You are on page 1of 16

A.

Jurnal Nasional

Penulis Wahyu Catur Hidayati, Dwi Heppy Rochmawati, dan Targunawan


Pengaruh Terapi Religius Zikir Terhadap Peningkatan Kemampuan
Judul Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Halusinasi di RSJD Dr.
Amino Gondohutomo Semarang
Masalah Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi
Untuk mengetahui Pengaruh terapi religius zikir terhadap peningkatan
Tujuan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi di
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang
Kegiatan terapi religius zikir, dapat menurunkan gejala psikiatrik, Riset yaang
lain menyebutkan bahwa menurunnya kunjungan ke tempat ibadah,
meningkatkan jumlah bunuh diri di USA ,Kesimpulan dari berbagai riset
bahwa religius mampu mencegah dan melindungi dari penyakit kejiwaan,
mengurangi penderitaan, meningkatkan proses adaptasi mengontrol suara-
suara yang tidak ada wujudnya seperti halusinasi pendengaran. (Mahoney
et.all, 1985 dalam Yosep, 2007).
Teori
Terapi religius tidak diarahkan untuk merubah agama pasiennya tetapi
menggali sumber kopingnya (Yosep, 2009, hlm.344).
Terapi zikir adalah ucapan yang selalu mengingatkan kita kepada Allah
(Hawari, 2009, hlm.202). dengan berzikir hati seseorang akan terasa tentram.
Terdapat 3 sesi yang menjadikan pasien halusinasi mampu melafalkan bacaan
zikirnya, mampu lebih nyaman untuk berzikir saat halusinasinya muncul,
mampu menyampaikan perasaanya setelah berzikir
Lokasi &
RSJD DR. Amino Gondohutomo Semarang pada Tahun 2014
Waktu
Jenis
Quasy Experimental Design dengan pendekatan one group pre and posttest
Penelitian
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien halusinasi pendengaran yang
dirawat pada bulan November 2013 di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino
Populasi & Gondoutomo Semarang, dengan jumlah pasien halusinasi pendengaran
Sampel sebanyak 306 orang. Penentuan ukuran sampel menggunakan Slovin, dengan
tingkat kesalahan yang dikehendaki 10% sehingga didapatkan sampel 75
responden.
Variabel Variabel Independen yaitu terapi religius zikir dan variabel dependen yaitu
Penelitian kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran
Analisis analisis bivariat dengan uji Wilcoxon
Hasil uji statistik peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran
sebelum dan sesudah dilakukan terapi religius zikir pada pasien halusinasi
Hasil pendengaran menunjukkan nilai nilai signifikan kurang dari α yang ditetapkan
Penelitian sebelumnya sebesar 5% (0,05), dengan demikian Ho ditolak, sehingga ada
pengaruh yang signifikan dari terapi religius zikir terhadap peningkatan
kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran.
Kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien
halusinasi sebelum diberikan terapi religius zikir dengan kategori baik
sebanyak 5 orang (6,7%), sedangkan kategori buruk sebanyak 70 orang
(93,3%). Sesuai uji statistik terhadap kemampuan responden mengontrol
halusinasi pendengaran pada psien halusinasi sebelum diberikan terapi religius
Pembahasan zikir diperoleh mean= 2,41 < 3. Sehingga kemampuan mengontrol halusinasi
pendengaran masih dikatakan buruk. Kemampuan mengontrol halusinasi
pendengaran di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang masih buruk karena
kebanyakan pasien hanya diberikan Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) biasa
seperti menutup telinga dan menghardik sedangkan untuk ketenangan rohani
nya pihak RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang belum menerapkan SOP
terapi religius zikir secara optimal dan belum diberikan secara berkala oleh
perawat karena hanya diberikan atas dasar inisiatif perawat saja. Kemampuan
responden mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi sesudah
diberikan terapi religius zikir dengan kategori baik sebanyak 74 orang
(98,7%), sedangkan kategori buruk sebanyak 1 orang (1,3%). Sesuai uji
statistik terhadap kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran
pada pasien halusinasi sesudah diberikan terapi religius zikir diperoleh mean=
5,55 > 3. Sehingga kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran sudah
dikategori baik.

Penulis Deden Dermawan


Pengaruh Terapi Psikoreligius: Dzikir Pada Pasien Halusinasi Pendengaran di
Judul
RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta
Pasien memberikan persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek
atau rangsangan yang nyata seperti mendengar suara padahal tidak ada yang
Masalah sedang berbicara atau mendengar suara. Tanda dan gejala yang dapat
diobservasi adalah mendengarkan suara atau kebisingan, dimana suara itu
memberi perintah kepada pasien untuk melakukan suatu aktifitas.
untuk mengetahui pengaruh Dzikir untuk mengatasi pasien yang halusinasi
Tujuan
pendengaran.
Direja (2011) tanda dan gejala halusinasi adalah pasien sering berbicara atau
tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, mengarahkan telinga ke arah
tertentu, menutup telinga, mendengar suara atau kegaduhan. Mendengar suara
yang mengajak pasien bercakap-cakap, mendengar suara yang menyuruh
melakukan sesuatu yang berbahaya.
Pieter dan Namora (2010) bahwa usia dewasa muda berisiko lebih tinggi
mengalami gangguan jiwa terutama halusinasi karena pada tahap ini kehidupan
penuh dengan stressor, masa dewasa muda mengalami masa ketegangan emosi
dan itu berlangsung hingga usia 30-an. Dalam usia tersebut individu akan
Teori
mudah mengalami ketidakmampuan menghadapi masalah sehingga akan lebih
mudah emosi.
Fatihuddin (2010) Dzikir adalah menjaga dalam ingatan agar selalu ingat
kepada Allah ta‟ala. Dzikir dapat menyehatkan tubuh: hidup orang shaleh
lebih ceria, tenang, dan seolah-olah tanpa masalah, karena setiap masalah.
Sulahyuningsih (2016) bahwa terapi religius efektif untuk meningkatkan
kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran. Dengan berdzikir hati
seseorang akan lebih tentram, kegiatan terapi religius dzikir dapat menurunkan
gejala psikiatrik. Religius disikapi dengan konsep takwa.
Lokasi &
di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta pada Tahun 2017
Waktu
Jenis deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
Penelitian (nursing process).
Populasi adalah pasien dengan halusinasi dengan sampel sebanyak 8 pasien
Populasi &
dengan
Sampel
halusinasi pendengaran
Variabel Variabel Independen yaitu terapi psikoreligius dzikir dan variabel dependen
Penelitian yaitu halusinasi pendengaran
Analisis Analisa menggunakan transkrip wawancara dan Trianggulasi Sumber.
Hasil penelitian menunjukan bahwa 5 dari 8 responden mengatakan halusinasi
Hasil
berkurang setelah melakukan dzikir, dan 3 dari 8 responden mengatakan masih
Penelitian
mendengar halusinasi setelah melakukan dzikir.
Peneliti melakukan pengkajian mengenai halusinasi kepada 8 responden
Pembahasan
dengan melakukan observasi rata – rata klien mengalami tanda dan gejala yang
sama yaitu mengarahkan telinga ke arah tertentu, gelisah, terlihat terganggu,
marah tanpa sebab, mencoba berinteraksi dengan lingkungan, tidak berdaya,
sering menangis sendiri, tertawa sendiri. Berdasarkan pengkajian yang telah
dilakukan pada 8 responden didapatkan keluhan yang hampir sama antara R1,
R2, R3, R4 R5, R6, R7, R8 yaitu mereka merasa mendengar bisikan yang
menyuruh untuk melakukan sesuatu sehingga menuruti halusinasinya,
memukul seseorang ketika emosi, mengarahkan telinga ke arah tertentu, sering
tertawa sendiri, merasa takut ketika halusinasinya muncul, perubahan pola
komunikasi, gelisah. Untuk mengalihkan halusinasi pendengaran yang dialami
oleh pasien peneliti menggunakan tekhnik pengalihan dengan cara dzikir, agar
responden dapat mengalihkan halusinasi pendengaran yang dialami sehingga
pasien merasakan ketentraman jiwa. Fungsi dari dzikir antara lain dapat
mensucikan hati dan jiwa: berdzikir dapat mengingatkan kita kepada Allah dan
hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan. Karena segala bentuk masalah
adalah dari-Nya, dan dengan berdzikir dapat mengingatkan kita agar selalu
berfikir positif. Peneliti melakukan implementasi di Ruang Arjuna sebanyak 3-
8 pertemuan. Halusinasi yang didengar oleh pasien berbeda – beda waktu nya.
Berdasar hasil observasi pasien melakukan dzikir ketika mendengar suara
palsu, ketika sedang sendiri, dan setelah sholat. Peneliti meminta klien untuk
melakukan dzikir secara mandiri setelah sholat magrib, isya dan shubuh.

Penulis Citra Y. Perwitaningrum Yayi Suryo Prabandari Rr. Indahria Sulistyarini


Pengaruh Terapi Relaksasi Zikir Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan
Judul
Pada Penderita Dispepsia
Masalah Kecemasan skala sedang sampai berat pada penderita Dispepsia
bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh terapi relaksasi zikir terhadap
Tujuan
penurunan tingkat kecemasan pada penderita dyspepsia
Benson (2000) bahwa respon relaksasi yang melibatkan keyakinan yang dianut
akan mempercepat terjadinya keadaan rileks. Dengan kata lain, kombinasi
respons relaksasi dengan melibatkan keyakinan akan melipatgandakan manfaat
yang didapat dari respon relaksasi itu sendiri.
Najati (2005) Zikir membantu individu membentuk persepsi yang lain selain
ketakutan, yaitu keyakinan bahwa semua konflik akan dapat dihadapi dengan
Teori baik dengan bantuan Alloh SWT. Saat seorang membiasakan berzikir, ia akan
merasa dirinya dekat dengan Alloh SWT, berada dalam lindungan-Nya yang
kemudian akan membangkitkan percaya diri, kekuatan, perasaan aman,
tentram dan bahagia.
Saleh (2010) secara biopsikologi, zikir akan membuat seseorang merasa tenang
sehingga menekan kerja sistem syaraf simpatetis dan mengaktifkan kerja
syaraf parasimpatetis.
Lokasi &
Di Yogyakarta Pada Tahun 2016
Waktu
Rancangan penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Kuasi eksperimen
merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan tanpa randominasi, namun
Jenis masih menggunakan kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan model
Penelitian perancangan prates dan pascates dengan menggunakan kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol dengan sampel yang ditetapkan secara non random (non
randomized pretest posttes with control design)
Populasi penelitian yaitu pasien dispepsia yang memiliki tingkat kecemasan
Populasi & dalam kategori sedang sampai dengan berat. Sedangkan sampel penelitian ini
Sampel berjumlah 8 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu 4 orang kelompok
eksperimen dan 4 orang kelompok control
Variabel Variabel Independen yaitu terapi zikir dan varibael dependen yaitu penurunan
Penelitian tingkat kecemasan
Data dianalisis menggunakan teknik statistik perangkat lunak Statistical
Analisis Product and Service Solution (SPSS) for windows 16.0.Analisis untuk menguji
hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Mann Whitney U
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang diberi terapi relaksasi zikir
Hasil
kecemasannya lebih rendah dari pada kelompok yang tidak diberi terapi
Penelitian
relaksasi zikir.
Data tingkat kecemasan pada kelompok eksperimen menunjukkan rerata prates
= 29,50 dan pascates= 13,25. Hal ini menunjukkan bahwa ada penurunan
tingkat kecemasan yang signifikan dari prates (sebelum perlakuan) ke pascates
(setelah perlakuan) pada kelompok eksperimen. Penurunan nilai rerata prates
dan pascates kelompok eksperimen sebesar 16,25. Data pada kelompok kontrol
menunjukkan perubahan tingkat kecemasan namun nilainya tidak sebesar
dibandingkan kelompok eksperimen. Data tingkat kecemasan pada kelompok
kontrol menunjukkan rerata prates = 32,75 dan pascates = 26,50. Penurunan
nilai retata prates dan pascates kelompok konrol sebesar 6,25. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada penurunan tingkat kecemasan yang signifikan
Pembahasan dari prates ke pascates pada kelompok kontrol. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa terapi relaksasi zikir dapat menurunkan tingkat
kecemasan pada pasien dispepsia. Hasil uji beda Mann Whitney U
menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol pada saat pascates. Hal ini ditunjukkan dari
nilai p < 0,05 yang berarti signifikan. Nilai prates tampak tidak ada perbedaan
tingkat kecemasan antar kedua kelompok (p = 0,386 ; p > 0,05 yang berarti
tidak signifikan), karena tingkat kecemasan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol samasama tinggi. Namun berbeda dengan nilai pascates
yang tampak ada perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antar kedua
kelompok (p=0,021 ; p<0,05 yang berarti signifikan).

Penulis Nita Rohayati


Relaksasi Dzikir Untuk Menurunkan Derajat Kecemasan Pada Ibu Hamil
Judul
Trimester III
Kecemasan yang berlebihan mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan psikis
Masalah
ibu serta bayi yang dikandung.
Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan derajat kecemasan ibu hamil
Tujuan
trimester III.
Schaffer (2000) relaksasi dengan dzikir melatih individu untuk mengendurkan
otot-otot dan menghayati perbedaan situasi tegang dan rileks, setelah
pengendoran otot dicapai, tahapan selanjutnya adalah memasukkan unsure
keyakinan atau religius sambil melakukan relaksasi pernafasan yang membantu
mengurangi kecemasan dengan cara mengatur langkah dan kedalaman
pernafasan.
Teori
Benson (2000) konsep relaksasi yang menerapkan ajaran agama ini bertujuan
untuk mendapatkan kondisi rileks yang berlipat, karena selain otot (fisik) yang
dilemaskan, menurut Benson penggunaan unsure agama dapat memudahkan
subjek untuk memusatkan perhatian dan membantu menenangkan pikiran juga
sikap pasrah dan berserah kepada Tuhan menambah kondisi rileks dan keadaan
jiwanya menjadi lebih tenang
Lokasi &
Karawang pada Tahun 2010
Waktu
Jenis Metode penelitian mengggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain
Penelitian one group pretest-posttest design
Populasi & Subjek dalam penelitian ini adalah 5 orang ibu hamil yang berusia 20-35 tahun,
Sampel dengan usia kehamilan 28-36 minggu (trimester III), memiliki kecemasan yang
diukur dengan alat ukur kecemasan khusus untuk ibu hamil.
Variabel Variabel Independen dalam penelitian ini adalah relaksasi dengan dzikir dan
Penelitian variabel dependen yaitu derajat kecemasan pada ibu hamil trisemester III.
Analisis dianalisis dengan menggunakan analisa statistika deskriptif berupa grafik.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan penurunan derajat
Hasil kecemasan ibu hamil trimester III. Relaksasi dengan dzikir dapat digunakan
Penelitian sebagai salah satu cara untuk menurunkan derajat kecemasan ibu hamil
trimester III.
Penelitian ini dapat membuktikan bahwa relaksasi dengan dzikir juga dapat
membantu mengurangi kecemasan kehamilan. Bedanya, penelitian ini
melibatkan unsur keyakinan yang dimiliki oleh subjek. Hasil penelitian ini
juga menguatkan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah membuktikan
bahwa terapi berbasis keyakinan agama yang dimiliki dapat membantu
meningkatkan kesehatan mental sesorang (Ancok dan Suroso, 2008; Saleh,
2010; Sholeh, 2006; Trimulyaningsih, 2009; Purwanto, 2006). Penelitian ini
menunjukkan bahwa terapi relaksasi yang disertai dengan dzikir (berbasis
keislaman) terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental dengan cara
mengurangi kecemasan subjek. Bedanya, penelitian ini mengkhususkan subjek
pada ibu hamil. Penelitian ini menambahkan fakta bahwa terapi berbasis
Pembahasan keislaman juga dapat membantu menurunkan kecemasan ibu hamil. Subyek
penelitian yang lebih banyak melakukan relaksasi dengan dzikir, setelah
melaksanakan latihan tersebut subyek merasa lebih tenang, nyaman, lebih
dekat dengan Allah dan lebih pasrah menerima berbagai keadaan yang kurang
menyenangkan bagi dirinya dalam hal ini adalah kondisi kehamilan subjek.
Terapi relaksasi dengan dzikir adalah teknik yang mengurangi ketegangan-
ketegangan yang melibatkan kelompok-kelompok otot tertentu yang dipadukan
dengan ajaran agama Islam yaitu dengan melafadzkan dzikir “ya Allah”.
Melalui praktek berulang, individu dapat belajar untuk mengenali dan
membedakan perasaan yang terkait dari otot tegang dan otot santai.
Menegangkan dan melepaskan berbagai kelompok otot di seluruh tubuh dapay
menghasilkan keadaan rileks.

Penulis Endah Wulandari & H. Fuad Nashori


Judul Pengaruh Terapi Zikir Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Lansia
Banyak lansia yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang
dialaminya. Dampak dari ketidakberhasilan lansia menyesuaikan diri dengan
Masalah
perubahannya adalah munculnya emosi-emosi negatif yang dapat membuat
lansia kurang merasa sejahtera secara psikologis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi zikir terhadap
Tujuan
kesejahteraan psikologis pada lansia.
Menurut Febriani (2012), ketidakberhasilan lansia dalam menyesuaikan diri
dengan perubahan akan memunculkan emosi-emosi negatif seperti mudah
marah, sering ngambek, suka bertengkar, cemas berlebihan, dan merasa tidak
puas atau kecewa. Sebaliknya lansia yang mampu menyesuaikan diri terhadap
perubahan dan kemunduran yang dialaminya akan memunculkan perasaan
positif, seperti merasa bahagia, merasa berguna, semangat menjalani hidup, dan
Teori
tetap berusaha memanfaatkan waktu seefektif mungkin dengan terlibat dalam
aktivitas yang disenanginya.
Penelitian Sumantri dan Riyanto (2000) yang memberikan terapi agama islam
yang berisi kalimat zikir pada penderita gangguan mental mendapatkan hasil
bahwa subjek yang diberikan terapi agama islam merasa lebih tenang.
Abdurrahman (2010), zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-
asma Allah. Sedangkan dalam arti luas zikir adalah mengingat segala
keagungan dan kasih sayang Allah dengan menaati segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Lokasi &
Yogyakarta pada Tahun 2014
Waktu
Jenis
Desain kuasi-eksperimen dengan analisis prates - pascates dan tindak lanjut
Penelitian
Para peserta terdiri atas 9 orang lansia yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu
Populasi & kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen
Sampel mendapatkan terapi zikir, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan
terapi tetaapi hanya sebagai waiting list.
Variabel Variabel independen yaitu terapi zikir & variabel dependen yaitu kesejahteraan
Penelitian psikologis
Analisis Data dari kedua kelompok dianalisis dengan U Mann Whitney Test
hasil dari prates dan pascates yaitu memiliki nilai Z = 0,369 dan p = 0,730 (p >
0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat
kesejahteraan psikologis antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Hasil
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi zikir tidak memiliki
Penelitian
pengaruh dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis pada lansia. Hal ini
disebabkan adanya gangguan pada validitas internal dan eksternal yang tidak
dapat dikontrol oleh peneliti seperti difusi dan historis.
Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas, diperoleh hasil bahwa secara
statistik tidak ada perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis antara kelompok
lansia yang mendapat terapi zikir dan kelompok lansia yang tidak mendapatkan
terapi zikir. Sekalipun demikian, secara kuantitatif ada peru-bahan yang dialami
subjek setelah mengikuti terapi zikir. Difusi atau imitasi perlakuan dapat terjadi
interaksi antara anggoota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Anggota
kelompok kontrol mempelajari apa yang diberikan kepada kelompok
eksperimen, sehingga memengaruhi hasil pengukurannya (Latipun, 2006;
Gravetter & Forzano, 2012). Pembelajaran perlakuan yang diberikan kepada
kelompok eksperimen oleh kelompok kontrol terjadi terutama saat terjadi
kontak antara subjek pada kedua kelompok atau menirukan perilaku yang
terjadi pada kelompok perlakuan. Dalam penelitian ini peneliti tidak dapat
Pembahasan
mencegah bertemunya kedua anggota kelompok yang memungkinkan adanya
komunikasi di antara kedua kelompok tentang tritmen yang diberikan terhadap
kelompok eksperimen. Hal tersebut dapat terjadi karena kedua kelompok
tinggal dalam satu lingkungan yang sama dan memiliki hubungan yang akrab
sehingga memung-kinkan terjadinya interaksi. Adanya interaksi antara kedua
kelompok memungkinkan terjadinya kebocoran informasi tentang tritmen yang
diberikan kepada kelompok eksperimen sehingga informasi mengenai tritmen
yang seharusnya hanya diberikan pada kelompok eksperimen juga diterima oleh
kelompok kontrol. Faktor lain yang menjadi pengganggu validitas internal pada
penelitian ini adalah historis. Historis adalah kejadiankejadian di lingkungan
penelitian di luar perlakuan yang muncul selama penelitian berlangsung, yaitu
antara tes pertama dan tes berikutnya.

Penulis Januarti Isnaeni, Rahayu Wijayanti, dan Arif Setyo Upoyo


Efektifitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Halusinasi Terhadap
Judul Penurunan Kecemasan Klien Halusinasi Pendengaran Di Ruang Sakura RSUD
Banyumas
Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi sudah dilakukan di
Masalah RSUD Banyumas, tetapi belum pernah ada yang meneliti tentang efektifitas
terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi untuk menurunkan kecemasan pada
klien halusinasi pendengaran.
Tujuan umumnya untuk mengetahui efektifitas terapi aktivitas kelompok
Tujuan stimulasi persepsi halusinasi menurunkan kecemasan klien halusinasi
pendengaran.
Johanes (2008) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang
mempengaruhi daya tahannya dalam menghadapi stres.
Kuncoro (2002), dalam Darwanti (2007) kecemasan merupakan gejala umum
yang dihadapi oleh orang yang sedang terancam kehidupannya, dengan reaksi
Teori individu sangat beragam. Kebanyakan orang mampu untuk menghentikan
kecemasan, dengan cara mengidentifikasi dan mengubah pemikiran yang
menyertai rasa panik tersebut. Upaya lain yang bisa dilakukan untuk
mengurangi kecemasan ini antara lain dengan cara menurunkan persepsi tentang
bahaya atau meningkatkan rasa percaya diri untuk mengatasi ancaman.
Lokasi & Pada bulan Januari-Februari 2008 di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah
Waktu Banyumas
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian komparatif dengan
Jenis pendekatan quasi eksperimental design: non equivalent control group design
Penelitian dimana ada satu kelompok klien diberikan perlakuan dan mempunyai kelompok
kontrol
Populasi & Sampel yang digunakan berjumlah 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan
Sampel eksklusi.
Variabel Variabel independen yaitu efektifitas terapi aktivitas kelompok & variabel
Penelitian dependen yaitu penurunan kecemasan
Analisa data yang digunakan adalah Distribusi frekuensi dengan uji paired t
Analisis
test.
Dari hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan antara tingkat kecemasan
sebelum dilakukan TAK stimulasi persepsi halusinasi dengan tingkat
Hasil
kecemasan setelah dilakukan TAK stimulasi persepsi halusinasi. Dari hasil uji
Penelitian
statistik menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat kecemasan pada klien yang
tidak dilakukan TAK stimulasi persepsi halusinasi.
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin tinggi keberhasilannya
melawan stress. Orang yang pendidikannya tinggi lebih mampu mengatasi
masalah daripada orang yang pendidikannya rendah. Pendidikan bagi
seseoarang merupakan pengaruh dinamis dalam perkembangan jasmani, jiwa,
perasan sehingga tingkat pendidikan yang berbeda akan memberi jenis
pengalaman yang berbeda juga. Tetapi setelah dilakukan TAK stimulasi
persepsi halusinasi kecemasan responden menurun. Penurunan kecemasan pada
responden setelah dilakukan TAK stimulasi persepsi halusinasi dapat terjadi
Pembahasan
karena responden sudah mampu mengenal halusinasi, mengenal waktu dan
situasi terjadinya halusinasi dan mengenal perasaannya pada saat terjadi
halusinasi. Dari pelaksanaan TAK stimulasi persepsi halusinasi, responden juga
telah mampu memperagakan cara mengontrol dan mencegah halusinasi yaitu
dengan cara menghardik, melakukan kegiatan harian terjadwal, melakukan
percakapan dengan orang lain dan mampu menggunakan obat dengan prinsip 5
benar serta mampu mengenal keuntungan minum obat dan kerugian akibat tidak
minum obat.

Penulis Alkhosiyah Alfi Zelika & Deden Dermawan


Kajian Asuhan Keperawatan Jiwa Halusinasi Pendengaran Pada Sdr. D Di
Judul
Ruang Nakula RSJD Surakarta
Semakin meningkatnya angka kejadian pada pasien halusinasi di Rumah Sakit
Masalah
Jiwa Daerah Surakarta periode Januari–April 2013
Tujuan Untuk mengetahui gambaran umum tentang asuhan keperawatan dengan
halusinasi pendengaran dan mampu menerapkan suatu konsep tentang asuhan
keperawatan secara komprehensif melalui proses keperawatan, dengan tujuan
khusus mendeskripsikan hasil pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan
tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi kaperawatan jiwa pada Sdr. D di
Ruang Nakula RSJD Surakarta.
Dermawan dan Rusdi (2013) Klasifikasi halusinasi adalah halusinasi non
patologis: halusinasi hipnogonik dan halusinasi hipnopomik. Halusinasi
patologis: halusinasi pendengaran (auditory), halusinasi penglihatan (visual),
halusinasi penciuman (olfactory), halusinasi pengecapan (gusfactory),
halusinasi perabaan (taktil).
Direja (2011), Penyebab Halusinasi : 1). Faktor Predisposisi: genetika,
neurobiologi, neurotransmitter, abnormal perkembangan syarat, psikologis, 2).
Faktor presipitasi: proses pengolahan informasi yang berlebihan, mekanisme
Teori
penghantaran listrik yang abnormal, adanya gejala pemicu. Manifestasi Klinik
Halusinasi tanda dan gejala halusinasi pendengaran: data subjektif:
mendengarkan suara atau kegaduhan, mendengar suara yang mengajak
bercakap-cakap, mendengarkan suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang
berbahaya. Data objektif: bicara atau tertawa sendiri, marahmarah tanpa sebab,
mengarahkan telinga ke arah tertentu, menutup telinga. Fase halusinasi adalah:
1). fase pertama (fase Comporting), 2). fase kedua (fase Condemming), 3) fase
Ketiga (fase Controlling), 4). fase Keempat (fase conquering).
Lokasi & Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15-17 April 2014, di Ruang Nakula
Waktu Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta
Jenis penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus, dengan pendekatan proses
Penelitian keperawatan (nursing proses).
Sebanyak 12 pasien yaitu pasien jiwa dengan halusinasi yang berada di Ruang
Populasi &
Nakula. Sampel: pengambilan sampel dengan menggunakan tehnik purpose
Sampel
sampling.
Variabel
Asuhan keperawatan jiwa halusinasi pendengaran
Penelitian
Metode wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan.
Instrument penelitian yang digunakan pada wawancara yaitu peneliti sendiri
Analisis dengan alat bantu pedoman pengkajian dan Strategi Pelaksanaan (SP).
Sedangkan instrumen yang lain dengan menggunakan tensimeter, termometer
dan timbangan.
Setelah dilakukan interaksi selama 4 kali pertemuan dan melaksanakan SP I
sampai SP IV pasien mampu mengidentifikasi halusinasinya dan pasien mampu
melakukan cara mengontrol halusinasi menghardik, bercakap–cakap dengan
orang lain, ketika halusinasinya muncul mampu melakukan kegiatan terjadwal
Hasil
sudah dilakukan dengan optimal dan mandiri, cara mengontrol halusinasi
Penelitian
dengan minum obat sudah dilakukan dengan optimal. Simpulan penelitian ini
adalah pasien mampu melaksanakan SP yang sudah diajarkan peneliti dan
melaksanakan jadwal harian sesuai dengan waktunya, halusinasi yang pasien
alami berkurang setelah pasien berlatih mengontrol halusinasi.
Setelah mempelajari catatan status keperawatan pasien, peneliti melaksanakan
komunikasi dengan pasien dengan wawancara agar memperoleh data yang lebih
lengkap dan validasi data mengenai keadaan yang dirasakan pasien sekarang.
Metode ini dilakukan langsung pada pasien saat proses pengelolaan asuhan
keperawatan. Langkah selanjutnya peneliti melakukan pemeriksaan fisik kepada
Pembahasan
pasien. Diagnosa Keperawatan yang menonjol pada Sdr. D yaitu gangguan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Didapatkan data pasien mengatakan
mendengar suara yang mengejeknya, pasien mengatakan mendengar bisikan
setiap saat, pasien mengatakan mendengar bisikan berkali-kali, pasien
mengatakan mendengar bisikan pada situasi yang tidak tentu. Evaluasi hasil
interaksi yang diperoleh setelah dilakukan tindakan yaitu pasien mampu
mengidentifikasi halusinasi dirinya berupa halusinasi pendengaran, pasien
mampu memakai cara-cara yang diajarkan untuk mengontrol halusinasi: pasien
mampu melakukan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik, pasien
mampu melakukan cara mengontrol dengan bercakapcakap dengan orang lain,
pasien mampu melakukan cara mengontrol halusinasi dengan melakukan
kegiatan harian yang bisa dilakukan pasien dan yang keempat dengan minum
obat secara teratur sudah dilakukan dengan optimal dan mandiri.

Penulis Eva Dwi Mayrani & Elis Hartati


Intervensi Terapi Audio Dengan Murottal Surah Ar-Rahman Terhadap Perilaku
Judul
Anak Autis
Gangguan perilaku yang umum dialami oleh anak autis antara lain gangguan
Masalah
dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku motorik, dan emosi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberikan gambaran
Tujuan
pengaruh terapi audio dengan murottal surah Ar-Rahman terhadap anak autis.
Priyatna (2010) Autisme merupakan sebuah sindrom yang disebabkan oleh
kerusakan otak kompleks yang mengakibatkan terjadinya gangguan perilaku,
emosi, komunikasi, dan interaksi social.
Abdurrachman & Andhika (2008) Terapi dengan alunan bacaan AlQur’an.
Stimulan murottal Al-Qur’an dapat dijadikan alternatif terapi baru sebagai
terapi relaksasi bahkan lebih baik dibandingkan dengan terapi audio lainnya
karena stimulan Al-Qur’an dapat memunculkan gelombang delta sebesar
63,11%.
Widhowati (2010) Audio surah Ar-Rahman telah diteliti sebelumnya dan
Teori terbukti efektif menurunkan tingkat perilaku kekerasan dan membantu pasien
mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih adaptif.
Kemper & Suzanne (2004) dalam Gray (2012) Terapi audio dengan murottal
surah Ar-Rahman dapat digunakan sebagai alternatif terapi pendamping pada
anak autis sesuai dengan teori yang telah ada bahwa suara dapat mengontrol
seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vital, dan koordinasi gerakan-gerakan.
Terapi audio dapat menghilangkan tegangan otot dan stress, mengurangi rasa
sakit, kecemasan, menstimulasi sistem imun, menurunkan tekanan darah, serta
meningkatkan komunikasi pada pasien dengan autisme, gangguan pendengaran,
dan penyakit Alzheimer.
Lokasi & Penelitian dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang karena
Waktu merupakan SLB yang telah terakreditasi secara nasional.
Jenis
Penelitian menggunakan desain pra eksperimental
Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak autis di SLBN Semarang yang
beragama Islam dan berusia 6-12 tahun (usia sekolah) yaitu berjumlah 29 anak.
Populasi &
Pemilihan sampel teknik non probability sampling dengan purposive sampling.
Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah 18 responden terdiri dari 16 laki-laki dan 2
perempuan.
Variabel Variabel independen yaitu terapi audio dengan murottal surah ar-rahman &
Penelitian variabel dependen yaitu perilaku anak autis
Analisis Analisis distribusi frekuensi
Hasil ini menunjukkan adanya penurunan gangguan perilaku anak autis pada
Hasil
aspek interaksi sosial, perilaku, dan emosi setelah mendapatkan terapi audio
Penelitian
dengan murottal surah Ar-Rahman.
Efek suara berkaitan dengan proses impuls suara ditransmisikan ke dalam tubuh
Pembahasan dan mempengaruhi sel-sel tubuh. Suara yang diterima oleh telinga kemudian
dikirim ke sistem saraf pusat kemudian ditransmisikan ke seluruh organ tubuh.
Suara mempengaruhi sel tubuh yang memiliki vibrasi masing-masing dan
menyebabkan sel tubuh menyusun ulang artikelal di dalamnya. Saraf vagus
membantu regulasi kecepatan denyut jantung, respirasi, kemampuan bicara,
membawa impuls sensorik motorik ke tenggorokan, laring, jantung, dan
diafragma, sehingga efek suara pada anak autis dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi anak.

Penulis Dwi Ariani Sulistyowati, E. Prihantini


Pengaruh Terapi Psikoreligi Terhadap Penurunan Perilaku Kekerasan Pada
Judul
Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta
Permasalahan utama yang sering terjadi pada pasien Schizofrenia adalah
perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang
Masalah
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Psikoreligius
Tujuan
terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien Schizofrenia.
Stuart dan Laraia (2005) Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana
seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik
kepada diri sendiri maupun orang lain, sering disebut juga gaduh gelisah atau
amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan
motorik yang tidak terkontrol.
Teori
Stuart dan Sundeen (2006) Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana
seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan
untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.

Lokasi &
Di RSJD Surakarta pada Tahun 2014
Waktu
Jenis Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen dengan design penelitian
Penelitian menggunakan Pre and Post test Control Group Design.
Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 40 responden, dengan
Populasi & pembagian 20 responden menjadi kelompok perlakuan, dimana pada responden
Sampel diberikan terapi psikoreligi, sedangkan 20 responden menjadi kelompok kontrol
yang tidak diberikan terapi psikoreligi.
Variabel Variabel independen yaitu terapi psikoreligi & variabel dependen yaitu
Penelitian penurunan perilaku kekerasan
Analisis Analisa data yang digunakan adalah uji paired t test.
Terjadi penurunan respon perilaku antara pretest dan postest pada kelompok
Hasil
perlakuan dan kelompok kontrol menunjukan adanya penurunan yang lebih
Penelitian
signifikan pada kelompok perlakuan.
Penurunan ini meliputi penurunan pada respon fisik. Didalam ajaran agama
manapun bahwa sesorang yang akan melakukan Doa, Dzikir dan mengikuti
ceramah agama disunahkan untuk mensucikan diri, khusus dalam ajaran islam
(berwudhlu). Menurut H.R Buchori Muslim bahwa air wudhlu dapat
merangsang syaraf yang ada pada tubuh kita. Dengan demikian aliran darah
yang ada pada tubuh kita menjadi lancar, sehingga tubuh kita akan menjadi rilek
Pembahasan dan akan menurunkan ketegangan. Dimana kalau kondisi tegang tidak segera
dinetralisir akan berdampak kemarahan. Dari sudut ilmu kedokteran jiwa atau
keperawatan jiwa atau kesehatan jiwa, doa dan dzikir (psikoreligius terapi)
merupakan terapi psikiatrik setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa
(Ilham, 2008) Dengan demikian orang yang mengikuti terapi psikoreligi akan
membatasi geraknya karena dia berfokus pada kegiatanya sehingga dapat
mengurangi agresif fisik klien (Videbecck, 2008)
Penulis Aristina Halawa
Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok: Stimulasi Persepsi Sesi 1-2 Terhadap
Judul Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasienskizofrenia Di
Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwamenur Surabaya
Pasien halusinasi biasanya lama dalam hal mengontrol halusinasi bahkan setelah
Masalah pasien pulang pun masih mengalami halusinasi. TAK sudah dilakukan tetapi
masih belum spesifik sesuai masalah pasien.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Terapi Aktivitas
Kelompok: Stimulasi Persepsi Sesi 1-2 terhadap kemampuan mengontrol
Tujuan
halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia di Ruang Flamboyan Rumah
Sakit Jiwa Menur Surabaya.
Ayu (2010) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK): Stimulasi Persepsi merupakan
salah satu jenis terapi yang dinilai cukup efektif untuk mengontrol halusinasi
pasien.
Farida danYudi (2010) Tindakan yang dapat diberikan pada pasien halusinasi
pendengaranya itu dengan Terapi Aktivitas Kelompok khususnya Stimulasi
Persepsi. Terapi ini merupakan terapi yang bertujuan untuk mempersepsikan
stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat sehingga pasien dapat
Teori
menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus.
Purwaningsih dan Ina (2010) Penggunaan terapi kelompok dalam praktek
keperawatan jiwa akan memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan,
pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan. Terapi Aktivitas Kelompok:
Stimulasi Persepsi ini sebagai upaya untuk memotivasi proses berpikir,
mengenal halusinasi, melatih pasien mengontrol halusinasi serta mengurangi
perilaku maladaptive.
Lokasi &
di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya pada Tahun 2014
Waktu
Jenis Desain penelitian yang digunakan adalah Pra Eksperimen dengan menggunakan
Penelitian one group pre-post test design
Populasi pada penelitian ini sebanyak 10 respondenya itu seluruh pasien
Populasi &
skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran dan jumlah sampel yang
Sampel
diambil adalah 9 responden dengan menggunakan Simple Random Sampling.
Variabel Variabel independen yaitu terapi aktivitas kelompok (TAK) & variabel dependen
Penelitian yaitu kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran.
Analisis Analisis data menggunakan uji Wilcoxon
hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mampu
mengontrol halusinasi sebelum TAK sebanyak 6 orang (66.7%), sebagian besar
Hasil
responden mampu mengontrol halusinasi setelah TAK sebanyak 8 orang (88.9%)
Penelitian
dan ada pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok: Stimulasi Persepsi Sesi 12
terhadap kemampuan mengontrol halusinasi dengan nilai p=0.025.
Pelaksanaan TAK berpengaruh terhadap kemampuan pasien dalam hal
mengontrol halusinasi dengan dilaksanakannya TAK hampir seluruh responden
dapat mengingat dan melakukan kedua cara untuk mengontrol halusinasi baik
secara mandiri maupun sedikit dibantu (diingatkan). Hal ini disebabkan adanya
konsentrasi responden yang baik dan adanya ketertarikan responden terhadap
TAK yang dilaksanakan sehingga setelah dilaksanakannya TAK ini, kemampuan
Pembahasan
responden dalam mengontrol halusinasi dapat mengalami peningkatan.
Ketertarikan responden mengikuti TAK akan menambah pengalaman lagi bagi
pasien yang sudah pernah mengikuti TAK, sehingga hal ini tentunya akan
menguatkan informasi yang tersimpan dalam memori pasien. Pengalaman dapat
diartikan sebagai memori episodic, yaitu memori yang menyimpan peristiwa
yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang
berfungsi sebagai referensi otobiografi.
B. Jurnal Internasional

Penulis Suryani
Salat and Dhikr to Dispel Voices: The Experience of Indonesian Muslim with
Judul
Chronic Mental Illness
Pasien yang diwawancarai tentang pengalaman mereka mendengar suara-suara
Masalah
dan delusi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman dari
Tujuan menghilangkan suara sebagai diartikulasikan oleh Muslim Indonesia dengan
penyakit mental kronis
Johnson, et al (2002), Yip (2003), Tsai and Chen (2005) , McNiel et al, (2000)
Teori Vandenbroeck (2008)
Lokasi &
Di Sumedang pad Tahun 2013
Waktu
Jenis Pendekatan fenomenologis deskriptif diterapkan di memberi penjelasan
Penelitian fenomena menghilangkan suara-suara dalam penelitian ini
Populasi & 24 peserta yang terlibat dalam penelitian ini. Usia peserta berkisar dari 19-56
Sampel tahun. 10 peserta laki-laki dan 14 dari mereka adalah perempuan
Variabel Variabel independen salat dan dzikir & variabel dependen yaitu menghilangkan
Penelitian suara
Analisis Analisis transkrip peserta dilakukan dengan menggunakan pendekatan Colaizzi
Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman muslim Indonesia dengan penyakit
mental kronis di dispeling suara. Temuan penelitian ini diartikulasikan bahwa
Hasil Muslim Indonesia dilakukan salat dan dzikir untuk menghilangkan suara-suara.
Penelitian Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa mendengar suara-suara memiliki arti
yang signifikan untuk individuals.28 The cara mereka menghilangkan suara-
suara dipengaruhi oleh latar belakang agama mereka.
Seperti yang disajikan dalam temuan, sebagian besar peserta percaya bahwa
suara-suara itu setan suara. Temuan studi ini konsisten dengan studi oleh Sylvia
et al, 2006 di Swiss di mana salah satu peserta dalam studi mereka percaya
bahwa halusinasi dan delusi nya karena spirits.17 buruk Temuan Wahass dan
studi Kent, 1997 di Inggris juga mirip dengan temuan studi ini sehubungan
dengan keyakinan bahwa mendengar suara-suara disebabkan oleh Satan.14
temuan studi ini juga sejalan dengan temuan sebuah studi oleh Kurihara et al,
Pembahasan 2006 di Bali , Indonesia di mana sebagian besar peserta dalam penelitian
mereka melaporkan bahwa skizofrenia atau penyakit mental kronis yang
disebabkan oleh witchcraft sebagian besar peserta dilakukan salat dan zikir
setiap kali mereka mendengar suara-suara. Mereka mencari bentuk bantuan
Allah karena mereka percaya bahwa Allah adalah yang paling kuat dan penuh
belas kasihan, hanya dengan mencari bantuan dari dia dapat dilindungi orang-
orang dari roh jahat. Pada saat mencari bantuan Allah, peserta berbalik untuk
melakukan salat dan zikir sebagai sarana memohon bantuan Allah.
Penulis Suryani
A Critical Review of Symptom Management of Auditory Hallucinations in
Judul
Patient with Schizophrenia
Halusinasi pendengaran adalah gejala utama skizofrenia. Diperkirakan bahwa
prevalensi halusinasi pendengaran pada orang dengan kisaran skizofrenia dari
Masalah
64,3% menjadi 83,4%. Halusinasi pendengaran berdampak pada kehidupan
sehari-hari penderitanya.
Tinjauan ekstensif dari literatur dilakukan untuk menemukan manajemen gejala
yang telah dikembangkan dalam mengurangi halusinasi pendengaran dari
Tujuan
CINAHL, PsyInfo, Kesehatan dan Kedokteran Lengkap, ProQuest Jurnal
Psikologi, ProQuest Jurnal Sosial, Science Direct, Web of Science dan Scopus.
Tsai and Chen, (2005), (Hayashi et al., 2007), Penn, Meyer, Evans, Wirth, Cai
Teori
dan Burchinal (2009), Badcock, (2008), Lysaker and La Rocco (2009)
Lokasi &
-
Waktu
Jenis
Kajian kepustakaan 15 jurnal
Penelitian
Populasi &
-
Sampel
Variabel
Review halusinasi pendengaran penderita skizofrenia
Penelitian
Dalam melakukan tinjauan literatur, pencarian komputerisasi yang ekstensif
dilakukan dengan menggunakan semua kata kunci diidentifikasi dan istilah
Analisis indeks yang digunakan oleh database masing-masing. Database literatur berikut
dicari menggunakan kata-kata kunci: manajemen gejala, halusinasi
pendengaran, Skizofrenia' dan mendengar suara-suara.
Berdasarkan analisis dari 15 artikel, bukti yang menunjukkan bahwa CBT dan
perawatan psikologis lainnya memiliki bermanfaat bagi individu yang
mengalami halusinasi pendengaran. Namun, individu yang mengalami
Hasil
halusinasi pendengaran bukan hanya penderita yang perlu diobati tetapi orang
Penelitian yang dapat mengembangkan strategi mereka sendiri hidup dengan halusinasi
pendengaran. Oleh karena itu, penting bagi perawat untuk melibatkan mereka
dalam pengelolaan halusinasi pendengaran.
Lima puluh delapan orang mengalami skizofrenia dengan halusinasi
pendengaran dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Kelompok eksperimen menerima program manajemen gejala halusinasi
pendengaran yang melibatkan pertemuan 60 menit seminggu sekali, untuk total
10 pertemuan. Kelompok kontrol menerima perawatan rutin. Data dikumpulkan
pada awal, segera setelah intervensi dan pada 3 bulan dan 6 bulan pasca
intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen
mencapai penurunan lebih besar dalam Karakteristik Auditory Halusinasi skor
Angket dari kontrol pada 3 dan 6 bulan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
Pembahasan program pengelolaan gejala efektif dalam mengurangi gejala halusinasi
pendengaran. Analisis temuan dari studi yang dibahas di atas menunjukkan
bahwa, meskipun beberapa variasi dalam kesimpulan studi, ada bukti kuat yang
menunjukkan bahwa CBT dan perawatan psikologis lain yang bermanfaat bagi
individu yang mengalami halusinasi pendengaran. Selain itu, penting untuk
dicatat bahwa individu yang mengalami halusinasi pendengaran bukan hanya
penderita yang perlu diobati tetapi orang yang dapat mengembangkan strategi
mereka sendiri hidup dengan halusinasi pendengaran (Adame & Knudson,
2007).
Penulis Ziasma Haneef Khan, Imran Mughal, & Yousaf Khan
Combination of Psychological and Religious Intervention in Reducing
Judul
Psychological Distress antara mahasiswa Universitas
Selama stres diinduksi hidup seperti trauma fisik, kerugian yang serius, masalah
hubungan, stres kerja, kemunduran keuangan, masalah fisik dan psikologis dan
Masalah
perubahan tidak dapat diterima lainnya dalam pola hidup, individu mungkin
berbeda dalam reaksi mereka, penilaian dan mengatasi gaya terhadap stres ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak dari intervensi
Tujuan agama dalam kombinasi dengan intervensi psikologis pada emosional distress
selama stres kehidupan yang dirasakan
G. Parker and L. B. Brown (1982), Daniel N.McIntosh (1995), (McIntosh,
Teori 1995), Kenneth I (1997), L.R.Derogatis and M.S.Spencer (1982), Kate
M.Loewenthal, (2000)
Lokasi &
-
Waktu
Jenis
Studi kualitatif
Penelitian
Populasi & 20 siswa dari MS dan MA tingkat (sebelumnya), terdaftar dalam program pagi
Sampel University of Karachi.
Variabel
Kombinasi psikologi, religi, intervensi distress
Penelitian
Analisis Statistik Sarana dan Standar Deviasi dihitung untuk menganalisis
Analisis
statistik deskriptif pada semua tanggapan dari subskala tekanan psikologis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi agama memberikan harapan
yang lebih besar, kedamaian batin , pengentasan kecemasan, depresi dan
permusuhan, pengurangan ketegangan dan lebih kepuasan batin dalam sebagian
Hasil
besar peserta. Hal itu menegaskan temuan sebelumnya bahwa agama Islam
Penelitian dapat membantu umat Islam menghadapi tantangan hidup. Ini membuktikan
bahwa beralih ke agama dan menemukan makna merupakan sumber penting
dalam menghadapi ancaman kehidupan.
Penelitian intervensi psikologis dalam profesi medis (dokter, psikolog klinis,
psikiater, perawat) dalam masyarakat Pakistan melibatkan penggunaan
perawatan terapi psikologis dan kurang penggunaan intervensi agama dalam
mengobati masalah psikologis dibandingkan dengan barat di mana dokter,
dokter, perawat dan konselor mendukung koping agama dalam mengobati
Pembahasan pasien mereka 0,31 dukungan penelitian lebih lanjut untuk signifikan pengaruh
orientasi keagamaan dan mengatasi agama di kesehatan mental ditemukan di
sampel menghadapi events.32 kehidupan negatif yang signifikan. Penjelasan
lain yang mungkin untuk hasil yang diberikan adalah peran restrukturisasi
kognitif dalam meminimalkan emosi negatif dan mengatasi stressor dengan
terlibat dalam penanggulangan agama positif.
Penulis Arthur Saniotis
Understanding Mind/Body Medicine from Muslim Religious Practices of Salat and
Judul
Dhikr
Saat ini, ada kebutuhan untuk dokter untuk menggabungkan teknik yang lebih pikiran /
Masalah tubuh karena peningkatan dramatis dalam berhubungan dengan gangguan stres kronis
di seluruh dunia.
Tujuan Untuk lebih memahami aspek pikiran / tubuh dari salat Muslim dan dzikir.
Syed (2002), Deuraseh and Talib (2005), (Pace et al. 2009), Alberini (2009),
Teori
Luders et al. (2011), Noakes and Spedding (2012), Mattson (2012)
Lokasi &
New York padaTahun 2015
Waktu
Jenis
Kajian kepustakaan
Penelitian
Populasi &
-
Sampel
Variabel
-
Penelitian
Analisis Meninjau beberapa buku dan jurnal
Kedua praktek ritual yang tertanam dalam psikologi banyak Muslim.
Sedangkan aspek sejarah dan agama dari salat dan zikir didokumentasikan
dengan baik, ada beberapa studi yang dilakukan pada aspek terapi mereka.
Hasil Dalam pandangan penulis, penelitian itative lebih kuantitatif dan qual-
Penelitian diperlukan dalam lebih lanjut meneliti aspek pikiran / tubuh dari salat dan zikir.
Penelitian baik-bulat bisa menggabungkan antropologis, psikologis, ilmu syaraf,
dan pendekatan epidemiologi untuk memahami sifat multi-faktorial dua praktek
ini.
Penelitian medis dalam salat dan zikir harus dilakukan dengan kepekaan terhadap
keyakinan dan nilai-nilai Islam. Selain itu, penelitian tersebut harus dilakukan dengan
pemandangan mendidik dokter Muslim pada salat dan zikir sebagai obat pikiran /
Pembahasan
tubuh. Hal ini karena Islam adalah peduli dengan kesehatan dan kesejahteraan Muslim,
yang salat dan dzikir juga dapat dipromosikan oleh dokter sebagai membina psiko-fisik
kesejahteraan.