You are on page 1of 9

UPAYA PENINGKATAN PERAN KOWIL DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KTR

PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Binter TNI AD bertujuan mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun Binter memang
secara organisasi dibebankan ke kesatuan-kesatuan Kowil, berarti Kowil inilah yang menyentuh
langsung kepada masyarakat. Oleh karena itu tujuan Binter TNI AD yang akan dicapai adalah
segala usaha kegiatan dan tindakan dalam membina hubungan dengan segenap lapisan masyarakat
sehingga tercipta kemanunggalan TNI dengan Rakyat untuk didaya gunakan bagi kepentingan
Pertahanan Negara Matra Darat.

b. Perwujudan Kemanunggalan TNI dengan Rakyat merupakan sasaran khusus TNI AD dalam
rangka pencapaian tugas pokoknya Binter oleh peran Kowil. Tetapi dari berbagai pengalaman
penugasan menampakkan bahwa peran Kowil dalam pelaksanaan tugas sehari-hari belum maksimal,
oleh karena itu perlu adanya peningkatan peran Kowil dalam rangka mewujudkan Kemanunggalan
TNI dengan rakyat. Karena kekuatan yang ampuh untuk menghadapi kesewenang-wenangan negara
adalah kesatu paduan rakyat dengan wawasan kebangsaan yang kuat dan kemanunggalannya
dengan TNI adalah merupakan kata kunci.

2. Maksud dan Tujuan.


a. Maksud. Memberikan gambaran tentang upaya peningkatan peran Kowil dalam rangka
mewujudkan kemanunggalan TNI dengan Rakyat.
b. Tujuan. Sebagai bahan masukkan kepada Dansat Kowil sehingga peran Kowil dapat
didayagunakan untuk kepentingan Pertahanan Negara Matra Darat.
3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup pembahasan tulisan ini hanya dibatasi pada
tingkat Kodim dalam upaya meningkatkan peran Kowil untuk mewujudkan Kemanunggalan TNI
dengan rakyat yang disusun dengan tata urut sebagai berikut :
a. Pendahuluan
b. Latar belakang pemikiran
c. Kondisi peran Kowil saat ini
d. Faktor-faktor yang berpengaruh
e. Kondisi peran Kowil yang diharapkan
f. Upaya-upaya yang dilakukan
g. Penutup

4. Metode dan Pendekatan. Penulisan karangan militer ini menggunakan metode diskriptif
analisis dengan pendekatan empiris, yaitu pengamatan dan pengalaman penulis selama
melaksanakan tugas.

5. Pengertian.

a. Kowil adalah merupakan gelar kekuatan TNI AD Sistem Pertahanan Negara Matra Darat.
Diharapkan Kowil sebagai kompartemen strategis yang diperkuat dengan satpur, satbanpur dan
satbanmin maupun memberi perlawanan secara mandiri terhadap ancaman yang terjadi di wilayah
sebelum ada bantuan perkuatan dari pusat.
b. Kemanunggalan TNI-Rakyat adalah kondisi kejiwaan rakyat dimana rakyat telah bersama,
senasib seperjuangan dengan TNI, rela berkorban dalam membela, menegakkan, mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia, dapat dikatakan bahwa kekuatan atau roh TNI AD adalah
kemanunggalan TNI dengan rakyat, TNI tanpa dukungan rakyat TNI AD tidak berarti apa-apa.
BAB II
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

6. Umum. Pada saat ini kegiatan teritorial masih dapat dilaksanakan, dimana masih dapat
terkendalinya kondisi masyarakat dan masih adanya kepedulian masyarakat terhadap situasi yang
aman, tetapi masih banyak potensi-potensi Teritorial belum terbina secara optimal karena peran
Kowil masih mengandalkan ilmu yang dilaksanakan dari dahulu yaitu berupa pengalaman dan kurang
dapat membaca situasi dan kondisi masyarakat, tidak sedikit Binter mengarah kepada kepentingan
pribadi. Hal ini yang menyebabkan peran Kowil masih perlu ditingkatkan, sedangkan permasalahan
yang harus diselesaikan di wilayah sangat komplek, oleh karena itu perlu adanya kebersamaan
antara TNI dengan rakyat.

7. Landasan Pemikiran.

a. UU No. 3 tahun 2002. Pertahanan Negara yang dalam pelaksanaannya melalui komponen-
komponen bangsa, yaitu :

1) Komponen Utama adalah TNI.


2) Komponen Cadangan adalah Sumber Daya Nasional yang telah disiapkan untuk dikerahkan
melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama.
3) Komponen Pendukung adalah Sumber Daya Nasional yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan.

b. Pokok-Pokok Kebijaksanaan Kasad Tentang Binter.

1) TNI harus mampu melindungi, mengayomi, membela rakyat dari segala ancaman, sebaiknya
jangan sampai menyakiti hati rakyat dengan perbuatan yang tercela, senantiasa berpedoman kepada
8 wajib TNI.
2) Semua kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan kemanunggalan TNI dengan Rakyat guna
mendukung keberhasilan Tugas Pokok TNI disebut Binter.
3) Setelah reformasi Kowil kembali ke jati diri TNI yaitu hanya menangani masalah Binter
sedangkan Binyah oleh Pemda dan Binkamwil oleh Polri.
4) Mengacu pada buku putih Pertahanan yang dikelurkan Menhan RI menjelaskan bahwa
penyelenggaraan fungsi Teritorial dilaksanakan oleh TNI untuk memelihara kedekatan dengan
Rakyat dan Teritorialnya.

c. Tap MPR NO. VII/MPR/2000 tentang Peran TNI. TNI mempunyai peran sebagai alat negara
dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan RI dalam Pertahanan Negara.
Sedangkan Polri mempunyai peran dalam menjaga keamanan ketertiban masyarakat serta
menjalankan tugas dalam bidang Undang-Undang dan penegakkan hukum di Negara Kesatuan RI.

8. Hal-hal Lain.

a. Perkembangan Lingkungan. Sekarang ini, dalam menjalani hidup dan kehidupan sebagai
bangsa, tidak mungkin terlepas dari pengaruh perkembangan lingkungan yang sarat dengan
dinamika dan perubahan yang sangat signifikan. Dalam lingkup global telah terjadi pergeseran
kepentingan, situasi seperti ini telah pula mengembalikan budaya jaman purba, dimana demi
kepentingannya, pihak yang kuat menindas yang lemah.

b. Wawasan Kebangsaan. Kebersamaan rakyat dan komponen bangsa yang lainnya dengan TNI
yang sering kita kenal sebagai kemanunggalan TNI dengan rakyat harus dibina dan dijaga secara
berkelanjutan guna mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan RI.

c. Tantangan kedepan diperlukan kualitas Sumber Daya Manusia yang perlu dipersiapkan untuk
menghadapi berbagai macam perubahan yang signifikan perkembangan politik bangsa dan negara
serta terjadinya perpecahan-perpecahan di tubuh Partai Politik akan berpengaruh terhadap pusat
kinerja lembaga-lembaga Partai dan lembaga-lembaga lainnya sangat berbahaya dan sangat tidak
menguntungkan.

BAB III
KONDISI PERAN KOWIL DALAM RANGKA KEMANUNGGALAN
TNI DENGAN RAKYAT SAAT INI

9. Umum.
a. Penentuan upaya dalam peningkatan peran Kowil saat ini tidak terlepas dari kemampuan dasar
yang telah dimiliki oleh para aparat Kowil itu sendiri kemampuan dasar yang dimaksudkan adalah
meliputi kemampuan fisik dan non fisik maupun sebagai petugas di Kowil yang dapat berpengaruh
terhadap keberhasilan dalam pelaksanaan tugasnya di masa mendatang.
b. Peran Kowil belum mendapat tanggapan sungguh-sungguh dari institusi maupun instansi di luar
TNI, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan Binter di lapangan
belum merupakan kegiatan terpadu dalam arti yang sebenarnya.
10. Peran Kowil.
a. Dalam pelaksanaan tugasnya, aparat Kowil berhadapan langsung dengan masyarakat.
b. Kondisi saat ini aparat Kowil secara maksimal memiliki sikap Teritorial yang mencakup
kemampuan masing-masing dan adanya tanggung jawab serta dedikasi yang tinggi, maupun sikap
tanggap dan kepekaan terhadap setiap gejala yang berkembang di dalam kehidupan sosial di
masyarakat.
c. Sikap aparat Kowil dalam kehidupan sehari-hari belum dapat mencerminkan suatu
kesederhanaan, dalam hal ini bukan hanya kesederhanaan dalam sikap, tingkah laku serta tata
krama. Namun kurangnya dalam pemahaman pola hidup sederhana, banyak personel Kowil yang
mempunyai sikap over acting, sok dan sombong serta menjurus pada ingin menang sendiri. Hal ini
merupakan penghambat dalam Binter.
d. Dalam kehidupan sehari-hari aparat Kowil belum menunjukkan sikap dan perilakunya sebagai
tauladan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dari sikap-sikap aparat Kowil terhadap masyarakat belum
dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, sehingga sering terdapat kesalah pahaman antara
masyarakat dengan aparat Kowil.
11. Kemanunggalan TNI dengan Rakyat. Keberhasilan mewujudkan kemanunggalan TNI rakyat
pada saat ini, pada tingkat keberhasilan yang baik. Namun masih ada beberapa kelemahan dan
kekurangan, indikasi yang terlihat sebagai berikut :
a. Adanya sebagian masyarakat yang bersikap Apriori terhadap kehadiran TNI, misalnya adanya
rakyat yang mengakui TNI adalah bagian dari masyarakat.
b. Kurangnya rasa saling pengertian dan rasa hormat menghormati antara TNI dengan Rakyat dan
antara Rakyat dengan TNI. Hal ini diakibatkan oleh oknum TNI maupun masyarakat yang tidak
senang dengan kehadiranTNI.
12. Permasalahan.
a. Tantangan utama yang dihadapi TNI sebagai Bhayangkari Negara adalah bagaimana TNI dan
seluruh komponen bangsa dapat terus menjaga dan menyelamatkan kedaulatan Negara Kesatuan RI
dari ancaman baik eksternal maupun internal, menyadari betapa berat tantangan tugas ke depan
peran Kowil yang semakin berat dan kompleks, sudah sepatutnya langkah konkrit yang harus
dibangun adalah bagaimana menyatukan langkah bersatu bersama-sama Rakyat menghadapi
persoalan bangsa ini.

b. Rakyat sebagai kekuatan dasar Bhayangkari Negara bagi keberhasilan tugas TNI dalam
mewujudkan rasa aman dan keamanan lingkungan, tanpa didukung rakyat, TNI jelas tidak akan
mampu berbuat banyak. Saat ini yang diperlukan masyarakat adalah jaminan rasa aman untuk
melakukan semua aktifitas kegiatan sehari-hari bahwa jika ada persoalan yang muncul baik ekonomi,
politik, dan sosial budaya, limbahnya tidak dapat dihindarkan pasti akan mengalir kepada aspek
keamanan akhirnya kepada TNI.
¬c. Gerakan reformasi yang sedang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dengan berbagai tuntutan
Korupsi Kolusi dan Nepotisme merupakan perubahan yang dramatis telah mengguncang bangsa
Indonesia di bidang ekonomi, politik, hukum dan HAM, situasi yang tidak menentu telah membuat
kondisi kehidupan nasional semakin rumit. Banyaknya organisasi LSM pada saat ini sebagai
penggerak organisasi sosial politik yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk
melakukan mimbar bebas, unjuk rasa dan dengan bebasnya masyarakat untuk mengeluarkan
pendapat yang kadang kala menimbulkan kondisi psikologi politis menguntungkan salah satu
golongan tertentu.
d. Gelombang reformasi yang diikuti krisis ekonomi, krisis kepercayaan mengakibatkan pendapatan
masyarakat menurun dan sebagian masyarakat melakukan kekerasan atau memaksakan
kehendaknya dengan mengatas namakan rakyat, kekerasan dilaksanakan seolah-olah sudah
menjadi biasa dan menjadi peradaban baru masyarakat Indonesia yang pada akhirnya tindakan-
tindakan tersebut merugikan kita semua dan pada umumnya cenderung melawan hukum.
e. Pengaruh perkembangan politik dan ekonomi saat ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan
masyarakat lapisan bawah sehingga masyarakat mudah terhasut dan terseret untuk melakukan
tindakan destruktif inkonstitusional yang dapat merugikan terhadap kesatuan dan persatuan bangsa,
masyarakat yang selalu diombang-ambingkan dengan issue-issue atau berita-berita yang belum jelas
mengakibatkan terjadinya unjuk rasa dan kekerasan.

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
13. Umum.
a. Semakin majunya tingkat pendidikan masyarakat maka masyarakat semakin peka dan
semakin kritis atau teliti dalam setiap menghadapi semua persoalan atau permasalahan yang muncul
di tengah-tengah kehidupan masyarakat, sehingga segala bentuk perkembangan situasi dapat
dengan cepat menyebar di seluruh masyarakat terutama dikalangan intelektual.
b. Kesadaran hukum semakin tinggi, akan menambah pengetahuan masyarakat secara
menyeluruh sehingga dampak dari itu semua masyarakat menjadi mengenal dan mengerti tentang
hukum yang berlaku, akibatnya masyarakat semakin berani dan terbuka, dimana setiap terjadi
pelanggaran hukum dengan cepat muncul dipermukaan dan masyarakat membawa penyelesaian
permasalahan tersebut melalui proses hukum yang berlaku.

14. Faktor Internal.

a. Kekuatan.
1) Reformasi internal TNI merupakan salah satu jawaban dari sebuah konsekuensi yang tidak
mungkin terelakkan, oleh karena itu TNI melalui paradigma barunya telah bertekad melakukan
evaluasi serta intropeksi terhadap segala kelemahan, kekurangan dan bahkan kekeliruan yang
pernah dialami pada waktu-waktu sebelumnya, dalam rangka menghadapi tugas-tugas di masa
depan yang semakin kompleks, termasuk pentingnnya penataan kembali pola Binter yang lebih
proporsional.
2) Kesiapan prajurit yang mampu mengaplikasikan pola Binter di lapangan sebagai pelaku utama
dalam menyiapkan berbagai kepentingan TNI termasuk penyiapan upaya peningkatan peran Kowil
dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
b. Kelemahan.
1) Sumber daya prajurit TNI AD untuk memenuhi tuntunan dalam melaksanakan tugas pokoknya
kurang menanamkan kesadaran unutk menumbuhkan motivasi serta keyakinan tentang tugas
tanggung jawabnya sebagai aparat Kowil.
2) Jumlah personel TNI AD yang bertugas di Kowil bila dihadapkan dengan luas wilayah masih
kurang dan secara umum atau sebagian besar prajurit belum mempunyai pengetahuan Teritorial dan
kursus Teritorial.
3) Piranti lunak/piranti keras merupakan suatu sarana dan prasarana yang diperlukan oleh aparat
Kowil masih kurang oleh karena itu peran Kowil dalam melaksanakan tugas pokoknya belum optimal.
15. Faktor Eksternal.
a. Peluang.
1) Akibat krisis moneter yang berkepanjangan disamping mengakibatkan krisis ekonomi juga
mengakibatkan krisis kepercayaan dan krisis hukum yang disebabkan oleh banyaknya korban
pemutusan hubungan kerja dan pengangguran, masyarakat cenderung mengabaikan hukum yang
telah ada disebabkan dorongan kebutuhan hidup tidak dapat terpenuhi. Untuk mencegahnya perlu
upaya peningkatan peran Kowil bekerja sama dengan aparat pemerintah, tokoh agama, tokoh
masyarakat untuk terjun langsung memeberikan pembinaan, penyuluhan sehingga akan tercapai
kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mengatasi persoalan bangsa.
2) Masyarakat agar selalu menyatakan tekad dan langkah bersama kepada hal-hal positif demi
terciptanya suasana yang damai, aman dan sejahtera, melalui ceramah agama yang dilaksanakan
oleh para tokoh agama seperti, kyai, pastur, pendeta dan juru dakwah yang dapat diterima oleh
masyarakat dihadapkan dengan situasi dan kondisi saat ini sama-sama menjaga keamanan
lingkungan.
b. Kendala.
1) Perkembangan situasi pada era reformasi berdampak pada penggeseran tata nilai dalam
kehidupan masyarakat. Kondisi ini jika tidak tercemati dan diantisipasi dari awal dapat berpengaruh
terhadap pelaksanaan tugas Kowil dalam Binter di daerah yang menghambat proses kemanunggalan
TNI dengan rakyat.
2) Adanya upaya-upaya oleh kelompok/LSM yang berseberangan dengan tekad TNI dalam
menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan RI.

BAB V
KONDISI YANG DIHARAPKAN

16. Umum. Kondisi dinamika suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi
segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang langsung maupun tak langsung tidak
luput dari kondisi peran Komando Kewilayahan yang perlu terus diatur dan ditingkatkan sehingga
dapat bersama-sama menggugah semangat kepada seluruh komponen bangsa dalam menjaga
keutuhan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
17. Peran Kowil.
a. Perwujudan peran Kowil secara mantap dengan jalan membantu meningkatkan kesejahteraan
rakyat baik mental spiritual maupun fisik material disertai dengan usaha untuk menciptakan dan
memelihara iklim kekeluargaan dan semangat gotong royong rakyat bersama TNI dalam menghadapi
dan menanggulangi berbagai masalah sosial.
b. Binter diintensifkan dengan jalan menerapkan secara efektif dan efisien peran Kowil dalam
membina hubungan dengan segenap aspek kehidupan masyarakat serta pengamalan delapan wajib
TNI, menerapkan jiwa dan semangat kebersamaan antara TNI dengan rakyat yang harus selalu
bersatu padu dalam pembelaan negara.
18. Kemanunggalan TNI dengan Rakyat.
a. Peran TNI sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan negara maka TNI AD harus
melaksanakan Binter di wilayahnya agar terwujud kemanunggalan TNI dengan rakyat sebagai basis
penyiapan kekuatan pengganda sehingga terwujud kekuatan yang ampuh untuk menghadapi
berbagai kemungkinan ancaman yang timbul.

b. Binter sebagai tugas terkandung yang mau tidak mau atau suka tidak suka harus dilakukan oleh
setiap prajurit dan satuan-satuan TNI AD untuk merealisasikan tugas pokoknya secara optimal jadi
berbicara tentang Binter, tujuan utamanya adalah terwujudnya kemanunggalan TNI dengan rakyat
merupakan kekuatan sinergis yang efektif untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa.
c. TNI AD yang dicintai rakyat, prajurit TNI AD adalah pelindung rakyat Bayangkhari Negara,
membela rakyat dan tidak menyakiti hati rakyat oleh karena itu prajurit TNI AD harus manunggal
dengan rakyat, mengingat TNI AD adalah tentara rakyat, harus berjuang bersama rakyat dan untuk
kepentingan rakyat. TNI AD tanpa dukungan dari rakyat tidak berarti apa-apa, karena roh TNI AD ada
pada kemanunggalan TNI dengan rakyat.

BAB VI
UPAYA PENINGKATAN PERAN KOWIL

19. Umum. Upaya peran Kowil akan selalu bersama-sama aparat lainnya mengawasi
kemungkinan adanya provokator dari luar daerah maupun dalam daerah yang berusaha untuk
mengajak, mempengaruhi kepada masyarakat untuk berbuat melawan hukum ataupun yang selalu
menentang kebijaksanaan pemerintah, membantu mendirikan pos-pos keamanan lingkungan yang
dianggap perlu dan mengawasi di setiap pos yang telah dibuat, setiap saat baik siang maupun
malam melaksanakan kontrol agar dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya serta memacu
kepada masyarakat untuk selalu waspada sehingga terjalin kerjasama yang baik antara aparat Kowil
dengan komponen bangsa lainnya sehingga semua kejadian yang akan menggangu keamanan akan
dapat segera diatasi.
20. Tujuan.
a. TNI akan selalu menempatkan diri sebagai bagian dari sistem nasional yang bertugas pokok
menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945.
b. TNI tetap merupakan institusi negara yang secara konstitusional wajib melaksanakan dan
mengamankan kebijaksanaan pemerintah yang sah, sehingga dalam kehidupan pemerintahan
sehari-hari TNI tunduk, patuh dan taat kepada presiden yang sekaligus juga patuh terhadap
keputusan MPR dan DPR sebagai lembaga tinggi negara.
21. Sasaran.
a. Sasaran non fisik manunggal adalah kesadaran bernegara dan kesadaran bela negara,
keduanya merupakan landasan yang kokoh dalam perlawanan rakyat menghadapi bentuk-bentuk
ancaman masa depan.

b. Sasaran fisik berdampak kesejahteraan masyarakat, merupakan mata rantai penataan daerah
pangkal perlawanan untuk terwujudnya sistem pertahanan negara matra darat dan keamanan rakyat
semesta.
c. Tugas pokok TNI adalah menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan RI maka sasaran
yang akan dicapai tidak terlepas dari pertahanan negara. Oleh karena itu, upaya peningkatan peran
Kowil dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat perlu dilaksanakan secara
maksimal sehingga tugas-tugas yang dilaksanakan dapat berhasil sesuai harapan dan cita-cita
bangsa Indonesia.

22. Subyek. Dilihat dari kaitan pelaksanaan peningkatan peran Kowil dalam mewujudkan
kemanunggalan TNI dengan rakyat, secara normatif subyek dari kemampuan Kowil itu sendiri adalah
seluruh aparat Kowil. Namun dilihat dari kepentingan TNI AD unsur-unsur Kowil merupakan
penanggung jawab terhadap keberhasilan peningkatan peran Kowil, sekalipun tugas itu tidak
dikerjakan sendiri.
23. Obyek. Yang menjadi obyek dalam peningkatan peran Kowil adalah aparat Kowil dan
masyarakat, karena keduanya saling mempengaruhi dalam hal Binter dengan pengertian saling
kerjasama, hal ini disebabkan sifat masyarakat yang dinamis dan selalu berkembang sehingga perlu
penyesuaian.

a. Aparat Kowil.
1) Menghindari dan menjauhi sikap arogansi, over acting agar bisa menjadi pengayom dan panutan
masyarakat.
2) Mensosialisasikan peran dan fungsi Binter kepada semua pejabat sipil, militer dan tokoh-tokoh
masyarakat secara terintegrasi dan komperhensif.
3) Meningkatkan kepekaan terhadap perkembangan-perkembangan lingkungan baik bercorak
internasional, regional, nasional maupun kewilayahan.
b. Masyarakat. Kita semua mencermati bahwa saat ini sedang terjadi perubahan-perubahan nilai
masyarakat, apabila transportasi sosial tidak dikendalikan, hal ini dapat dibenarkan adanya
singlemen bahwa masyarakat menyimpan dendam dari perlakuan yang menekan di masa lalu maka
mereka sekarang mulai marah, bringas dan sadis serta tidak manusiawi lagi dalam menyelesaikan
konflik asas kekeluargaan, kegotong-royongan dan musyawarah untuk mufakat seakan tidak berlaku
lagi dalam struktur sosial kehidupan masyarakat sehingga di masa lalu yang tampak adalah tindakan
penyelesaian dengan jalan kekerasan dan melanggar hukum.
24. Metoda.
a. Pembinaan Ketahanan Wilayah. Sebagai darma bhakti TNI dalam perjuangan bangsa untuk
menunjang pembangunan dalam mewujudkan cita-cita nasional tanpa mengabaikan kewaspadaan
dan kesiagaan pertahanan negara. Dalam penggunaan metode ini agar masyarakat benar-benar
diarahkan untuk berperan aktif dan bekerja sama dengan TNI sehingga akan terjalin hubungan yang
kokoh dan kuat untuk menghadapi tugas-tugas mendatang demi kepentingan pertahanan negara .
b. Komunikasi sosial. Adalah suatu cara yang diselenggarakan oleh satuan jajaran TNI AD yang
berhubungan dengan perencanaan dan kegiatan untuk memelihara serta meningkatan keeratan
hubungan dengan segenap komponen bangsa guna terwujudnya saling pengertian dan
kebersamaan yang memungkinkan timbulnya keinginan masyarakat untuk berpatisipasi pada
kepentingan bidang pertahanan negara.

c. Bhakti TNI. Bhakti TNI adalah merupakan wadah pengabdian dari segenap satuan maupun
perorangan dalam tubuh TNI dalam mewarnai partisipasi di dalam pembinaan wilayah dalam rangka
pembinaan ketahanan nasional, dimana sangatlah penting artinya bagi keberhasilan pembangunan
nasional. Pemupukkan dan pembinaan kemanunggalan TNI dengan rakyat dapat diselenggarakan
melalui berbagai metoda yang antara lain melalui bhakti TNI, dimana TNI bersama rakyat saling bahu
membahu untuk mensukseskan pembangunan nasional.
25. Sarana dan Prasarana.
a. Kondisi pangkalan Kowil pada umumnya masih menggunakan bangunan lama yang belum
direnovasi belum sempurna sesuai dengan kebutuhan, sehingga ruangan-ruangannya belum tertata
dengan baik.
b. Terbatasnya sarana transportasi, alhub dihadapkan dengan perkembangan situasi dan kondisi
serta luasnya wilayah binaan.
c. Kurang adanya sarana olahraga yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan olahraga bersama
rakyat dalam rangka Binter, untuk semakin manunggalnya antara TNI dengan rakyat yang selalu
dipupuk dan dipelihara.
26. Upaya Yang Dilakukan. Bahwa sebagaimana tersebut pada latar belakang yang telah terurai
sebelumnya, dan sesuai dengan pesan-pesan yang terkandung dalam setiap kebijaksanaan
pimpinan TNI AD maka pokok-pokok penyelenggaraan Binter TNI AD pada tingkat satuan Kowil
adalah :

a. Peran Kowil yang mengacu pada netralitas TNI dikandung maksud bahwa segala bentuk
kegiatan yang dilaksanakan oleh aparat Kowil haruslah mengambil jarak yang sama terhadap semua
kelompok masyarakat binaannya.

b. Metoda serta upaya meningkatkan peran Kowil dilaksanakan dengan cara-cara baru yang
bersifat non politik tidak melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik praktis baik secara individu
maupun kelembagaan selaku aparat Kowil.

c. Dalam upaya meningkatkan peran Kowil di lingkungan masyarakat binaannya lebih


mengutamakan budaya keteladanan, sedangkan tugas Kowil di luar bidang Pertahanan Negara
hanya berdasar atas permintaan Pemerintah/masyarakat dalam hal kemanusiaan dan sosial.

d. Menggugah, mempengaruhi serta mendorong tumbuh dan berkembangnya kesadaran dari


masyarakat yang berdiam di suatu wilayah dengan tujuan demi terwujudnya Ketahanan Nasional di
segala bidang kehidupan.
e. Penyelenggaraan Binter lebih ditekankan kepada pendekatan tidak langsung terhadap
masyarakat setempat dengan menggugah, mempengaruhi dan mendorong bagi tumbuh dan
berkembangnya kesadaran dari berbagai potensi yang terdapat di masyarakat terhadap arti
pentingnya mempertahanakan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan RI.
f. Pembinaan keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat sepenuhnya menjadi
tanggung jawab aparat Kepolisian, namun demikian apabila situasinya sangat mendesak TNI
berkewajiban memberikan bantuan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
g. Didalam menyiapkan langkah-langkah yang tepat dan proporsional dalam menghadapi atau
mencegah setiap ancaman yang mungkin timbul, mampu melaksanakan ketata laksanaan Binter
dalam rangka penyelenggaraan Binter di wilayah, mampu memonitor dan mengenali secara benar
karakteristik wilayah kerjanya, mampu mengorganisir dan melatih rakyat bagi kepentingan bela
negara, serta mampu berkomunikasi dan berintegrasi dengan masyarakat untuk mewujudkan
kemanunggalan TNI dengan rakyat yang meliputi :

1) Meningkatkan kemampuan temu cepat dan lapor cepat dari aparat Kowil. Mampu mendeteksi
secara dini untuk memperoleh keterangan/informasi, mengetahui dan mengenali serta memprediksi
perubahan dan perkembangan, mampu mengantisipasi secara dini kerawanan yang timbul dalam
kehidupan sosial masyarakat maupun lingkungannya, sehingga dapat memberikan tenggang waktu
yang cukup untuk mengambil tindakan pencegahan secara proporsional.
2) Meningkatkan kemampuan manajemen Teritorial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi kegiatan Binter secara terpadu dan sinergis dengan
lembaga atau instansi fungsional yang terkait, sehingga terjalin kerja sama yang baik dalam
penyelenggaraan ketatalaksanaan Binter.
3) Meningkatkan kemampuan penguasaan wilayah, sehingga mampu untuk mengenali secara
mendalam ciri-ciri potensi sumber daya alam, sumber daya buatan dan sumber daya manusia serta
sarana prasarana yang ada di wilayahnya, agar dapat mengantisipasi hakekat ancaman yang
mungkin terjadi dan berkembang serta mampu merumuskan, mengambil langkah atau tindakan yang
proporsional, untuk pencegahan dan penanggulangan dalam rangka mewujudkan ketahanan
wilayah.
h. Meningkatkan kemampuan perlawanan rakyat melalui peran langsungnya, meliputi inventarisasi,
penyiapan organisasi pertahanan kerangka di setiap wilayah, pelatihan dan meningkatkan kesadaran
bela negara bagi masyarakat. Sehingga diharapkan masyarakat memiliki sikap mental, motivasi,
tekad dan semangat yang kuat menghadapi segala bentuk ancaman yang timbul, sebagai
perwujudan dari kesadaran bela negara dalam menangkal, mencegah dan menggagalkan setiap
kegiatan yang membahayakan atau mengancam kehidupan bangsa dan Negara Kesatuan RI.

i. Meningkatkan kemampuan komunikasi sosial yang harmonis, dan mampu menjalin hubungan
dengan seluruh komponen bangsa untuk menggugah, mendorong dan membangkitkan serta
mengajak pihak-pihak terkait, guna terwujudnya kemanunggalan TNI dengan rakyat.
j. Aparat Kowil memiliki peran dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan
tugas Binter guna terciptanya kemanunggalan TNI dengan rakyat yang berdampak kepada
mantapnya ketahanan wilayah untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI AD dalam rangka
pertahanan Negara aspek darat antara lain :

1) Mengembangkan kecakapan dan keterampilan prajurit TNI AD dalam melaksanakan temu cepat
dan lapor cepat terhadap segala permasalahan Teritorial yang terjadi atau kemungkinan akan terjadi
serta memberikan alternatif pencegahannya.

2) Aparat Kowil agar memiliki pola pikir dan pola tindak serta landasan berpikir dalam mendukung
penyusunan rencana dan program Binter di suatu wilayah.

3) Aparat Kowil agar dapat menguasai wilayah tempatnya bertugas, sehingga tugas yang diberikan
dapat dilaksanakan dengan baik dan berhasil.

4) Aparat Kowil agar dapat menyusun, merencanakan serta melatih masyarakat yang memenuhi
syarat sehingga timbulnya kesadaran tentang pentingnya ketahanan wilayah dan meningkatnya
semangat perlawanan rakyat di suatu daerah.

5) Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan serta kemahiran dan keterampilan dalam


menyelami, menghubungi, mempengaruhi, mengajak dan menggugah masyarakat melalui bahasa
yang santun dan mudah dimengerti serta sikap perilaku yang positif dalam upaya meningkatkan
kesadaran tentang pentingnya kemanunggalan TNI dengan rakyat.
6) Aparat Kowil perlu memperhatikan tehnik penyelenggaraan komunikasi sosial sehingga
diharapkan terjadi proses interaksi sosial yang positif, terjalin suasana saling pengertian,
kebersamaan dan integrasi dalam rangka memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional serta
kemanunggalan TNI dengan rakyat. Adapun tehnik komunikasi sosial adalah sebagai berikut :
a) Melaksanakan kegiatan komunikasi dengan mendatangi tokoh masyarakat,
cendekiawan/intelektual dan politikus serta masyarakat biasa sesuai strata.
b) Dalam berkomunikasi agar selalu mempedomani sikap Teritorial, Sapta Marga dan Sumpah
Prajurit serta 8 Wajib TNI, dan diharapkan tidak menimbulkan kesan menggurui, sehingga terjalin
hubungan yang harmonis.
c) Hasil berkomunikasi harus dicatat agar dapat dijadikan bahan keterangan dalam rangka tugas
yang dilaksanakan.
d) Hal-hal yang disampaikan dalam berkomunikasi mempunyai keterkaitan dengan tugas yang
dilaksanakan.
e) Ikut berpartisipasi dalam pembinaan olahraga dan kesenian di lingkungan masyarakat.
k. Aparat Kowil sewaktu melaksanakan hubungan dengan sesamanya dalam rangka
mengkonkritkan kemanunggalan TNI dengan rakyat harus selalu dilandasi dengan nilai moralitas,
pandangan, sikap dan tingkah laku prajurit TNI yang dijiwai oleh Pancasila, UUD 1945, Sapta Marga,
Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI. Upaya mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat perlu terus
dilakukan melalui pembinaan sikap Teritorial, sehingga memiliki penampilan sikap prajurit yang tetap
manunggal dengan rakyat.
l. Berdasarkan kepada pengalaman sejarah tentang peran TNI dalam perjuangan bangsa, maka
TNI AD khususnya merupakan kekuatan inti sistem pertahanan yang bersama-sama rakyat setiap
saat siap mengangkat senjata untuk membela kemerdekaan negara, menjaga keutuhan wilayah dan
kedaulatan Negara Kesatuan RI.
m. Pada umumnya masyarakat mengharapkan bahwa TNI selalu berjalan berdampingan dan bahu
membahu dalam mengatasi hambatan, gangguan maupun ancaman yang merintangi jalannya
pembangunan menuju tercapainya cita-cita perjuangan nasional. Kalau di masa lalu rakyat bersama
TNI mampu menghadapi kaum penjajah serta kekuatan lain yang ingin menghancurkan
kemerdekaan kita, maka dalam masa pembangunan TNI bersama rakyat berusaha melawan
kebodohan dan kemiskinan serta membangun menuju tercapainya masyarakat adil dan makmur.
Oleh karenanya TNI dengan rakyat sangat diperlukan sebagai syarat mutlak bagi Sishanta, juga
merupakan persyaratan dalam menjamin lancarnya pembangunan nasional.
n. Aparat Kowil merupakan warga negara biasa yang mendapat kesempatan mengabdi di
organisasi TNI. Keadaan yang demikian patut disyukuri dan bukan untuk dipamerkan, kepada
mereka diharapkan agar :

1) Tetap berpola dan berpenampilan sederhana serta bersifat hidup sederhana dan dapat menahan
diri untuk tidak larut dalam kehidupan yang bertentangan dengan tekadnya.
2) Menjunjung tinggi supremasi hukum yang berlaku bagi seluruh masyarakat, karena tujuan
hukum ditegakkan adalah demi keadilan, ketertiban, ketentraman dan kedamaian dalam hidup
bermasyarakat.

3) Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).


4) Sikap dan perilakunya tidak memicu keresahan masyarakat seperti arogan, menjadi backing
atau melakukan perjudian, terlibat narkoba, perkelahian, perzinahan dan tindak kriminal.
5) Keberadaan aparat Kowil di lingkungan masyarakat dapat menjadi contoh dalam mewujudkan
persatuan dan kesatuan.
o. Aparat Kowil harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu mengamalkan ajaran
dari agama yang mereka anut, sehingga tidak akan mengalami hambatan di dalam melaksanakan
Binter melalui pendekatan agama kepada masyarakat yang beragama apapun karena semua agama
tidak ada yang melarang untuk bergaul dengan orang yang beragama lain. Oleh karena itu untuk
dapat melakukan pendekatan melalui agama dapat dilakukan oleh aparat Kowil dengan memahami,
menghayati dan mengoptimalkan pokok-pokok ajaran agamanya serta memiliki motivasi juang yang
bersumber pada ajaran agamanya.
p. Unsur-unsur nilai yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh aparat Kowil adalah :
1) Adanya ikatan yang kuat baik lahir maupun batin antara TNI dengan rakyat.
2) Adanya rasa peka dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3) Ketaatan dan kepatuhan dalam melaksanakan tugas dengan menjujung tinggi Sapta Marga,
Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI serta tercermin dalam kesederhanaannya.
4) Sikap kejuangan yang membentuk watak, moral dan moril prajurit yang menampilkan seseorang
prajurit yang profesional.

BAB VII
PENUTUP

27. Kesimpulan. Dari beberapa uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut :
a. Peran TNI AD sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan negara matra darat
memerlukan adanya kesatuan pandang yang jelas terhadap batasan-batasan wewenang, fungsi dan
tanggung jawab sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh komando atas.
b. Dengan mengacu pada permasalahan yang ada pada saat ini jika dihadapakan dengan kualitas
yang ada sangat kurang sesuai atau kurang seimbang, maka perlu adanya upaya peran Kowil dalam
rangka terwujudnya kemanunggalan TNI dengan rakyat.
c. Permasalahan yang akan dihadapi oleh peran Kowil ke depan semakin besar dan berat, akibat
dari arus globalisasi dunia pada dewasa ini, oleh karenanya dalam menghadapi hal tersebut perlu
upaya atau kerjasama yang erat dengan melibatkan semua unsur instansi terkait, baik aparat sipil
maupun TNI di lingkungan nasional.
d. Untuk mencapai sasaran yang digariskan oleh pimpinan atas maka perlu adanya upaya taktis
dan strategis yang harus dilakukan secara cepat, tepat dan terorganisir secara baik, agar jangan
sampai terlambat dalam menyiapkan kualitas yang diharapkan guna mendukung tugas pokok di
masa mendatang demi kelangsungan hidup pembangunan bangsa dan negara.
e. Dukungan dari semua pihak baik moril maupun materiil sangat diharapkan demi suksesnya
tugas mendatang, untuk mewujudkan upaya tersebut perlu adanya rumusan yang jelas baik secara
taktis maupun strategis, agar dukungan atau upaya tersebut dapat berhasil dan berdaya guna.

f. Luasnya permasalahan yang harus dihadapi dan dipecahkan hal ini masih sangat tergantung
pada potensi sumber daya manusia maupun potensi wilayah yang ada pada saat ini, oleh karena itu
di dalam melaksanakan upaya-upaya meningkatkan peran Kowil tidak terlepas dari usaha kerjasama
dari semua pihak secara menyeluruh, karena akan melibatkan dari berbagai aspek terkait baik dari
unsur TNI maupun aparat pemerintah sipil lainnya bahkan peran dari berbagai lapisan masyarakat.

28. Saran.
a. Adanya evaluasi dini terhadap peran Kowil, sehingga permasalahan dapat segera diambil
langkah-langkah ke depan yang lebih cepat dan tepat.
b. Perlu adanya perhatian khusus terhadap aparat Kowil dengan cara menambah kesejahteraan
moril berupa dukungan sarana pembinaan yang efektif dalam menghadapi tugas mendatang.
c. Menambah perluasan aparat di jajaran Kowil guna melengkapi DSPP sesuai dengan alokasi
yang dibutuhkan.

29. Demikian tulisan ini dibuat dan disampaikan semoga bermanfaat bagi Komando atas dalam
menentukan kebijaksanaan dalam membina kondisi wilayah Teritorial dan mohon maaf jika terdapat
kesalahan atau kekhilafan dalam menyusun tulisan ini.