You are on page 1of 184

1

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGENDALIAN


DOKUMEN AKREDITASI PUSKESMAS
UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayahNya, kami dapat menyelesaaikan Pedoman Penyusunan Dokumen
Akreditasi Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba. Buku ini kami susun sebagai
salah satu upaya untuk memberikan acuan dan kemudahan dalam pelaksanaan
persiapan akreditasi baik oleh pendamping maupun pelaksanaan akreditasi UPT
Puskesmas Ngawi Purba.

Akreditasi mempersyaratkan adanya pembuktian pelaksanaan seluruh kegiatan


pelayanan melalui dokumentasi dan penelusuran,karena pada prinsip
akreditasi,seluruh kegiatan harus tertulis dan apa yang tertulis harus dikerjakan
dengan sesuai.Buku ini berisi contoh-contoh dokumen yang dapat digunakan dalam
menyusun dokumentasi akreditasi.

Pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan ucapan terimakasih dan


apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyusunan Pedoman
Penyusunan Dokuntasi Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba. Semoga dengan
digunakanya buku ini dapat mempermudah pembaca dalam menyiapkan dokumen
akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba.

Ngawi , 15 November 2016

Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba,

dr. Zain Ratna Priyanto, M.Mkes


NIP. 19730428 200312 1 004

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
ii

KEPUTUSAN KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA

Nomor: SK/001/ADMEN/2016

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGENDALIAN DOKUMEN AKREDITASI


UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA

KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya UPT Puskesmas Ngawi Purba untuk


memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan yang
sesuai dengan harapan masyarakat diperlukan suatu
pedoman atau panduan pelayanan di puskesmas yang sesuai
standar;
b. bahwa dalam menyusun pedoman atau panduan pelayan di
puskesmas yang sesuai standar, diperlukan buku pedoman
penyusunan dan pengendalian dokumen akreditasi
puskesmas ;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan b perlu
ditetapkan keputusan kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba
tentang Pedoman Penyusunan dan Pengendalian Dokumen
Akreditasi Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 ,tentang Kesehatan;

2. Permenkes Nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas;

3. Permenkes Nomor 46 tahun 2015 tentang Akreditasi

Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter,

Dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi;

4. Peraturan Bupati Ngawi Nomor 125 Tahun 2011 Tentang Tata

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
iii

Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Ngawi

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA


TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGENDALIAN
DOKUMEN AKREDITASI PUSKESMAS UPT PUSKESMAS NGAWI
PURBA

KESATU : Pedoman Penyusunan dan Pengendalian Dokumen Akreditasi


Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba dipergunakan sebagai
pedoman dalam pembuatan dan pengendalian dokumen Akreditasi di
UPT Puskesmas Ngawi Purba.
KEDUA : Sistematika Pedoman Penyusunan Dan Pengendalian Dokumen
Akreditasi Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba sebagaimana
tercantum dalam Lampiran merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari surat keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan
apabila dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat
kesalahan dalam Keputusan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Ngawi

Pada Tanggal : 15 November 2016

KEPALA

UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA,

dr. ZAIN RATNA PRIYANTO, M.Mkes


NIP. 19730428 200312 1 004

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
iv

LAMPIRAN 1: SURAT KEPUTUSAN KEPALA UPT


PUSKESMAS NGAWI PURBA
NOMOR : SK/001/ADMEN/2016
TANGGAL : 15 November 2016

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGENDALIAN DOKUMEN AKREDITASI


PUSKESMAS UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA

Sistematika Buku Pedoman Penyusunan dan Pengendalian Dokumen


Akreditasi Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba adalah sebagai berikut :

KATA PENGANTAR
SK KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA
DAFTAR LAMPIRAN SK KEPALA PUSKESMAS
Bab I. Pendahuluan
A.Latar Belakang
B.Maksud dan Tujuan
C.Sasaran
D.Dasar Hukum
Bab II. Dokumentasi Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba
A.Jenis Dokumen Berdasarkan Sumber
B.Jenis Dokumentasi Akreditasi yang harus dipersiapkan
C.Jenis Dokumen Akreditasi yang harus dikendalikan
Bab III. Penyusunan Dokumen Akreditasi
A. Penyusunan Dokumen
1. Kebijakan Kepala Puskesmas
2. Rencana Lima Tahunan Puskesmas / Rencana Strategi Bisnis ( RSB )
3. Perencanaan Tingkat Puskesmas
4. Pedoman / Manual Mutu
5. Pedoman / Panduan Teknis Terkait Program / Layanan
( Pedoman Internal )
6. SOP ( Standar Operasional Prosedur )
7. Kerangka Acuan Program ( KAP )
8. Kerangka Acuan Kegiatan ( KAK )
9. Laporan Tahunan Puskesmas
B. Pengendalian Dokumen di UPT Puskesmas Ngawi Purba
1. Tujuan
2. Ruang Lingkup
C. Rekam Implementasi
Bab IV .Penutup
Lampiran-lampiran
Ditetapkan di : Ngawi
Pada Tanggal : 15 November 2016

KEPALA
UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA

Dr. ZAIN RATNA PRIYANTO, M.Mkes


NIP. 19730428 200312 1 004

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
v

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar.......................................................................................................i

Sk Kepala Upt Puskesmas Ngawi Purba...............................................................ii

Lampiran Sk Kepala Puskesmas...........................................................................iv

Daftar Isi ................................................................................................................v

Bab I. Pendahuluan................................................................................................1

A.Latar Belakang....................................................................................................1

B.Maksud dan Tujuan.............................................................................................1

C.Sasaran...............................................................................................................2

D.Dasar Hukum......................................................................................................2

Bab II. Dokumentasi Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba.............................3

A.Jenis Dokumen Berdasarkan Sumber.................................................................3

B.Jenis Dokumentasi Akreditasi yang harus dipersiapkan.....................................3

C.Jenis Dokumen Akreditasi yang harus dikendalikan ..........................................4

Bab III. Penyusunan Dokumen Akreditasi..............................................................5

A. Penyusunan Dokumen.................................................................................5

1. Kebijakan Kepala Puskesmas..................................................................5


2. Rencana Lima Tahunan Puskesmas ( RSB )..........................................7
3. Perencanaan Tingkat Puskesmas..........................................................11
4. Pedoman / Manual Mutu........................................................................14
5. Pedoman / Panduan Teknis Terkait Program / Layanan
( Pedoman Internal )...............................................................................17
6. SOP ( Standar Operasional Prosedur )..................................................20
7. Kerangka Acuan Program ( KAP )..........................................................28
8. Kerangka Acuan Kegiatan ( KAK )................................................ .........31

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
vi

9. Laporan Tahunan Puskesmas.................................................................34

B. Pengendalian Dokumen di UPT Puskesmas Ngawi Purba.............................37

1. Tujuan ........................................................................................................37

2. Ruang Lingkup............................................................................................37

C. Rekam Implementasi........................................................................................41

Bab IV .Penutup...................................................................................................43

LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................................44

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu unsur penting yang menentukan keberhasilan akreditasi UPT
Puskesmas Ngawi Purba adalah bagaimana mengatur sistem
pendokumentasian dokumen.
Pengaturan sistem dokumentasi dalam satu dalam proses implementasi
akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba dianggap penting karena dokumen
merupakan acuan kerja, bukti pelaksanaan dan penerapan kebijakan, program
dan kegiatan, serta bagian dari salah satupersyaratan Akreditasi UPT
Puskesmas Ngawi Purba. Dengan adanya sistem dokumentasi yang baikdalam
suatu institusi/organisasi diharapkan fungsi-fungsi setiap personil maupun
bagian-bagian dari organisasi dapat berjalan sesuai dengan perencanaan
bersama dalam upaya mewujudkan kinerja yang optimal.
Dokumen yang dimaksud dalam Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba secara
garis besar dibagi atas dua bagian yaitu dokumen internal dan eksternal.
Dokumen tersebut digunakan untuk membangun dan membakukan sistem
manajemen mutu dan sistem manajemen pelayanan. Regulasi internal tersebut
berupa Kebijakan, Pedoman, Standar operasional prosedur (SOP) dan dokumen
lain disusun berdasarkan peraturan perundangan dan pedoman-pedoman
(regulasi) eksternal yang berlaku.
Agar para pemangku kepentingan Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba
memiliki acuan dan memudahkan dalam melakukan dokumentasi perlu disusun
Pedoman Penyususnan Dokumen Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Maksud
Pedoman ini dimaksudkan agar semua pemangku kepentingan memiliki acuan
dalam melakukan standarisasi tata naskah seluruh dokumen terkai akreditasi
UPT Puskesmas Ngawi Purba.

2. Tujuan

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
2

a. Tersedianya pedoman bagi Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba,


penanggung jawab dan pelaksanaan upaya kesehatan di UPT Puskesmas
Ngawi Purba dalam menyusun dokumen-dokumen yang dipersyaratkan
dalam standar akreditasi,
b. Tersedianya pedoman bagi pendamping akreditasi di Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota untuk melakukan pendampingan pada UPT Puskesmas
Ngawi Purba,
c. Tersedianya pedoman bagi Surveior dalam melakukan penilaian akreditasi
UPT Puskesmas Ngawi Purba.

C. SASARAN
1. Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba, penangung jawab, pelaksana dan Tim
Mutu/Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba
2. Pendamping dan surveior akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba
3. Pemerhati Akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba

D. DASAR HUKUM
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014
tentang Puskesmas;
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015
tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri
Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2016
tentang Manajemen Puskesmas;
4. Peraturan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba Ngawi Nomor 125 tahun
2011 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten
Ngawi;
5. Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba Nomor :
SK/001/ADMEN/2017 Pedoman Penyusunan dan Pengendalian Dokumen
Akreditasi Puskesmas UPT Puskesmas Ngawi Purba;
6. Memperhatikan buku Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Dasar tahun 2015.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
3

BAB II
DOKUMENTASI AKREDITASI UPT PUSKESMAS NGAWI
PURBA

A. Jenis Dokumentasi Berdasarkan Sumber

1. Dokumentasi Internal

Sistem manajemen mutu, sistem penyelenggaraan pelayanan upaya


kesehatan perorangan, dan sistem penyelenggaraan upaya kesehatan
masyarakat (untuk Puskesmas) perlu dibakukan berdasarkan regulasi internal
yang ditetapkan oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba. Regulasi internal
tersebut disusun dan ditetapkan dalam bentuk dokumen yang harus
disediakan oleh UPT Puskesmas Ngawi Purba untuk memenuhi standar
akreditasi. Penyusunan regulasi internal perlu didukung dengan regulasi
eksternal.

2. Dokumentasi Eksternal

Regulasi eksternal yang berupa peraturan perundangan dan pedoman-


pedoman yang diberlakukan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan
Kabupaten dan organisasi profesi, yang merupakan acuan bagi UPT
Puskesmas Ngawi Purba dalam kesehatan perorangan serta khusus bagi
Puskesmas untuk penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat.

Dokumen-dokumen eksternal sebaiknya ada di UPT Puskesmas Ngawi Purba


tersebut, sebagai dokumen yang dikendalikan, meskipun dokumen eksternal
tersebut tidak merupakan persyaratan dalam penilaian akreditasi.

B. Jenis Dokumen Akreditasi yang harus dipersiapkan


1. Dokumen yang harus dipersiapkan oleh UPT Puskesmas Ngawi Purba adalah
:
a. Kebijakan
b. Rencana 5 Tahunan Puskesmas
c. Perencanaan Tingkat Puskesmas
d. Pedoman / Manual Mutu
e. Pedoman / Panduan Teknis Terkait Program/Layanan (
Pedoman Internal)
f. SOP ( Standar Operasional Prosedur )

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
4

g. Kerangka Acuan Program ( KAP )


h. Kerangka Acuan Kegiatan (KAK )
i. Laporan Tahunan

C. Jenis Dokumen Akreditasi yang harus dikendalikan


1. Dokumen Induk
Dokumen asli dan telah disahkan oleh Kepal UPT Puskesmas Ngawi Purba
2. Dokumen Terkendali
Dokumen yang didistribusikan kepada sekretariat/ tiap unit/ pelaksana,
terdaftar dalam Daftar Distribusi Dokumen Terkendali, dan menjadi acuan
dalam melaksanakan pekerjaan dan dapat ditarik bila ada perubahan (revisi).
Dokumen ini harus ada tanda/stempel “TERKENDALI”.
3. Dokumen Tidak Terkendali

Dokumen yang didistribusikan untuk kebutuhan eksternal atau atas


permintaan pihak di luar UPT Puskesmas Ngawi Purba digunakan untuk
keperluan insidentil, tidak dapat digunakan sebagai acuan dalam
melaksanakan pekerjaan dan memiliki tanda/stempel “TIDAK TERKENDALI”.
Yang berhak mengeluarkan dokumen ini adalah Penanggung jawab
Manajemen Mutu dan tercatat pada Daftar Distribusi Dokumen Tidak
Terkendali.

4. Dokumen Kadaluwarsa.

Dokumen yang dinyatakan sudah tidak berlaku oleh karena telah mengalami
perubahan/revisi sehingga tidak dapat lagi menjadi acuan dalam
melaksanakan pekerjaan. Dokumen ini harus ada tanda/stempel
“KEDALUWARSA”. Dokumen induk diidentifikasi dan dokumen sisanya
dimusnahkan.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
5

BAB III
PENYUSUNAN DAN PENGENDALIAN DOKUMEN

A. Penyusunan Dokumen
1. Kebijakan Kepala Puskesmas
Kebijakan
Pengertian : Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba adalah
Naskah Dinas dalam bentuk dan susunan produk hukum yang bersifat
penetapan konkrit, individual, dan final.
Ciri-ciri :
Materi bersifat penetapan, dituangkan dalam Diktum KESATU, KEDUA dan
seterusnya.
Susunan :
a. Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba terdiri atas :

1) Judul Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba ;

2) Pembukaan Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba ;

3) Batang Tubuh Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba ;

4) Bagian Akhir Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba ;


b. Penjelasan format sebagaimana dimaksud huruf a sebagai berikut :

1) Judul Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba memuat :

a) Tulisan : KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA;

b) Nomor terdiri dari kode surat /nomor surat/Nama Pokja/ Tahun.


Contoh nomor Surat Keputusan Pokja Admen :
SK/001/ADMEN/2017

c) Nama Keputusan yang ditulis : TENTANG………….


2) Pembukaan Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba memuat :
a) Tulisan : KEPALA UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA;
b) Konsideran

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
6

Diawali dengan kata : Menimbang (:) , diawali dengan huruf kapital,


memuat alasan-alasan, pertimbangan-pertimbangan pembuatan
Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.
c) Dasar Hukum
Diawali dengan kata : Mengingat (: ), diawali dengan huruf kapital,
memuat dasar hukum yang berkaitan dengan penetapan Keputusan
Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba dengan memperhatikan tata
urutan dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan lain-lain
Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum
pembuatan Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.
d) Diktum terdiri atas :
i) Kata : MEMUTUSKAN ( Huruf kapital dan simetris tanpa spasi)
ii) Kata : Menetapkan : Dicantumkan setelah kata memutuskan,
sejajar dengan kata menimbang dan mengingat, huruf awal kata
menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda
baca (: ), isi sama dengan judul Keputusan, ditulis dengan huruf
kapital semua rata kanan kiri.

3) Isi Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba memuat :


a) KESATU ;
b) KEDUA, KETIGA dan seterusnya;
c) Dicantumkan saat berlakunya keputusan, perubahan, pembatalan,
pencabutan ketentuan dan peraturan lainnya;
d) Materi kebijakan yang tidak tertuang di diktum dapat dibuat sebagai
lampiran yang tidak terpisahkan dari keputusan itu.
Lampiran Keputusan dibuat dengan tata naskah :
Kata Lampiran Keputusan , Nomor, dan tanggal dicantumkan
berurutan kebawah disebelahkanan atas. Judul lampiran ditulis huruf
kapital sesuai dengan judul Keputusan simetris di tengah, lampiran
ditanda tangani oleh yang membuat keputusan.
4) Penutup Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba memuat :
a) Tempat penetapan;
b) Tanggal, Bulan dan Tahun penetapan;
c) Tanda Tangan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba;

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
7

d) Nama Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba lengkap dengan gelar


dan NIP ( Nomor Induk Pegawai );
e) Stempel Jabatan;
f) Rumusan tempat dan tanggal penetapan diletakkan di sebelah kanan.
g) Tembusan (jika diperlukan)
4. Penanda tanganan
a. Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba yang ditanda tangani
oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba dibuat di atas formulir
ukuran folio, dengan menggunakan kop Naskah Dinas Kepala UPT
Puskesmas Ngawi Purba. Nama penanda tangan Surat Keputusan
ditulis dengan nama lengkap dengan gelar dan mencantumkan Nomor
Induk Pegawai, diketik dengan huruf kapital disebelah kanan bawah.
b. Otentikasi Keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba yang
ditandatangani oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba dilakukan
oleh pejabat yang diberi wewenang.

5. Aturan penulisan menggunakan huruf Bookman Old Style dengan ukuran


huruf 12, dicetak pada kertas warna putih ukuran F4, spasi 1 atau 1,5
sesuai kebutuhan.
6. Bentuk / model Naskah Dinas Keputusan Kepala UPT Puskesmas
Ngawi Purba, sebagaimana tertera pada Lampiran-lampiran pada
bagian akhir dari buku ini.

2. Rencana Lima Tahunan Puskesmas / Rencana Strategi Bisnis (RSB)


Sejalan dengan rencana strategis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota,
Puskesmas perlu menyusun rencana kinerja lima tahunan dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan target kinerja yang ditetapkan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Rencana lima tahunan tersebut harus sesuai dengan visi, misi, tugas pokok
dan fungsi Puskesmas berdasarkan pada analisis kebutuhan masyarakat
akan pelayanan kesehatan sebagai upaya untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat secara optimal.
Dalam menyusun rencana lima tahunan, Kepala Puskesmas bersama seluruh
jajaran karyawan yang bertugas di Puskesmas melakukan analisis situasi
yang meliputi analisis pencapaian kinerja, mencari faktor-faktor yang menjadi

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
8

pendorong maupun penghambat kinerja, sehingga dapat menyusun program


kerja lima tahunan yang dijabatkan dalam kegiatan dan rencana anggaran.

1. Sistematika Rencana Kinerja Lima Tahunan Puskesmas (RSB)


Sistematika Rencana Kinerja Lima Tahunan Puskesmas (RSB) dapat
disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Pengertian dan Ruang Lingkup
1.4 Konsepsi Dasar
1.5 Metode
BAB 2 PROFIL UPT PUSKESMAS NGAWI PURBA
2.1 Sejarah UPT Puskesmas Ngawi Ngawi Purba
2.2 Aspek Legal
2.3 Lokasi Bisnis
2.4 Gambaran Produk Jasa
2.5 Isu-isu Strategis
BAB 3 ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS
3.1 Pengukuran dan Evaluasi Kinerja 3 Tahun Terakhir
3.1.1 Kinerja Pelayanan
3.1.2 Kinerja Sumber Daya Manusia
3.1.3 Kinerja Sarana Prasarana
3.1.4 Kinerja Keuangan
3.2 Analisis Lingkungan Internal
3.3 Analisis Lingkungan Eksternal
3.4 Posisi Strategis UPT Puskesmas Ngawi Purba
3.5 Matriks SWOT UPT Puskesmas Ngawi Purba
3.6 Faktor Kunci Keberhasilan
BAB 4 ARAH BISNIS BLUD
4.1 Nilai ( Value ) yang Dianut
4.2 Visi Strategis
4.3 Misi Strategis
4.4 Tujuan

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
9

4.5 Inisiatif dan Sasaran Strategis


BAB 5 RENCANA STRATEGI BISNIS
5.1 Program Kerja
5.1.1 Program Penyelenggaraan Layanan
5.1.1.a Penyelenggaraan Layanan UKM
5.1.1.b Penyelenggaraan LayananUKP
5.1.1.cPenyelenggaraan Layanan Administrasi
5.1.2 Program Pengembangan Layanan
5.1.2.a Program Pengembangan Layanan UKM
5.1.2.b Program Pengembangan Layanan UKP
5.1.2.c Program Pengembangan Layanan Administrasi
5.1.2.d Program Pengembangan Sumber Daya
Manusia
5.1.2.e Program Pengembangan Sarana dan
Prasarana

5.2 Proyeksi Keuangan 5 Tahun

5.2.1 Proyeksi Pendapatan 5 (Lima) Tahun


5.2.2 Proyeksi Belanja 5 (Lima) Tahun
5.2.3 Proyeksi Investasi/Belanja Modal 5 (Lima) Tahun
5.2.4 Proyeksi Laporan Keuangan 5 (Lima) Tahun
5.2.5 Proyeksi Kinerja Keuangan 5 (Lima) Tahun
LAMPIRAN
MATRIK VISI DAN MISI
2. Langkah-langkah Penyusunan Rencana Kinerja Lima Tahunan
Puskesmas Adapun tahapan penyusunan rencana lima tahunan
Puskesmas adalah sebagai berikut:
a. Membentuk tim penyusunan rencana kinerja lima tahunan yang
terdiri dari Kepala Puskesmas bersama dengan penanggung jawab
upaya Puskesmas dan dengan Pelayanan Klinis.
b. Tim mempelajari RPJMN, rencana strategis Kementrian Kesehatan,
Dinas Kesehatan Provinsi/ Kabupaten/Kota, target kinerja lima
tahunan yang harus dicapai oleh Puskesmas.
c. Tim mengumpulkan data pencapaian kinerja.
d. Tim melakukan analisis kinerja

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
10

e. Tim penyusun pentahapan pencapaian indikator kinerja untuk tiap


upaya Puskesmas dengan penjabaran pencapaian untuk tiap
tahun.
f. Tim penyusun program kerja dan kegiatan yang akan dilakukan
untuk mencapai target pada tiap-tiap indikator kinerja.
g. Tim menyusun dokumen rencana kinerja lima tahunan untuk
disahkan oleh Kepala Puskesmas.
h. Sosialisasi rencana pada seluruh jajaran Puskesmas.
Matrik Rencana Kinerja Lima Tahunan (lihat lampiran...)
Panduan dalam mengisi matriks rencana kinerja lima tahunan:
a. Nomor: diisi dengan nomor urut
b. Pelayanan/Upaya Puskesmas: diisi dengan Pelayanan Klinis
(Upaya Kesehatan Perseorangan), dan Upaya Kesehatan
Masyarakat yang dilaksanakan di Puskesmas tersebut, misalnya
Upaya KIA, Upaya KB, Upaya PKM, dan seterusnya.
c. Indikator: diisi dengan indikator-indikator yang menjadi tolok ukur
kinerja Upaya/Pelayanan.
d. Target: diisi dengan standar kinerja untuk tiap indikator.
e. Pencapaian: diisi dengan pencapaian kinerja tahun terakhir.
f. Target pencapaian: diisi dengan target-target yang akan dicapai
pada tiap tahap tahunan.
g. Program Kerja: diisi dengan Program Kerja yang akan dilakukan
untuk mencapai target pada tiap tahun berdasarkan hasil analisis
kinerja, misalnya program kerja pengembangan SDM, program
kerja peningkatan mutu, program kerja pengembangan SDM,
program kerja pengembangan sarana, dsb.
h. Kegiatan: merupakan rincian kegiatan untuk tiap program yang
direncanakan, misalnya untuk program pengembangan SDM,
kegiatan Pelatihan Perawat, Pelatihan Tenaga PKM, dan
sebagainya.
i. Volume: diisi dengan volume kegiatan yang direncanakan untuk
tiap tahapan tahunan.
j. Harga satuan: harga satuan untuk tiap kegiatan.
k. Perkiraan Biaya: diisi dengan perkalian antara volume dengan
harga satuan.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
11

3. Penutup
Panduan ini disusun dengan harapan akan membantu Kepala
Puskesmas dalam menyusun rencana kinerja lima tahunan, yang
kemudian diuraikan dalam rencana tahunan dalam bentuk Rencana
Usulan Kegiatan dan Rencana Pencapaian Kegiatan.

3. Perencanaan Tingkat Puskesmas


Perencanaan adalah: suatu proses kegiatan secara urut yang harus
dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam rangka mencapai tujuan
yang telah ditentukan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia
secara berhasil guna dan berdaya guna.
Perencanaan tingkat Puskesmas (PTP) diartikan sebagai proses penyusunan
rencana kegiatan Puskesmas pada tahun yang akan datang, dilakukan
secara sistematis untuk mengatasi masalah atau sebagian masalah
kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya.
Perencanaan Puskesmas mencakup semua kegiatan upaya Puskesmas yang
dilakukan di puskesmas baik dalam menjalankan fungsi penyelenggaraan
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) maupun Upaya Kesehatan
Perseorangan (UKP) tingkat pertama, UKM baik esensial, maupun
pengembangan sebagai rencana Tahunan Puskesmas yang dibiayai oleh
pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah serta sumber dana lain.
1. Mekanisme Perencanaan Tingkat Puskesmas
Langkah pertama dalam mekanisme Perencanaan Tingkat Puskesmas
(PTP) adalah dengan menyusun Rencana Usulan Kegiatan yang
meliputi usulan mencakup seluruh kegiatan Puskesmas.
Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK) memperhatikan
berbagai kebijakan yang berlaku, baik secara global, nasional maupun
daerah sesuai dengan hasil kajian data dan informasi yang tersedia di
Puskesmas. Puskesmas perlu mempertimbangkan masukan dari
masyarakat melalui kajian maupun asupan dari lintas sektoral
Puskesmas.
Rencana Usulan Kegiatan harus dilengkapi usulan pembiayaaan untuk
kebutuhan rutin, sarana, prasarana dan operasional Puskesmas. RUK
yang disusun merupakan RUK tahun mendatang (H+1). Penyusunan
RUK tersebut dilakukan pada bulan Januari tahun berjalan (H)

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
12

berdasarkan hasil kajian pencapaian kegiatan tahun sebelumnya (H-1)


dan diharapkan proses penyusunan RUK telah selesai dilaksanakan di
Puskesmas pada akhir bulan Januari tahun berjalan (H). RUK
kemudian dibahas di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota selanjutnya
terangkum dalam usulan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota akan
diajukan ke DPRD untuk memperoleh persetujuan pembiayaan dan
dukungan politis.
Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya diserahkan ke Puskesmas
melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Berdasarkan alokasi biaya
yang telah disetujui tersebut, secara rinci RUK dijabarkan ke dalam
rencana pelaksanaan kegiatan (RPK). Penyusunan RPK dilaksanakan
pada bulan Januari tahun berjalan dalam forum Lokakarya Mini yang
pertama.
2. Tahap Persiapan RUK
a. Tahap Persiapan.
Tahap ini mempersiapkan staf Puskesmas yang terlibat dalam
proses penyusunan RUK agar memperoleh kesamaan pandangan
dan pengetahuan untuk melaksanakan tahap-tahap perencanaan.
Kepala Puskesmas membentuk Tim Penyusun PTP yang
anggotanya terdiri dari staf Puskesmas.
b. Tahap Analisis Situasi.
Tahap ini dimaksudkan untuk memperolah informasi mengenai
keadaan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan dan
permasalahan yang dihadapi Puskesmas melalui proses analisis
terhadap data yang dikumpulkan tim yang telah ditunjuk oleh
Kepala Puskesmas. Data-data tersebut mencakup data umum, dan
data khusus (hasil penilaian kinerja Puskesmas).

3. Tahap Penyusunan RUK


Penyusunan RUK memperhatikan hal-hal untuk mempertahankan
kegiatan yang sudah dicapai pada periode sebelumnya dan
memperhatikan program/ upaya yang masih bermasalah, menyusun
rencana kegiatan baru yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan di
wilayah tersebut dan kemampuan Puskesmas.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
13

Penyusunan RUK terdiri dua tahap, yaitu:


a. Analisis Masalah
Analisis masalah bersumber dari hasil penilaian kinerja dan analisis
kebutuhan masyarakat dilakukan melalui kesepakatan Tim
Penyusun PTP dan lintas sektoral Puskesmas melalui:
1) Identifikasi masalah dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan, melalui analisis kesehatan masyarakat (community
health analysis),
2) Menetapkan urutan prioritas masalah,
3) Merumuskan masalah,
4) Mencari akar penyebab, dapat mempergunakan diagram sebeb
akibat, pohon masalah, curah pendapat, dan alat lain yang dapat
digunakan.
b. Penyusunan RUK
Penyusunan RUK meliputi Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama, UKM
esensial dan pengembangan yang meliputi:
1) Kegiatan tahun yang akan datang,
2) Kebutuhan sumber daya,
3) Rekapitulasi rencana usulan kegiatan
4. Sistematika Penyusunan RUK
BAB I Pendahuluan, berisi Latar Belakang, Tujuan, Sasaran,
Manfaat
BAB II Analisa Situasi, berisi :
a. Data Umum : Data wilayah kerja dan fasilitas pelayanan,
data demografi dan sasaran program, data sumberdaya,
data peran serta masyarakat, data sekolah dan data
kesehatan lingkungan.
b. Data Khusus : Data kematian, kunjungan kesakitan, 10 besar
penyakit, status kesehatan, data KLB, data cakupan program
1 tahun terakhir, hasil survey kebutuhan dan harapan
masyarakat
BAB III Tahap Penyusunan RUK
Identifikasi masalah, menetapkan urutan prioritas
masalah, merumuskan masalah, mencari akar penyebab

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
14

masalah, alternatif pemecahan masalah, pemecahan


masalah terpilih dengan mempertimbangkan sumber
daya, disusun dalam bentuk matrik RUK
BAB IV Penutup
Lampiran : Matrik RUK

5. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan


Rencana Pelaksanaan Kegiatan baik Upaya Keshatan Masyarakat
(UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama,
UKM esensial dan pengembangan secara bersama-sama, terpadu dan
terintegrasi, dengan langkah-langkah:
a. Mempelajari alokasi kegiatan,
b. Membandingkan alokasi kegiatan yang disetujui dengan RUK,
c. Menyusun rancangan awal secara rinci,
d. Mengadakan lokakarya mini,
e. Membuat Rencana Pelaksanaan Kegiatan.
Perencanaan penyusunan Perencanaan Tingkat Puskesmas dengan
menggunakan format-format sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Puskesmas yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan tahun 2012. Adapun format-
format untuk dilihat didalam lampiran buku panduan penyusunan
dokumen ini.

4. Pedoman / Manual Mutu


Manual mutu adalah dokumen yang memberi informasi yang konsisten ke
dalam maupun ke luar tentang sistem manajemen mutu. Manual mutu
disusun, ditetapkan, dan dipelihara oleh organisasi. Manual mutu tersebut
meliputi:
Kata Pengantar
BAB I. Pendahuluan
A. Latar belakang
1. Profil Organisasi
2. Kebijakan Mutu
3. Proses Pelayanan (Proses Bisnis)
B. Ruang Lingkup

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
15

C. Tujuan
D. Landasan hukum dan acuan
BAB II. Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Penyelenggaraan Pelayanan
A. Persyaratan umum
B. Pengendalian dokumen
C. Pengendalian rekaman
BAB III. Tanggung Jawab Manajemen
A. Komitmen manajemen
B. Fokus pada sasaran/pasien
C. Kebijakan mutu
D. Perencanaan Sistem Manajemen Mutu dan pencapaian Sasaran
Kinerja/mutu
E. Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi
F. Wakil Manajemen Mutu/ penanggung Jawab Manajemen mutu
G. Komunikasi internal
BAB IV. Tinjauan Manajemen
A. Umum
B. Masukan Tinjauan Manajemen
C. Luaran tinjauan
BAB V. Manajemen Sumber Daya
A. Penyediaan sumber daya
B. Manajemen sumber daya manusia
C. Infrastruktur
D. Lingkungan kerja
BAB VI. Penyelenggaraan Pelayanan
A. Upaya Kesehatan Masyarakat Puskesmas
1. Perencanaan Upaya Kesehatan Masyarakat, akses dan
pengukuran kinerja
2. Proses yang berhubungan dengan sasaran:
a. Penetapan persyaratan sasaran
b. Tinjauan terhadap persyaratan sasaran
c. Komunikasi dengan sasaran
3. Pembelian (jika ada)
4. Penyelenggaraan UKM:
a. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
16

b. Validasi proses penyelenggaraan upaya


c. Identifikasi dan mampu telusur
d. Hak dan kewajiban sasaran
e. Pemeliharaan barang milik pelanggan (jika ada)
f. Manajemen risiko dan keselamatan
5. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan sasaran
kinerja UKM:
a. Umum
b. Pemantauan dan pengukuran
1) Kepuasan pelanggan
2) Audit internal
3) Pemantauan dan pengukuran proses
4) Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
c. Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
d. Analisis data
e. Peningkatan berkelanjutan
f. Tindakan korektif
g. Tindakan preventif
B. Pelayanan klinis (Upaya Kesehatan Perseorangan):
1. Perencanaan Pelayanan klinis
2. Proses yang berhubungan dengan pelanggan
3. Pembelian/penggandaan barang terkait dengan
pelayanan klinis:
a. Proses pembelian
b. Verifikasi barang yang dibeli
c. Kontrak dengan pihak ketiga
4. Penyelenggaraan pelayanan klinis:
a. Pengendalian proses pelayanan klinis
b. Validasi proses pelayanan
c. Identifikasi dan ketelusuran
d. Hak dan kewajiban pasien
e. Pemeliharaan barang milik pelanggan (spesimen,
rekam medis, dsb)
f. Manajemen resiko keselamatan pasien

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
17

5. Peningkatan mutu Pelayanan Klinis dan Keselamatan


pasien
a. Penilaian indikator kinerja klinis
b. Pengukuran pencapaian sasaran keselamatan
pasien
c. Pelaporan insiden keselamatan pasien
d. Analisis dan tindak lanjut
e. Penerapan manajemen resiko
6. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan:
1) Umum
2) Pemantauan dan pengukuran
a) Kepuasan pelanggan
b) Audit internal
c) Pemantauan dan pengukuran proses,
kinerja
d) Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
3) Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
4) Analisis data
5) Peningkatan berkelanjutan
6) Tindakan korektif
7) Tindakan preventif
VII. Penutup
Lampiran (jika ada)

5. Pedoman / Panduan Teknis Terkait Program / Layanan (


Pedoman Internal )
Pedoman/ panduan adalah kumpulan ketentuan dasar yang memberi arah
langkah-langkah yang harus dilakukan. Pedoman merupakan dasar untuk
menentukan dan melaksanakan kegiatan. Panduan adalah petunjuk dalam
melakukan kegiatan, sehingga dapat diartikan pedoman mengatur 1 (satu)
kegiatan. Pedoman/ panduan dapat diterapkan dengan baik dan benar
melalui penerapan SOP.
Mengingat sangat bervariasinya bentuk dan isi pedoman/ panduan maka
UPT Puskesmas Ngawi Purba menyusun/membuat sistematika buku
pedoman/ panduan sesuai kebutuhan.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
18

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dokumen pedoman atau


panduan yaitu:
1. Setiap pedoman atau panduan harus dilengkapi dengan peraturan atau
keputusan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba untuk pemberlakuan
pedoman/ panduan tersebut.
2. Peraturan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba tetap berlaku meskipun
terjadi penggantian Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.
3. Setiap pedoman/ panduan sebaiknya dilakukan evaluasi minimal setiap
2-3 tahun sekali.
4. Bila Kementrian Kesehatan telah menerbitkan Pedoman/ Panduan untuk
suatu kegiatan/ pelayanan tertentu, maka UPT Puskesmas Ngawi Purba
dalam membuat pedoman/ panduan wajib mengacu pada pedoman/
panduaan yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan.
5. Format baku sistematika pedoman panduan yang lazim digunakan
sebagai berikut:
a. Format Pedoman Pengorganisasian Unit Kerja
Kata pengantar
BAB I Pendahuluan
BAB II Gambaran Umum UPT Puskesmas Ngawi Purba
BAB III Visi, Misi, Falsafah, Nilai dan Tujuan UPT Puskesmas
Ngawi Purba
BAB IV Struktur Organisasi UPT Puskesmas Ngawi Purba
BAB V Struktur Organisasi Unit Kerja
BAB VI Uraian Jabatan
BAB VII Tata Hubungan Kerja
BAB VIII Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Personil
BAB IX Kegiatan Orientasi
BAB X Pertemuan/ Rapat
BAB XI Pelaporan
1. Laporan Harian
2. Laporan Bulanan
3. Laporan Tahunan

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
19

b. Format Pedoman Pelayanan Unit Kerja

Kata Pengantar
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman
C. Sasaran Pedoman
D. Ruang Lingkup Pedoman
E. Batas Operasional
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
B. Distribusi Ketenagaan
C. Jadwal Kegiatan
BAB III STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
B. Standar Fasilitas
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
B. Metode
C. Langkah Kegiatan
BAB V LOGISTIK
BAB VI KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/PROGRAM
BAB VII KESELAMATAN KERJA
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
BAB IX PENUTUP

c. Format Panduan Pelayanan


BAB I DEFINISI
BAB II RUANG LINGKUP
BAB III TATA LAKSANA
BAB IV DOKUMENTASI
Sistematika pedoman/panduan pelayanan Puskesmas dapat dibuat sesuai
dengan materi/ isi pedoman/ panduan. Pedoman/ panduan yang haru dibuat
adalah pedoman/ panduan minimal yang harus ada di UPT Puskesmas Ngawi

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
20

Purba yang dipersyaratkan sebagai regulasi yang diminta dalam elemen


penilaian.
Bagi UPT Puskesmas Ngawi Purba yang telah menggunakan e-file tetap
harus mempunyai hardcopy pedoman/ panduan yang dikelola oleh tim
akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba atau bagian Tata Usaha UPT
Puskesmas Ngawi Purba.

6. SOP ( Standar Operasional Prosedur )


Terdapat sejumlah pengertian istilah prosedur , diantaranya :
1. Standar Operasional Prosedur (SOP) adfalah serangkaian instruksi tertulis
yang dibakukan mengenai berbagai prosedur penyelenggaraan aktivitas
organisasi , bagaimana dan kapan harus dilakukan , dimana dan oleh
siapa dilakukan (Permenpan No.035 tahun 2012 ).
2. Instruksi kerja adalah petunjuk kerja terdokumentasi yang dibuat secara
rinci , spesifik dan bersifat instruktif, yang dipergunakan oleh pekerja
sebagai acuan dalam melaksanakan suatu pekerjaan spesifik agar dapat
mencapai hasil kerja sesuai persyaratan yang telah ditetapkan ( Susilo ,
2003 ).
3. Langkah di dalam penyusunan intruksi kerja , sama dengan penyusunan
prosedur , namun ada perbedaan ,instruksi kerja adalah suatu proses
yang melibatkan satu bagian / unit profesi , sedangkan prosedur adalah
suatu proses yang melibatkan lebih dari satu bagian / unit/ profesi. Prinsip
dalam penyusunan prosedur dan instruksi kerja adalah kerjakan yang
ditulis , tulis yang dikerjakan , buktikan dan tindak – lanjut , serta dapat
ditelusuri hasilnya .
4. Istilah Standar Prosedur Operasional ( SPO ) digunakan di UU Nomor 29
Tahun 2004 tentang praktik kedokteran dan UU Nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan dan UU Nomor 44 Tahun 2009 , tentang Rumah Sakit.
5. Beberapa Istilah Prosedur yang sering digunakan yaitu:
a. Prosedur yang telah ditetapkan disingkat Protap,
b. Prosedur untuk panduan kerja (Prosedur kerja , disingkat PK)
c. Prosedur untuk melakukan tindakan ,
d. Prosedur penatalaksanaan,
e. Petunjuk pelaksanaan disingkat juklak,
f. Petunjuk pelaksanaan secara teknis , disingkat juknis,

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
21

g. Prosedur untuk melakukan tindakan klinis: protokol klinis,


Algoritma / Clinical pathway.
Karena beraneka ragamnya istilah tentang prosedur dan untuk
menghindari salah tafsir serta dalam rangka menyeragamkan istilah maka
dalam pedoman penyusunan dokumen ini digunakan istilah “ Standar
Operasional Prosedur “ (SOP) sebagaimana yang tercantum dalam
Permenpan Nomor 35 tahun 2012.
Prosedur yang dimaksud dalam istilah “Standar Operasional Prosedur (
SOP )” bersifat institusi maupun perorangan sebagai profesi sehingga
dianggap lebih tepat karena prosedur yang dimaksud dalam pedoman
penyusunan dokumen akreditasi FTKP ini adalah prosedur yang bersifat
institusi maupun perorangan sebagai profesi, sementara istilah “ Standar
Prosedur Operasional “ (SOP) yang dipergunakan dalam undang-undang
praktik kedokteran maupun undang-undang kesehatan lebih bersifat
perorangan sebagai profesi.
6. Tujuan Penyusunan SOP
Agar berbagai proses kerja rutin terlaksana dengan efisien, efektif,
konsisten / seragam dan aman, dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan melalui pemenuhan standar yang berlaku.
7. Manfaat SOP
a. Memenuhi persyaratan standar pelayanan puskesmas
b. Mendokumentasi langkah-langkah kegiatan
c. Memastikan staf puskesmas memahami bagaimana melaksanalkan
pekerjaannya.
Contoh :
SOP Pemberian informasi, SOP Pemasangan infus, SOP Pemindahan
pasien dari tempat tidur ke kereta dorong.
8. Format SOP
a. Menggunakan format SOP sesuai dengan Pedoman Penyusunan
Dokumen Akreditasi Puskesmas.
b. Format merupakan format minimal, oleh karena itu format ini dapat
diberi tambahan materi/kolom misalnya, nama penyusunan SOP, unit
yang memeriksa SOP, Untuk SOP tindakan agar memudahkan di
dalam melihat langkah-langkah dengan bagan alir, persiapan alat dan

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
22

bahan dan lain-lain, namun tidak boleh mengurangi item-item yang ada
SOP.
Format SOP sebagai berikut:
1) Kop/ Heading SOP

Judul

Nomer Dokumen

No. Revisi

SOP Tanggal Terbit

Halaman 1/3
Logo
(lambang Puskesmas)

Nama
Puskesmas Nama Kepala Puskesmas
Ttd Kepala Puskesmas
NIP
dan Stempel Puskesmas

2) Komponen SOP

1. Pengertian

2. Tujuan

3. Kebijakan

4. Referensi

5. Prosedur/ Langkah- Langkah

6. Diagram Alir (Jika


Dibutuhkan)

7. Unit Terkait

8. Rekam Histori Perubahan

• Penjelasan: Penulisan SOP yang harus tetap didalam tabel / kotak adalah: nama
Puskesmas dan logo, judul SOP, Nomer dokumen, tanggal terbit dan tanda tangan
kepala puskesmas, sedangkan untuk pengertian, tujuan. kebijakan, prosedur/
langkah-langkah dan unit terkait boleh tidak diberi tabel/ kotak.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
23

c. Petunjuk pengisian SOP


1) Jenis huruf menggunakan Arial, ukuran huruf 12 atau sesuai
kebutuhan, dicetak diatas kertas warna putih dengan ukuran F4
(21,5 x 33 cm).
2) Logo: logo yang dipakai adalah logo pemerintah Kabupaten Ngawi,
dan lambang puskesmas.
3) Kotak Kop/ Heading diisi sebagai berikut:
a) Jika SOP disusun lebih dari satu halaman, pada halaman
Kedua dan seterusnya SOP dibuat tetap menyertakan kop /
Heading.
b) Kotak Puskesmas diberi logo pemerintah daerah dan nama
Puskesmas atau logo dan nama UPT Puskesmas Ngawi Purba.
c) Kotak judul diberi judul / nama SOP sesuai proses kerjanya.
d) Nomor Dokumen: SOP /No urut/ Nama POKJA/ Tahun. Contoh:
SOP/001/ADMEN/2017
e) No. Revisi: diisi dengan status revisi, dapat menggunakan
angka. Contoh: dokumen baru diberi angka 00 ( SOP Baru ),
dokumen revisi pertama diberi huruf 01 dan seterusnya.
f) Tanggal terbit: diberi tanggal sesuai tanggal terbitnya atau
tanggal diberlakukanya SOP tersebut.
g) Halaman: diisi nomor halaman dengan mencantumkan juga
total halaman untuk SOP tersebut (misal 1/3). Penulisan
halaman ini berlaku juga untuk halaman berikutnya, contoh :
pada halaman kedua pada tempat yang sudah ditentukan
diketik 2/3, pada halaman ketiga diketik 3/3.
h) Ditetapkan kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba: diberi tanda
tangan kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba dan nama
jelasnya. Tanda tangan kepala puskesmas ini hanya
dibubuhkan pada halaman pertama SOP.
4) Isi SOP
Isi dari SOP setidaknya adalah sebagai berikut:
A) Pengertian :diisi definisi judul SOP,dan berisi penjelasan dan
atau definisi tentang istilah yang mungkin sulit dipahami atau
menyebabkan salah pengertian/menimbulkan multi persepsi.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
24

B) Tujuan: berisi tujuan pelaksanaan SOP secara spesifik. Kata


kunci :”sebagai acuan penerapan langkah langkah
untuk.......”
C) Kebijakan: berisi kebijakan kepala UPT Puskesmas Ngawi
Purba yang menjadi dasar dibuatnya SOP tersebut,misalnya
untuk SOP imunisasi pada bayi,misalnya untuk SOP
tersebut, misalnya untuk SOP imunisasi pada bayi,pada
kebijakan dituliskan: Keputusan Kepala UPT Puskesmas
Ngawi Purba No...............(diisi sesuai SK tentang Pelayanan
Kesehatan ibu dan Anak).
D) Referensi: berisi dokumen eksternal sebagai acuan
penyusunan SOP, bisa berbentuk buku,peraturan
perundang-undangan ataupun bentuk lain sebagai bahan
pustaka.
E) Langkah-langkah prosedur; bagian ini merupakan bagian
utama yang menguraikan langkah-langkah kegiatan untuk
menyelesaikan proses kerja tertentu.
F) Unit terkait: berisi unit-unit yang terkait dan atau prosedur
terkait dalam proses kerja tersebut.dari ke-enam isi SOP
sebagaimana diuraikan diatas, dapat ditambahkan antara
lain: bagan alir, dokumen terkait.
G) Diagram alir/bagan alir (flow chart);
Diagram alir hanya dipergunakan untuk alur Pendaftaran
pasien dan alur pelayanan.
Di dalam penyusunan prosedur maupun intruksi kerja
sebaiknya dalam langkah langkah kegiatan dilengkapi
dengan diagram alir/bagan alir untuk memudahkan dalam
pemahaman langkah-langkahnya. Adapun bagan alir secara
garis besar dibagi menjadi dua macam yaitu diagram alir
makro dan diagram alir mikro.
(1) Diagram alir makro , menunjukkan kegiatan – kegiatan
secara garis besar dari proses yang ingin kita tingkatkan ,
hanya mengenal satu simbol ,yaitu simbol balok :

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
25

(2)Diagram alir mikro , menunjukan rincian kegiatan –


kegiatan dari tiap tahapan diagram makro , bentuk
simbol sebagai berikut :

 Awal kegiatan :

 Akhir kegiatan :

ya

Simbol keputusan :
?

Tidak

Penghubung :

Dokumen :

Arsip :

g. Syarat penyusunan SOP:

1) Perlu ditekankan bahwa SOP harus ditulis oleh mereka yang melakukan
pekerjaan tersebut atau oleh unit kerja tersebut. Tim atau panitia yang ditunjuk
oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba hanya untuk menanggapi dan
mengoreksi SOP tersebut. Hal tersebut sangatlah penting, karena komitmen
terhadap pelaksanaan SOP hanya diperoleh dengan adanya keterlibatan
personel/unit kerja dalam penyusunan SOP.

2) SOP harus merupakan flow charting dari suatu kegiatan. Pelaksana atau unit
kerja agar mencatat proses kegiatan dan membuat alurnya kemudian Tim
Mutu diminta memberikan tanggapan.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
26

3) Di dalam SOP harus dapat dikenali dengan jelas siapa melakukan apa,
dimana, kapan, dan mengapa.

4) SOP jangan menggunakan kalimat majemuk. Subyek, predikat, dan obyek


SOP harus jelas.

5) SOP harus menggunakan kalimat perintah/ instruksi bagi pelaksana dengan


bahasa yang dikenal pemakai.

6) SOP harus jelas, ringkas, dan mudah dilaksanakan. Untuk SOP pelayanan
pasien maka harus memperhatikan aspek keselamatan, keamanan dan
kenyamanan pasien. Untuk SOP profesi harus mengacu kepada standar
profesi, standar pelayanan, mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) kesehatan, dan memperhatikan aspek keselamatan
pasien.

h. Evaluasi SOP

Evaluasi SOP dilakukan terhadap isi maupun penerapan SOP.

1) Evalusai penerapan/ kepatuhan terhadap SOP dapat dilakukan dengan menilai


tingkat kepatuhan terhadap langkah-langkah dalam SOP. Untuk evaluasi ini
dapat dilakukan dengan menggunakan daftar tilik/ check list:

a) Daftar tilik adalah daftar urutan kerja (actions) yang dikerjakan secara
konsisten, diikuti dalam pelaksanaan suatu rangkaian kegiatan, untuk diingat,
dikerjakan, dan diberi tanda (check-mark).

b) Daftar tilik merupakan bagian dari sistem manajemen mutu untuk


mendukung standarisasi suatu proses pelayanan.

c) Daftar tilik tidak dapat digunakan untuk SOP yang kompleks.

d) Daftar tilik digunakan untuk mendukung, mempermudah pelaksanaan dan


memonitor SOP, bukan untuk menggantikan SOP itu sendiri.

e) Langkah- langkah menyusun daftar tilik: Langkah awal menyusun daftar tilik
dengan melakukan identifikasi prosedur yang membutuhkan daftar tilik untuk
mempermudah pelaksanaan dan monitoring.

(1) Gambarkan flow-chart dari prosedur tersebut,

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
27

(2) Buat daftar kerja yang harus dilakukan,

(3) Susun urutan kerja yang harus dilakukan,

(4) Masukkan dalam daftar tilik sesuai dengan format tertentu,

(5) Lakukan uji coba,

(6) Lakukan perbaikan daftar tilik,

(7) Standarisasi daftar tilik.

f) Daftar tilik untuk mengecek kepatuhan terhadap SOP dalam langkah-


langkah kegiatan, dengan rumus sebagai berikut.

Compliance rate (CR) = ∑ Ya x 100%

∑ Ya+Tidak

2) Evaluasi SOP

a) Evaluasi SOP dilaksanakan sesuai kebutuhan dan minimal dua tahun


sekali yang dilakukan oleh masimg- masing unit kerja.

b) Hasil evaluasi: SOP masih tetap bisa dipergunakan, atau SOP tersebut
perlu diperbaiki/direvisi. Perbaikan/revisi isi SOP bisa dilakukan sebagian
atau seluruhnya.

c) Perbaikan/ revisi perlu dilakukan bila:

• Alur SOP tidak sesuai dengan keadaan yang ada,

• Adanya perkembangan Ilmu dan Teknologi (IPTEK) pelayanan


kesehatan,

• Adanya perubahan organisasi atau kebijakan baru,

• Adanya perubahan fasilitas.

d) Peraturan Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba tetap berlaku meskipun


terjadi penggantian Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
28

7. Kerangka Acuan Program ( KAP )


A. Pengertian
Program adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan yang
disusun secara rinci yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
organisasi.
Kerangka Acuan/Term Of Reference (TOR) Program adalah naskah
dinas yang berisi panduan/protokol dalam melaksanakan program
kerja.
B. Tujuan
Umum:
Sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan unit kerja/gugus tugas
sehingga tujuan program dapat tercapai.

Khusus:
(a) Adanya kejelasan jenis-jenis kegiatan di dalam program.
(b) Adanya kejelasan langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan.
(c) Adanya kejelasan siapa yang melaksanakan kegiatan dan
bagaimana melaksanakan kegiatan tersebut sehingga tujuan
dapat tercapai.
(d) Adanya kejelasan jumlah biaya dan sumber pembiayaan.
(e) Adanya kejelasan sasaran, tujuan dan waktu pelaksanaan
kegiatan.

Kerangka acuan dapat menggunakan format yang diterapkan di Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota masing-masing atau contoh Sistematika
Kerangka Acuan sebagai berikut:
a. Pendahuluan
Yang ditulis dalam pendahuluan adalah hal-hal yang bersifat umum
yang masih terikat dengan upaya/ kegiatan.
b. Latar Belakang
Latar belakang adalah merupakan justifikasi atau alasan mengapa
program tersebut disusun.sebaiknya dilengkapi dengan data-data
sehingga alasan diperlukan program tersebut dapat lebih kuat.
c. Tujuan umum dan tujuan kusus

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
29

Tujuan ini adalah merupakan tujuan program / kegiatan. Tujuan


umum adalah tujuan secara garis besarnya ,sedangkan tujuan
khusus adalah tujuan secara rinci.
d. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
Kegiatan pokok dan rincian kegiatan adalah langkah-langkah
kegiatan yang harus dilakukan sehingga tercapainya tujuan
program / kegiatan.oleh karena itu antara tujuan dan kegiatan harus
berkaitan dan sejalan.
e. Cara melaksanakan kegiatan
Cara melaksanakan kegiatan adalah metode untuk melaksanakan
kegiatan pokok dan rincian kegiatan. Metode tersebut bisa antara
lain dengan membentuk tim, melakukan rapat, melakukan audit,
dan lain-lain.
f. Sasaran
Sasaran program adalah target pertahun yang spesifik dan terukur
untuk mencapai tujuan-tujuan upaya / kegiatan. Sasaran program /
kegiatan menunjukan hasil antara yang diperlukan untuk merealisir
tujuan tertentu. Penyusunan sasaran program perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
Sasaran yang baik harus memenuhi “SMART” yaitu :
1) Specific: sasaran harus menggambarkan hasil spesifik yang
diinginkan ,bukan cara pencapaianya .sasaran harus
memberikan arah dan tolok ukur yang jelas sehingga dapat
dijadikan landasan untuk penyusunan strategi dan kegiatan
yang spesifik.
2) Measurable: sasaran harus terukur dapat dipergunakan untuk
memastikan apa dan kapan pencapaianya .Akuntabilitas harus
ditanamkan kedalam proses perencanaan. Oleh karennya
metodologi untuk mengukur pencapain sasaran ( keberhasilan
upaya / kegiatan) harus ditetapkan sebelum kegiatan yang
terkait dengan sasaran tersebut dilaksanakan.
3) Agressive but Attainable: apabila sasaran harus dijadikan
standar keberhasilan ,maka sasaran harus menantang ,namun
tidak boleh mengandung target yang tidak layak.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
30

4) Result oriented : sedapat mungkin sasaran harus


menspeksifikan hasil yang ingin dicapai, misalnya : mengurangi
komplain masyarakat terhadap pelayanan rawat inap sebesar
50%.
5) Time bound: sasaran sebaiknya dapat dicapai dalam waktu
yang relatif pendek, mulai dari bebrapa minggu sampai
beberapa bulan (sebaiknya kurang dari 1 tahun). Kalau ada
program / kegiatan 5 (lima) tahun dapat dibuat sasaran antara.
Sasaran akan lebih mudah dikelola dan dapat lebih serasi
dengan proses anggaran apabila dibuat sesuai dengan batas-
batas tahun anggaran dipuskesmas.
g. Jadwal pelakasanaan kegiatan
Jadwal adalah merupakan perencanaan waktu untuk tiap-tiap
rincian kegiatan yang akan dilaksanakan , yang digambarkan
dalam bentuk bagan Gantt.
h. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan
Yang dimaksud dengan evaluasi pelaksanaan kegiatan
terhadap jadwal yang direncanakan . jadwal tersebut akan
dievaluasi setiap berapa bulan sekali (kurun waktu tertentu ),
sehingga apabila dari evaluasi diketahui ada pergeseran
jadwal atau penyimpangan jadwal ,maka dapat segera
diperbaiki sehingga tidak mengganggu program / kegiatan
secara keseluruhan. Karena itu yang ditulis dalam kerangka
acuan adalah kapan ( setiap kurun waktu berapa lama)
evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan dan siapa yang
melakukan . yang dimakdud dengan pelaporanya adalah
bagaimana dengan membuat laporan evaluasi pelaksanaan
kegiatan tersebut dan kapan laporan tersebut harus dibuat.
Jadi yang harus ditulis didalam kerangka acuan adalah cara
bagaimana membuat laporan evaluasi dan kapan laporan
tersebut harus dibuat dan ditujukan kepada siapa.
i. Pencatatan , pelaporan dan Evaluasi kegiatan
Pencatatan adalah catatan kegiatan dan yang ditulis dalam
kerangka acuan adalah bagaimana melakukan pencatatan
kegiatan atau membuat dokumen kegiatan.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
31

Pelaporan adalah bagaimana membuat laporan program dan


kapan laporan harus diserahkan dan kepada siapa saja
laporan tersebut harus diserahkan.
Evaluasi kegiatan adalah evaluasi pelaksanaan program /
kegiatan secara menyeluruh. Jadi yang ditulis di dalam
kerangka acuan , bagaimana melakukan evaluiasidan kapan
evaluiasi harus dilakukan .jika diperlukan , dapat ditambah
butir-butir lain sesuai kebutuhan ,tetapi tidak diperbolehkan
mengurangi, misalnya pembiyaan dan anggaran
j. Biaya / Sumber Dana
Dicantumkan biaya / sumberdana kegiatan, misalnya BOK,
BLUD, dan lain-lain.

8. Kerangka Acuan Kegiatan (KAK )


A. Pengertian
Program adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan yang disusun
secara rinci yang dipergunakan untuk mencapai tujuan organisasi.
Kerangka Acuan/Term Of Reference (TOR) Program adalah naskah dinas
yang berisi panduan/protokol dalam melaksanakan program kerja.
B. Tujuan
Umum:
Sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan unit kerja/gugus tugas
sehingga tujuan program dapat tercapai.
Khusus:
(a) Adanya kejelasan jenis-jenis kegiatan di dalam program
(b) Adanya kejelasan langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan.
(c) Adanya kejelasan siapa yang melaksanakan kegiatan dan bagaimana
melaksanakan kegiatan tersebut sehingga tujuan dapat tercapai.
(d) Adanya kejelasan jumlah biaya dan sumber pembiayaan
(e) Adanya kejelasan sasaran, tujuan dan waktu pelaksanaan kegiatan.
Kerangka acuan dapat menggunakan format yang diterapkan di Dinas
Kesehatan Kabupaten Ngawi atau contoh Sistematika Kerangka Acuan
sebagai berikut:

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
32

a. Pendahuluan
Yang ditulis dalam pendahuluan adalah hal-hal yang bersifat umum
yang masih terikat dengan upaya/ kegiatan.
b. Latar Belakang
Latar belakang adalah merupakan justifikasi atau alasan mengapa
program tersebut disusun.sebaiknya dilengkapi dengan data-data
sehingga alasan diperlukan program tersebut dapat lebih kuat.
c. Tujuan umum dan tujuan kusus
Tujuan ini adalah merupakan tujuan program /kegiatan. Tujuan umum
adalah tujuan secara garis besarnya ,sedangkan tujuan khusus
adalah tujuan secara rinci.
d. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
Kegiatan pokok dan rincian kegiatan adalah langkah-langkah kegiatan
yang harus dilakukan sehingga tercapainya tujuan program/
kegiatan.oleh karena itu antara tujuan dan kegiatan harus berkaitan
dan sejalan.
e. Cara melaksanakan kegiatan
Cara melaksanakan kegiatan adalah metode untuk melaksanakan
kegiatan pokok dan rincian kegiatan. Metode tersebut bisa antara lain
dengan membentuk tim, melakukan rapat, melakukan audit, dan lain-
lain.
f. Sasaran
Sasaran program adalah target pertahun yang spesifik dan terukur
untuk mencapai tujuan-tujuan upaya / kegiatan.Sasaran program /
kegiatan menunjukan hasil antara yang diperlukan untuk merealisir
tujuan tertentu. Penyusunan sasaran program perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
Sasaran yang baik harus memenuhi “SMART” yaitu :
1) Specific: sasaran harus menggambarkan hasil spesifik yang
diinginkan ,bukan cara pencapaianya .sasaran harus memberikan
arah dan tolok ukur yang jelas sehingga dapat dijadikan landasan
untuk penyusunan strategi dan kegiatan yang spesifik.
2) Measurable: sasaran harus terukur dapat dipergunakan untuk
memastikan apa dan kapan pencapaianya .Akuntabilitas harus
ditanamkan kedalam proses perencanaan.oleh karennya

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
33

metodologi untuk mengukur pencapain sasaran ( keberhasilan


upaya/kegiatan) harus ditetapkan sebelum kegiatan yang terkait
dengan sasaran tersebut dilaksanakan.
3) Agressive but Attainable: apabila sasaran harus dijadikan standar
keberhasilan, maka sasaran harus menantang, namun tidak boleh
mengandung target yang tidak layak.
4) Result oriented : sedapat mungkin sasaran harus menspeksifikan
hasil yang ingin dicapi.misalnya : mengurangi komplain masyarakat
terhadap pelayanan rawat inap sebesar 50%.
5) Time bound: sasaran sebaiknya dapat dicapai dalam waktu yang
relatif pendek, mulai dari bebrapa minggu sampai beberapa bulan
(sebaiknya kurang dari 1 tahun). Kalau ada program / kegiatan 5
(lima) tahun dapat dibuat sasaran antara. Sasaran akan lebih
mudah dikelola dan dapat lebih serasi dengan proses anggaran
apabila dibuat sesuai dengan batas-batas tahun anggaran
dipuskesmas.
g. Jadwal pelakasanaan kegiatan
Jadwal adalah merupakan perencanaan waktu untuk tiap-tiap rincian
kegiatan yang akan dilaksanakan , yang digambarkan dalam bentuk
bagan Gantt.
h. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan
Yang dimaksud dengan evaluasi pelaksanaan kegiatan terhadap jadwal
yang direncanakan . jadwal tersebut akan dievaluasi setiap berapa
bulan sekali (kurun waktu tertentu ), sehingga apabila dari evaluasi
diketahui ada pergeseran jadwal atau penyimpangan jadwal, maka
dapat segera diperbaiki sehingga tidak mengganggu program / kegiatan
secara keseluruhan. Karena itu yang ditulis dalam kerangka acuan
adalah kapan ( setiap kurun waktu berapa lama) evaluasi pelaksanaan
kegiatan dilakukan dan siapa yang melakukan . yang dimakdud dengan
pelaporannya adalah bagaimana dengan membuat laporan evaluasi
pelaksanaan kegiatan tersebut dan kapan laporan tersebut harus
dibuat. Jadi yang harus ditulis didalam kerangka acuan adalah cara
bagaimana membuat laporan evaluasi dan kapan laporan tersebut
harus dibuat dan ditujukan kepada siapa.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
34

i. Pencatatan , pelaporan dan Evaluasi kegiatan


Pencatatan adalah catatan kegiatan dan yang ditulis dalam kerangka
acuan adalah bagaimana melakukan pencatatan kegiatan atau
membuat dokumen kegiatan.
Pelaporan adalah bagaimana membuat laporan program dan kapan
laporan harus diserahkan dan kepada siapa saja laporan tersebut harus
diserahkan.
Evaluasi kegiatan adalah evaluasi pelaksanaan program / kegiatan
secara menyeluruh. Jadi yang ditulis di dalam kerangka acuan ,
bagaimana melakukan evaluiasi dan kapan evaluiasi harus dilakukan
jika diperlukan , dapat ditambah butir-butir lain sesuai kebutuhan ,tetapi
tidak diperbolehkan mengurangi, misalnya pembiayaan dan anggaran
j. Biaya / Sumber Dana
Dicantumkan biaya / sumberdana kegiatan, misalnya BOK, BLUD, dan
lain-lain.

9. Laporan Tahunan Puskesmas


Laporan Tahunan Puskesmas merupakan laporan perkembangan dan
pencapaian yang berhasil diraih oleh UPT Puskesmas dalam setahun. Data
dan informasi yang akurat menjadi kunci penulisan laporan tahunan
Puskesmas. Laporan tahunan Puskesmas tersebut mencakup laporan
prestasi akan kinerja UPT Puskesmas selama 1 tahun.

Sistematika penyusunan Laporan Tahunan Puskesmas :


BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. SITUASI UMUM
1. DATA UMUM
2. DATA WILAYAH
3. DATA KEPENDUDUKAN
B. SITUASI KESEHATAN
1. Derajat Kesehatan
2. Ketenagaan

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
35

3. Sarana Kesehatan
4. Peran serta Masyarakat
5. Program Kesehatan
a. Perbaikan Gizi
b. Penyehatan Lingkungan
c. P2P
d. KIA &KB
e. Data Morbiditas
BAB III
ANALISA SITUASI
A. KEADAAN LINGKUNGAN.
1. Rumah Sehat
2. Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan.
3. Akses Terhadap Air Minum
4. Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar.
B. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT.
1. Rumah Tangga Ber-PHBS.
2. ASI Eksklusif.
3. Posyandu.
4. Pembiayaan Kesehatan Oleh Masyarakat.
BAB IV
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. MORTALITAS
1. Angka Kematiam Bayi (AKB).
2. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI).
3. Umur Harapan Waktu Lahir (UHH)
B. MORBIDITAS.
1. Penyakit Menular.
a. Penyakit Malaria.
b. Penyakit TB Paru.
c. Penyakit HIV/AIDS.
d. Infeksi Saluran Pernafasan ( ISPA ).
e. Penyakit Kusta.
2. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31).

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
36

a. Campak.
b. Difteri.
c. Pertusis.
d. Hepatitis B.
e. Polio.
3. Penyakit Potensi KLB / Wabah
a. Demam berdarah Dengue.
b. Diare
c. Filariasis.
C. STATUS GIZI.
a. Status Gizi Balita.
BAB V
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan Dasar.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi.
a. Pelayanan Antenatal.
b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan
Kompetensi Kebidanan.
c. Kunjungan Neonatus.
d. Kunjungan Bayi.
2. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah dan
Remaja.
3. Pelayanan Keluarga Berencana.
Indikator SPM tahun 2015 cakupan peserta KB aktif 100%. Dari
hasil pengumpulan data UPT Puskesmas Ngawi Purba, Jumlah
Pasangan Usia Subur (PUS) menurut hasil pengumpulan data
pada tahun 2015 sebesar 5.245, dan yang menjadi peserta KB
aktif sebesar 1.741 (33,2%), sedang Peserta KB Aktif Baru 348
(6,6%).
4. Pelayanan Imunisasi.
C. Pemanfaatan Obat Generik.
D. Pembinaan Kesehatan Lingkungan.
E. Perbaikan Gizi Masyarakat.
1. Pemantauan Pertumbuhan Balita.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
37

3. Pemberian Tablet Besi.


BAB VI
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
A. SARANA KESEHATAN.
1. Puskesmas.
2. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat.
BAB VII
PENUTUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
-Tabel 1 - 72

B. Pengendalian Dokumen di UPT Puskesmas Ngawi Purba


1. Tujuan
Untuk menjamin terkendalinya pembuatan dan pemakaian dokumen sebagai
panduan dalam penerapan sistem, sehingga setiap dokumen yang digunakan
dapat dijamin kebasahannya, terkini dan mampu ditelusuri.
2. Ruang Lingkup
Mengatur sistem penomoran, pengesahan, pendistribusian, revisi dan
penyimpanan dokumen baik dokumen internal maupun eksternal yang
dipakai sebagai reverensi kerja.
Prosedur Pengendalian Dokumen di UPT Puskesmas Ngawi Purba harus
ditetapkan oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba yang dijadikan acuan oleh
seluruh unit di UPT Puskesmas Ngawi Purba.Tujuan Pengendalian Dokumen
adalah terkendalinya kerahasiaan dokumen, pengkodean, penomoran, proses
perubahan, penerbitan, distribusi dan sirkulasi dokumen. Identifikasi
Penyusunan/ Perubahan Dokumen
Identifikasi kebutuhan, dilakukan pada tahap self-assesment dalam
Pendampingan Akreditasi. Hasil self-assesment digunakan sebagai acuan untuk
mengidentifikasi dokumen sesuai Standar Akreditasi yang sudah ada di UPT
Puskesmas Ngawi Purba. Bila dokumen sudah ada, dapat diidentifikasi dokumen
tersebut masih efektif atau tidak.
a. Penyusunan Dokumen
Kepala Subag Tata Usaha Puskesmas, Penanggung jawab Admen,
Penanggung jawab UKM dan UKP UPT Puskesmas Ngawi Purba

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
38

bertanggung jawab terhadap pelaksanaan identifikasi/perubahan serta


penyusunan dokumen.
Penyusunan dokumen secara keseluruhan dikoordinir oleh tim mutu/ tim
akreditasi UPT Puskesmas Ngawi Purba dengan mekanisme sebagai berikut
:
a) SOP yang telah disusun oleh pelaksana atau unit kerja disampaikan ke
tim/ tim akreditasi,
b) Fungsi tim mutu / tim akreditasi Puskesmas di dalam penyusunan
dokumen adalah :
(1) Memberikan tanggapan, mengkoreksi dan memperbaiki dokumen
yang telah disusun oleh pelaksana atau unit kerja baik dari segi
bahasa maupun penulisan,
(2) Mengkoordinir proses pembuatan dokumen sehingga tidak terjadi
duplikasi/ tumpang tindih dokumen antar unit,
(3) Melakukan cek ulang terhadap dokumen yang akan ditandatangani
oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.
b. Pengesetan Dokumen
Draf dokumen ajukan kepada sekretaris Akreditasi untuk dilakukan koreksi.
Selanjutkan dokumen yang sudah dikoreksi dan dianggap benar, dokumen
disahkan oleh Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba.
c. Penerbitan Dokumen

Setiap dokumen yang diterbitkan, diberi penomoran dan pengkodean sesuai


ketentuan sebagai berikut :
1. Penerbitan Surat Keputusan
Jenis huruf : Bookman Old Style
Ukuran huruf : 12 dan atau sesuai kebutuhan
Ukuran kertas : F4 ( 21,5 x 33 cm)
Spasi : 1 atau 1,5 sesuai kebutuhan
Warna Kertas : Putih
Nomor Surat : SK/No Urut/ Nama Pokja/ Tahun. Contoh :
SK/001/ADMEN/2017

2. Penerbitan SOP
Jenis huruf : Arial
Ukuran huruf : 12 dan atau sesuai kebutuhan
Ukuran kertas : F4 ( 21,5 x 33 cm)
Spasi : 1 atau 1,5 sesuai kebutuhan
Warna Kertas : Putih

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
39

Nomor Dokumen : SOP /No Urut/ Nama Pokja/ Tahun. Contoh:


SOP/001/ADMEN/2017

3. Penerbitan Surat Keluar : Undangan, Pemberitahuan, Permohonan,


Dispensasi, Surat Cuti, Surat Pengantar dan lain-lain ( selain Surat
Keputusan dan SOP )

Jenis huruf : Arial


Ukuran huruf : 12 dan atau sesuai kebutuhan
Ukuran kertas : F4 ( 21,5 x 33 cm )
Spasi : 1 atau 1,5 sesuai kebutuhan
Warna Kertas : Putih
Nomor Dokumen : Sesuai tata naskah Kab Ngawi

Keterangan : Kode Surat/ Nomor Surat/Kode Puskesmas/bulan


dalam huruf Romawi/Tahun. Contoh: 188/001/404.102.09/IX/2014

d. Sosialisasi Dokumen
Agar dokumen dapat dikenali oleh seluruh pelaksana maka perlu dilakukan
sosialisasi dokumen tersebut, khusus bagi SOP, bila rumit maka untuk
melaksanakan SOP tersebut perlu dilakukan pelatihan. Pencatatan
Dokumen, Distribusi dan Penarikan Dokumen Kepala UPT Puskesmas Ngawi
Purba menunjuk salah satu anggota Tim Mutu/Tim Akreditasi sebagai
Petugas Pengendali Dokumen.
Petugas tersebut bertanggung jawab atas :
a. Penomoran dokumen
Tata cara penomoran Dokumen
Penomoran diatur pada kebijakan pengendalian dokumen, dengan
ketentuan:
a) Semua dokumen harus diberi nomor,
b) Puskesmas/ UPT Puskesmas Ngawi Purba agar membuat kebijakan
tentang pemberian nomor sesuai dengan tata naskah yang
pedoman,
c) Pemberian nomor mengikuti tata naskah UPT Puskesmas Ngawi
Purba, atau ketentuan penomoran (bisa menggunakan garis miring
atau dengan sistem digit).
d) Pemberian nomor sebaiknya dilakukan secara terpusat.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
40

b. Pencatatan dalam Daftar Dokumen Eksternal atau Internal


c. Menyerahkan dokemen kepada pengususl untuk menggandakan
d. Mendistribusikan dokumen yang sudah diberi stempel terkendali
Tata Cara Pendistribusian dokumen
a) Distribusi adalah kegiatan atau usaha menyampaikan dokumen
kepada unit upaya atau pelaksana yang memerlukan dokumen
tersebut agar dapat digunakan sebagai panduan dalam
melaksanakan kegiatannya. Kegiatan ini dilakukan oleh tim mutu
atau bagian Tata Usaha UPT Puskesmas Ngawi Purba sesuai
pedoman tata naskah.
b) Distribusi harus memakai ekspedisi dan/ atau formulir tanda terima.
c) Distribusi dokumen bisa hanya untuk unit kerja tertentu tetapi bisa
juga untuk seluruh unit kerja lainnya.
d) Bagi Puskesmas yang sudah menggunakan e-file maka distribusi
dokumen bisa melalui jejaring area lokal, dan diatur kewenangan
otorisasi di setiap unit kerja, sehingga unit kerja apat mengetahui
batas kewenangan dalam membuka dokumen.
e. Menarik dokumen lama apabila dokumen ini adalah dokumen
pengganti serta mengisi format usulan penambahan/ penarikan
dokumen.
f. Mengarsipkan dokumen induk yang sudah tidak berlaku dengan
membubuhkan stempel “kedaluwarsa” dan kemudian menyimpan
dokumen tersebut selama 2 tahun.
g. Memusnahkan dokumen sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
e. Tatacara Dokumen
1) Dokumen asli (master dokumen yang sudah dinomori dan sudah
ditandatangani) agar disimpan di sekretariat Tim Akreditasi UPT
Puskesmas Ngawi Purba atau Bagian Tata Usaha UPT Puskesmas Ngawi
Purba, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di organisasi tersebut
tentang tata cara pengarsipan dokumen yang diatur dalam pedoman/ tata
naskah. Penyimpanan dokumen yang asli harus rapi, sesuai metode
pengarsipan sehingga mudah dicari kembali bila diperlukan.
2) Dokumen foto copy disimpan di masing- masing unit upaya UPT
Puskesmas Ngawi Purba, dimana dokumen tersebut dipergunakan. Bila

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
41

tidak berlaku lagi atau tidak dipergunakan maka unit kerja wajib
mengembalikan dokumen yang sudah tidak berlaku tersebut ke sekertariat
Tim mutu atau Bagian Tata Usaha sehingga di unit kerja hanya ada
dokumen yang masih berlaku saja. Sekretariat Tim Mutu atau Bagian Tata
Usaha organisasi dapat memusnahkan foto copy dokumen yang tidak
berlaku tersebut, namun untuk dokumen yang asli agar tetap disimpan,
dengan lama penyimpanan selama 5 tahun .
3) Dokumen di unit upaya Puskesmas/UPT Puskesmas Ngawi Purba harus
diletakkan di tempat yang mudah dilihat, mudah diambil, dan mudah
dibaca oleh pelaksana.
f. Penataan Dokumen
Untuk memudahkan didalam pencarian dokumen akreditasi Puskesmas/ UPT
Puskesmas Ngawi Purba Ddikelompokkan masing- masing bab/ kelompok
pelayanan/ UKM dengan diurutkan setiap urutan kriteria dan elemen
penilaian, dan diberikan daftar secara berurutan.
g. Revisi atau Perubahan Dokumen
a. Dilakukan setelah proses pengkajian serta mendapat pengesahan sesuai
pejabat yang berwenang.
b. Setiap kali revisi seluruh halaman akan mengalami perubahan
c. Isi revisi atau perubahan harus tercatat pada Riwayat Perubahan
Dokumen
d. Tanggal terbit pada sudut kanan atas cover merupakan tanggal terbit
dokumen terkini (un tuk dokumen selain kebijakan dan SOP).

C. Rekam Implementasi
1. Rekam implementasi adalah: dokumen yang menjadi bukti obyektif dari
kegiatan yang dilakukan atau hasil yang dicapai di dalam kegiatan UPT
Puskesmas Ngawi Purba dalam melaksanakan regulasi internal atau kegiatan
yang direncanakan.
2. Catatan/ rekam implementasi sebagai bukti pelaksanaan kegiatan juga harus
dikendalikan. Organisasi harus menetapkan SOP terdokumentasi untuk
mendefinisikan pengendalian yang diperlukan untuk identifikasi, penyimpanan,
perlindungan, pengambilan, lama simpan dan pemusnahan. Catatan/ rekam
implementasi harus dapat terbaca, segera dapat teridentifikasi dan dapat
diakses kembali.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
42

Untuk memperjelas, buku Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi UPT


Puskesmas Ngawi Purba dilengkapi dengan contoh- contoh dokumen sebagai
lampiran dari pedoman ini.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
43

BAB IV
PENUTUP

Pada prinsipnya dokumen akreditasi adalah “TULIS YANG DIKERJAKAN DAN


KERJAKAN YANG DITULIS, BISA DIBUKTIKAN SERTA DAPAT DITELUSURI
DENGAN BUKTINYA”. Namun pada penerapannya tidaklah semudah itu.
Penyusunan kebijakan, pedoman/ panduan standar oprasional prosedur dan
program selain diperlukan komitmen Kepala UPT Puskesmas Ngawi Purba, juga
diperlukan staf yang mampu dan mau menyusun dokumen akreditasi tersebut.
Dengan tersusunnya Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi Puskesmas UPT
Puskesmas Ngawi Purba diharapkan dapat membantu UPT Puskesmas Ngawi
Purba dan fasilitator pendamping akreditasi dalam menyusun dokumen- dokumen
yang dipersyaratkan oleh standar akreditasi.

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
44

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
45

KEBIJAKAN/ SURAT KEPUTUSAN YANG DIPERSYARATKAN

1 Jenis Pelayanan 1.1.1.EP.1.2.1.EP.1


yang disediakan
berdasar prioritas .
2 Indikator dan 1.3.2.EP.3. 3.1.6.EP1. 4.3.1.EP.1 7.6.4.EP.1 9.1.1.EP2

3 Kebijakan 2.2.2.EP.2 5.1.1.EP1 8.7


pengelolaan SDM
standart kinerja
Puskesmas (klinis dan 2.3.4.EP.1
non klinis), termasuk
2.3.4.EP3
Pola Ketenagaan,
persyaratan 2.3.5.EP.1
kompetensi dsb

4 Struktur Organisasi 2.3.1.EP2

5 Penanggungjawab 2.3.1.EP2 5.1.1.EP2


UKM dan UKP
Puskesmas
6 Alur komunikasi dan 2.3.1.EP3

koordinasi

Pedom an A
46

KEBIJAKAN/ SURAT KEPUTUSAN YANG DIPERSYARATKAN

1 Jenis Pelayanan 1.1.1.EP.1.2.1.EP.1


yang disediakan
berdasar prioritas .

2 Indikator dan 1.3.2.EP.3. 3.1.6.EP1. 4.3.1.EP.1 7.6.4.EP.1 9.1.1.EP2

standart kinerja
3 Kebijakan 2.2.2.EP.2 5.1.1.EP1 8.7
pengelolaan SDM
Puskesmas (klinis 2.3.4.EP.1
dan non klinis),
termasuk Pola 2.3.4.EP3
Ketenagaan,
2.3.5.EP.1
persyaratan
kompetensi dsb
4 Struktur Organisasi 2.3.1.EP2
5 Penanggungjawab 2.3.1.EP2 5.1.1.EP2
UKM dan UKP
Puskesmas
6 Alur komunikasi dan 2.3.1.EP3
koordinasi
7 Visi,Misi, Tujuan, 2.3.6.EP.1
Tata nilai

Pedom an A
47

8 Visi,Misi, 5.1.3.EP1. 6.1.1.EP2


Tujuan,Tata nilai
tiap upaya
9 Pendelegasian 2.3.9.EP2.
wewenang
10 Puskesmas
Peran 2.3.1.EP2 5.4.1.EP1.
stakeholders
(pihak terkait)
11 Pengendalian 2.3.1.1.EP4 5.4.1.EP2 6..5.E
dokumen dan
rekaman P1
12 Komunikasi .
2.3.12.EP1
Internal
13 Pengelolaan 2.3.13.EP2
resiko akibat
program/kegiatan
Puskesmas
14 Tahapan 2.3.14.EP3
Pencapaian
Target Kinerja
15 Penanggungjawab 2.3.15.EP2
Keuangan
16 Hak dan 2.4.1.EP 5.7.1.EP1
Kewajiban 2.3.16.EP1

Pedom an A
48

RENCANA/ PERENCANAAN YANG DIPERSYARATKAN

1 RENCANA STRATEGI BISNIS


atau RENCANA LIMA TAHUNAN

2 RBA/ RKA/ RUK 1.1


3 RPK DAN RENCANA KEGIATAN 1.1 4

4 RENCANA
BULANAN PENGEMBANGAN 2.3
SDM
5 RENCANA PERBAIKAN MUTU 3.1
DAN KESELAMATAN PASIEN
6 RENCANAN KEGIATAN 4
TAHUNAN TIAP UKM
PUSKESMAS
7 RENCANA KEGIATAN 4
BULANAN

8 TIAP UKM PUSKESMAS


RENCANA KEGIATAN 4
BULANAN TIAP UKM
PUSKESMAS
9 RENCANA MONITORING DAN
EVALUASI KINERJA
10 RENCANA KAJI BANDING 3 6
11 RENCANA ASUHAN, RENCANA
RUJUKAN

Pedom an A
49

PEDOMAN YANG DIPERSYARATKAN

1 2.3.11.E 3.1.1.EP4
PEDOMAN (MANUAL) MUTU P1
2 PEDOMAN PENGELOLAAN SDM 2.2

3 PEDOMAN KERJA UNTUK TIAP 2.3.11.E

PELAYANAN/ UKM & UKP P2


PUSKESMAS
4 PEDOMAN PELAYANAN KLINIS 7.6.1.EP1
PUSKESMAS
5 PEDOMAN PENDIDIKAN 7.8.1.EP2
PASIEN
6 PEDOMAN PELAYANAN LAB 8.1
7 PEDOMAN PELAYANAN OBAT 8.2
8 PEDOMAN PELAYANAN 8.3
RADIOLOGI (kalau ada
pelayanan radiodiagnostik)
9 PEDOMAN PELAYANAN REKAM 8.4
MEDIS

Pedom an A
50

KERANGKA ACUAN YANG DIPERSYARATKAN

1 1.1.1 4.1.1.EP2
Identifikasi kebutuhan EP4

masyarakat akan upaya/


2 pelayananacuan
Kerangka Puskesmas
umpan balik 1.1.2EP2
1.1.2 4.1.2.EP1 5
masyarakat EP1.EP2.

3 Kerangka acuan penilaian kinerja 1.3.2.EP3 5.5.2.EP1


Puskesmas EP4

4 Kerangka acuan penilaian kinerja 5.3.2.EP,EP2,


penanggungjawab dan
pelaksana berdasarkan EP3,EP4
5 Kegiatan orientasi karyawan
uraian tugas 2.3.5.EP2 5.1.2.EP2
6 Kerangka 2.3.9.EP1

Pedom an A
51

REKAMAN/ ARSIP YANG DIPERSYARATKAN SEBAGAI BUKTI

1 Jenis-jenis pelayanan yang 1.1.1.EP1 7.1.4.EP3


disediakan termasuk jadual,
dsb(brosur, leaflet, papan
2 Hasil identifikasi kebutuhan dan
pengumumaan,dsb) 1.1.1.EP4 5.1.6.EP3
harapan pengguna (hasil survey,
smd, mmd,dsb)
3 Hasil analisis thd identifikasi 1.1.2.EP3 5.2.2.EP1,E
kebutuhan
P2,EP3,EP
4 Bukti kegiatan inovatf 1.1.3.EP3
5 Bukti Pelaksanaan perbaikan 1.1.3.EP3 4
mutu dan kinerja
6 Bukti pelaksanaan monitoring 1.1.5.EP1.EP3,
thd pelayanan/ upaya
Puskesmas dan hasilnya
1.2.2.EP2

1.2.5.EP5

Pedom an A
52

CROSS REFERENCE STANDART AKREDITASI PUSKESMAS

Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Bab VI Bab VII Bab VIII Bab IX
2.1
2.1.4 7.1.5
2.1.5 8.6.1, 8.6.2
2.2
2.2.1 8.7.1, 8.7.2,
8.7.3
2.3
2.3.1 5.3.1, 5.3.2,
5.3.3
2.3.2
2.3.3
2.3.4 5.1.1, 5.7.1 8.1.1, 8.2.2,
8.3.3, 8.7.1,
8.7.2, , 8.7.3
2.3.5 5.1.2
2.3.6 5.1.3
2.3.8 5.1.6
2.3.10 5.4.1, 5.4.2,
2.3.11 3.1.1 6.1.1, 6.1.2, 8.1.2, 8.1.4, 9.2.2
6.1.5 8.1.7, 8.1.8,
8.2.2, 8.2.4,
2.3.12 5.1.4
2.3.13 5.1.5
2.3.14 5.1.6
2.3.17 8.2.4
1.1 4.1
1.1.1 4.1.1 7.1.2 8.1.1, 8.3.1
1.1.2 3.1.5 4.1.2 6.1.4
1.1.3 4.1.3
1.1.4 5.2.1, 5.2.2,
5.2.3
2.4
Pedom an A
53

2.4.1 3.1.3 6.1.3 7.1.3


2.4.2 9.1.2
2.5
2.5.1
2.5.2
2.6 8.5,.1, 8.5.2,
8.5.3, 8.6.1,
8.6.2
1.2
1.2.2 4.2.2 7.1.4
1.2.4 4.2.1, 4.2.4
1.2.5 4.2.5
1.2.6 4.2.6
1.3 3.1.4
1.3.1 3.1.2, 3.1.4, 4.3.1 8.1.8, 8.3.8 9.1.1, 9.3.1,
3.1.6 9.3.2, 9.3.3,
9.4.2, 9.4.3,
9.4.4
1.3.2 3,1.6 6.1.6
1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6
1.3.7

Pedom an A
54

PEDOMAN MUTU PUSKESMAS DAN KESELAMATAN PASIEN

Sistematika pedoman peningkatan mutu :

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang
b. Tujuan
c. Pengertian
d. Ruang Lingkup

2. Kebijakan

3. Pengorganisasian

4. Kegiatan

5. Metode

6. Pencatatan dan Pelaporan

7. Monitoring dan Evaluasi

1. Pendahuluan:

a. Latar belakang profil organisasi

1) Gambaran umum organisasi

2) Visi organisasi

3) Misi organisasi

4) Struktur organisasi

5) Motto

6) Tata Nilai

b. Tujuan : menjadi acuan upaya peningkatan mutu Puskesmas dan keselamatan pasien.
c. Pengertian: (jelaskan pengertian-pengertian yang digunakan dalam pedoman ini)
d. Ruang Lingkup : Pedoman ini disusun berdasarkan standart akreditasi Puskesmas yang meliputi
pedoman dalam upaya peningkatan mutu dan kinerja pelayanan UKM, UKP, dan Administrasi manjemen,
dan Keselamatn Pasien.

2. Kebijakan Mutu : (tuliskan kebijakan mutu seperti yang disusun dalam SK.

Kebijakan Mutu Puskesmas dan Keselamatan Pasien. .


55

3. Pengorganisasian : (gambarkan bagan organisasi Tim Mutu Puskesmas, dan jelaskan uraian tugas
masing-masing).

Uraian Tugas:

4. Kegiatan Perbaikan Mutu Puskesmas dan Keselamatan Pasien:


(Jelaskan garis besar program mutu Puskesmas dan Keselamatan Pasien)

a. Peningkatan Pemahaman dan Komitmen tentang mutu dan keselamatan pasien

Perbaikan mutu Puskesmas dan Keselamatan Pasien hanya dapat terlaksana jika didukung
oleh komitmen dan peran aktif seluruh pimpinan dan karyawan Puskesmas, maka upaya
perbaikan mutu diawali dengan penggalangan workshop pemahaman mutu dan penggalangan
komitmen.

Upaya peningkatan pemahaman dilakukan dengan mengirimkan karyawan untuk pelatihan atau
mengadakan pelatihan di Puskesmas (in-house). Tata nilai dan budaya mutu dan keselamatan
perlu disepakati.

b. Keterlibatan masyarakat dan pengguna pelayanan Puskesmas, serta lintas sektor terkait.

Masyarakat dan pengguna perlu dilibatkan dalam upaya perbaikan mutu dan keselamatan
pasien. Masukan dari masyarakat dan pengguna didapatkan melalui workshop dengan
masyarakat dan lintas sektor terkait, adanya kotak saran, survey kebutuhan dan kepuasan,
umpan balik masyarakat baik melalui sms maupun complain yang diajukan.
56

c. Program peningkatan mutu dan kinerja manajerial.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka perlu disusun program peningkatan
mutu dan kinerja manajerial, yang meliputi:

1) Penilaian mutu dan kineja manajerial:

a) Penyusunan indikator mutu/ kinerja manajerial

b) Pengumpulan data kinerja dengan menggunakan indikator yang telah disusun.

c) Analisis data kinerja dan tindak lanjut

d) Kaji banding kinerja dengan Puskesmas lain dan tindak lanjut.

2) Audit Internal:

Audit internal dilakukan untuk menilai dan memperbaiki mutu dan kinerja baik pelayanan UKM,
UKP dan manajerial yang dilakukan oleh tim audit internal dengan rencana program audit yang
terjadwal selama satu tahun dan periodik.

3) Pertemuan Tinjauan Manajemen:

Pertemuan tinjauan manajemen dilakukan dengan input tinjauan yang meliputi : ........, dengan
outpu tinjauan yang meliputi :.....

Pertemuan ini dilakukan minimal dua kali setahun.

4) Evaluasi Kinerja Pihak Ketiga:

Kinerja pihak ketiga yang bekerja sama dengan Puskesmas perlu dievaluasi untuk
memastikan bahwa produk/ jasa yang diberikan pihak ketiga memenuhi persyaratan mutu dan
keselamatan pasien.

d. Program Peningkatan Mutu dan Kinerja UKM

1) Penilaian mutu dan kinerja UKM:

a) Penyusunan indikator mutu/ kinerja manajerial.

b) Pengumpulan data kinerja dengan menggunakan indikator yang telah disusun.

c) Analisis data kinerja dan tindak lanjut.

d) Kaji banding kinerja dengan Puskesmas lain dan tindak lanjut.

2) Perbaikan mutu dan kinerja UKM:

Perbaikan mutu dan kinerja UKM dilakukan berdasarkan analisis kinerja. Capaian kinerja yang
belum sesuai dengan target yang diharapkan dianalisis dan ditindaklanjuti. Adanya umpan balik
dan keluhan sasaran UKM dan masyarakat dianalisis dan ditindaklanjuti.

e. Program Peningkatan Mutu dan Kinerja UKP

1) Penerapan area prioritas perbaikan pada pelayanan UKP


57

2) Pemantauan kinerja pada area prioritas dengan indikator yang diterapkan.

Penerapan manajemen resiko (FMEA) pada area prioritas

3) Monitoring dan penilaian kinerja pelayanan klinis pada masing-masing unit pelayanan, dan
tindak lanjutnya.

4) Monitoring, penilaian dan perilaku sdm klinis, dan tindak lanjut.

5) Upaya perbaikan mutu pelayanan klinis pada masing-masing unit kerja berdasarkan hasil
penilaian kinerja maupun umpan balik pelanggan.

6) Pelaporan dan tindak lanjut insiden Keselamatan Pasien

7) Penyusunan dan penerapan panduan paraktik klinis.

8) Monitoring dan tindak lanjut terhadap 6 sasaran keselamatan pasien

f. Implementasi Manajemen Resiko baik pada pelayanan UKM maupun pelayanan UKP.

Manajemen resiko dilakukan baik sebagai upaya reaktif maupun preventif. Resiko yang
diperkirakan dapat ditimbulkan baik akibat pelayanan UKM maupun UKP hars diidentifikasi dan
ditindaklanjuti. Jika terjadi kejadian baik akibat pelayanan UKM maupun UKP harus
ditindaklanjuti dengan mitigasi dan upaya pencegahan agar tidak terjadi lagi. Puskesmas wajib
menyusun register resiko baik resiko fasilitas, maupun resiko yang mungkin diakibatkan oleh
pelayanan yang disediakan.

5. Metoda
Metoda daalam peningkatan mutu puskesmas dan keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

a. Penilaian kinerja dan tindak lanjut dengan melalui analisis terhadap capaian

kinerja kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana perbaikan, pelaksanaan perbaikan,


memonitoring dan menilai hasil perbaikan, dan tindak lanjut, mengikuti siklus PDCA.

b. Menindaklanjut masukan dan keluhan pengguna dan masyarakat mengikuti siklus PDCA.

c. Menerapkan manajemen resiko baik pada pelayanan manajerial, UKM dan UKP dengan tahapan
sebagai berikut : menetapkan lingkup manajemen resiko, melakukan analisis resiko dan
menindak lanjuti. Manajemen resiko diterapkan baik secara reaktif maupun proaktif. Upaya
proaktif dilakukan sebelum ada kejadian dengan menganalisis kemungkinan terjadinya resiko
dengan menggunakan metoda FMEA, sedangkan upaya reaktif dilakukan untuk mengatasi
kejadian yang sudah terjadi dan mencegah terulangnya kejadian dengan menggunakan metoda
RCA.

6. Pencatatan dan Pelaporan


Seluruh kegiatan perbaikan mutu dan keselamatan pasien dicatat dan dilaporkan kepada Kepala
Puskesmas setiap bulan, dan oleh Kepala Puskesmas dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten setiap tiga bulan sekali.

7. Monitoring dan Evaluasi


58

Monitoring keseluruhan upaya perbaikan mutu dan keselamatan pasien dilakukan oleh para
penanggungjawab UKM dan UKP. Penanggungjawab mutu berkewajiban memonitor keseluruhan
pelaksanaan program mutu.

Evaluasi keseluruhan upaya perbaikan mutu Puskesmas dan keselamatan pasien dilakukan
minimal setahun sekali, dan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten.
59

PEDOMAN

PELAKSANAAN DAN PEMBINAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI


PUSKESMAS ABCD

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesahatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dengan memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala
bentuk upaya kesehatan.

Masih tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi dan prevalensi gizi kurang pada
balita menjadi masalah di Kecamatan ABCD, yang tidak dapat ditangani sendiri oleh sector
kesehatan, melainkan perlu ditangani bersama dengan sector di luar kesehatan dan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan sangat penting sebagaimana


dijelaskan dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juga sebagai berikut 1) Dari hasil
kajian ternyata 70% sumber daya pembangunan nasional berasal kontribusi/ partisipasi masyarakat;
2) Pemberdayaan masyarakat/ partisipasi masyarakat berazaskan gotong royong, merupakan budaya
masyarakat Indonesia yang perlu dilestarikan; 3) Perilaku masyarakat merupakan factor
penyebab utama, terjadinya permasalahan kesehatan, oleh sebab itu masyarakat sendirilah yang
dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan pendampingan/ bimbingan pemerintah; 4)
Pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya dalam mengatasi permasalahan kesehatan
yang semakin kompleks di masyarakat, sedangkan masyarakat mempunyai potensi yang cukup besar
untuk dapat dimobilisasi dalam upaya pencegahan di wilayahnya; 5) Potensi yang dimiliki masyarakat
diantaranya meliputi community leadership, community organization, community financing, community
material, community knowledge, community technology, community decision making process,
dalam upaya peningkatan kesehatan, potensi tersebut perlu dioptimalkan; 6) Upaya pencegahan lebih
efektif dan efisien disbanding upaya pengobatan, dan masyarakat juga mempunyai kemampuan
untuk melakukan upaya pencegahan apabila dilakukan upaya pemberdayaan masyarakat terutama
untuk ber-perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Untuk keberhasilan penyelenggaraan berbagai upaya perberdayaan masyarakat bidang


kesehatan lebih difokuskan pada: a) meningkatnya perubahan perilaku dan kemandirian
masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, b) meningkatnya kemandirian masyarakat dalam system
peringatan dini, penanggulangan dampak kesehatan akibat bencana, serta terjadinya wabah/KLB, c)
meningkatnya keterpaduan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dengan kegiatan yang
berdampak pada income generating.Disamping itu, upaya pemberdayaan masyarakat harus dimulai
dari masalah dan potensi spesifik daerah, oleh karenanya diperlukan pendelegasian wewenang lebih
besar keapda daerah.

PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong
60

dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dilaksanakan dengan pripsip-pripsip:

1. Kesukarelaan, yaitu keterlibatan seseorang dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak


boleh berlangsung karena adanya pemaksaan, melainkan harus dilandasi oleh kesadaran sendiri
dan motivasinya untuk memperbaiki dan memecahkan masalah kehidupan yang dirasakan.

2. Otonom, yaitu kemampuannya untuk mandiri atau melepaskan diri dari ketergantungan
yang dimiliki oleh setiap individu, kelompok maupun kelembagaan yang lain.

3. Keswadayaan, yaitu kemampuannya untuk merumuskan melaksanakan kegiatan dengan


penuh tanggung jawab, tanpa menunggu atau mengharapkan dukungan pihak luar.

4. Partisipasif, yaitu keikutsertaan semua pemangku kepetingan sejak pengambilan keputusan,


perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pemanfaatan hasil-hasil kegiatannya.

5. Egaliter, yang menempatkan semua pemangku kepetingan dalam kedudukan yang setara, sejajar,
tidak ada yang ditinggikan dan tidak ada yang merasa direndahkan.

6. Demokratis, yang memberikan hak kepada semua pihak untuk mengemukakan pendapatnya, dan
saling menghargai pendapat maupun perbedaan diantara sesame pemangku kepentingan.

7. Keterbukaan, yang dilandasi kejujuran, saling percaya, dan saling memperdulikan.

8. Kebersamaan, untuk saling berbagi rasa, saling membantu dan mengembangkan sinergisme.

9. Akuntabilitas, yang dapat dipertanggungjawabkan dan terbuka untuk diawasi oleh siapapun.

10. Desentralisasi, yang memberikan kewenangan kepada setiap daerah otonom (kabupaten
dan kota) untuk mengoptimalkan sumber daya kesehatan bagi sebesar- besar kemakmuran
masyarakat dan kesinambungan pembangunan kesehatan.

BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Semua karyawan Puskesmas wajib berpatisipasi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat


mulai di Kepala Puskesma, Penanggungjawab UKP, Penanggungjawab UKM, seluruh
karyawan.Penanggungjawab UKM Promosi Kesehatan merupakan koordinator dalam
penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kecamatan ABCD.

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat perlu melibatkan sector terkait yaitu: Camat, PKK,
Penanggung jawab KB, agama, pendidikan pertanian, dan sektor terkait lainnya dengan
kesepakatan peran masing-masing dalam pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

B. Distribusi Ketenagaan

Pengaturan dan penjadwalan Penanggungjawab UKM, UKP, dan karyawan Puskesmas


dikoordinir oleh Penanggungjawam UKM Promosi Kesehatan sesuai dengan kesepakatan.
61

C. Jadwal Kegiatan.

Jadwal pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat disepakati dan disusun bersama


dengan sektor terkait dalam pertemuan lokakarya mini lintas sektor tiap tiga bulan sekali.
62

BAB III
STANDART FASILITAS

A. Denah Ruang:

Pedoman Penyusunan & Pengendalian Dokumen Akreditasi Puskesmas | UPT Puskesmas Ngawi Purba
63

Koordinasi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan oleh penanggungjawb


UKM Promosi kesehatan yang menempati ruang C dari gedung Puskesmas.Pelaksanaan rapat
koordinasi dilakukan di aula Puskesmas ABCD yang terletak di sebelah utara ruang C.

B. Standart Fasilitas

1. Panduan pemberdayaan masyarakat : 1 buah

2. Panduan PHBS : 1 buah

3. Kit Penyuluhan Kesehatan Masyarakat : 1 Kit

4. Kit audividual, yang terdiri dari :

a. Wireless microphone : 4 buah

b. Speaker : 2 buah

c. LCD projector

BAB IV

TATALAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT:

Kegiatan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan mencakup:

1. Upaya membangun kesadaran kritis masyarakat dimana masyarakat diajak untuk berpikir
serta menyadari hak dan kewajibannya dibidang kesehatan. Membangun kesadaran
masyarakat merupakan awal dari kegiatan pengorganisasian masyarakat yang dilakukan
dengan membahasa bersama tentang harapan mereka, berdasarkan prioritas masalah
kesehatan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

2. Perencanaan partisipatif merupakan proses untuk mengidentifikasi masalah kesehatan serta


potensi selanjutnya menerjemahkan tujuan ke dalam kegiatan nyata dan spesifik yang
melibatkan peran aktif masyarakat dalam perencanaan segala hal dalam kesehatan.
Kegiatan ini dilakukan sendiri oleh masyarakat didampingi oleh fasilitator. Hal ini, selain
dapat menimbulkan rasa percaya akan hasil perncanaan juga membuat masyarakat
mempunyai rasa memiliki terhadap kegiatan yang dilakukan. Perencanaan partisipasif ini
berbasis pada hasil survey dan pemetaan mengenai potensi, baik kondisi fisik lingkungan dan
social masyarakat, yang digali oleh masyarakat sendiri.

3. Pengorganisasian masyarakat sendiri merupakan proses yang mengarah pada terbentuknya


kader masyarakat yang bersama masyarakat dan fasilitator berperan aktif ddalam lembaga
berbasis masyarakat (Forum Masyarakat Desa) sebagai representasi masyarakat yang akan
berperan sebagai penggerak masyarakat dalam melakuakn kegiatan pemberdayaan
masyarakat bidang kesehatan.

4. Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh masyarakat bersama dengan pengelola


pemberdayaan dengan menggunakan metode dan waktu yang disepakati bersama secara
berkesinambungan untuk mengetahui dan menilai pencapaian kegiatan yang dijalankan.
Hasil evaluasi ini digunakan sebagai rujukan untuk melakukan kegiatan yang berkelanjutan.
64

B. METODE PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN

Dalam upaya mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan diperlukan peran
fasilitator, dimana fasilitator bertanggungjawab dalam mengkomunikasikan inovasi di bidang
kesahatan kepada masyarakat penerima manfaat.

Tujuannya adalah agar penerima manfaat tahu, mau, dan mampu menerapkan inovasi
tersebut demi tercapainya perbaikan mutu hidupnya di bidang kesehatan. Perlu diingatkan bahwa
keberadaan masyarakat penerima manfaat sangat beragam dalam hal budaya, social,
kebutuhan, motivasi, dan tujuan yang diinginkan. Mengingat keberadaan masyarakat penerima
manfaat pemberdayaan yang sangat beragamnya maka metode yang digunakan dalam
pemebrdayaan tersebut tidaklah paten dengan menggunakan suatu metode tertentu saja,
bahwa tidak ada satupun metode yang selalu efektif untuk diterapkan dalam setiap kegiatan
pemberdayaan masyarakat.Bahkan banyak kasus penerapan metode dalam suatu
kegiatan pemberdayaan masyarakat harus menggunakan beragam metode sekaligus yang
saling menunjang dan melengkapi.Untuk itu, seorang fasilitator harus bisa memilih metode
yang paling sesuai dan tepat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan
mengkontekstualisasikan inovasi yang dimiliki ke dalam budaya masyarakat penerima
manfaat untuk tercapainya tujuan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakannya.

Dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, seorang fasilitator harus bisa memilih metode
yang paling sesuai dan tepat dengan kebutuhan masyarakat setempat, dalam pemilihan metode
tersebut seorang fasilitator harus memperhatikan beberapa prinsip berikut :

1. Pengembangan untuk berpikir kreatif dimana masyarakat harus diajak untuk berpikir kreatif,
bisa mencari solusi sendiri atas masalah yang dihadapinya.

2. Tempat yang paling baik adalah di tempat kegiatan penerima manfaat sehingga tidak banyak
menyita waktu kegiatan rutinnya, fasilitator bisa memahami betul keadaan penerima manfaat
dan penerima manfaat dapat ditunjukkan beberapa contoh nyata tentang potensi masalah dan
peluang dapat ditemukan di lingkungan pekerjaannya sendiri sehingga penerima manfaat
mudah memahami dan mengingatnya

3. Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya sehingga kegiatan pemberdayaan


akan lebih efisien jika diterapkan kepada masyarakat khususnya kepada mereka yang diakui
masyarakat setempat sebagai panutan atau tokoh masyarakat.

4. Menciptakan hubungan yang akrab antara fasilitator denga penerima manfaat karena suasana
akrab akan memperlancar kegiatan pemberdayaan masyarakat.

5. Memberikan suasana untuk terjadinya perubahan agar terjadi perbaikan mutu dan kualitas hidup
baik diri, keluarga dan masyarakatnya.

Metode yang digunakan dalam upaya pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan di

Puskesmas ABCD adalah :

1. Metode Rapid Rural Apprasial (RRA) atau penilaian desa secara partisipatif.

Merupakan teknik penilaian yang relative terbuka, cepat dan bersih dibanding dengan
teknik kunjungan singkat sebagai sebuah metode penilaian. RRA menggabungkan beberapa
teknik yang terdiri dari :

a) Review atau telaah data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapangan,

b) Observasi lapangan secara langsung,


65

c) Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya

d) Pemetaan dan pembuatan diagram/ grafik,

e) Studi kasus, sejarah lokal dan biografi,

f) Pembuatan kuisioner sederhana dan singkat, serta g) Pembuatan laporan lapangan secara
tepat.

2. Metode Participatory Rapid Appraisal (PRA)

Merupakan metode pengkajian pemberdayaan masyarakat desa yang lebih banyak


melibatkan pihak dalam yang terdiri dari pihak stakeholder (pemangku kepentingan
kegiatan) dengan difasilitasi pihak luar yang berfungsi sebagai narasumber atau
fasilitator.PRA merupakan metode penilaian keadaan secara partisipatif yang dilakukan
pada tahapan awal perencanaan kegiatan.

Dalam PRA terdapat 5 kegiatan pokok yaitu penjajakan/ pengenalan kebutuhan, perencanaan
kegiatan, pelaksanaan/ pengorganisasian kegiatan, pemantauan kegiatan dan evaluasi
kegiatan.

Adapun langkah-langkah metode PRA meliputi:

1) Penelusuran sejarah desa

2) Pembuatan bagan kecenderungan dan perubahan

3) Penyusunan kalender musin dan profil perubahan

4) Analisis pola penggunaan waktu (jadwal sehari-hari)

5) Observasi langsung terhadap dinamika social

6) Transect (penelusuran desa) dan pembuatan gambar lingkungan (pemetaan prasarana,


bangunan, ruangan sumber daya alam lokasi)

7) Pembuatan diagram kajian lembaga desa

8) Pembuatan bagan alur input-output

9) Bagan hubungan antar pihak (diagram venn)

10)Mengkaji mata pencaharian masyarakat

11)Membuat matrik dan pengikat permasalahan yang dihadapi dan ditemukan masyarakat

12)Wawancara semi-testruktur atau diskusi kelompok terarah

13)Analisis pola keputusan

14)Studi kasus atau cerita tentang kehidupan, peta mobilisasi masyarakat

15)Pengurutan potensi atau kekayaan

16)Pengorganisasian masalah
66

C. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

1. Persiapan

a. Desiminasi informasi pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan tingkat

Kecamatan dan pihak lain yang terkait.

b. Membentuk dan mengaktifkan kelembagaan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan


tingkat Kecamatan.

2. Perencanaan

a. Merencanakan teknis kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan lintas sector terkait.

b. Mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari dana
pemberdayaan masyarakat dari masing-masing sector untuk kegiatan terintegrasi.

3. Pelaksanaan

a. Menetapkan mekanisme koordinasi antar sector terkait dengan leading sector dari Puskesmas
(penanggung jawab promosi kesehatan).

b. Membentuk dan mengaktifkan kelembagaan untuk pelaksanaan kegiatan pemberdayaan


masyarakat bidang kesehatan di tingkat Kecamatan.

4. Melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan sesuai dengan jadwal


yang telah disusun kepada Kecamatan.

5. Monitoring evaluasi

a. Monitoring pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat. b. Melaporkan pelaksanaan


kegiatan pemberdayaan masyarakat.

BAB V

LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistic untuk pelaksanaa kegiatan pemberdayaan masyarakat direncanakan
dalam pertemuan lokakarya mini lintas sector sesuai dengan tahapan kegiatan dan metoda
pemberdayaan yang akan dilaksanakan.

BAB VI KESELAMATAN
SASARAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan perlu diperhatikan


keselamatan sasaran dengan melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang
dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan resiko terhadap sasaran harus
dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

BAB VII KESELAMATAN


KERJA

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan perlu diperhatikan


keselamatan kerja karyawan Puskesmas dan lintas sector terkait dengan melakukan identifikasi
67

resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya
pencegahan resiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan
dilaksanakan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan


indicator sebagai berikut:

1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal

2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan

3 Ketepatan metoda yang digunakan

4. Tercapainya indicator PHBS

Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap tribulan.


68

BAB IX

PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan Puskesmas dan lintas sector terkait dalam pelaksanaan
dan pembinaan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dengan tetap memperhatikan prinsip
proses pembelajaran dan manfaat.

Keberhasilan kegiatan pemberdayaan masyarakat tergantung pada komitmen yang kuat dari
semua pihak terkait dalam upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dan peran serta aktif
masyarakat dalam bidang kesehatan.
69

LAMPIRAN 4

KEPUTUSAN KEPALA
PUSKESMAS ABCD Nomor :
005/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN PERENCANAAN, AKSES, DAN EVALUASI PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


masyarakat, maka perlu disusun perencanaan Puskesmas berdasarkan analisis
kesehatan masyarakat.

b. bahwa agar masyarakat mudah mendapatkan akses terhadap pelayanan,


informasi dan memberikan umpan balik, maka perlu disusun kebijakan akses
masyarakat terhadap Puskesmas.

c. bahwa agar kineja Puskesmas dapat ditingkatkan secara berkesinambungan,


maka perlu disusun kebijakan evaluasi Puskesmas dengan indikator-indikator
kinerja yang jelas.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang


Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2015 tentang


Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan
di Kabupaten/Kota;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN

PERENCANAAN, AKSES, DAN EVALUASI PUKSESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan perencanaa, akses, dan evaluasi Puskesmas sebagaimana tercantum dalam

lampiran merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengana ketentuan apabila

dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana

mestinya.

Ditetapkan di : .......................

Pada tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


70

LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA UPT

PUSKESMAS

NOMOR :

TANGGAL :

PERENCANAAN, AKSES, DAN EVALUASI

A. PERENCANAAN PUSKESMAS

1. Jenis-jenis pelayanan yang disediakan oleh Puskesmas harus disusun sesuai dengan
prioritas kebutuhan masyarakat.

2. Jenis pelayanan dan informasi tentang pelayanan wajib disediakan bagi masyarakat.

3. Perencanaan Puskesmas harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat


dengan melibatkan masyarakat dan lintas sektor terkait, dan sesuai dengan visi, misi,
fungsi dan tugas pokok Puskesmas.

4. Analisis kebutuhan masyarakat dilakukan melalui pertemuan dengan tokoh


masyarakat, sektor terkait, SMD, MMD, analisa data kesakitan, data
kematian, analisa data survailans, capaian kinerja pelayanan UKM, dan UKP.

5. Rencana Puskesmas disusun dalam bentuk rencana lima tahunan, rencana usulan
kegiatan, dan rencana pelaksanaan kegiatan.

6. Rencana Puskesmas merupakan perencanaan yang terintegrasi baik untuk


pelayanan UKM maupun UKP.

7. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan masyarakat, hasil monitoring capaian kinerja


dalam pelaksanaan pelayanan, atau jika terjadi perubahan peraturan/ kebijakan
pemerintah, rencana Puskesmas dapat ditinjau kembali dan diperbaiki (revisi).
Peninjauan dan revisi dilakukan melalui lokakarya mini Puskesmas.

8. Kepala Puskesmas wajib melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan

Puskesmas.

9. Monitoring dilakukan melalui memeriksa laporan, lokakarya mini bulanan, dan


supervisi pelaksanaan kegiatan.

B. AKSES MASYARAKAT TERHADAP MASYARAKAT

1. Informasi tentang jenis-jenis pelayanan yang disediakan Puskesmas wajib


disediakan bagi masyarakat.

2. Informasi tentang tujuan, sasaran, tugas pokok, fungsi dan kegiatan Puskesmas
wajib disampaikan pada masyarakat, lintas sektor, dan lintas program.

3. Komunikasi dengan masyarakat termasuk akses untuk menyampaikan umpan


balik, dilaksanakan dnegan cara tertulis maupun dengan cara lisan (verbal).
Komunikasi tertulis dilakukan melalui SMS, ketersediaan kotak saran,
71

pengumuman, flyer, sedangkan komunikasi lisan dilakukan melalui media telepon,


temu muka dengan masyarakat, menyampaikan secara langsung ,dsb.

4. Keluhan dan umpan balik masyarakat wajib ditindak lanjuti.

5. Tindak lanjut terhadap keluhan dan umpan balik wajib dievaluasi.

6. Seluruh karyawan wajib mematuhi peraturan tata tertib, peraturan internal, dan
standart operasional prosedur ketika melaksanakan pelayanan.

C. EVALUASI KINERJA PUSKESMAS

1. Kinerja Puskesmas wajib dimonitor dan dievalusi oleh Kepala Puskesmas maupun
penanggungjawab baik UKP dan UKM.

2. Penilaian kinerja dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang ada di


Puskesmas, baik kinerja manajerial, kinerja pelayanan UKM maupun kinerja pelayanan
UKP.

3. Penilaian kinerja juga dilakukan terhadap penanggungjawab tiap Upaya Puskesmas.

4. Monitoring dan penilaian kinerja dilakukan secara periodik, baik bulanan, tribulanan,
semester, dan tahunan.

5. Monitoring dan penilaian kinerja dapat dilakukan melalui mekanisme mini lokakarya
bulanan, audit internal dan rapat tinjauan manajemen. Rapat tinauan manajemen
dilakukan minimal dua kali setahun secara periodik.

6. Monitoring dan penilaian kinerja tiap-tiap unit pelayanan UKP dan UKM dilakukan melalui
rapat oleh masing-masing unit pelayanan ataupun penanggung jawab.

7. Hasil monitoring dan penilaian kinerja haus diumpan balikkan pada pihak- pihak terkait
(catatan : bisa hardcopy atau softcopy lewat email).

8. Hasil analisis kinerja dibandingkan dengan standart dan dilakukan kajibanding


dengan Puskesmas yang lain.

9. Kaji banding kinerja dilakukan tiap tiga bulan sekali melalui rapat tribulan perbandingan
kinerja yang dihadiri oleh 5 (lima) Puskesmas secara bergantian.

10. Jika diperlukan dapat dilakukan kajibanding dengan Puskesmas lain yang
mempunyai unggulan untuk belajar pengalaman terbaik dari Puskesmas tersebut.

11. Hasil monitoring dan evaluasi kinerja, serta hasil kaji banding harus
ditindaklanjuti dalam bentuk perbaikan.

12. Hasil monitoring dan penilaian kinerja wajib dilaporkan ke Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota.
72

KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS ABCD

Nomor : 006/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN PENGELOLAAN PUSKESMAS ABCD


KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


masyarakat, maka perlu disusun perencanaan Puskesmas berdasarkan analisis
kesehatan masyarakat.

b. bahwa agar masyarakat mudah mendapatkan akses terhadap pelayanan,


informasi dan memberikan umpan balik, maka perlu disusun kebijakan akses
masyarakat terhadap Puskesmas.

c. bahwa agar kineja Puskesmas dapat ditingkatkan secara berkesinambungan,


maka perlu disusun kebijakan pengelolaan Puskesmas dengan indikator-indikator
kinerja yang jelas.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN


PENGELOLAAN PUKSESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan pengelolaan Puskesmas sebagaimana tercantum dalam lampiran


merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : ....................... Pada


tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


73

LAMPIRAN KEPUTUSAN

KEPALA PUSKESMAS NOMOR ....


TENTANG :
PENGELOLAAN

PUSKESMAS

A. TATA KELOLA SARANA PUSKESMAS

1. Pendirian Puskesmas memprhatikan tata ruang daerah, rasio jumlah penduduk,


dan ketersediaan pelayanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan.

2. Puskesmas harus memiliki ijin operasional yang berlaku.

3. Bangunan Puskesmas adalah bangunan permanen, tidak bergabung dengan


tempat tinggal atau instansi lain.

4. Bangunan Puskesmas harus memenuhi persyaratan lingkungan sehat.

5. Tata ruang Puskesmas diatur untuk memnuhi kebuthan pelayanan dengan


memperhatikan akses, keamanan, dan kenyamanan.

6. Pengaturan tata ruang harus mengakomodasikan kepentingan penyandang cacat,


anak-anak, dan orang usia lanjut.

7. Peralatan Puskesmas harus disediakan sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan


sesuai standart pelayanan.

8. Sarana, prasarana, dan peralatan Puskesmas harus dipelihara dengan baik dan
diupayakan berfungsi dengan baik untuk menunjang akses, keamanan dan
kelancaran pelayanan.

9. Peralatan medis dan non medis yang memerlukan ijin harus memiliki ijin yang
berlaku.

B. TATA KELOLA KETENAGAAN PUSKESMAS.

1. Kepala Puskesmas adalah tenaga kesehatan.

2. Ketentuan persyaratan Kepala Puskesmas adalah


a. Memiliki ijazah tenaga kesehatan.

b. Pernah mengikuti pelatihan administrasi dan manajemen Puskesmas. c.


Dst.

3. Harus disusun pola ketenagaan berdasarkan analisis kebutuhan tenaga.

4. Analisa kebutuhan tenaga Puskesmas dilakukan dengan memperhatikan peraturan


perundangan yang berlaku dan kebutuhan masyarakat.

5. Kompetensi tiap-tiap tenaga kesehatan haus ditetapkan.

6. Uraian tugas tiap-tiap tenaga kesehatan harus disusun dan disosialisasikan.

7. Tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas harus memenuhi persyaratan


perijinan yang ditentukan.
74

C. PENGELOLAAN PUSKESMAS

1. Struktur organisasi Puskesmas ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

2. Penanggungjawab baik UKM dan UKP ditetapkan oleh Kepala Puskesmas dengan
kejelasan alur komunikasi dan koordinasi.

3. Uraian tugas masing-masing penanggungjawab dan pelaksana harus


disusun.

4. Struktur organisasi harus dikaji paling lambat dua tahun sekali.

5. Pelaksanaan uraian tugas harus dievluasi paling lambat setiap tahun sekali.

6. Karyawan baru wajib mengikuti orientasi yang meliputi orientasi umum dan orientasi
khusus.

7. Karyawan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seminar, workshop, dan


pelatihan untuk meningkatkan kompetensi.

8. Kepala Puskesmas wajib menyampaikan informasi tentang peluang bagi karyawan untuk
mengikuti seminar, workshop dan pelatihan.

9. Visi, misi, dan tata nilai disusun bersama dengan memperhatikan visi, misi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

10. Tata nilai Puskesmas disusun berdasarkan kesepakatan bersama.

11. Tata nilai yang berlaku di Puskesmas adalah :

a. Kejujuran

b. eterbukaan
c. Intgrasi, dll.

12. Kinerja Puskesmas harus dinilai apakah sejalan dengan visi, misi, dan tata nilai yang
berlaku di Puskesmas.

13. Kepala Puskesmas dan Penanggungjawab UKM dan UKP wajib memberikan pengarahan
pada karyawan untuk kelancaran tugas.

14. Pengarahan dilakukan melalui forum lokakarya mini dan apel pagi, dan mekanisme
lain jika diperlukan.

15. Kepala Puskesmas, penanggungjawab/ koordinator upaya Puskesmas dan pelaksana


bertanggungjawab untuk memfasilitasi pembangunan yang berwawasan kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat.

16. Fasilitasi pembangunan berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat


dilakukan melalui SDM dan MMD, memberikan konsultasi ketika diminta oleh masyarakat
atau lintas sektor terkait dengan pembangunan fisik dan non fisik yang dilakukan di
wilayah kerja Puskesmas.

17. Kepala Puskesmas wajib menilai kinerja penanggungjawab UKM dan UKP

sebagai wujud akuntabilitas.


75

18. Pendelegasian wewenangan diatur sebagai berikut :

a. Jika Kepala Puskesmas berhalangan, maka tugas dapat didelegasikan kepada ...

b. Jika .... berhalangan maka tugas dapat didelegasikan kepada .... c. Dst.

19. Pengaturan penyampaian umpan balik dari pelaksana ke penanggungjawab, dari


penanggungjawab ke Kepala Puskesmas, diatur sebagai berikut :

a. Pelaporan tertulis dalam bentuk laporan bulanan.

b. Rapat bulanan.

c. .....

20. Monitoring kegiatan Puskesmas dilakukan melalui :

a. Laporan kegiatan oleh masing-masing penanggungjawab kepada Kepala

Puskesmas.

b. Laporan pelaksanaan kegiatan oleh pelaksana kepada penanggungjawab.

c. Lokakarya mini bulanan merupakan forum untuk monitoring kinerja

Puskesmas.

21. Dalam penyelenggaraan UKM dan UKP harus diidentifikasi peran lintas program
dan lintas sektor.

22. Peran lintas program dan lintas sektor dievaluasi paling lambat setahun sekali.

23. Penyusunan dan pengendalian dokumen diatur dalam pedoman penyusunan dan
pengendalian dokumen.

24. Pedoman (manual) mutu harus disusun sebagai dasar dalam upaya
peningkatan mutu pelayanan Puskesmas.

25. Pedoman atau panduan kerja harus disusun untuk tiap uapaya Puskesmas baik UKM
maupun UKP.

26. Komunikasi internal dilakukan melalui loka karya mini, pertemuan-pertemuan pada tiap
penanggungjawab baik UKM maupun UKP, konsultasi dengan Kepala Puskesmas,
konsultasi dengan penanggungjawab, ...dst.

27. Resiko akibat kegiatan Puskesmas baik UKM maupun UKP bak terhadap pengguna,
pelaksana, maupun terhadap lingkungan, harus diidentifikasi, dianalisis dan
ditindaklanjuti.

28. Jika terjadi insiden keselamatan pasien dalam pelayanan klinis wajib dianalisi dan
diindaklanjuti. Insiden keselamatan klinis yang termasuk kategori resiko sangat tinggi
harus ditindaklanjuti dengan Root Cause Analysis (RCA), sedang yang termasuk
kategori sedang dan rendah harus dilakukan investigasi sederhana.

29. Puskesmas wajib melakukan pembinaan pada jaringan dan jejaring

Puskesmas.

30. Keuangan Puskesmas wajib dikelola sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
76

31. Data dan informasi wajib dikelola dan dievaluasi sebagai dasar untuk
pengambilan keputusan.

D. HAK DAN KEWAJIBAN PENGGUNA

1. Hak-hak pengguna adalah :

a. ......

b. .......
c. ........
d. .dst

2. Kewajiban pengguna Puskesmas adalah :

a. ...

b. ....

c. .....

d. dst

Dalam menyelenggarakan pelayanan, tetap memerhatikan hak dan kewajiban pengguna.

4. Setiap petugas Puskesmas wajib memahami hak dan kewajiban pengguna dan
memberikan pelayanan dengan memperhatikan hak dan kewajiban pengguna.

5. Peraturan internal disusun berdasarkan kesepakatan bersama dan wajib dipatuhi dalm
berperilaku dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

6. Peraturan internal disusun berdasarkan visi, misi, dan tata nilai dan tujuan Puskesmas.

E. KONTRAK PIHAK KETIGA

1. Sebagian kegiatan Puskesmas yang dikontrakkan kepada pihak ketiga harus dituangkan
dalam perjanjian kerjasama.

2. Pihak ketiga harus dievaluasi paling lambat setahun sekali dan ditndaklanjuti.

F. PEMELIHARAAN SARANA DAN PERALATAN

1. Penanggungjawab pemeliharaan sarana dan penanggungjawab peralatan wajib menyusun


dan melaksanakan program kerja pemeliharaan.

2. Pemeliharaan kendaraan bermotor roda dua menjadi kewajiban dari pemegang


kendaraan.
77

LAMPIRAN KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS NOMOR .... TENTANG : KEBIJAKAN
MUTU DAN
KESELAMATAN PASIEN
KEBIJAKAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS ABCD

1. Kepala Puskesmas dan seluruh penanggungjawab UKP dan penanggungjawab UKM wajib
berpartisipasi dalam program mutu/ kinerja Puskesmas dan keselamatan pasien
mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.

2. Para pimpinan wajib melakukan kolaborasi dalam pelaksanaan program mutu dan keselamatan
pasien yang diselenggarakan di seluruh jajaran Puskesmas.

3. Tata nilai dalam menyediakan pelayanan baik UKM maupun UKP disepakati bersama dan
menjadi acuan dalam pemberian pelayaanan kepada masyarakat.

4. Tata nilai tersebt adalah ....................................................

5. Kebijakan mutu dan tata nilai Puskesmas dalam memberikan pelayanan disusun secara bersama
dan dituangkan dalam pedoman mutu dan kinerja.

6. Pedoman mutu dan perencanaan mutu/ kinerja disusun berdasarkan visi, misi, dan tujuan
Puskesmas.

7. Perencanaan mutu disusun oleh seluruh jajaran Puskesmas ABCD dengan pendekatan
multidisiplin, dan dikoordinasikan oleh Penanggungjawab Manajemen Mutu.

8. Perencanaan mutu/ kinerja meliputi perencanaan mutu/ kinerja manajemen, perencanaan mutu/
kinerja UKM, dan perencanaan mutu pelayanan klinis.

9. Perencanaan mutu/ kinerja manajemen meliputi paling tidak :

a. Penilaian kinerja manajemen

b. Pelaksanaan audit interna

c. Pelaksanaan pertemuan tinjauan manajemen

d. Kaji banding kinerja dengan Puskesmas lai

e. Penilaian perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga

10. Perencanaan mutu/ kinerja UKM meliputi paling tidak :

a. Penilaian kinerja UKM dan tindak lanjutnya.

11. Perencanaan mutu/ kinerja pelayanan klinis dan keselamatan pasien berisi paling tidak :

a. Area prioritas berdasarkan data dan informasi, baik dari hasil monitoring dan evaluasi
indikator, maupun keluhan pasien/ keluarga/ staf dengan mempertimbangkan kekritisan,
resiko tinggi dan kecenderungan terjadinya masalah.

b. Salah satu area prioritas adalah sasaran keselamatan pasien

c. Kegiatan-kegiatan pengukuran dan pengendalian mutu dan keselamatan pasien yang


terkoordinasi dari semua unit kerja dan unit pelayanan

d. Pengukuran mutu dan keselamatan pasien dilakukan dengan pemilihan indikator,


pengumpulan data, untuk kemudian dianalisis dan ditindaklanjuti dalam upaya
peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
78

e. Indikator meliputi indikator manajerial, indikator kinerja UKM, dan indikator klinis, yang
meliputi indikator struktur, proses, dan outcoms.
79

f. Upaya-upaya perbaikan mutu dan keselamatan pasien melalui standarisasi,


perancangan sistem, rancang ulang sistem untuk peningkatan mutu dan keselamatan
pasien.

g. Penerapan manajemen resiko pada semua lini pelayanan baik pelayanan klinis maupun
penyelenggaraan UKM.

h. Manajemen resiko klinis untuk mencegah terjadinya kejadian sentinel, kejadian tidak
diharapkan, kejadian nyaris cedera, dan keadaan potensial cedera.

i. Program dan kegiatan-kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinis dan keselamatan


pasien, termasuk di dalamnya program peningkatan mutu laboratorium dan program
peningkatan mutu pelayanan obat.

j. Program pelatihan yang terkait dengan peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

k. Rencana pertemuan sosialisasi dan koordinasi untuk menyampaikan permasalahan,


tindak lanjut, dan kemajuan tindak lanjut yang dilakukan.

l. Rencana monitoring dan evaluasi program mutu dan keselamatan pasien.

12. Dalam upaya perbaikan mutu/ kinerja Puskesmas dan keselamatan pasien melibatkan/
memberdayakan lintas sektor, lintas program, dan masyarakat sebagai pengguna pelayanan
untuk berperan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan tindaklanjut
program-program kegiatan mutu/ kinerja Puskesmas dan keselamatan pasien.

13. Perancangan sistem/ proses pelayanan memperhatikan butir-butir dibawah ini : a. Konsisten
dengan visi, misi, tujuan dan tata nilai Puskesmas, dan perencanaan Puskesmas.

b. Memenuhi kebutuhan pasien, keluarga, masyarakat dan staf.

c. Menggunakan pedoman penyelenggaraan UKM, pedoman praktik klinis, standart


pelayanan klinis, kepustakaan ilmiah dan berbagai panduan dari profesi maupun
panduan dari Kementerian Kesehatan.

d. Sesuai dengan praktik bisnis yang sehat

e. Mempertimbangkan informasi dari manajemen resiko.

f. Dibangun sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilan yang ada di


Puskesmas.

g. Dibangun berbasis praktik klinis yang baik.

h. Menggunakan informasi dari kegiatan peningkatan yang terkait.

i. Mengintegrasikan serta menggabungkan berbagai proses dan sistem pelayanan.

14. Seluruh kegiatan mutu/ kinerja Puskesmas dan keselamatan pasien harus
didokumentasikan.

15. Hasil-hasil peningkatan mutu dan keselamatan pasien harus disosialisasikan kepada
pihak-pihak tekait yang membutuhkan.

16. Penanggungjawab manajemen Mutu wajib melaporkan kegiatan peningkatan mutu dan
keselamatan pasien kepada Keapal Puskesmas tiap tribulan.

17. Berdasarkan pertimbangan hasl keluhan pasien/ keluarga dan staff, serta mempertimbangkan
kekritisan, resiko tinggi, dan potensial bermasalah, maka area prioritas yang perlu
mendapatkan perhatian dalam peningkatan mutu/ kinerja pelayanan klinis dan keselamatan
pasien adalah :
80

a. Pencapaian 6 sasaran keselamtan pasien

b. Pelayanan Rawat Jalan

c. Pelayanan Farmasi

d. Pelayanan Gawat Darurat.


81

KEPUTUSAN KEPALA
PUSKESMAS ABCD Nomor :
009/KAPUS/III/2014

TENTANG

KEBIJAKAN MUTU PUSKESMAS DAN KESELAMATAN PASIEN DI PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan yang bermutu dan
aman.

b. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di


PUSKESMAS ABCD perlu disusun kebijakan mutu dan keselamatan pasien.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN MUTU


PUSKESMAS DAN KESELAMATAN PASIEN DI PUKSESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan Mutu Puskesmas Dan Keselamatan Pasien Puskesmas sebagaimana


tercantum dalam lampiran merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat
keputusan ini.
82

Kedua : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : .......................
Pada tanggal : 1 April 2014

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


83

KEPUTUSAN KEPALA
PUSKESMAS ABCD Nomor :
005/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN ANALISIS KEBUTUHAN MASYARAKAT, AKSES, INDIKATOR DAN EVALUASI


PENYELENGGARAAN UKM PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


masyarakat, maka perlu disusun perencanaan Puskesmas berdasarkan analisis
kesehatan masyarakat.

b. bahwa agar masyarakat mudah mendapatkan akses terhadap pelayanan,


informasi dan memberikan umpan balik, maka perlu disusun kebijakan akses
masyarakat terhadap Puskesmas.

c. bahwa agar kineja Puskesmas dapat ditingkatkan secara berkesinambungan,


maka perlu disusun kebijakan evaluasi Puskesmas dengan indikator-indikator
kinerja yang jelas.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota;

5. PMK-PMK yang terkait dengan UKM-UKM yang ada;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN ANALISIS


KEBUTUHAN MASYARAKAT, AKSES, INDIKATOR DAN EVALUASI
PENYELENGGARAAN UKM PUSKESMAS ABCD.
84

Kesatu : Kebijakan Analisis Kebutuhan Masyarakat, Akses, Indikator Dan Evaluasi


Penyelenggaraan UKM Puskesmas sebagaimana tercantum dalam lampiran
merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Indikator dan target kinerja tiap-tiap UKM sebagaimana tercantum dalam
Lampiran II merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat keputusan ini

Ketiga : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : .......................

Pada tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


85

LAMPIRAN KEPUTUSAN

KEPALA PUSKESMAS NOMOR ....


TENTANG : KEBIJAKAN ANALISIS
KEBUTUHAN MASYARAKAT, AKSES,
INDIKATOR DAN EVALUASI
PENYELENGGARAAN UKM

PUSKESMAS ABCD

A. ANALISIS KEBUTUHAN MASYARAKAT TERHADAP PENYELANGGARAAN UKM.

1. Analisis kebutuhan masyarakat dengan melibatkan masyarakat dan lintas sektor


terkait, dan sesuai dengan visi, misi, fungsi dan tugas pokok Puskesmas wajib dilakukan
sebagai dasar untuk menyusun perencanaan UKM Puskesmas.

2. Analisis kebutuhan masyarakat dilakukan melalui pertemuan dengan tokoh masyarakat,


sektor terkait, SMD,MMD analisis data surveilans, capaian kinerja pelayanan, dan
umpan balik masyarakat.

3. Umpan balik dari masyarakat diperoleh melalui SMD dan MMD, survey kepuasan, survey
kebutuhan masyarakat, keluhan masyarakat yang disampaikan scara langsung baik
melalui lisan maupun melalui media SMS dan kotak saran, dan pertemuan dengan tokoh
masyarakat dan sasaran.

4. Hasil analisis kebutuhan dan umpan balik dari masyarakat dibahas secara kolaboratif
oleh Kepala Puskesmas, pelaksana, lintas program, dan lintas sektoral, melalui
pertemuan mini lokakarya lintas program dan lintas sektor.

5. Rencana penyelenggaraan masing-masing UKM Puskesmas harus diintegrasikan


dalam perencanaan tingkat Puskesmas.

6. Upaya-upaya inovatif dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan kebutuhan


masyarakat, usulan atau masukan dari masyarakat, perubahan regulasi pemerintah, dan
perkembangan teknologi kesehatan, dan dibahas dalam pertemuan dengan
masyarakat, pertemuan lintas program maupun lintas sektor.

B. AKSES MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN UKM PUSKESMAS

1. Jadwal pelaksanaan kegiatan tiap UKM dilaksanakan sesuai dengan rencana,


disepakati dan diinformasikan kepada kelompok sasaran.

2. Jadwal dan tempat pelaksanaan kegiatan UKM harus disepakati dengan cara
pembahasan dalam mini lokakarya lintas program dan lintas sektor, kesepakatan dengan
kader atau kepala kelurahan melalui telepon dan surat menyurat.

3. Pelaksanaan kegiatan UKM harus dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan
dan dilakukan oleh pelaksana yang kompeten.

4. Kesepakatan jadwal pelaksanaan kegiatan UKM dilakukan dengan cara kesepakatan lewat
telepon, pe,beritahuan lewat surat dinas, kesepakatan pada waktu lokakarya mini lintas
program dan lokakarya mini lintas sektor.

5. Penanggungjawab UKM wajib memonitor dan mengevaluasi ketepatan waktu ketepatan


sasaran dan ketepatan tempat pelaksanaan UKM.
86

6. Kajian terhadap masalah dan hambatan pelaksanaan kegiatan UKM harus diidentifikasi
oleh penanggungjawab dan pelaksana UKM sebagai dasar untuk perbaikan.

7. Informasi tentang kegiatan UKM harus disampaikan pada masyarakat, kelompok


masyarakat, individu yang menjadi sasaran, lintas program, lintas sektor terkait.

8. Penyampaian informasi kepada masyarakat, lintas program, dan lintas sektor wajib
dievaluasi dan ditindaklanjuti.

9. Akses masyarakat terhadap pelayanan UKM Puskesmas dan informasi tentang UKM
wajib dievaluasi.

10. Umpan balik dan keluhan masyarakat terhadap penyelenggaraan UKM didapatkan
melalui kotak saran, SMS pelayanan pengaduan, telepon, keluhan langsung yang
disampaikan pada petugas.

11. Keluhan dan umpan balik dari masyarakat wajib ditindaklanjuti.

12. Tanggapan terhadap keluhan dan umpan balik masyarakat disampaikan melalui
papan informasi tanggapan keluhan di Puskesmas, SMS, dan WEB Puskesmas.

C. EVALUASI KINERJA PENYELENGGARAAN DAN UKM PUSKESMAS

1. Kinerja penyelenggaraan ukm Puskesmas wajib dimonitor dan dievaluasi.

2. Penilaian kinerja penyelenggaraan UKM Puskesmas dilakukan dengan indikator yang


jelas sesuai dengan pedoman penyelenggaraan UKM dan Standart Pelayanan
Minimal dengan target yang jelas.

3. Indikator dan target kinerja untuk tiap-tiap UKM ditetapkan sesuai dengan lampiran II
dari surat keputusan ini.

4. Capaian indikator kinerja wajib dianalisis dibandingkan dengan Puskesmas lain


(kajibanding)dan ditindaklanjuti.
87

KEPALA PUSKESMAS ABCD


Nomor : 007/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN PENGELOLAAN UKM PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


masyarakat, maka perlu disusun perencanaan Puskesmas berdasarkan analisis
kesehatan masyarakat.

b. bahwa agar masyarakat mudah mendapatkan akses terhadap pelayanan,


informasi dan memberikan umpan balik, maka perlu disusun kebijakan akses
masyarakat terhadap Puskesmas.

c. bahwa agar kineja Puskesmas dapat ditingkatkan secara berkesinambungan,


maka perlu disusun kebijakan evaluasi Puskesmas dengan indikator-indikator
kinerja yang jelas.

d. bahwa agar penyelenggaraan UKM Puskesmas dapat dilaksanakan sesuai


dengan kebutuhan, dan sesuai dengan pedoman, dan ketentuan perundangan,
maka perlu disusun kebjakan pengelolaan UKM Puskesmas.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota;

5. (lengkapi dengan PERMENKES tentang pedoman-pedoman yang terkait


dengan UKM yang diselenggarakan di Puskesmas...);
88

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN


PENGELOLAAN UKM PUSKESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan pengelolaan UKM Puskesmas sebagaimana tercantum dalam


lampiran merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : .......................

Pada tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


89

LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA


PUSKESMAS NOMOR ...

TENTANG : PENGELOLAAN UKM

A. KEBIJAKAN PENGELOLAAN UKM

1. Penanggungjawab UKM harus memenuhi persyaratan kompetensi sebagaimana


pada pedoman tiap-tiap UKM.

2. Analisis kompetensi wajib dilakukan untuk tiap penaggungjawab.

3. Jika kompetensi belum terpenuhi maka harus dilakukan tindaklanjut untuk memenuhi
kompetensi yang dipersyaratan.

4. Penanggungjawab dan pelaksanaan UKM yang baru wajib mengikuti program


orientasi.

5. Penyelenggaraan UKM dilaksanakan sesuai dengan tata nilai yang disepakati dan
rencana yang disusun.

6. Kepala Puskesmas wajib melakukan pembinaan dan arahan kepada tiap-tiap


penanggungjawab UKM dalam pelaksanaan kegiatan UKM.

7. Penanggungjawab UKM wajib melakukan pembinaan dan arahan keada pelaksana


kegiatan UKM.

8. Penanggungjawab UKM wajib melakukan komunikasi dan koordinasi dengan lintas


program dan lintas sektor terkait dalam penyelenggaraan UKM.

9. Dalam penyelenggaraan kegiatan UKM harus diidentifikasi resiko yang mungkin terjadi
terhadap lingkungan, dan dilakukan upaya untuk mencegah dan atau meminimalisasi
akibat resiko yang terjadi.

10. Dalam penyelenggaraan UKM penanggungjawab UKM wajib melakukan fasilitasi


pemberdayaan masyarakat dan sasaran, dan mengupayakan pembangunan berwawasan
kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dimulai dengan keterlibatan masyarakat dalam
menyampaikan kebutuhan, keluhan, umpan balik, aktif dalam pelaksanaan kegiatan UKM
sampai dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan UKM.

11. Dalam pelaksanaan kegiatan UKM, penanggungjawab dan pelaksana dipandu


oleh uraian tugas yang jelas yang dikaji secara regular miniml setahun sekali.

12. Lintas program dan lintas sektor terkait harus diidentifikasi untuk tiap UKM

dengan kejelasan peran masing-masing.

13. Akuntabilitas penyelenggaraan UKM dilaksanakan dengan monitoring dan evaluasi


kinerja UKM.

14. Monitoring sebagai wujud akuntabilitas dilakukan dengan cara analisis terhadap
laporan kegiatan UKM, supervisioleh Kepala Puskesmas maupun penanggungjawab
UKM dan pertemuan monitoring kegiatan UKM oleh penanggungjawab UKM dan
monitoring bulanan melalui lokakarya mini bulanan.

15. Monitoring meliputi capaian kinerja dan proses pelaksanaan kegiatan.16. Evaluasi kinerja UKM
dilakukan setiap tiga bulan sekali melalui lokakarya mini, tiap semester melalui pertemuan
tinjauan manajemen, dan setiap tahun melalui evaluasi kinerja tahunan.
90

17. Pelaksanaan uraian tugas wajib dimonitor. Kepala Puskesmas melakukan monitoring
pelaksanaan uraian tugas dari semua penanggungjawab UKM. Masing-masing
penanggungjawab UKM wajib melakukan monitoring pelaksanaan uraian tugas dari tiap-
tiap pelaksana.

18. Waktu pelaksanaan monitoring uraian tugas dilakukan palinglambat tiga bulan
sekali.

19. Monitoring kinerja UKM wajib dilakukan oleh penanggung jawab tiap program UKterhadap
pelaksana oleh Kepala Puskesmas terhadap tiap penanggungjawab UKM.

20. Monitoring minimal dilakukan setiap bulan sekali.

21. Monitoring dapat dilakukan melalui pertemuan mingguan, lokakarya mini, supervisi
langsung maupun pertemuan konsultasi.

22. Evaluasi kinerja UKM secara periodik dilakukan minimal tiga bulan sekali.

23. Evaluasi kinerja dilakuka melalui lokakarya mini triwulan, enam bulan sekali, dalam
pertemuan/rapat tinjauan manajemen dan evaluasi tahunan.

24. Hak dan kewajiban sasaran harus diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan UKM.

25. Hak –hak sasaran meliputi :...

26. Kewajiban sasaran meliputi :...

27. Perilaku dalam penyelenggaraan UKM diatur sebagaimana tertuang dalam peraturan
tata kelola Puskesmas.
91

KEPALA PUSKESMAS ABCD


Nomor : 008/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


pasien.

b. bahwa pelayanan klinis Puskesmas perlu memperhatikan mutu dan


keselamatan pasien..

c. bahwa untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan sesuai kebutuhan pasien,


bermutu, dan memperhatikan keselamatan pasien. Maka perlu disusun kebijakan
pelayan klinis di Puskesmas ABCD.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN


PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan pelayanan klinis Puskesmas sebagaimana tercantum dalam lampiran


merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : ....................... Pada


tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


92

LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA


PUSKESMAS NOMOR ....

TENTANG : KEBIJAKAN PELAYANAN KLINIS

PUSKESMAS ABCD

A. PENDAFTARAN PASIEN

1. Pendaftaran pasien harus dipandu dengan prosedur yang jelas.

2. Pendaftaran dilakukan oleh petugas yang kompeten yang memenuhi kriteria sebagai
berikut ; ......dst.

3. Pendaftaran pasien memperhatikan keselamatan pasien.

4. Identitas pasien harus dipastikan minimal dengan dua cara dari cara identifikasi
sebagai berikut : nama pasien, tanggal lahir pasien, alamat/tempat tinggal, dan nomor
rekam medis.

5. Informasi tentang jenis pelayanan klinis yang tersendir, dan informasi lain yang
dibutuhkan masyarakat yang meliputi : tarif, jenis pelayanan, ketersediaan tempat tidur,
dan informasi tentang kerjasama dengan fasilitas kesehatan yang lain harus dapat
disediakan di tempat pendaftaran.

6. Hak dan kewajiban pasien harus diperhatikan pada keseluruhan proses pelayanan yang
dimulai dari pendaftaran.

7. Hak-hak pasien meliputi : ....

8. Kewajiban pasien meliputi :...

9. Kendala fisik, bahasa, dan budaya serta penghalang lain wajib diidentifikasi dan
ditindaklanjuti.

B. PENGKAJIAN, KEPUTUSAN DAN RENCANA LAYANAN.

1. Kajian awal dilakukan secara paripurna dilakukan oleh tenaga yang kompeten
melakukan pengkajian.

2. Kajian awal meliputi kajian medis, kajian keperawatan, kajian kebidanan, dan kajian lain
oleh tenaga profesi keshatan sesuai dengan kebutuhan.

3. Proses kajian dilakukan mengacu standar profesi dan standart asuhan.

4. Proses kajian dilakukan dengan memperhatikan tidak terjadinya pengulangan yang tidak
perlu.

5. Informasi kajian baik medis, keperawatan, kebidanan, dan profesi kesehatan lain wajib
diidentifikasi dan dicatat dalam rekam medis.

6. Proses kajian dilakukan sesuai dengan langkah-langkah SOAP

7. Pasien dengan kondisi gawat atau darurat harus diprioritaskan dalam pelayanan.
93

8. Kajian dan perencanaan asuhan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional yang
kompeten.

9. Jika dilakukan pelayanan secara tim, tim kesehatan antar profesi harus tersedia.

10. Pendelegasian wewenang baik dalam kajian maupun keputusan layanan harus
dilakukan melalui proses pendelegasian wewenang.

11. Pendelegasian wewenang diberikan kepada tenaga kesehatan profesional yang


memenuhi persyaratan.

12. Proses kajian, perencanaan, dan pelaksanaan layanan dilakukan dengan peralatan
dan tempat yang memadai.

13. Peralatan dan tempat pelayanan wajib menjamin keamanan pasien dan petugas.

14. Rencana layanan dan pelaksanaan layanan dipandu oleh prosedur klinis yang
dibakukan.

15. Jika dibutuhkan rencana layanan terpadu, maka kajian awal, rencana layanan,
dan pelaksanaan layanan disusun secara kolaboratif dalam tim layanan yang terpadu.

16. Rencana awal disusun untuk tiap pasien dan melibatkan asien.

17. Penyusunan rencana layanan mempertmbangkan kebutuhan biologis, psikologis,


sosial, spirital dan memperhatikan tata nilai budaya pasien.

18. Rencana layanan disusun dengan hasil dan waktu yang jelas dengan
memeperhatikan efisiensi sumber daya.

19. Resiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan layanan harus siidentifikasi.

20. Efek samping dan resiko pelaksanaan layanan dan pengobatan harus
diinformasikan kepada asien.

21. Rencana layanan harus dicatat dalam rekam medis.

22. Rencana layanan harus memuat pendidikan/penyuluhan pasien.

C. PELAKSANAAN LAYANAN.

1. Pelaksanaan layanan dipandu dengan pedoman dan prosedur pelayanan klinis.

2. Pendoman dan prosedur layanan klinis meliputi : pelayanan medis, keperawatan,


kebidanan, dan pelayanan profesi kesehatan yang lain.

3. Pelaksanaan layanan dilakukan sesuai rencana layanan.

4. Pelaksanaan layanan dan perkembangan pasien harus dicatat dalam rekam medis.

5. Jika dilakukan perubahan rencana layanan harus dicatat dalam rekam medis.

6. Tindakan medis/ pengobatan yang beresiko wajib diinformasikan pada pasien sebelum
mendapatkan persetujuan.

7. Pemberian informasi dan persetujuan pasien (informed consent) wajib didokumentasikan.

8. Pelaksanaan layanan klinis harus dimonitor, dievaluasi, dan ditindaklanjuti.


94

9. Evaluasi harus dilakukan terhadap evaluasi dan tindak lanjut.

10. Kasus-kasus gawat darurat harus diprioritaskan dan dilaksanakan sesuai prosedur
pelayanan pasien gawat darurat.

11. Kasus-kasus beresiko tinggi harus ditangani sesuai dengan prosedur pelayanan
kasus beresiko tinggi.

12. Kasus-kasus yang perlu kewaspadaan universal terhadap terjadinya infeksi harus
ditangani dengan memperhatikan prosdur pencegahan (kewaspadaan universal).

13. Pemberian obat/cairan intravena harus dilaksanakan dengan prosedur pemberian


obat/cairan intravena yang baku dan mengikuti prsedur aseptik.

14. Kinerja pelayanan klinis harus dimonitor dan dievaluasi dengan indikator yang jelas.

15. Hak dan kebutuhan pasien harus diperhatikan pada saat pemberian layanan.

16. Keluhan [asien/keluarga wajib diidentifikasi, didokumentasikan dan


ditindaklanjuti.

17. Pelaksanaan layanan dilaksanakan secara tepat dan terencana untuk


menghindari pengulangan yang tidak perlu.

18. Pelayanan mulai dari pendaftaran, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penujang, perencaaan
layanan, pelaksanaan layanan, pemberian obat/ tindakan sampai dengan pasien pulang
atau dirujuk harus dijamn berkesinambunganya.

19. Pasien berhak untuk menolak pengibatannya.

20. Pasien berhak untuk menolak jika dirujuk ke sarana kesehatan lain.

21. Penolakan untuk melanjutkan pengobatan maupun untuk rujukan dipandu oleh
prosedur yang baku.

22. Jika pasien menolak untuk pengobatan atau rujukan, wajib diberikan informasi
tentang hak pasien untuk membuat keputusan. Akibat dari keputusan dan tanggungjawab
mereka berkenaan dengan keputusan tersebut.

23. Pelayanan anestesi dan pembedahan harus dipandu dengan prosedur baku.

24. Palayanan anestesi dan pembedahan dilakukan oleh petugas yang kompeten.

25. Sebelum melakukan anestesi da pembedahan harus mendapatkan nformed consent.

26. Status pasien wajib dimonitor setelah pemebrian anestesi dan pembedahan.

27. Pendidikan/ penyuluhan kesehatan pada pasien dilaksanaan sesuai dengan rencanan
layanan.

D. RENCANA RUJUKAN DAN PEMULANGAN

1. Pemulangan pasien rawat inap dipandu oleh prosedur yang baku.

2. Dokter yang menangani bertanggungjawab untuk melaksanakan proses pemulangan/


rujukan.

3. Umpan balik dari fasilitas rujukan wajib ditindak lanjuti oleh dokter yang menangani.
95

4. Jika pasien tidak mungkin dirujuk, Puskesmas wajib memberikan alternatif pelayanan.

5. Rujukan pasien harus disertai dengan resume klinis.

6. Resume klinis meliputi : nama pasien, kondisi klinis, prosedur/ tindakan yang telah dilakukan,
dan kebutuhan akan tindaklanjut.

7. Pasien diberi informasi tentang hak untuk memilih tempat rujukan.

8. Pasien dengan kebutuhan khusus perlu didampingi oleh petugas yang kompeten.

9. Kriteria merujuk pasiesn meliputi .... dst.

10. Pada saat pemulangan, asien/ keluarga pasien harus diberi informasi tentang tindaklanjut.
96

KEPALA PUSKESMAS ABCD


Nomor : 008/KAPUS/IX/2015

TENTANG

KEBIJAKAN PENUNJANG PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS ABCD

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Menimbang : a. bahwa agar penyelenggaraan pelayanan Puskesmas sesuai dengan kebutuhan


pasien.

b. bahwa pelayanan klinis Puskesmas perlu memperhatikan mutu dan


keselamatan pasien.

c. bahwa untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan sesuai kebutuhan pasien,


bermutu, dan memperhatikan keselamatan pasien. Maka perlu disusun kebijakan
pelayan klinis di Puskesmas ABCD.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun

2014 tentang Puskesmas;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun

2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1457/MENKES/SK/X2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN


PENUNJANG PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS ABCD.

Kesatu : Kebijakan penunjang pelayanan klinis Puskesmas sebagaimana tercantum


dalam lampiran merupakan bagian yang tida terpisahkan dari surat keputusan ini.

Kedua : Surat keputusan ini berrlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : .......................

Pada tanggal : 1 September 2016

KEPALA PUSKESMAS ABCD,

Nama, Gelar, NIP


97
98

LAMPIRAN KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS NOMOR ...

TENTANG : KEBIJAKAN PENUNJANG

PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS ABCD

A. PELAYANAN LABORATORIUM

1. Jenis-jenis pelayanan laboratorium yang disediakan di Puskesmas meliputi :

c. ...dst

2. Pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh petugas yang kompetens yaitu analis


kesehatan dan petugas dengan minimal lulusan .... dan telah mendapatkan
pelatihan....

3. Hasil pemeriksaan harus diinterpretasikan oleh petugas yang terlatih.

4. Pemeriksaan laboratorium untuk tiap-tiap jenis pemeriksaan harus dipandu dengan


prosedur mulai dari permintaan pemeriksaan, penerimaan spesimen, pengambilan
dan penyimpanan spesimen, pemeriksaan sampai penyerahan hasil.

5. Jika ada permintaan pemeriksaan diluar jam kerja maka ...

6. Untuk pemeriksaan kasus-kasus beresiko tinggi diatur sebagai berikut :

a. Untuk pemeriksaan pasien dengan riwayat penyakit hepatitis B, maka... b.


Untuk pemeriksaan pasien dengan riwayat HIV/AIDS, maka ....

c. Dst.

7. Petugas pemeriksa laboratorium wajib menggunakan APD.

8. Bahan-bahan berbahaya beracun harus disimpan secara aman menurut ketentuan


yang berlaku.

9. Limbah laboratorium sebagai akibat pemeriksaan laboratorium harud dikelola


sebagai limbah infeksius.

10. Reagensia harus tersedia sesuai dengan jenis pemeriksaan yang disediakan.
99
100

7. Pemberian obat narkotika dan psikotropika diatur sebagai berikut :

a. Perespan obat narkotika dan psikotropika hanya boleh dilakukan oleh ...

b. Penyimpanan obat narkotika dan psikotropika harus dilakukan sebagai berikut : ...

c. Dst...

8. Jika ada obat yang dibawa oleh pasien, maka obat harus diidentifikasi dan ditindaklanjuti
sesuai dengan instruksi dokter.

9. Penyediaan obat dilakukan oleh tenaga farmasi atau tanaga taknis kefarmasian
dengan memperhatikan higiene dan kebersihan.

10. Penyimpanan obat dilakukan sesuai dengan ketentuan penyimpanan tiap-tiap obat.

11. Penyimpanan obat pada tiap pasien harus disertai labek yang berisi minimal : nama
pasien, tanggal lahir, nomor rakm medis, aturan pakai, cara pemakaian, waktu
menggunakan, ..dst.

12. Dalam pemberian obat harus memperhatikan ada tidaknya riwayat alergi, interaksi
obat, dan efek samping obat.

13. Efek samping obat harus dilaporkan dan ditindaklanjuti dan dicatat dalam rekam
medis.

14. Jika terjadi kesalahan dalam pemberian obat maka harus dilaporkan dan
ditindaklanjuti.

15. Obat-obat emergency harus tersedia di tempat pelayanan untuk mengatasi jika terjadi
kedaruratan dalam pelayanan kesehatan.

16. Obat emergency harus disegel, dimonitor penggunaannya, dan segera diganti jika
digunakan dan disegel kembali oleh petugas farmasi.

C.PELAYANAN RADIODIAGNOSTIK

1. Jenis-jenis pelayanan radiodiagnostik yang disediakan adalah :

a.
...
b.
,...

c. Dst

2. Pelayanan radiodiagnostik dilakukan oleh tenaga kompeten yaitu radiografer.

3. Interpretasi hasil radiodiagnostik dilakukan oleh dokter umum yang telah


mendapatkan pelatian radiodiagnostik.

4. Dst..
101

D.PENGELOLAAN INFORMASI DAN REKAM MEDIS

1. Kode klarifikasi diagnosis menggunakan ICD X

2. Kode klarifikasi tindakan menggunakan ICD IX/CM

3. Singkatan yang boleh digunakan dalam pelayanan di Puskesmas sebagaimana


pada lampiran....

4. Petugas Puskesmas yang boleh mengakses rekam medis adalah :

a. ...

b. ...

c. ..

d. Dst

5. Jika ada mahasiswa atau peneliti yang membutuhkan akses terhadap rekam medis harus
mendapat persetujuan dari Kepala Puskesmas, sesuai prosedur yang berlaku dan wajib
menjaga kerahasiaan.

6. Rekam medis pasien diidentifikasi dengan cara penomoran sebagai berikut :

a.
...
b.
...

7. Rekam medis disimpan dnegan aturan sebagai berikut :

8. Masa retensi rekam medis adalah sebagai berikut :

9. Isi rekam medis mencakup :

10. Kelengkapan isi rekam medis harus dievaluasi dan ditindaklanjuti.

E. MANAJEMEN LINGKUNGAN

1. Kondisi fisik bangunan dan lingkungan Puskesmas wajib dipntau secara rutin.

2. Prasarana Puskesmas, yang meliputi air, listrik dst... harus dipantau secara periodik,
dipelihara, dan diperbaiki dan dipastikan berfungsi.

3. Hasil pemantauan, pemeliharaan, dan perbaikan harus didokumentasikan.

4. Bahan dan limbah berbahaya harus diidentifikasi, disimpan dengan benar, dimonitor
penyimpanan dan penggunaannya dan ditidaklanjuti.

5. Harus disusun progrm menjamin lingkungan Puskesmas yang aman meliputi:


perencanaan, pelaksanaan, pendidikan dan pelatihan, pemantauan dan evaluasi.

6. Harus disusun program pemeliharaan peralatan, meliputi perencanaan, pelaksanaan,


monitoring, evaluasi dan tindaklanjut.

7. Peralatan yang perlu dikalibrasi harus dikalibrasi tepat waktu.

8. Peralatan steril harus disterlkan dengan prosedur yang benar.


102

F. MANAJEMEN SDM YANG BEKERJA DALAM PELAYANAN KLINIS.

1. Pola ketenagaan SDM klinis harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan SDM.

2. Kredensial harus dilakukan untuk setiap tenaga klinis.

3. Tenaga klinis yang bekerja di Puskesmas harus mempunyai surat ijin yang berlaku.

4. Evaluasi kinerja tenaga klinis harus dilakukan secara berkala paling lambat satu tahun
sekali.

5. Peluang untuk melakukan pendidikan dan pelatihan harus diinformasikan kepada tenaga
klinis.

6. Tiap tenaga klinis harus mempunyai uraian tugas dengan kejelasan kewenangan klinis
untuk masingmasing petugas.

7. Pelaksanaan uraian tugas dan wewenangan setiap tenaga klinis harus dievaluasi
dan ditindaklanjuti.
103

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :
TENTANG

JENIS-JENIS PELAYANAN UPTD


PUSKESMAS YYY TAHUN TTT

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan jenis-jenis pelayanan UPTD
Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang


104

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG JENIS-JENIS PELAYANAN UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN
TTT.

Kesatu : Jenis-jenis pelayanan UPTD Puskesmas YYY sebagaimana tercantum


dalam lampiran ini telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan
permasalahan kesehtan diwilayah kerja UPTD Puskesmas YYY;

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal
...

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


105

LAMPIRAN I

KEPUTUSAN KEPALA UPTD


PUSKESMAS YYY

Nomor :

Tanggal :

JENIS-JENIS PELAYANAN UPTD PUSKESMAS YYY

A. Pelayanan Medis Rawat Jalan

1. Pelayanan Poli Umum

2. Pelayanan Poli Gigi

3. Pelayanan Poli KIA/ KB

4. Pelayanan Poli Gizi

5. Pelayanan Spesialistik Mata

6. Pelayanan Poli Psikologi

7. Pelayanan Poli MTBS

8. Pelayanan Poli DDTK

9. Pelayanan Unit Sanitasi

B. Pelayanan Penunjang Medis

1. Pelayanan Unit Pendaftaran dan Kasir

2. Pelayanan Unit Laboratorium

3. Pelayanan Unit Obat

C. Penyelenggaraan Program Kesehatan

1. Program Pokok/ Wajib

a. Upaya Promosi Kesehatan

b. Upaya Kesehatan Lingkungan

c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga Berencana d.


Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

e. Upaya Pnecegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.


106

2. Program Pengembangan

a. Upaya Kesehatan ARU (Anak, Remaja dan Usia lanjut)

b. Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat.

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY

Nama, Gelar, NIP


107

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

KEWAJIBAN ORIENTASI BAGI KEPALA PUSKESMAS, PENANGGUNGJAWAB DAN


PELAKSANA UPAYA YANG BARU

UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT


KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Kewajiban Orientasi Bagi Kepala
Puskesmas, Penanggungjawab Dan Pelaksana Upaya Yang Baru UPTD
Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang


108

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/ kota XXX Nomor 59 Tahun 2003 tentang
Perizinan di Bidang Kesehatan (Lembaran Daerah Kab/Kota XXX
Thaun 2003 Nomor 4/E);

12. Peraturan Daerah Kab/Kota XXX Nomor NNN;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG KEWAJIBAN ORIENTASI BAGI KEPALA PUSKESMAS,
PENANGGUNGJAWAB DAN PELAKSANA UPAYA YANG BARU UPTD
PUSKESMAS YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Kewajiban untuk melakukan orientasi bagi Kepala Puskesmas, penanggungjawab,


dan pelaksana upaya yang baru dilakukan selama 14 hari sesuai dengan
kompetensinya;

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal
...

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


109

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

TIM AKREDITASI

UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT


KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok ukur
pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Tim Akreditasi UPTD Puskesmas YYY
Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;


110

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG TIM AKREDITASI UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Menetapkan Pembentukan Struktur Organisasi dan Keanggotaan

Tim Akreditasi UPTD Puskesmas YYY Tahun TT;

Kedua : Susunan Penanggungjawab Tim Akreditasi UPTD Puskesmas YYY

tercantum pada Lampiran I Keputusan ini;

Ketiga : Susunan Keanggotaan Tim Akreditasi UPTD Puskesmas YYY

tercantum pada lampiran II Keputusan ini;

Keempat : Struktur Organisasi Tim Akreditasi UPTD Puskesmas YYY

tercantum pada lampiran III Keputusan ini;

Kelima : Biaya yang timbul sebagai akibat ditetapkannya keputusan ini dbebankan
pada APBD Pemerintah Kab/ Kota XXX dan Dana Operasional Puskesmas
Tahun 2015;

Keenam : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian
hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam Keputusan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal ..

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


111

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

PENINGKATAN KINERJA

UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT


KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Peningkatan Kinerja UPTD Puskesmas YYY
Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;


112

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/ kota XXX Nomor 59 Tahun 2003 tentang
Perizinan di Bidang Kesehatan (Lembaran Daerah Kab/Kota XXX
Thaun 2003 Nomor 4/E);

12. Peraturan Daerah Kab/Kota XXX Nomor 8 Tahun 2008 tentang


Organisasi Perangkat Daerah ( Lembaran Daerah Kab/ Kota XXX Tahun
2008 Nomor 8 Tambahan Lembaran Daerah Kab/Kota XXX) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kab/Kota XXX Nomor 12 Tahun
2009 (Lembaran Daerah Kab/kota XXX Thaun 2009 Nomor 12 Tambahan
Lembaran Daerah Kab/Kota XXX Nomor 12) ;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG PENINGKATAN KINERJA UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN
TTT.

Kesatu : Peningkatan kinerja dilakukan berdasarkan hasil analisis evaluasi kinerja,


dilakukan komunikasi dan koordinasi untuk selanjutnya dilakukan tindakan
perbaikan;

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal ..

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


113

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

PERSYARATAN KOMPETENSI PENANGGUNGJAWAB DAN PELAKSANA UPAYA


KESEHATAN MASYARAKAT

UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT


KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Persyaratan Kompetensi Penanggungjawab
Dan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat UPTD Puskesmas YYY Tahun
TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;
114

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/Kota XXX Nomor NNN;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG PERSYARATAN KOMPETENSI PENANGGUNGJAWAB DAN
PELAKSANA UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT UPTD PUSKESMAS
YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Menetapkan persyaratan kompetensi penanggungjawab dan pelaksana


upaya kesehatan masyarakat UPTD Puskesmas YYY.

Kedua : Menetapkan persyaratan kompetensi penanggungjawab dan pelaksana


upaya kesehatan masyarakat sesuai dengan standart dan analisa
kompetensi karyawan Puskesmas YYY sebagaimana terlampir;

Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal ..

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


115

LAMPIRAN I

KEPUTUSAN KEPALA UPTD


PUSKESMAS YYY

Nomor :

Tanggal :

PERSYARATAN KOMPETENSI PENANGGUNGJAWAB DAN PELAKSANA UPAYA

KESEHATAN MASYARAKAT

No. JABATAN STANDART KOMPETENSI


1 Penanggungjawab UKM Pendidikan :

- Sarjana/ DIII Tenaga Kesehatan

Pelatihan :
2 Penanggungjawab Promkes Pendidikan :
- Diklat UKM
- Sarjana/ DIII Tenaga Kesehatan

Pelatihan :
3 Penanggungjawab Program Pendidikan :
- Diklat Penyuluhan Kesehatan
Kesehatan Lingkungan - Sarjana/ DIII Kesling

Pelatihan :

- Teknik Kesehatan Lingkungan

4 Penanggungjawab Program Pendidikan : - Entomologi

Gizi -- Fogging
Sarjana/ DIII Gizi

Pelatihan :

- Tata Laksana Gibur

- Pemantauan Pertumbuhan

- Konselor ASI
116

5 Penanggungjawab Program Pendidikan :

KIA-KB - Sarjana/ DIII Kebidanan

Pelatihan :

- PONED

- DDTK

- APN

- CTU

- MTBS

- Manajemen Asfiksia pada Bayi

Keterampilan :

- Pemeriksaan Kehamilan
KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY
- Pemeriksaan KB

- DDTK

- Pendampingan Bumil Risti

Nama, Gelar, NIP


117

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

VISI, MISI, KEBIJAKAN MUTU DAN TATA NILAI


UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Visi, Misi, Kebijakan Mutu Dan Tata Nilai
UPTD Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;
118

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/Kota XXX Nomor NNN;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG VISI, MISI, KEBIJAKAN MUTU DAN TATA NILAI UPTD
PUSKESMAS YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Visi, Misi, Kebijakan Mutu dan Tata Nilai UPTD Puskesmas YYY

sebagaimana tercantum dalam Manual Mutu.

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian
hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam Keputusan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal ..

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


119

LAMPIRAN I

KEPUTUSAN KEPALA UPTD


PUSKESMAS YYY

Nomor :

Tanggal :

VISI, MISI, TUJUAN DAN TATA NILAI UPTD PUSKESMAS YYY

A. VISI

Visi UPTD Puskesmas YYY adalah ...

B. MISI

Misi UPTD Puskesmas YYY adalah :

1. ...

2. ....

C. KEBIJAKAN MUTU

Kebijakan mutu UPTD Puskesmas YYY adalah :

D. TATA NILAI/ BUDAYA KERJA

Tata Nilai yang diterapkan pada UPTD Puskesmas YYY :

1. ....

2. ....

3. ....

4. ....

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


120

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

INDIKATOR MUTU DAN KINERJA UPTD


PUSKESMAS YYY TAHUN TTT

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Indikator Mutu dan Kinerja UPTD
Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang


121

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG INDIKATOR MUTU DAN KINERJA UPTD PUSKESMAS YYY
TAHUN TTT.

Kesatu : Indikator mutu dan kinerja Puskesmas adalah penilaian kinerja pelayanan
dan kegiatan program yang dievaluasi setiap periode, untuk UKP
menggunakan Sasaran mutu, UKM menggunakan SPM dan PKP.

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal
...

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


103

LAMPIRAN I

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY


Nomor :

Tanggal
:

INDIKATOR MUTU PERBAIKAN KINERJA PROGRAM UPAYA KESEHATAN


MASYARAKAT UPTDPUSKESMAS YYY XXX

No. Indikator Capaian Target

PROMKES
1 Pengkajian PHBS RT

2 Rumah Tangga Sehat (10 Indikator) 100%

3 Intervensi PHBS pada : 65%

a. RT 100%

b. Institusi Pendidikan 100%

c. Institusi Sarkes 100%

d. Tempat-tempat Umum 100%

e. Tempat-tempat kerja 100%

f. Pondok Pesantren 100%

4 Penyuluhan Napza 200%

KESEHATAN LINGKUNGAN
1 Pengawasan SAB 85%

2 SAB yang memenuhi syarat kesehatan 67%

3 Pembinaan tempat pengelolaan makanan 95%

4 Tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat 75%

5 Pembinaan sanitasi perumahan 90%

6 Jumlah rumah yang memenuhi syarat kesehatan 85%

7 Pembinaan TTU 90%

8 TTU yang memenuhi syarat kesehatan 85%

9 Kelurahan ODF 90%

10 Jumlah jamban sehat 100%


104

GIZI

1 Pemberian kapsul vitamin A balita 2x pertahun 85%

2 Pemberian Fe 90 pada bumil 90%

3 Balita gizi buruk mendapatkan perawatan <1%

4 Pemberian PMT balita gizi buruk 100%

5 Balita BGM <13%

6 Pemberian MP-ASI anak usia 6-24 bulan 100%

7 Konsumsi garam yodium 90%

8 N/O 63%

9 D/S 73%

KIA - KB
1 Jumlah K1 97%

2 Jumlah K4 87%

3 Persalinan oleh tenaga kesehatan 94%

4 Deteksi bumil risti oleh kader/masyarakat 10%

5 Deteksi bumil risti oleh tenakes 20%

6 Pelayanan nifas sesuai standart 80%

7 KNI 94%

8 Penanganan neonatal risti komplikasi 97%

9 Kunjungan bayi paripurna 95%

10 Pelayanan kesehatan anak balita 80%

11 Pelayanan kesehatan anak pra sekolah 95%

12 Peserta KB aktif 82%

P2 ( PEMBERANTASAN PENYAKIT)

1 Penemuan penderita AFP >2%

2 Penanganan penderita AFP 10%

3 Penemuan penderita pneumonia balita 100%

4 Penemuan penderita diare 10%


105

5 Penanganan penderita diare 100%

6 Penemuan suspek TB (pasien diperiksa sputum) 70%

7 Penemuan pasien baru BTA positif 15%

8 Angka keberhasilan pengobatan pasien baru TBA positif 90%

9 Penemuan penderita DBD <50

10 Penanganan kasus DBD 100%


kasus/100.000
11 ABJ 95%

12 Imunisasi HB 0-7 hari 91%

13 Imunisasi BCG 91%

14 Imunisasi DPT/ HB 1 91%

15 Imunisasi DPT/HB 3 91%

16 Imunisasi campak bayi 91%

17 Imunisasi DT kelas1 91%

18 Imunsasi campak kelas 1 95%

19 Imunisasi DT kelas 1 95%

20 Imunisasi TD kelas 2-3 95%

21 Imunisasi TT WUS 95%

ARU (ANAK, REMAJA, DAN USIA LANJUT)

1 Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100%

2 Cakupan pelayanan kesehatan remaja 87%

3 Pembinaan kesehatan di sekolah 100%

4 Jumlah kader yang dilatih kesehatannya 10%

5 Posyandu lansia dibina 100%

6 Pelayanan kesehatan pada pralansia dan lansia 78%

UPAYA KESEHATAN GIGI


1 Pembinaan kesehatan gigi di posyandu 35%

2 Pembinaan kesehatan gigi di TK 100%

3 Sikat gigi massal di SD/MI 100%

4 Perawatan kesehatan gigi di SD/MI 100%

5 Murid SD yang mendapatkan perawatan paripurna 60%

6 Bumil yang mendapat perawatan kesehatan gigi 40%


106

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

PENANGANAN KTD, KTC, KPC DAN KNC


UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok


ukur pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Penanganan KTD, KTC, KPC DAN KNC
UPTD Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;
107

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/ Kota XXX Nomor tentang Perizinan di

Bidang..

12. Peraturan Wali Kab/ Kota Nomor tentang Rincian Tugas dan

Fungsi Dinas Kesehatan Kab/Kota XXX.

13. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota XXX Nomor ... tentang
Akreditasi Puskesmas Kab/ Kota XXX Tahun TTT.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG PENANGANAN KTD, KTC, KPC DAN KNC UPTD
PUSKESMAS YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Kasus KTD,KTC, KPC, dan KNC di UPTD Puskesmas YYY harus ditangani
dengan baik dan diatur dalam SOP..

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal...

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


108

PEMERINTAH KAB/KOTA XXX


DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS YYY

JL. ....................

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/


KOTA XXX

NOMOR :

TENTANG

PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN MEDIS DAN RENCANA LAYANAN TERPADU UPTD


PUSKESMAS YYY TAHUN TTT

KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian pelayanan publik yang berkualitas


dan mampu memberikan kepuasan bagi masyaakat merupakan kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemerintah;

b. bahwa Puskesmas sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok ukur
pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu pilar dalm
memenuhi tuntutan reformasi birokrasi;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaskud dalam


huruf a dan b, perlu menetapkan Penyusunan Rencana Layanan Medis Dan
Rencana Layanan Terpadu UPTD Puskesmas YYY Tahun TTT.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 entang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116 tambahan lembaran negara
Nomor 4431);

2.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 29 tentang Pelayanan Publik

(Lemabaran Negara Tahun 2009 Nomor 112);

3.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lemabaran


Negara Tahun 2009 Nomor 140 tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang


Sistem Kesehatan Nasional, Lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;

6.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang


Jaminan Kesehatan Nasional;

7. Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman


Penyusunan Standart Operaional Prosedur Adminitrasi Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang


109

Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

11. Peraturan Daerah Kab/ Kota XXX Nomor tentang Perizinan di

Bidang..

12. Peraturan Wali Kab/ Kota Nomor tentang Rincian Tugas dan

Fungsi Dinas Kesehatan Kab/Kota XXX.

13. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota XXX Nomor ... tentang
Akreditasi Puskesmas Kab/ Kota XXX Tahun TTT.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS YYY KAB/ KOTA XXX


TENTANG PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN MEDIS DAN RENCANA
LAYANAN TERPADU UPTD PUSKESMAS YYY TAHUN TTT.

Kesatu : Penyusunan rencana layanan medis dan rencana layanan terpadu dilaksanakan
sebagaimana tercantum dalm SOP penyusunan rencana layanan medis dan
SOP layanan terpadu.

Kedua : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terjadi perubahan dan atau terdapat kesalahan dalam
Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....
Pada Tanggal
...

KEPALA UPTD PUSKESMAS YY

Nama, Gelar, NIP


110

Lampiran 5

KERANGKA ACUAN
KAJI BANDING

PUSKESMAS YYY TAHUN 2011

A. PENDAHULUAN

Upaya peningkatan kualitas Puskesmas dalam memberikan pelayanan baik dalam upaya
kesehatan masyarakat (UKM) maupun usaha kesehatan perorangan (UKP) terus
digalakkan. Sehingga perbaikan dalam segi manajerial, sarana prasarana dan SDM
(Sumber Daya Manusia) terus diupayakan, karena ini merupakan salah satu bentuk
komitmen pemerintah dalam memberi pelayanan perbaikan manajemen Puskesmas
dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan maupun kaji banding.

Upaya perbaikan tersbut harus dilakukan secara berkesinambungan, maka diperlukan


penyusunan kerangka acuan kaji banding agar kegiatan ini seiring dengan upaya perbaikan
yang dimaksud. Kerangka acuan kaji banding ini digunakan sebagai salah satu acuan atau
pedoman dalam melaksanakan setiap kegiatan kaji banding oleh karyawan/karyawati
Puskesmas YYY.

B. LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatanyang telah dijalankan berupaya untuk lebih meningkatkan


pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada masyarakat, perhatian khusus
diberikan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik. Dalam Sistem
Kesehatan Nasional (SKN-2004) tersebut bahwa Puskesmas meruakan unit pelaksana
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Adapun fungsi Puskesmas ada tiga yaitu :

1. Sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan,

2. Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga, serta

3. Sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Dalam melaksanakan kegiatannya Puskesmas mengacu pada empat asas penyelenggaraan


yaitu wilayah kerja, pemberdayaan masyarakat, keterpaduan dan rujukan. Puskesmas
mempunyai kewenangan untuk melakukan pengelolaan program kegiatannya, untuk itu perlu
didukung kemampuan manajemen yang baik. Manajemen Puskesmas merupakan suatu
rangkaian kegiatan yang bekerja secara sinergik yang meliputi perencanaan, penggerakkan,
pelaksanaan serta pengendalian dan penilaian.

Sistem penilaian akreditasi yang harus dilalui oleh Puskesmas sebagai bentuk peningkatan
kualitas dalam pelayanan dan manajemen, serta merupakan persyaratan yang ditetapkan
pada PERMENKES No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas. Maka dalam upaya
peningkatan kualitas tersebut dan melaksanakan fungsi Puskesmas maka perlu
dilakukan kaji banding ke Puskesmas lain yang emiliki kelebihan dan telah terstandart
lebih baik dibandingkan Puskesmas YYY. Sehingga Kerangka Acuan ini akan sangat
bermanfaat terhadap semua tim Puskesmas yang melakukan kaji banding.
111

C. TUJUAN UMUM

Upaya untuk mempelajari dan memahami suatu sistem, kegiatan, program yang belum
pernah diterapkan atau yang sudah diterapkan tapi masih mengalami hambatan di
Puskesmas YYY dalam rangka perbaikan manajemen, sarana prasarana dan sumber daya
manusia.

D. TUJUAN KHUSUS

1. Untuk mempelajari dan memahami persiapan dan pelaksanaan akreditasi

Puskesmas.

2. Untuk mempelajari dan memahami program baru dalam upaya kesehatan


masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.

3. Untuk mempelajari dan memahami upaya meningkatkan mutu pelayanan di

Puskesmas.

E. KEGIATAN

Bentuk kegiatan adalah melakukan kegiatan kaji banding ke Puskesmas yang ditunjuk yang
memiliki kelebihan sesuai tujuan di wilayah Indonesia.

F. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Kepala Puskesmas membentuk dan menerbitkan Surat Tugas Tim Kaji

Banding.

2. Tim Kaji Banding meakukan koordinasi inetrnal dengan anggotanya terkait persiapan
materi kaji banding.

3. Tim kaji banding melaporan hasil koordinasi internal kepada Kepala

Puskesmas.

4. Tim Kaji Banding melakukan persiapan keberangkatan dan peralatan yang diperlukan.

5. Tim kaji banding melkukan kegiatan kaji banding.

6. Tim kaji banding membuat laporan tertulis dan melaporkan kepada Kepala

Puskesmas.

7. Tim Kaji banding melakukan haisl RTL dengan mensosialisasikan hasil kegiatan
kaji banding kepada Kepala Puskesmas dan seluruh karyawan.

8. Kepala Puskesmas dan tim manajemen membuat analisa kaji banding untuk kemudian
diagendakan dalam rapat tim manajemen.
112

G. SASARAN

Puskesmas yang memiliki kelebihan dalam penerapan sistem, program dan kegiatan dalam
meningkatkan pelayanan di masyarakat.

H. JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan kaji banding dilaksanakan 2 kali dalam 1 tahun.

I. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

1. Evaluasi ketepatan jadwal pelaksanaan dilakukan setelah selesai


pelaksanaan kegiatan. Dilakukan oleh ketua tim kaji banding.

2. Laporan evaluasi ini ditujukan kepada Kepala Puskesmas dan Dinas

Kesehatan Kota XXX.

J. PENCATATAN PELAPORAN EVALUASI KEGIATAN

Pencatatan pelaporan evaluasi kegiatan kaji banding dilakukan oleh tim kaji banding
dalam bentuk laporan hasil kaji banding dan laporan tindak lanjut hasil kaji banding.
Analisa hasil kaji banding dilakukan oleh tim manajemen Puskesmas YYY.

Kepala UPTD Puskesmas YYY.


113

KERANGKA ACUAN KERJA


PROGRAM ORIENTASI

A. PENDAHULUAN

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama mempunyai tugas
melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat. Agar
dapat mewujudkan fungsinya, Puskesmas harus memiliki sumber daya yang optimal
termasuk diantaranya yang terpenting adalah sumber daya manusia. Penanggungjawab dan
pelaksana kegiatan haruslah paham mengenai tugas pokok dan fungsinya agar program dan
kegiatan dapat berjalan dengan optimal.

Untuk dapat mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan maka di semua fasilitas


kesehatan diperlukan sumber daya kesehatan yang bermutu dan merata. Hal tersebut
memungkinkan bahwa SDM kesehatan akan mengalami mutasi ke berbagai tempat.
Demikian pula dengan program dan kegiatan yang berlangsung di Puskesmas, agar program
dan kegiatan yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan dan target yang dtetapkan tidak
menutup kemungkinan tibul program dan kegiatan baru disamping program dan kegiatan rutin
yang telah dilaksanakan di Puskesmas.

B. LATAR BELAKANG

Adanya perubahan tugas pokok dan fungsi pada seorang penggungjawab dan pelaksana
dapat menyebabkan timbulnya masalah apabila penanggungjawab maupun pelaksanan
tersebut tidak memahami tugas pokok dan fungsinya dengan baik. Oleh karena itu
diperlukan program orientasi bagi penanggungjawab dan pelaksana yang baru
ditempatkan atau diberi tugas pokok dan fungsi yang baru agar visi, misi, dan tujuan
yang telah ditetapkan oleh Puskesmas dapat tercapai.

UPTD Puskesmas YYY selaku organisasi kesehatan yang senantiasa berkembang,


mengalami beberapa penambahan tenaga maupun perubahan tugas pokok dan fungsi dari
beberapa tenaga yang ada. Selama kurun waktu

2014 – pertengahan 2015 Puskesas mendapatkan tambahan tenaga baru sebanyak 3 orang
dan ada perubahan tupoksi dari 2 orang staf.

C. TUJUAN

1. TUJUAN UMUM

Mempersiapkan [enanggungjawab dan pelaksana baru agar dapat melaksanakan tugas


dan tanggungjawab sesuai tugas pokok dan fungsinya dengan baik dalam rangka
mwujudkan tujuan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas.
114

2. TUJUAN KHUSUS

a. Mengkondisikan penanggungjawab dan pelaksana baru terhadap visi, misi, dan


tata nilai di Puskesmas yang tertuang pada setiap program dan kegiatan Puskesmas.

b. Mengkondisikan penanggungjawab dan pelaksana baru terhadap tugas pokok dan


fungsi yang menjadi tanggungjawabnya.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Kegiatan yang dilaksanakan di program orientasi selama 14(empat belas) hari kerja
antara lain :

1. Orientasi terhadap visi, misi dan tata nilai Puskesmas tertuang pada tiap program dan
kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas.

2. Orientasi terhadap tugas pokok dan fungsi baru yang melekat pada penanggungjawab/
pelaksana baru yang ditugaskan di Puskesmas.

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

Metode dan tahapan pelaksanaan adalah :

1. Orientasi dilakukan pada staf/ penanggungjawab dan pelaksana program baru


setelah ada surat tugas/ uraian tugas baru.

2. Orientasi mengenai profil Puskesmas tentang visi, misi dan tata nilai dilakukan
pada petugas yang baru ditempatkan di Puskesmas YYY pada hari pertama orientasi.
Dilakukan oleh Kepala Puskesmas.

3. Orientasi terhadap tugas pokok dan fungsi baru diberikan kepada petugas pelaksana
atau penaggungjawab baru. Petugas ersebut bisa staf baru maupun staf lama yang tugas
pokok dan fungsinya berubah. Orientasi dilakukan oleh penanggungjawab program/
penanggungjawab ruangan.

4. Orientasi terhadap tugas pokok dan fungsinya dicatat dibuku orientasi.

Catatan berupa kegiatan yang dilakukan oleh petugas baru tersebut yang kemudian
dievaluasi oleh penanggungjawab orientasi dan ditandatangani oleh staf yang
diorientasikan dan penanggungjawab orientasi.

F. SASARAN

Orientasi dilakukan pada semua :

1. Saf yang baru ditempatkan di Puskesmas YYY

2. Staf yang mengalami perubahan tugas pokok dan fungsi setelah melalui kajian
uraian tugas baik sebagai pelaksanan kegiatan maupun sebagai penanggungjawab.
115

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Hari Penanggung
jawab
Kegiatan Orientasi Sasaran orientasi
1
Ke- Pengenalan profil Puskesmas, Staf baru Kepala Puskesmas
visi, misi dan tata nilai yang mewakili

2 Pengenalan Tupoksi dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,


program/ poli/ unit tupoksi baru poli/unit
3 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

4 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

5 Pengenalan lapangan, Staf baru/ staf dengan Koordinator program,


ruangan dan implementasi tupoksi baru poli/unit

tupoksi
6 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

7 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

8 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

9 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

10 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

11 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

12 Pengenalan lapangan, ruangan dan Staf baru/ staf dengan Koordinator program,
implementasi tupoksi tupoksi baru poli/unit

13 Orientasi mengenai proses Staf baru/ staf dengan Koordinator program,


tupoksi baru poli/unit
monitoring evaluasi dan sistem
pelaporan program/ poli/ unit

14 Orientasi mengenai proses Staf baru/ staf dengan Koordinator program,


tupoksi baru poli/unit
monitoring evaluasi dan sistem
pelaporan program/ poli/ unit
116

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Pencatatan tentang pelaksanaan orientasi dilakukan di buku orientasi staf baru Puskesmas
YYY yang meiputi waktu, tempat orientasi, hasil orientasi yang diisi sendiri oleh petugas
yang diorientasikan selama kurun waktu 14 (empat belas) hari kerja. Hasil orientasi tersebut
kemudian dievaluasi oleh penanggungjawab orientasi.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Evaluasi orientasi dilakukan oleh penanggungjawab orientasi pada akhir masa orientasi
melihat dari hasil orientasi setiap hari dan dilaporkan ke Kepala Puskesmas untuk
ditandatangani.

Kepala UPTD Puskesmas YYY.


117

KERANGKA ACUAN

UMPAN BALIK PELANGGAN, MASYARAKAT DAN SASARAN


PUSKESMAS YYYY

A. PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan


dan kemampuan hidp sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan sebagai
bagian dari pembangunan nasional mempunyai tujuan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan asyarakat yang optimalbagi setiap orang. Puskesmas sebagai
salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama berfungsi sebagai gate keeper
dalam pelayanan kesehatan, harus dapat memberikan jaminan terhadap
penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat dan perorangan yang paripurna,
adil, merata dan memuaskan masyarakat.

B. LATAR BELAKANG

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama mempunyai


tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai penyelenggara UKM tingkat pertama di


wilayah kerjanya, salah satu wewenang Puskesmas sesai Permenkes No. 75 Tahun
2014 pasal 6 adalah Puskesmas bertanggungjawab terhadap pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya. Dalam pembangunan bidang kesehatan yang berbasis
masyarakat, pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas di wilayah kerjanya melibatkan
peran serta masyarakat dalam merencanakan kegiatan Puskesmas untuk itu diperlukan
penyusunan metode untuk memperoleh umpan balik pelaksanaan program.

C. TUJUAN

1. TUJUAN UMUM

Mengetahui umpan balik pelanggan, masyarakat dan sasaran tentang program


dan kegiatan sertal ayanan di Puskesmas YYY.

2. TUJUAN KHUSUS

a. Mengetahui umpan balik upaya kesehatan perorangan b.


Mengetahui umpan balik upaya kesehatan masyarakat
118

D. KEGIATAN

Pelayanan kesehatan di Puskesmas terdiri dari upaya kesehatan perseorangan dan upaya
kesehatan masyarakat. Guna mendapatkan informasi umpan balik pelanggan baik untuk
kegiatan pelayanan UKP maupun UKM Puskesmas melaksanakan :

1. Upaya Kesehatan Perorangan

2. Lembar Survey Kepuasan Pelanggan

3. Catatan Buku Keluhan Masyarakat.

4. Lembar Saran (Kotak saran)

5. Upaya Kesehatan Masyarakat

6. Lembar Survey Kepuasan Pelanggan

7. Rapat Mini Lokakarya Lintas Sektor

E. CARA MELAKUKAN KEGIATAN

1. Upaya Kesehatan Perorangan :

a. Lembar Survey Kepuasan Pelanggan

Dilakukan survey kepuasan pelanggan kepada pasien yang datang dan


memanfaatkan layanan di Puskesmas YYY. Instrumen survey dibuat oleh tim
survey. Survey kepuasan pelanggan dilakukan selama

6 bulan, dianalisis dan dilakukan pembahasan di forum Rapat Tinjauan

Manajemen.

b. Catatan Buku Keluhan Pelanggan

Keluhan pelanggan diterima dan dicatat di buku keluhan pelanggan dan


langsung dilakukan tindak lanjut oleh tim manajemen mutu. Hasil tindak lanjut
dapat berupa jawaban langsung dengan pelanggan yang memberikan upan balik
ataupun jawaban di buku keluhan.

c. Lembar Saran (Kotak Saran)

Umpan balik dari pelanggan dengan media lembar saran dimasukkan oleh
pelanggan ke kotak saran. Pelanggan mengisis lembar saran yang telah
disediakan. Kotak saran dibuka sebulan sekali, hasil keluhan dan umpan
balik dianalisis dan dievaluasi oleh tim survey untuk dilakukan pembahasan di
Rapat tinajauan manajemen.

2. Upaya Kesehatan Masyarakat :

a. Lembar Survey Kepuasan Masyarakat

Survey ke masyarakat/sasaran terhadap kegiatan, program dan layanan di


uskesmas YYY dilaksanakan 6 (enam )bulan sekali dibawah tanggungjawab
tim survey manajemen mutu Puskesmas. Dilakukan pendistribusian kuisioner
kepada pelanggan, masyarakat dan sasaran program. Selanjutnya dilakukan
119

pengumpulan data kuisioner, analisis dan evaluasi data kuisioner kebutuhan dan
harapan pelanggan, masyarakat terhadappelayanan dan kegiatan program

Puskesmas YYY.

b. Mini Lokakarya lintas sektor sebagai forum untuk menyampaikan umpan balik
masyarakat terhadap program dan kegiatan UKM di Puskesmas YYY.

F. SASARAN

Survey kepuasan pelanggan terhadap kegiatan di UKP dilakukan pada 600 responden yang
memenafaatkan pelayanan di Puskesmas YYY, sedangkan survey kepuasan masyarakat/ sasaran
terhadap kegiatan program UKM di Puskesmas YYY dilakukan pada masyarakat sebanyak 20
responden setiap kelurahan.

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Umpan Balik Pelanggan,

Bulan Ke
-
Masyarakat dan Sasaran
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Survey kepuasan pelanggan

Buku keluhan pelanggan

Kotak saran

Survey kepuasan masyarakat

Mini Lokakarya

H. EVALUASI DAN PELAPORAN

Kegiatan penerimaan informasi umpan balik pelanggan ini dilaporkan dan dievaluasi
pelaksanaannya setiap enam bulan sekali kepada tim manajemen mutu.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Hasil rekapan umpan balik dianalisis dan dievaluasi, dicatat di notulen rapat tinjauan
manajemen dan notulensi mini lokakarya lintas sektor.

Kepala UPTD Puskesmas YYY


120

RANGKA ACUAN KOMUNIKASI


DAN KOORDINASI

LINTAS PROGRAM DAN LINTAS SEKTOR

A. PENDAHULUAN

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama mempunyai


tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.
Dalam penyelenggaraannya Puskesmas mempunyai beberapa prinsip penyelenggaraan,
salah satunya adalah Paradigma sehat. Puskesmas mendorong seluruh pemangku
kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan
yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Prinsip lain dalam penyelengaraan Puskesmas menuju kecamatan sehat


adalah prinsip keterpaduan dan berkesinambungan. Dalam hal ini Puskesmas
mengintegrasikan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP antar lintas
program dan lintas sektor.

Masalah kesehatan merupakan masalah yang kompleks untuk menyelesaikan


maslah tersebut perlu upaya terkoordinasi dari berbagai pihak, baik lintas program dan lintas
sektor terkait.

B. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan pusat kesehatan masyarakat yang mempunyai banyak


program yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat didalamnya. Program-
program tersebut lebih banyak implementasinya pada masyarakat dan untuk
mewujudkannya butuh kerjasama dari berbagai pihak antara lain Kecamatan, Kelurahan,
Sekolahan, RW, RT, TOMA, KADER dll.

C. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

1. Tujuan UmumMelaksanakan komunikasi dan koordinasi dengan lintas program dan lintas
sektor untuk keselarasan, keterpaduan dan kesinambungan serta keberhasilan pencapaian
kinerja dan tujuan program dalam rangka pembangunan kesehatan.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan komunikasi dan koordinasi dengan lintas program b.


Melakukan koordinasi dengan lintas sektor

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

1. Komunikasi dan koordinasi lintas program dilakukan melalui :

- Pertemuan komunikasi internal UKM

- Pertemuan mini lokakarya bulanan Puskesmas


121

2. Komunikasi dan koordinasi lintas sektor dilakukan melalui :

- Pertemuan kader/ forum pertemuan dengan masyarakat

- Pertemuan Mini lokakarya Tribulan Lintas Sektor.

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Pertemuan komunikasi internal UKM

Komunikasi internal UKM dilaksanaka sesuai jadwal yaitu seminggu sekali dan
sewaktu-waktu bila ada masalah dalam program. Dilakukan komunikasi dan koordinasi
terkait jadwal kegiatan, petugas pelaksana, hambatan dan masalah yang ditemukan serta
solusinya.

2. Rapat Mini Lokakarya

Rapat mini lokakarya dilaksanakan sebulan sekali dengan agenda :

1) Pembukaan

2) Penyampaian hasil rapat dari Dinas Kesehatan kota ABCD

3) Pembacaan Hasil mini lokakarya bulan lalu

4) Kala Karya

5) Laporan Kegiatan UKM

6) Laporan Kegiatan UKP

7) Laporan PUSTU

8) Laporan wilayah

3. Pertemuan Kader

Pertemuan rutin yang diselenggarakan oleh paguyuban kader untuk membahas maslah
dan memberikan informasi kegiatan yang baru. Pertemuan kader terdiri atas
pertemuan kader Balita, Lansia, Bumantik. Pertemuan kader wilayah kelurahan
diselenggarakan setiap bulan sedangkan pertemuan kader wilayah Kecamatan
dilaksanakan setiap 2 bulan.

4. Pertemuan Mini Lokakarya Tri bulanan Lintas Sektor

Pertemuan mini lokakarya tribulanan Lintas Sektor dilaksanakan tiga bulan sekali dengan
mengundang seluruh lintas sektor yang terkait dengan kegiatan program Kesehatan.

F. SASARAN

Peningkatan kinerja dan pencapaian disemua program. Peserta komunikasi dan koordinasi
adalah seluruh anggota program/ lintas sektor terkait sesuai forum komunikasi dan koordinasi
yang diadakan.
122

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Bulan Ke-

Forum Komunikasi dan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Komunikasi internal UKM


Koordinasi
Rapat Mini Lokakarya bulanan

Pertemuan kader tk.

Kelurahan
Pertemuan kader tk.

Kecamatan
Mini Lokakarya Tribulan Lintas

Sektor

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan komunikasi dan koordinasi dilakukan setiap akhir kegiatan.


Dievaluasi pada kegiatan komunikasi dan koordinasi berikutnya.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Hasil pembinaan dicatat dalam notulen mini lokakarya, notulen komunikasi internal
program UKM dan notulen mini Lokakarya tribulanan lintas sektor dan notulen pertemuan
kader.

Kepala UPTD Puskesmas YYY.


123

KERANGKA ACUAN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

A. PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional mempunyai


tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi stiap
orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesnas bertujuan untuk


mewujudkan masyarakat yang :

a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan , dan kemampuan hidup
sehat.

b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu. c.


Hidup dalam lingkungan sehat

d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas mendukung


terwujudnya Kecamatan sehat. Dalam penyelenggaraannya Puskesmas mempunyai
mempunyai beberapa prinsip, salah satu prinsip tersebut adalah kemandirian masyarakat.
Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya untuk memberikan kemampuan


atau keberdayaan kepada masyarakat untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri khususnya
di bidang kesehatan. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Puskesmas bertujuan
agar masyarakat di wilayah mereka kegiatan tersebut sudah dilaksanakan salam program
Kelurahan Siaga.

B. LATAR BELAKANG

Pemberdayaan masyarakat sudah terlaksana pada program Desa Siaga


dimana masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di
wilayahnya sendiri atau biasa disebut survey mawas diri (SMD) kemudian masyarakat diajak
mencari prioritas masalah dan jalan keluar dari masalah tersebut kemudian dimusyawarahkan
dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), disini masyarakat secara mandiri diharapkan
dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada diwilayahnyaa dengan pembinaan dari
petugas kesehataan.

C. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS

1. Tujuan Umum

Terwujudnya Kemandirian Masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan.


124

2. Tujuan Khusus

a. Mendorong masyarakat agar dapat menggali dan mengetahui permasalahan


yang terjadi di wilayahnya.

b. Mendorong dan memfasilitasi kemandirian masyarakat agar dapat melakukan aksi/


tindakan untuk pemecahan masalah yang dihadapi dalam rangka mewujudkan
tujuan pembangunan kesehatan.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

1. Survey Mawas Diri (SMD)

2. Musywarah Masyarakat Desa (MMD)

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Survey Mawas Diri (SMD)

Survey Mawas Diri dilakukan sekali dalam setahun untuk mengetahui masalah
Kesehatan yang ada di masyarakat. Dilakukan pembagian kuisioner pada masyarakat
untuk menggali permasalahan kesehatan yang ada.

2. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Musyawarah Masyarakat Desa dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun, MMD merupakan
pertemuan yang dilakukan oleh masyarakat yang dihadiri oleh tokoh masyarakat,
pemangku kepentingan wilayah (RT/RW), kader bagas, lintas sektor terkait dan
petugas kesehatan itu membahas hasil survey mawar diri untuk kemudian dicari
solusi dan jalan keluarnya.

F. SASARAN

Masyarakat Keluahan di Kecamatan YYY (Kelurahan Ketintang YYY,


Menanggal,dan Dukuh menanggal).

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Forum Komunikasi dan Bulan Ke -

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Suevey Mawas Diri


Koordinasi
Musyawarah Masyarakat

Desa
125

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Hasil SMD dianalisis setelah kegiatan SMD selesai dilaksanakan. Evaluasi


kegiatan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan pada saat MMD ke 2.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Hasil kegiatan SMD dan MMD dicatat dalam analisis hasil survey SMD dan notulensi rapat MMD.

Kepala UPD Puskesmas YYY


126

KERANGKA ACUAN
PEMBINAAN PROGRAM UKM
PUSKESMAS YYY

A. PENDAHULUAN

Pendahuluan adalah suatu kegiatan mempertahankan dan menyempurnakan apa


yang telah ada. Secara umum pembinaan disebut sebagai sebuah perbaikan
terhadap pola kehidupan yang direncanakan, sehingga menjadi suatu pola kehidupan
baru yang mempunyai nilai tinggi.

Pembinaan juga mengandung makna sebagai pembaharuan yaitu melakukan


usaha-usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih sesuai atau cocok dengan
kebutuhan dan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

B. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan Pusat Kesehatan Masyarakat yang mempunyai banyak


program yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat didalamnya, untuk
menjalankan program-program tersebut perlu suatu cara untuk menjalankan program
tersebut agar sampai pada sasaran dan mendapat hasil yang maksimal, karena itu perlu
suatu pembinaan bagi pelaksana program agar program dapat sesuai dengan yang kita
rencanakan, sasaran dan tujuannya.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Melakukan komunikasi dan koordinasi dalam rangka memberikan arahan dan


dukungan bagi pelaksana dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.

2. Tujuan Khusus

a. Pembinaan Kepala Puskesmas pada tim manajemen mutu. b.


Pembinaan Kepala Puskesmas pada seluruh staf.

c. Pembinaan koordinator UKM pada koordinator program dan pelaksana. d.


Pembinaan koordinator program/ poli/ unit pada pelaksana.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Kegiatan Pembinaan di Puskesmas YYY dilaksanakan dengan cara :

1. Rapat Tim manajemen mutu.

2. Rapat tinjauan manajemen dan rapat mini lokakarya.

3. Komunikasi internal program UKM.

4. Komunikasi internal program.


127

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Rapat Tim Manajemen Mutu

Rapat tim manajemen mutu dilaksanakan setiap bulan minimal satu kali. Kepala
Puskesmas memberikan pembinaan, arahan dan bimbingan mengenai hasil-hasil
monitoring, dan evaluasi pada anggota tim manajemen mutu yang terdiri dari koordinator UKM –
UKP, tim audit internal, tim survey dan tim manajemen resiko dan keselamatan pasien.

2. Rapat Tinjauan Manajemen dan Rapat Mini Lokakarya.

Rapat Tinjauan Manajemen dilaksanakan setiap 6 bulan setelah dilakukannya audit


internal oleh tim manajemen mutu. Rapat tinjauan manajemen membahas hasil audit
internal oleh tim manajemen mutu, hasil survey kepuasan dan keluhan pelanggan,
masyarakat/ sasaran program terhadap pelayanan dan kegiatan program serta hasil-
hasil monitoring. Kepala Puskesmas memberikan pembinaan, arahan dan bimbingan
berkenaan dengan hasil pembahasan tersebut.

Rapat mini lokakarya dilaksanakan sebulan sekali dengan agenda :

a. Pembukaan

b. Penyampaian hasil rapat dari Dinas Kesehatan Kota ABCD.

c. Pembacaan hasil mini lokakarya bulan lalu.

d. Kala karya

e. Laporan Kegiatan UKM.

f. Laporan Kegiatan UKP.


g. Laporan PUSTU.

h. Laporan Wilayah.

3. Komunikasi internal program UKM.

Komunikasi internal dilaksanakan sesuai jadwal yaitu seminggu sekali dan sewaktu-waktu
bila ada masalah dalam program. Koordinator UKM melakukan pembinaan pada
penanggungjawab/ pelaksana program serta arahan dan bimbingan bila terjadi masalah.

4. Komunikasi internal program.

Komunikasi internal program dilakukan di internal program dengan waktu yang


menyesuaikan. Koordinator program memberikan arahan, pembinaan dan bimbingan
pada pelaksana agar kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tahapan, prosedur dan
tujuan yang telah ditetapkan.

F. SASARAN

Sasaran pembinaan adalah seluruh staf berkaitan degan program/ poli/ unit dan
semua aktivitas/ kegiatan yang dilakukan di Puskesmas dalam rangka peningkatan kinerja
dan pencapaian target indikator mutu disemua program/ poli/ unit sesuai target yang telah
ditetapkan.
128

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Bulan Ke -

Forum Pembinaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Rapat Tim Manajemen

Rapat
Mutu Tinjauan

Rapat Mini
Manajemen Lokakarya

Komunikasi
Bulanan Internal Ukm

Komunikasi Internal

Program/ Poli/ Unit

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan pembinaan dilakukan setiap akhir kegiatan


pembinaan. Dievaluasi pada kegiatan pembinaan berikutnya.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN.

Hasil pembinaan dalam notulen RTM, notulen mini lokakarya, dan notulen
komunikasi internal program UKM.

Kepala UPTD Puskesmas YYY.


129

KERANGKA ACUAN
PEMBINAAN PROGRAM UKM
PUSKESMAS YYY

A. PENDAHULUAN

Pembinaan adalah suatu kegiatan mempertahankan dan menyempurnakan apa


yang telah ada. Secara umum pembinaan disebut sebagai sebuah perbaikan
terhadap pola kehidupan yang direncanakan, sehingga menjadi suatu pola kehidupan
baru yang mempunyai nilai tinggi.

Pembinaan juga mengandung makna sebagai pembaharuan yaitu melakukan


usaha-usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih sesuai atau cocok dengan
kebutuuhan dan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

B. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan Pusat Kesehatan Masyarakat yang mempunyai banyak


program yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat didalamnya, untuk
menjalankan program-program tersebut perlu suatu cara untuk menjalankan program
tersebut agar sampai pada sasaran dan mendapat hasil yang maksimal, karena itu perlu
suatu pembinaan bagi pelaksana program agar program dapat sesuai dengan yang kita
rencanakan, sasaran dan tujuannya.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Melakukan komunikasi dan koordinasi dalam rangka memberikan arahan dan


dukungan bagi pelaksana dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.

2. Tujuan Khusus

a. Pembinaan Kepala Puskesmas pada tim manajemen mutu.

b. Pembinaan Kepala Puskesmas pada seluruh staf.

c. Pembinaan koordinator UKM pada koordinator program dan pelaksana.

d. Pembinaan koordinator program/ poli/ unit pada pelaksana.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

1. egiatan Pembinaan di Puskesmas YYY dilaksanakan dengan cara :

2. Rapat Tim manajemen mutu.

3. Rapat tinjauan manajemen dan rapat mini lokakarya.

4. Komunikasi internal program UKM.


130

5. Komunikasi internal program.

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Rapat Tim Manajemen Mutu

Rapat tim manajemen mutu dilaksanakan setiap bulan minimal satu kali. Kepala
Puskesmas memberikan pembinaan, arahan dan bimbingan mengenai hasil-hasil
monitoring, dan evaluasi pada anggota tim manajemen mutu yang terdiri dari koordinator UKM –
UKP, tim audit internal, tim survey dan tim manajemen resiko dan keselamatan pasien.

2. Rapat Tinjauan Manajemen dan Rapat Mini Lokakarya.

Rapat Tinjauan Manajemen dilaksanakan setiap 6 bulan setelah dilakukannya audit


internal oleh tim manajemen mutu. Rapat tinjauan manajemen membahas hasil audit
internal oleh tim manajemen mutu, hasil survey kepuasan dan keluhan pelanggan,
masyarakat/ sasaran program terhadap pelayanan dan kegiatan program serta hasil-
hasil monitoring. Kepala Puskesmas memberikan pembinaan, arahan dan bimbingan
berkenaan dengan hasil pembahasan tersebut.

Rapat mini lokakarya dilaksanakan sebulan sekali dengan agenda :

a. Pembukaan

b. Penyampaian hasil rapat dari Dinas Kesehatan Kota ABCD.

c. Pembacaan hasil mini lokakarya bulan lalu.

d. Kala karya

e. Laporan Kegiatan UKM.

f. Laporan Kegiatan UKP.


g. Laporan PUSTU.

h. Laporan Wilayah.

3. Komunikasi internal program UKM.

Komunikasi internal dilaksanakan sesuai jadwal yaitu seminggu sekali dan sewaktu-waktu
bila ada masalah dalam program. Koordinator UKM melakukan pembinaan pada
penanggungjawab/ pelaksana program serta arahan dan bimbingan bila terjadi masalah.

4. Komunikasi internal program.

Komunikasi internal program dilakukan di internal program dengan waktu yang


menyesuaikan. Koordinator program memberikan arahan, pembinaan dan bimbingan
pada pelaksana agar kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tahapan, prosedur dan
tujuan yang telah ditetapkan.
131

F. SASARAN

Sasaran pembinaan adalah seluruh staf berkaitan degan program/ poli/ unit dan
semua aktivitas/ kegiatan yang dilakukan di Puskesmas dalam rangka peningkatan kinerja
dan pencapaian target indikator mutu disemua program/ poli/ unit sesuai target yang telah
ditetapkan.

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Bulan Ke -

Forum Pembinaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Rapat Tim Manajemen

Rapat
Mutu Tinjauan

Rapat Mini
Manajemen Lokakarya

Komunikasi
Bulanan Internal Ukm

Komunikasi Internal

Program/ Poli/ Unit

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan pembinaan dilakukan setiap akhir kegiatan


pembinaan. Dievaluasi pada kegiatan pembinaan berikutnya.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN.

Hasil pembinaan dalam notulen RTM, notulen mini lokakarya, dan notulen
komunikasi internal program UKM.

Kepala UPTD Puskesmas YYY.


132

KERANGKA ACUAN
PERBAIKAN KINERJA

A. PENDAHULUAN

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama mempunyai


tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas mendukung


terwujudnya Kecamatan sehat. Dalam penyelenggaraanya Puskesmas mempunyai
beberapa prinsip penyelenggaraan, salah satunya adalah pertanggungjawaban wilayah.
Puskesmas menggerakkan dan bertanggungjawab terhadap pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya. Untuk itu Puskesmas harus mempunyai visi, misi, tujuan dan indikator
mutu dalam pelaksanaan kegiatan agar kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
visi,misi, dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Puskesmas.

B. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan pusat kesehatan masyarakat yang mempunyai banyak


program yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat didalamnya. Agar
pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan yang
telah ditetapkan maka perlu dilakukan penilaian kinerja dalam periode tertentu. Penilaian
kinerja tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan akuntabilitas dalam pengelolaan dan
pelaksanaan kegiatan/ program. Ditetapkan indikator mutu sebagai titk acuan penilaian.
Penilaian kinerja tersebut dibahas dalam forum pertemuan antara kepala Puskesmas
dengan seluruh staf, bila hasil capaian kurang dari indikator mutu yang telah ditetapkan
pelu dilakukan tindakan-tindakan perbaikan.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Melaksanakan penilaian kinerja sebagai bagian proses perbaikan kinerja dalam


rangka mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh
Puskesmas.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan penilaian perbaikan kinerja jangka pendek b.


Melakukan penilaian perbaikan kineja jangka panjang

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

1. Penilaian dan perbaikan kinerja jangka pendek dilakukan pada forum pertemuan
mini loka karya bulanan.

2. Penilaian dan perbaikan kinerja jangka panjang dilakukan pada forum

Rapat Tinjauan Manajemen (RTM).


133

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Rapat Mini Lokakarya

Rapat Mini Lokakarya dilaksanakan sebulan sekali dengan agenda :

a. Pembukaan

b. Penyampaian hasil rapat dari Dinas Kesehatan Kota ABCD.

c. Pembacaan hasil mini lokakarya bulan lalu.

d. Kala karya

e. Laporan Kegiatan UKM.

f. Laporan Kegiatan UKP.


g. Laporan PUSTU.

h. Laporan Wilayah.

2. Rapat Tinjauan Manajemen dan Rapat Mini Lokakarya

Rapat Tinjauan Manajemen dilaksanakan setiap 6 bulan setelah dilakukannya audit


internal oleh tim manajemen mutu. Rapat tinjauan manajemen membahas hasil
audit internal oleh tim manajemen mutu, hasil survey kepuasan dan keluhan
pelanggan, masyarakat/ sasaran program terhadap pelayanan dan kegiatan program
serta hasil-hasil monitoring.

F. SASARAN

Peningkatan kinerja dan pencapaian di semua program. Peserta komunikasi dan


koordinasi adalah seluruh anggota program/ lintas sektor terkait sesuai forum komunikasi
dan koordinasi yang diadakan.

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Forum Komunikasi Bulan Ke -

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Rapat Dan
MiniKoordinasi
Lokakarya

Rapat
bulanan Tinjauan

Manajemen
H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan komunikasi dan koordinasi dilakukan setiap akhir kegiatan.


Dievaluasi pada kegiatan komunikasi dan koordinasi berikutnya.
134

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN.

Hasil pembinaan dicatat dalam notulen mini lokakarya, notulen komunikasi internal
pogram UKM dan notulen mini lokakarya tribulanan lintas sektor dan notulen pertemuan
kader.

Kepala UPTD Puskesmas YYYY.


135

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

PELATIHAN PENANGANAN KEGAWATDARURATAN BAGI TENAGA MEDIS/


PARAMEDIS DI PUSKESMAS YYY

TAHUN
2016

A. PENDAHULUAN

Salah satu upaya pelayanan kesehatan yang mednapatkan prioritas untuk


dikembangkan adalah eningkatkan upaya penanganan penderita gawatdarurat baik dalam
keadaan sehari-hari maupun dalam keadaan bencana.

Pelatihan penanganan penderita gawatdarurat yang ditujukan bagi tenaga


kesehatan baik dokter maupun perawat selaras dengan sistem kesehatan nasional
yang ingin mewujudkan Rakyat Indonesia Sehat 2025. Pelatihan ini menyangkut
pengetahuan dan ketrampilan untuk penanganan pertama dalam menghadapi
kegawatdaruratan.

B. LATAR BELAKANG

Makin tingginya jumlah kasus gawatdarurat menuntut terpenuhinya


penanggulangan kasus tersebut dengan optimal. Kejadian gawatdarurat sehari- hari
dipengaruhi oleh adanya perubahan gaya hidup. Bencana – bencana yang tidak diharapkan
juga sering terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat perlu dibekali
kompetensi yang memadai untuk penanggulangan kegawatdaruratan tersebut. Pelatihan
penanganan kegawatdaruratan menjawab tantangan untuk menurunkan angka mortalitas
akibat kasus yang terjadi.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Peserta pelatihan mampu dan memahami sistem penanggulangan penderita


gawatdarurat.

2. Tujuan Khusus.

a. Peserta pelatihan mampu dan memahami sistem penanganan pertama setiap


penderita yang memerlukan pertolongan pertama kegawatdaruratan.

b. Peserta pelatihan mampu dan memahami siste stabilisasi.

c. Peserta pelatihan mampu dan memahami sistem komunikasi dan transportasi.


136

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Kegiatan pokok dalam pelatihan kasus gawatdarurat bagi tenaga mdis/ paramedis
di Puskesmas YYY merupakan kegiatan transfer ilmu dari tenaga medis/ paramedis yang
telah mendapatkan pelatihan General Emergency Life Support (GELS) yang diadakan oleh
Dinas Kesehatan Kota ABCD bekerja sama dengan RSUD dr. Soetomo.

E. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan pelatihan penanganan kegawatdaruratan bagi tenaga medis/ paramedis dilaksanakan


dengan metode :

1. Ceramah

Ceramah berisi materi inti berupa :

a. Merubah midnset dalam menghadapi kegawat daruratan

b. Penanganan airway, breathing, circulation, dan dissability

c. Burn, trauma thorax, trauma abdomen dan trauma capitis

d. Basic life support (BLS) guidelines 2010

e. Advanced life support (ALS) dan defibrilasi

f. Terapi cairan intravena, intraoseus, dan bebat tekan

g. Bebat bidai dan transportasi

2. Tanya Jawab

3. Diskusi

F. SASARAN

Sasaran kegiatan ini adalah tenaga medis/ paramedis Puskesmas YYY

yang belum mendapatkan pelatihan General Emergency Life Support (GELS).

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada waktu kalalarya yang


dijadwalkan oleh Kepala Puskesmas.
137

H. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI

No. Kegiatan Pencatatan Pelaporan Evaluasi

1 Pelatihan Hasil Kegiatan Laporan Evaluasi

Penanganan Dicatat Dibuku Pelaksanaan Kegiatan


Kegawatdaruratan Bagi Daftar Hadir Dan Kegiatan
Tenaga Medis/ Buku Harian Dilakukan
Paramedis Di Masing-Masing Setelah Selesai
Dilaksanakan
Puskesmas YYY Tenaga Medis/ Kegiatan Dan
Paramedis Ditujukan
Kepada Kepala
Puskesmas 1 Tahun Sekali
Untuk Menjadi

Acuan
Pelaksanaan
Kegiatan

Pada Periode
I. PENUTUP

Demikian kerangka acuan ini, semoga kegiatan dapat terlaksana dengan


lancar dan tujuan kegiatan ini dapat tercapai. Berikutnya.

Kepala UPTD Puskesmas YYY


138

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PERENCANAAN PROGRAM


PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN

A. PENDAHULUAN

Pelayanan yang berkualitas merupakan cerminan dari sebuah proses yang


berkesinambungan dengan berorientasi pada hasil yang memuaskan. Dalam perkembangan
masyarakat yang semakin krtis, mutu pelayanan Puskesmas tidak hanya disorot dari aspek
klinis medisnya saja namun juga dari aspek keselamatan pasin dan aspek pemberian
pelayanannya.

Peningkatan mutu adalah program yang disusun secara objektif dan sistematik
untuk memantau dan menilai mutu serta kewajaran asuhan terhadap pasien, menggunakan
peluang untuk meningkatkan asuhan pasien dan memecahkan masalah-masalah yang ada.

B. LATAR BELAKANG

Pemberi pelayanan kesehatan harus memiliki sumber daya manusia yang


profesional baik dibidang teknis medis maupun administrasi kesehatan. Untuk menjaga dan
meningkatkan mutu pelayanan harus mempunyai suatu ukuran yang menjamin peningkatan
mutu dan keselamatan pasien. Pengukuran mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
sudah diawali dengan penilaian akreditasi Puskesmas. pada kegiatan ini Puskesmas harus
membuat standart pelayanan/ prosedur.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mendorong pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada pasien yang memenuhi standart


pelayanan keselamatan pasien dan memberikan kepuasan kepada pasien.

2. Tujuan Khusus

a. Memasitikan bahwa pelayanan diberikan sesuai dengan SOP.

b. Menjamin pemberian pelayanan sesuai dengan standart pelayanan medik,


keselamatan pasien dan dilaksanakan secara terpadu sesuai dengan kebutuhan.

c. Mengupayakan peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien melalui


peningkatan kemampuan pemberi layanan kesehatan.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Kegiatan tim peningkatan mutu Puskesmas dilakukan melalui pemantauan dan


peningkatan indikator klinis dan keselamatan pasien. Pemantauan indikator klinis adalah
kegiatan pencatatan hasil sasaran mutu tiap pelayanan.
139

Indikator klinis yang dipantau meliputi semua sasaran mutu di poli/ unit. Dipantau
setiap bulan. Diukur setiap 6 bulan sekali.

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

Rangkaian kegiatan yang akan dilakukanuntuk pemantauan indikator klinis


tersebut adalah :

1. Pencatatan setiap indikator klinis dilakukan oleh perawat dan petugas di setiap unit
pelayanan yang terkait dengan indikator klinis masing-masing.

2. Indikator klinis tersebut dicatat setiap harinya, dan direkap oleh koordinator unit.

3. Untuk pemantauan dan pelaporan insiden keselamatan pasien dilaporkan di tim


manajemen mutu.

4. Ketua tim mutu bertanggungjawab mengkoordinasi pengumpulan data indikator


klinis yang sudah dicatat dan direkapitulasi oleh setiap unit pelaynan dan dianalisa pada
akhir bulan.

F. SASARAN

Sasaran mutu setiap poli/ unit di Puskesmas YYY

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Bulan

No. Kegiatan 7 8 9 10 11 12

1 Rapat Tim Mutu x x x x x x

2 Penetapan Indikator Mutu x

3 Perhitungan Indikatr Klinis x x x x X

4 Form pencatatan dan pelaporan x x X X X

5 Evaluasi/ pemantauan sasaran mutu x X X X X

6 Rapat Koordinasi X x x x X X

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

1. Setiap bulan Tim Peningkatan Mutu Klins Dan Keselamatan Pasien melakukan
evaluasi pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien unit
kerja.

2. Setiap 6 bulan Tim Peningkatan Mutu Klinis Dan Keselamatan Pasien membuat laporan
pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien.
140

3. Evaluasi untuk melihat pencapaian program dan rencana program dilaksanakan


setiap akhir tahun pada awal tahun.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan ini merupakan laporan dan


evaluasi pelaksanaan kegiatan. Pencatatan dilakukan setiap hari, dihitung setiap bulan.
Pelaporan dilaksanakan setiap 6 bulan sekali. Data kemudian dievaluasi setiap tahun.

J. SUMBER DANA

Dana pelaksanaan kegiatan berasal dari dana APBD Pemerintah Kota ABCD
141

LAMPIRAN 6

Kepala UPTD Puskesmas YYYY


Logo EVALUASI KINERJA PUSKESMAS Logo Puskesmas

No. Dokumen :
No. Revisi :
PEMERINTAH
Tanggal Terbit :
SOP
Halaman : 1-2
Pemerintah Kab/ Kepala UPTD

Kota XXX Dinas Tanda Tangan Puskesmas YYY


KEsehatan

Pengertian ➢ Evaluasi kinerja adalah kegiatan menilai dan mengevaluasi kinerja

capaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

➢ Evaluasi mengacu pada komitmen yang tertuang dalam kebijakan mutu,


sasaran mutu, hasil audit, analisa data dan survey kepuasan pasien,
tindakan perbaikan dan pencegahan serta rapat tinjauan manajemen.
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melakukan evaluasi

Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPD Puskesmas YYY Nomor .... Tahun ....
kinerja Puskesmas

Referensi Pedoman penilaian kinerja Puskesmas, Depkes RI, 2006


Tentang Indikator mutu dan kinerja Puskesmas.
Prosedur 5.1 Petugas membuat laporan bulanan, tribulan, semester dan tahunan.

5.2 Petugas melakukan indetifikasi permasalahan capaian hasil


kegiatan

5.3 Petugas menganalisa masalah dan penyebab masalah

5.4 Petugas membuat rencana tindak lanjut

Unit Terkait Semua Unit/ Poli

5.5 Petugas melaksanakan implementasi hasil rencana tindak lanjut

5.6 Petugas melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana tindak lanjut.


142

Rekaman Histori Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


143

1. Pengertian ➢ Survey adalah cara/ metode tertentu untuk mendapatkan informasi

tentang sesuatu yang kita perlukan.

➢ Kebutuhan adalah suatu masalah atau sebab yang dapat


menyebabkan kemakmuran.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk survey identifikasi
➢ Harapan adalah sesuatu yang diinginkan dapat terjadi.

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas YYY Nomor . Tahun...


kebutuhan dan harapan masyarakat.

4. Referensi Dasar-dasar statistik, drs.Ridwan,MB.A., Penerbit Alfa Beta Bandung.


Tentang Survey Kebutuhan dan Harapan Masyarakat.

5. Prosedur 5.1 Tim survey menentukan metode yang akan dipakai yaitu dengan
2008.
mengisi kuisioner dan masukan dari pertemuan lintas sektor.

5.2 Tim survey membuat instrumen berupa kuisioner mengenai


kebutuhan dan harapan masyarakat.

5.3 Tim survey menyusun jadwal survey.

5.4 Tim survey mendistribusikan kuisioner kepada pelaksana


kegiatan.

5.5 Tim survey mengumpulkan data kuisioner

5.6 Tim survey menganalisa dan evaluasi data kuisioner kebutuhan dan
harapan masyarakat terhadap program.

5.7 Tim survey melaporkan hasil analisa survey kebutuhan dan


harapan masyarakat kepada pimpinan Puskesmas.

5.8 Pimpinan Puskesmas, tim survey dan koordinator unit terkait


menyusun rencana tindak lanjut pasca survey.

6. Unit Terkait Semua Poli/ unit

Rekaman Histori Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


144

1. Pengertian Pertemuan penilaian kinerja merupakan forum pertemuan untuk

membahas dan mengevaluasi hasil kinerja baik kinerja program maupun


kinerja pelayanan.

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melakukan pertemuan

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas YYY Nomor . Tahun...


penilaian kinerja.
Tentang Peningkatan Kinerja.
4. Referensi Depkes RI 2006, Pedoman Mini Lokakarya.

5. Prosedur Pertemuan Penilaian Kinerja dilaksanakan dalam Mini Lokakarya

Bulanan dan RTM.

5.1 Pelaksanaan Mini Lokakarya Bulanan.

a. Koordinator UKM membuat Jadwal Pelaksanaan Mini

Lokakarya Bulanan.

b. Petugas melakukan sosialisasi Jadwal Pelaksanaan Mini

Lokakarya.

c. Petugas menyiapkan materil dan perlengkapan lain

d. Petugas mencatat hasil pelaksanaan Mini lokakarya yang


memuat penilaian kinerja.

5.2 Pelaksanaa Rapat Tinjauan Manajemen (RTM)

a. Tim Mutu membuat jadwal Pelaksanaan RTM

b. Tim mutu lelakukan sosialisasi Jadwal Pelaksanaan RTM.

c. Tim mutu menyiapkan materi dan perlengkapan lain


pelaksanaan RTM.

d. Petugas mencatat hasil RTM yang memuat penilaian kinerja.

6. Unit Terkait 6.1 Program KIA – KB

6.2 Program Promkes

6.3 Program Kesling

6.4 Program Gizi

6.5 Program P2

6.6 Program ARU

6.7 Program Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat


145

Rekaman Histori Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


146

Logo PEMERINTAH PENATALAKSANAAN KTD, KTC, KPC, Logo Puskesmas

No. DokumenKNC
:
No. Revisi :
Tanggal Terbit :
SOP
Halaman : 1-2
Pemerintah Kab/ Kepala UPTD

Kota XXX Dinas Tanda Tangan Puskesmas YYY


KEsehatan

1. Pengertian ➢ Upaya keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana

Puskesmas membuat asuhan pasien menjadi lebih aman yang meliputi


identifikasi resiko, analisis insiden, dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan
mencegah terulangnya kejadian.

➢ Upaya keselamatan pasien dilakukan untuk mencegah terjadinya

Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), yaitu cedera atau hasil yang tidak
sesuai dengan harapan, yang terjadi bukan karena kondisi pasien tetapi
oleh karena penanganan klinis atau karena ketidaksesuaian prosedur.
Penanganan klinis yang tidak sesuai kadang tidak menimbulkan cedera
maka kejadian ini disebut dengan Kejatian Tidak Cedera (KTC).

➢ Kejadian Nyaris Cedera (KNC) terjadi jika hampir saja dilakukan

kesalahan-kesalahan dalam penanganan klinis, tetapi kesalahan


tersebut tidak jadi dilakukan.

➢ Keadaan tertentu dalam pelayanan klinis yang berpotensi

menimbulkan cedera mis lantai licin yang beresiko menyebabkan pasien


jatuh disebut Kondisi berpotensi menyebabkan Cedera (KPC) .

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penanganan KTD,

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas YYY Nomor 5 Tahun...


KTC, KPC dan KNC.

4. Referensi Buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Depkes


Tentang penanganan KTD, KTC, KPC dan KNC.

RI 2006.
147

5. Prosedur 5.1 Tim mutu menerima laporan adanya KTD, KTC, KPC, atau KNC

5.2 Tim mutu melakukan identifikasi terhadap KTD, KTC, KPC, atau

KNC.

5.3 Tim mutu menganalisa penyebab dari KTD, KTC, KPC, atau KNC

yang terjadi.

5.4 Tim mutu mencatat hasil identifikasi dan analisa penyebab dari KTD,
KTC, KPC, atau KNC di dalam buku ketidaksesuaian dalam pelayanan.

5.5 Tim mutu mencatat rencana penanganan KTD, KTC, KPC, atau

KNC yang telah disepakati dalam buku ketidaksesuaian dalam


pelayanan.

5.6 Tim mutu dan penanggungjawab masing-masing unit/poli melaksanakan


penanganan KTD, KTC, KPC, atau KNC sesuai dengan rencana.

5.7 Tim mutu mengevaluasi penanganan terhadap KTD, KTC, KPC, atau
KNC yang dilakukan oleh masing-masing poli/unit.

5.8 Tim mutu mencatat hasil evaluasi penanganan KTD, KTC, KPC, atau
KNC yang telah dilakukan.

5.9 Tim mutu melaporkan hasil evaluasi penanganan KTD, KTC, KPC,
atau KNC kepada Kepala Puskesmas.
6. Unit Terkait Semua Poli/ unit

Rekaman Histori
Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


148

Logo PEMERINTAH PENYIMPANAN OBAT Logo Puskesmas

No. Dokumen :
No. Revisi :
Tanggal Terbit :
SOP
Halaman : 1-2
Pemerintah Kab/ Kepala UPTD

Kota XXX Dinas Tanda Tangan Puskesmas YYY


KEsehatan

1. Pengertian Merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap obat yang diterima

agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan
mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penyimpanan obat.

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas YYY Nomor .. Tahun...


4. Referensi Standart pelayanan kefarmasian di Puskesmas.

5. Prosedur 5.1 Gudang Puskesmas YYY


Tentang penyediaan obat yang menjamin ketersediaan obat.
a. Petugas menerima obat dan memasukkannya ke dalam
gudang Puskesmas.

b. Petugas menata obat di gudang sesuai bentuk dan jenis


sediaan obat, secara alfabetis, FIFO, dan FEFO.

c. Petugas mencatat jumlah penerimaan tiap item obat pada kartu


stok gudang obat.

d. Petugas menyimpan sediaan suppositoria, insulin dalam


lemari es.

e. Petugas menyimpan obat narkotika dan psikotropika ke dala


lemari khusus.

5.2 Sub Unit Puskesmas YYY.

a. Petugas menerima obat dari gudang Puskesmas YYY.

b. Petugas menata obat dalam almari penyimpanan secara


alfabetis, FEFO dan FIDO.

c. Petugas mencatat jumlah penerimaan tiap item obat pada kartu


stok harian.

6. Unit Terkait Unit Obat Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.

Rekaman Histori Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


149

LAMPIRAN 7

BUKTI SOSIALISASI DAN DISTRIBUSI URAIAN TUGAS

Bukti Uraian Tugas Petugas yang

Nama

No. Waktu menerima copy Sudah dibaca/ menyampaikan


1. Slamet Jumat, uraian
(tanda tugas
tangan) (tanda tangan) uraian
(tanda tugas
tangan)
Karyawan

dipahami
27 Mei
2.

3.
2016
150

CATATAN TANGGAPAN TERHADAP KELUHAN DAN UMPAN BALIK PELANGGAN

Media Disampaikan Petugas yang

Keluhan/ Umpan Nama


balik
No. yang Analisis Tanggapan Tanggal melalui menyampaikan Keterangan
digunakan tanggapan
Pelanggan

Media
151

EVALUASI KEBUTUHAN
RUANG DI PUSKESMAS

Keb Kesesuaian Kemuda Memfasilitasi Rencana


orang
Ruangan yang Keterse Kondis Keaman Kenyaman
harus ada diaan i an an
No. utuh Persyarata han Kesenjangan Tindak
1 Ruang an
1 1 baik n sanitasi
sesuai akse dengan Tidak ada Tidak ada
s kebutuhan
khusus
Lanjut.
2 Ruang Tunggu
pendaftaran 1 1 Rusak Ventilasi Kondisi rusak
dan

sedang kurang
3 Ruang ventilasi
tidak
memenuhi
4 Ruang syarat
pemeriksaan

konsultasi
5 dokter
Ruang

6 Ruang farmasi
tindakan
7 Ruang ASI

8 Kamar
152

CONTOH EVALUASI TERHADAP PELAKSANAAN HASIL PELATIHAN

Nama Petugas yang dievaluasi : ...................................................... Petugas


yang melakukan evaluasi : ...................................................... Nama Pelatihan
: ..................................................... Tanggal pelaksanaan evaluasi : 1 Maret
sd 15 Maret 2016

Penilaian
Sebagian Sebagian

Dilaksanakan besar kecil Tidak


No. Kriteria evaluasi
sepenuhnya dilaksanakan dilaksanakan dilaksanakan
1 Pelaksanaan rencana

tindak lanjut sesudah


pelatihan

2 Pelaksanaan prosedur

yang dipelajari selama


pelatihan

3 Kerjasama dengan

petugas lain
4 Koordinasi dengan

petugas lain
5 Perubahan perilaku

dalam pelayanan
6 Sosialisasi hasil

pelatihan kepada
petugas lain

Dsb

Kesimpulan:

.......................................................................................................................................

Tindak Lanjut: .............................................................................................................. (Catatan:


untuk kategori penilaian agar disesuaikan dengan jenis pelatihan).
153

EVALUASI PERSYARATAN BANGUNAN PUSKESMAS

No. Komponen Bangunan Persyaratan Sesuai Tidak Sesuai

1 Ruang Gawat darurat

2 Ventilasi

3 Ketersediaan Wastafel

4 Dsb
150

CONTOH IDENTIFIKASI JEJARING DAN JARINGAN

No. NAMA JEJARING ALAMAT KEGIATAN PELAYANAN KETERANGAN


DAN JARINGAN YANG DILAKUKAN OLEH
JEJARING/ JARINGAN
A. JARINGAN

1 KLINIK MEDIKA JL...... PELAYANAN KIA,

PELAYANAN BP UMUM DAN


BP GIGI

2 PRAKTEK BIDAN

MURNI
B. JARINGAN

1 PUSKESMAS

2 PEMBANTU....

JADWAL PEMBINAAN JEJARING DAN JARINGAN

JEJARING JA FE MA AP ME JU JU AG SE OK NO DE

/JARINGA N N B R R I N L T P T P S
KLINIK

MEDIKA
151

FORMAT

RENCANA USULAN KEGIATAN

1. PENDAHULUAN

a. LATAR BELAKANG

b. TUJUAN

c. VISI, MISI, TUPOKSI PUSKESMAS dan TATA NILAI

Rencana usulan kegiatan ini disusun berdasarkan visi, misi, tupoksi Puskesmas
dan tata nilai yang disepakati bersama, dan berdasarkan rencana strategi Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota, serta memperhatikan hasil analisis kebutuhan masyarakat.

2. ANALISIS SITUASI

a. DATA

1) Data Umum

- Peta wilayah

- Data sumber daya

- Data peran serta masyarakat

- Data penduduk dan sasaran

- Data sekolah

- Data kesehatan lingkungan di wilayah kerja.

2) Data Khusus.

- Status kesehatan :
a) Data kematian
b) Data kesakitan

c) Pola sepuluh penyakit terbanyak

- Data epidemiologi dan Kejadian luar biasa

- Cakupan (kinerja) program pelayanan kesehatan (baik UKM maupun UKP).

- Hasil survey mawas diri, Musyawarah Masyarakat Desa, Musrenbang, dan


survey-survey kepuasan dan kebutuhan.

- Hasil lokakarya dengan masyarakat, tokoh masyarakat, lintas sektor, sasaran


program tentang masukan dan harapan terhadap pelayanan Puskesmas.

Narasi hasil analisis data:


Contoh :
152

Dari data kematian, di Puskesmas X = ..../seribu penduduk, ini lebih tinggi dibandingkan
angka kematian di Kabupaten X...dst. Dari data kesakitan ternyata terjadi pergeseran
dari penyakit infeksi ke penyakit degenerative, hal ini sesuai dengan keinginan
masyarakat untuk membentuk Posyandu Lansia, begitu dari data demografi
menunjukkan perubahan pola demografi, dengan semakin banyaknya penduduk usia
lanjut. UKM : dari hasil evaluasi kinerja, ternyata kinerja KIA sudah baik dengan capaian
K1, K4,.... yang telah mencapai target, sedangkan capaian promosi kesehatan masih
rendah...

UKP : ...dst

Administrasi manajemen : .....dst

Berdasarkan hasil analiasis kebutuhan masyarakat diperoleh hasil : ........ Dengan


memperhatikan hasil analisis diatas, maka pelayanan prioritas yang perlu ada di
Puskesmas yyy adalah :

1. UKM : ......dst

2. UKP : ....dst

b. ANALISIS MASALAH

a) Identifikasi masalah

- UKM :....

- UKP :....

- Administrasi Manajemen :......

b) Prioritas Masalah

- UKM

- UKP

- Administrasi Manajemen
c) Rumusan Masalah

d) Analisis Akar Penyebab Masalah

3. RENCANA USULAN KEGIATAN MATRIKS RUK DAN NARASINYA

4. EVALUASI

Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan indikator-indikator

keberhasilan untuk tiap kegiatan baik pada program-program UKM maupun Pelayanan Klinis
(UKP). Evaluasi dilakukan baik bulanan, tribulan, semester dan tahunan. Pada periode tertentu
(misalnya tiga bulan sekali) dilakukan kahi banding

dengan capaian kinerja Puskesmas yang lain.

5. PENUTUP

Rencana usulan kegiatan ini disusun sebagai bahan bagi Dinas


153

Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk menyusun Rencana Kerja (Renja) tahun YYY.

Rencana usulan kegiatan ini menjadi dasar untuk penyususnan Rencana Pelaksanaan
Kegiatan (RPK), pada tahun mendatang. Setelah ada penetapan DPA dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota.
154

LANGKAH-LANGKAH :

1. Bentuk Tim Perencanaan Tingkat Puskesmas.

2. Tim PTP mengumpulkan data.

3. Tim PTP melakukan analisis data (analisis kebutuhan masyarakat akan


kesehatan).

4. Hasil analisis disampaikan kepada masing-masing penanggungjawab program-


program UKM dan UKP.

5. Masing-masing penanggungjawab bersama pelaksana menyusun rencana


usulan kegiatan untuk masing-masing program.

6. Usulan dari masing-masing penanggungjawab dikompilasi oleh tim PTP, untuk


dituangkan dalam draft RUK Puskesmas.

7. Lokakarya mini (mengundang juga lintas sektor) untuk pembahasan draft RUK.

8. Finalisasi RUK.

9. Sosialisasi RUK ke Lintas program dan lintas sektor.

10. Pengiriman RUK ke Dinas Kesehatan Kab/ Kota.