You are on page 1of 12

Geriatric endodontic

Review Article
Santosh Kumar Singh, Aruna Kanaparthy, Ajay Pillai, Garima Sandhu
Journal of Orofacial Research, July-September 2013;3(3):191-196

Abstract
Developments in medicine have resulted in an increase in the life span of people, thereby
leading to an increase in the number of geriatric patients. Adverse oral health has been identified
as a risk factor for several systemic disorders/diseases. Therefore, dental care should be
integrated into overall health management of all geriatric patients. Increased numbers of such
patients in dentistry has resulted in the preferred use of alternatives like endodontics rather than
extractions to improve the longevity of the natural dentition. Special knowledge, skills and
attitude are necessary for the management of the geriatric patients. This review discusses the
unique challenges faced by the endodontist in carrying out root canal treatment in such
individuals.
Keywords: Geriatric, Endodontics, Root-canal treatment, Elderly.
How to cite this article: Singh SK, Kanaparthy A, Kanaparthy R, Pillai A, Sandhu G. Geriatric
Endodontic. J Orofac Res 2013;3(3):191-196.
Source of support: Nil
Conflict of interest: None declared

Perkembangan dalam bidang kedokteran telah meningkatkan angka harapan hidup manusia,
sehingga meningkatkan jumlah pasien geriatri dalam praktek sehari-hari. Kesehatan mulut yang
buruk telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko dalam beberapa gangguan/kelainan
sistemik. Oleh karena itu, perawatan gigi harus diintegrasikan ke dalam manajemen kesehatan
secara keseluruhan kepada semua pasien geriatri. Peningkatan jumlah pasien geriatrik dalam
bidang kedokteran gigi telah mengakibatkan pemilihan daripada perawatan alternatif seperti
endodontik daripada ekstraksi/pencabutan untuk meningkatkan umur gigi serta mempertahankan
gigi alami dalam rongga mulut.Sehingga llmu pengetahuan , keterampilan dan sikap yang khusus
diperlukan untuk manajemen pasien geriatri. Ulasan ini membahas tantangan-tantangan unik
yang dihadapi oleh seorang endodontist dalam melaksanakan perawatan saluran akar dalam
individu tersebut.
Kata kunci: Geriatri, endodontik, perawatan saluran akar, orang tua.

PENDAHULUAN
Geriatrik adalah cabang kedokteran yang berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan dan
pengobatan berbagai penyakit serta disabilitas di kemudian hari.
Istilah itu sendiri dapat dibedakan dari gerontology, yang merupakan ilmu pengetahuan
dari proses penuaan. Istilah ini berasal dari Yunani geron berarti 'orang tua' dan iatros yang
berarti 'penyembuhan' yang diusulkan pada tahun 1909 oleh Dr Ignatz Leo Nascher. Geriatrik
dentistry adalah cabang kedokteran gigi yang menitik beratkan pada perawatan gigi untuk
populasi pasien geriatri dan memfokuskan pada pasien yang sedang mengalami perubahan
fisiologis secara kronik, fisik dan/atau perubahan psikologis, kondisi yang mengerikan/penyakit.
Manajemen pasien geriatri memerlukan pertimbangan khusus karena perubahan fisiologis yang
berkaitan dengan usia, komplikasi kondisi kronis, peningkatan insiden kecacatan/disabilitas fisik
atau mental, sistem dukungan dan keterbatasan keuangan. Oleh karena itu, pendekatan
multidisiplin yang disarankan terdiri dari semua spesialisasi gigi, ahli geriatri, psikiatri,pelayanan
sosial dengan tim rehabilitasi. Multipharmacy, gangguan fisik dan perubahan
neurologis/psikologis yang umum terjadi di kalangan orang tua/geriatri, yang diakibatkan
mengonsumsi obat yang terkait dengan penyakit oral atau kondisi (misalnya mulut
kering/xerostomia, hiperplasia gingival dan reaksi lichenoid) dan kebersihan mulut yang buruk
karena kecacatan fisik.
Memperdalam pengetahuan secara teoritis, keterampilan klinis dan perilaku manajemen
merupakan kunci sukses manajemen dalam perawatan, terutama pada pasien geriatri.
Usia Kronologis adalah usia yang diukur dengan waktu kalender sejak lahir, sementara
usia fungsional atau fisiologis umur berdasarkan pada kinerja/prestasi kapasitas. Gerontologists
telah membagikan populasi golongan yang lebih tua menjadi beberapa kategori berdasarkan usia
kronologis:
• Baru-tua (55-64 tahun)
• Muda-tua (65-74 tahun)
• Menengah-tua (75-84 tahun)
• tua-tua (85-lebih besar tahun)

Patologis dan perubahan fisiologis pada pasien geriatik


Sistem kardiovaskular
• Penyakit arteri koroner — angina pektoris, aritmia, infark miokard, penurunan kontraktilitas
• Tekanan darah tinggi — penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, penyakit renovaskular.
Sistem saraf pusat
• Alzheimerism
• Arteriosklerosis serebral — CVA, penurunan memori, perubahan emosional
• Parkinsonisme
• Respon terhadap rangsangan — semua refleksi otonom menjadi lebih lambat
• Pola tidur — kurang nyenyak, kemungkinan insomnia
• Suara: menurun kisaran/range, nada bisa menjadi lebih tinggi
Sistem endokrin
• Penurunan respon terhadap stres
• Kedewasaan — diabetes mellitus tipe 2 onset waktu dewasa.
Sistem pencernaan
• Pengunyahan/mastikasi — terganggu, karena hilangnya gigi atau tidak pas gigi palsu
• Penelanan — lebih sulit karena pengurangan sekresi saliva dari kelenjar ludah
• Pencernaan — berkurang karena penurunan produksi enzim pencernaan.
Sistem genitourinari
• Pengurangan/penurunan aliran darah di ginjal
• Penuranan jumlah glomeruli yang berfungsi
• Penurunan reabsorpsi pada tubular
• Hipertrofi prostat jinak
• Peningkatan frekuemsi buang air kecil
• inkontinensia.

Pendengaran
• Penurunan kapasitas pendengaran, mungkin dibantu dengan memakai alat bantu dengar
• Sistem integumen
• Tekstur — kulit kehilangan elastisitas, berkerutan, kekeringan
• Warna — wajah pucat, jerawatan pigmentasi
• Suhu — dingin pada bagian ekstremitas, menurun keringat
• Rambut — menurun pertumbuhan, penipisan, beruban
• Kuku — menurun pertumbuhan

Sistem olfaktori/penciuman
Penurunan indera penciuman (akan mempengaruhi rasa rasa).

Rongga mulut
• Tulang — warna lebih gelap, bernoda, atrisi, kurang kuat di bawah beban
• Jaringan Sirkumoral — kaku
• TMJ — Penurunan tonasi pada otot
• Selaput lendir — kering, mengkilap dan lebih rapuh
• Periodontium — resesi, kemerahan, pembengkakan, kerusakan/resorpsi tulang
• Lidah — meningkatkan jumlah varikositas pada lingual
• Kelenjar ludah — penurunan produksi saliva, terutama akibat oleh beberapa obat.

Sistem pernapasan
• Perubahan rematik dalam thorax
• Fibrosis interstisial
• Masalah paru-paru/pulmonary yang terkait dengan polutan
• Senile emfisema
• Anatomi struktur-peningkatan anterior-posterior diameter.
Visi
• Penurunan visi periferal
• Lepekaan terhadap lampu terang
• Glaukoma
• Katarak
Geriatrik endodontik adalah terutama bicara tentang efek penuaan terhadap diagnosis pulpa dan
penyakit periapikal serta keberhasilan dalam perawatan saluran akar.4

PERUBAHAN DENGAN USIA


Saliva/air liur
Xerostomia (kekeringan mulut) merupakan salah satu efek samping yang diakibatkan dari
multipharmacy/konsumsi obat-obatan dengan jenis yang banyak. Air liur adalah mekanisme
pertahanan tubuh yang pertama dalam mempertahankan struktur gigi yang sehat terhadap oral
infeksi. Air liur mengandung beberapa faktor antimikroba, sistem buffering,
jenuh/supersaturated kalsium fosfat, molekul pelumas yang besar dan enzim pencernaan.
Hipofungsi pada kelenjar ludah biasanya mmenyebabkan beberapa penyakit mulut yang tidak
bisa dikendali seperti karies dan infeksi candida. Tanpa fungsi kelenjar ludah yang memadai,
kualitas hidup juga cenderung menjadi terganggu karena kelembaban dari kelenjar ludah
menawarkan pelumasan untuk berbicara, mengunyah dan menelan.

Efek dari obat-obatan


Obat yang tertentu umum diresepkan untuk pasien geriatri dapat menyebabkan pembesaran pada
jaringan gingiva (misalnya natrium fenitoin dan calcium channel blockers) atau merangsang
reaksi lichenoid (misalnya hydrochlorothiazides dan inhibitor ACE atau angiotensin II reseptor
antagonis). Kondisi klinis, seperti hipertensi, terapi antikoagulasi dan hipoglikemia, dapat
memicu darurat krisis selama perawatan gigi. Pasien dengan diabetes sering memiliki penyakit
kardiovaskular dan lebih rentan terhadap infeksi jika penyakit ini tidak dikendalikan dengan
baik. Meskipun kontroversial, profilaksis antibiotik mungkin diperlukan pada saat melakukan
prosedur perawatan gigi pada pasien geriatri yang lemah untuk mencegah kejadian infeksi pada
pasien yang memiliki sendi prostetik dan katup jantung palsu. Sementara perawatan kesehatan
gigi dilakukan oleh profesi dental dan yang memberikan penilaian mereka mengenai kondisi
khusus ini, juga harus berkonsultasi dengan sejawat profesi kesehatan lainnya untuk
mengoptimalkan perawatan pasien.

Penuaan pada jaringan gigi


Enamel5-11
Enamel gigi bertahan dengan kuat terhadap perubahan kimia dan morfologi selama bertahun-
tahun. Jaringan ini menjadi kurang hidrasi dan peningkatan konten fluorida pada superfisial
sejalan dengan peningkatan usia, terutama dengan penggunaan pasta gigi dentrifrice dan keran
air. Ketebalan dari enamel mengalami perubahan seiring dengan waktu, terutama pada
permukaan labial/bukal, proksimal kontak, incisal dan permukaan oklusal karena banyak
mengunyah dan membersihkan dengan pasta mengandung abrasif dentifrices. Hilangnya lapisan
terluar enamel apabila jaringan berinteraksi dengan larutan sifat asam.

Dentin
Dentin volume meningkat/bertambah pada dinding kamar pulpa melalui aposisi yang terus-
menerus oleh sekunder dentin. Dentin pada orang tua (dentin sekunder) lebih getas, kelarutan
berkurang, kurang permeabilitas berkurang, dan warna lebih gelap daripada dentin sebelumnya
pada waktu mudah. Ada pembentukan tersier dentin dalam merespon terhadap trauma, karies
atau rangsangan iritasi apapun. Jadi perubahan pada jaringan dentin adalah:
• Peningkatan peritubular dentin
• Peningkatan dentinal sclerosis
• Peningkatan jumlah dead tracts
• Penurunan permeabilitas tubular
• Peningkatan pembentukkan dentin reparatif dan dentin sekunder
• Perubahan warna kekuningan dentin.

Ruangan pada pulpa


Ukuran ruang pulpa dan volume jaringan pulpa menurun dengan pembentukkan dentin repatif
dan dentin sekunder. Lapisan odontoblastik sekitar pulpa mengalami perubahan secara progresif
dari organisasi multilayer sel kolumnar aktif menjadi satu lapisan sel kuboidal yang relatif tidak
aktif. Kalsifikasi pada saluran akar sejalan dengan peningkatan usia, dan volume sementum
dalam alveolus juga meningkatkan secara bertahap lembur, terutama di daerah apikal dan
periapikal.

Usia perubahan pada jaringan pulpa/perubahan jaringan pulpa akibat usia


• Penurunan sel-sel
• Peningkatan serat kolagen (fibrosis)
• Penyusutan tanduk pulpa
•Volume ruang pulpa menjadi kecil
• Kalsifikasi
• Penurunan saraf pulpa dan pembuluh darah
• Penurunan kapasitas penyembuhan pulpa
• Penurunan ukuran sel odontoblas
• Hilangnya sel odontoblas di area lantai pulpa terutama di bifurkasi dan trifurcation.

Dalam akar12
• Peningkatan pengendapan sementum pada bagian apex akar
• Kalsifikasi saluran akar.

RIWAYAT MEDIS4
Anamnesa riwayat medis secara menyeluruh lebih penting pada pasien geriatri karena mereka
mungkin mengidap / menderita penyakit kronis lain dan mengkonsumsi obat-obatan lain.
Kepekaan terhadap obat-obatan, interaksi intoleransi dan potensi obat dengan obat-obatan yang
diresepkan untuk perawatan gigi harus diantisipasi.

KELUHAN UTAMA
• Keluhan pasien ini biasanya memiliki lebih sedikit keluhan dan rasa sakit gigi biasanya indikasi
masalah pada pulpa atau periodontal
• Pasien harus diizinkan untuk menjelaskan kata-kata mereka sendiri, pada pasien golongan cacat
visual / pendengaran kita harus lebih memberi perhatian, dan apakah ada kemampuan pasien
tersebut untuk berkomunikasi.

RIWAYAT GIGI
Biasanya akan memiliki riwayat berulang pada episode perawatan gigi dan karies, beberapa
restorasi dan sering berkunjung ke tempat dokter gigi.

GEJALA SUBYEKTIF
Gejala pada pulpa biasanya bersifat kronis pada pasien geriatri. Jika rasa sakit tidak dapat
dilokalisasi, salah satu harus mempertimbangkan sumber rasa nyeri lain yaitu dari nyeri
orofasial.

GEJALA OBJEKTIF
1. Peningkatan insidensi sensitivitas akar yang sulit untuk kontrol.
2. Peningkatan insidensi karies terutama karies subgingival akar yang sulit untuk direstorasi
kembali pada daerah interproksimal yang akan mengakibatkan kegagalan restorasi dan gigi terus
berlubang.
3. Keausan gigi dalam bentuk atrisi, abrasi dan erosi.
4.Kerentanan terhadap retak, fraktur kuspal, craze lines karena hilangnya gaya lenting dan
penurunan komponen organik gigi.
5. Disfungsi pada sendi temporomandibular dan penurunan dimensi vertikal karena kompensasi
gigitan oklusi yang disebabkan kehilangan gigi.
6. Kurang miring dan supraerupsi karena penurunan erupsi gigi normal.
7.Peningkatan insidensi masalah periodontal dan sering membutuhkan gabungan perawatan
antara perawatan endodontik-periodontik.

Cara penegakkan diagnosa 8-11,13


Pemeriksaan Pulpa
• Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lambat dan lembut
• Respon yang lemah atas rangsangan terhadap pulpa
• Tidak ada korelasi antara tingkat respon terhadap tes listrik pulpa dengan tingkat peradangan
karena penurunan saraf dan komponen pembuluh darah, peningkatan fibrosis, pengurangan
volume pulpa, perubahan karakteristik dari substansi dasar, kalsifikasi yamg berlebihan, pulpa
resesi/penyusutan pulpa dan restorasi yang luas.
• Harus menghindari penggunaan tes listrik pada pasien yang sedang pasang alat pacu jantung
• Tes kavitas kurang berguna/efektif.

Radiografi
Penempatan film:
• Dipengaruhi oleh tori, exostosis
• Dibantu oleh otot-otot sekitar posisi apikal yang bisa meningkatkan kedalaman vestibula
• Penggunaan pemegang film
• Peningkatan paparan waktu karena tori, exostosis dan tulang lebih padat.
Gambaran radiografi umum menunjukkan:
• Kalsifikasi pada pulpa
• Resesi pulpa
• Peningkatan pembentukan sementum di bagian apex (hypercementosis)
• Pengecilan ukuran saluran akar
• Kalsifikasi saluran akar (bisa terjadi keseluruhan)
• Penurunan osteosklerosis dan kondensing osteitis
• Peningkatan insidensi beberapa kista odontogenik dan tumor.

DIAGNOSIS DAN RENCANA PERAWATAN 3,4,14-16


Pertimbangan-pertimbangan secara umum
•Pasien dapat diyakinkan dengan memberikan informasi mengenai perawatan selanjutnya,
memungkinkan waktu untuk pasien bertanyaan, tidak terburu-buru untuk memulai perawatan,
dan memperhatikan perasaan dan kebutuhan individu sambil menyediakan lingkungan kondusif
untuk berkomunikasi, saling mengerti dan edukasi pasien.
•Harus mendapat informed consent sebelum perawatan mulai
•Sebaiknya mengatur janji pada waktu pagi untuk melakukan prosedur perawatan gigi
•Tiga tips untuk menenangkan seorang pasien yang cemas yaitu tetap menenangkan emosi
pasien, meyakinkan pasien terus-menerus dan memastikan anestesi efektif ketika sedang
perawatan dijalankan.
Peningkatan kenyamanan pasien
Pasien geriatri yang mengalami penuaan mungkin ada mengalami gangguan pada mobilitas fisik
atau gangguan persepsi sensorik. Pola pernapasan mungkin tidak teratur, menyebabkan pasien
menjadi mudah terengah-engah. Mengantar pasien secara perlahan ke bawah aula/ruangan,
mengikuti cara dan kecepatan berjalan mereka dan menawarkan tangan kita bagi mereka untuk
berpegangan akan membantu membuat pasien merasa sedikit lebih tenang. Bagi pasien yang
datang dengan alat bantu berjalan, kita berjalan perlahan-lahan di depan pasien. Bagi mereka
yang datang dengan kursi roda, mendorong kursi roda secara perlahan-lahan ke ruangan
perawatan, tergantung dimana tempat posisi dental unit. Sesuaikan tinggi kursi roda dengan
dental unit untuk lebih mudah mentransferkan pasien. Beberapa pasien geriatri akan merasa sulit
untuk duduk di satu tempat dengan waktu yang lama, ada pasien tidak bisa ditempatkan dengan
posisi telentang, sementara pasien yang lain memiliki kesulitan keseimbangan dan dukungan
badan. Kebanyakan pasien dapat dirawat dengan berhasil dalam praktek gigi yang telah
disesuaikan dengan beberapa modifikasi. Idealnya, pasien harus dilakukan perawatan di atas
dental unit, tapi kadang-kadang pasien di kursi roda tidak dapat ditransfer ke dental unit. Dalam
kasus ini, tim profesi gigi dapat memindahkan kursi roda sedekat mungkin dengan dental unit,
dan melakukan perawatan dengan posisi berdiri.
Bagi pasien dirawat di kursi gigi:
• Kantor praktek gigi harus dirancang/didesain untuk mengakomodasi pasien yang membutuhkan
kebutuhan khusus (misalnya kursi roda). Pasien yang tetap dirawat di kursi roda selama
perawatan akan memerlukan dukungan kepala tambahan dalam bentuk portable headrest.
• Waktu janji perawatan harus pada waktu pagi atau pagi sore sehingga pasien dapat makan
sarapannya dan konsumsi obat-obatan secara rutin
• Penyesuaian kursi (sebaiknya tegak posisi) dan bantal yang diperlukan untuk menunjang leher.
Selalu memberi petunjuk kepada pasien sebelum pindah posisi kursi atau menyesuaikan titik
pendukung, dan sering bertanya apakah pasien tetap dalam kondisi nyaman.
• Pemakaian perisai mata pada pasien untuk melindungi dari cahaya/lampu dental unit
• Mencegah terjadi kelelahan rahang pasien dengan mempersingkatkan waktu prosedur
perawatan dan penggunaan gigitan blok
• Fasilitas toilet diperlukan untuk istirahat secara berkala.
• Membutuhkan anestesi apabila:
- Status pulpa masih vital
- Posisi rubber dam clamp di daerah servikal
• Selama anestesi
- Landmarks anatomi lebih menonjol
- Deponir anestesi perlahan-lahan
- Injeksi pada intraligamentary menjadi sulit karena kesempitan pada ruangan ligament
periodontal ligamen
- Selama anestesi intraosseous
- menggunakan sejumlah kecil solusi anestesi
- menggunakan 3% mepivacaine bukan lidokain 2%
- Anestesi intrapulpal menjadi sulit karena penurunan volume pulpa
• Isolasi sebaiknya dilakukan pada gigi tunggal
• Isolasi pada beberapa gigi bisa dilakukan hanya jika gigi berdekatan dapat diisolasi dan pasien
tolerasi dengan pemakaian saliva ejektor.(Saliva ejector adalah biasanya tidak disukai karena
menurunkan jumlah saliva dan refleks muntah).

Hipotensi Ortostatik
Harus diingatkan bahwa tidak menukar pasien ke posisi yang berbeda secara tiba-tiba selama
perawatan. Hipotensi orthostatik adalah kondisi yang sering terjadi pada orang dewasa yang
lebih tua apabila mendadak terjadi perubahan posisi. Meminta pasien untuk duduk selama satu
menit atau dua sebelum mengantarkan pasien ke area resepsi untuk membantu mereka
mengembalikan keseimbangan mereka.

Akses
• Mengidentifikasi orifisi saluran akar dan mengakses ke saluran akar cukup menantang. Oleh
karena itu, penggunaan alat pembesaran (mikroskop) merupakan keuntungan dan mengatasi
masalah tersebut.
• Penggunaan DG 16, micro-openers dan microdebriders untuk menemukan orifisi saluran akar.
PIEZO listrik ultrasonik endodontik tips sangat baik/efektif untuk membuangkan dentin
sekunder yang sering menutupi orifisi saluran akar.
• Alat bantuan lain dalam perawatan pasien geriatri adalah penggunaan transillumination. Teknik
ini cukup sederhana. Matikan semua lampu di ruang perawatan dan matikan lampu pada dental
unit. Kemudian menyinarkan fiber optic light melewati CEJ gigi. Gigi akan bertampil seperti
'Jack o 'Lantern'. Saluran akar yang mengalami kalsifikasi akan bertampil sebagai titik-titik yang
warna gelap, beda dengan saluran akar yang lebar. Transillumination juga merupakan cara yang
baik untuk mendiagnosa retak dan fraktur gigi
• Negosiasi saluran akar dengan No. 8/No.10 K-file dengan chelating agen
• Penggunaan pewarna untuk membedakan orifisi dengan dentin di sekitar
• Hindari penggunaan broaches
• Modifikasi untuk meningkatkan akses pada struktur gigi akses – bagian koronal mungkin harus
dikorbankan untuk akses (kadang-kadang bahkan menghilangkan seluruh bagian mahkota) dan
pelebaran dinding aksial untuk meningkatkan visibilitas
• Perforasi lebih mungkin terjadi karena kamar pulpa telah mengalami kalsifikasi dan seperti
disk-like. Segera sealing dengan bahan perbaikan yang cocok digunakan pada area akar supaya
meningkatkan prognosis secara signifikan.

Preparasi
• Kalsifikasi pada saluran akar pada pasien geriatrik lebih konsentris dan linier dan ini
memudahkan penetrasi setelah saluran akar ditemukan
• Perlebaran/flaring pada saluran akar disarankan dilakukan pada awal prosedur untuk
memberikan reservoir bagi larutan irigasi
• Pengunaan instrumen rotary NiTi lebih efisien dan menghasilkan bentuk saluran akar yang
dapat diandalkan pada saluran akar yang mengalami kalsifikasi dan melengkung/bentuk tidak
lurus. Selain itu, dokter gigi juga dapat menghindari melakukan PSA cara manual dan juga
memanfaatkan elastisitas yang tinggi dar logam NiTi
• Saluran akar keliatan lebih panjang karena peningkatan deposisi pada sementum
• Penggunaan instrumen dengan tidak ada rake angle dan teknik preparasi crown down lebih
disarankan.
• Saluran akar yang dikaitkan dengan pasien geriatri dapat dibersihkan dan dibentuk secara
maksimal jika dapat kita dapat mempreparasi seluruh saluran akar dengan tapered 0,04
• Kesulitan dalam mencari apikal konstriksi:
- 0,5-2,5 mm dari apeks radiografi apeks
- Penurunan rasa taktil dokter gigi
- Penurunan rasa sensitivitas periapikal pada pasien yang lebih tua
- Penggunaan pendeteksi apeks elektronik terbatas dalam kasus gigi yang telah direstorasi
dengan berat.
- Penetrasi ke saluran akar yang telah kalsifikasi amatlah sulit.

Obturasi
• Teknik obturasi Gutta- percha tidak memerlukan midroot taper besar. Teknik hidrolik
lateral kondensasi dengan menggunakan bioceramik sealer dan dioles permukaan cone yang
akan diinsersi ke saluran akar merupakan ideal dan cukup menghemarkan waktu. Fraktur
akar dapat terjadi ketika lancip/taper terlalu banyak waktu preparasi saluran akar dan
kegagalan post mungkin terjadi dengan posting paralel
• Koronal sealing yang memadai adalah wajib untuk dilakukan setelah obturasi dan amalgam
atau bahan bonded restoratif boleh digunakan.
Keberhasilan dan kegagalan perawatan endodontik
• Dengan pulpa yang masih vital, perbaikan pada jaringan periapikal adalah ditentukan oleh
faktor lokal dan sistemik yang sama seperti pasien muda
• Dengan pulpa nonvital dan ada patologi pada periapikal, perbaikan/penyembuhan menjadi
lambat karena perubahan arteriosclerotic pada pembuluh darah dan perubahan viskositas
jaringan ikat. Penyembuhan pada periapikal lebih sulit dan pembentukan tulang menurun
dengan peningkatan usia
• Jaringan periapikal perlu sekitar 2 tahun untuk penyembuhan
• Saluran akar yang terabaikan adalah penyebab umum kegagalan.

Pembedahan Endodontik
• Indikasi melakukan pembedahan endodontik tidak dipengaruhi oleh usia
• Pertimbangan medis jelas sangat penting
• Pertimbangan lokal anatomi pada orang tua:
- Peningkatan insidensi fenestrated / dehisced / exostoses pada akar
- Ketebalan jaringan lunak dan tulang berkurang
- Elasitas jaringan berkurang
- Resistensi terhadap refleksi menurun
- Pembedahan lebih banyak memberikan akses langsung ke apeks pada pasien geriatric
- Pengisian sampai panjang kerja sangat penting - kemungkinan terjadi missing saluran
akar
- Ekimosis dan penyembuhan yang lama pasca bedah umum terjadi pada pasien geriatri.

KESIMPULAN
Kebutuhan, harapan, keinginan, dan kebutuhan perawatan pada orang geriatri dapat melebihi
dari semua kelompok usia yang lain, dan hati bersyukur yang ditunjukkan oleh pasien geriatri
merupakan hal yang paling memuaskan kepada para ahli profesional gigi. Sementara lebih
banyak pasien geriatri menjadi lebih aktif dalam mencari dan melakukan perawatan gigi,
juga adalah benar bahwa perawatan endodontik untuk pasien geriatri menjadi jauh lebih
menantang dan para endodontist harus lebih bersiap diri untuk memenuhi tantangan.
Kebutuhan sekarang adalah untuk menjaga kelompok usia ini dalam pikiran dalam
menyusun program pendidikan gigi yang dapat memberikan latihan lanjutan dalam
kedokteran gigi geriatrik dan meningkatkan kesadaran melalui peningkatan kurikulum, riset
dan publikasi pada topik penuaan.

References
1. Yeh CK, Katz MS, Michèle J. Saunders geriatric dentistry: integral component to geriatric
patient care. Taiwan Geriatrics and Gerontology 2008;3(3):182-192.
2. Shah N. Teaching, learning, and assessment in geriatric dentistry: researching models of
practice. Journal of Dental Education 2010 Jan; 74:1.
3. Kaweckyl N. Geriatric dentistry: reviewing for the present, preparing for the FutureCrest®
Oral-B® at dentalcare.com Continuing Education Course, Revised August 16, 2011
4. Newton CW, Brown CE Jr, Geriatric endodontics. Chapter number 23, Pathways of the Pulp.
7th ed, Mosby Publishers, 1998; p 759-790.
5. Stanley HR, Pereira JC, Spiegel E, Broom C, Schultz M. The detection and prevalence of
reactive and physiologic sclerotic dentin, reparative dentin and dead tracts beneath various types
of dental lesions according to tooth surface and age. J Oral Pathol 1983:12:257.
6. Pashley DH, Walton RE, Slavkin HC. Histology and physiology of the dental pulp.
Endodontics. 5th ed. BC Decker, Elsevier. Ont: BC Decker Inc; 2002. p. 25-61.
7. Seltzer S, Bender IB, editors. The dental pulp: biologic considerations in dental procedures,
3rd ed. St Louis: Ishiyaku EuroAmerica 1990: p324-348.
8. Stanley HR, Ranney RR. Age changes in the human dental pulp. I. The quantity of
collagen.Oral Surg 1962;15:1396.
9. Walton RE. Endodontic considerations in the geriatric patient. The Dental Clinic of North
America 1997;41(4):795-816.
10. Bernick S. Effect of aging on the nerve supply to human teeth. J Dent Res 1967;46:694.
11. Bernick, Nedelman C. Effect of aging on the human pulp. J Endod 1975;3:88.
12. Stein TJ, Corcoran JF. Anatomy of the root apex and its histologic changes with age. Oral
Surg Oral Pathol Oral Med 1990;69:238.
13. Keir DM, Walker WA 3rd, Schindler WG, Dazey SE. Thermally induced pulpagia in
endodontically treated teeth. J Endod 1991;17:38.
14. Newton CW, Patterson SS. Geriatric endodontics. J Mass Dent Soc 1981;30:93-95.
15. Koch K, Brave D. Gerontology and its clinical challenges, Endodontics feature,
dentaltown.com, Nov 2011.
16. Gutmann JL, Lovdahl PE. Problem solving in endodontic, gutman. 5th ed. chapter 8,
Elsevier, Mosby, Problem Solving in Tooth Isolation, Access Openings, and Identification of
Orifice
Locations; 2006. p. 162-168.