You are on page 1of 18

3.

HARGA DIRI RENDAH

A. Definisi Harga Diri Rendah

Menurut sunaryo (2004) aspek harga diri adalah dicintai , disayangi,


dikasihi orang lain dan mendaat penghargaan dari orang lain.
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri
sendiri atau kemampuan diri. (Dr. Keliat, Budi Ana , 2007).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri
sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri,
merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri
(Yosep , 2009).

B. Etiologi Harga Diri Rendah


Faktor-faktor yang mempengaruhi proses terjadinya harga diri rendah yaitu
faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
1) Faktor predisposisi
a. penolakan orang tua yang tidak realistis
b. kegagalan berulang kali
c. kurang mempunyai tanggung jawab personal
d. ketergantungan pada orang lain
e. ideal diri yang tidak realistis
f. pola asuh overprotektif, otoriter, tidak konsisten, terlalu dituruti,
terlalu dituntut. (H Yosep, Iyus. 2007) dan (Yusuf , 2015).
2) Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya adalah
hilangnya sebagian tubuh, perubahan penampilan atau bentuk tubuh,
mengalami kegagalan atau produktivitas yang menurun.
Gangguan harga diri rendah dapat terjadi secara situasional dan
kronik. Gangguan harga diri yang terjadi secara situasional bisa
disebabkan oleh trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus
dioperasi, mengalami kecelakaan, menjadi korban perkosaan, atau

30
menjadi narapidana sehingga harus masuk penjara. Selain itu, dirawat di
rumah sakit juga menyebabkan rendahnya harga diri seseorang
diakibatkan penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat
klien tidak nyaman. Penyebab lainnya adalah harapan fungsi tubuh yang
tidak tercapai serta perlakuan petugas kesehatan yang kurang menghargai
klien dan keluarga. Harga diri rendah kronik biasanya dirasakan klien
sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah memiliki pikiran
negative dan meningkat saat di rawat.
Baik factor predisposisi maupun presipitasi di atas bila
mempengaruhi seseorang dalam berpikir, bersikap maupun bertindak,
maka dianggap akan memengaruhi terhadap koping individu tersebut
sehingga menjadi tidak efektif (mekanisme koping individu tidak
efektif). Bila kondisi pada klienn tidak dilakukan intervensi lebih lanjut
dapat menyebabkan klien tidak mau bergaul dengan orang lain (isolasi
social : menarik diri) , yang menyebabkan klien asik dengan dunia dan
pikirannya sendiri sehingga dapat muncul resiko perilaku kekerasan.
Menurut Peplau dan Sulivan harga diri berkaitan dengan
pengalaman interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai
lanjut usia seperti good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan,
ditekan sehingga perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak
oleh lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif akan
menimbulkan harga diri rendah. Menurut Caplan, lingkungan sosial akan
mempengaruhi individu, pengalaman seseorang dan adanya perubahan
sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak
dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan penyimpangan
perilaku akibat harga diri rendah. (H Yosep, Iyus. 2007)
C. Proses terjadinya harga diri rendah
Berdasarkan hasil riset Malhi (2008, dalam http:www.tqm.com)
menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cita-
cita seseorang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam
mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang
rendah. Selanjutnya, hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang

31
tidak optimal. Dalam tinjauan life span history klien, penyebab terjadinya
harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi
pujian atas keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja
keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak
diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah, pekerjaan, atau
pergaulan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung
mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya.
D. Rentang respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep Harga Diri Keracunan Depersonalisasi


Diri Diri Positif Rendah Identitas

E. Pohon Masalah
Isolasi Sosial : Menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif


(Nita Fitria, 2010)
F. Manifestasi Klinis harga diri rendah
Manifestasi Klinis (batasan karakteristik) menurut Nanda – I (2012), yaitu:
1) Bergantung pada pendapat orang lain
2) Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa
3) Melebih – lebihkan umpan balik negative tentang diri sendiri
4) Secara berlebihan mencari penguatan
5) Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup
6) Enggan mencoba situasi baru
7) Enggan mencoba hal baru
8) Perilaku bimbang
9) Kontak mata kurang

32
10) Perilaku tidak asertif
11) Sering kali mencari penegasan
12) Pasif
13) Menolak umpan baik positif tentang diri sendiri
14) Ekspresi rasa bersalah
15) Eskpresi rasa malu
Selain data di atas, dapat juga di amati melalui penampilan seseorang
dengan harga diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawatan
diri, berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap
lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara
lemah. (Dr. Keliat,Budi Ana , 2007) dan (H Yosep, Iyus. 2007)
G. Penatalaksanaan harga diri rendah
Terapi yang diberikan antara lain:
1) Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi
dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya
supaya ia tidak mengasingkan diri ia dapat membentuk kebiasaan
yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau
latihan bersama.
2) Terapi aktivitas kelompok
Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas
kelompok stimulasi kognitif/persepsi, kelompok stimulasi sensori,
terapi aktivitas kelompok stimulasi realita dan terapi aktivitas
kelompok sosialisasi. Dari empat jenis terapi aktivitas kelompok
diatas yang paling relevan dilakukan pada individu dengan gangguan
konsep diri harga diri rendah adalah terapi aktivitas kelompok
stimulasi persepsi. Terapi aktivitas kelompok stimulasi adalah terapi
yang menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan
pengalaman atau kehidupan untuk didiskusikan dalam
kelompok,hasil diskusi kelompok dapat berupa kesempakatan
persepsi atau alternatif penyelesaiaan masalah.(Amin dan Hardi
2015)

33
H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Tahap pertama pengkajian meliputi factor predisposisi seperti :
psikologis, tanda dan tingkah laku klien dan mekanisme koping klien.
a. Factor predisposisi
Menurut Yosep (2009) , factor predisposisi terjadinya harga diri
rendah adalah penolakan orang tua yang tidak realistic, kegagalan
berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor presipitasi
Menurut Sunaryo (2004) factor presipitasi meliputi:
(1) Konflik peran terjadi apabila peran yang diinginkan individu,
sedang diduduki individu lain.
(2) Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran
yang kabur, sesuai perilaku yang diharapkan
(3) Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses
peralihan mengubah nilai dan sikap
(4) Peran berlebihan terjadi jika seseorang individu memiliki
banyak peran dalam kehidupannya.
Menurut Stuart (2006) stressor pencetus juga dapat berasal dari
sumber internal atau eksternal seperti:
(1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan
(2) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi
yang diharakan dan individu mengalami sebagai frustasi.
Ada tiga jenis transisi peran:
(a) Transisi peran perkembangan
(b) Transisi peran situasi
(c) Transisi peran sehat – sakit
c. Perilaku
Menurut Stuart (2006) perilaku yang berhubungan dengan harga
diri rendah kronik sebagai berikut:

34
1) Mengkritik diri sendiri dan orang lain
2) Penurunan produktivitas
3) Destruktif yang diarahkan pada orang lain
4) Gangguan dalam berhubungan
5) Rasa diri penting yang berlebihan
6) Perasaan tidak mampu
7) Rasa bersalah
8) Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan
9) Perasaan negative tentang tubuhnya sendiri
10) Ketegangan peran yang dirasakan
11) Pandangan hidup yang pesimis
12) Keluhan fisik
13) Pandangan hidup yang bertentangan
14) Penolakan terhadap kemampuan personal
15) Destruktif terhadap diri sendiri
16) Pengurangan diri
17) Menarik diri secara social
18) Penyalahgunaan zat
19) Menarik diri dari realitas
20) Khawatir
d. Sumber koping
Menurut Stuart (2006) semua orang, tanpa memperhatikan
gangguan perilakunya, mempunyai beberapa bidang kelebihan
personal yang meliputi:
1) Aktivitas olahraga dan aktivitas di luar rumah
2) Hobi dan kerajianan tangan
3) Seni yang ekspresif
4) Kesehatan dan perawatan diri
5) Pendidikan atau pelatihan’
6) Pekerjaan, vokasi, atau posisi
7) Bakat tertentu
8) Kecerdasaan

35
9) Imajinasi dan kreativitas
10) Hubungan intrapersonal
e. Mekanisme koping
Menurut Stuart (2006) , mekanisme koping termasuk pertahanan
koping jangka pendek atau jangka panjang serta oenggunaan
mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam
menghadapi persepsi diri yang menyakitkan. Pertahanan tersebut
mencakup berikut ini:
Jangka pendek :
1) Aktivitas yang memberikan pelarian sementara dari krisis
identitas diri (misalnya, konser music, bekerja keras, menonton
televise secara obsesif)
2) Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara
(misalnya, ikut serta dalam aktivitas klub social, agama, politik,
kelompok, gerakan , atau geng )
3) Aktivitas yang sementara mengutkan atau meningkatkan
perasaan diri yang tidak menentu ( misalnya, olahraga yang
kompetitif , prestasi akademik, kontes untuk mendapatkan
popularitas).

Pertahanan jangka panjang mencakup berikut ini:

1) Penutupan identitas : adopsi identitas premature yang


diinginkan oleh orang terdekat tanoa memerhatikan keinginan,
aspirasi atau potensi diri individu.
2) Identitas negative : asumsi identitas yang tidak sesuai dengan
nilai dan harapan yang diterima masyarakat
Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi,
disosiasi, isolasi, proyeksi, pengalihan (displacement), berbalik
marah terhadap diri sendiri, dan amuk.
2) Format atau data focus pengkajian
Format atau data focus pada pengkajian harga diri rendah kronik (keliat
dan akemat, 2009)

36
a. Keluhan utama :
b. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan :
c. Konsep diri :
(1) Gambaran diri
(2) Indentitas diri
(3) Harga diri
(a) Identitas
(b) Peran
Jelaskan :
Masalah keperawatan :
1. Alam perasaan
( ) sedih ( ) putus asa
( ) ketakutan ( ) gembira berlebihan
Jelaskan :
Masalah keperawatan:
2. Interaski selama wawancara:
( ) bermusuhan ( ) tidak kooperatif
( ) mudah tersinggung ( ) kontak mata kurang
( ) defensive ( ) curiga
Jelaskan :
Masalah keperawatan:
3. Penampilan :
Jelaskan :
Masalah keperawatan :
d. Masalah keperawatan
(1) Harga diri rendah kronis
(2) Koping individu tidak efektif
(3) Isolasi social
(4) Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
(5) Risti perilaku kekerasan
(H Yosep, Iyus. 2007)

37
e. Tindakan keperawatan
(1) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih
dimiliki klien, dengan cara mendiskusikan bahwa klien masih
memiliki sejumlah kemampuan dan aspek positif seperti
kegiatan pasien dirumah, adanya keluarga dan lingkungan
terdekat klien.
(2) Beri pujian yang realistic atau nyata dan hindarkan penilaian
negative setiap kali bertemu dengan klien
(3) Membantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan saat
ini
(4) Menyebutkannya dan member penguatan terhadap kemampuan
diri yang diungkapkan klien
(5) Perlihatkan respon yang positif dan menjasi pendengar yang
aktif
(6) Membantu klien memilih atau menetapkan kegiatan sesuai
dengan kemampuan dengan cara mendiskusikan beberapa
aktivitas yang dapat dilakukan dan dipilh sebagai kegiatan yang
akan dilakukan sehari – hari
(7) Bantu klien menetapkan aktivitas mana yang dapat dilakukan
secara mandiri, mana aktivitas yang memerlukan bantuan
minima dari keluarga dan aktivitas apa saja yang perlu bantuan
penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat dengan klien
(8) Berikan contoh cara pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan
klien. Susun bersama klien dan buat daftar aktivitas atau
kegiatan sehari – hari
(9) Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai kemampuan
dengan cara memperagakan beberapa kegiatan yang akan
dilakukan pasien
(10) Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang
diperlihatkan klien

38
(11) Membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai
kemampuannya yaitu member kesempatan pada klien untuk
mencoba kegiatan yang telah dilatihkan
(12) Beri pujian atas aktifitas atau kegiatan yang dapat dilakukan
klien setiap hari
(13) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan
perubahan setiap aktifitas
(14) Susun daftar aktifitas yang sudah dilatihkan bersama klien
dan keluarga
(15) Berikan kesempatan mengungkapkan persaannya setelah
pelaksaan kegiatan
(16) Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiao aktifitas yang
dilakukan klien. (H Yosep, Iyus. 2007)
f. Contoh Aplikasi Komunikasi Terapeutik pada SP Klien
SP 1 pasien : Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih
dapat digunakan, membantu pasien memilih/menetapkan
kemampuan yang akan dialtih, melatih kemampuan yang sudah
dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah
dilatih dalam rencana harian.
Orientasi
“Selamat pagi! Bagaimana keadaan T hari ini? T terlihat segar.”
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan
kegiatan yang pernah T lakukan? Setelah itu kita akan nilai
kegiatan mana yang masih dapat T lakukan di rumah sakit. Setelah
itu kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih.”
“Di mana kita duduk? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa
lama? Bagaimana kalau 20 menit?”
Kerja
“T, apa saja kemampuan yang T dimiliki? Bagus, apa lagi? Saya
buat daftarnya ya! Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa T
lakukan? Bagaimana dengan merapikan kamar? Menyapu?

39
Mencuci piring dan seterusnya. Wah, bagus sekali ada lima
kemampuan dan kegiatan yang T miliki!”
“T, dari kelima kegiatan/kemampuan ini, yang masih dapat
dikerjakan di rumah sakit? (mis.ada tiga yang masih dapat
dilakukan). Bagus sekali ada tiga kegiatan yang masih bisa
dikerjakan di rumah sakit ini!”
“Sekarang, coba T pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan
di rumah sakit ini. baik, yang nomor satu, merapikan tempat tidur?
Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita latihan merapikan
tempat tidur T. Mari kita lihat tempat tidur T! Coba lihat, sudah
rapikah temapt tidurnya?”
“Nah, kalau kita mau merapikan tempat tidur, mari kita pindahkan
dulu bantal dan selimutnya. Bagus! Sekarang kita angkat spreinya,
dan kasurnya kita balik. Nah, sekarang kita pasang lagi spreinya,
kita mulai dari arah atas, ya bagus! Sekarang sebelah kaki, tarik
dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil
bantal, rapikan, dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita
lipat selimut! Bagus!”
“T sudah bisa merapikan tempat tidur dengan baik sekali. Coba
perhatikan bedakan dengan sebelum dirapikan! Bagus!”
“Coba T lakukan dan jangan lupa member tanda di kertas daftar
kegiatan, tulis M (mandiri) kalau T lakukan tanpa disuruh, tulis B
(bantuan) kalau T melakukan dengan dibantu, dan tulis T (tidak)
kalau T tidak melakukan (perawat member kertas berisi daftar
kegiatan harian).”
Terminasi
“Bagaimana perasaan T setelah kita bercakap-cakap, dan latihan
merapikan tempat tidur? Ya, T ternyata banyak memiliki
kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini. Salah
satunya, merapikan tempat tidur, yang sudah T praktikkan dengan
baik sekali. Nah, kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah
setelah pulang. Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian.

40
T mau berapa kali sehari merapikan tempat tidur. Bagus, dua kali,
yaitu pagi jam berapa? Lalu sehabis istirahat, jam 4 sore.”
“Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. T masih
ingat kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit
selain merapikan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring… kalau
begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8 pagi di dapur
ruangan ini sehabis makan pagi. Sampai jumpa ya!”
SP 2 Pasien: Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang
sesuai dengankemampuan pasien.
ORIENTASI :
“Selamat pagi, bagaimana perasaan T pagi ini ? Wah, tampak
cerah”
”Bagaimana T, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore
kemarin/ tadi pagi? Bagus (kalau sudah dilakukan, kalau belum
bantu lagi, sekarang kita akan latihan kemampuan kedua. Masih
ingat apa kegiatan itu t?”
”Ya benar, kita akan latihan mencuci piring di dapur”
”Waktunya sekitar 15 menit. Mari kita ke dapur!”
KERJA :
“ T sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan dulu
perlengkapannya, yaitu sabut/tapes untuk membersihkan piring,
sabun khusus untuk mencuci piring, dan air untuk membilas., T
bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh ya jangan
lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa makanan.”
“Sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”
“Setelah semuanya perlengkapan tersedia, T ambil satu piring
kotor, lalu buang dulu sisa kotoran yang ada di piring tersebut ke
tempat sampah. Kemudian T bersihkan piring tersebut dengan
menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun pencuci
piring. Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai
tidak ada busa sabun sedikitpun di piring tersebut. Setelah

41
itu T bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak yang
sudah tersedia di dapur. Nah selesai…”
“Sekarang coba T yang melakukan…”
“Bagus sekali, T dapat mempraktekkan cuci pring dengan baik.
Sekarang dilap tangannya
TERMINASI :
”Bagaimana perasaan T setelah latihan cuci piring ?”
“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi
kegiatan sehari-hari. T Mau berapa kali mencuci piring? Bagus
sekali T mencuci piring tiga kali setelah makan.”
”Besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga, setelah
merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Masih ingat kegiatan
apakah itu? Ya benar kita akan latihan mengepel”
”Mau jam berapa ? Sama dengan sekarang ? Sampai jumpa ”
SP 3: Latihan dapat dilanjutkan untuk kemampuan lain
sampai semua kemampuan dilatih. Setiap kemampuan yang
dimiliki akan menambah harga diri pasien.
Tindakan keperawatan pada keluarga
Keluarga diharapkan dapat merawat pasien dengan harga diri
rendah di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif bagi
pasien.

a. Tujuan :
1) Keluarga membantu pasien mengidentifikasi
kemampuan yang dimiliki pasien
2) Keluarga memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang
masih dimiliki pasien
3) Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan
yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas
keberhasilan pasien

42
4) Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan
kemampuan pasien
b. Tindakan keperawatan :
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam
merawat pasien
2) Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang
ada pada pasien
3) Diskusi dengan keluarga kemampuan yang dimiliki
pasien dan memujipasien atas kemampuannya
4) Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri
rendah
5) Demontrasikan cara merawat pasien dengan harga diri
rendah
6) Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan
cara merawat pasien dengan harga diri rendah seperti
yang telah perawat demonstrasikan sebelumnya
7) Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di
rumah
SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dihadapi
keluarga dalam merawat pasien di rumah, menjelaskan
tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah,
menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah,
mendemonstrasikan cara merawat pasien dengan harga diri
rendah, dan memberi kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktekkan cara merawat
ORIENTASI :
“Selamat pagi !”
“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”
“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara
merawat T? Berapa lama waktu Bapak/Ibu?30 menit? Baik, mari
duduk di ruangan wawancara!”
KERJA :

43
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah T”
“Ya memang benar sekali Pak/Bu, T itu memang terlihat tidak
percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Misalnya
pada T, sering menyalahkan dirinya dan mengatakan dirinya
adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak
Bapak/Ibu memiliki masalah harga diri rendah yang ditandai
dengan munculnya pikiran-pikiran yang selalu negatif terhadap
diri sendiri. Bila keadaanT ini terus menerus seperti itu, T bisa
mengalami masalah yang lebih berat lagi, misalnya T jadi malu
bertemu dengan orang lain dan memilih mengurung diri”
“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri
rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”
“Setelah kita mengerti bahwa masalah T dapat menjadi masalah
serius, maka kita perlu memberikan perawatan yang baik untuk T”
”Bapak/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki T? Ya benar, dia
juga mengatakan hal yang sama(kalau sama dengan kemampuan
yang dikatakan T)”
” T itu telah berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat tidur
dan cuci piring. Serta telah dibuat jadual untuk melakukannya.
Untuk itu, Bapak/Ibu dapat mengingatkan T untuk melakukan
kegiatan tersebut sesuai jadual. tolong bantu menyiapkan alat-
alatnya, ya Pak/Bu. Dan jangan lupa memberikan pujian agar
harga dirinya meningkat. Ajak pula memberi tanda cek list pada
jadual yang kegiatannya”.
”Selain itu, bila T sudah tidak lagi dirawat di Rumah sakit,
bapak/Ibu tetap perlu memantau perkembangan T. Jika masalah
harga dirinya kembali muncul dan tidak tertangani lagi, bapak/Ibu
dapat membawa Bapak ke rumah sakit”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktekkan cara
memberikan pujian kepada Bapak”

44
”temui T dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu
berikan pujian yang yang mengatakan: Bagus sekali T, kamu
sudah semakin terampil mencuci piring”
”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”
TERMINASI :
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan kita ini?”
“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah yang dihadapi T
dan bagaimana cara merawatnya?”
“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah
setiap kali Bapak/Ibu kemari lakukan seperti itu nanti di rumah
juga demikian.”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk
latihan cara memberi pujian langsung kepada Bapak”
“Jam berapa Bapak/Ibu datang? Baik saya tunggu. Sampai
jumpa.”
SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara
merawat pasien dengan masalah harga diri rendah langsung
kepada pasien
ORIENTASI:
“Selamat pagi Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak/Ibu masih ingat latihan merawat keluarga
Bapak/Ibu seperti yang kita pelajari dua hari yang lalu?”
“Baik, hari ini kita akan mempraktekkannya langsung kepada T.”
”Waktunya 20 menit”.
”Sekarang mari kita temui T”
KERJA:
”Selamat pagi T. Bagaimana perasaan T hari ini?”
”Hari ini saya datang bersama keluarga T. Seperti yang sudah
saya katakan sebelumnya, keluarga T juga ingin merawat Bapak
agar T cepat pulih.”
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)

45
”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa mempraktekkan apa yang
sudah kita latihkan beberapa hari lalu, yaitu memberikan pujian
terhadap perkembangan keluarga Bapak/Ibu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat
pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana perasaan T setelah berbincang-bincang dengan
keluarga?”
”Baiklah, sekarang saya dan orang tua Bapak ke ruang perawat
dulu”
(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan
terminasi dengan keluarga)
TERMINASI:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi?”
« «Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat
tadi kepada Bapak»
« tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan
pengalaman Bapak/Ibu melakukan cara merawat yang sudah kita
pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang Pak/Bu »
« Sampai jumpa »
SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama
keluarga
ORIENTASI:
“Selamat pagi Pak/Bu”
”Karena hari ini T direncanakan pulang, maka kita akan
membicarakan jadwal Tselama di rumah”
”Berapa lama Bapak/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di
kantor”
KERJA:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba
diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di
rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama Bapak dirawat

46
dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal
kegiatan maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku
yang ditampilkan olehT selama di rumah. Misalnya kalau T terus
menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran negatif terhadap
diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku
membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi
rumah sakit atau bawa bapak lansung kerumah sakit”
TERMINASI:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan
harianT. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis
atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan
administrasinya!”(Dr. Keliat,Budi Ana. 2007.)

47