembuatan Hidrogen


Hidrogen yang dipergunakan pada proses hidrogenasi dibuat dengan proses
elektrolisa dan proses steam iron. Proses elektrolisa yang dilakukan sangat sederhana,
yaitu dengan larutan natrium hidroksida encer. Cara ini dapat menghasilkan hidrogen
yang murni. Cara steam iron adalah proses pembuatan hidrogen yang
mengikutsertakan proses reduksi dan oksidasi dari besi panas dalam dapur api yang
dipanaskan pada suhu 1500°F-1700°F (815,5°C-926,5°C). Uap yang dipergunakan
dialirkan secara berlebihan melalui besi panas. Oksigen pada uap akan bercampur
dengan besi dan akan membebaskan hidrogen. Pada tahap akhir dari siklus uap, gas
biru yang terbentuk dari uap akan menghembus melalui alat pemanas dan terus
menembus melalui besi panas untuk mereduksi logam besi yang telah teroksidasi.
Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang telah teroksidasi. Kelebihan
dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang panas dan dibakar dalam checkerwork.
Pengurangan gas dilakukan dengan jalan mengalirkan gas tersebut melalui bagian
atas dapur api, sedangkan uap untuk membuat hidrogen dimasukkan melalui bagian
bawah dapur api.
Hidrogen yang dihasilkan pada proses steam iron kurang murni untuk dipakai
pada proses hidrogenasi minyak atau lemak makan, karena mengandung komponen-
kompenen sulfur, karbon monoksida. Pemisahan karbon monoksida dapat dilakukan
dengan mereaksikan hidrogen dengan uap pada suhu tinggi. Sedangkan hidrogen
sulfida dapat dipisahkan dengan jalan melewatkan gas melalui ketel pemurnian yang
diisi dengan besi sulfida (FeS).

13
3.3 Katalisator dalam Proses Hidrogenasi
Umumnya, tidak ada reaksi antara H2 dengan senyawa organik yang terjadi di
bawah 480°C terjadi antara H2 tanpa adanya katalis logam. Katalisator untuk proses
hidrogenasi adalah platina, palladium dan nikel, dimana platina dan
palladium membentuk katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu
dan tekanan rendah. Tetapi berdasarkan pertimbangan ekonomis, hanya nikel yang
umum digunakan sebagai katalisator hidrogenasi walaupun nikel dapat mengkatalis
pada suhu yang lebih tinggi dari platina dan palladium.
Katalis hidrogenasi digolongkan menjadi dua, yaitu katalis homogen dan katalis
heterogen. Katalis homogen larut dalam pelarut yang berisi substrat tak jenuh. Katalis
heterogen adalah berbentuk padat yang tersuspensi di pelarut dengan substrat atau
dengan gas substrat. Nikel mungkin juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang
berfungsi sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak.

3.4 Macam-macam Hidrogenasi


a. Hidrogenasi transfer
Proses hidrogenasi umumnya memanfaatkan gas hidrogen, namun ada juga yang
menggunakan sumber lain yang memiliki atom hidrogen di dalamnya. Namun
tujuannya sama, yaitu : menambahkan atom hidrogen dalam suatu senyawa.
b. Hidrogenasi Minyak
Proses hidrogenasi minyak membuat mengerasnya tanaman dan ikan yang
diturunkan minyak, yang memungkinkan mereka untuk menjadi pengganti efektif
untuk lemak hewani.
c. Hidrogenasi Etena
Etena bereaksi dengan hidrogen pada suhu sekitar 150 C dengan adanya sebuah
katalis nikel (Ni) yang halus. Reaksi ini menghasilkan etana. Reaksi ini tidak begitu
berarti, sebab etena merupakan senyawa yang jauh lebih bermanfaat disbanding etena
yang dihasilkan.

14
3.5 Proses Pengolahan Batubara Cair

Likuifaksi Batubara adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara dan
menghasilkan bahan bakar cair sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah
menjadi bentuk cair dengan cara mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur
dan tekanan tinggi.
Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect
Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.

3.5.1 Indirect Liquefaction Process/ Indirect Coal Liquefaction (ICL)


Prinsipnya secara sederhana yaitu mengubah batubara ke dalam bentuk gas
terlebih dahulu untuk kemudian membentuk Syngas (campuran gas CO dan H2).
Syngas kemudian dikondensasikan oleh katalis (proses Fischer-Tropsch) untuk
menghasilkan produk ultra bersih yang memiliki kualitas tinggi.

(Sumber : Anonim3,2012)
Gambar 3.1 Dua konfigurasi proses dasar untuk produksi bahan bakar cair dengan
Indirect Liquefaction Process

15
3.5.2 Direct Liquefaction Process/ direct coal liquefaction (DCL)
Proses ini dilakukan dengan cara menghaluskan ukuran butir batubara,
kemudian Slurry dibuat dengan cara mencampur batubara ini dengan pelarut. Slurry
dimasukkan ke dalam reaktor bertekanan tinggi bersama-sama dengan hidrogen
dengan menggunakan pompa. Slurry kemudian diberi tekanan 100-300 atm di dalam
sebuah reaktor kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 400-480°C.
Secara kimiawi proses akan mengubah bentuk hidrokarbon batubara dari
kompleks menjadi rantai panjang seperti pada minyak. Atau dengan kata lain,
batubara terkonversi menjadi liquid melalui pemutusan ikatan C-C dan C-heteroatom
secara termolitik atau hidrolitik, sehingga melepaskan molekul-molekul CO2, H2S,
NH3, dan H2O. Untuk itu rantai atau cincin aromatik hidrokarbonnya harus dipotong
dengan cara dekomposisi panas pada temperatur tinggi (thermal decomposition).
Setelah dipotong, masing-masing potongan pada rantai hidrokarbon tadi akan
menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical). Supaya radikal bebas itu tidak
bergabung dengan radikal bebas lainnya (terjadi reaksi repolimerisasi) membentuk
material dengan berat molekul tinggi dan insoluble, perlu adanya pengikat atau
stabilisator, biasanya berupa gas hidrogen. Hidrogen bisa didapat melalui tiga cara
yaitu: transfer hidrogen dari pelarut, reaksi dengan fresh hidrogen, rearrangement
terhadap hidrogen yang ada di dalam batubara, dan menggunakan katalis yang dapat
menjembatani reaksi antara gas hidrogen dan slurry (batubara dan pelarut).
Negara yang telah mengembangkan teknologi Direct Liquefaction Process
adalah Jepang, Amerka Serikat dan Jerman. Bagi Indonesia, teknik konversi
likuifaksi batubara secara langsung (Direct Liquefaction Process) dinilai lebih
menguntungkan untuk saat ini. Selain prosesnya yang lebih sederhana, likuifaksi
relatif lebih murah dan lebih bersih dibanding teknik gasifikasi. Teknik ini juga cocok
untuk batubara peringkat rendah (lignit), yang banyak terdapat di Indonesia.
Banyak negara mengembangkan teknologi Likuifaksi Batubara. Di Amerika
Serikat berkembang berbagai proyek pengembangan seperti pada gambar 2. Dan

16
Jepang, sebagai salah satu negara pengembang teknologi Likuifaksi Batubara terkenal
dengan salah satu proyeknya yaitu NEDOL (lembaga kajian teknologi Jepang)
memiliki 2 metode likuifaksi batubara yaitu Bituminous Coal Liquefaction dan Brown
Coal Liquefaction.
1. Bituminous Coal Liquefaction
Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek NEDOL berhasil
menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct Hydrogenation
Process, dan Solvolysis Process.
Spesifikasi proses NEDOL adalah sebagai berikut:
 Tidak memerlukan batubara dengan spesifikasi tertentu. Batubara yang
digunakan bisa dari low grade sub-bituminous sampai low grade bituminous.
 Yield Ratio bisa mencapai 54% berat, lebih besar dari medium atau light oil.
 Temperatur standar reaksi adalah 450°C dan Tekanan standar 170 kg/cm2G.
 Membutuhkan katalis yang sangat aktif namun tidak mahal.
 Sebagai pemisah antara fasa cair-gas, digunakan sistem distilasi pengurang
tekanan.
 Digunakan pelarut terhidrogenasi yang dapat digunakan kembali untuk
mengawasi kualitas pelarut agar dapat meningkatkan Yield Ratio dari
batubara cair dan mencegah fenomena “cooking” pada tungku pemanas.
Proses NEDOL
 Slurry dibuat dengan mencampurkan 1 bagian batubara dengan 1.5 bagian
pelarut,lalu ditambahkan 3% katalis yang mengandung besi (ferrous catalyst)
 Slurry dipanaskan sampai suhunya mencapai 400°C dalam preheating
furnace.
 Reaksi likuifaksi terjadi dalam kolom reaktor berjenis suspension bed foaming
pada kondisi standar (Temperatur 450°C, Tekanan 170 kg/cm2G)
 Batubara dikonversi menjadi bentuk cair oleh reaksi antara hidrogen dan
pelarut.

17
 Setelah melewati pemisah fase gas-cair, kolom distilasi bertekanan normal,
dan kolom distilasi isap, batubara cair dipisahkan menjadi naphta, medium oil,
heavy oil, dan residu.
 Distilat medium oil dan heavy oil dipindahkan ke kolom reaksi berjenis fixed
bed yang berisi katalis Ni-Mo. Pada kolom reaksi ini, distilat dikonversikan
menjadi distilat ringan pada Temperatur 320°C dan Tekanan 100 kg/cm 2G,
dan digunakan kembali dalam reaksi sebagai pelarut (solvent)

(Sumber : Anonim3,2012)
Gambar 3.2 Diagram alir proses Bituminous Coal Liquefaction

2. Brown Coal Liquefaction


Proses pada Brown Coal Liquefaction, secara umum terdiri atas 3 proses,
yaitu: Coal Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, Primary hydrogenation
process dan Secondary hydrogenation process.
a) Pretreatment Process merupakan proses peremukan raw brown coal,
pengeringan, dan pembuatan Slurry. Slurry dibuat dengan mencampurkan 1
bagian batubara brown coal dengan 2.5 bagian pelarut, lalu ditambahkan katalis

18
yang mengandung besi (iron catalyst). Lalu Slurry diproses ke preheating
process.
b) Primary hydrogenation process dilakukan dengan mengalirkan gas hidrogen pada
Temperatur 430-450°C dan tekanan 150-200 kg/cm2G agar dapat terjadi proses
likuifaksi.
c) Produk yang dihasilkan dikirim ke kolom distilasi dan didistilasi menjadi naphta,
light oil dan medium oil.
d) Kolom distilasi bawah yang mengandung padatan dialirkan menuju kolom
pemisah padatan-cairan pada proses pengeringan pelarut. Distilat cair kemudian
dibawa ke proses Secondary hydrogenation dan padatan dibuang.
e) Reaktor jenis fixed bed yang diisi katalis Ni-Mo agar proses hidrogenasi dapat
terjadi pada temperatur 300-400°C dan tekanan 150-200 kg/cm2G.
f) Kemudian dilakukan distilasi kembali agar dapat dipisahkan menjadi nephta, light
distillate dan medium distillate.
g) Setelah proses selesai, dihasilkan 3 barrel batubara cair dari 1 ton batubara brown
coal kering

(Sumber : Anonim3,2012)
Gambar 3.3 Diagram alir proses Brown Coal Liquefaction

19
3.6 Kelebihan Batubara Cair
1. Harga produksi lebih murah
2. Jenis batu bara yang dapat dipergunakan adalah batu bara yang berkalori
rendah (low rank coal), yang selama ini kurang diminati pasaran.
3. Dapat dipergunakan sebagai bahan pengganti bahan bakar pesawat jet (jet
fuel), mesin diesel (diesel fuel), serta gasoline dan bahan bakar minyak biasa.
4. Teknologi pengolahannya lebih ramah lingkungan. Dari pasca produksinya
tidak ada proses pembakaran, dan tidak dihasilkan gas CO2. Kalaupun
menghasilkan limbah (debu dan unsur sisa produksi lainnya), masih dapat
dimanfaatkan untuk bahan baku campuran pembuatan aspal. Bahkan sisa gas
hidrogen masih laku dijual untuk dimanfaatkan menjadi bahan bakar.

3.7 Kekurangan Batubara Cair


1. Keekonomian
Harga minyak bumi sangat fluktuatif, sehingga seringkali investor
ragu untuk membangun kilang pencairan batubara. Batubara cair akan
ekonomis jika harga minyak bumi di atas US $35/bbl.
2. Investasi Awal Tinggi
Biaya investasi kilang pencairan batubara komersial, cukup mahal .
3. Merupakan Investasi Jangka panjang
Break Even Point (BEP) baru dicapai setelah 7 tahun beroperasi,
sedangkan tahap pembangunan memakan waktu 3 tahun.

3.8 Sisi Lain Batubara Cair

Dalam penggunaannya, batubara cair sebagai bahan bakar alternatif dinilai dapat:
1. Meningkatkan dampak negatif dari penambangan batubara
Penyebaran skala besar pabrik batubara cair dapat menyebabkan peningkatan
yang signifikan dari penambangan batubara. Penambangan batubara akan
memberikan dampak negatif yang berbahaya. Penambangan ini dapat menyebabkan

20
limbah yang beracun dan bersifat asam serta akan mengkontaminasi air tanah. Selain
dapat meningkatkan efek berbahaya terhadap lingkungan, peningkatan produksi
batubara juga dapat menimbulkan dampak negatif pada orang-orang yang tinggal dan
bekerja di sekitar daerah penambangan.
2. Menimbulkan efek global warming sebesar hampir dua kali lipat per gallon bahan
bakar.
Produksi batubara cair membutuhkan batubara dan energi dalam jumlah yang
besar. Proses ini juga dinilai tidak efisien. Faktanya, 1 ton batubara hanya dapat
dikonversi menjadi 2-3 barel bensin. Proses konversi yang tidak efisien, sifat
batubara yang kotor, dan kebutuhan energi dalam jumlah yang besar tersebut
menyebabkan batubara cair menghasilkan hampir dua kali lipat emisi penyebab
global warming dibandingkan dengan bensin biasa. Walaupun karbon yang terlepas
selama produksi ditangkap dan disimpan, batubara cair tetap akan melepaskan 4
hingga 8 persen polusi global warming lebih banyak dibandingkan dengan bensin
biasa.

3.9 Kebijakan Pemerintah Indonesia Tentang Batubara cair


Di Indonesia, pengembangan batubara cair mulai direspon setelah
pemerintah mengeluarkan Inpres No. 2/ 2006 tentang batubara yang dicairkan. Salah
satu investor yang tertarik adalah Sugiko MOK Energi yang bernisiatif untuk
membangun pabrik pemrosesan batubara cair di Sumatera Selatan. Proses produksi
batubara cair yang dilakukan oleh Sugico MOK adalah menggunakan sistem
hidrogenasi yang memanfaatkan energi matahari.
Dengan inovasi Photovoltaic, energi panas matahari yang ditangkap melalui
solar cell diubah menjadi energi listrik, yang menghasilkan daya pada setiap panelnya
sebesar 1 MW dengan jangka waktu 1 jam dan biaya tidak lebih dari 5 dollar AS per
barel. Energi listrik yang dihasilkan ada dua macam, yaitu arus listrik yang bersifat
bolak-balik (AC) sehingga dapat dimanfaatkan untuk penerangan serta keperluan
lainnya, dan arus listrik yang searah (DC) atau yang digunakan untuk air (H2O).

21
Dalam proses ini air akan diubah menjadi oksigen dan hidrogen. Unsur hidrogen
tersebut akan dimanfaatkan dalam proses hidrogenasi, yang mengubah batubara padat
menjadi cair. Proses hidrogenasi ini dilakukan dalam reaktorBergius. Setiap satu ton
batubara padat yang diolah dalam reaktor ini akan menghasilkan 6,2 barel BBM
sintesis berkualitas tinggi.
Saat ini Indonesia memiliki cadangan sekitar 60 milyar ton batubara yang
terdapat di seluruh Indonesia. Dari sekian banyak itu hampir 85% adalah batubara
muda (lignit) atau dengan kata lain batubara dengan kualitas rendah karena 30%
berisi kandungan air disamping itu juga mengandung kalori rendah dengan nilai jual
murah. Sedang batubara yang berkualitas atau dikenal dengan Black Coal sebagian
besar untuk di ekspor.
Batubara muda yang juga dikenal dengan nama brown coal akan
dikembangkan sebagai alternative pengganti minyak bumi. Pemerintah Jepang serta
para pengusaha Jepang yang tertarik dengan brown coal ini tengah bekerjasama
dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mewujudkan
impian tersebut. Rencananya BPPT akan berupaya bernegoisiasi dengan Pemerintah
Jepang untuk pembangunan pabrik BCL (Brown Coal Liquefaction) sehingga tercipta
gasoline dan solar dari batubara. Biaya yang diperlukan untuk pabrik BCL ini
mencapai 5,8 Milyar dolar Amerika. Hal ini karena para ahli maupun teknologinya
belum kita miliki.
Saat ini BPPT sudah mengadakan penelitian untuk BCL ini di daerah
Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Diketahui bahwa
30.000 ton batubara dapat menghasilkan sekitar 130.000 barel minyak per hari.
Sebagai contoh pekerjaan Jepang di Australia dan Jepang sendiri yang telah berhasil
membuat master plan BCL ini. PT. Tambang Batubara Bukit Asam rencananya akan
membangun kilang batubara tercairkan di Sumatera Selatan dengan investasi sebesar
US$5.2 billion. South Africa’s Sasol Limited, produsen minyak sintetis terbesar di

22
dunia telah mulai melakukan negosiasi pembangunan kilang batubara yang dicairkan
senilai US$ 10 billion dengan PT Pertamina dan PT. Tambang Batubara Bukit Asam.
Pada awal tahun 2010 telah ditandatangani MOU antara Pemerintah Indonesia
dengan Sasol (salah satu raksasa pemain CTL (coal to liquid) di dunia yang berasal
dari Afrika Selatan) untuk memulai kajian kelayakan pembangunan kilang.
Diperkirakan kilang tersebut mempunyai kapasitas produksi sebesar 1,1 juta barrels
setara bahan bakar minyak perhari. Bila semuanya berjalan sesuai rencana maka
konstruksi kilang akan selesai pada akhir tahun 2014 dan mulai produksi tahun 2015.
Terdapat empat lokasi yang potensial untuk pembangunan kilang batubara yang
dicairkan meliputi Musi Banyuasin di Sumatera Selatan yang memiliki cadangan
sebesar 2,9 milyar ton dan Berau Kalimantan Timur dengan
cadangan sebesar 3 milyar ton Untuk suplai batu bara, Sasol akan mendapatkannya
dari PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA). Sementara itu, untuk
bertindak sebagai pembeli (off taker) adalah PT Pertamina (Persero).

23
BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
 Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang terbentuk dari endapan,
batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata
batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas
selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara.
 Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang
menghasilkan adisi hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi
sepasang atom hidrogen ke sebuah molekul. Katalisator untuk proses
hidrogenasi adalah platina, palladium dan nikel, dimana platina dan
palladium membentuk katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada
suhu dan tekanan rendah.
 Liquifaction Batubara adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara
dan menghasilkan bahan bakar cair sintetis. Batubara yang berupa padatan
diubah menjadi bentuk cair dengan cara mereaksikannya dengan hidrogen
pada temperatur dan tekanan tinggi.
 Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi Indirect
Liquefaction Process dan Direct Liquefaction Process. 2 metode likuifaksi
batubara yaitu Bituminous Coal Liquefaction dan Brown Coal Liquefaction.
Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek NEDOL berhasil
menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct
Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process. Proses pada Brown Coal
Liquefaction, secara umum terdiri atas 3 proses, yaitu: Coal Pretreatment

24
Process, Slurry Preheating Process, Primary hydrogenation process dan
Secondary hydrogenation process.
 Di Indonesia, pengembangan batubara cair mulai direspon setelah
pemerintah mengeluarkan Inpres No. 2/ 2006 tentang batubara yang
dicairkan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Dong Shi, S., LiWen, B., Wang, Y., Zhi, G., and Jian, L.K., (2008), Study on the
Mechanism of Coal Liquefaction Reaction and a New Process Concept,
Journal of Coal science and Engineering, Vol. 14. No. 1, pp. 119-124.

Karaca, H., (2006), Effect of Coal Liquefaction Conditions on the Composition of the
Product Oil, Energy Sources, 28, pp.1483-1492

Kleinpeter, J.A., (1983), Coal Liquefaction Products, John Wiley & Sons inc., New
York, pp. 1-413.

Marco, I. and Chomon, M.J., (1990), Relationship Between Liquefaction Yields and
Characteristics of Different Rank Coals, Elsevier Scientific Publishing No.
24. Chemical Engineering Depertement Bilbao, Spain, pp. 127-133.

Anonim1. 2009. Hidrogenation. http://en.wikipedia.org/wiki/Hidrogenation


Diakses tanggal 10 November 2018.
Anonim2. 2012.Proses pengolahan Batubara. http://alfian’sblog.blogspot.com
Diakses tanggal 11 Novemver 2018.
Anonim3. 2012. the-coal-to-liquid-debate. http://www.energyandoil.com/the-coal-to-
liquid-debate-part-i Diakses tanggal 11 November 2018
Anonim4. 2014. batubara-cair-solusi-ketahanan-energi-yang-bersahabat,
http://ugmmagatrika.wordpress.com/2014/02/28/batubara-cair-solusi-
ketahanan-energi-yang-bersahabat/ Diakses tanggal 11 November 2018
Indonesia Investments. 2018. Komoditas Batubara.
https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/batu-
bara/item236? Diakses tanggal 11 November 2018

26