You are on page 1of 14

A.

Definisi Hematologi
Hematologi adalah cairan yang ada pada manusia sebagai alat transportasi berfungsi untuk
mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-
bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.

B. Anatomi Hematologi
Sistem hematologi tersusun atas hematologi dan tempat hematologi di produksi, termasuk
sumsum tulang dan nodus limpa. Hematologi adalah organ khusus yang berada dengan organ
lain karena berbentuk cairan. Hematologi merupakan medium transport ubuh, volume
hematologi manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter.
Hematologi terdiri dari dua komponen utama, yaitu:
1. Plasma hematologi, bagian cair hematologi yang sebagian besar terdiri dariats air,elektrolit,
dan protein hematologi.
2. Butir butir hematologi (blood corpuscles), yang terdiri atas komponen komponen berikut
ini:
a. Eritrosit (sel hematologi merah)
1) Struktur Eritrosit
Sel hematologi merah merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron. Bikon
kavitas memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepat dengan jarak yang
pendek antara membrane dan inti sel. Warnanya kuning kemerah merahan, karena didalamnya
mengandung suatu zat yang di sebut hemoglobin.
Sel hematologi merah tidak memiliki inti sel , mitokondria, dan ribosom, serta tidak dapat
bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, fosforilasi sel, atau pembentukan protein.
Komponen eritrosit adalah sebagai berikut:
a) Membrane eritrosit.
b) System enzim: enzim G6PD (glucose 6 phospatedehydrogenase).
c) Globin : bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. (eritosit normal
dengan pembesaran mikroskop electron 3000 kali).
2) Produksi Sel Hematologi Merah
Dalam keadaan normal, eritropoesisi pada orang deawsa terutama terjadi dalam sumsum tulang,
dimana system eritrosit menempati 20%-30% bagian jaringan sumsum tulang yang aktif
membentuk sel hematologi. Sel eritrosit berinti berasal dari sel induk multipotensial menjadi sel
hematologi system eritrosit, myeloid, dan mengakariosibila yang di ransang oleh eritropoetin.
Sel induk multipotensial akan berdeferensiasi menjadi sel induk unipotensial.
Sel induk unipotensial tidak mampu berdiferensiasi lebih lanjut, sehingga sel induk unipotensial
seri eritrosit hanya akan berdeferesiasi menjadi sel pronormoblas. Sel pronomorblas akan
membentuk DNA yang diperlukan untuk tiga sampai empat kali fase mitosis. Melalu empat kali
mitosis dari setiap kali pronormoblas akan terbentuk 16 eritrosit . eritrosit matang kemudian
dilepaskan dalam sirkulasi. Pada produksi eritosit normal sumsum tulang memerlukan besi,
Vitamin B12, asam folat, piridoksin (vit B6), kobal, asam amino, dan tembaga.
Secara garis besar dapat di simpulkan bahwa perubahan morpologi sel yang terjadi selama proses
deferesiensi sel pronormoblas sampai eritrosit matang dapat di kelompokan kedalam tiga
kelompok:
a) Ukuran sel semakin kecil akibat mengecilnya inti sel.
b) Inti sel manjadi makin padat dan akhirnya dikeluarkan pada tingkatan eritroblas asidosis.
c) Dalam sitoplasma di bentuk hemoglobin yang diikuti dengan hilangnya RNA dalam
sitoplsma sel.
3) Lama Hidup
Eritrosit hidup selama 74-154 hari. Pada usia ini system enzim mereka gagal, membrane sel
berhenti berfungsi dengan adekuat, dan sel ini di hancurkan oleh sel system retikulo endothelial.
4) Jumlah Eritrosit
Jumlah normal pada orang dewasa kira kira 11,5-15 gram dalam 100 cc hematologi. Normal HB
wanita 11,5 mg% dan HB laki-laki 13,0 mg%.
5) Sifat-sifat Sel Hematologi Merah
Sel hematologi merah biasanya digambarkan berdasarkan ukuran dan jumlah hemoglobin yang
terdapat didalam sel seperti berikut:
a) Normositik : sel yang ukurannya normal
b) Normokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
c) Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil
d) Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar
e) Hipokromik : sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit
f) Hiperkromik : sel yang hemoglobinnya terlalu banyak
6) Antigen Sel Hematologi Merah
Sel hematologi merah memiliki bermacam macam antigen spesifik yang terdapat di membrane
selnya dan tidak ditemukan di sel lain. Antigen-antigen itu adalah A,B,O, dan Rh.
b. Sel Hematologi Putih
1) Struktur Leokosit
Bentuknya dapat berubah-rubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu
(pseudopodia), mempunya bermacam-macam inti sel, sehingga ia dapat di bedakan menurut inti
selnya serta warnanya bening (tidak berwarna). Sel hematologi putih dibentuk disumsum tulang
dari sel-sel bakal. Jenis –jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu
limposit T dan B, monosit dan makrofag, serta golongan yang bergranula yaiu : eosinofil,
basofil, dan neutrofil.
2) Fungsi Sel Hematologi Putih
a) Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/ bakteri yang masuk
kedalam tubuh jaringan RES (system retikulo endotel).
b) Sebagai pengangkut, yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus melalu limpa
terus kepembuluh hematologi.
3) Jenis-jenis Sel Drah Putih
a) Agranulosit, yang terdiri dari neutrofil, Eosinofil, dan Basofil.
b) Granulosit , tang terdiri dari limposit (limposit T dan Limposit B) dan monosit.
4) Jumlah Sel Hematologi Putih
Pada orang dewasa jumlah sel hematologi putih total 4,0-11,0 x 109/l yang terbagi sebagai
berikut:
a. Granulosit
i. Neutopil 2,5-7,5 x 109
ii. Eosinfil 0.04-0,44 x 109
iii. Basofil 0-0,10 x 109
b. Limposit 1,5-3,5 x 109
c. Bsofil 0,2-0,8 x 109
c. Keping Hematologi ( Trombosit )
1) Struktur Trombosit
Trombosit adalah bagian dari beberapa sel besar dlam sumsum tulang yang berbentuk cakram
bulat, oval,bikonveks, tidak berinti, dan hidup sekitar 10 hari.
2) Jumlah Trombosit
Jumlah trombosit antara 150 dan 400 x 109/liter (150.000-400.000/milliliter), sekitar 30-40%
terkosentrasi didalam limpa dan sisanya bersirkulasi dalam hematologi.
3) Fungsi Trombosit
Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan hematologi. Trombosit dalam keadaan
normal bersirkulasi ke seluruh tubuh melalui aliran hematologi.
4) Plasma Hematologi
Plasma adalah bagian hematologi yang encer tanpa sel-sel hematologi, warnanya bening
kekuning-kuningan. Hamper 90% dari plasma hematologi terdiri atas air. Zat-zat yang terdapat
dalam plasma hematologi adala sebagai berikut:
a) Fibrinogen yang beguna dalam peristiwa pembekuan hematologi.
b) Garam-garam mineral, yang berguna dalam metabolism dan juga mengadakan osmotic.
c) Protein hematologi (albumin, globulin) meningkatan viskositas hematologi juga
menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara keseimbangan cairan dalam tubuh.
d) Zat makanan (asam amino, gukosa, lemak, mineral, dan vitamin).
e) Hormone, yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh.
f) Antibody.
d. Limpa
1) Struktur Limpa
Merupakan organ ungu lunak kurang lebih berukuran satu kepalan tangan. Limpa terletak pada
sebelah kiri atas abdomen dibawah kostae. Limpa memiliki permukaan luar konveks yang
berhadapan dengan diafragma dan permukaan medial yang konkaf serta berhadapan dengan
lambung, fleksura linealis kolon, dan ginjal kiri.
Limpa terdiri atas kapsula jaringan fibroelastin, folikel limpa (masa jaringan limpa), dan pulpa
merah (jaringan ikat, sel eritrosit, sel leokosit).

2) Fungsi Limpa
a) Pembentukan sel eritrosit (hanya pada janin).
b) Destruksi sel eritrosit tua.
c) Penyimpanan zat besi dari sel-sel yang di hancurkan.
d) Produksi bilirubin dari eritrosit.
e) Pembentukan limposit dalam folikel limpa.
f) Pembentukan imunoglobin.
g) Pembuangan partikel asing dari hematologi.
2. Hematopoiesis
Hematopoiesis merupakan proses pembentukan hematologi. Tempat hematopoiesis pada
manusia berpindah-pindah, sesuai dengan usianya.
a. Yolk sac : usia 0-3 bulan intrauteri
b. Hati dan lien : usia 3-6 bulan intrauteri
c. Sumsum tulang : usia 4 bulan intrauterine sampai dewasa
4. Hemostasis
Adapun prinsif dari hemostasis adalah Mengurangi aliran hematologi yang menuju daerah
trauma. Cara mengurangi hematologi menuju daerah trauma yaitu:
a. Vasokontriksi
b. Penekanan oleh edema
c. Mengadakan sumbatan/menutup lubang perhematologian
5. Pembekuan Hematologi
Pembekuan hematologi adalah proses dimana komponen cairan hematologi ditransformasi
menjadi material semisolid yang dinamakan bekuan hematologi. Menurut howell proses
pembekuan hematologi dibagi menjadi tiga stadium yaitu:
a. Stadium I : pembentukan tromboplastin.
b. Stadium II : perubahan dari protrombin menjadi thrombin.
c. Stadium III : perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin.

C. Fisiologi Hematologi
Dalam keadaan fisiologis, hematologi selalu berada dalam pembuluh hematologi, sehingga dapat
menjalankan fungsinya sebagai berikut.
1. Sebagai alat pengangkut.
2. Mengatur keseimbangan cairan tubuh.
3. Mengatur panas tubuh.
4. Berperan penting dalam mengatur pH cairan tubuh
5. Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi
6. Mencegah perhematologian.

D. Pengertian Imunologi
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang
dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan
benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan
sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya
melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga
memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan
meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

E. Fungsi Sistem Imun


Sistem imun memiliki beberapa fungsi bagi tubuh, yaitu sebagai:
Pertahanan tubuh, yaitu menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit, dan jika sel-sel
imun yang bertugas untuk pertahana ini mendapatkan gangguan atau tidak bekerja dengan baik,
maka oranmg akan mudah terkena sakit. Keseimbangan, atau fungsi homeostatik artinya
menjaga keseimbangan dari komponen tubuh.
Perondaan, sebagian dari sel-sel imun memiliki kemampuna untuk memantau ke seluruh bagian
tubuh. Jika ada sel-sel tubuh yang mengalami mutasi maka sel peronda tersebut akan
membinasakannya.
F. Macam-Macam Sistem Imun
Sistem kekebalan tubuh manusia dibagi 2, yaitu kekebalan tubuh tidak spesifik dan kekebalan
tubuh spesifik.
1. Sistem Kekebalan Tubuh Non Spesifik
Proses pertahanan tubuh non spesifik tahap pertama
Proses pertahanan tahap pertama ini bisa juga diebut kekebalan tubuh alami. Tubuh memberikan
perlawanan atau penghalang bagi masuknya patogen/antigen. Kulit menjadi penghalan bagi
masuknya patogen karena lapisan luar kulit mengandung keratin dan sedikit air sehingga
pertumbuhan mikroorganisme terhambat. Air mata memberikan perlawanan terhadap senyawa
asing dengan cara mencuci dan melarutkan mikroorganisme tersebut.
Minyak yang dihasilkan oleh Glandula Sebaceae mempunyai aksi antimikrobial. Mukus atau
lendir digunakan untuk memerangkap patogen yang masuk ke dalam hidung atau bronkus dan
akan dikeluarkjan oleh paru-paru. Rambut hidung juga memiliki pengaruh karenan bertugas
menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya. Semua zat cair yang dihasilkan oleh tubuh (air
mata, mukus, saliva) mengandung enzimm yang disebut lisozim. Lisozim adalah enzim yang
dapat meng-hidrolisis membran dinding sel bakteri atau patogen lainnya sehingga sel kemudian
pecah dan mati. Bila patogen berhasil melewati pertahan tahap pertama, maka pertahanan kedua
akan aktif.
Proses pertahanan tubuh non spesifik tahap ke dua
Inflamasi merupakan salah satu proses pertahanan non spesifik, dimana jika ada patogen atau
antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menyerang suatu sel, maka sel yang rusak itu akan
melepaskan signal kimiawi yaitu histamin. Signal kimiawi berdampak pada dilatasi(pelebaran)
pembuluh hematologi dan akhirnya pecah. Sel hematologi putih jenis neutrofil,acidofil dan
monosit keluar dari pembuluh hematologi akibat gerak yang dipicu oleh senyawa
kimia(kemokinesis dan kemotaksis). Karena sifatnya fagosit,sel-sel hematologi putih ini akan
langsung memakan sel-sel asing tersebut. Peristiwa ini disebut fagositosis karena memakan
benda padat, jika yang dimakan adalah benda cair, maka disebut pinositosis.
Makrofag atau monosit bekerja membunuh patogen dengan cara menyelubungi patogen tersebut
dengan pseudopodianya dan membunuh patogen dengan bantuan lisosom. Pembunuh dengan
bantuan lisosom bisa melalui 2 cara yaitu lisosom menghasilkan senyawa racun bagi si patogen
atau lisosom menghasilkan enzim lisosomal yang mencerna bagian tubuh mikroba. Pada bagian
tubuh tertentu terdapat makrofag yang tidak berpindah-pindah ke bagian tubuh lain, antara lain :
paru-paru(alveolar macrophage), hati(sel-sel Kupffer), ginjal(sel-sel mesangial), otak(sel–sel
microgial), jaringan penghubung(histiocyte) dan pada nodus dan spleen.
Acidofil/Eosinofil berperan dalam menghadapi parasit-parasit besar. Sel ini akan menempatkan
diri pada dinding luar parasit dan melepaskan enzim penghancur dari granul-granul sitoplasma
yang dimiliki. Selain leukosit, protein antimikroba juga berperan dalam menghancurkan patogen.
Protein antimikroba yang paling penting dalam hematologi dan jaringan adalah protein dari
sistem komplemen yang berperan penting dalam proses pertahan non spesifik dan spesifik serta
interferon. Interferon dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi oleh virus yang berfungsi
menghambat produksi virus pada sel-sel tetangga. Bila patogen berhasil melewati seluruh
pertahanan non spesifik, maka patogen tersebut akan segera berhadapan dengan pertahanan
spesifik yang diperantarai oleh limfosit.
2. Sistem Kekebalan Tubuh Spesifik
Pertahanan spesifik: imunitas diperantarai antibodi untuk respon imun yang diperantarai
antibodi, limfosit B berperan dalam proses ini, dimana limfosit B akan melalui 2 proses yaitu
respon imun primer dan respon imun sekunder.Jika sel limfosit B bertemu dengan antigen dan
cocok, maka limfosit B membelah secara mitosis dan menghasilkan beberapa sel limfosit B.
Semua Limfosit b segera melepaskan antibodi yang mereka punya dan merangsang sel Mast
untuk menghancurkan antigen atau sel yang sudah terserang antigen untuk mengeluarkan
histamin. 1 sel limfosit B dibiarkan tetap hidup untuk menyimpan antibodi yang sama sebelum
penyerang terjadi. Limfosit B yang tersisa ini disebut limfosit B memori. Inilah proses respon
imun primer. Jika suatu saat, antigen yang sama menyerang kembali, Limfosit B dengan cepat
menghasilkan lebih banyak sel Limfosit B daripada sebelumnya. Semuanya melepaskan antibodi
dan merangsang sel Mast mengeluarkan histamin untuk membunuh antigen tersebut. Kemudian,
1 limfosit B dibiarkan hidup untuk menyimpan antibodi yang ada dari sebelumnya. Hal ini
menyebabkan kenapa respon imun sekunder jauh lebih cepat dari pada respon imun primer.
Suatu saat, jika suatu individu lama tidak terkena antigen yang sama dengan yang menyerang
sebelumnya, maka bisa saja ia akan sakit yang disebabkan oleh antigen yang sama karena
limfosit B yang mengingat antigen tersebut sudah mati. Limfosit B memori
biasanya berumur panjang dan tidak memproduksi antibodi kecuali dikenai antigen spesifik. Jika
tidak ada antigen yang sama yang menyerang dalam waktu yang sangat lama, maka Limfosit b
bisa saja mati, dan individu yang seharusnya bisa resisten terhadap antigen tersebut bisa sakit
lagi jika antogen itu menyerang, maka seluruh proses respon imun harus diulang dari awal.
3. Pertahanan Spesifik : Imunitas Diperantarai Sel
Untuk respon imun yang diperantarai sel, Limfosit yang berperan penting adalah limfosit T. Jika
suatu saat ada patogen yang berhasil masuk dalam tubuh kemudian dimakan oleh suatu sel yang
tidak bersalah(biasanya neutrofil), maka patogen itu dicerna dan materialnya ditempel pada
permukaan sel yang tidak bersalah tersebut. Materi yang tertempel itu disebut antigen. Respon
imun akan dimulai jika kebetulan sel tidak bersalah ini bertemu dengan limfosit T yang sedang
berpatroli, yaitu sel tadi mengeluarkan interleukin 1 sehingga limfosit T terangsang untuk
mencocokkan antibodi dengan antigennya. Permukaan Limfosit T memiliki antibodi yang hanya
cocok pada salah satu antigen saja.
Jadi, jika antibodi dan antigennya cocok, Limfosit T ini, yang disebut Limfosit T pembantu
mengetahui bahwa sel ini sudah terkena antigen dan mempunyai 2 pilihan untuk menghancurkan
sel tersebut dengan patogennya. Pertama, Limfosit T pembantu akan lepas dari sel yang diserang
dan menghasilkan senyawa baru disebut interleukin 2, yang berfungsi untuk mengaktifkan dan
memanggil Limfosit T Sitotoksik. Kemudian, Limfosit T Sitotoksik akan menghasilkan racun
yang akan membunuh sel yang terkena penyakit tersebut. Kedua, Limfosit T pembantu bisa saja
mengeluarkan senyawa bernama perforin untuk membocorkan sel tersebut sehingga isinya keluar
dan mati.

G. Jenis-Jenis Antibodi
Antibodi adalah protein berbentuk Y dan disebut Immunoglobulin(Ig), hanya dibuat oleh
Limfosit B. Antibodi berikatan dengan antigen pada akhir lengan huruf Y. Bentuk lengan ini
akan menentukkan beberapa macam IG yang ada, yaitu IgM, IgG, IgA,IgE dan IgD. Saat respon
imun humoral, IgM adalah antibodi yang pertama kali muncul. Jenis lainya akan muncul
beberapa hari kemudian. Limfosit B akan membuat Ig yang sesuai saat interleukin dikeluarkan
untuk mengaktifkan Limfosit T saat antigen menyerang.
Antibodi juga dpat menghentikan aktivitas antigen yang merusak dengan cara mengikatkan
antibodi pada antigen dan menjauhkan antigen tersebut dari sel yang ingin dirusak. Proses ini
dinamakan neuralisasi. Semua Ig mempunyai kemampuan ini. Antibodi juga mempersiapkan
antigen untuk dimakan oleh makrofag. Antobodi mengikatkan diri pada antigen sehingga
permukaannya menjadi lebih mudah menempel pada makrofag. Proses ini disebut opsonisasi.
IgM dan IgG memicu sistem komplemen, suatu kelompok protein yang mempunyai kemampuan
unutk memecah membran sel. IgMdan IgG bekerja paling maksimal dalam sistem sirkulasi,IgA
dapat keluar dari peredaran hematologi dan memasuki cairan tubuh lainnya. IgA berperan
penting untuk menghindarkan infeksi pada permukaan mukosa. IgA juga berperan dalam
resistensi terhadap banyak penyakit. IgA dapat ditemukan pada ASI dan membantu pertahanan
tubuh bayi.IgD merupakan antibodi yang muncul untuk dilibatkan dalam inisiasi respon imun.
IgE merupakan antibodi yang terlibat dalam reaksi alergi dan kemungkinan besar merespon
infeksi dari protozoa dan parasit.
Antibodi tidak menghancurkan antigen secara langsung, akan tetapi menetralkannya atau
menyebabkan antigen ini menjadi target bagi proses penghancutan oleh mekanisme opsonosasi,
aglutinasi,presipitasi atau fiksasi komplemen. Opsonisasi, aglutinasi dan presipitasi
meningkatkan proses fagositosis dari komplek antigen-antibodi sementara fiksasi komplemen
memicu proses lisis dati protein komplemen pada bakteri atau virus.
Sistem imun manusia terdiri daripada organ imun, sel imun dan lain-lain. Organ imun merujuk
kepada sumsum tulang, kelenjar timus, limpa, nodus limfa, tonsil, apendiks dan sebagainya.
Kebanyakan sel imun terdiri daripada sel T dan sel B. Sel B akan matang dalam sumsum tulang,
apabila sistem hematologi diserang, ia akan memproses antibodi untuk menentang virus dan
bakteria.
Sel T dihasilkan oleh sumsum tulang, bertumbuh dan matang di kelenjar timus tetapi ia tidak
menghasilkan antibodi. Tugas utamanya adalah: menentang sel yang dijangkiti virus, bakteria
dan kanker. Apabila sistem imun berada di dalam keadaan normal, tubuh manusia akan dapat
menentang berbagai patogen. Walau bagaimana, jika daya imun berada dalam paras rendah,
peluang menghidapi penyakit menjadi lebih tinggi, terutamanya bayi, kanak-kanak dan orang
tua. Sistem imun bayi masih di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Oleh itu, antibodi badan masih lemah untuk melawan pelbagai mikroorganisma. Manakala organ
sistem imun orang tua telah uzur dan semakin merosot, jadi daya tahan sistem imun juga
menurun.
Sistem kekebalan tubuh harus selalu dalam keadaan seimbang.Jika tidak, akan
terganggu.Penyebab gangguan sistem kekebalan tubuh ada yang tidak diketahui dan telah ada
sejak lahir (primer). Ada juga gangguan kekebalan sekunder karena faktor lain, misalnya infeksi
(AIDS, campak dan lain-lain), gizi buruk, serta penyakit ganas misalnya kanker, leukemia, obat-
obatan misalnya obat yang mengandung hormon kortikosteroid, obat untuk kanker, dan lain-lain.
Sebetulnya, tubuh memiliki zat yang secara otomatis akan menormalkan sistem imun.Kalau
imunnya kurang maka ditingkatkan, kalau terlalu tinggi diturunkan.Di dalam tubuh, ada zat yang
mempunyai sifat seperti itu. Namun, ada kalanya tubuh tak berhasil menormalkan sistem
imunnya sendiri. Akhirnya, dicarilah cara menormalkan sistem imun tubuh dari luar dengan
imunomodulator.
Imunomodulator adalah zat yang dapat memodulasi (mengubah atau memengaruhi) sistem imun
tubuh menjadi ke arah normal. Produk imunomodulator berperan menguatkan sistem imun tubuh
(imuno stimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imuno
suppressan).Misalnya,diberikan bersama antibiotic.Selain sintetik, produk imunomodulator kini
juga dibuat dari tanaman. Ternyata, ada tanaman tertentu yang memiliki efek meningkatkan
kekebalan tubuh. Misalnya, daun meniran. Setelah diteliti, daun ini punya efek meningkatkan
sistem imun tubuh. Sekarang sudah dibuat dalam bentuk obat. Yang harus diketahui,
imunomodulator adalah obat, dan bukan suplemen yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Fungsinya
pun hanya membantu meningkatkan kekebalan.
Konsumsi imunomodulator pada orang normal tidak ada gunanya, karena tubuh masih bisa
menyeimbangkan sistem imun.. Sistem imun tubuh itu, kan, sama seperti organ tubuh lain,
memerlukan energi. Oleh karenanya, agar sistem imun tubuh baik, gizi pun harus seimbang. Sel-
sel kekebalan itu bisa bergerak, butuh makanan (energi) juga. Jadi, makan cukup protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Sama seperti fungsi organ lain.

H. Faktor-Faktor Yang Merendahkan Sistem Keimunan


Sistem imun mempunyai hubungan rapat dengan cara hidup kita. Berikut adalah faktor-faktor
yang merendahkan sistem keimunan kita:
1. Cara hidup yang tidak sehat.
2. Kekurangan zat makanan.
3. Pencemaran udara atau alam sekitar.
4. Keletihan.
5. Tekanan dan kerisauan.
6. Kurang bersenam.
7. Penggunaan antibiotik yang berlebihan.
Apabila sistem imun kita menurun, maka lebih mudah untuk kita mendapat jangkitan. Orang
yang mempunyai sistem imun yang rendah mudah berasa letih, tidak bersemangat, sentiasa
selesema, jangkitan usus (makanan yang tidak sesuai akan menyebabkan muntah dan mual), luka
sukar untuk sembuh, alergi dan sebagainya. Selain itu, sistem imun yang tidak teratur juga boleh
menyebabkan kecederaan pada sel.

I. Penyakit Akibat Ketidakseimbangan Sistem Imun


Berikut adalah penyakit yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan sistem imun:
1. Penyakit AIDS
Juga dikenali sebagai sindrom kurang daya tahan melawan penyakit; yang mana virus HIV
menyerang sistem imun. Apabila memasuki badan manusia, virus tersebut akan memusnahkan
sel otak dan ‘leucocytes’ dan ia membiak dan berkembang di limfosit menyebabkan badan
manusia hilang keupayaan untuk melawan penyakit. Pesakit akan lemah dan terdedah kepada
pelbagai penyakit berjangkit seperti tuberkulosis pulmonari, kandidiasis, kayap, manakala
enteritis, pneumonia, ‘cephalitis’ dan lain-lain yang disebabkan oleh mikroorganisma patogenik
yang luar biasa.

2. Penyakit Autoimunitas
Autoimunitas adalah respon imun tubuh yang berbalik menyerang organ dan jaringan sendiri.
Autoimunitas bisa terjadi pada respon imun humoral atau imunitas diperantarai sel. Sebagai
contoh, penyakit diabetes tipe 1 terjadi karena tubuh membuat antibodi yang menghancurkan
insulin sehingga tubuh penderita tidak bisa membuat gula. Pada myasthenia gravis, sistem imun
membuat antibodi yang menyerang jaringan normal seperti neuromuscular dan menyebabkan
paralisis dan lemah. Pada demam rheumatik, antibodi menyerang jantung dan bisa menyebabkan
kerusakan jantung permanen. Pada Lupus Erythematosus sistemik, biasa disebut lupus, antibodi
menyerang berbagai jaringan yang berbeda, menyebabkan gejala yang menyebar.
3. Alergi
Alergi, kadang disebut hipersensitivitas, disebabkan respon imun terhadap antigen. Antigen yang
memicu alergi disebut allergen. Reaksi alregi terbagi atas 2 jenus yaitu:reaksi alergi langsung
dan reaksi alergi tertunda. Reaksi alergi langsung disebabkan mekanisme imunitas humoral.
Reaksi ini disebabkan oleh prosuksi antibodi IgE berlebihan saat seseorang terkena antigen.
Antibodi IgE tertempel pada sel Mast,leukosit yang memiliki senyawa histamin. Sel mAst
banyak terdapat pada paru-paru sehingga saat antibodi IgE menempel pada sel Mast, Histamin
dikeluarkan dan menyebabkan bersin-bersin dan mata berair.
Reaksi alergi tertunda disebabkan oleh perantara sel. Contoh yang ekstrim adalah saat makrofag
tidak dapat menelan antigen atau menghancurkannya. Akhirnya Limfosit T segera memicu
pembengkakan pada jaringan.
Untuk mempunyai sistem imun yang sempurna untuk menentang virus dan bakteri, kita perlu
mempunyai syarat tertentu seperti berikut:
a. Nutrisi Yang Sempurna
Setiap hidangan mesti mempunyai berbagai zat yang lengkap, tidak memilih makanan, tidak
berlebihan serta meliputi nutrien asas seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, air, fiber,
lemak dan sebagainya.
b. Olah raga Yang Sesuai
Olah raga dapat meningkatkan ketahanan asalkanbermasa panjang (15 menitt ke atas), olah raga
ini dapat menyalurkan oksigen yang segar kepada organ dan tisu dalam badan kita. Olah raga
merujuk kepada joging, berenang, berjalan, berbasikal, melompat, yoga dan sebagainya, yang
mana ia dapat menggalakkan peredaran hematologi, menguatkan fungsi kardiovaskular dan
meningkatkan sistem imun badan.
c. Sentiasa Gembira dan Bijak Menangani Tekanan
Tekanan psikologi dan kegelisahan dalam tempo yang panjang boleh mengganggu sistem
keimunan badan dan tidak baik untuk kesihatan. Apabila otak berada dalam keadaan tertekan, ia
menghasilkan sejenis hormon kortisol. Jika hormon ini berlebihan, ia memberi kesan yang
negatif dan mengganggu sistem keimunan kita.
d. Pengambilan Nutrisi Yang Mencukupi
Kesibukan menyebabkan ramai yang menjadikan makanan yang telah diproses sebagai pilihan,
yang mana mempunyai kandungan nutrient yang telah hilang. Nutrien dan sistem imun
mempunyai hubung kait. Oleh itu, adalah penting untuk kita mengambilkan nutrien yang
meningkatkan keimunan kita.
1) Protein: Pengambilan protein yang mencukupi dalam pemakanan harian kita amatlah penting
kerana protein adalah nutrien penting yang diperlukan untuk penghasilan imunoglobulin dan
pelbagai antibodi. Ini kerana protein terdiri daripada 22 jenis asid amino yang berlainan, 8 jenis
daripadanya ialah keperluan badan manusia, badan manusia tidak dapat memprosesnya dan harus
mengambilnya badan anda dengan protein yang mencukupi dan berkualiti seperti: daging, ikan,
telur dan kekacang.
2) Vitamin dan mineral: Membekalkan vitamin dan mineral yang diperlukan oleh badan seperti
Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E, Zink, Besi, Selenium dan sebagainya.
3) Lingzhi: Lingzhi mengandungi polisakarida, kompaun triterpene, germanium, protein, unsur
selenium dan sebagainya yang dapat membantu menentang kanser dan melaraskan sistem imun.
Lingzhi kaya dengan germanium yang dapat meningkatkan penyerapan oksigen dalam
hematologi, mempercepatkan metabolisme dan meningkatkan tahap imun badan manusia.
Kompaun Triterpene ialah organik kompaun semula jadi yang dapat memperbaiki alergi dan
keradangan. Polisakarida yang mengandungi bahan pencegah kanser dapat mempercepatkan
pertumbuhan antibodi, menguatkan sistem imun dan daya tahan badan untuk membantu
mencegah pertumbuhan tumor dan penyakit kanker.
4) Teh Hijau: Teh hijau mempunyai kandungan antioksidan seperti Flavonoid dan catechin.
Oleh itu, ia dapat membantu meningkatkan sistem imun kita. Ahli sains menemui “theanine” di
dalam daun teh yang dapat membantu sel imun badan menentang bakteria dan virus.
5) Aloe Vera: Tumbuh di kawasan panas dan kering, aloe vera mempunyai ketahanan terhadap
cuaca yang tinggi. Ia boleh menyejukkan badan dan mengeluarkan toksin, menyembuhkan
keradangan dan menentang bakteria serta meningkatkan daya ketahanan tubuh. Aloe vera
mempunyai pelbagai zat aktif seperti asid amino, unsur mikro, vitamin dan sebagainya, khasnya
unsur germanium dan sebagainya yang terkandung dalam unsur mikro yang dapat membantu
badan mengeluarkan bahan toksin, memulihkan tisu yang luka dan meningkatkan sistem imun
badan dengan cepat.