You are on page 1of 11

Meningkatkan keimanan kepada allah melalaui sifat-sifat-nya

dalam asmaul husna.


Standar kompetensi : Meningkatkan keimanan kepada allah melalaui sifat-sifat-nya
dalam asmaul husna.
Kompetensi dasar:
 Menguraikan 10 Asmaul Husna (al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith al-
hafidz, al-walii, al-waduud, ar-raffi, al-muiz, dan afuww).
 Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran melaluinsifat Allah dalam
asmaul husna (al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-walii, al-
waduud, ar-raffi, al-muiz, dan afuww) .
 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 asmaul husna (al-Aziz, al-
ghafuur, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-
Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari.
 Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 asmaul husna ((al-muqsith,
al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-walii, ar-raffi, al-muiz, dan afuww) dalam
kehidupan sehari-hari .
Indikator:
 Siswa mampu menguraikan 10 Asmaul Husna(al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-
basith al-hafidz, al-walii, al-waduud, ar-raffi, al-muiz, dan afuww).
 Siswa mampu menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran melaluinsifat
Allah dalam asmaul husna (al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-
walii, al-waduud, ar-raffi, al-muiz, dan afuww).
 Siswa mampu menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 asmaul husna
(al-Aziz, al-ghafuur, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah,
al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari.
 Siswa mampu meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 asmaul husna
((al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-walii, ar-raffi, al-muiz, dan
afuww) dalam kehidupan sehari-hari.

MATERI

A. Menguraikan 10 Asmaul Husna (al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-


hafidz, al-walii, ar-raffi, al-muiz, dan afuww).
Setiap nama Allah swt pasti mengandung sifat yang berkaitan dengan nama dan
keluhuran Allah SWT. Melalui wahyu-Nya tentang nama-nama-Nya. Nama-nama
Allah itu disebut dalam Al-Quran dengan al-Asma’al-Husna yang artinya nama-nama
yang baik.
Asmaul Husna adalah nama-nama yang indah. Jumlahnya ada 99 nama. Asma’ artinya
nama, dan husna artinya lebih baik. Jadi, nama-nama Allah itu adalah nama yang
paling baik dan sempurna, sedikitpun tidak ada kekurangannya. Lafadz Asmaul Husna
dalam Al-Qur’an terdapat dalam 4 ayat. Sedang nama-nama Allah itu terdapat pada
3.207 ayat yang meliputi 96 nama, sementara 3 nama lainnya dijelaskan oleh hadits
nabi, yakni al-Khafidz (Yang Merendahkan), al-Mani’ (Yang Maha Mencegah), as-
Shabur (Yang Maha Sabar). Meskipun nama-nama tersebut bukan termasuk dalam al-
Quran, namun tidak bertentangan ayat Al-Quran.
Allah berfirman:
Artinya : hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat Balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S al-A’raf: 180).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:


Artinya: Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia
mempunyai Al-asmaul husna(nama-nama yang baik) . (Q.S. Thaha:8)
Asmaul husna Allah yang akan kita pelajari adalah sebagai berikut: Al-muqsith(yang
maha adil), Al-warits (yang maha mewarisi), An-nafi’(yang maha pemberi manfaat),
Al-basith (yang maha melapangkan), Al-hafidz (yang maha penjaga), Al-waliyy(yang
maha melindungi), Al-waduud(yang maha mengasihi), Ar-rafi’(yang meninggikan),
Al-muiz(yang maha terhormat), Al-afuww(yang maha pemaaf).

B. Menunujukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran melalui sifat Allah dalam


asmaul husna (al-muqsith, al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-walii, ar-raffi,
al-muiz, dan afuww)
1. Al-Muqsith
Al-Muqsith artinya Allah Maha Adil. Allah memperlakukan manusia dan semua
makhluknya dengan perlakuan yang adil. Keadilan Allah itu dapat di lihat dalam
kehidupan di dunia ini. Bahkan keadilan Allah akan diberikan kepada umat manusia
ketika mereka semua sudah kembali kepada Allah di akhirat nanti.
Allah SWT berfirman:
Artinya: Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah):
“Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembayang dan sembahlah Allah dengan
mengikhlaskan ketaatanmu kepadanya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu
pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali akan kembali kepada-Nya)”.
(Q.S. al-Araf:29).

Karena sifat al-Muqsith ini pula tidak ada manusia yang lebih diperhatikan
dibandingkan dengan manusia yang lain. Di hadapan Allah semua makhluk termasuk
manusia adalah sama, tetapi yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang
paling bertakwa kepada-Nya.
Sifat Allah Yang Maha Adil ini harus dijadikan dasar bagi manusia untuk bisa berbuat
adil kepada sesamanya. Pemimpin harus adil kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Orang Tua harus adil kepada semua anak-anaknya. Allah memperlakukan hamba-
hambanya secara adil. Tak ada satupun perbuatan baik yang luput dari perhatian.
Semuanya mendapat pahala. Kekeliruan, kesalahan dan kezaliman diperbaiki. Jika
manusia saling menzalimi satu sama lain, maka allah mengambil dari si zalim dan
memberikannya kepada yang di zalimi. Hanya Allah yang dapat melakukan hal ini.
Kemudia jika terjadi perselisihan atau ketidaksamaan pendapat, maka harus
diselesaikan dengan baik dan adil.
Sebaliknya, Allah sangat membenci orang-orang yang tidak bisa berbuat adil dan
tidak mau berlaku adil kepada sesamanya. Seperti, pemimpin yang sewenang-wenang,
otoriter dan despotic, orang tua yang tidak adil dan tidak proporsional terhadap anak-
anaknya. Selain itu, jika terjadi perselisihan, tidak diselesaikan dengan adil bahkan
cenderung diadu domba. Sehingga tidak akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, menjadilah orang yang memiliki rasa keadilan yang sempurna, yang
melihat segala sesuatu dengan adil dan menuntut keadilan. Terutama menuntut
keadilan kepada diri sendiri, bukan menuntut orang lain untuk berbuat adil kepada diri
kita sendiri. Rasulullah saw bersabda:”orang yang adil akan berdiri di atas mimbar
cahaya ilahi di dalam surga”.
2. Al-Warits
Al-Warits artinya Yang Maha Mewarisi. Sifat Allah menunjukkan ke-Maha Kuasaan
Allah terhadap cciptaanya, yaitu bumi dan alam semesta beserta isinya. Dialah Tuhan
yang kekal dan abadi yang akan mewarisi bumi dan isinya termasuk orang-orang yang
ada di antarannya setelah kehancuran. Allah berfirman:
.Artinya: Sesungguhnya kami mewarisi bumi[904] dan semua orang-orang yang ada
di atasnya, dan Hanya kepada kamilah mereka dikembalikan. (QS. Maryam:40)
Orang-orang yang lalai tidak mengetahui bahwa apa yang mereka miliki, termasuk
diri mereka sendiri, hanyalah pinjaman bagi mereka. Orang-orang yang mensyukuri
karunia Allah Yang Maha Pemurah, adalah orang-orang yang sombong, yang mengira
bahwa apa yang mereka miliki adalah kepunyaan mereka.
Selain itu, tidak ada yang bisa menghalangi dan membatasi kekuasaan Allah. Allah
memiliki kewenangan penuh untuk menghidupkan dan mematikan seseorang.
Allah berfirman:
Artinya: Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan
mematikan dan kami (pulalah) yang mewarisi. (QS. Al-Hijr: 23).
Oleh karena itu, manusia perlu menyiapkan bekal yang cukup berupa iman dan amal
saleh selama hidup di dunia. Bekal itu akan sangat berharga ketka manusia
kembalinkepada-Nya. Sebaliknya, manusia tidak boleh menyia-nyiakan kehidupan di
dunia, dengan melalukan hal-hal yang tidak berguna dan jauh dari nilai-nilai
keimanan dan keislaman. Sebab jika dihitung, umur manusia hidup di dunia tidak
terlalu lama, dibandingkan dengan kebaikan yang bisa diperoleh di akherat.
3. An-Nafi’
An-Nafi’ artinya Yang Maha Pemberi Manfaat. Allah menciptakan langit dan bumi
serta isinya ini mengandung manfaat yang luar biasa besarnya bagi manusia. Hampir
tidak ada sesuatupun di dunia yang tidak memiliki nilai dan manfaat bagi manusia.
Tidak hanya manusia, semua makhluk yang ada di bumi sangat merasakan manfaat
yang diberikan oleh Allah.
Allah berfirman:
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan
bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
(QS. Al-Baqarah:164).
Oleh karena itu, jika dilihat betapa besarnya karunia dan rahmat Allah yang
dilimpahkan kepada manusia, maka sudah seharusnya manusia mensyukuri nikmat
tersebut, menggunakan nikmat-nikmat itu untuk kebaikan dan kemanfaatan, dan tidak
menyalahgunakan nikmat-nikmat itu untuk perbuatan-perbuatan yang melanggar
aturan hukum dan hukum Allah.
Namun demikian, masih banyak kita melihat manusia yang kurang bersyukur atas
nikmat Allah itu bahkan nikmat dan karunia itu di salahgunakan. Mereka tidak
menggunakan bumi dan tumbuh-tumbuhan yang ada di atasnya untuk kebaikan, tetapi
sebaliknya merusak bumi dan tumbuh-tumbuhan itu karena keserakahan dan
nafsunya. Mereka tidak menggunakan lautan dan isinya untuk kepentingan seluruh
manusia, tetapi sebaliknya mereka melakukan perusakan terhadap lautan habitat yang
ada di dalamnya. Inilah di antara sifat manusia yang tidak mau bersyukur.
Allah swt berfirman:
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan
tangan manusia, supaya aAllah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-Rum:41).
Allah telah memberikan kita kebebasan hanya agar kita dapat memutuskan apakah
kita akan tunduk kepada kehendak Allah swt, memerintahkan atas nama-Nya, menjadi
makhluk terbaik dan bermanfaat, memiliki yang terbaik di antara makhluk, atau kita
akan durhaka, menyebabkan kejatuhan diri kita sendiri, dan ditolak dari rahmat Allah,
seperti halnya iblis. Kemampuan kita untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan
bukanlah ujian bagi Allah untuk menyaksikan bagaimana hamba-nya akan bersikap.
Allah telah menciptakan takdir kita sebelum Dia menciptakan kita. Oleh karena itu,
Dia sudah mengetahui apa yang akan kita kerjakan. Hanya orang yang beriman
kepada takdir yang akan dilindungi dirinya.
4. Al-Basith
Al-Basith artinya Yang Maha Melapangkan. Allah yang maha kaya senantiasa
memberikan rizkinya kepada semua makhluk, termasuk manusia. Bahkan bumi dan
seluruh isinya ini diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran manusia. Selain
itu, manusia juga dikaruniai akal dan pikiran untuk bisa mengolah kekayaan alam
dengan sebaik-baiknya.
Allah berfirman:
Artinya: Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah
melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang
menyempitkan (rizki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu bemnar-benar
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (QS. Ar-Rum:37).
Berdasarkan firman Allah di atas, maka janganlah kita mudah terlena oleh masa-masa
kesenangan dan kelapangan. Ketika semua itu terjadi, dengan melupakan Allah di
dalam kesenangan dan kebahagiaan kita, dengan menjadi sombong karena mengira
bahwa karena kitalah keberhasilan itu bisa tercapai. Pada saat itu, kita harus bersyukur
kepada Allah.
Oleh karena itu, sifat Al-Basith Allah harus di yakini sebagai sesuatu yang benar.
Tidak boleh ragu sedikitpun. Tetapi yang harus di ingat adalah ketika kita diberi
karunia rizki yang banyak maka kita harus pandai dan rajin bersyukur kepada Allah,
namun sebaliknya jika kebetulan rizki tidak sebanyak yang diharapkan maka kita
harus bersabar. Dengan bersabar pasti ada hikmah yang diperoleh manusia.
Allah berfirman dalam surat As-Syuura:27 :
Artinya: Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambanya tentulah
mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang
dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia maha mengetahui (keadaan)
hamba-hambanya lagi Maha melihat. (QS. As-Syuura:27).
5. Al-Hafidz
Al-Hafidz artinya Yang Maha Penjaga atau Pemelihara. Dialah tuhan yang
memelihara segala sesuatu. Dia yang menginginkan semua yang telah dan sedang
berlangsung dan menjaga semua yang akan terjadi. Allah mengetahui dan mengingat
semua yang dikerjakan oleh makhluknya. Allah juga memelihara semuanya, tidak ada
yang luput dalam pemeliharaan-Nya.
Allah SWT berfirman:
Artinya: jika kamu berpaling, maka Sesungguhnya aku telah telah menyampaikan
kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan
tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu, dan kamu tidak
dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah
Maha pemelihara segala sesuatu. (QS.Hud:57).
Allah SWt melindungi ciptaan-Nya dari semua kerusakan dan kekacauan. Itulah
mengapa semua benda langit yang berputar dan beredar dengan cepat pada garis
orbitnya tidak saling berbenturan satu sama lain. Sebagai manifestasi dari nama-Nya
Al-Hafidz, maka di dalam setiap ciptaan-Nya di tempatkan-Nya naluri untuk
mempertahankan hidup. Allah melindungi kita dengan mengajarkan bahwa apa yang
buruk bagi kita adalah haram.
Sebagai contohnya, makanan halal tetapi sudah kadaluarsa dan buruk maka menjadi
haram, racun, alkhohol, perzinaan, perjudian, dan kebodohan adalah kesombongan,
kemunafikan, kedengkiaan dan kebodohan adalah racun bagi jiwa seseorang. Karena
yang mempunyai sifat Al-Hafidz telah mengutus nabi-nabi-Nya untuk mengajarkan
kepada umatnya untuk memelihara dirinya dari kerusakan moral, material dan
spiritual.
Oleh karena itu, kita harus mampu memanfaatkan penjagaan Allah atas semua yang
ada ini dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan cara, antara lain: a) melakukan
pemeliharaan atas alam dengan baik dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi, b)
memanfaatkan segala yang ada di alam untuk beribadah kepada Allah dan
menebarkan kebaikan kepada sesama

6. Al-Waliy
Al-Waliy artinya Yang Maha Melindungi. Allah adalah Dzat yang maha melindungi
serta memberikan perlindungan bagi semua makhluk ciptaannya. Tidak ada kekuatan
manapun yang dapat mengalahkannya. Allah swt berfirman:
Artinya: Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka
Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang
mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. As-Syuura: 9).
Dalam kehidupan manusia tidak ada pelindung yang sejati, kecuali perlindungan
Allah swt. Manusia yang hidup dalam keadaan serba berkecukupan pun, tidak bisa
menjadikan hartanya untuk melindungi dirinya dari tidak beriman kepada Allah.
Sebaliknya, orang yang tidak punya harta dihantui kekhawatiran tidak bisa makan dan
tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Orang yang tidak punya, ada
kecenderungan untuk mudah dipengaruhi agar jauh dari Allah swt. Oleh karena itu,
sangat tepat kiranya jika manusia, dalam kondisi apapun senantiasa memohon
perlindungan Allah agar keimanannya tetap terjaga,sebab hanya Allah yang dapat
memberikan perlindungan yang baik.
Allah berfirman dalam surat yusuf ayat 64:
Artinya: Berkata ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (bunyamin)
kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (yusuf) kepada kamu
dahulu?”. Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang
diantara Para Penyayang. (QS. Yusuf:4).
Ayat di atas memberikan gambaran tentang kepasrahan Nabi Ya’kub, ketika
menghadapi anak-anaknya dan perlakuan yang sudah diberikan kepada Nabi Yusuf
dan tidak ingin kejadian itu terulang kembali kepada anaknya yang lain adalah
saudara Nabi Yusuf (Bunyamin). Karena itu Nabi Ya’kub berkata: “Aku hanya
bertawakal kepada Allah dengan menjaga Bunyamin, tidak kepada kalian. Aku
berharap, semoga Allah menyayangiku dengan menjaga Bunyamin, tidak memberikan
cobaan kepadaku dengan menghilangkan saudaranya Yusuf. Sesungguhnya rahmat-
Nya amat luas dan karunia-Nya amat besar”.
Dari ilustrasi kisah Nabi Yusuf di atas dapat memberikan inspirasi kepada kita bahwa
Allah adalah Maha Melindungi dan Maha Penjaga. Bukti dari itu semua, sebagaimana
dikisahkan dalam Al-qu’an, Nabi Yusuf akhirnya benar-benar di jaga oleh Allah swt.
Penjagaan Allah atas Nabi Yusuf itu dilakukan sejak di buang oleh saudara-
saudaranya ke dalam sumur, sampai dengan akhirnya Nabi Yusuf menjadi Penguasa
Mesir. Artinya manusia harus berusaha dengan keras terhadap usaha untuk mencapai
kebaikan dalam hidup, tetapi seterusnya semua hasilnya sangat tergantung kepada
Allah swt.
Kita juga tidak perlu cemas dan khawatir dalam situasi apapun, baik sedih,susah,
serba kesulitan dan sebagainya, selama kita masih memiliki keimanan dan ketakwaan
kepada Allah swt, pasti Allah akam memberikan perlindungan kepada kita.
7. Al-Waduud
Al-Waduud artinya Yang Maha Mengasihi. Tanpa kasih sayang Allah maka manusia
tidak bisa hidup dengan nyaman dan tenang. Karena kasih sayang Allah itulah, maka
sudah kewajiban bagi manusia untuk senantiasa taat kepada-Nya. Jika manusia
melakukan kesalahan baik di sengaja maupun tidak di sengaja, maka harus segera
bertobat dan memohon ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman:


Artinya: Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (QS. Hud:90).
Dalam kehidupan manusia di dunia tidak bisa dihindari berinteraksi dengan manusia
lain, baik di pasar, di sekolah, di tempat kerja, dan sebagainya. Dalam proses interaksi
itu pasti pernah terjadi seseorang berbuat salah kepada yang lain. Sebagai hamba yang
mestinya beribadah kepada-Nya, kadang manusia diliputi kesalahan atau kekhilafan.
Oleh karena itu, agar kita mnta ampunan kepada Allah. Kemudian, kita harus kembali
untuk taat kepada Allah dan melakukan perintah serta menjauhi larangan-Nya.
Ayat tersebut merupakan bimbingan bahwa semisal perbuatan yang merusak dan
zalim dihapus dengan cara bertobat dan meminta ampun kepada Allah swt adalah
termasuk sebab-sebab diperolehnya kebaikan di dunia maupun kebaikan di akhirat.
Allah berfirman dalam surat Al-Bururj:
Artinya: Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, (QS.al-Bururj:14).
Allah sangat mencintai hamba-Nya, maka manusia harus cinta kepada Allah. Karena
cinta kepada Allah adalah ruh ibadah. Semua penghambaan yang dzahir dan batin
berawal dari kecintaan kepada Allah. Kecintaan hamba kepada Tuhannya adalah
karunia dan ihsan dari Allah. Dia yang memberikan kecintaan kepada hamba-Nya dan
menjadikan kecintaan tertanam dalam hatinya. Kemudia tatkala hamba mencintai-Nya
dengan taufik-Nya. Allah membalasnya dengan cinta yang lain.
Al-Waduud di kalangan manusia adalah orang yang mencintai orang lain seperti
cintanya kepada dirinya sendiri. Dia lebih mendahulukan kepentingan orang lain
daripadanya kepentingan dirinya sendiri. Sahabat Ali r.a. berkata: “jika engkau ingin
di cintai Tuhanmu, dekatilah orang-orang yang memusuhimu. Maafkanlah orang-
orang yang menyakitimu”.
8. Ar-Rafi’
Ar-Rafi’ artinya Yang Maha Meninggikan. Allah meninggikan siapa saja yang
dikehendaki. Tentu saja orang yang di tinggikan oleh Allah adalah orang-orang yang
beriman dan senantiasa taat kepada-Nya.
Firman Allah swt:
Artinya: Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari)mereka atas sebagian yang lain.
Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya
Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera
Maryam: beberapa mukjizat serta Kami perkuat Dia dengan Ruhul Qudus. (QS. Al-
Baqarah: 253).
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa sebagian mereka ada yang di utamakan Allah di
atas rasul-rasulnya, dengan anugerah derajat yang lebih sempurna dan utama
disbanding rasul lainnya. Maksud dari ayat ini adalah Nabi Muhammad saw,
sebagaimana dikuatkan dengan riwayat Ibnu Jarir dan Mujahid, di samping diperkuat
oleh hubungan ayat yang menunjukkan pengertian seperti itu.
Ayat ini memberi pelajaran tentang hal ihwal orang-orang terdahulu yang mengikuti
para rasul dengan konsisten, agar dijadikan sebagai teladan. Ayat ini(sekaligus)
mengecam secara keras atas kejadian yang menimpa umat para rasul yang saling
bertengkar dan membunuh, menyusul wafatnya rasul. Padahal pada dasarnya agama
mereka itu hanya satu. Dan yang samapai sekarang masih ada, adalah pengikut agama
Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Ayat ini memberi gambaran tentang keistemewahan para rasul. Di antara
keistimewahan itu adalah penonjolan di bidang akhlak, seperti yang di syariatkan oleh
firman Allah:
Artinya: Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung .(QS. Al-
Qalam:4)
Keistimewahan lain seperti yang ada pada umat seorang rasul, yang berpegang teguh
pada agama yang dibawanya, meski rasul itu telah wafat. Hal ini seperti dijelaskan
dalam firman Allah sebagai berikut:
Artinya:Kamu adalah umay yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali
Imron:110).

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulluallah SAW besabda:


‫فضلت على النبياء لست او تيت جوامع الكلم و نصر ت با لر عب و احلت لى الغناتم و جعلت لى المارض‬
‫مجدا وطهورا وارسلت الى الخلق كافة وختم بي النبيون‬.
Artinya: “Tiada seorang Nabi pun melainkan telah diberi anugrah ayat-ayat (mukjizat)
yang pada masa itu orang-orang mau percaya dengan hal seperti itu, apa yang sudah
dikaruniakan kepadaku, adalah wahyu yang disampaikan Allah lkepadaku. Karenanya
aku berharap agar aku adalah yang (mempunyai) pengikut paling banyak di antara
mereka (para rasul) esok di hari kiamat.”
9. Al-Mu’iz
Al-Mu’iz artinya Yang Maha Memuliakan. Allah adalah Dzat yang memuliakan siapa
saja yang bertakwa kepada-Nya. Ukuran kemuliaan di sisi Allah sama sekali tidak di
lihat dari dari keunggulan yang bersifat kemegahan duniawi. Boleh saja seseorang
memilimi kekayaan yang berlimpah tetapi tidak bertakwa kepada-Nya, tetap saja dia
tidak mulia di sisi Allah. Sebaliknya, orang miskin,orang awam, orang yang tidak
pandai tetapi bertakwa kepada Allah, maka mereka adalah orang-orang yang mulia di
sisi Allah. Namun demikian, profil ideal yang diharapkannya adalah seseorang yang
kaya, berpangkat dan pandai, sekaligus memiliki ketakwaan yang luar biasa kepada
Allah SWT.
Allah berfirman:
Artinya: Kataknlah: “ Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang
yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan orang yang Engkau kehendaki.di
tangan engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. Ali-Imron: 26).
Dalam meninggikan dan merendahkan tersirat kemuliaan dan kehinaan. Orang yang
di muliakan berarti mendapatkan kebanggan dan kemulian (izza’). Akan tetapi,
kebanggan dan kemuliaan yang diperoleh dari Allah Yang Maha Memuliakan itu
berbeda dengan kebanggaan yang dibayangkan manusia sebagai hal yang sepantasnya
mereka dapatkan. Kebanggaan dan kemuliaan orang yang dimuliakan Allah bukanlah
kebanggaan demi kebanggaan semata, tetapi penghargaan kepada kemuliaan yang
diberikan kepada mereka dan kepada Dzat yang memberikan kemuliaan tersebut.
10. Al-Afwuw
Al-Afwuw artinya Yang Maha Pemaaf. Allah adalah Dzat yang Maha Pemaaf kepada
yang memohon maaf dan memohon ampunan-Nya.
Kata al-Afwuw, terambil dari kata ‘afiya (‫ )عفي‬yang kemudian diindonesiakan dengan
“memaafkan”. Kata ‘afiya dari segi bahasa berarti “menghapus”. Allah menghapus
segala kesalahan-kesalahan hamba-Nya sehingga dengan terhapus kesalahan tersebut
menjadi hilang. Dia juga menutupi kesalahan, dalam arti kesalahan tetap ada (tidak
terhapus), namun Allah, tidak menuntut pertanggung jawaban manusia yang
melakukannya.
Ayat al-Qur’an di bawah ini membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh
makhluknya untuk mengharapkan ampunan Tuhan. Ampunan-Nya dapat diberikan
kepada siapa saja selama mereka tidak mempersekutukan-Nya. Allah berfirman:
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-
Nya. Barang siapa yang mempersekututakan Allah, maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar. (QS. An-Nisa’:48).
Allah Maha Pengampun kepada hamba yang dikehendakinya, Hamba pada
hakekatnya banyak lupa dan salah, baik yang disadari maupun yang tidak disadari,
baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Dosa kesalahan seseorang itu
akan dihisab dan ditunjukkan walaupun dosa itu sedikit. Sebaliknya kebaikan yang
sedikit juga akan dihisab dan ditunjukkan oleh Allah. Ampunan Allah itu merupakan
rahmat dan dengan rahmat Allah itulah manusia akan dapat masuk surge. Oleh karena
itu, manusia hendaknya senantiasa memohon ampunan kepada Allah, karena Dialah
Yang Maha Pengampun.

Allah berfirman:
Artinya: mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya, dan adalah Allah Maha
Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisa’:99).

C. Perilaku Orang yang Mengamalkan 10 Asmaul Husna (al-Aziz, al-ghafuur, al-


Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun iman itu meliputi tiga insur yaitu,ucapan, ketetapan dalam hati dan berbuat
dengan anggota badan (berbuat), orang yang beriman kepada Allah harus dapat
membuktikan keimanan tersebut dalam perilaku hidup sebagai pengamalan 10
Asmaul Husna di atas adalah sebagai berikut:
1. Al-Aziz yang berarti Maha Perkasa, Allah maha perkasa dalam segala hal,
keperkasaan-Nya tidak terbatas, Allah perkasa dalam menciptakan menciptakan
sesuatu menurut kahaendak-Nya, memelihara atau menghacurkan sesuatu menurut
kehendak-Nya pula. Adapun orang yang mengamalkan sifat Al-Aziz maka ia akan
tegar, tidak lemah, tegas dan kokoh dalam mengerjakan kewajiban sebagai hamba
Allah, karena godaan selalu ada. Adapun Dalil naqli al-Aziz. Qs. Al-Ankabut/29: 42

‫اح يِحلعلحمم حما يِحلدمعوحن كملن مدونككه كملن حشليءء حوهمحو اللحعكزيِمز اللححككيمم‬
‫إكان ا‬

Artinya; “Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
2. Al-Ghafuur yang artinya Maha Pemaaf, Orang yang mengamalkan sifat tersebut
senantiasa murah hati untuk bisa memaafkan seseorang lain yang telah membuat
kesalahan pada dirinya.
3. An-Nafii’ yang artinya Maha Memberi Manfaat, orang yang mengamalkan sifat
tersebut maka ia Pandai-pandai mensyukuri nikmat dan karunia Allah yang diterima
dengan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan peunjuk islam.
4. Al-baasith yang artinya Maha Melapangkan, Seseorang yang mengamalkan sifat ini
pasti bersifat qana’ah terhadap nasib dirinya tidak murka terhadap semua anugrah
yang di berikan kepada orang lain, senantiasa menyadari bahwa Allah lah yang
mengatur rezeki manusia.
5. Ar-Rauuf yang Artinya Maha Belas Kasih, dan orang yang mengamalkan
sifattersebut dalam kehidupan sehari-hari ia Tidak tamak terhadap keduniaan karena
sadar bahwa sesuatu yang baik belum tentu membawa berkah dan manfaat bagi
dirinya. Kemanfaatan dan keberkahan sesuatu hanya ada pada Allah SWT.
6. Al-Barri yang artinya Maha Dermawan, Orang yang mengamalkan sifat ini ia
Gemar mendermakan sebagian hartayang dimiliki untuk menyantuni fakir miskin
maupun anak yatim, sebagaimana Allah berderma kepada semua Mahluk-Nya.
7. Al-Adl yang artinya Maha Adil, maka orang yang mengamalkan sifattersebut, ia
pasti Memutuskan perkara secara adil sesuai hukum yang berlaku, tidak memihak
kepada siapapun dalam memutuskan suatu perkara, membenarkan yang benar dan
menyalahkan yang salah. Adapun Dalil naqli al’Adl, dalam surat (Fushshilat/41:46)

‫ظالءم للللحعكبيكد‬ ‫صاكلحا ا فحلكنحلفكسكه حوحملن أححساء فححعلحليحها حوحما حربَب ح‬


‫ك بك ح‬ ‫حملن حعكمحل ح‬

Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya
sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya
sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.

8. Al-Ghaffar yang artinya Maha Pengampun, dan orang yang mengamalkan sifat ini
maka ia mudah memaafkan kesalahan orang lain, meskipun orang tidak tersebut tidak
meminta maaf, apalagi meminta maaf. Dan Dalil naqli al-Ghaffar, (Qs. Thaha/20: 82)

َ‫صالكاحا ثمام الهتححدى‬ ‫حوإكلني لححغافارر لكحملن حتا ح‬


‫ب حوحءاحمحن حوحعكمحل ح‬

Artinya:
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman,
beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.

9. Al-fattah yang artinya Sang Pembuka/Maha Memberi keputusan, Allah yang


memutuskan mahluknya akan masuk syurga atau neraka, dan Allah yang Maha
Memberi Rahmat umat-Nya. Maka masuknya seseorang yang mengamalkan sifat ini
maka ia akan Tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Sesua dalam Dalil naqli, (Qs.
Saba’/34: 26)

‫ق حوهمحو اللفحاتامح اللحعكليمم‬


‫قملل يِحلجحممع بحلينححنا حربَبحنا ثمام يِحلفتحمح بحلينححنا كباللحح ل‬

Artinya: Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia
memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan
lagi Maha Mengetahui"
10. Al-Qayyum yang artinya Yang Maha Berdiri Sendiri, Adapun orang yang
mengamalkan sifat ini maka ia menunjukkan sikap mandiri dalam menjalankan
kehidupan ini. Kita memang makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu
dengan yang lainnya, akan tetapi hubungan sosial tersebut tidak menjadi alasan untuk
tergantung kepada orang lain. Hubungan sosial mesti dijalin dengan baik, tetapi sikap
mandiri perlu ditanamkan dalam kehidupan sehingga hidup kita tidak menjadi beban
orang lain. Berikut adalah Dalil naqli dari sifat Al-Qayyum, (Qs. Al-Baqarah/2: 255):

‫ض حملن حذا الاكذيِ يِحلشفحمع كعلنحدهم إكال‬‫ت حوحما كفي اللحلر ك‬‫ام حل إكلحهح إكال همحو اللححبَي اللقحبَيومم حل تحألمخمذهم كسنحةر حوحل نحلورم لحهم حما كفي الاسحمحوا ك‬
‫ا‬
‫ض حوحل‬ ‫ح‬ ‫ل‬
‫ت حواللر ح‬ ‫بكإ كلذنككه يِحلعلمم حما بحليحن أليِكديِكهلم حوحما حخلفحهملم حوحل يِمكحيطوحن بكحشليءء كملن كعلكمكه إكل بكحما حشاحء حوكسحع كلركسبَيهم الاسحمحوا ك‬
‫م‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ح‬ ‫ح‬
‫يِحمئومدهم كحلفظمهمحما حوهمحو اللحعلكبَي اللحعكظيمم‬

Artinya; “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus ; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di
bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka
tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

D. Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 Asmaul Husna (al-muqsith,


al-waarits, an-nafi’I, al-basith, al-hafidz, al-walii, ar-raffi, al-muiz, dan afuww) dalam
kehidupan sehari-hari.
A) Al Baasith (Yang Maha Melapangkan makhluknya).
meneladani Al-basith bearti kita harus melapangkan hati sendiri dengan cara
mendekatkan diri dan taat kepada allah, ketika kita ingat dan taat kepada allah maka
senantiasa hati kita akan tentram. (Qs Ar-Ra’d 13.28). selain itu kita juga harus
melapangkan hati orang lain, terutama orang yg kita cintai, dengan cara
membahagiakannya, sebagaimana contoh, apabila saudara kita membutuhkan bantuan
maka bantulah semampu kita. Dan bagaimana bantuan yg kita berikan membuatnya
menjadi senang. Al ankabut 29.62.
B) Al Waarist (yang maha mewarisi)
Yang meneladani sifat ini hendaknya bila memiliki kemampuan agar
menyumbangkan warisanya kepada keluarga yang lebih membutuhkan. Kalau ini
tidak dapat dilakukanya, maka janganlah warisan menjadikan keluarga berantakkan,
dan lebih lagi jangan memakan harta waris yang bukan haknya. Ini merupakan salah
satu yang dikecam Allah secara tegas (Qs. Al-Fajr:19). Setelah itu dia dituntut agar
menghiasi diri dengan sifat-sifat yang dirinci-Nya ketika menjelaskan siapa dari
makhluk-Nya yang wajar menjadi ahli warist syurga (Qs. Al-Mu'minun:1-11)
C) Al-Muizz (yang maha memulyakan mahluk-Nya)
Kita Sadar bahwa kemulyaan itu milik allah, karnanya jika kita menginginkan
kemulyaan, maka untuk meneladani-Nya kita harus taat dan patuh kepadanya, niscaya
allah akan menganugrahkan kemulyaan kepada kita. Selain itu kita juga harus
memulyakan orang tua kita karna mereka adalah orang yg paling berjasa dalam hidup
kita, memulyakannya dengan berbakti pada kedua orang tua, tidak sesekali
menyakitinya apalagi durhaka padanya. Dan janganlah engkau terlena oleh masa-
masa kesenangan dan kelapangan ketika semua itu terjadi dengan melupakan Allah
didalam kesenangan dan kebahagiaanmu, dengan menjadi sombong karena mengira
bahwa dirimu lah penyebab keberhasilan dan keamananmu. Maka Pada saat itu kita
harus ingat kepada sahabat iman yang lain, yaitu bersyukur (syukr), karena Allah
menyukai orang-orang yang bersyukur.
D) AL-Hafizh ( yang maha memelihara)
Untuk meneladaninya kita harus besyukur kepedaAllah SWT yang telah memberikan
beribu-ribu kenikmatan kepada kiata, termasuk di antaranya ia menciptakan hutan
juga unuk kepentingan kita, untuk itu kita harus memeliharanya dengan baik dan
peduli dengan lingukan, semua yang diciptakan Allah mempunyai kemanfaatan,
karena itu kita harus memeliharanya dengan baik.

E) Al-Walii (yang maha melindungi)


Untuk meneladani sifat ini dapat dilakukan dengan tidak melindungi dan membela
orang-orang yang salah. Selalu memohon perlindungan dari godaan setan, berani
mengatakan tidak untuk mengatakan hal-hal yang tidak baik meskipun menyakitkan
diri sendiri maupun orang lain.
F) An-Nafii` (Yang Maha Memberi Manfaat).
Sifat ini dapat di teladani dengan cara menggunakan waktu kita dengan efektif, dan
tidak menyia-nyiakannya, jika ita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin maka
hidup kita akan bermanfaat pula, selain kita menjadi orang yang disiplin, banyak pula
orang yang membutuhkan karna kita di pandang sebagai orang yang giat bekerja.
Karna sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat bagi yang lainnya. Namun di dalam
kesibukan, janganlah sampai melupakan-Nya dan selalu mendekatkan diri kepada-
Nya.
G) Al Muqsith (Yang Maha Seimbang).
Sifat ini dapat di teladani dengan tidak membeda-bedakan saudara-saudara kita yang
miskin dan yang kaya, yang baik dan yang buruk, kita harus menghormati dan
menghargai mereka karna kita sama-sama sebagai mahluk Allah yang tidak mungkin
bisa hidup sendiri tanpa seseorang yang lain.
H) Al Waduud (Yang Maha Mengasihi).
Sifat ini dapat di teladani dengan cara membagikan rizqi yang kita peroleh kepada
orang-orang yang lebih membutuhkannya, seperti mengasihi anak yatim dan
menyantuni fakir miskin. Sebagai wujud rasa bersyukur kita kepada Allah yang telah
memberikan rizqi yang cukup, sehingga kita dapat berbagi dengan yang lain.
I) Ar Raafi` (Yang Maha Meninggikan makhluknya).
Meneladani sifat Ar-Raafi’ juga dapat di lakukan dengan cara kita membantu
memecahkan suatu permasalahan teman yang sedang membutuhkan bantuan kita,
agar ia tidak merasa terpuruk, dan sedikit meringankan bebannya, seperti yang sudah
di singgung dalam keterangan di atas bahwa manusia tak bisa hidup seniri tanpa orang
tang lainnya.
J) Al Afuww (Yang Maha Mengampuni segala kesalahan).
Untuk meneladani sifat ini dapat di lakukan dengan cara memaafkan kselahan kecil
maupun kesalahan besar yang di buat oleh seseorang terhadap diri kita, meskipun
kadang enggan untuk memaafkannya karena kesalahan yang ia perbuat pada kita
terlalu buruk tapi tidak ada salahnya jika kita belajar sedikit demi sedikit untuk
melupakan kesalahannya dan memikirkan hal-hal yang positif, maka lambat laun kita
akan terbiasa dengan sifat yang mudah memaafkan.