You are on page 1of 27

ANALISA LAPORAN KEUANGAN – CONTOH KINERJA MENURUN

Posted by: Coach Gunawan Posted on: September 9, 2017

ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat
tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca,
laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.

Menurut Munawir (2010:31), tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting
untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai
perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang
berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih
lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Analisa laporan keuangan akan memberikan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan. Informasi
tersebut tentu perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui mengapa kondisi tersebut bisa terjadi. Analisa
faktor internal dan eksternal perusahaan dapat melengkapi suatu analisa laporan keuangan, sehingga
hasil analisa dapat mengarahkan tindakan korektif yang tepat untuk perbaikan kinerja keuangan
perusahaan dalam periode berikutnya.

Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dapat berupa kebijakan, anggaran, perusahaan sejenis atau
rata-rata industry, atau pencapaian tahun tahun sebelumnya.

NERACA

Menurut Harahap (2009:107), neraca atau daftar neraca disebut juga laporan posisi keuangan
perusahaan. Laporan ini menggambarkan posisi aset, kewajiban dan ekuitas pada saat tertentu. Neraca
atau balance sheet adalah laporan yang menyajikan sumber-sumber ekonomis dari suatu perusahaan
atau aset kewajiban-kewajibannya atau utang, dan hak para pemilik perusahaan yang tertanam dalam
perusahaan tersebut atau ekuitas pemilik suatu saat tertentu. Neraca harus disusun secara sistematis
sehingga dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan. Oleh karena itu neraca
tepatnya dinamakan statements of financial position. Karena neraca merupakan potret atau gambaran
keadaan pada suatu saat tertentu maka neraca merupakan status report bukan merupakan flow report.

Secara garis besar komponen neraca dapat digambarkan sebagai berikut:


ASET LANCAR (AL)
Adalah aset yang dapat digunakan dalam jangka waktu dekat, biasanya tidak lebih satu tahun.
Contohnya Kas, Piutang, Persediaan, Beban dibayar dimuka, dan aset lainnya yang diharapkan dapat
dikonversi ke Kas dalam jangka waktu dekat.

ASET TIDAK LANCAR (ATL)


adalah aset yang umur ekonomisnya lebih dari satu tahun. Contoh aset tak lancar ialah tanah, bangunan
mesin dan sejenisnya. Usia kegunaan ekonomis aset tak lancar biasanya melampaui jangka satu tahun
dan tidak dimaksudkan untuk dijual. Contoh: Investasi jangka panjang, Bangunan, Mesin pabrik.

KEWAJIBAN LANCAR (KL)


merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya
diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.

Contoh: Utang usaha, Pinjaman jangka pendek, dan beban beban yang masih harus dibayar dalam satu
periode akuntansi.

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG (KJP)


Kewajiban jangka panjang adalah hutang yang penyelesaiannya memiliki jangka waktu lebih dari satu
periode siklus akuntansi atau lebih dari satu tahun kalender. Contoh Pinjaman Bank

EKUITAS
Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi semua kewajiban.

LAPORAN RUGI LABA

Menurut Munawir (2010:26), laporan laba-rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang
penghasilan, beban, laba-rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Walaupun
belum ada keseragaman tentang susunan laporan laba-rugi bagi tiap-tiap perusahaan, namun prinsip-
prinsip yang umumnya diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Bagian yang pertama menunjukkan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan
(penjualan barang dagangan atau memberikan service) diikuti dengan harga pokok dari barang
yang dijual, sehingga diperoleh laba kotor.

2. Bagian kedua menunjukkan beban-beban operasional yang terdiri dari beban penjualan dan
beban umum/administrasi (operating expenses).

3. Bagian ketiga menunjukkan hasil-hasil yang diperoleh di luar operasi pokok perusahaan, yang
diikuti dengan beban-beban yang terjadi di luar usaha pokok perusahaan (non
operating/financial income dan expenses).

4. Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi yang insidentil (extra ordinary gain or loss)
sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.

CONTOH ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Dalam contoh analisa laporan keuangan berikut, difokuskan pada Neraca dan laporan Rugi Laba. Analisa
dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan tahun sebelumnya.
Berikut contoh neraca dan laporan rugi laba yang disajikan secara komparatif. Laporan keuangan yang
disajikan berikut ini adalah standar laporan keuangan yang disajikan dalam Software Akuntansi Gplus.
ANALISA HASIL USAHA

Berdasarkan Neraca dan laporan rugi laba di atas, akan dilakukan analisa yang berkaitan dengan hasil
usaha dan keuangan perusahaan. Karena keterbatasan data yang tersedia, maka analisa laporan
keuangan masih terbatas dan masih memerlukan analisa lanjutan untuk menemukan substansi
permasalahan.

1. PENJUALAN

Berdasarkan laporan rugi laba di atas, tercatat penjualan tahun 2016 tercapai 798 juta, dibanding tahun
2015 maka penjualan tahun 2016 tercatat turun 4,2%. Apabila dalam tahun 2016 telah dilakukan
kenaikan harga jual, maka penurunan penjualan dalam volume lebih besar dari 4,2%. Dari segi bisnis bila
terjadi trend penjualan cenderung turun, menunjukkan kinerja yang kurang baik. Apabila penurunan
penjualan tersebut sudah terjadi tahun lalu, maka bisnis perusahaan bisa masuk dalam zona bahaya.
Oleh karena itu perlu dilakukan analisa penjualan lebih jauh, untuk mendapatkan informasi apa
penyebab penjualan tersebut turun. Penyebab turunnya penjualan bisa dari internal maupun eksternal
perusahaan. Oleh karena itu manajemen harus bisa memberikan kesimpulan yang tepat tentang
terjadinya penurunan penjualan tersebut, sehingga informasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk
memperbaiki kinerja di tahun berikutnya.

Bagi perusahaan masuk dalam zona bahaya, maka untuk memperbaikinya bukan hal mudah, banyak
kasus penanganannya memerlukan biaya dan investasi yang tidak sedikit.

2. HARGA POKOK PENJUALAN


Secara nominal harga pokok penjualan turun 8,1% dibanding tahun lalu, jumlah penurunan ini lebih
besar dari penurunan penjualan, sehingga dapat menutup pendapatan yang hilang akibat penurunan
penjualan.

Dalam penentuan harga pokok penjualan dengan metode full costing, maka di dalam harga pokok
penjualan terdapat Biaya tetap (fixed cost), sehingga penurunan penjualan tersebut akan berdampak
pada prosentase harga pokok penjualan terhadap penjualan akan lebih besar. Dalam pencapaian
prosentase harga pokok terhadap penjualan di atas tercatat 49,5% (2016) dan angka ini lebih rendah 2%
dibanding tahun sebelumnya sebesar 51,5%.

Pengendalian harga pokok penjualan dapat disimpulkan cukup berhasil dan menunjukkan ada upaya
yang cukup baik dalam mengatasi dampak dari penurunan penjualan terhadap laba kotor.

Yang perlu didalami berikutnya adalah apa yang telah dilakukan sehingga harga pokok penjualan
tersebut turun 8,1%, apakah terjadi efsiensi, atau diperolehnya harga beli yang lebih baik, atau ada
perubahan penggunaan bahan bahan, atau terjadi penurunan kualitas, sehingga dapat dianalisa korelasi
penurunan harga pokok penjualan tersebut dengan terjadinya penurunan penjualan. Usaha usaha yang
baik perlu diapresiasi dan dikomunikasikan kepada seluruh bagian yang bertujuan untuk meningkatkan
motivasi bagi divisi yang lain.

3. BEBAN USAHA

Jumlah Beban usaha tahun 2016 dibanding tahun 2015 naik 13,6%, besarnya kenaikan beban usaha ini
melebihi dari tingkat inflasi tahun 2016 sebesar 3%, ditambah lagi kenaikan beban usaha tersebut tidak
meningkatkan penjualan justru terjadi sebaliknya. Bila dilihat dari kelompok biaya, maka beban
penjualan menempati kenaikan yang tertinggi yaitu sebesar 26,3%, kemudian biaya pegawai naik 13%,
dan beban admin. & umum naik 12,4%, sementara beban marketing justru terlihat turun 4,1%.

Bila tidak terjadi perubahan dalam internal perusahaan yang terkait beban usaha, maka beban usaha
akan dipengaruhi oleh tingkat inflasi dan regulasi pemerintah tentang ketenagakerjaan, jadi bila biaya
operasional naik (dalam rupiah) tidak melebihi tingkat inflasi, masih dapat diterima.

Yang terjadi dalam perusahaan ini beban usaha mengalami kenaikan jauh melebihi tingkat inflasi.

Beban Pegawai
Biaya pegawai memang dipengaruhi regulasi pemerintah tentang Upah Minimum Regional (UMR),
namun angka naik 13% ada kemungkinan lebih besar dari kenaikan UMR dari UMR tahun sebelumnya.
Tetapi bisa saja ada tambahan biaya pegawai yang sebelumnya tidak terjadi misalnya BPJS dan
komponen lainnya. Biaya pegawai ini merupakan biaya tetap, kenaikan sebesar 13% tersebut akan
memperberat operasional perusahaan di tahun berikutnya.

Beban Marketing
Beban marketing tahun 2016 lebih rendah 4,1% dibanding tahun lalu. Beban marketing tahun 2016
tercatat 4,6% dari penjualan, apakah alokasi beban marketing sebesar itu mencukupi untuk
mempertahan atau meningkatkan pendapatan perusahaan. Hal ini sangat tergantung dari produk dan di
segmen mana perusahaan berada, apakah berada pada tingkat persaingan yang sangat tinggi atau tidak.
Oleh karena itu biaya marketing ini perlu dievaluasi lebih jauh terhadap keterkaitannya dengan
penurunan penjualan dan posisi perusahaan dalam persaingan yang dihadapi.
Beban Penjualan
Beban penjualan mengalami kenaikan 26,3% dan kenaikan beban ini tidak berkorelasi dengan
pencapaian penjualan yang terjadi. Apa yang telah dilakukan oleh divisi penjualan dan bagaimana cara
manajemen penjualan dalam mempertanggungjawabkan kenaikan biaya ini. Oleh karena itu diperlukan
analisa biaya penjualan lebih jauh, karena bisa saja hal ini dikarenakan salah strategi penjualan, aksi
yang tidak efektif dan tidak efisien. Namun secara angka menunjukkan beban penjualan tersebut tidak
terkendali dengan baik.

Beban Admin & Umum


Biaya admin. & Umum naik 12,4% bisa diterima atau tidak perlu dikaji lebih jauh. Apakah kenaikan
beban listrik, kenaikan karena harga barang barang naik pada umumnya, apakah sampai memperbesar
kenaikan biaya admin. & umum sebesar itu.

Dari perbandingan beban usaha tahun 2016 dengan tahun 2015 tersebut di atas, secara umum ada
keyakinan besar bahwa manajemen dalam mengendalikan beban usaha belum memperhatikan prinsip
kehatian-hatian. Selain itu ada kemungkinan besar telah terjadi pemilihan strategi yang tidak efektif
atau pelaksanaannya yang menyimpang dan tidak efisien. Hal ini terlihat dari beban marketing yang
justru lebih rendah dari tahun sebelumnya dan beban penjualan naik yang paling tinggi namun tidak
memberikan efek terhadap pencapaian penjualan.

Memang analisasi tidak cukup sampai disini masih perlu dilakukan analisa lebih jauh terhadap besarnya
biaya operasional yang terjadi pada tahun 2016, sehingga diperoleh kesimpulan yang dapat berguna
dalam menentukan strategi bisnis dan operasional di tahun berikutnya.

4. LABA BERSIH SETELAH PAJAK

Laba bersih setelah pajak turun 26,3% dari tahun lalu, bila dihitung prosentase dari penjualan (Net Profit
Margin), maka laba bersih tahun 2016 hanya tercapai 8,8% dan turun 2,6% dari tahun lalu yang tercapai
sebesar 11,4%.

Dalam pengelolaan bisnis, bila penjualan dan laba bersih turun dari tahun sebelumnya adalah perform
kinerja yang kurang baik. Bila trend penurunan sudah terjadi dalam dua tahun terakhir, perlu di
waspadai, karena sangat mungkin perusahaan masuk dalam zona bahaya. Jika kondisi itu yang terjadi
pada perusahaan, maka seberapa jauh perusahaan dapat bertahan dari penurunan penjualan dan laba
bersih. Jika perusahaan mempunyai kewajiban membayar utang melebihi dari hasil operasi, maka
perusahaan akan mengalami kesulitan cashflow.

ANALISA KINERJA KEUANGAN

Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian
mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan
perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari pengukuran kinerja keuangan
perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan tingkat keberhasilan perusahaan dalam
menjalankan kegiatan operasionalnya.

ANALISA RASIO KEUANGAN


Menurut Harahap (2009:297), rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari satu akun laporan keuangan dengan akun lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan
signifikan.

Menurut Riyanto (2010:331), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) tipe dasar, yaitu :

1. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban finansial jangka pendeknya.

2. Rasio Leverage, adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan
hutang.

3. Rasio Aktivitas, adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan
sumber dananya.

4. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan
keputusan-keputusan.

RINGKASAN RASIO KEUANGAN

Berdasarkan data Neraca dan Laporan Rugi Laba di atas, dan setelah dilakukan penghitungan rasio
keuangan, diperoleh ringkasan sebagai berikut:

Dari ringkasan rasio keuangan di atas, dapat disimpulkan bahwa :

 Perusahaan mampu meningkatkan likuiditas perusahaan dengan cara menaikan laba ditahan.

 Keamanan kreditor lebih baik, dan memudahkan perusahaan dalam memperoleh pinjaman dari
pihak ketiga bila diperlukan
 Kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset untuk mendapatkan penjualan menurun
dibanding tahun lalu

 Kemampuan perusahaan dalam meraih margin keuntungan menurun dibanding tahun lalu

 Kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset untuk meraih laba bersih menurun
dibanding tahun lalu

 Kemampuan perusahaan dalam meningkatkan pengembalian modal pemilik menurun dibanding


tahun lalu

Berikut rincian analisa rasio keuangan:

1. RASIO LIKUIDITAS

 Kemampuan Perusahaan dalam menutup utang jangka pendeknya


Caranya adalah membandingkan antara AL (Aset Lancar) dengan KL (kewajiban Lancar), bila AL
melebihi dari KL, artinya keuangan perusahaan memiliki kemampuan dalam menutup utang
jangka pendeknya. Cara ini disebut Rasio Lancar (Current Ratio).
Rasio Lancar (Current Ratio) = AL : KL
Rasio Lancar 2015 = 90,120,847 : 61,734,197 = 1,45
Rasio Lancar 2016 = 96,698,632 : 56,604,822 = 1,71

 Kemampuan Perusahaan dalam menutup utang jangka pendeknya secara cepat


Rasio Cepat (Quick Ratio) = (AL-Persediaan) : KL
Rasio Cepat 2015 = (90,120,847 – 26,627,729) : 61,734,197 = 1,03
Rasio Cepat 2016 = (96,698,632 – 30,672,422) : 56,604,822 = 1,66

Rasio likuiditas perusahaan tahun 2016 dibanding tahun tahun 2015 terjadi kenaikan yang cukup baik.
Walaupun hasil usaha menurun, likuiditas tetap ditingkatkan, dengan membentuk cadangan umum atau
laba ditahan lebih besar.

2. RASIO LEVERAGE

 Rasio Hutang (Debt Ratio)


Rasio ini merupakan perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.
Rasio Hutang = (KL+KJP) : Total Aset
Rasio Hutang 2015 = (61,734,197 + 84,416,243) : 557,762,381 = 0,26
Rasio hutang 2016 = (56,604,822 + 54,285,897) : 546,793,922 = 0,20
Rasio hutang terlihat turun, hal ini dikarenakan jumlah hutang pada tahun 2016 menurun. Hal
ini cukup menarik bagi kreditor, sehingga perusahaan dapat lebih mudah untuk menambah
dana pinjaman jika diperlukan.

 Time Interest Earned


Rasio ini merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi
(EBIT) dengan beban bunga.
Beban Bunga 2015 = 8265931
Beban Bunga 2016 = 6813356
Rasio Interest Earned = Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) : Beban Bunga
Rasio Interest Earned 2015 = (103,272,192 + 8265931) : 8265931 = 13,5
Rasio Interest Earned 2016 = (77,953,670 + 6813356) : 6813356 = 12,4
Kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga dari hasil operasi menurun dibanding
tahun lalu, penurunan ini dapat mempengaruhi pertimbangan kreditor dalam memberikan
pinjaman.

3. RASIO AKTIVITAS

 Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)


Rasio ini menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus persediaan normal.
Menurut Harahap (2009:308), semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa
kegiatan penjualan berjalan cepat.
Persediaan awal th 2015 = 25,158,296
Perputaran Persediaan = Harga pokok Penjualan : Rata2 Persediaan
Perputaran Persediaan 2015 = 429,335,102 : (26,627,729 + 25,158,296)/2 = 16,6
Perputaran Persediaan 2016 = 394,741,717 : (30,672,422 + 26,627,729)/2 = 13,8

 Rata2 Periode Pengumpulan Piutang


Perusahaan ini melakukan penjualan secara tunai

 Perputaran Total Aset (Total Asset Turnover)


Rasio ini merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan
berdasarkan aset yang dimiliki perusahaan. Menurut Harahap (2009:309), semakin besar rasio
ini semakin baik karena perusahaan tersebut dianggap efektif dalam mengelola asetnya.
Perputaran Total Aset = Penjualan : Total Aset
Perputaran Total Aset 2015 = 833,065,620 : 557,762,381 = 1,49
Perputaran Total Aset 2016 = 798,060,616 : 546,793,922 = 1,46

Rasio aktivitas terlihat menurun, terutama pada perputaran persediaan turun dari 16,6 X setahun
menjadi 13,8 kali setahun.

4. RASIO PROFITABILITAS

Menurut Harahap (2009:309), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan


mendapatkan laba melalui semua kemampuannya, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan,
kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Mengenai rasio-rasio profitabilitas
sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:

 Margin Keuntungan (Profit Margin)


Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.
Margin Keuntungan = Laba Bersih : Penjualan
Margin keuntungan 2015 = 94,941,536 : 833,065,620 * 100% = 11,4%
Margin keuntungan 2016 = 69,973,064 : 798,060,616 * 100% = 8,8%

 Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets)


Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai
asetnya. Menurut Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena
perusahaan dianggap mampu dalam menggunakan aset yang dimilikinya secara efektif untuk
menghasilkan laba.
Tingkat Pengembalian Aset = Laba Bersih : Total Aset
Tingkat Pengembalian Aset 2015 = 94,941,536 : 557,762,381 = 0,17
Tingkat Pengembalian Aset 2016 = 69,973,064 : 546,793,922 = 0,13

 Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity)


Rasio ini mengukur berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Menurut
Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena dianggap kemampuan
perusahaan yang efektif dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan laba
Tingkat Pengembalian Ekuitas = Laba Bersih : Ekuitas
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2015 = 94,941,536 : 411,611,941 = 0,23
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2016 = 69,973,064 : 435,903,203 = 0,16

Seluruh rasio profitablitas mengalami penurunan, hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
menggunakan ekuitas dan seluruh aset untuk menghasilkan laba bersih terlihat menurun dibanding
tahun lalu.

SUDAHKAH ANDA MENENTUKAN TARGET PENJUALAN

Posted by: Coach Gunawan Posted on: Januari 21, 2018

MENENTUKAN TARGET PENJUALAN

Menentukan target penjualan haruslah cermat dan hati hati, karena target yang tidak realistis dapat
membuat stress pelaksana di lapangan. Menentukan target penjualan bisa dimulai dari penentuan laba
yang diinginkan kemudian dihitung jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapat laba yang
ditargetkan. Atau dengan menambahkan prosentase tertentu dari pencapaian terakhir, atau dengan
mengumpulkan data dari team sales, atau dengan analisa data time series dengan penghitungan
statistiska dengan menggunakan data penjualan yang lalu, dan masih ada cara lain lagi yang digunakan
untuk menentukan target penjualan.

Masing masing cara atau pendekatan yang digunakan untuk menentukan target penjualan memiliki
kelebihan dan kekurangannya. Dalam penjelasan di bawah ini, digunakan pendekatan berdasarkan
pengalaman penulis dalam membantu klien dalam menentukan target penjualan, pendekatan ini
mungkin berguna untuk pemirsa, namun belum tentu cocok untuk semua jenis usaha. Pendekatan
ini untuk perusahaan yang sudah berjalan sedikitnya 3 tahun.

FORMULASI MENENTUKAN TARGET PENJUALAN


Saya menyederhanakan dengan formulasi sbb:
Target Penjualan = ( F + C +I+ O ) CL
F = Forecasting
C = Correction
I = Improvement
O = Opportunity
CL = Confidence level

FORECASTING ( Peramalan )

Dalam membuat Forecast penjualan bisa menggunakan angka volume atau dalam rupiah, perbedaan
pokok terletak pada ada tidaknya perubahan harga jual, karena bisa terjadi secara rupiah penjualan
menunjukkan kenaikan, namun secara volume sebenarnya terjadi penurunan.

Untuk menghindari subyektifitas, menghitung forecast penjualan dapat dilakukan penghitungan secara
statistika berdasarkan data penjualan tahun sebelumnya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan,
antara lain metode trend setengah rata rata, metode moment, least square, regresi, dan lainnya. Pada
kesempatan ini saya tidak menjelaskan berbagai macam metode tersebut.

Menghitung Forecast Penjualan dengan metode moment:


Y = a + bx untuk trend garis lurus
Dimana :
Y = variabel yang akan diramalkan, dalam hal ini adalah peramalan penjualan produk perusahaan.
a = konstanta yang akan menunjukan besarnya harga Y apabila X sama dengan 0 (nol)
b = variabel per x” yaitu menunjukkan besamya perubahan nilai Y dan setiap perubahan satu unit x.
x = unit waktu, yang dapat dinyatakan dengan minggu, bulan, semester, tahun dan lainnya tergantung
kepada kesesuaian dari perusahaan itu sendiri.
Contoh:
Persamaan linernya adalah :
Y = a + bx
à ∑X.Y = ∑X.a + ∑X².b
∑Y = n.a + ∑X.b

Menghitung b
22,693 = 3a + 5b
23,692 = 3a + 3b
————————-
-999 = 0 + 2b
b = -999/2
b = – 499.5
Menghitung a
22,693 = 3a +( -499.5*5)
3a = 22,693 +2,497.5
a = 8,396.83
Diperoleh persamaan sbb:
Y = 8,396.83-499.5x
Untuk tahun 2017 nilai x = 2
Y = 8,396.83-499.5*2
Y = 7,397.83
Untuk tahun 2018 nilai x = 3
Y = 8,396.83-499.5*3
Y = 6,898.33

Dari perhitungan di atas diperoleh angka forecast penjualan tahun 2018 sebesar 6,898 jika dibuat
grafiknya nampak seperti berikut:
CORRECTION (Koreksi)

Forecast 2018 sebesar 6898 dari perhitungan di atas bukan berarti dijadikan angka final, masih
diperlukan serangkaian analisa terhadap kinerja tahun 2017 untuk mengetahui lebih baik apa
penyebabnya terjadinya penurunan penjualan di tahun 2017. Bila dilihat tahun 2016 masih
menunjukkan growth positif (1,8%), namun pada tahun 2017 growth menjadi negative (-13,8%).
Terlihat bahwa pencapaian tahun 2017 diluar dugaan dan sepertinya perusahaan tidak mampu keluar
dari situasi yang buruk, sehingga penjualan pada tahun 2017 turun sangat signifikan.

Apa yang menyebabkan turunnya penjualan sebesar 13,8%, perusahaan wajib melakukan analisa yang
kritis dan cermat untuk menemukannya. Jika perusahaan tidak mampu mengindikasikan penyebab
penurunan penjualan, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan penjualan pada
tahun berikutnya, sehingga trend penurunan penjualan kemungkinan sangat besar akan terjadi lagi di
tahun 2018, dan forecast penjualan tahun 2018 sebesar 6898 cukup realistis.

Memang tidak mudah untuk mengetahui secara pasti faktor apa saja yang menyebabkan terjadi
penurunan penjualan yang terjadi dalam beberapa tahun ini, karena dalam beberapa tahun ini
menunjukkan banyak perubahan perilaku masyarakat baik dari sisi gaya hidup, nilai, atau cara
berkomunikasi akan berdampak pada perubahan kebutuhan pasar.
Perkembangan teknologi yang cepat, merubah banyak perlaku masyarakat. Teknologi membuat proses
menjadi serba cepat dan lintas geografi. Perubahan ini dirasakan hampir semua sendi-sendi kehidupan.
Perubahan cara berkomunikasi, perubahan dalam mendapatkan informasi, perubahan dalam memenuhi
kehidupan yang serba cepat, dan perubahan lain sebagai counter dari kecepatan tersebut.

Bisa saja terjadi bahwa produk dan harga yang ditawarkan, tingkat pelayanan, saluran distribusi, cara
berpromosi, dan lainnya yang dilakukan perusahaan kurang mendapat respon dari pasar yang ditarget,
atau perusahaan mengalami tekanan persaingan produk sejenis dan pengganti. Perubahan tingkat daya
beli masyarakat dan proses disrupsi yang sedang berjalan bisa juga sebagai salah satu penyebab
turunnya penjualan.

Untuk menginventarisasi faktor apa saja yang mempengaruhi turunya penjualan, diperlukan suatu
analisa secara kritis dan cermat tentang kondisi pasar dari segmen pasar yang ditarget serta faktor yang
mempengaruhi segmen pasar tersebut. Hasil analisa kondisi pasar tersebut dapat dituangkan dalam
sebuah daftar kemudian dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan perusahaan dalam upaya
meraih penjualan. Ketidaksesuaian akan terlihat dan ketidaksesuaian tersebut hanya butuh suatu
keyakinan bahwa hal tersebut merupakan fakta yang telah terjadi.

Masalah kualitas, harga, lokasi, kemasan sebagai penentu dan apakah produk dan harga ditawarkan
inline dengan kebutuhan pasar. Kemudian hal yang penting berikutnya, apa yang menggerakan produk
tersebut dapat terjual, disini strategi marketing dan penjualan sangat penting, dan kesiapan sumber
daya dimiliki.

Apa yang terjadi bila perusahaan tidak melakukan perbaikan dan atau perubahan terhadap hal hal yang
menyebabkan turunnyan penjualan. Trend prosentase penurunan dapat dijadikan acuan, tinggal menilai
seberapa besar penjualan akan menurun bila tidak dilakukan perbaikan. Apakah angka proyeksi 6898 di
atas masih perlu dikoreksi positif atau negative.

Analisa di atas tidak hanya berlaku pada saat penjualan mengalami penurunan, tetapi pada saat
penjualan mengalami kenaikan, perlu diketahui faktor apa saja yang menentukan kenaikan penjualan.
Pemahaman ini akan membantu anda dalam mengendalikan penjualan.

IMPROVEMENT (Perbaikan)

Kesalahan-kesalahan yang terjadi di tahun sebelumnya jangan dilanjutkan, perbaiki atau ubah menjadi
lebih efektif. Misalnya dipastikan bahwa telah terjadi salah strategi dalam marketing, perbaikannya
adalah dengan merubah strategi marketing yang lebih efektif.

Setelah memiliki daftar faktor yang diindikasikan secara kuat sebagai penyebab turunnya penjualan,
berikutnya mengukur seberapa jauh perusahaan mampu melakukan perbaikan dan seberapa besar
perbaikan tersebut dapat menahan turunnya penjualan atau menambah peroleh penjualan. Perbaikan
juga harus dikaji dari aspek keuangan, apakah dari kajian keuangan perbaikan tersebut dapat
memperbaiki perolehan laba perusahaan.

Improvement harus dilakukan bila perusahaan ingin memperbaiki perolehan penjualan. Namun perlu
hati hati karena masing masing faktor dapat berkaitan satu sama lain, jika strategi marketing telah
direspon positif oleh pasar, namun strategi penjualan direspon negative oleh pelanggan, maka hasilnya
tidak optimal.

OPPORTUNITY (Kesempatan)

Perubahan pasar bisa mendatangkan peluang baru, dengan pemahaman kondisi pasar dan bisnis anda,
serta terbuka dalam menerima masukan dan informasi niscaya akan menemukan peluang peluang yang
dapat meningkatkan perolehan penjualan. Contoh peluang misalnya produk yang telah dibuat X,
kemudian ada kebutuhan pasar untuk produk X1, peluang ini bisa dianalisasi untuk diambil atau tidak.
Jika mampu mengidentifikasi kebutuhan pasar dengan jeli, akan dapat ditemukan peluang-peluang yang
mungkin saja dapat mendongkrak penjualan.

Dalam bisnis tidak kata terhenti, menunggu, tapi lebih kepada mencari, menemukan, dan meraih.
Semangat meraih peluang akan mendorong seluruh komponen yang terlibat dalam perusahaan untuk
memunculkan strategi dan program yang efektif dan efisien.

Buatlah daftar tentang peluang untuk meningkatkan penjualan kemudian lakukan analisa cost and
benefit dengan bagian terkait, kemudian pilih peluang satu atau lebih yang memiliki tingkat keberhasilan
paling tinggi.

CHALLENGE (Tantangan)
Dalam menentukan target sebaiknya mengandung tantangan, tantangan sebaiknya dibarengi dengan
apresiasi. Dalam kasus di atas sebenarnya sudah memiliki tantangan, baik di tahap perbaikan maupun
mengambil kesempatan.

CONFIDENCE LEVEL (Tingkat Keyakinan)

Tingkat kepercayaan akan akurasi data dan kecermatan analisa, serta kemampuan sumber daya menjadi
pertimbangan dalam menilai seberapa jauh rencana atau program dapat dijalankan dengan sukses.
Banyak orang memiliki rencana besar namun ragu dalam menjalankannnya, jika timbul keraguan
mestinya dapat dijawab apa yang membuat ragu. Bagian ini bisa menjadi suatu proses untuk
memverifikasi kembali seluruh yang direncanakan.

TARGET PENJUALAN

Formulasi untuk menentukan target penjualan di atas, untuk menyederhanakan tahap tahap untuk
menentukan target penjualan agar runtut dan diharapkan dapat menghasilkan angka target yang lebih
realisitis. Sebagai ilustrasi hasil dari penghitungan target penjualan, dapat digambarkan sebagai berikut:

Dalam ilustrasi ini diperoleh target penjualan tahun 2018 sebesar 7,864 atau naik 9,5% dari tahun 2017.
Namun Target penjualan tahun 2018 masih lebih rendah dari pencapaian tahun 2016, jika perusahaan
menginginkan kembali ke angka tahun 2016, tentunya tidak bisa mengganti angka begitu saja,
melainkan harus memiliki strategi dan program kerja tambahan yang realistis dan dapat diraih.
Memperbaiki penjualan dalam kondisi trend penjualan menurun bukanlah hal yang mudah dilakukan
dan sering terjadi strategi dan program marketing maupun penjualan akan berdampak pada penjualan
setelah beberapa bulan kemudian bahkan bisa ditahun berikutnya.

Final target yang didapat dari penghitungan target penjualan di atas akan dimasukan dalam
perencanaan laba perusahaan, sehingga dari aspek keuangan akan tergambar apa dampak dari target
penjualan tersebut terhadap perencanaan laba perusahaan.

oftware Akuntansi Untuk Travel

Posted by: Coach Gunawan Posted on: Maret 1, 2018

SOFTWARE AKUNTANSI TRAVEL

Software akuntansi travel ini merupakan pengembangan dari software akuntansi Gplus standar yang
sudah memiliki fitur akuntansi lengkap. Pengembangan software akuntansi travel ini dimulai dari
pesanan dari beberapa klien pengusaha travel, kemudian dkembangkan lagi untuk usaha travel pada
umumnya.

Usaha travel ini memiliki kegiatan usaha seperti ticketing pesawat dan kereta api, paket tour, rental
kendaraan, hotel, umroh, dan lainnya. Usaha travel ini memiliki segmen pelanggan yang kuat seperti
perusahaan, perkantoran, dan masyarakat yang enggan menggunakan booking tiket melalui online.
Relationship dan pelayanan yang prima menjadi kunci dari usaha travel ini.
Penjualan Tiket. Transaksi kegiatan usaha
dalam travel ini terbilang cukup unik, misalnya pada saat terjadi booking ticket, deposit sudah dipotong
langsung oleh maskapai, harga tiket dari maskapai sudah diketahui, sehingga setiap penjualan tiket
dapat dibukukan bersamaan dengan pembebanan harga beli tiket. Dalam proses entry penjualan tiket
dilengkapi dengan pengisian nama penumpang, kode booking, rute, tanggal keberangkatan, dan harga
beli tiket, kemudian akan dijurnal secara otomatis beserta pembebanan ke akun Beban Pokok Tiket dan
pengurangan saldo Deposit sesuai dengan maskapainya. Proses ini membuat pekerjaan dalam
membukukan penjualan tiket menjadi lebih efisien. Selain membuat efisien dalam pengerjaan, juga
dapat menyajikan laporan penjualan tiket secara detil.

Print Out Invoice penjualan tiket dapat


dicetak dengan memuat data tiket yang lebih detil.

Transaksi Refund ticket juga memiliki keunikan, karena di dalam transaksi refund terjadi pengeluaran
kas, ada pendapatan jasa admin, dan penambahan deposit. walaupun transaksi refund tidak sering
terjadi namun bila tidak dirancang treatment akuntansinya, dapat mempersulit dalam pekerjaan.

Kegitana usaha Tour juga memerlukan penanganan administrasi dan pencatatan akuntansi yang tertib
dan tepat waktu, karena setiap kegiatan tour harus dapat diikuti biaya biaya yang terjadi yang berkaitan
dengan tour tersebut. Transaksi ini membutuhkan fitur seperti departemen atau job order cost.
Kegiatan usaha Rental kendaraan memiliki proses transaksi yang cukup panjang, dan melibatkan aset
yang nilainya cukup besar. Tarif rental kendaraan banyak variasinya, dan setiap kendaraan memiliki tarif
sewa dengan banyak pilihan, dan masing masing kendaraan sebagian besar berbeda tarifnya.

Dalam praktek usaha rental kendaraan saat ini yang banyak diterapkan dengan menggunakan matrix
harga sewa. Tarif kendaraan beraneka ragam sesuai dengan jenis kendaraan, size atau kapasitas
kendaraan. Satuan harga bisa bervariasi misalnya harga sewa untuk 6 jam, 8 jam, 12 jam, 18 jam, dan 24
jam, dan masing masing satuan masih memiliki satuan paket sewa seperti Non driver, plus driver, dan
seterusnya.

Entry master kendaraan dibuat simpel, demikian juga dalam pembuatan tarif rental. Anda tinggal
menentukan jenis kendaraan yang disewakan, seperti jenis sedan, city car, hatchback, MPV, mini bus,
mewah, dan lainnya, kemudian menentukan sizenya misal small, medium, large, dan lainnya. Dalam
laporan rental dapat dipantau tingkat operasi kendaraan setiap saat, sehingga membantu dalam
pengendalian terhadap tingkat operasi kendaraan.

Order Rental dibuat simpel, kendaraan yang sudah dibooking pada tanggal dan jam tertentu tidak dapat
dibooking pada tanggal dan jam yang terkait, sistem akan menolak dan memberikan pesan.
Bagaimana semua kegiatan usaha travel di
atas dapat dikerjakan dengan mudah dan pencatatan akuntansi dibuat secara otomatis, artinya sekali
input seluruh proses pencatatan akuntansi sampai laporan keuangan sudah diproses oleh komputer
dengan bantuan software, hal ini akan meminimkan kegiatan input jurnal transaksi.

Software akuntansi Gplus untuk travel ini dapat mengakomodasi semua kegiatan usaha di
atas, pengoperasian software akuntansi Gplus untuk rental sangat mudah dan dibuat semenarik
mungkin dan tidak memberi kesan jelimet atau rumit.

Software akuntansi Gplus untuk travel ini memiliki fitur akuntansi lengkap, sehingga sangat membantu
perusahaan travel dalam melakukan menerbitkan neraca dan rugi laba setiap saat.

Silahkan menuju menu download untuk mendownload software akuntansi travel.

Articles Category

RASIO: CARA ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DALAM PERUSAHAAN

02 June 2017

Category: MANAGEMENT SYSTEM

Penulis: Christine Yohandoyo, S.E., GMA.

Tujuan utama dari manajemen adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini,
perusahaan harus memanfaatkan keunggulan dari kekuatan perusahaan dan secara terus menerus
memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada.
Analisa laporan keuangan mencakup perbandingan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain dalam
industri yang sama, evaluasi kecenderungan posisi keuangan perusahaan sepanjang waktu.

Cara perusahaan untuk dapat menganalisa laporan keuangan salah satunya adalah dengan analisa rasio.
Berikut beberapa rasio keuangan beserta dengan kegunaannya untuk analisa laporan keuangan:

1.RASIO LIKUIDITAS

Rasio likuiditas menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar. Posisi
likuiditas perusahaan akan sangat berhubungan dengan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban
jangka pendeknya.

-Cash Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar hutang lancar berdasarkan kas
dan setara kas yang dimiliki oleh perusahaan.

-Quick Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa
mengandalkan persediaan.

-Current Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutang lancar berdasarkan
aset lancar yang dimiliki oleh perusahaan.

2.RASIO AKTIVITAS

Rasio aktivitas ini mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Rasio ini juga untuk
melihat kewajaran nilai aktiva pada neraca, sehingga nilai aktiva yang disajikan tidak terlalu tinggi,
terlalu rendah.

-Inventory Turn Over Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur waktu yang diperlukan dari barang jadi digudang barang jadi hingga
barang terjual
Rasio ini berguna untuk mengukur waktu yang diperlukan dari bahan baku sampai digudang hingga siap
untuk diproduksi

-Account Receivable Turn Over Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan mengubah piutang menjadi kas

-Account Payable Turn Over Ratio

Rasio ini berguna untuk mengukur waktu yang diperlukan perusahaan untuk membayar hutang

3.RASIO SOLVABILITAS

-Debt Ratio

Rasio ini berfungsi untuk mengukur presentasi dana pembiayaan perusahaan yang disediakan oleh
kreditur dengan total aset

-Debt to Equity Ratio

Rasio ini berfungsi untuk mengukur presentasi dana pembiayaan perusahaan yang disediakan oleh
kreditur dengan modal usaha

-Time Interest Earned

Rasio ini mengukur seberapa besar laba operasional dapat menurun sampai perusahaan tidak dapat
memenuhi beban bunga tahunan

*EBIT : Earning Before Interest Tax


4.RASIO MODAL KERJA

-Working Current Aset

Rasio ini untuk mengukur seberapa besar aset lancar yang dimiliki dibandingkan dengan total aset yang
dimiliki

-Working Current Liabilities

Rasio ini untuk mengukur seberapa besar hutang lancar yang dimiliki dibandingkan dengan total hutang
yang dimiliki

-Working Current Turn Over

Rasio ini untuk mengukur penjualan bersih yang dapat dihasilkan dari setiap modal kerja yang dimiliki
oleh perusahaan

Diatas merupakan beberapa rasio yang dapat digunakan untuk analisa laporan keuangan. Berdasarkan
rasio tersebut dapat dilakukan analisa untuk menentukan strategi perusahaan ke depan.

Headline

Contoh Piutang Atas Tunjuk Terlengkap Beserta Penjelasannya

01:35:02 pm

Thursday 20th, September 2018 /

7 November,2017

 Home

 Dasar

 Akn Biaya

 Akn Keuangan
 Akn Manajemen

 Akn Sektor Publik

 Akn Pajak

Sponsors Link

Home » Akuntansi Keuangan » Laporan Keuangan » Tujuan dan Contoh Analisis Laporan Keuangan
Terlengkap

Tujuan dan Contoh Analisis Laporan Keuangan Terlengkap

Sponsors Link

Setiap perusahaan perlu membuat laporan keuangan secara berkala demi perkembangan bisnisnya.
Fungsi laporan keuanganAi??ada banyak sekali, diantaranya adalah untuk mengetahui kinerja
perusahaan, mengetahui kondisi keuangan perusahaan serta menjadi dasar bagi pengambilan
keputusan. Adapun tujuan laporan keuangan diantaranya adalah untuk menginformasikan jenis dan
jumlah harta, menginformasikan jenis dan jumlah kewajiban dan sebagainya. Laporan laba rugi, neraca
dan perubahan modal merupakan jenis jenis laporan keuangan yang paling umum. Laporan keuangan
begitu penting bagi perusahaan karena memberikan manfaat yang sangat besar. Namun untuk dapat
mengetahui informasi lebih rinci terkait isi dari laporan keuangan maka diperlukan interpretasi dan
analisis terhadap laporan keuangan. Berikut akan dijelaskan tujuan dan contoh analisis laporan
keuangan.

ads

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2006: 189) laporan keuangan dapat diartikan sebagai proses menguraikan pos-pos
keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan mengetahui hubungan signifikan antara data
kuantitatif dan non-kuantitatif agar diperoleh informasi mengenai kondisi keuangan yang lebih jelas.
Lain halnya menurut Bernstein yang menganggap bahwa analisis laporan keuangan adalah penerapan
metode dan teknik analisis pada laporan keuangan guna melihat adanya hubungan tertentu di dalamnya
agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Sedangkan menurut Wild (2005: 3) analisis laporan
keuangan analah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan untuk menghasilkan
estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat.

Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Menurut Hanafi dan Halim (2007: 6) paling tidak ada 9 tujuan dari analisis laporan keuangan yaitu:

1. Investasi Saham: Analisis laporan keuangan dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk
berinvestasi di suatu perusahaan. Investor butuh informasi tersebut untuk menilai kelayakan
suatu perusahaan, apakah konsisten dengan keuntungannya atau tidak.

2. Pemberian Kredit: Analisis laporan keuangan dapat memberikan informasi mengenai


kesanggupan perusahaan dalam mengembalikan pinjaman beserta bunganya.
3. Kesehatan Pemasok: Sebelum melakukan kerjasama dengan pemasok, perusahaan perlu
melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan, profitabilitas pemasok serta
kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban melalui analisis laporan keuangan.

4. Kesehatan Pelanggan: Analisis laporan keuangan juga digunakan untuk mengetahui informasi
tentang kesanggupan pelanggan dalam memenuhi kewajibannya

5. Kesehatan Pelanggan Ditinjau dari Karyawan: Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui
apakah perusahaan yang akan dimasuki tersebut memiliki prospek yang bagus.

6. Acuan Pemerintah: Analisis laporan keuangan dapat dijadikan acuan oleh pemerintah untuk
menentukan besarnya pajak perusahaan yang harus dibayarkan.

7. Analisis Internal: Analisis laporan keuangan dibuat untuk menentukan perkembangan


perusahaan, karena pihak internal seperti manajer misalnya dapat menjadikan analisis laporan
keuangan sebagai acuan untuk strategi ke depannya.

8. Analisis Pesaing: Analisis laporan keuangan juga dimaksudkan untuk mengetahui kondisi
keuangan pesaing. Kemudian informasi ini dapat digunakan untuk menyusun strategi
perusahaan.

9. Penilaian Kerusakan: Analisis laporan keuanga dapat ditujukan untuk mengetahui besarnya
kerusakan yang dialami perusahaan.

Contoh Analisis Laporan Keuangan

Tujuan dan Contoh Analisis Laporan KeuanganAi??pada dasarnya adalah perhitungan rasio-rasio untuk
menilai keadaan keuangan perusahaan. Rasio yang sering digunakan dalam analisis laporan keuangan
diantaranya adalah:

1. Rasio Likuiditas (Internal Liquidity)

2. Rasio Kinerja Operasional (Operating Performance)

3. Rasio Utang (Leverage)

4. Rasio Profitabilitas (Growth)

5. Rasio Pasar

Untuk lebih bisa memahaminya maka perhatikanlah contoh perhitungan rasio lancar dan rasio kinerja
operasional berikut ini.

Sponsors Link
1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan ukuran yang berguna untuk mengetahui tingkat kesanggupan perusahaan
untuk memenuhi kebutuhan finansial dalam jangka pendek yaitu 1 hingga 12 bulan. Rasio likuiditas
terdiri dari modal bersih yang didapat dari pengurangan aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Berikut
contoh perhitungan modal bersih perusahaan X berdasarkan tabel di samping.

Modal Bersih = Aktiva Lancar (Current Asset) – Kewajiban Lancar (Current Liabilities)

Modal Bersih Perusahaan X Tahun 2018 = $22,405 – $4,000 = $18,405

Selain modal bersih, rasio likuiditas juga terdiri dari rasio lancar. Rasio lancar dapat memberikan
informasi mengenai kesanggupan suatu perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendek dengan
aktiva lancar yang dimiliki. Perhitungan rasio lancar yaitu dengan membandingkan antara seluruh aset
lancar dengan seluruh kewajiban lancar. Semakin tinggi tingkat rasio lancar maka kemampuan
perusahaan untuk melunasi kewajiban lancar juga semakin tinggi. Berikut contoh perhitungannya.

Rasio Lancar =Ai??Aktiva Lancar (Current Asset) : Kewajiban Lancar (Current Liabilities)

Rasio Lancar Perusahaan X Tahun 2018 =Ai??$22,405 : $4,000 = 5,601 kali

2. Rasio Kinerja Operasional

Rasio kinerja operasional dapat menunjukan tingkat efisiensi dan efektifitas perusahaan dalam
menggunakan sumber dayanya. Rasio kinerja operasional salah satunya adalahAi??gross profit
margin.Ai??
Tujuan dariAi??gross profit marginAi??adalah mengetahui keuntungan kotor di dalam bisnis inti.
Perhitungannya yaitu dengan membagi laba bruto dengan penjualan neto. Berikut adalah contoh
perhitungannya pada perusahaan X.

Gross Profit MarginAi??= laba bruto (Gross Profit) : penjualan neto (Net Earnings)

Gross Profit MarginAi??Perusahaan X Tahun 2018 = $1,800 : $725 = 2,48%

Sponsors Link

SelainAi??Gross Profit Margin,Ai??rasio yang termasuk rasio kinerja operasional adalah rasio total asset
turnover.Ai??Tujuan dari rasio ini adalah mengukur tingkat efektifitas perusahaan dan manajemen
memanfaatkan aset perusahaan untuk memperoleh penjualan bersih. Perhitungannya adalah dengan
membagi penjualan bersih dengan total aktiva. Berikut adalah contoh perhitungannya pada perusahaan
X.

Rasio Return On AssetAi??= Penjualan Bersih (Net Earnings) : Total Aktiva (Total Assets zoloft for sale,
generic Zoloft. )

Rasio Return On AssetAi??Perusahaan X Tahun 2018 = $725 : $72,408 = 0,01 kali