You are on page 1of 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan reproduksi pada keluarga menggambarkan masyarakat yang

sehat, keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh dalam semua hal

yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Ruang lingkup kesehatan

reproduksi mencakup keseluruhan kehidupan manusia sejak lahir sampai

mati. Agar kesehatan reproduksi dapat terjaga dengan baik, dapat

menggunakan pendekatan siklus hidup sehingga diperoleh sasaran terpadu

yang berkualitas dengan memperhatikan hak reproduksi perorangan yang

sesuai dengan program pelayanan tersedia.


Kesehatan, kesejahteraan dan keamanan setiap ibu, ayah dan bayi baru

lahir harus dilindungi, sehingga kesejahteraan biopsiko sosial setiap keluarga

dalam menanti kelahiran bayi sangat diharapkan, dengan demikian keluarga

dalam masyarakat harus mengerti tentang perilaku reproduktif dan kesehatan

keluarga dalam menanti kelahiran bayi, terutama di era teknologi yang sangat

kompleks ini

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari makalah

ini adalah:

1. Jelaskan konsep teori dari bayi baru lahir !

2. Jelaskan konsep teori dari apgar score !

3. Jelaskan konsep teori dari bayi lahir dengan hipoksia !

4. Jelaskan konsep teori dari perdarahan pasca nifas !


2

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu, mampu memahami :

1. Konsep teori dari bayi baru lahir

2. Konsep teori dari apgar score

3. Konsep teori dari bayi lahir dengan hipoksia

4. Konsep teori dari perdarahan pasca nifas

D. MANFAAT PENULISAN

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Pembaca, sebagai bahan referensi bacaan dalam memenuhi mata

kuliah filsafat ilmu.

2. Penyususun, bekal dan pengetahuan dasar dalam memahami filsafat

ilmu itu sendiri.


3

BAB II
PEMBAHASAN

A. BAYI BARU LAHIR

1. PENGERTIAN

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu

sampai 42 minggu dan BB lahir 2500 gr sampai 4000 gr.

2. CIRI – CIRI BAYI NORMAL

a. BB 2500 – 4000 gr

b. PB lahir 48 – 52 cm

c. Lingkar dada 30 – 38 cm

d. Lingkar kepala 33 – 35 cm

e. Bunyi jantung dalam menit – menit pertama kira – kira 180x/menit,

kemudian menurun sampai 120x/menit atau 140x/menit

f. Pernafasan pada menit – menit pertama cepat kira – kira 180x/menit,

kemudian menurun setelah tenang kira – kira 40x/menit

g. Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup

terbentuk dan diliputi vernic caseosa

h. Rambut lanugo setelah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah

sempurna

i. Kuku agak panjang dan lemah

j. Genitalia labia mayora telah menutup, labia minora ( pada

perempuan) testis sudah turun ( pada anak laki – laki )

k. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik


4

l. Reflek moro sudah baik, apabila bayi dikagetkan akan

memperlihatkan gerakan seperti memeluk

m. Gerak reflek sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda diatas

telapak tangan bayi akan menggenggam atau adanya gerakan reflek

n. Eliminasi baik. Urine dan meconium akan keluar dalam 24 jam

pertama. Meconium berwarna kuning kecoklatan.

3. PERUBAHAN – PERUBAHAN YANG TERJADI PADA BAYI

BARU LAHIR

a. Perubahan metabolisme karbohidrat

Dalam kurun waktu ± 24 jam setelah lahir,akan terjadi penurunan

kadar gula darah,untuk menambah energi pada jam-jam pertama

setelah lahir,diambil dari hasil metabolisme asam lemak tidak dapat

memenuhi kebutuhan pada neonatus,maka kemungkinan besar bayi

akan mengalami hypoglikemi, missal pada bayi BBLR, bayi dari ibu

yang mengalami DM dan lainnya.

b. Perubahan Suhu

Ketika bayi baru lahir berada pada suhu lingkuangan yang lebih

rendah dan suhu didalam rahim ibu,apabila bayi di lahirkan dengan


o
suhu kamar 25 C,maka bayi akan kehilangan panas melalui

konveksi,radiasi dan evavorasi,sebanyak 200 kal/KgBB/menit.

Sedangkan produksi panas yang dihasilkan tubuh bayi hanya

1/10nya,keadaan ini menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak

2oC dalam waktu 15 menit akibat suhu yang rendah metabolisme

jaringan meningkat dan kebutuhan oksigenpun meningkat.


5

c. Perubahan pernafasan

Selama dalam uterus janin mendapat O2 dari pertukaran gas melalui

placeta setelah bayi lahir,pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.

Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama adalah :

1) Tekanan mekanik dari thorax sewaktu melalui jalan lahir

2) Penurunan PA O2 dan kenaikan PA CO2 Merangsang

kemoreseptor yang setelah di sinus karotis.

3) Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang daerah

permukaan gerakan pernafasan.

4) Refleks deplasi hering breur

Pernafasan pertama pada bayi baru lahir terjadi normal dalam

waktu 30 detik setelah kelahiran, tekanan rongga pada bayi, pada

saat melalui jalan lahir, pervagina mengakibatkan cairan paru-paru

(pada bayi normal jumlahnya 80-100 ML) kehilangan 1/3 dari

jumlah cairan tersebut,sehingga cairan yang hilang ini di ganti

dengan udara.

Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada

bentuk semula,pernafsan pada neonatus terutama pernafsan

diafragmatikdan abdominal biasanya masih tidak teratur frekuensi

dan lamanya pernafasan

d. Perubahan Sirkulasi

Dengan perkembangan paru-paru mengakibatkan tekanan O2

Meningkat dan tekanan CO2 menurun. Hal ini mengakibatkan

turunnya resisitensi pembuluh darah paru sehingga aliran darah ke


6

otak tersebut meningkat. Hal ini menyebabkan darah dari arteri

pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus artriosis menutup.

Dengan menciutnya arteri dan vena umbilical kemudian tali pusat

dipotong aliran darah dari p;acenta melalui vena. Vena kappa superior

dan foramen oval pada atrium kiri terhenti sirkulasi janin sekarang

berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu.

e. Perubahan alat pencernaan : Hati,Ginjal dan alat lainnya mulai

berfungsi.

4. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL

a. Resiko terjadinya gangguan keseimbangan suhu tubuh sehubungan

dengan bayi baru lahir dalam keadaan terbuka.

b. Resiko terjadinya infeksi sehubungan dengan tali pusat yang masih

basah dan belum lepas

c. Resiko terjadinya integritas kulit sehubungan dengan popok bayi

sering basah

5. PENATALAKSANAAN PADA BAYI BARU LAHIR

a. Hindarkan bayi dalam keadaan terbuka tanpa perlindungan,

membungkus bayi dengan perenel dan baju

b. Tempatkan bayi dalam box yang menggunakan lampu

c. Observasi suhu tubuh bayi tiap 4 jam

d. Cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi

e. Ganti balutan tiap hari

f. Ganti popok tiap kali bayi BAB dan BAK.

g. Bersihkan bayi tiap habis BAB


7

B. APGAR SCORE

1. SEJARAH APGAR SCORE


Penilain Apgar atau Apgar score adalah suatu cara atau metode yang

pertama kali dikenalkan oleh Dr. Virginia Apgar untuk melihat kondisi

kesehatan bayi yang baru lahir pada tahun 1952. Dr. Virgina seorang

dokter dari Amerika Serikat yang ahli di bidang anastesi, teratologi, dan

merupakan pendiri bidang neonatologi.


Dokter Virgina terkenal sebagai penemu metode yang baik untuk

menentukan suatu kondisi bayi yang baru lahir. Metode ini sudah teruji

sangat membantu dan membantu mengurangi angka kematian pada bayi

yang baru lahir. Tekniknya yaitu mengetes kondisi kesehatan bayi dalam

waktu 1 menit, 5 menit, dan 10 menit dihitung dari waktu keluarnya bayi

dari rahim.
Dokter Virgina merupakan wanita pertama yang mendapatkan gelar

Profesor dari Columbia University P&G. Lahir pada tanggal 7 Juni 1909

dan meninggal dunia pada tanggal 7 Agustus 1974. Selama hidupnya

Dokter Virgina belum pernah menikah.


2. PENGERTIAN APGAR
Apgar score adalah suatu metode penilaian yang digunakan untuk

mengkaji kesehatan neonatus dalam menit pertama setelah lahir sampai 5

menit setelah lahir , serta dapat diulang pada menit ke 10 – 15 . Nilai

apgar merupakan standart evaluasi neonatus dan dapat dijadikan sebagai

data dasar untuk evaluasi di kemudian hari . (Adelle , 2002) .


Kata APGAR dipublikasikan pertama kali pada tahun 1952 . Lalu

tahun 1962 , Joseph membuat akronim dari kata APGAR tersebut , yaitu

Appearance (colour = warna kulit) , Pulse (heart rate = denyut nadi) ,


8

Grimace (refleks terhadap rangsangan) , Activity (tonus otot) , dan

Respiration (usaha bernapas .


3. TUJUAN DILAKUKANNYA APGAR
Hal yang penting diketahui , bahwa penilaian skor ini dibuat untuk
menolong tenaga kesehatan dalam mengkaji kondisi bayi baru lahir secara
umum dan memutuskan untuk melakukan tindakan darurat atau tidak .
Penilaian ini bukan sebagai prediksi terhadap kesehatan bayi atau
intelegensi bayi dimasa mendatang . Beberapa bayi dapat mencapai
angka 10 , dan tidak jarang , bayi yang sehat mempunyai skor yang lebih
rendah dari biasanya , terutama pada menit pertama saat baru lahir .
Sampai saat ini , skor apgar masih tetap digunakan , karena , selain
ketepatannya , juga karena cara penerapannya yang sederhana , cepat ,
dan ringkas . Dan yang terpenting dalam penentuan skor apgar ini adalah
untuk menetukan bayi tersebut asfiksia atau tidak . (Sujiyatini , 2011) .

4. KRITERIA
Lima kriteria Skor Apgar :
Kriteria Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2

Appearance seluruhnya warna kulit tubuh warna kulit


biru atau normal merah muda , tubuh ,
(warna kulit)
pucat tetapi kepala dan tangan , dan
ekstermitas kebiruan kaki
(akrosianosis) normal merah
muda , tidak
ada sianosis

Pulse tidak teraba <100 kali/menit >100


kali/menit
(denyut
jantung)

Grimace tidak ada meringis/menangis meringis/bersi


respons lemah ketika di n/batuk saat
(respons
terhadap stimulasi stimulasi
refleks)
9

stimulasi saluran napas

Activity lemah/tidak sedikit gerakan bergerak aktif


ada
(tonus otot)

Respiration tidak ada Lemah, tidak teratur menangis


kuat,
(pernapasan)
pernapasan
baik dan
teratur

5. CARA PENILAIAN APGAR


Skor Apgar dinilai pada menit pertama , menit kelima , dan menit

kesepuluh setelah bayi lahir , untuk mengetahui perkembangan keadaan

bayi tersebut . Namun dalam situasi tertentu , Skor Apgar juga dinilai

pada menit ke 10 , 15 , dan 20 , hingga total skor 10 . (Sujiyatini , 2011).


a. Appearance (warna kulit) :

Menilai kulit bayi . Nilai 2 jika warna kulit seluruh tubuh bayi

kemerahan , nilai 1 jika kulit bayi pucat pada bagian ekstremitas , dan

nilai 0 jika kulit bayi pucat pada seluruh badan (Biru atau putih

semua)

b. Pulse (denyut jantung) :

Untuk mengetahui denyut jantung bayi , dapat dilakukan

dengan meraba bagian atas dada bayi di bagian apeks dengan dua jari

atau dengan meletakkan stetoskop pada dada bayi . Denyut jantung

dihitung dalam satu menit , caranya dihitung 15 detik , lalu hasilnya

dikalikan 4 , sehingga didapat hasil total dalam 60 detik . Jantung


10

yang sehat akan berdenyut di atas 100 kali per menit dan diberi nilai

2 . Nilai 1 diberikan pada bayi yang frekuensi denyut jantungnya di

bawah 100 kali per menit . Sementara bila denyut jantung tak

terdeteksi sama sekali maka nilainya 0 .

c. Grimace (respon reflek) :


Ketika selang suction dimasukkan ke dalam lubang hidung
bayi untuk membersihkan jalan nafasnya , akan terlihat bagaimana
reaksi bayi . Jika ia menarik , batuk , ataupun bersin saat di stimulasi ,
itu pertanda responnya terhadap rangsangan bagus dan mendapat nilai
2 . Tapi jika bayi hanya meringis ketika di stimulasi , itu berarti hanya
mendapat nilai 1 . Dan jika bayi tidak ada respon terhadap stimulasi
maka diberi nilai 0 .
d. Activity (tonus otot) :
Hal ini dinilai dari gerakan bayi . Bila bayi menggerakkan
kedua tangan dan kakinya secara aktif dan spontan begitu lahir ,
artinya tonus ototnya bagus dan diberi nilai 2 . Tapi jika bayi
dirangsang ekstermitasnya ditekuk , nilainya hanya 1 . Bayi yang lahir
dalam keadaan lunglai atau terkulai dinilai 0 .
e. Respiration (pernapasan) :
Kemampuan bayi bernafas dinilai dengan mendengarkan
tangis bayi . Jika ia langsung menangis dengan kuat begitu lahir , itu
tandanya paru-paru bayi telah matang dan mampu beradaptasi dengan
baik . Berarti nilainya 2 . Sedangkan bayi yang hanya merintih rintih ,
nilainya 1 . Nilai 0 diberikan pada bayi yang terlahir tanpa tangis
(diam).
Dan kriteria keberhasilannya adalah sebagai berikut :
1. Hasil skor 7-10 pada menit pertama menunjukan bahwa bayi berada
dalam kondisi baik atau dinyatakan bayi normal.
2. Hasil skor 4-6 dinyatakan bayi asfiksia ringan sedang , sehingga
memerlukan bersihan jalan napas dengan resusitasi dan pemberian
oksigen tambahan sampai bayi dapat bernafas normal .
11

3. Hasil skor 0-3 dinyatakan bayi asfiksia berat , sehingga memerlukan


resusitasi segera secara aktif dan pemberian oksigen secara terkendal

6. PENATALAKSANAAN PADA BAYI BARU LAHIR


a. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3) :
1) Kolaborasi dalam pemberian suction .
2) Kolaborasi dalam pemberian O2.
3) Berikan kehangatan pada bayi .
4) Observasi denyut jantung , warna kulit , respirasi .
5) Berikan injeksi vit K , bila ada indikasi perdarahan .
b. Asfiksia ringan sedang (nilai APGAR 4-6) :
1) Kolaborasi dalam pemberian suction.
2) Kolaborasi dalam pemberian O2.
3) Observasi respirasi bayi .
4) Beri kehangatan pada bayi .
c. Bayi normal (nilai APGAR 7-10) :
1) Berikan kehangatan pada bayi.
2) Observasi denyut jantung , warna kulit , serta respirasi pada menit
selanjutnya sampai nilai Apgar menjadi 10

C. BAYI DENGAN HIPOKSIA

1. PENGERTIAN HIPOKSIA

Hipoksia adalah kondisi kurangnya pasokan oksigen di sel dan

jaringan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya. Hipoksia merupakan

kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ

lainnya dengan cepat.

Oksigen yang didapat dari lingkungan saat kita bernapas akan

diangkut oleh darah dari paru-paru menuju ke jantung. Jantung akan

memompa darah yang kaya dengan oksigen ke seluruh sel tubuh melalui

pembuluh darah. Hipoksia dapat terjadi bila terdapat gangguan dalam


12

sistem transportasi oksigen dari mulai bernapas sampai oksigen tersebut

digunakan oleh sel tubuh.

2. LAHIR KEKURANGAN OKSIGEN (HIPOKSIA JANIN)


Penurunan kadar oksigen bayi dalam darah disebut hipoksia perinatal

atau janin. “Hipoksia janin juga dapat menyebabkan asfiksia neonatorum,

keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan

teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus

dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam

kehamilan dan persalinan,” jelas dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA dari

RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

3. FAKTOR PENYEBAB
Berikut ini adalah beberapa penyebab seorang bayi dilahirkan
kekurangan oksigen:
a. Gangguan sirkulasi menuju janin
1) Gangguan tali pusat
a) Lilitan tali pusat
Tali pusat bisa terpelintir atau tertekan selama masa persalinan
yang berhubungan dengan posisi bayi. Tali pusat ini sangat
penting karena janin bisa menerima semua nutrisi lewat ini,
utamanya yang paling penting adalah oksigen. Jika tali pusat
bengkok atau mampat selama persalinan maka bayi dalam
posisi yang berbahaya.
b) Simpul tali pusat
Ini biasa terjadi ketika bayi hendak dalam posisi turun.
Gerakannya ketika turun terkadang membuat tali pusatnya
melilit di leher. Pemantauan selama melahirkan harus cermat
karena jika leher bayi terlilit tali pusat akan sulit mendapat
pasokan oksigen.
c) Posisi bayi saat keluar lahir
Jika proses kelahiran sulit maka si bayi kadang terjebak di
jalur keluar saat akan keluar. Paramedis harus bergerak cepat
agar bayi tidak terlalu lama di jalur keluar karena bayi akan
kekurangan oksigen.
13

d) Ketuban telah pecah jauh sebelum terjadinya proses persalinan


Kehamilan lewat waktu yang menyebabkan ketidak sanggupan
plasenta untuk memberikan nutrisi dan pertukaran
karbondioksida dengan oksigen, sehingga mempunyai risiko
hipoksia bahkan asfiksia hingga kematian dalam rahim.
2) Pengaruh obat-obatan
Akibat pengobatan yang diberikan saat persalinan, seperti atropine,
skopolamin, diazepam, fenobarbital, magnesium dan analgesic
narkotik.

b. Faktor ibu
1) Tidak adanya kontraksi persalinan
Secara klinis, yang normal adalah minimal terjadi 3 kali kontraksi
dalam sepuluh menit, biasanya durasinya selama 40-60 detik dan
sifatnya kuat.
2) Penyakit yang diderita ibu
Beberapa penyakit sistemik yang memungkinkan menyebabkan
kesulitan dalam proses persalinan, diantaranya:
3) Gagal jantung
“Pada penderita gagal jantung yang berat, bisa diberikan obat bius
epidural untuk mematikan rasa pada korda spinalis bagian bawah dan
agar penderita tidak perlu mengejan selama proses persalinan
berlangsung. Mengejan menyebabkan terganggunya penyerapan
oksigen melalui paru-paru ibu sehingga jumlah oksigen yang sampai
ke janin berkurang,” tutur dr. Karyanti.
4) Hipertensi
”Pada wanita penderita hipertensi berat lebih sering terjadi abrupsio
plasenta (pelepasan plasenta sebelum waktunya), menyebabkan
terputusnya pasokan oksigen dan zat gizi kepada janin sehingga janin
bisa saja meninggal. Bahkan meskipun tidak terjadi abrupsio plasenta,
hipertensi bisa menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dalam
darah ke janin sehingga pertumbuhan janin menjadi lambat,” jelasnya
lagi.
5) Diabetes mellitus
14

Bayi yang dilahirkan oleh penderita diabetes biasanya sangat besar


meskipun selama hamil kadar gula darah ibunya normal. Operasi cesar
juga dilakukan jika bayinya terlalu besar sehingga tidak dapat
melewati jalan lahir atau mempersulit persalinan. “Bayi yang lahir
dari penderita diabetes memiliki risiko menderita gangguan
pernafasan, kadar gula darah dan kalsium yang rendah, sakit kuning
dan jumlah sel darah merah yang meningkat. Namun kelainan ini
bersifat sementara dan bisa diobati,” ungkap dr. Karyanti.
4. TANDA-TANDA BAYI KEKURANGAN OKSIGEN
Berikut ini adalah tanda-tanda yang dapat diamati, diantaranya adalah:
1. Bradikardia, yakni denyut jantung janin kurang dari 120 denyut per
menit. Takikardia, yaitu akselerasi denyut jantung janin yang
memanjang (>160).
2. Variabilitas denyut jantung dasar yang menurun, yang berarti
timbulnya depresi sistem syaraf otonom janin yang disebabkan oleh
berbagai pengobatan yang diberikan pada Moms saat proses
persalinan. Pola deselerasi (penurunan kecepatan nafas) yang berlanjut
menunjukkan adanya hipoksia janin.
3. Mengalami apnea atau napas berhenti dalam beberapa waktu dan sulit
bangun dari tidurnya.
4. Skor Apgar yang rendah, berkisar 0 - 3.
5. Kejang pada 24 - 48 jam pertama setelah dilahirkan.
6. Bila hipoksia menetap, glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob
menghasilkan asam laktat hingga menyebabkan pH janin menurun.
Bayi memiliki pH yang rendah, menunjukkan asam terlalu banyak
dalam tali pusat yang disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen.
Darah janin diindikasikan normal bilamana pH kulit kepala > 7.25 dan
pH kulit kepala yang kurang dari 7.20 menandakan adanya hipoksia
janin.
15

D. PERDARAHAN PASCA NIFAS

1. PENGERTIAN MASA NIFAS


Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari,

namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Anggraini,

Y, 2010).

Masa Nifas atau Puerperium adalah masa setelah persalinan

selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Asuhan selama periode nifas

perlu mendapat perhatian karena sekitar 60% angka kematian ibu terjadi

pada periode ini (Martalina D., 2012)

2. PENGERTIAN PERDARAHAN PASCA NIFAS

Perdarahan pasca nifas adalah kehilangan darah melebihi 500 ml

yang terjadi setelah kira-kira 6 minggu atau 42 hari setelah melahirkan

3. ETIOLOGI

a. Sisa placenta dan placenta polyp

Sisa placenta dalam masa nifas menyebabkan perdarahan dan infeksi.

Perdarahan yang banyak dalam nifas hampir selalu disebabkan sisa

placenta

b. Endometritis puerperalis

Perdarahan biasanya tidak banyak

c. Sebab-sebab fungsional

Dalam golongan ini termasuk :

1) Perdarahan karena hyperplasia glandularis yang dapat terjadi


16

berhubung dengan cyclus anovulatoir dalam nifas

2) Perubahan dinding pembuluh darah.

Pada golongan ini tidak ditemukan sisa placenta, endometritis ataupun

luka

d. Perdarahan luka

Kadang-kadang robekan cervix atau robekan rahim tidak didiagnosa

sewaktu persalinan karena perdarahan pada waktu itu tidak menonjol.

Beberapa hari post partum dapat terjadi perdarahan yang banyak

4. PENATALAKSANAAN/TERAPI

Dengan perlindungan antibbiotika sisa plasenta dikeluarkan secara

digital atau dengan curet besar. Jika ada demam ditunggu dulu sampai suhu

turun dengan pemberian antibiotica dan 3-4 hari kemudian rahim

dibersihkan, tapi jika perdarahan banyak maka rahim segerah dibersihkan

walaupun ada demam.

BAB III
PE NUTUP
17

A. KESIMPULAN
1. Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu

sampai 42 minggu dan BB lahir 2500 gr sampai 4000 gr.

2. Apgar score adalah suatu metode penilaian yang digunakan untuk

mengkaji kesehatan neonatus dalam menit pertama setelah lahir sampai 5

menit setelah lahir , serta dapat diulang pada menit ke 10 – 15 . Nilai

apgar merupakan standart evaluasi neonatus dan dapat dijadikan sebagai

data dasar untuk evaluasi di kemudian hari . (Adelle , 2002) .

3. Hipoksia adalah kondisi kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan

tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya. Hipoksia merupakan kondisi

berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya

dengan cepat.

4. Perdarahan pasca nifas adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yang

terjadi setelah kira-kira 6 minggu atau 42 hari setelah melahirkan

B. SARAN
Dalam penulisan makalah ini, penyusun menyadari masih terdapat banyak

kekurangan karena kurangya pengetahuan yang penyusun miliki. Maka

dari itu penyusun meminta saran dan kritik dalam penyempurnaan

makalah ini.