You are on page 1of 3

Dalam tingkah laku.

Seperti cara berpakaian, pemilihan permainan, kegemaran


maupun objek seksualnya.

1. Parafilia (devisiasi seksual)


Cirri utama gangguan jiwa ini adalah diperlukannya suatu khayalan atau
perbuatan seksual yang tidak lazim untuk mendapatkan gairah seksual. WHO
memaparkan beberapa gangguan preferensi seksual antara lain:
a. Fetisisme: ketergantungan pada beberapa benda mati (seperti karet, plastik)
sebagai stimulus untuk kepuasan. Fetisisme lebih banyak terjadi pada laki-
laki.
b. Transvestisme: menggunakan pakaian lawan jenis untuk mendapatkan
kepuasan seksual. Seperti laki-laki heteroseksual menggunakan pakaian
perempuan untuk mendapatkan gairah seksualnya. Transvestisme berlaku
pada laki-laki yang bukan transeksual.
c. Eksibisionisme: kecenderungan yang kuat untuk mengespos alat kelamin
kepada orang asing (biasanya lawan jenis) atau untuk orang ditempat umum
hanya untuk mendapatkan kegairahan seksual tanpa upaya melakukan
aktivitas seksual, jikapun kalau ada hanya sedikit yang melakukannya. Ketika
sudah muncul gairah seksual biasanya diikuti dengan masturbasi.
d. Voyeurism: mengintip orang telanjang, membuka pakaian atauaktivitas
seksual tanpa ada upaya lanjut untuk melakukan aktivitas seksual dengan
orang yang diintip. Aktivitas ini menyebabkan orang tersebut bergairah
seksual dan masturbasi tanpa orang yang diamati menyadarinya.
e. Pedofilia: perbuatan atau fantasi untuk melakukan aktivitas seksualnya pada
anak-anak prapubertas atau awal pubertas. Pedofilia jarang diidentifikasi pada
perempuan atau kebanyakan pada laki-laki.
f. Sadamasokisme: mendapatkan kepuasan seksual dengan melibatkan
penderitaan (sakit), perbudakan, atau penghinaan. Jika individu lebih suka
menjadi penerima ransangan disebut masokesme; jika penyedia disebut
sadism.
g. Gangguan seksual lainnya: kadang-kadang satu orang mengalami tiga
kelainan aktivitas seksual. Kombinasi yang paling umum adalah fesitisme,
transvetisme dan sadamasokisme. Gangguan aktivitas seksual lainnya seperti
melakukan aktivitas seksual dengan binatang, mengmputasi anggota tubuh,
menelan urine, mengolesi fases, termasuk nekrofilia (melakukan hubungan
seksual dengan mayat).
8.2.2 Disfungsi Psikoseksual

Secara umum disfungsi psikoseksual adalah terdapatnya hambatan pada selera


(minat) seksual atau terdapat hambatan pada perubahanpsikofisiologik yang biasanya
terjadi pada orang yang sedang bergairah seksual. Hambatan-hambata itu seperti:

a. Ejakulasi dini/premature: terjadi ejakulasi sebelum dikehendaki karena tidak


adanya pengendalian yang wajar terhadap ejakulasi selama aktivitas seksual.
b. Disparuenia fungsional: rasa nyeri yang berulang-ulang dan menetap pada alat
kelamin sewaktu senggama, baik laki-laki maupun perempuan.
c. Vaginisme fungsional: ketegangan otot vagina yang takterkendali shingga
menghalangi senggama.
d. Selera seksual: sukar atau tidak bisa timbul minat seksual secara menetap.
e. Gairah seksual:
1) Laki-laki: gagal sebagian atau seluruhnya untuk mencapai atau
mempertahankan ereksi sampai akhir seksual (impotensi)
2) Perempuan: gagal sebagian atau seluruhnya untuk mencapai atau
mempertahankan pelumasan atau pembengkakan vagina sampai akhir seksual
(firigiditas)
f. Orgasme laki-laki dan perempuan

8.2.2.1 Gangguan Psikoseksual lainnya; homoseksual

Merupakan perilaku seksual dimana seseoang tertarik pada jenis kelamin yang
sama atau melakukan hubungan seks dengan yang sejenis. Penyebab homoseksual
antara lain; herediter, lingkungan dan ketidakseimbangan hormone seksual. Banyak
bukti yang menjelaskan lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya
homoseksualitas. Seseorang dapat mencari kepuasan homoseksual karena adanya
pengalaman yang menyenangkan. Hubungan seksual yang tidak memuaskan dengan
lawan jenis dapat mendorong seseorang menjadi kawan dari seks yang sama. Pada era
sekarang ini, fenomena homoseks sangat menghawatirkan, beberapa hasil penelitian
membuktikan bahwa perilaku seks yang menyimpang terjadi pada homoseks dan ini
memberika sumbangsi yang tinggi terhadap kasus-kasus HIV dan AIDS.

8.3 Penyakit Menular Seksual (PMS)

8.3.1 Pengertian PMS

Penyakit Menular Seksual (PMS) disebut juga venereal, berasal dari kata
venus, yaitu dewi cinta dari romawi kuno. Penularan penyakit ini biasanya
terjadi karena seringnya seseorng melakukan hubungan dengan berganti-ganti
pasangan. Bias juga karena melakukan hubungan seksual yang sebelumnya
telah terjangkit salah satu penyakit ini. (Ajen Dianawati, 2003)

Penyakit menular seksual biasa juga disebut Infeksi Menular Seksual (IMS)
atau penyakit kelamin. PMS adalah sekelompok infeksi yang ditularkan melalui
hubungn seksual. Kebanyakan PMS dapat ditularkan melalui hubungan seksual
antara penis, vagina, anus, dan/atau mulut (Katrina Smith 2005).

Penyakit Menular Seksual (PMS) atau penyakit kelamin (venereal disease)


telah lama dikenal dan beberapa diantaranya sangat popular di Indonesia, yaitu
sifilis dan kencing nanah. Dengan smakin majunya peradaban dan ilmu
pengetahuan, makin banyak pula ditemukan penyakit-penyakit baru, dan istilah
venereal diseases berubah menjadi Sexually Transmitted Diseases atau infeksi
menular seksual (Somelus, 2008).

8.3.1.1 Penyebab Penularan PMS

Salah satu akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas seks yang kurang
sehat adalah munculnya PMS. Penularan penyakit ini biasanya terjadi karena
seringnya seseorang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan. Bias juga karena melakukan hubungan seksual dngan orang yang
sebelumnya sudah terkena penyakit ini. (Ajen Dianawati, 2003). Selain iti,
terdapat rentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan PMS
termasuk ciuman, hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus,
kunilingus, anilingus, felasio, dan kontak mulus atau genital dengan payudara
(Benson dan Pernoll, 2009).

Menurut Somelus (2008), cara lain seseorang dapat tertular PMS juga
melalui:

a. Darah
Dari transfuse darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik bersama,
atau benda tajam lainnya kebagian tubuh untuk menggunakan obat atau
membuat tato.