You are on page 1of 2

ADZAN DAN CADAR

Warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, bernama Meiliana divonis 18 bulan penjara
lantaran memprotes volume suara azan. Vonis itu pun menuai kontroversi sampai jadi
sorotan pemberitaan dunia. Beberapa petinggi lembaga keislaman, bahkan Wapres
serempak membela ibu empat anak itu. Sejumlah aktivis menyebut vonis itu
mencederai keadilan, tak pantas dikenai pasal penodaan agama. Sekalipun meiliana
harus mendekam dipenjara, tapi dia terus menuai simpati masyarakat sipil yang
membelanya bagai martir.

Berbeda nasib Hartatik selaku Kepala TK Kartika V/69 di kota Probolinggo dicopot
dari jabatannya atas kelalaiannya karena memakaikan anak didiknya mainan senjata
laras panjang dan pakaian serba hitam beserta cadar saat karnaval anak. Hartatik
mengakui kelalaiannya karena sebelumnya ia tidak melakukan koordinasi dengan
dinas kodim 0820 probolinggo selaku Pembina lembaga pendidikan terkait karnaval
tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, hal ini bermula dari seseorang yang
mengunggah video di media social saat pawai anak-anak TK. Video tersebut viral dan
mendapat kritik dari berbagai pihak karena dianggap mengandung unsur radikalisme.

Dua realitas yang bertentangan ini biasa terjadi di era kebebasan informasi ini. Kasus
Meiliana harusnya pemerintah menyelesaikan permasalahan itu dengan tegas dan
adil. Bukan untuk memberikan suatu solusi yang memerintahkan kepada seluruh
wilayah di Indonesia untuk mengurangi volume suara adzan di setiap wilayah.
Harusnya penyelesain permasalahan itu berdasarkan di wilayah tersebut bukan untuk
seluruh wilayah. Karena untuk pengurangan volume suara adzan untuk diseluruh
wilayah itu dapat menimbulkan kontroversi yang terjadi.

Berbeda dengan kasus Hartatik dimana masyarakat dan pemerintah menganggap atau
mengklaim bahwa hartatik telah mengajarkan atau menumbuhkan radikalisme kepada
anak TK nya tersebut. Apalagi opini tersebut sudah di setir pendapat mainstream
oleh kaum islamophobic yang benci terhadap islam. Akibat opini atau informasi
mengenai perkara-perkara tersebut maka masyarakat dengan mudahnya menerima
opini yang di propagandakan oleh islamophobic tanpa menyaring opini tersebut.

Allah SWT telah memberi tuntunan agar umat tidak mudah terperosok pada isu yang
membela mereka, apalagi masuk dalam barisan yang mencerca atribut, kebiasaan dan
cara hidup islam. “ hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan
kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (TQS Al-Hujurat ayat 6).

Beda penyikapan isu “adzan” dan “cadar” ini sepatutnya tidak terjadi jika umat
bersatu dalam standar perbuatan, yakni syariat Islam. Selayaknya umat tidak mudah
terbelah dengan stigma dan monsterisasi yang dilakukan musuh islam. Setiap yang
berasal dari idea barat harus di kritisi, apalagi bila terindikasi bertentangan dengan
syariat islam. Biasakan tabayyun dan berdiskusi dengan kepala jernih dengan selalu
merujuk pada tuntunan Al-Quran, As-SuNnah, Ijma’ Sahabat dan Nasihat Salafish
Shalih dalam menilai sebuah peristiwa politik. Dan yang lebih utama, jangan pernah
takut untuk memberikan pembelaan kepada syariat islam.

Oleh : Muliati Nur Padilah