You are on page 1of 19

Mengenal Tulisan Jurnalistik: Feature

(Berita Kisah, Berita Khas) 30 Juli, 2009


Posted by abdurrosyid in Hobiku
Menulis.
Tags: berita, feature, jurnalistik, khas, kisa
h, tulisan
trackback
Apakah yang disebut sebagai feature?
Dalam ilmu jurnalistik, feature merupakan
salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan
karakter human interest yang kuat. Feature
adalah sebuah tulisan jurnalistik juga,
namun tidak selalu harus mengikuti rumus
klasik 5W + 1 H.
Feature adalah jenis tulisan yang lebih
bersifat menghibur, isinya kadang sesuatu
yang remeh dan luput dari liputan
wartawan straight news, tetapi tidak terlalu
terikat dengan tenggat waktu. Ia bisa
ditulis kapan saja dan di-publish kapan
saja. Karenanya, ia awet.
Menulis feature lebih ’santai’, tidak
dituntut tenggat, dan bisa bicara apa saja.
Memang konsekuensinya, nilai beritanya
tidak ‘hard’ alias tidak banyak diburu
orang. Bagaimanapun orang cenderung
pada berita terbaru ketimbang yang santai.
Sebuah feature hendaknya ditulis dengan
gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa
sehingga susunan kata dan kalimatnya
mampu menggambarkan atau melukiskan
suatu profil atau peristiwa tertentu. Oleh
karena itu, feature sesungguhnya sebuah
“cerita”, tapi bukan cerita mengenai fiksi
melainkan mengenai fakta. A feature is a
story about facts, not about fiction (feature
ialah cerita tentang fakta, bukan tentang
fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi
disebut novel, cerita pendek.
Bentuk tulisan feature tidak terpaku pada
bentuk piramida terbalik. Justru
mengharapkan pembaca mengikuti dengan
seksama dari awal hingga akhir tulisan.
Kalau diberita langsung (straight news)
pembaca cukup membaca paragraf awal
tulisan, maka di dalam feature justru inti
tulisan baru ditemukan bila membaca dari
awal hingga akhir. Dalam penulisan
feature agar tidak tersesat kemana mana,
tentukan dulu angle/sudut pandang tulisan
yang akan memandu arah tulisan.
Fungsi feature mencakup lima hal:
a. Melengkapi sajian berita langsung
(straight news).
b. Pemberi informasi tentang suatu situasi,
keadaan, atau peristiwa yang terjadi.
c. Penghibur dan pengembangan imajinasi
yang menyenangkan.
d. Wahana pemberi nilai dan makna
terhadap suatu keadaan atau peristiwa.
e. Sarana ekspresi yang paling efektif
dalam mempengaruhi khalayak.
Tulisan feature mempunyai beberapa
ciri khas, antara lain:
1. Mengandung segi human
interest. Tulisan feature memberikan
penekanan pada fakta-fakta yang dianggap
mampu menggugah emosi-menghibur,
memunculkan empati dan keharuan.
Dengan kata lain, sebuah feature juga
harus mengandung segi human interest
atau human touch-menyentuh rasa
manusiawi. Karenanya, feature termasuk
kategori soft news (berita ringan) yang
pemahamannya lebih menggunakan emosi.
Berbeda dengan hard news (berita keras),
yang isinya mengacu kepada dan
pemahamannya lebih banyak
menggunakan pemikiran.
2. Mengandung unsur sastra. Satu hal
penting dalam sebuah feature adalah ia
harus mengandung unsur sastra. Feature
ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi.
Karenanya, tulisan feature mirip dengan
sebuah cerpen atau novel-bacaan ringan
dan menyenangkan-namun tetap informatif
dan faktual. Karenanya pula, seorang
penulis feature pada prinsipnya adalah
seorang yang sedang bercerita.
Jadi, feature adalah jenis berita yang
sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi
bagian dari pemenuhan fungsi menghibur
(entertainment) sebuah surat kabar.
Ada berapa jenis feature-kah yang
selama ini dikenal dalam dunia
jurnalistik?
Ada puluhan jenis feature. Mulai dari
feature tentang manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah,
antropologi, luar angkasa, hantu-hantu.
Menurut Wolseley dan Campbell terdapat
enam jenis feature:
1. Feature minat insani (human interest
feature)
2. Feature sejarah (hystorical feature)
3. Feature biografi (biografical feature)
4. Feature perjalanan (travelogue feature)
5. Feature yang mengajarkan keahlian
(how-to-do feature)
6. Feature ilmiah (scientific feature)
Berikut ini penjelasan singkat mengenai
beberapa jenis feature.
Feature human interest (human interest
feature), ialah feature yang langsung
menyentuh keharuan, kegembiraan,
kejengkelan atau kebencian, simpati, dan
sebagainya. Misalnya, cerita tentang
penjaga mayat di rumah sakit, kehidupan
seorang petugas kebersihan di jalanan,
liku-liku kehidupan seorang guru di daerah
terpencil, suka-duka menjadi dai di
wilayah pedalaman, atau kisah seorang
penjahat yang dapat menimbulkan
kejengkelan.
Feature sidebar, ialah feature yang
memberitakan bagian-bagian lain dari
sebuah peristiwa besar yang di dalamnya
mengandung unsur human interest.
Seperti, nasib para pengungsi yang
kehilangan rumah ketika banjir bandang
menimpa mereka.
Feature biografi (biografical feature).
Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh
yang meninggal, tentang seorang yang
berprestasi, atau seseorang yang memiliki
keunikan sehingga bernilai berita tinggi.
Itu sebabnya, kamu bisa menuliskan
tentang profil para pemimpin Islam di
masa lalu, misalnya. Atau kamu juga bisa
cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi,
ilmuwan muslim yang menemukan angka
nol.
Feature profil (profile features),
menceritakan tentang sisi hidup publik
figur, organisasi, dan komunitas
masyarakat, misalnya berita tentang proses
hidup seorang pengusaha sukses yang
berawal dari gelandangan, cerita sukses
sebuah LSM dalam membangun
masyarakat pedalaman, atau cerita ngiris
komunitas masyarakat tertentu. Profile
feature tidak hanya cerita sukses saja,
tetapi juga cerita kegagalan seseorang.
Tujuannya agar pembaca dapat bercermin
lewat kehidupan orang lain.
Feature perjalanan (travelogue
feature). Misalnya menceritakan
pengalaman berkesan dari sebuah
perjalanan. Misalnya kunjungan ke tempat
bersejarah di dalam ataupun di luar negeri,
atau ke tempat yang jarang dikunjungi
orang. Dalam feature jenis ini, biasanya
unsur subjektivitas menonjol, karena
biasanya penulisnya yang terlibat langsung
dalam peristiwa/perjalanan itu
mempergunakan “aku”, “saya”, atau
“kami” (sudut pandang-point of view-
orang pertama). Ambil contoh tentang
perjalanan menunaikan ibadah haji.
Perjalanan ke tanah suci itu bisa kamu
tuangkan dalam sebuah tulisan bergaya
feature yang menarik. Itu sebabnya,
disarankan untuk membawa buku catatan
kecil untuk menuliskan semua peristiwa
yang dialami sebagai bahan penulisan.
Feature “dibalik layar” (explanatory
features), menceritakan tentang apa yang
sebenarnya terjadi dibalik suatu peristiwa.
Misalnya, cerita/berita tentang fakta-fakta
yang menyebabkan buruh mogok kerja.
Feature sejarah (hystorical feature), yaitu
feature tentang peristiwa masa lalu, namun
masih menarik diberitakan masa kini,
seperti berita tentang peran Soeharto pada
penumpasan PKI yang sering diberitakan
media massa menjelang beliau wafat.
Misalnya juga peristiwa Keruntuhan
Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana
al-Hamra dan benteng Granada.
‘Melongok’ kejayaan Islam di masa lalu.
Sejarah tentang kekejaman tentara Salib
saat membantai kaum muslimin, sejarah
pertama kali Islam masuk ke Indonesia dan
sebagainya. Banyak kok sejarah yang bisa
kita tulis dengan jenis feature ini.
Feature musiman (seasonal features),
bercerita tentang peristiwa unik dan
menarik yang terjadi secara rutin, baik
setiap tahun, setiap momen, atau setiap
musim. Misalnya, cerita riuh-gembira
orang-orang kampung ketika lebaran (hari
raya Idul fitri) tiba, dsb.
Feature tren (trend features), ialah feature
yang menceritakan tentang gaya hidup
komunitas tertentu atau masyarakat pada
umumnya dalam jangka waktu tertentu.
Misalnya gaya hidup remaja desa ketika
HP masuk ke kampung-kampung.
Feature petunjuk praktis (tips), disebut
juga how-to-do feature, ialah feature yang
menjelaskan tentang bagaimana suatu
perbuatan atau aktifitas dilakukan.
Misalnya, tentang bagaimana caranya
merawat mobil agar irit bensing, memasak,
merangkai bunga, membangun rumah, seni
mendidik anak, panduan memilih
perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj,
teknik beternak bebek, seni melobi calon
mertua (he..he..he..) dan sebagainya.
Feature ilmiah (scientific feature), ialah
feature mengenai ilmu pengetahuan dan
teknologi yang ditandai oleh kedalaman
pembahasan dan objektivitas pandangan
yang dikemukakan, menggunakan data dan
informasi yang memadai. Feature ilmu
pengetahuan dan teknologi dapat dimuat di
majalah teknik, komputer, pertanian,
kesehatan, kedokteran, dll. Bahkan surat
kabar pun sekarang memberi rubrik
Science Feature.
Apakah tema-tema berdasarkan bidang
/ sektor kehidupan bisa diangkat
sebagai feature?
Bisa. Misalnya bidang sosial, politik,
budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari
kesenian, pemerintahan, perdagangan dll.
Namun dalam mengangkat bidang, sektor
maupun komoditas yang lebih konkrit
menjadi sebuah feature, penulis akan
menekankan segi manusianya,
binatangnya, tumbuh-tumbuhannya atau
alamnya. Bukan menekankan segi
permasalahannya. Hal yang terakhir ini
lebih tepat diangkat menjadi artikel atau
esai.
Secara konkrit, bagaimanakah sebuah
feature ditulis?
Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang.
Straight newsnya adalah berita tentang
kecelakaan tersebut. Kemudian ada
interpreted news dari maskapai
penerbangan, pabrik pesawat, aparat
perhubungan, pihak keluarga korban dll.
mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi
artikel dari seorang pakar cuaca yang
mengulas kecelakaan tersebut dari aspek
buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi.
Feature yang bisa ditulis antara lain: 1-
mengenai istri/anak pilot yang menjadi
korban; 2- pacar pramugari yang juga
menjadi korban; 3- petugas SAR yang
tanpa kenal lelah membantu
mengumpulkan jasad para korban dll.
dengan menekankan segi human
interestnya.
Apakah yang disebut sebagai human
interest?
Human interest bisa diartikan sebagai rasa
kemanusiaan. Hingga feature yang disebut
sebagai tulisan yang menekankan segi
human interest dimaksudkan sebagai
tulisan yang menekankan segi yang bisa
menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.
Mengapa segi human interest paling
diutamakan dalam sebuah feature?
Karena berita (news) sudah ditampilkan
dengan lugas dan dengan bahasa yang
sangat formal. Dalam artikel, fakta dan
data juga harus dianalisis dengan serius
dan diberi opini yang juga harus serius.
Agar pembaca media cetak tidak bosan,
maka diperlukan sebuah bentuk tulisan
yang menekankan segi human interest.
Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan
dalam feature. Dalam perkembangan lebih
lanjut, berita pun bisa dikembangkan
menjadi news feature, feature reporting,
feature story dll. Bahkan dalam
perkembangan lebih lanjut, feature juga
melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru
(generasi baru) yang disebut sebagai How
To Do It Article (HTDI). Cabang
jurnalisme yang pertamakali
memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah
jurnalisme kedokteran/ kesehatan pada
abad XVI dan XVII.
Apakah segi human interest tersebut
sudah melekat pada meteri tulisan, atau
merupakan kreasi penulisnya?
Segi human interest dalam sebuah feature,
harus benar-benar faktual (berupa fakta
nyata) yang melekat pada materi (bahan)
tulisan. Keterampilan penulis hanya
dituntut untuk menyeleksi dan mengolah
bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah
menjadi tulisan dan disampaikan ke
pembaca, akan bisa menyentuh perasaan.
Kalau segi human interest tersebut
merupakan hasil imajinasi atau
keterampilan berpikir si penulis, maka
tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan
feature.
Apa sajakah yang bisa dikatagorikan
sebagai human interest?
Yang bisa dikatagorikan sebagai human
interest antara lain: masalah percintaan;
perjalanan/perjuangan hidup manusia,
hewan, tumbuhan maupun alam (gunung
api, bintang); kelahiran/kematian;
penderitaan (misalnya derita TKI yang
disiksa majikan di LN);
ketabahan/ketegaran dalam menghadapi
cobaan/godaan dll.
Apakah feature dengan tema
penderitaan bisa digunakan untuk
menjelek-jelekkan pihak yang
mengakibatkan penderitaan tersebut?
Bisa, namun feature tersebut akan menjadi
feature propaganda. Nilai sebuah feature
propaganda, akan lebih rendah dibanding
dengan feature yang benar-benar hanya
menceritakan penderitaan seseorang atau
sekelompok orang. Sebab yang harus
geregetan, marah dsb. adalah pembaca
media massa, setelah membaca feature
tersebut. Bukan penulisnya.
Bagaimana menulis feature (yang baik)?
Sebelum menulis, pertama-tama pilihlah
kasus yang (sangat) menarik, yang
menyangkut kepentingan banyak orang
(publik), yang prestisius untuk ditulis.
Seorang wartawan atau penulis yang baik
dan berpengalaman biasanya memiliki
nose of news (daya cium, daya endus
berita), yang akan selalu bisa terasah jika
ia memiliki “jam terbang” cukup tinggi.
Tapi, nose of news selalu bisa dilatih.
Setelah menemukan obyek, kasus atau
item tulisan, pikirkanlah apa kira-kira
angle-nya. Yang dimaksud dengan angle
ialah “sudut pandang”, apa kira-kira
masalah yang sangat penting dan relevan
dari kasus tersebut. Untuk menentukan
angle biasanya cukup sulit, sehingga
diperlukan pemikiran, perenungan, bahkan
diskusi dengan kawan-kawan.
Bagaimana trik atau cara menulis
feature?
Sebetulnya hampir sama dengan teknik
menulis artikel lainnya, hanya saja dalam
menulis feature kita dituntut untuk lebih
‘menyentuh’ dan memberikan nuansa lain
dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya,
feature bisa berfungsi sebagai penjelasan
atau tambahan untuk berita yang sudah
disiarkan sebelumnya, memberi latar
belakang suatu peristiwa, menyentuh
perasaan dan mengharukan,
menghidangkan informasi dengan
menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu
yang belum tersiar sebagai berita.
Yang perlu mendapat perhatian dalam
penulisan feature ini, adalah lead yang
menarik. Nah, lead dalam feature inilah
yang sepertinya penting, meski bukan
pokok memang. Bahkan jangan lupa,
selain lead, kita juga harus membuat tubuh
dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat
boleh jadi ‘ending’ sebuah feature sama
pentingnya dengan lead. Jadi rasa-rasanya
harus bisa menarik dan menggoda
pembaca. Misalnya memberikan
kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan’
atau sindiran yang menggoda pembaca. Di
sinilah editor biasanya paling pusing untuk
memotong tulisan jenis feature, nggak
gampang lho. Sama sulitnya dengan
‘mengobrak-abrik’ naskah cerpen.
Kenapa? Karena semua bagian dalam
feature itu penting. Itu saja.
Nah, harus diakui bahwa yang terpenting
dalam pembuatan tulisan berjenis feature
ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana.
Lead ibarat pembuka jalan. Jadi upayakan
benar-benar menarik dan mengundang rasa
penasaran pembaca untuk terus membaca.
Sebab, gagal dalam menuliskan lead
pembaca bisa ogah meneruskan membaca.
Gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu
sebabnya, penulis feature harus pintar
betul menggunakan kalimatnya. Bahasa
rapi, terjaga, bagus dan kelihaian dalam
cara memancing itu haruslah jitu. Memang
sih, tak ada teori yang baku tentang
menulis lead sebuah feature.