You are on page 1of 15

2.

HALUSINASI
A. Definisi
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien
memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau
rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara
padahal tidak ada orang yang berbicara. (Kusumawati Farida, 2012).
Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa pada individu yang
ditandai dengan perubahan sensori persepsi: merasakan sensasi palsu
berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien
seakan stimulus yang sebenarnya tidak ada (Huda, Amin. 2015).
B. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
a. Teori biologis
(1) Teori ini mengidentifikasi faktor genetik yang mungkin terlihat
dalam perkembangan suatu kelainan psikologis (riwayat
keluarga dengan kelainan yang sama).
(2) Kelainan skizofrenia yang merupakan kecacatan sejak lahir,
terjadi pada hypothalamus otak atau terdapat kekacauan sel
piramidal dalam otak.
(3) Teori biokimia, terjadi peningkatan dopamine neutransmitter
yang diperkirakan menghasilkan gejala-gejala peningkatan
aktifitas yang berlebihan dan pemecahan asosiasi yang umunya
ditemukan pada psikis.
b. Teori psikososial
(1) Teori sistem keluarga: terjadi disfungsi perkembangan keluarga
dimana terjadi konflik anatar orang tua yang mempengaruhi
anak
(2) Teori interpersonal
Hubungan orang tua dengan anak yang pernah dengan ansietas.
Bila diperhatikan maka konsep diri akan mengalami
ambivalens.

15
(3) Teori psikodinamik
Mekanisme pertahanan ego pada waktu terjadi ansietas berat
yang maladaptif.
2) Faktor prespitasi
a. Teori biologi
Penelitian tentang penciptaan otak menunjukan keterlihatan otak
yang luas dalam perkembangan skizofernia lesi pada area frontal,
temporal dan limbus paling berhubungan dengan perilaku psikotik.
b. Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia, penelitian
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
(1) Dopamine neuro transmitter yang berlebihan
(2) ketidak seimbangan antara dopamine dan neurotransmitter lain.
(3) Masalah pada sistem dopamin.
c. Teori psikologis
(1) Sosial budaya
Situasi yang berkembang dimasyarakat dapat berpengaruh
terhadap tingkah laku seseorang disingkirkan dari lingkungan
selanjutnya akan berakibat kesepian dan stres ada akhirnya tidak
teratasi, stress yang menumpuk dapat menunjukkan terjadinya
skizofernia dan gangguan psikotik lainnya.
(2) Kehilangan
Kehilangan orang yang dicintai, kehilangan cinta, fungsi
fisik, kedudukan, harga diri dapat mencentuskan terjadinya
gangguan persepsi individu menganggap sesuatu yang telah
hilang itu masih ada. Sehingga mengakibatkan seseorang lari
dari kenyataan dunia nyata.
(3) Kekacauan pola komunikasi dalam keluarga
Tidak ada hubungan saling percaya terbuka sesama anggota
keluarga serta tidak adanya rasa saling menghargai dapat
dipengaruhi persepsi seseorang. Gangguan pada persepsi ini
lama kelamaan akan mencentuskan terjadinya halusinasi.

16
C. Rentang Respon Halusinasi
No. Respons Adaptif Rentang Respons Maladaptif

1. Pikiran Logis Pikiran Kadang Kelainan pikiran delusi


Menyimpang
2. Persepsi akurat Ilusi Halusinasi

3. Emosi Konsisten Reaksi emosional Ketidakmampuan untuk


berlebih mengalami

4. Pikiran sesuai Perilaku ganjil atau Emosi


tidak lazim
5. Hubungan sosial Menarik diri Ketidakakuratan isolasi
sosial

(Stuart dan laraia, 2005)


D. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

b
Perubahan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran

Isolasi sosial : Menarik diri


(Keliat, Budi Ana, 1998))
E. Jenis Halusinasi
1) Halusinasi Non Patologis
Menurut NAMI (National Alliance For Mentally III) Halusinasi
dapat terjadi pada seseorang yang bukan penderita gangguan jiwa. Pada
umumnya terjadi pada klien yang mengalami stress yang berlebihan atau
kelelahan biasa juga karena pengaruh obat-obatan (Halusinasinogenik),
Halusinasi ini antara lain:
a. Halusinasi Hipnogonik : Persepsi sensori yang palsu yang terjadi
sesaat sebelum seseorang jatuh tertidur.

17
b. Halusinasi Hipnopomik : Persepsi sensori yang palsu yang terjadi
pada saat seseorang terbangun tidur.
2) Halusinasi Patologis
Halusinasi ada 5 macam yaitu:
a. Halusinasi Pendengaran (Auditory)
Klien mendengar suara dan bunyi tidak berhubungan dengan
stimulasi nyata dan orang lain tidak mendengar.
b. Halusinasi Penglihatan (Visual)
Klien melihat gambar yang jels atau samar tanpa stimulus yang
nyata dan orang lain tidak melihat.
c. Halusinasi Penciuman (Olfactory)
Klien mencium bau yang muncul dari sumber tentang tanpa
stimulus yang nyata dan orang lain tidak mencium.
d. Halusinasi Pengecapan (Gusfactory)
Klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata. Biasa merasakan
makanan yang tidak enak.
e. Halusinasi Perabaaan (Taktil)
Klien merasakan sesuatu pada kulit tanpa stimulus yang nyata.
F. Patofisiologi
1) Faktor pertama
Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan.
Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristuk; klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan,
rasa bersalah, kesepian yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan.
Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan,
cara ini hanya menolong sementara.
Perilaku klien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai
menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal
yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka
menyendiri.

18
2) Faktor kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu
halusinasi menjadi menjijikan. Termasuk dalam psikotik ringan.
Karakteristik: pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan,
kecemasan meningkat, melamun dan berpikir sendiri jadi dominan.
Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang
lain tahu dan ia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku klien: meningkatnya tanda tanda sistem saraf otonom
seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik
dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.
3) Fase ketiga
Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori
menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik: bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjo,
menguasi dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dab tidak
berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku klien: kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian
hanya beberapa menit atau detik. Tanda tanda fisik berupa klien
berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.
4) Fase keempat
Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan
halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat.
Karakteristik: halusinasinya berubah menjadi mengancam,
memerintah, dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya,
hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang
lain di lingkungan.
Perilaku klien: perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu
merespons terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespons
lebih dari satu orang.

19
G. Manifestasi Klinis
Menurut Stuart and Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution
(2003), seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan
gejala-gejala yang khas yaitu:
1) Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3) Gerakan mata abnormal.
4) Respon verbal yang lambat.
5) Diam.
6) Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan.
7) Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas, misalnya
peningkatan nadi, pernapasan dan tekanan darah.
8) Penyempitan kemampuan konsentrasi.
9) Dipenuhi dengan pengalaman sensori.
10) Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi
dengan realitas.
11) Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasi dari
pada menolaknya.
12) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
13) Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
14) Berkeringat banyak.
15) Tremor.
16) Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
17) Perilaku menyerang teror seperti panik.
18) Sangat potensil melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain.
19) Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan
agitasi.
20) Menarik diri atau katatonik.
21) Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks.
22) Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang. (Amin Huda,
2015)

20
H. Penatalaksanaan
1) Farmokologi
Obat-obat untuk terapi halusinasi berupa anti psikotik, haloperidol
2) Terapi psikosis
Karakteristik utama dari halusinasi adalah rusaknya kemampuan untuk
membentuk dan mempertahankan hubungan sesama manusia, maka
intervensi utama difokuskan untuk membantu klien memasuki dan
mempertahankan sosialisasi yang penuh arti dalam kemampuan klien.
Alternatif lain:
1) Terapi modalitas
Semua sumber daya di rumah sakit disarankan untuk menggunakan
komunikasi yang terapeutik, termasuk semua (staf administrasi,
pembantu kesehatan, mahasiswa dan petugas instasi).
2) Terapi kelompok
Terapi kelompok adalah psikoterapi yang dilakukan pada klien
bersama sama dengan jalan aukusi yang diarahkan oleh seseorang
yang tertatih.
3) Terapi keluarga
Tujuan dari terapi keluarga:
a. Menurunkan konflik kecemasan
b. Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing
masing keluarga
c. Meningkatkan pertanyaan kritis
d. Menggambarkan hubungan peran yang sesuai dengan tumbuh
kembang. Perawat membekali keluarga dengan pendidikan
tentang kondisi klien dan kepedulian pada situasi keluarga.
I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Pengkajian adalah proses untuk tahap awal dan dasar utama dari
proses keperawatan terdiri dari pengumpulan data dan perumusan
kebutuhan atau masalah klien.

21
Data yang dikumpulkan melalui data biologis, psikologis, sosial dan
spritual. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa, dapat
berupa faktor, presipitasi, penilaian terhadap stessor, sumber koping
dan kemampuan yang dimiliki klien.
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanggal dirawat, nomor
rekam medis.
b. Alasan masuk
Alasan klien datang ke RSJ, biasanya klien sering berbicara
sendiri, mendengar atau melihat sesuatu, suka berjalan tanpa
tujuan, membanting peralatan dirumah dan menarik diri.
c. Faktor predisposisi
(1) Biasanya pasien pernah mengalami gangguan jiwa dan
kurang berhasil dalam pengobatan
(2) Pernah mengalami aniaya fisik, penolakan dan kekerasan
dalam keluarga
(3) Klien dengan gangguan orientasi bersifat heriditer
(4) Pernah mengalami trauma masa lalu yang sangat
mengganggu
d. Fisik
Tidak mengalami keluhan fisik
e. Psikososial
(1) Genogram
Pada genogram biasanya terlihat ada anggota keluarga
yang mengalami kelainan jiwa, pola komunikasi klien
terganggu begitupun dengan pengambilan keputusan dan
pola asuh.
(2) Konsep diri
(a) Gambaran diri: klien biasanya mengeluh dengan
keadaan tubuhnya, ada bagian tubuh yang disukai dan
tidak disukai.

22
(b) Identitas diri: klien biasanya mampu menilai
identitasnya
(c) Peran diri: klien menyadari peran sebelum sakit, saat
dirawat peran klien terganggu.
(d) Ideal diri: tidak menilai diri
(e) Harga diri: klien memiliki harga diri yang rendah
sehubung dengan sakitnya
(3) Hubungan sosial: klien kurang dihargai dilingkungan dan
keluarga.
(4) Spritual
(a) Nilai dan keyakinan
Biasanya klien denga sakit jiwa di pandang tidak sesuai
dengan norma agama dan budaya
(b) Kegiatan ibadah
Klien biasanya menjalankan ibadah di rumah
sebelumnya, saat sakit ibadah terganggu atau sangat
berlebih
f. Mental
(1) Penampilan
Biasanya penampilan diri yang tidak rapi, tidak serasi atau cocok dan
berubah dari biasanya.
(2) Pembicaraan
Tidak terorganisir dan bentuk yang maladaptif seperti kehilangan, tidak
logis dan berbelit-belit.
(3) Aktifitas motorik
Meningkat atau menurun, impulsif, kataton dan beberapa gerakan yang
abnormal.
(4) Alam perasaan
Berupa suasana emosi yang memanjang akibat dari faktor presipitasi
misalnya sedih dan putus asa disertai apatis.
(5) Afek
Afek sering tumpul, datar, tidak sesuai dan ambivalen

23
(6) Interaksi selama wawancara
Selama berinteraksi dapat dideteksi sikap klien yang tampak komat-
kamit, tertawa sendiri, tidak terkait dengan pembicaraan.
(7) Persepsi
Halusinasi apa yang terjadi dengan klien.

Data yang terkait tentang halusinasi lainnya yaitu berbicara sendiri dan
tertawa sendiri, menarik diri dan menghindari dari orang lain, tidak dapat
memusatkan perhatian, curiga , bermusuhan, merusak, takut, ekspresi
muka tegang dan mudah tersinggung.

a) Proses pikir
Biasanya klien tidak mampu mengorganisir dan menyusun
pembicaraan yang logis dan koheren, tidak berhubungan,
berbelit. Ketidak mampuan klien ini sering membuat
lingkungan takut dan merasa aneh terhadap klien.
b) Isi fikir
Biasanya klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan
latar belakang budaya klien. Ketidakmampuan memproses
stimulus internal dan eksternal melalui proses informasi dapat
menimbulkan waham.
c) Tingkat kesadaran
Biasayan klien akan mengalami disorientasi terhadap orang,
tempat dan waktu.
d) Memori
Terjadi gangguan daya ingat jangka panjang maupun jangka
pendek. Mudah lupa, klien kurang mampu menjalankan
peraturan yang telah disepakati, tidak mudak tertarik. Klien
berulang kali menanyakan waktu, menanyakan apakah
tugasnya sudah dikerjakan dengan baik, permisi untuk satu hal.
e) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Kemampuan mengorganisasi dan konsentrasi terhadap realitas
eksternal, sukar menyelesaikan tugas, sukar berkonsentrasi

24
pada kegiatan atau pekerjaan dan mudah mengalihkan
perhatian, mengalami masalah dalam memberikan perhatian.
f) Kemampuan penilaian
Klien mengalami ketidakmampuan dalam mengalami
keputusan, menilai dan mengevaluasi diri sendiri dan juga tidak
mampu melaksanakan keputusan yang telah disepakati. Sering
tidak merasa yang dipikirkan dan diucapkan adalah salah.
g) Daya tilik diri.
Klien mengalami ketidakmampuan dalam mengalami
keputusan. Menilai dan mengevaluasi diri sendiri, penilaian
terhadap lingkungan dan stimulus, membuat rencana termasuk
memutuskan, melaksanakan keptusan yang telah disepakati.
Klien yang sama sekali tidak dapat mengalami keputusan mersa
kehidupan sangat sulit, situasi ini sering mempengaruhi
motivasi dan insiatif klien.
8. Kebutuhan persiapan pulang
a) Makan
Keadaan berat, klien sibuk dengan halusinasi dan cenderung
tidak memperhatikan diri termasuk tidak peduli makan karena
tidak memilki minat dan kepedulian.
b) BAK atau BAB
Observasi kemampuan klien untuk BAK atau BAB serta
kemampuan klien untuk membersihkan diri.
c) Mandi
Biasanya klien mandi berulang-ulang atau tidak mandi sama
sekali
d) Berpakaian
Biasnya tidak rapi, tidak sesuai dan tidak diganti
e) Istirahat
Obsevasi tentang lama dan waktu tidur siang dan malam.
Biasanya istirahat klien terganggu bila halusinasinya datang.
f) Pemeliharaan kesehatan

25
Pemeliharaan kesehatan klien selanjutnya, peran keluarga dan
sistem pendukung sangat menentukan.
g) Aktifitas dalam rumah
Klien tidak mampu melakukan aktivitas dalam rumah seperti
menyapu.
9. Aspek medis
Obat yang diberikan pada klien halusinasi biasanya diberikan
antipsikotik seperti haloperidol (HLP), chlorpromazine (CPZ), Triflnu
perazin (TFZ) dan anti parkinson trihenski phenidol (THP),
triplofrazine arkine.
2) Diagnosa
Kemungkinan diagnosa yang biasa ditemukan pada klien GSP: Halusinasi:
a. GSP; Halusinasi
b. Isolasi sosial
c. Perilaku kekerasan
3) Intervensi
Menurut Keliat (2007) tindakan keperawatan yang dilakukan:
a. Membantu klien mengenali halusinasi
Membantu pasien mengenali halusinasi dapat melakukan dengan cara
berdiskusi dengan kilen tentang isi halusinasi (apa yang didengar atau
dilihat) waktu terjadi halusinasi, frekueasi terjadinya halusinasi, situasi
yang menyebabkan halusinasi muncul
b. Melatih klien mengontrol halusinasi;Menghardik halusinasi
(1) SP 1: Menghardik halusinasi
Upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara
menolak haiusinasi yang muncul. klien dilatih untuk mengatakan
tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan
halusinasinya ini dapat dilakukan, klien akan mampu
mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul,
mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien
tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.

26
Tahapan tindakan meliputi: Menjelaskan cara menghardik
halusinasi, memperagakan cara menghardik, meminta klien
memperagakan ulang, memantau penerapan cara ini,
menguatkan perilaku klien.
(2) SP 2 :Menggunakan obat secara teratur
Mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih
untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program.
Klien gangguan jiwa yang dirawat di rumah seringkali
mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien mengalami
kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai
kondisi seperti semula akan lebih sulit, untuk itu klien perlu
dilatih menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan.
Tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat
(a) Jelaskan guna obat
(b) Jelaskan akibat bila putus obat
(c) Jelaskan cara mendapatkan obat atau berobat
(d)Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
(benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu dan benar
dosis)
(3) SP 3 : Bercakap-cakap dengan orang lain
Mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap
dengan orang lain. Ketika klien bercakap cakap dergan orang
lain maka terjadi distraksi, fokus perhatian pasien akan beralih
dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain
tersebut, sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol
halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
(4) SP 4: Melakukan aktivitas yang terjadwal
(a) Mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan
menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur.
Beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami
banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan
halusinasi. Untuk itu klien yang mengalami halusinasi bisa

27
dibantu untuk mengatasi halusinasi Menjelaskan
pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi
halusinasi.
(b) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh klien
(c) Melatih klien melakukan aktivitas
(d) Menyusun jadwal aktivitas sehari hari sesuai dengan
aktivitas yang telah dilatih. Upayakan klien mempunyai
aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, 7 hari dalam
seminggu.
(e) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan memberikan
penguatan terhadap perilaku klien yang positif.

28
DAFTAR PUSTAKA
April, Tutu. 2012. Sistem Neurobehaviour. Jakarta. Salemba Medika
Anna, Budi. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta. EGC
Yusuf, Rizky. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta. Salemba
Media
Kusumawati, Farida. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta. Salemba Medika
Yani, Achir. 2008. Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta. EGC
Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta. Salemba Medika

29