You are on page 1of 16

Ringkasan

A. Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok


1. Pengertian Bimbingan kelompok

Menurut Prayitno (1995:61)layanan bimbingan kelompok adalah suatu layanan


bimbingan yang di berikan kepada siswa secara bersama-sama atau kelompok agar
kelompok itu menjadi besar, kuat, dan mandiri.

2. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok

Sedangkan menurut Bennet tujuan layanan bimbingan kelompok adalah sebagai


berikut:

1. Memberikan kesempatan-kesempatan pada siswa belajar.


2. Memberikan layanan-layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok.
3. Bimbingan secara kelompok lebih ekonomis dari pada melalui kegiatan
bimbingan individual.
4. Untuk melaksanakan layanan konseling individu secara lebih efektif.
(Romlah, T., 2001:14)
3. Komponen Bimbingan kelompok
a. Dinamika kelompok

Adapun aspek-aspek dinamika kelompok menurut Hartinah diantaranya


adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi dalam kelompok


2. Kekuatan di dalam kelompok
3. Kohesi kelompok
(Hartinah, S., 2009:64)
b. Pemimpin kelompok dan anggota kelompok
Menurut Tatiek peranan pemimpin kelompok adalah sebagai berikut:

1. Memberikan dorongan emosional (emotional stimulation


2. Mempedulikan (caring)
3. Memberikan pengertian (meaning attribution).
4. Fungsi eksekutif (excecutive function)
(Romlah, T., 2005:45)
c. Anggota Kelompok
Menurut Sukardi peranan anggota kelompok yang harus di laksanakan
dalam layanan bimbingan kelompok yaitu:
1. Membantu terbinanya suasana keakraban antar anggota kelompok,
2. Mencurahkan segenap perasaan dalam mengikuti kegiatan kelompok.
3. Berusaha agar yang dilakukanya itu membatu tercapainya tujuan bersama.
4. Membantu tersusunya aturan kelompok dan melaksanakannya dengan baik.
5. Aktif ikut serta dalam kegiatan kelompok.
6. Mampu berkomunikasi secara terbuka.
7. Berusaha membantu anggota lain.
d. Materi Layanan Bimbingan Kelompok
a. Pemahaman dan pemantapan kehidupan keberagaman dan hidup sehat
b. Pemahaman dan penerimaan diri sendiri dan orang lain
c. Pemahaman tentang emosi, prasangka, konflik dan peristiwa
d. Pengaturan dan penggunaan waktu secara efektif
e. Pemahaman tentang adanya berbagai alternatif pengambilan keputusan dan
berbagai konsekuensinya
f. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar, pemahaman hasilbelajar,
timbulnya kegagalan belajar dan cara-cara penanggulangannya
g. Pengembangan hubungan sosial yang efektif dan produktif
h. Pemahaman tentang dunia kerja, pilihan dan pengembangan karier serta
perencanaan masa depan.
i. Materi dalam bidang-bidang bimbingan
j. Materi layanan bimbingan kelompok dalam bidang bimbingan sebagaimana
dalam materi layanan bimbingan lainnya.
(Sukardi, D., 2000:48)
e. Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu
kelompok kecil (2-6 orang), kelompok sedang (7- 12orang), dan kelompok besar (13-
20 orang) ataupun kelas (20-40 orang)

f. Asas dan Dinamika Kegitan

a. Asas kerahasiaan
b. Asas keterbukaan
c. Asas kesukarelaan
d. Asas kenormatifan
4. Proses Layanan Bimbingan Kelompok
a. Tahap Pembentukan
Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri,.
b. Tahap Peralihan
Pada tahap peralihan pemimpin kelompok harus berperan aktif membawa
susana,
c. Tahap inti
Tahap inti merupakan tahap pembahasan masalah-masalah yang akan
dibahas dalam bimbingan kelompok.
d. Tahap pengakhiran.
Pada tahap ini anggota kelompok mengungkapkan kesan dan pesan dan evaluasi
akhir terhadap kegiatan bimbingan kelompok(Hallen, A., 2005:132).
Adapun langkah-lagkah layanan bimbingan kelompok sebagai berikut:
1. Langkah awal
2. Perencanaan Kegiatan
3. Pelaksanaan Kegiatan

5. Pengertian layanan konseling kelompok


Menurut Latipun konseling kelompok merupakan salah satu bentuk
konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan
balik dan pengalaman belajar.

6. Tujuan Konseling Kelompok

Menurut Ohlsen sebagaimana dikutip Winkel dan Hastutik, tujuan


konseling kelompok adalah :

 Masing-masing klien memahami dirinya dengan baik dan menemukan


dirinya sendiri.
 Para klien lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu
menghayati perasaan orang lain.
 Masing-masing klien menetapkan dan menghayati makna dari kehidupan
manusia sebagai kehidupan bersama
 Masing-masing klien semakin menyadari bahwa hal-hal yang
memprihatinkan bagi dirinya kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam
hati orang
7. Komponen dalam Konseling Kelompok

Komponen dalam Konseling Kelompok meliputi:

 Pemimpin Kelompok
 Anggota Konseling
 Jumlah kelompok
 Homogenitas Kelompok
 Sifat Kelompok
 Waktu Pelaksanaan
8. Asas Konseling Kelompok
Dalam kegiatan konseling kelompok terdapat sejumlah aturan ataupun asas-asas
yang harus diperhatikan oleh para anggota yaitu:
 Asas Kerahasiaan
 Asas Kesukarelaan
 Asas Keterbukaan
 Asas Kegiatan
 Asas Kenormatifan
 Asas Kekinian
9. Data, Diagnosis, Prognosis, dan PERPOSTUR KOnseling Kelompok dan
Bimbingan Kelompok
1. Data dan Permasalahannya
a. Data untuk layanan BKp yaitu substansi tertentu yang dapat dikemas dalam
bentuk topic yang menarik untuk dibahas dalam layanan BKp.
b. Data awal layanan KKp yaitu subjek-subjek (individual) yang data awalnya
dimungkinkan atau telah diketahui adanya masalah-masalah pribadi yang
dapat atau perlu dibahas melalui dinamika kelompok. Data ini masih bersifat
tentative dan kenyatannya akan terungkap dalam proses KKp.
2. Diagnosis dan Prognosis
a. Untuk layanan BKp

Kajian diagnosis yaitu tentang latar belakang dan sebab-sebab


terjadinya/timbulnya masalah atau hal-hal yang dipermasalahkan sehingga
menjadi masalah layanan yang perlu ditangani mengacu kepada substansi yang
dikemas dalam topic yang akan dibahas. Sedangkan kajian prognosis yaitu
analisis tentang (perkiraan) apa yang dapat terjadi kalau masalah yang ada di
dalam topik yang (akan) dibahas itu tidak mendapatkan pembahasan /
penenangan melalui pelayanan (dalam hal ini layanan BKp yang dimaksud itu
perlu atau bahkan harus dilaksananPERPOSTUR

b. Untuk layanan KKp


Kekhasan pembahasan masalah dalam KKp, disbanding dengan apa
dilaksanakan dalam layanan KP bahwa dalam layanan KKp pembahasan masalah
itu dilakukan dalam proses dinamika kelompok. Dalam proses seperti itu, maka
pembahasan masalah dalam KKp diwarnai oleh adanya dan teraktifkanya
sejumlah sumber yang berbeda yang secara potensial dapat memperkaya
substensi pendalaman dan pemecahan masalah. Itulah keunikan layanan KKp
disbanding layanan KP.
10. Pendekatan dan unsure kegiatan layanan
1. Pendekatan
Layanan BKp dan KKp didahului oleh kegiatan dan penyiapan kondisi yang
memungkinkan terselenggranya layanan yang yang dimaksud. Kelompok untuk
layanan BKp dan KKp dapat dibentuk melalui pengumpulan sejumlah individu
(siswa dan individu lainnya) yang berasal dari :
 Satu kelas siswa yang dibagi kedalam beberapa kelompok
 Kelas-kelas siswa yang berbeda dihimpun dalam satu kelompok
 Peserta dari lokasi dan kondisi yang berbeda dikumpulkan menjadi satu
kelompok
a. Persamaan dan perbedaan
Diantara layanan BKp dan KKp terdapat banyak persamaan, disamping
perbedaannya.
1. Kelompok yang sama
Terhadap satu kelompok yang sama dapat diselenggarakan baik BKp maupun
KKp. Apabila kedua layanan itu hendak dilaksanakan terhadap satu kelompok
yang sama. BKp hendaknya dilaksanakan terdahulu. Dengan demikian
penyelenggaraan KKp akan mendapatkan kondisi kelompok yang lebih
berkompeten berkat kegiatan BKp.
2. Pemimpin kelompok yang sama
Layanan BKp dan KKp dapat diselenggrakan oleh PK (konselor) yang sama.
Penyelenggaran BKp dan KKp satu kelompok ioleh PK yang sama akan
membawa keuntungan tersendiri. Dalam arti dinamakan kegiatan kelompok
semakin dapat dimantapkan dengan pola dan suasana yang lebih efektif dan
efisien serta berkelanjutan.
b. Perbedaan
Perbedaan yang paling pokok diantara BKp dan Kkp adalah materi
pembahasannya. Dalam Bkp materi yang dibahas adalah topik –topik umum
yang menjadi perhatian dan/atau kepentingan anggota kelompok tetapi berada
“di luar” dari pera anggota kelompok, sedangkan materi Kkp secara langsung
terfokus pada masalah pribadi yang alami masing-masing anggota kelompok.
Apabila layanan Bkp berorientasi pada pengembangan wawasan, penghayatan,
aspirasi dan sikap terhadap materitopik-topik yang dibahas, orientasi Kkp adalah
terbahas dan terentaskannya masalah pribadi anggota kelompok yang
bersangkutan.
11. Format dan penahapan
Layanan Bkp/Kkp diselenggarakan melalui format kelompok. Tahapan 5-
an/5-in ini sepenuhnya diselenggarakan dalam layanan Bkp/Kkp. Namun,
demikian karena keduanya terlaksana dalam format dan interaksi yang terbentuk
secara khusus, maka tahapan 5-an/5-in itu terwadahi dalam segenapp rangkaian
proses pelaksanaan Bkp/Kkp dengan istilah tahapan yang agak berbeda, yaitu :
 Tahap pembentukan, yaitu untuk membentuk kerumunan sejumlah individu
menjadi satu kelompok yang siap mengembangkan dinamika kelompok dalam
mencapai tujan bersama. Di sini tahap pengantaran secara kental tersampaikan
oleh konselor.
 Tahap perlaihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal kelompok ke
kegiatan berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok.
Tahap ini berisi tahapan penjajakan dan penfsiran.
 Tahap kegiatan, yaitu tahapan “kegiatan inti” untuk membahas topic-topik
tertentu (pada Bkp) atau mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok
(pada Kkp). Tahap kegiatan ini sepenuhnya berisi pembinaan terhadap seluruh
pesrt a layanan.
 Tahap penympulan, yaitu tahapan kegiatan untuk melihat kembali apa yang
sudah dilakukan dan dicapai oleh kelompok. Peserta kelompok diminta
melakukan refleksi berkenaan dengan kegiatan pembahasan yang baru saja
mereka ikuti. Disini refleksi BMB3 dari masing-masing anggota kelompok
diminta, terkait dengan PERPOSTUR dengan AKURS – nya. Tujuan
penyimpulan ini merupakan puncak dari pembianan terhadap anggota
kelompok, yang selanjutnya disambung dengan penilaian.
 Tahap penutupan, yaitu tahap akhit kegiatan, sebagaimana tertera pada bagan-
bagan berikut:

12. Teknik

a. Teknik Umum

1)Komunikasi multiarah secara efektif, dinamis dan terbuka.

2)Pemberian rangsangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasan.


diskusi, analisis, pengembangan argumentasi.

3)Dorongan minimal untuk memantapkan respons dan aktivitas anggota


kelompok.

4) Penjelasan, pendalaman, dan pemberian contoh untuk lebih memantapkan


analisis, argumentasi, dan pembahasan.

5) Pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku (baru) yang dikehendaki.

b. Warna Konseling Perorangan dalam KKp

Sebagaimana telah dikemukakan terlebih dahulu, layanan KKp selaras atau


bahkan pada dasarnya adalah ”konseling perorangan" dalam suasana kelompok
dengan memanfaatkan dinamika kelompok.

c. Permainan Kelompok

Permainan kelompok yang efektif bercirikan (1) sederhana, (2)


menggembirakan, (3) menimbulkan suasana rileks dan tidak melelahkan, (4)
meningkatkan keakraban, dan (S) diikuti oleh semua anggota kelompok.
d. Waktu dan Tempat

Layanan BKp dan KKp dapat diselenggarakan pada sebarang waktu, sesuai
dengan kesepakatan antara KP dan para anggora kelompok, baik terjadwal maupun
tidak terjadwal.

13. Keterkaitan

a. Keterkaitan Jenis Layanan Lain

Sebagaimana layanan konseling lainnya, layanan BKp dan KKp terkait pula
dengan layanan konseling lainnya. isi topik dan masalah-masalah yang dibahas
dalam BKp dan KKp dapat pula bersangkut-paut dengan materi Orientasi,
Informasi.

b. Keterkaitan Kegiatan Pendukung

1)Aplikasi instrumentasi

 pertimbangan dalam pembentukan kelompok BKP/KKP


 pertimbangan dalam menempatkan seseorang atau lebih dalam kelompok
layanan BKp/KKp; dan
 materi atau pokok bahasan dalam kegiatan BKP/KKP.

2) Himpunan Data

Data dalam Himpunan Data, sebagaimana hasil Aplikasi Insrrumentasi juga


dapat digunakan dalam merencanakan (penetapan anggota kelompok) dan mengisi
kegiatan BKp/KKp. Penggunaan data dalam himpunan data dan hasil instrumentasi
haruslah disertai penerapan asas kerahasiaan secara ketat.

3) Konferensi Kasus

Konferensi Kasus dapat mendahului atau pun sebagai tindak lanjut dari
kegiatan layanan BKp atau KKp untuk peserta tertentu. Sebaliknya, untuk
menindaklanjuti hasil BKp atau mendalami dan menangani lebih lanjut masalah
salah seorang atau lebih anggota KKp dapat dilakukan Konferensi Kasus.

4) Kunjungan Rumah

Kunjungan Rumah dapat dilakukan sebagai pendalaman dan penanganan lebih


lanjut masalah AK yang dibahas dalam KKp. Kunjungan rumah ini memerlukan
persiapan yang lebih baik dengan mengikutsertakan anggota kelompok yang
masalahnya dibahas.

5) Tampilan Kepustakaan

Topik-topik yang dibahas dalam BKp/KKp dapat diambil dan didalami melalui
kegiatan membaca buku sumber.

6) Alih Tangan Kasus

. Alih Tangan Kasus ke ahli atau pihak lain yang berwewenang dapat dilakukan
sesuai dengan masalah AK yang dimaksud dan menurut prosedur yang dapat
diterima klien dan pihak-pihak terkait.

14. Operasionalisasi Layanan

1. Umum

Layanan BKp dan KKp hendaklah diselenggarakan secara tertib dan teratur
dalam perencanaan dan pelaksanaannya, demi kelancaran dan kesuksesannya.
Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu penilaian segera (laiscg), penilaian
jangka pendek (luijapen) dan penilaian jangka panjang (Iaijapang). Laiseg
dilakukan pada akhir setiap sesi layanan, sedangkan laijapen dan laijapang
dilakukan pasca layanan. Penilaian ini dapat dilakukan secara lisan (melalui
pengungkapan verbal) ataupun tulisan (dengan menggunakan format tertentu).

2. Konseling Keluarga
Konseling Keluarga (KKg) merupakan pendekatan khusus BKp dan KKp, yaitu
Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok yang para pesertanya adalah anggora
dari sebuah keluarga, yang mana keluarga tersebut sedang mengalami masalah yang
boleh jadi sejumlah atau bahkan semua anggota keluarga ikut serta dalam KKg.
Penyelenggaraan KKg sama dengan KKp. Bedanya ialah, kalau KKp masalah yang
dibahas berasal dari satu orang anggota peserta KKp, sedangkan dalam KKg masalah
yang dibahas adalah masalah yang dirasakan/dialami bersama seluruh peserta.

B. Layanan Konsultasi

1. Pengertian Layanan Konsultasi


Layanan konsultasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan oleh
konselor terhadap seorang pelanggan, disebut konsulti yang memungkinkan konsulti
memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam
menangani kondisi dan/atau permasalahan pihak ketiga.

2. Tujuan layanan konsultasi


Layanan konsultasi merupakan bagian dari layanan bimbingan dan konseling,
maka tujuan dari layanan ini sepenuhnya akan mendukung dari tercapainya tujuan
BK, sebagai berikut :

1) terlepas dari tujuan yang akan d menyempurnakan lingkungan belajar bagi


siswaorang tua, dan administrator sekolah.
2) Menyempurnakan komunikasi dengan mengembangkan informasi di antara
orang yang penting.
3) Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi bermacam-
macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar.
4) Memperluas layanan dari para ahli.
5) Memperluas layanan pendidikan dari guru dan adminis-trasi.
6) Membantu orang lain bagaimana belajar tentang perilaku.
7) Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen lingkungan belajar
yang baik.
8) Menggerakkan organisasi yang mandiri.
3. Komponen Layanan Konsultasi
1) Guru pembimbing
2) Konsulti
3) Pihak ketiga
4. Asas dan Dinamika Kegiatan
1. Kegiatan
Tiga etika dasar konseling, yaitu kerahasiaan, kesukarelaan, dan keputusan
diambil oleh klien sendiri sepenuhnya berlaku pada proses konsultasi dalam layanan
KSI. Ketiga etika ini terkait langsung dengan asas-asas langsung.

2. Dinamika Kegiatan : BMB3


Konsultasi atau masing-masing peserta layanan diharapkan mencapai tahap-
tahap kemandirian berikut :

a.) Memahami dan menerima diri sendiri secara positif dan dinamis.
b.) Memahami dan menerima lingkungan secara objektif pasif dan dinamis.
c.) Mengambil keputusan secara positif dan tepat.
d.) Mengarahkan diri sesuai dengan arah keputusan yang diambil.
e.) Mewujudkan diri sendiri sesuai dengan potensi dan harapan yang dimiliki.
5. Data, Diagnosis, Prognosis, dan PERPOSTUR
1. Data dan Permasalahannya
Data layanan konseling dimulai dari informasi langsung ataupun adanya
seseorang atau lebih memerlukan bantuan dalam bentuk layanan
konseling.Informasi ini diterima dari seseorang yang memiliki tanggung jawab
tertentu terhadap pihak ketiga.

2. Diagnosis dan Prognosis


Hasil diagnosis dan prognosis tersebut merupakan landasan dan sekaligus
pertimbangan mendasar mengapa layanan KSI perlu atau bahkan harus
dilaksanakan untuk kepentingan pihak ketiga.
3. PERPOSTUR
Dalam konsep PERPOSTUR itu, terkandung unsur-unsur AKURS yang harus
menjadi jelas hal-hal terkait dengan pihak ketiga, yaitu sebagai berikut :

a.) Materi atau objek atau kondisi yang menjadi acuan untuk terlaksanakanya
perlu yang dimaksud (unsur A) oleh pihak ketiga
b.) Kompetensi yang perlu dikuasai pihak ketiga terkait dengan
materi/objek/kondisi yang menjadi acuan di atas (unsur K)
c.) Bagaimana dan kapan implementasi kompetensi terhadap
materi/objek/kondisi yang menjadi acuan dilaksanakan oleh pihak ketiga
dalam bentuk kegiatan nyata yang diusahakan secara langsung
d.) Bagaimana perasaan yang tumbuh dan berkembang pada diri pihak ketiga
terkait dengan unsur-unsur A,K,U yang diperlukan dan dilaksanakan (unsur
R), dan
e.) Bagaimana kesungguhan pihak ketiga berkenaan dengan tersediakannya dan
terwujudkannya unsur-unsur A,K, dan u itu serta berkembangnya
kesungguhan pada diri sasaran layanan (unsur S)
4. Pendekatan dan Unsur Kegiatan Layanan
1.) Pendekatan
1. Pendekatan

a. Rangkaian Kegiatan

Perbedaan pokok antara konseling perseorangan (KP) dan layanan konsultasi


(KSI) adalah bahwa pada konseling perseorangan penanganan masalah klien
langsung dilakukan oleh konselor sedangkan pada konsultasi penanganan masalah
pihak ketiga (yaitu seorang atau sejumlah individu yang mengalami masalah)
dilakukan oleh konsultasi setelah berkonsultasi dengan konselor. Apa yang perlu
dikembangkan pada diri konsulti melalui konsultasi? Tidak lain adalah WPKNS
konslti, khususnya berkenaan dengan permasalahan pihak ketiga yang nantinya
akan ia tangani.
1. Wawasan
2. Pengetahuan
3. Keterampilan
4. Nilai
5. Sikap

b. warna konseling perseorangan dalam layanan konsultasi

Arah layanan konsultasi adalah pengembangan diri konsulti untuk mampu


menangani permasalahan pihak ketiga. Namun,dalam proses layanan sering kali
tidak arah itu tidak langsung terarah kepada pihak ketiga.

2. format dan penahapan

Dalam layanan KSI tahapan 5-an/5-in dilaksanakan secara runtut dan efektif.
Pada tahap pengantaran konselor mengembangkan interaksi awal sehingga
konsulti memahami tujuan dan arah pembahasan. Tahap penafsiran biasanya
langsung disambung dengan tahap pembinaan yaitu pembahasan tentang apa y ng
konsulti perlu memahami dan melaksanakan terhadap permasalahan yang dialami
oleh pihak ketiga.

3. teknik

a. teknik umum

Teknik umum yaitu sejumlah tindakan yang dilakukan konselor/konsultan


untuk mengembangkan proses konsultasi. Teknik-teknik ini dimulai dari menerima
konsulti, mengatur posisi duduk, mengadakan penstrukturan (khususnya tentang
layanan konsultasi), mengadakan analisis dan diskusi tentang permasalahan yang
dihadapi, sampai dengan mengadakan penilaan dan laporan.

b. teknik khusus

Teknik khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku konsulti


khususnya terarah pada masalah yang dialami pihak ketiga. Teknik-teknik ini
terbentang dari perumusan tujuan, pengembangkan tingkah laku itu sendiri, sampai
peneguhan hasrat, pemberian nasihat, penyusunan kontrak,dan jika perlu alih tangan
kasusu.

7. Penggunaan teknik oleh konsulti

Keterampilan yang perlu dikuasai konsulti dan diterapkan terhadap pihak


ketiga adalah aplikasi alat-alat pendidikan, tiga-m, pertanyaan terbuka, dorongan
minimal, refleksi, serta teknik khusus pengubahan tingkah laku serta pemberian
informasi dan contoh, latihan sederhana, dan pemberian nasehat secara tepat.

8. waktu dan tempat

Kapan dan dimana pun konsultasi itu dilaksankan kenyamanan kedua pihak
diutamakan disamping terjaminnya kerahasiaan konsulti dan pihak ketiga.

9. Keterkaitan
a. Keterkaitan jenis layanan
Pelaksanaan konsultasi dapat berlangsung satu kali atau lebih. Diantara dua
atau lebih pelaksanaan konsultasi apalagi dalam konsultasi berkelanjutan
dapat dilaksanakan kegiatan pendukung.
b. Keterkaitan kegiatan pendukung
Pemanfaatan kegiatan pendukung disesuaikan dengan keperluan konsulti
dalam kegiatan konsultasi dan keperluan penanganan pihak ketiga oleh
konsulti. Adapun dalam pelayanan konseling dikenal dengan enam jenis
kegiatan pendukung diantaranya yaitu :
1. Aplikasi instrumental
2. Himpunan pelaksanaan
3. Konferensi kasusu
4. Kunjungan rumah
5. Tampilan kepustakaan
6. Alih tangan kasus
10. operasionalisasi layanan

Langkah – langkah operasionalisasi layanan yaitu :

1. Perencanaan dan pengorganisasian


Konselor mengatur pertemuan melalui penetapan fasilitas layanan dan
menyiapkan kelengkapan administrasi
2. Pelaksanaan
Kegiatan utama berikutnya adalah mendorong dan melatih konsulti untuk :
a. Mampu menangani masalah yang dialami pihak ketiga
b. Memanfaatkan sumber-sumber yang ada melalui strategi BMB3
3. Penilaian
Sedapat-dapatnya konselor memperoleh laporan dari konsulti tentang
penilaiannya terhadap pihakketiga
a. Penilaian segera
b. Penilaian jangka pendek
c. Peniaian jangka panjang
4. Tindak lanjut dan Laporan
Laporan berupa LAPELPROG (laporan pelaksanaan program)memuat
keseluruhan aspek kegiatan layanan konselor terhadap konsulti dan kegiatan
pelayanan oleh konsulti terhadap pihak ketiga.