You are on page 1of 15

A.

Definisi

Gout bisa diartikan sebagai sebuah penyakit, karena terjadinya penumpukan asam
urat dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi yang meningkat, pembuangan
yang menurun, atau akibat peningkatan asupan makanan kaya purin (Naga 2012, hal
112). Gout athritis yang biasa disebut sebagai penyakit asam urat merupakan penyakit
yang diakibatkan oleh penumpukan kristal-kristal asam urat, pada persendian yang
berasal dari kelebihan kadar asam urat di dalam darah. Penyakit Gout Athritis di
Indonesia mendudki urutan kedua terbanyak setelah penyakit osteoartritis (OA), yang
biasa dikenal dengan penyakit perkapuran sendi. Pengidap terbanyak penyakit ini adalah
laki-laki usia pertengahan antara 40-50 tahun. Sedangkan kadar asam urat perempuan
umumna tetap rendah, dan baru meningkat setelah menopouse. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan tingginya kadar asam urat di dalam darah. Umumnya kadar asam urat
normal pada laki-laki ialah 3,5 – 7 mg/dl, dan perempuan 2,6 – 6 mg/dl. Namun karena
adanya peningkatan asam urat di dalam darah, maka saat dilakukan pemeriksaan, pasien
yang menderita asam urat melebihi angka normal tersebut.

B. Etiologi

Menurut Mansjoer (2012), Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi
jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat, karena itu dilihat
dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam golongan metabolik. Kelainan ini
berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat hiperurisemia. Hiperuresemia pada
penyakit ini terjadi karena :

1. Pembentukan asam urat yang berlebihan

 Gout primer metabolik, disebakan sintesis langsung yang bertambah.


 Gout sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat berlebihan karena
penyakit lain seperti leukimia.

2. Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal

 Gout primer renal, terjadi karena gangguan ekskresi asam urat ditubuh distal yang
sehat, penyebab ini tidak diketahui.
 Gout sekunder renal, disebabkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada
gromerulonefritis
 Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun, secara klinis hal ini tidak
penting.
Sedangkan menurut Sustrani (2005), faktor yang berpengaruh sebagai penyebab
asam urat adalah:

1. Faktor keturunan
2. Diet tinggi protein dan makanan kaya senyawa purin lainnya seperti
daging, makanan laut, kacang-kacangan, bayam, jamur dan kembang kol
3. Akibat konsumsi alkohol berlebihan
4. Hambatan dari pembuangan asam urat karena penyakit tertentu, terutama
gangguan ginjal
5. Penggunaan obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat, terutama
diuretika ( furosemida dan hidroklorotiazida )
6. Penggunaan antibiotika berlebihan
7. Penyakit tertentu pada darah seperti leukimia dan polisitomia
8. Faktor lain seperti stres, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan olah raga
berlebihan.

C. Manifestasi Klinis

1. Manifestasi klinis yang ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah
sebagai berikut:
2. Nyeri hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat tidur.
3. Saat dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan teraba panas.
Keadaan akut biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari, dilanjutkan dengan periode
tenang. Keadaan akut dan masa tenang dapat terjadi berulang kali dan makin lama
makin berat. Dan bila berlanjut akan mengenai beberapa sendi dan jaringan bukan
sendi.
4. Disertai pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi.
5. Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.

 Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA), seseorang


dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria berikut:
1. Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam cairan sendi.
2. Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam thopi, di tentukan
berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar
terpolarisasi.
3. Di dapatkan 6 dari 12 kriteria di bawah ini :
a. Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali.
b. Terjadi peradangan secara maksimal pada hari pertama gejala atau
serangan datang.
c. Merupakan arthritis monoartikuler (hanya terjadi di satu sisi
persendian).
d. Sendi yang terserang berwarna kemerahan.
e. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau
membengkak.
f. Serangan nyeri unilateral (di salah satu sisi) pada sendi
metatarsophalangeal.
g. Serangan nyeri unilateral pada sendi tarsal (jari kaki).
h. Adanya topus (Deposit besar dan tidak teratur yang berasal dari
natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan
kapsula sendi.
i. Terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah (lebih dari
7mg/dL).
j. Pada gambaran radiologis tampak pembengkakan sendi secara
asimetris (satu sisi tubuh saja).
k. Pada gambaran radiologis tampak kista subkortikal tanpa erosi.
l. Hasil kultur cairan sendi menunjukkan nilai negative. Bengkak,
kemerahan, panas dan rasa nyeri yang hebat pada sendi
metatarsofalangeal ibu jari kaki (podagra) adalah tanda khas gout.

D. Patofisologi

Peningkatan kadar asam urat di dalam darah dapat disebabkan oleh pembentukan
berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah
produk akhir metabolisme purin. Secara normal metabolisme purin menjadi asam urat
dapat diterangkan sebagai berikut: Sintesis purin melibatkan dua jalur yaitu jalur de
novo dan jalur penghematan.

 Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui
prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5 fosfat yang diubah
melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida pirin (asam inosinat,
asam guanilat, asam adenilat).
 Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui
basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan.
Jakur ini melalui zat-zat perantara seperti jalurde novo.

Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk
membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua
enzim : hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin
fosforibosiltransfferase (APRT). Asam urat terbentuk dari hasil metabolisme purin akan
difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal.
Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal, dan
dikeluarkan melalui urin.
E. Diagnosis Medik

Diagnosa asam urat dilakukan dengan pemeriksaan lewat laboratorium,


pemeriksaan radiologis, dan cairan sendi. Selain itu, kita juga bisa melakukan diagnosa
melakukan diagnosa melalui roentgen.

1. Pemeriksaan Laboratorium

Seseorang dikatakan menderita asam urat ialah apabila pemeriksaan laboratorium


menunjukkan kadar asam urat dalam darah diatas 6 mg/dL untuk pria dan lebih dari 5,5
mg/dL untuk wanita. Bukti adanya kristal urat dari cairan sinovial atau dari topus melalui
mikroskop polarisasi sudah membuktikan, bagaimanapun juga pembentukan topus hanya
setengah dari semua pasien dengan gout. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk
mengetahui normal dan tidaknya fungsi ginjal. Sementara itu pemeriksaan profil lemak
darah dijadikan penanda ada dan tidaknya gejala aterosklerosis.

2. Pemeriksaan Cairan Sendi

Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop. Tujuannya ialah untuk


melihat kristal urat atau monosodium urate (kristal MSU) dalam cairan sendi. Untuk
melihat perbedaan jenis arthritis yang terjadi perlu dilakukan kultur cairan sendi. Dengan
mengeluarkan cairan sendi yang meradang maka pasien akan merasakan nyeri sendi yang
berkurang. Dengan memasukkan obat ke dalam sendi, selain menyedot cairan sendi
tentunya, maka pasien akan lebih cepat sembuh.

3. Pemeriksaan dengan Roentgen

Pemeriksaan roentgen perlu dilakukanuntuk melihat kelainan baik pada sendi maupun
pada tulang dan jaringan di sekitar sendi.

F. PENATALAKSANAAN

1. Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk mengobati
serangan gout akut, dan untuk mencegah serangan gout Akut di kemudian hari.
Obat ini juga dapat digunakan sebagai sarana diagnosis.
2. Pengobatan serangan akut biasanya tablet 0,5 mg setiap jam, sampai gejala-gejala
serangan Akut dapat dikurangi atau kalau ternyata ada bukti timbulnya efek
samping gastrointestinal. Dosis maksimurn adalah 4-8 rng, tergantung dari berat
pasien bersangkutan.
3. Efek samping :Beberapa pasien mengalami rasa mual yang hebat, muntah-muntah
dan diarhea, dan pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan.
4. Gejala-gejala pada sebagian besar pasien berkurang dalam waktu 10-24 jam
sesudah pemberian obat. Kolkisin dengan dosis 0,5-2 mg per hari ternyata cukup
efektif untuk mencegah serangan gout berikutnya secara sempurna atau
mendekati sempurna.
5. Penggunaan kolkisin setiap hari cenderung memperingan episode gout
berikutnya, kalau memang serangan gout terjadi lagi. Penggunaan kolkisin jangka
panjang tak memperlihatkan efek samping yang berat.
6. Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati
artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka
kolkisin digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.
7. Terdapat tiga obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi
pencegahan.
 Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asam urat. Dosis 100-400 mg
per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum.
 Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan agen urikosurik, artinya mereka
dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh tubulus ginjal dan dengan
dernikian meningkatkan ekskresi asam urat.

8. Hindari makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi. Di antara jenis
makanan ini termasuk jerohan seperti hati, ginjal, roti manis dan otak. Sardin dan
anchovy (ikan kecfi semacarn haring) sebaiknya dibatasi.

9. Untuk membuang tofi yang besar, terutama kalau tofi mengganggu gerakan
sendi, maka dilakukan pembedahan.

G. PENDIDIKAN KESEHATAN

Penyakit asam urat disebabkan oleh menumpuknya kristal asam urat yang
dihasilkan dari metabolisme zat purin. Oleh karena itu, untuk mengurangi kadar asam
urat, Anda harus mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung zat purin.
Berikut adalah contoh makanan yang menjadi pantangan bagi penderita penyakit asam
urat:

 Jeroan: ginjal, limpa, babat, usus, hati, paru dan otak


 Seafood: udang, cumi-cumi, sotong, kerang, remis, tiram, kepiting, ikan teri, ikan
sarden
 Ekstrak daging seperti abon dan dendeng
 Makanan yang sudah dikalengkan (contoh: kornet sapi, sarden)
 Daging kambing, daging sapi, daging kuda
 Bebek, angsa dan kalkun
 Kacang-kacangan: kacang kedelai (termasuk hasil olahan seperti tempe, tauco,
oncom, susu kedelai), kacang tanah, kacang hijau, tauge, melinjo, emping
 Sayuran: kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur kuping, daun singkong,
daun pepaya, kangkung
 Keju, telur, krim, es krim, kaldu atau kuah daging yang kental
 Buah-buahan tertentu seperti durian, nanas dan air kelapa
 Makanan yang digoreng atau bersantan atau dimasak dengan menggunakan
margarin/mentega
 Makanan kaya protein dan lemak
 Selain pantangan makanan di atas, penderita asam urat juga harus banyak minum
air putih (terutama bagi mereka yang mempunyai batu ginjal). Air putih akan
membantu mengeluarkan kristal asam urat dari dalam tubuh melalui urine.
 Kurangi konsumsi alkohol karena alkohol akan meningkatkan kadar asam laktat,
yang menyebabkan pembuangan asam urat lewat urine berkurang. Akibatnya,
asam urat tertahan dalam peredaran darah dan menumpuk di persendian. Hindari
juga minuman fermentasi seperti bir, wiski, anggur, tape dan tuak karena
mengandung senyawa alkohol.

Tips tambahan bagi penderita asam urat:

 Konsumsi makanan yang mengandung potasium tinggi seperti kentang, yogurt,


dan pisang
 Konsumsi buah yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, pepaya dan
strawberry
 Contoh buah dan sayuran untuk mengobati penyakit asam urat: buah naga,
belimbing wuluh, jahe, labu kuning, sawi hijau, sawi putih, serai dan tomat
 Perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi
 Kurangi konsumsi karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti gula, permen,
arum manis, gulali dan sirup
 Jangan minum aspirin
 Jangan bekerja terlalu keras / kelelahan
 Pada orang yang kegemukan (obesitas), biasanya kadar asam urat cepat naik tapi
pengeluaran sedikit, maka sebaiknya turunkan berat badan dengan olahraga yang
cukup
 Sesuaikan asupan energi dengan kebutuhan tubuh, berdasarkan tinggi dan berat
badan
 Diet Bagi Penderita Asam Urat

Penyakit asam urat memang sangat erat kaitannya dengan pola makan seseorang. Pola
makan yang tidak seimbang dengan jumlah protein yang sangat tinggi merupakan
penyebab penyakit ini. Meskipun demikian, bukan berarti penderita asam urat tidak boleh
mengkonsumsi makanan yang mengandung protein. Asalkan jumlahnya dibatasi, ya tidak
masalah. Selain itu, pengaturan diet yang tepat bagi penderita asam urat mampu
mengontrol kadar asam dan urat dalam darah. Penderita asam urat tinggi, memang harus
hati-hati terhadap makanan. Diet yang dilakukan, harus memenuhi syarat sebagai berikut

1. Pembatasan purin

Apabila telah terjadi pembengkakan sendi maka penderita gangguan asam urat harus
melakukan diet bebas purin. Yang harus dilakukan adalah membatasi asupan purin
menjadi 100-150 mg purin per hari (diet normal biasanya mengandung 600-1.000 mg
purin per hari). Yang bertujuan untuk mengurangi pembentukan asam urat dengan
mengurangi bahan makanan tinggi purin dan menurunkan berat badan
2. Kalori sesuai kebutuhan

Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada
tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat
badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan
kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat.

3. Tinggi karbohidrat

Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh
penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui
urin. Konsumsi karbohidrat kompleks ini sebaiknya tidak kurang dari 100 gram per hari.

4. Rendah protein

Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam
darah. Asupan protein yang dianjurkan bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar
50-70 gram/hari atau 0,8-1 gram/kg berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan
adalah protein nabati yang berasal dari susu, keju dan telur.

5. Rendah lemak

Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng,
bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya
sebanyak 15 persen dari total kalori.
6. Tinggi cairan

Konsumsi cairan yang tinggi dapat membantu membuang asam urat melalui urin. Karena
itu, Anda disarankan untuk menghabiskan minum minimal sebanyak 2,5 liter atau 10
gelas sehari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh, atau kopi. Selain dari
minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak air.
Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis,
dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh
dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang
sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan
lemak yang tinggi.

7. Tanpa Alkohol

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi
alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini
adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan
menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.

 Prinsip Diet

Diet hiperurisemia pertama-tama harus mengikuti dahulu prinsip umum diet gizi
seimbang seperti yang dikemukakan dalam Pedoman Empat-Sehat Lima-Sempurna dan
13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Selanjutnya diet tersebut mengacu pada lima pedoman
yang disyaratkan dalam diet rendah purin: (1) pembatasan bahan makanan yang tinggi
purin; (2) alkalinisasi urin untuk memudahkan ekskresi asam urat (3) peningkatan asupan
cairan; (4) penurunan berat badan pada pasien dengan kegemukan; dan (5) penghindaran
alkohol.
 Perbedaan Nyeri Gout dan Nyeri Sendi
 Artralgia atau yang dikenal dengan istilah nyeri sendi umumnya timbul
pada bubuh tertentu, yaitu sendi dan tempat bertemunya dua tulang atau
lebih pada tubuh. Seangkan nyeri pada gout salah satu keluhan yang
pernah dirasakan hampir setiap orang. Nyeri Gout dapat dirasakan oleh
setiap bagian tubuh. Sebab hampir seluruh bagian tubuh memiliki jaringan
otot.
 Nyeri sendi umumnya disebabkan oleh trauma atau cedera, infeksi,
penyakit rematik, maupun kelainan degeneratif lainnya. Nyeri sendi
umumnya dikeluhkan pada sendi lutut, sendi panggul, sendi bahu, serta
sendi pada jari-jari tangan dan kaki. Dan Nyeri Gout umumnya timbul
sebagai akibat dari cedera fisik. Misalnya terjatuh, aktivitas fisik berat,
atau aktivitas lain yang menyebabkan tingkat ketegangan otot menjadi
meningkat. Nyeri yang timbul akibat nyeri otot dapat disertai rasa kram
dan spasme atau kekakuan.
 Nyeri Gout dan nyeri sendi dapat dibedakan melalui fakta bahwa nyeri
otot umumnya berlangsung lebih singkat. Kadar nyeri akan semakin berat
sehubungan dengan aktivitas yang dilakukan dan dapat berkurang dengan
beristirahat.
G. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. Untuk itu,
diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah klien sehingga dapat
memberi arah terhadap

a. Anamnesis : Identitas ( Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang
digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi kesehatan, golongan
darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosis medis.

Pada umunya keluhan utama artritis reumatoid adalah nyeri pada daerah sendi yang
mengalami masalah.Untuk mempperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien,
perawat dapat menggunakan metode PQRST.

1) Provoking incident : Hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah peradangan.
2) Quality Of Painn: Nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien bersifat menusuk.
3) Region,Radition,Relief : Nyeri dapat menjalar atau menyebar , dan nyeri terjadi di
sendi yang mengalami masalah.
4) Severity(scale) Of Pain: Nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3 pada rentang skala
pengukuran 0-4.
5) Time : Berapa lama nyeri berlangsung,kapan,apakah bertambah buruk pada malam hari
atau siang hari.

b. Riwayat penyakit sekarang


Pengumpulan data dilakukan sejak muncul keluhan dan secara umum, mencakup awitan
gejala, dan bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting di tanyakan berapa lama
pemakaian obat analgesic, alopurinol.

c. Riwayat penyakit dahulu


Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya
gout. Masalah lain yang perlu ditanyakan adalah adakah klien pernah dirawat dengan
masalah yang sama. Kaji adanya pemakaian alcohol yang berlebihan dan penggunaan
obat diuretic.
d. Riwayat penyakit keluarga
Kaji adakah keluarga dari genarasi terdahulu mempunyai keluhan yang sama dengan
klien karena penyakit gout berhubungan dengan genetik. Ada produksi/sekresi asam urat
yang berlebihan yang tidak di ketahui penyebabnya.

e. Riwayat psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan penyakit klien dalam
keluarga dan masyarakat. Respon yang di dapat meliputi adanya kecemasan individu
dengan rentang variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat dengan
adanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri, dan ketidaktahuan
akan program pengobatan dan prognosis penyakit serta peningkatan asam urat terhadap
sirkulasi.
Adanya perubahan peran dalanm keluarga akibat adanya nyri dan hambatan mobilitas
fisik memberikan respon terhadap konsep diri yang maldaptif.

f. Pengkajian Berdasarkan Pola


1) Pola Presepsi dan pemeliharaan kesehatan
a) Keluhan utama nyeri pada pada sendi
b) Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau mengurangi serangan.
c) Riwayat penyakit Gout pada keluarga
d) Obat utntuk mengatasi adanya gejala

2) Pola nutrisi dan metabolic


a) Peningkatan berat badan
b) Peningkatan suhu tubuh
c) Diet

3) Pola aktifitas dan Latihan


a) Respon sentuhan pada sendi dan menjaga sendi yang terkena

4) Pola presepsi dan konsep diri


a) Rasa cemas dan takut untuk melakukan pergerakan
b) Presepsi diri dalam melakukan mobilitas

g. Pemeriksaaan fisik

1) B1 (Breathing)
a) Inspeksi: bila tidak melibatkan sistem pernapasan,biasanya ditemukan kesimetrisan
rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
b) Palpasi: taktil fremitus seimbang kiri dan kanan
c) Perkusi : Suara resona pada seluruh lapang paru
d) Auskultasi : suara napas hilang/melemah pada sisi yang sakit, biasanya di dapat suara
ronki atau mengi.

2) B2 (Blood): pengisian kapiler kurang dari 1 detik,sering ditemukan keringat dingin,dan


pusing karena nyeri.

3) B3 (Brain): kesadaran biasanya kompos mentis


a) Kepala dan wajah : ada sianosis
b) Mata : sclera biasanya tidak ikterik
c) Leher : biasanya JVP dalam batas normal

4) B4 (Blader) : produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada
sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa
pielonefritis, batu asam urat, dan GGK yang akan menimbulka perubahan fungsi pada
sistem ini.

5) B5 (bawel) : kebutuhan eliminasi pada kasus gout tidak ada gangguan, tetapi perlu dikaji
frekuensi, konsistensi,warna, serta nbau feses. Selain itu perlu di kaji frekiensi,
konstitensi, warna, bau, dan jumlah urine. Klien biasanya mual, mengalami nyeri
lambung,dan tidak ada nafsu makan, terutama klien yang memakai obat analgesik dan
anti hiperurisemia.

6) B6 (Bone) : pada pengkajian ini ditemukan


a) Look: keluhan nyeri sendi uyang merupakan keluhan utama yang mendorong klien
mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
b) Feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak
c) Move: hambatan gerahan sendi biasanya semakin memberat

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera.


b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan kontraktur.
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi.
3. Intervensi

No Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi


1. Nyeri akut Pasien mampu 1. Kaji nyeri pasien menggunakan
berhubungan menjelaskan kadar metode PQRST.
dengan agen-agen dan karakteristik R/ Memberikan informasi sebagai
penyebab cedera nyeri dasar dan pengawasan
keefektifan intervensi.

2. Bantu pasien untuk


mendapatkan posisi yang
nyaman.
R/ Untuk menurunkan ketegangan
atau spasme otot dan
mendistribusikan kembali
tekanan pada bagian tubuh.

3. Lakukan tindakan kenyamanan


untuk meningkatkan relaksasi,
seperti pemijatan, mengatur
posisi, dan teknik relaksasi.
R/ Membantu pasien
mwmfokuskan pada subjek
pengurangan nyeri.

4. Cegah agar tidak terjadi iritasi


pada tofi, misalnya
menggunakan sepatu yang
sempit dan terantuk benda yang
keras
R/ Bila terjadi iritasi maka akan
semakin nyeri.

5. Berikan obat-obatan yang


dianjurkan sesuai indikasi
R/ untuk mengurangi nyeri yang
adekuat.
2. Hambatan Pasien mampu 1. Melakukan latihan ROM untuk
mobillitas fisik mempertahankan sendi yang terkena gout jika
berhubungan kekuatan otot dan memungkinkan
dengan kaku sendi ROM sendi R/ Tindakan ini mencegah
dan kontraktur kontraktur sendi dan atrofi otot.

2. Miringkan dan atur posisi


pasien setiap 2 jam sekali pada
pasien tirah baring
R/ Tindakan ini mencegah
kerusakan kulit dengan
mengurangi tekanan.

3. Pantau kemajuan dan


parkembangan kemampuan
klien dalam melakukan
aktivitas
R/ untuk mandeteksi
perkembangan klien.

4. Kolaborasi dengan ahli


fisioterapi untuk latihan fisik
klien.
R/ kemampuan mobilisasi
ekstremitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik.

5. Ajarkan pasien atau anggota


keluarga tentang latihan ROM
R/ Untuk membantu persiapan
pemulangan pasien.
3. Defisit Pasien mampu 1. Kaji kemampuan pasien dalam
pengetahuan mengkomunikasikan mengungkapkan intruksi yang
berhubungan apa yang dirasakan diberikan
kurang dan yang diajarkan. R/ Mengetahui respond an
pajanan informasi kemampuan kognitif pasien
dalam menerima informasi.

2. Berikan jadwal obat yang di


gunakan meliputi nama obat,
dosis, tujuan dan efek samping
R/ Tindakan ini dapat
meningkatkan koordinasi dan
kesadaran pasien terhadap
pengobatan yang teratur.

3. Berikan informasi mengenai


alat-alat bantu yang mungkin
dibutuhkan
R/ mengurangi paksaan untuk
menggunakan sendi dan
memungkinkan individu untuk
ikut serta secara lebih nyaman
dalam aktivitas yang
dibutuhkan.

4. Jelaskan pada pasien


menegenai penyakit yang
dialami.
R/ memberikan pengetahuan
pasien sehingga dapat
menghindari terjadinya
serangan berulang.

5. Dorong pemasukan diet rendah


purin dan cairan yang adekuat
R/ meningkatkan
penyembuhan.

4. Evaluasi
a. Discharge Planning
Selama dirawat di Rumah Sakit, pasien sudah dipersiapkan untuk perawatan dirumah.
Beberapa informasi penyuluhan pendidikan yang harus sudah dipersiapkan/diberikan
pada keluarga pasien ini adalah:
1) Pengertian dari penyakit Arthritis gout.
2) Penjelasan tentang penyebab penyakit.
3) Memanifestasi klinik yang dapat ditanggulangi/diketahui oleh keluarga.
4) Penjelasan tentang penatalaksanaan yang dapat keluarga lakukan.
5) Klien dan keluarga dapat pergi ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat apabila ada gejala
yang memberatkan penyakitnya.
6) Keluarga harus mendorong/memberikan dukungan pada pasien dalam menaati program
pemulihan kesehatan.
7) Anjurkan pasien untuk diet rendah purin.