You are on page 1of 31

A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN

Berbagai penyakit yang muncul di kalangan masyarakat yang tengah mendapat perhatian serius salah satu di antaranya adalah gangguan pada sistem pencernaan khususnya penyakit gastritis. Penyakit ini dapat bersifat sistemik dan dampak yang ditimbulkannya dapat menyebabkan komplikasi pada organ lainnya. Sehingga untuk melakukan tindakan preventif perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tersebut (Brunner & Suddart, 2002 dalam Waspadji, 2012). Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal. Dua jenis gastritis yang sering terjadi adalah gastritis superficial akut dan gastritis atrofik kronis (Price&Wilson, 2006 dalam Nurarif dan Kusuma, 2015). Gastritis adalah imflamasi mukosa lambung. Gastritis akut berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari dan sering kali disebabkan oleh diet yang tidak baik (memakan makanan yang mengiritasi dan sangat berbumbu atau makanan yang terinfeksi) (Smeltzer, 2010 dalam Yulianti & Kimin, 2014). Dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyakit gastritis yaitu dapat menyebabkan nyeri hebat, kurang nutrisi, anemia, perdarahan saluran cerna bagian atas, dan bisa menyebabkan kematian sehingga dalam penanganannya perlu perawatan secara intensif untuk menghindari akibat jangka panjang yang ditimbulkannya. Di samping itu pula penderita di harapkan dapat melakukan

1

kontrol secara ketat terhadap beberapa faktor yang di duga kuat sebagai penyebab terjadinya gastritis (Mansjoer, 2001 dalam Price & Lorraine, 2012). World Health Organization (WHO) tahun 2015, melakukan tinjauan terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil presentasi angka kejadian gastritis di dunia, di antaranya Inggris 22%, Cina 31%, Jepang 14,15%, Kanada 35% dan Perancis 29,5%. Beberapa negara di dunia tahun 2016 insiden gastritis sekitar 1,8-2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahun insiden terjadinya gastritis di Asia Tenggara sekitar 583,635 dari jumlah penduduk setiap tahunya. Prevalensi gastritis yang di konfirmasi melalui endoscopy pada populasi di Sanghai sekitar 17,2% yang secara substansial lebih tinggi dari pada populasi di Negara bagian barat yang berkisar 4,1% dan bersifat asimptomatik. Gastritis biasanya di anggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari sebuah penyakit yang dapat menyusahkan kita (Slamet, 2016 http://jellygamat.farid.web.id/obat-herbal- penyakit/bahaya-maag-kronis/ di akses pada tanggal 2 Januari 2017). Di Indonesia gastritis merupakan penyakit yang sering menyerang masyarakat. Prevalensi penyakit gastritis di Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan 350-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun atau kurang lebih sekitar 600.000 1.500.000 (80% 90%) kasus setiap tahun. Insidens rate di Indonesia tahun 2016 masih tinggi yaitu 358 kasus per 100.000 penduduk pedesaan dan 819 per 100.000 penduduk perkotaan pertahun dengan rata-rata kasus pertahun 600.000 1.500.000 penderita. Angka kematian masih tinggi dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 10 % (Sekartini, 2016

2

http://deherbal. com/gejala-maag-penyebab-maag-dan-tips-mengatasi-maag di akses pada tanggal 2 Januari 2017). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara jumlah penderita penyakit gastritis pada tahun 2014 sebanyak 62.126 kasus, laki-laki sebanyak 25.365 (40,8%) orang dan perempuan sebanyak 36.761 (59,2%) orang, tahun 2015 sebanyak 72.537 kasus, laki-laki sebanyak 34.971 (48,2%) orang dan perempuan sebanyak 37.566 (51,8%) orang dan tahun 2016 sebanyak 74.278 kasus, laki-laki sebanyak 36.111 (48,6%) orang dan perempuan sebanyak 38.167 (51,4%) orang (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, 2016).

  • B. Rumusan Masalah Bagaimanakah Asuhan keperawatan pada klien yang mengalami gastritis ?

  • C. Tujuan Penulisan

    • 1. Mengetahui konsep dasar medis dari gastritis

    • 2. Mengetahui konsep dasar keperawatan dari pasien yang mengalami gastritis

  • D. Manfaat Penulisan

    • 1. Manfaat Teoritis Menambah wawasan ilmu pengetahuan terbaru tentang asuhan keperawatan pada klien yang mengalami gastritis

    • 2. Manfaat Praktis

      • a. Bagi Perawat Sebagai bahan masukan dalam mengembangkan standar mutu asuhan keperawatan pada klien yang mengalami gastritis

  • 3

    • b. Bagi Institusi Pendidikan Memberikan masukan tentang perkembangan terbaru dari tindakan keperawatan yang digunakan Rumah Sakit saat ini untuk dikembangkan kepada mahasiswa dikampus.

    • c. Bagi Klien Memberikan pengetahuan serta masukan kepada klien tentang cara menangani, merawat, mencegah penyakit gastritis, khususnya penatalaksanaan diet untuk masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

    4

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    A. Konsep Penyakit Gastritis

    • 1. Definisi Gastritis Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal. Dua jenis gastritis yang sering terjadi adalah gastritis superficial akut dan gastritis atrofik kronis (Price&Wilson, 2006 dalam Nurarif & Kusuma, 2015).

    • 2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu (Syaifuddin, 2014).

    5

    Gambar 2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan (Syaifuddin, 2014) a. Mulut Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat

    Gambar 2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan (Syaifuddin, 2014)

    a. Mulut Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan dan manusia. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.

    Sedangkan penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan teriri dari berbagai macam bau (Syaifuddin, 2014).

    6

    • b. Tenggorokan ( Faring) Tenggorokan adalah penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari; Bagian superior = bagian yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring (Syaifuddin, 2014).

    • c. Kerongkongan (Esofagus) Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Menurut histology Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus) (Syaifuddin, 2014).

    7

    d. Lambung Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung menyerupai tabung bentuk J, dan bila penuh berbentuk seperti buah pir raksasa. Kapasitas normal lambung adalah 1 sampai 2 liter (Wijaya dan Putri,

    2013).

    Lambung adalah organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu Kardia, Fundus, Antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim- enzim (Syaifuddin, 2014).

    d. Lambung Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah diafragma.

    Gambar 2.2 Anatomi Lambung Menurut (Syaifuddin, 2014)

    8

    Menurut Syaifuddin, (2014). Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :

    1)

    Lendir

    2)

    Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida (HCl)

    3)

    Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

    • e. Usus halus (usus kecil) Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus ; lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (M Longitidinal) dan lapisan serosa (Sebelah Luar) (Syaifuddin, 2014).

    9

    Menurut Syaifuddin, (2014). Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). 1) Usus dua belas jari (Duodenum) Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan (Syaifuddin, 2014). 2) Usus Kosong (jejenum) Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari (Syaifuddin, 2014).

    10

    3) Usus Penyerapan (illeum) Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu (Syaifuddin, 2014).

    • f. Usus Besar (Kolon) Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari : Kolon asendens (kanan), Kolon transversum, Kolon desendens (kiri), Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) (Syaifuddin, 2014).

    • g. Sekum Sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing (Syaifuddin, 2014).

    • h. Umbai Cacing (Appendix) Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing.

    11

    Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm (Syaifuddin, 2014).

    • i. Rektum dan anus Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB) (Syaifuddin, 2014). Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot spinter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (Buang Air Besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus (Syaifuddin, 2014).

    12

    3. Klasifikasi

    Menurut Wijaya & Putri, (2013). Gastritis menurut jenisnya terbagi

    menjadi 2, yaitu:

    • a. Gastritis superfisialis akut Adalah suatu peradanagan permukaan lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi. penyebabya adalah obat analgetik-anti inflamasi terutama aspirin, bahan kimia mislnya lisol, merokok, alkohol, stress fisis (combustio, sepsis, trauma, gagal ginjal), refluks usus lambung, endotoksin bakteri dan makanan berbumbu seperti lada dan cuka.

    • b. Gastritis atrofik kronik Suatu peradangan bagian permukaan lambung yang menahun, gastritis ini ditandai oleh atrofi progresif epitel kelenjar disertai kehilangan sel parietal. Terjadinya akibat produksi HCL, pepsindan faktor intristik menurun, sehingga dinding lambung menjadi tipis dan mukosa tidak rata. Gastritis ini sering dihubugkan dengan anemia pernisiosa, tukak lambung dan kanker. Penyebabnya belum diketahui, namun penyakit ini sering pada orang tua, peminum alkohol berlebih, merokok (merupakan predisposisi gastritis atrofik), pada klien dengan anemia pernisiosa, patogenesis berkaitan dengan mekanisme imunologik, gastritis kronik merupakan predisposisi timbulnya tukak lambung dan kanker.

    13

    4. Etiologi

    Menurut Rendi & Margaret, (2012), penyebab dari Gastritis adalah :

    a.

    Obat analgetik-antiinflamasi terutama aspirin. Aspirin dalam dosis yang rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung.

    b.

    Bahan kimia misalnya lisol

    c.

    Merokok

    d.

    Alkohol

    e.

    Stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernapasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat

    f.

    Refluks usus lambung

    g.

    Endotoksi

    5. Patofisiologi

    a.

    Gastritis akut Pengaruh efek samping obat-obat NSAIDs atau Non-Steroidal Anti Inflamatory Drug seperti aspirin juga dapat menimbulkan gastritis. Obat

    Analgesik Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuproven dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung (Corwin, 2009). Jika pemakaian obat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer. Pemberian aspirin juga dapat menurunkan sekresi bikarbonat dan mukus oleh

    14

    lambung, sehingga kemampuan faktor defensif terganggu (Corwin, 2009). b. Gastritis Kronik Gastritis kronis dapat diklasifikasikan tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan atropi dan infiltrasi sel. Hal ini dihubungkan dengan penyakit otoimun, seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylori) Ini dihubungkan dengan bakteri H. pylory, faktor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan dan alkohol, merokok atau refluks isi usus kedalam lambung. H. Pylori termasuk bakteri yang tidak tahan asam, namun bakteri jenis ini dapat mengamankan dirinya pada lapisan mukosa lambung. Keberadaan bakteri ini dalam mukosa lambung menyebabkan lapisan lambung melemah dan rapuh sehingga asam lambung dapat menembus lapisan tersebut. Dengan demikian baik asam lambung maupun bakteri menyebabkan luka atau tukak (Wilkinson, 2012).

    6. Manifestasi Klinis

    Menurut Yulianti & Kimin, (2014), manifestasi klinis dari penyakit

    gastritis adalah :

    a. Gastritis Akut : Awitan gejala mungking berlangsung cepat 1) Ketidaknyamanan abdomen 2) Sakit kepala 3) Kelesuan

    15

    4) Mual, muntah 5) Anoreksia dan cegukan

    • b. Gastritis Kronik 1) Mungkin tidak bergejala 2) Keluhan anoreksia, nyeri uluhati setelah makan, bersendawa, rasa asam dimulut atau mual dan muntah 3) Pasien gastritis kronis akibat defisiensi vitamin biasanya diketahui mengalami malabsorbsi vitamin B 12

    7. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang

    Adapun pemeriksaan diagnostik/penunjang gastritis menurut Rendy &

    Margaret, (2012) adalah sebagai berikut :

    • a. Endoskopi

    • b. Sinar X gastrointestinal (GI) atas

    • c. Pemeriksaan histolik Sedangkan menurut Nuarif & Kusuma, (2015) pemeriksaan penunjang pasien gastritis adalah sebagai berikut :

      • a. Pemeriksaan darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H.pylori dalam darah. Hasil tes yang posirif hasil tes yang positif menunjukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya, tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkenah infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia, yang terjadi akibat perdarahan lambung akibat gastritis.

      • b. Pemeriksaan pernapasan. Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri H.pylori atau tidak

    16

    • c. Pemeriksaan feses. Tes ini memeriksa apakah terdapat H.pylori dalam feses atau tidak, hasil yang positif dapat mengidentifikasi terjadinya infeksi pemeriksaan.

    • d. Endoskopi saluran cerna bagian atas, dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-X

    • e. Rontgen saluran cerna bagian atas, tes ini akan terlihat adanya tanda- tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya, biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan rontgen, cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika dirongen.

    8. Penatalaksanaan Menurut Nurarif & Kusuma, (2015), penatalaksanaan pasien gastritis

    antara lain adalah :

    • a. Gastritis akut Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan sering, obat-obatan ditujukan untuk mengatur sekresi asam lambung berupa antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton, antikoligenik dan antasid juga ditujukan sebagai sifoprotektor berupa sukralfat dan prostaglandin. Penatalaksanaan sebaiknya meliputi pencegahan terhadap setiap pasien dengan resiko tinggi, pengobatan terhadap penyakit yang didasari dan menghentikan obat yang dapat menjadi penyebab, serta dengan pengobatan suportif

    17

    • b. Gastritis kronik Faktor utama ditandai oleh kondisi progesif epitel kelenjar disertai sel parietal dan chief cell. Dinding lambung menjadi tipis dan mukosa mempunyai permukaan yang rata, gastritis kronis ini digolongkan dua kategori tipe A (Altrofik atau Fundal) dan tipe B (Antral). Pengobatan gastritis kronis bervariasi, tergantung pada penyakit yang dicurigai, bila terdapat ulkus duodenum dapat diberikan antibiotik untuk membatasi Helicobacter Pylori, namun demikian lesi tidak selalu muncul dengan gastritis kronis, alkohol dan obat-obatan yang mengirisi lambung harus dihindari.

    B. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian

    • a. Anamnesa 1) Identitas Anamnesa meliputi nama, usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, alamat, suku/bangsa, agama, tingkat pendidikan (bagi orang yang tingkat pendidikan rendah/minim mendapatkan pengetahuan tentang gastritis, maka akan menganggap remeh penyakit ini, bahkan hanya menganggap gastritis sebagai sakit perut biasa dan akan memakan makanan yang dapat menimbulkan serta memperparah penyakit ini) (Ardiansyah, 2015). 2) Riwayat sakit dan kesehatan

    1) Keluhan utama : Nyeri di ulu hati dan perut sebelah kanan bawah, mual muntah yang berlebihan, kurang nafsu makan.

    18

    2) Riwayat penyakit saat ini : Meliputi perjalan penyakitnya, awal dari gejala yang dirasakan klien, keluhan timbul dirasakan secara mendadak atau bertahap, faktor pencetus, upaya untuk mengatasi masalah tersebut. 3) Riwayat penyakit dahulu : Meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat dirumah sakit, dan riwayat pemakaian obat. b. Pemeriksaan fisik, yaitu Review of system (ROS) Keadaan umum : tampak kesakitan pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan di kwadran epigastrik (Ardiansyah, 2015).

    • 1. B1 (breath) : takhipnea

    • 2. B2 (blood) : takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.

    • 3. B3 (brain) : sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu, disorientasi, nyeri epigastrum.

    • 4. B4 (bladder) : oliguria, gangguan keseimbangan cairan.

    • 5. B5 (bowel) : anemia, anorexia, mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran terhadap makanan pedas.

    • 6. B6 (bone) : kelelahan, kelemahan

    • c. Fokus Pengkajian Menurut Ardiansyah, (2015). Fokus pengkajian pada pasein gastritis adalah sebagai berikut :

    1) Aktivitas / Istirahat Gejala : Kelemahan, kelelahan

    19

    Tanda : Takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap aktivitas)

    2) Sirkulasi

    Gejala

    : Kelemahan, berkeringat

    Tanda : Hipotensi (termasuk postural), Takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia), nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambat / perlahan (vasokonstriksi), warna kulit pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah), kelemahan kulit / membran mukosa, berkeringat (menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik) 3) Integritas ego Gejala : Faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya. Tanda : Tanda ansietas, misalnya gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.

    4) Eliminasi Gejala : Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastroenteritis (GE) atau masalah yang berhubungan dengan GE, misalnya luka peptik atau gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi / karakteristik feses. Tanda : Nyeri tekan abdomen, distensil, bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan, karakteristik feses : diare, darah warna gelap,

    20

    kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea), konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida), haluaran urine : menurun, pekat.

    5) Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal), masalah menelan : cegukan, nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual atau muntah Tanda : Muntah dengan warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah, membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).

    6) Neurosensi Gejala : Rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar, kelemahan. Tanda : Tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi). 7) Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri

    21

    epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulkus gaster). Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal). Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis). Faktor pencetus :

    makanan, rokok, alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis. Tanda : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.

    8) Keamanan

    Gejala

    : Alergi terhadap obat / sensitif misal : ASA

    Tanda : Peningkatan suhu, spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis / hipertensi portal) 9) Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang mengandung ASA, alkohol, steroid. NSAID menyebabkan

    perdarahan GI. Keluhan saat ini dapat diterima karena (misal : anemia) atau diagnosa yang tak berhubungan (misal : trauma kepala), flu usus, atau episode muntah berat. Masalah kesehatan yang lama misal : sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan

    22

    2. Diagnosa Keperawatan

    Menurut Nurarif & Kusuma, (2015), diagnosis keperawatan untuk klien

    yang mengalami gastritis adalah :

    • a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d masukan nutrien yang tidak adekuat

    • b. Kekurangan volume cairan b.d masukan cairan tidak cukup dan kehilangan cairan berlebihan karena muntah

    • c. Nyeri akut b.d mukosa lambung teriritasi

    • d. Defisiensi pengetahuan b.d penatalaksanaan diet dan proses penyakit

    23

    3. Rencana Keperawatan Tabel 2.2. Rencana Keperawatan Pada Pasien Gastritis (Nurarif & Kusuma, 2015)

    No.

    Diagnosa Keperawatan

    Tujuan dan Kriteria Hasil

    Intervensi

    1.

    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

    NOC

    NIC

    kebutuhan tubuh b.d masukan nutrien yang tidak

    • 1. Nutritional status

    Nutrition management

    adekuat

    • 2. Nutritional status : food and fluid

    • 1. Kaji adanya alergi makanan

    Definisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk

    • 3. Nutritional status : nutrien

    • 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

    memenuhi kebutuhan metabolik

    • 4. Weight control

    menentukan jumlah kalori dan nutrisi

    Batasan karakteristik :

    Kriteria hasil :

    yang dibutuhkan pasien

    • a. Kram abdomen

    • 1. Adanya peningkatan berat badan sesuai

    • 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan

    • b. Nyeri abdomen

    dengan tujuan

    intake Fe

    • c. Menghindari makanan

    • 2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi

    • 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan

    • d. Berat badan 20% atau lebih dibawah berat

    badan

    protein dan vitamin C

    badan ideal

    • 3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

    • 5. Berikan substansi gula

    • e. Kerapuhan kapiler

    • 4. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

    • 6. Yakinkan diet yang dimakan

    • f. Diare

    • 5. Menunjukkan peningkatan fungsi

    mengandung tinggi serat untuk

    • g. Kehingan rambut berlebihan

    pengecapan dari menelan

    mencegah konstipasi

    • h. Bising usus hiperaktif

    • 6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang

    • 7. Berikan makanan yang terpilih (sudah

    • i. Kurang makanan

    berarti

    dikonsultasikan dengan ahli gizi)

    • j. Kurang informasi

    • 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat

    • k. Kurang minat pada makanan

    catatan makanan harian

    • l. Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat

    • 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

    • m. Kesalahan konsepsi

    10. Berikan informasi tentang kebituhan

    • n. Kesalahan informasi

    nutrisi

    • o. Membran mukosa pucat

    11. Kaji kemampuan pasien untuk

    • p. Ketidakmampuan memakan makanan

    mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

    • q. Tonus otot menurun

    Nutrition monitoring

    • r. Mengeluh asupan gangguan sensasi rasa

    • 1. BB pasien dalam batas normal

    • s. Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA

    • t. Cepat kenyang setelah makan

    • 2. Monitor adanya penurunan berat badan

    (Recommended Daily Allowance)

    • u. Saraiawan rongga mulut

    • v. Steatorea

    • 3. Monitor tipe dan jumlah akvifitas yang bisa dilakukan

    • 4. Monitor interaksi anak atau orang tua

    • w. Kelemahan otot pengunyah

    selama makan

    24

     
    • x. Kelemahan otot untuk menelan

     
    • 5. Monitor lingkungan selama makan

    Faktor-faktor yang berhubungan :

    • 6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan

    • a. Faktor biologis

    tidak selama jam makan

    • b. Faktor ekonomi

    • 7. kulit

    Monitor

    pigmentasi

    kering

    dan

    perubahan

    • c. Ketidak mampuan untuk mengabsorbsi nutrien

    • d. Ketidak mampuan untuk mencerna makanan

    • e. Ketidak mampuan menelan makanan

    • 8. Monitor turgor kulit

    • 9. Monitor kekeringan, rambutkusam dan

    • f. Faktor psikologis

    mudah patah

    • 10. Monitor mual dan muntah

     
    • 11. Monitor kadar albumin, total protein, HB dan kadar Ht

    • 12. pertumbuhan

    Monitor

    dan

    perkembangan

    • 13. Monitor puca, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva

    • 14. Monitor kalori dan intake nutrisi

    • 15. Catat adanyan edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral

    • 16. jika

    Catat

    lidah berwarna

    magenta,

    scarlet

    2

    Kekurangang volume cairan b.d masukan cairan

    NOC

    NIC

    tidak cukup dan kehilangan cairan berlebihan

    • 1. Fluid balance

    Fluid management

    karena muntah

    • 2. Hydration

    • 1. Pertahankan catatan intake dan output

    Definisi : penurunan cairan intravaskuler,

    • 3. Nutritional status : Food and Fluid

    yang akurat

    interstitial, dan/atau intraseluler ini mengacu pada dehidrasi kehilangan cairan tanpa perubahan pada natrium

    Kriteria hasil :

    1. Mempertahankan urin output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal

    • 2. Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostati), jika diperlukan

    Batasan karakteristik :

    2. Tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas

    • 3. Monitor vital sign

     
    • a. Perubahan status mental

    normal

    • 4. Monitor masukan makanan/cairan dan

    • b. Penurunan tekanan darah

    Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas

    hitung intake kalori harian

    • c. Penurunan tekanan nadi

    turgor kulit baik, membran mukosa lembab,

    • 5. Kolaborasi pemberian IV

     
    • d. Penurunan volume nadi

    tidak ada rasa haus yang berlebihan

    • 6. Monitor status nutrisi

    25

     
    • e. Penurunan turgor kulit

     
    • 7. Berikan cairan IV pada suhu ruangan

    • f. Penurunan turgor lidah

    • 8. Dorong masukan oral

     
    • g. Penurunan haluaran urin

    • 9. Berikan penggantian nesogatrik sesuai

    • h. Penurunan pengisian vena

    output

    • i. Membran mukosa kering

    • 10. Dorong keluarga untuk membantu

    • j. Kulit kering

    pasien makan

    • k. Peningkatan hematokrit

    • 11. Tawarkan snake (jus buah, buah segar)

    • l. Peningkatan suhu tubuh

    • 12. Kolaborasi dengan dokter

     
    • m. Peningkatan frekwensi nadi

    • 13. atur kemungkinan transfusi

    • n. Peningkatan konsentrasi urin

    • 14. persiapan untuk transfusi

    • o. Penurunan berat badan

    Hypovolemia Management

    • p. Tiba-tiba (kecuali pada ruang ketiga)

    • 1. Monitor status cairan termaksud intake

    • q. Haus

    dan output cairan

    • r. Kelemahan

    • 2. Pelihara IV line

    Faktor yang berhubungan

    1) Kehilangan cairan aktif

    2) Kegagalan mekanisme regulasi

    • 3. Monitor tingkat Hb dan Hematokrit

    • 4. Monitor tanda vital

    • 5. pasien

    Monitor

    respon

    terhadap

    penambahan cairan

     
    • 6. Monitor berat badan

    • 7. Dorong pasien untuk menambah intake oral

    • 8. Pemberian cairan IV monitor adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan

    • 9. Monitor adanya tanda gagal ginjal

     

    3

    Nyeri akut b.d mukosa lambung teriritasi

    NOC

    NIC

    Definisi : pengalaman sensori dan emosional

    1.

    Pain level

    Pain management

    yang tidak menyenangkan yang muncul akibat

    2.

    Pain control

    • 1. Lakukan pengkajian nyeri secara

    kerusakan jaringan yang aktual dan potensial

    3.

    Comport level

    komprehensif termaksud lokasi,

    atau digambarkan dalam hal kerusakan

    Kriteria hasil :

    karakteristik, durasi, frekwensi, kualitas

    sedemikian rupa (international Association for

    • 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab

    dan presipitasi

    the study of pain) : awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan

     

    nyeri, mampu menggunakan tehknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,

    • 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

    akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan

    mencari bantuan)

    • 3. Gunakan tehknik komunikasi terapeutik

    berlangsung <6 bulan

    • 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang

    untuk mengetahui pengalaman nyeri

    26

     

    Batasan karakteristik :

    dengan menggunakan management nyeri

    pasien

    • a. Perubahan selera makan

    • 3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,

    • 4. Kaji kultur yang menpengaruhi respon

    • b. Perubahan tekanan darah

    frekwensi dan tanda nyeri)

    nyeri

    • c. Perubahan frekwensi jantung

    • 4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri

    • 5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

    • d. Perubahan frekwensi pernafasan

    berkurang

    • 6. Evaluasi bersama pasien dan tim

    • e. Laporan isyarat

    kesehatan lain tentang ketidakefektipan

    • f. Diaforesis

    kontrol nyeri masa lampau

    • g. Perilaku distraksi (mis., berjalan mondar mandir mencari orang lain, aktifitas lain,

    • h. Mengeskpresikan perilaku (mis., gelisah,

    • 7. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

    aktifitas yang berulang)

    merengek, menagis)

    • 8. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

    • i. Masker wajah (mis., mata kurang

    • j. Sikap melindungi area nyeri

    • 9. Pilih dan lakukan penaganan nyeri

    bercahaya, tampak kacau, gerakan mata terpancar atau tetap pada satu fokus meringis)

    (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) 10. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

    12. Berikan analgetik untuk mengurangi

    • k. Fokus menyempit (mis., gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan )

    • l. Indikasi nyeri yang dapat diamati

    11. Ajarkan tentang tehknik non farmakologi

    nyeri

    • m. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri

    13. Evaluasi keefektipan kontrol nyeri

    • n. Sikap tubuh melindungi

    14. Tingkatkan istrahat

    • o. Dilatasi pupil

    15. Kolaborasikan dengan dokter jika ada

    • p. Melaporkan nyeri secara verbal

    keluahan dan tindakan nyeri tidak

    • q. Gangguan tidur

    berhasil

    Faktor yang berhubungan :

    16. Monitor penerimaan pasien tentang

    Agen cedera (mis.,biologis, zat kimia, fisik,

    manajemen nyeri

    psikologis)

    Analgetik administration

    • 1. Tentukan lokasi, karakteri kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat

    • 2. Cek intruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekwensi

    • 3. Cek riwayat alergi

    • 4. Pilih analgetik yang diperlukan atau kombinasi dari analgetik ketika

    27

         

    pemberian lebih dari satu

    • 5. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri

    • 6. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal

    • 7. Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur

    • 8. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

    • 9. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat

    4

    Defisiensi pengetahuan b.d penatalaksanaan diet

    NOC

    NIC

    dan proses penyakit

    1.

    Knowledge : disease process

    Teaching : disease process

    Definisi : ketidak tahuan atau defisiensi

    2.

    Knowledge : healh behavior

    • 1. Berikan penilaian tentang tingkat

    informasi kognitif yang berkaitan dengan topik

    Kriteria hasil :

    pengetahuan pasien tentang proses

    tertentu

    1.

    Pasien dan keluaraga menyatakan

    penyakit yang spesifik

    Batasan karakteristik :

    pemahaman tentang penyakit, kondisi,

    • 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan

    • a. Perilaku hiperbola

    prognosis dan program pengobatan

    bagaimana hal ini berhubungan dengan

    • b. Ketidakakuratan mengikuti perintah

    2.

    Pasien dan keluarga mampu melaksanakan

    anatomi dan fisiologi dengan cara yang

    • c. Ketidakakuratan melakuakn tes

    prosedur yang dijelaskan secara benar

    tepat

    • d. Perilaku tidak tepat (mis., histeria, bermusushan, agitasi, apatis)

    3.

    Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat /tim

    • 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara

    • e. Penggungkapan masalah

    kesehatan lainnya

    yang tepat

    Faktor yang berhubungan :

     
    • 4. Identifikasi kemungkinan penyebab

    • a. Keterbatasan kognitif

    dengan cara yang tepat

    • b. Salah interprestasi informasi

    • 5. Sediakan informasi pada pasien tentang

    • c. Kurang pajanan

    kondisi dengan cara yang tepat

    • d. Kurang minat dalam belajar

    • 6. Hindari jaminan yang kosong

    • e. Kurang dapat mengingat

    • 7. Sediakan bagi keluarga atau SO

    • f. Tidak familier dengan sumber informasi

    informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

    • 8. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

    28

         

    9.

    Diskusikan

    pilihan

    terapi

    atau

    penanganan

    • 10. Dukung pasien untuk mengeplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

    • 11. Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal dengan cara yang tepat

    • 12. Intruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.

    29

    4.

    Implementasi Keperawatan

    Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana

    tindakan keperawatan. Tindakan yang dilakukan bertujuan untuk membantu

    individu dalam memenuhi kebutuhannya yang tidak dapat dipenuhi sendiri,

    mengarahkan atau membantu mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

    Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu

    memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan

    dibutuhkan klien saat ini (Damayanti & Iskandar, 2011).

    • 5. Evaluasi Keperawatan

    Menurut Damayanti & Iskandar, (2011). Evaluasi adalah proses

    berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien.

    Evaluasi dilakukan terus menerus pada respons klien terhadap tindakan

    keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dibagi dua, yaitu evaluasi

    proses atau formatif yang dilakukan setiap selesai melakukan tindakan,

    evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan antara

    respons klien dan tujuan khusus.

    Semua tindakan keperawatan yang di lakukan oleh perawat di

    dokumentasikan dalam format implementasi dan evaluasi dengan

    menggunakan pendekatan SOAP (Damayanti & Iskandar, 2011).

    S : Respon subyektif klien terhadap intervensi yang di laksanakan

    O : Respon onyektif klien terhadap yang di laksanakan

    A : Analisa ulang atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan

    apakah masalah masih tetap, sudah teratasi.

    P : Perencanaan atau tindak klien

    lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon

    30

    BAB III

    PENUTUP

    • A. KESIMPULAN

    Gastritis

    adalah

    suatu

    keadaan peradangan atau perdarahan mukosa

    lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal. Dua jenis gastritis

    yang sering terjadi adalah gastritis superficial akut dan gastritis atrofik kronis

    (Price&Wilson, 2006 dalam Nurarif dan Kusuma, 2015). Gastritis adalah

    imflamasi mukosa lambung. Gastritis akut berlangsung selama beberapa jam

    sampai beberapa hari dan sering kali disebabkan oleh diet yang tidak baik

    (memakan makanan yang mengiritasi dan sangat berbumbu atau makanan

    yang terinfeksi) (Smeltzer, 2010 dalam Yulianti & Kimin, 2014).

    Dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyakit gastritis yaitu dapat

    menyebabkan nyeri hebat, kurang nutrisi, anemia, perdarahan saluran cerna

    bagian atas, dan bisa menyebabkan kematian sehingga dalam penanganannya

    perlu perawatan secara intensif untuk menghindari akibat jangka panjang

    yang ditimbulkannya. Di samping itu pula penderita di harapkan dapat

    melakukan kontrol secara ketat terhadap beberapa faktor yang di duga kuat

    sebagai penyebab terjadinya gastritis

    • B. SARAN

    Dalam penulisan makalah ini, penyusun menyadari masih terdapat banyak

    kekurangan karena kurangya pengetahuan yang penyusun miliki. Maka

    dari itu penyusun meminta saran dan kritik dalam penyempurnaan

    makalah ini.

    31