You are on page 1of 35

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FORMULASI SEDIAAN STERIL

Larutan Parenteral

Kelompok : Satu (Gelombang II)


Anggota : 1. Aat Mujizat (13040001)
2. Dian Aida Ardi (13040008)
3. Latif Yudha Arditama (13040021)
4. Linda Kristianingsih (13040022)
5. Rahmawati (13040037)

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
TANGERANG
2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobil’alamin atas rahmat ALLAH SWT. Kami kelompok 1


(satu) dapat menyelesaikan tugas pembuatan Laporan Hasil Praktikum Formulasi
Dan Teknologi Sediaan Steril “Larutan Parenteral”. Laporan ini kami buat selain
untuk menyelesaikan tugas pembelajaran, juga kami harapkan dapat menjadi
pelajaran bagi yang membaca.
Laporan Hasil Praktikum Formulasi Dan Teknologi Sediaan Steril “Larutan
Parenteral” ini berisikan seputar teori sedian infus, cara pembutan dan evaluasi
sediaan beserta hasil dan pembahasan dari praktikum yang telah kami lakukan.
Melalui praktikum dan pembuatan laporan hasil ini kami dapat belajar lebih banyak
mengenai sediaan infus karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada dosen
pembimbing praktikum formulasi dan teknologi sediaan steril kami, ibu Nur’aini,
S.Si., M.Farm., Apt.
Kami menyadari dalam pembuatan laporan hasil ini masih terdapat
kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
dosen pembimbing praktikum formulasi dan teknologi sediaan steril kami, ibu
Nur’aini, S.Si., M.Farm., Apt. Akhir kata kami ucapkan terimakasih dan selamat
membaca karya kami ini.

Tangerang, 28 April 2016

Kelompok 1

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril ii


DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................ i


Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
Daftar Tabel ................................................................................................ v
Daftar Gambar ............................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1


A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Tujuan Praktikum .................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 3


A. Sediaan Parenteral .................................................................... 3
B. Tetapan Isotonis ........................................................................ 7
C. Syarat-Syarat Infus ................................................................... 7
D. Keuntungan Sediaan Infus ........................................................ 8
E. Kerugian Sediaan Infus ............................................................ 8
F. Fungsi Pemberian Infus ............................................................ 8
G. Sterilisasi .................................................................................. 9
H. Wadah ...................................................................................... 10

BAB III METODOLOGI ............................................................................ 12


A. Alat dan Bahan Praktikum ....................................................... 12
B. Data Zat Aktif ........................................................................... 12
C. Perhitungan Isotonis/Isohidri ................................................... 14
D. Perhitungan dan Penimbangan Bahan ...................................... 17
E. Cara kerja Pembuatan Larutan Infus ........................................ 17

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril iii


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 19
A. Hasil Percobaan ........................................................................ 19
B. Pembahasan ............................................................................. 19

BAB V PENUTUP ..................................................................................... 21


A. Simpulan .................................................................................. 21
B. Saran ......................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril iv


DAFTAR TABEL

Tabel II.1. Tetapan Isotonis ....................................................................... 7


Tabel III.1. Alat dan Bahan Praktikum Pembuatan Larutan Infus .............. 12
Tabel IV.1. Hasil Uji Terhadap Sediaan Parenteral...................................... 18

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril v


DAFTAR GAMBAR

Gambar III.1. Rumus White-Vincent ........................................................... 14


Gambar III.2. Rumus Penurunan Titik Beku ................................................ 14
Gambar III.3. Rumus Perhitungan Isotonis / Isohidri Dengan Metode
Kryoskopi .............................................................................. 15

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril vi


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian
sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh
vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh. Tujuan dari sediaan infus adalah memberikan atau
menggantikan cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein,
lemak, dan kalori, yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral,
memperbaiki keseimbangan asam-basa, memperbaiki volume komponen -
komponen darah, memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan
kedalam tubuh, memonitor tekanan vena sentral (CVP), memberikan nutrisi
pada saat sistem pencernaan mengalami gangguan (Perry & Potter., 2005).
Terapi Intravena (IV) adalah menempatkan cairan steril melalui jarum,
langsung kevena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit
(natrium, kalsium, kalium), nutrient (biasanya glukosa), vitamin atau obat
(Brunner & Sudarth, 2002). Terapi intravena adalah pemberian sejumlah cairan
ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh
balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Terapi intravena (IV) digunakan untuk memberikan cairan ketika pasien
tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok, untuk memberikan garam
yang dirperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit, atau
glukosa yang diperlukan untuk metabolisme dan memberikan medikasi (Perry
& Potter., 2005).
Tipe-tipe dari sediaan infus adalah
1. Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut
dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik”
dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah keosmolaritas tinggi), sampai akhirnya

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 1


mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami”
dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialysis) dalam terapi diuretik,
juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan
ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan
tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada
beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (bagiancair dari komponen darah), sehingga terus berada di
osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair
dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan
tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya
overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung
kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan
normalsaline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3. Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam
pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan
produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan Hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5% + NaCl 0,9%,
produk darah (darah), dan albumin. (Perry & Potter., 2005).

Berdasarkan uraian di atas yang menyebutkan bahwa banyak manfaat dari


sedian infus dibidang pengobatan maka, kami tertarik untuk melakukan
praktikum pembuatan sediaan infus.

B. Tujuan Praktikum
1. Mempelajari cara pembuatan larutan parenteral berupa sediaan infus.
2. Mempelajari cara evaluasi sediaan larutan parenteral berupa sediaan infus.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sediaan Parenteral
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi - bagi yang
bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini
antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya
infus). Sediaan parental merupakan jenis sediaan yang unik di antara bentuk
sediaan obat terbagi - bagi, karena sediaan ini disuntikan melalui kulit atau
membran mukosa ke bagian tubuh yang paling efesien, yaitu membran kulit
dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari
bahan - bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang
tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini
harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi,
apakah kontaminasi fisik, kimia atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Produk steril yang banyak diproduksi di industri farmasi adalah dalam
bentuk larutan terbagi (ampul) dan bentuk serbuk padat siap untuk digunakan
dengan diencerkan terlebih dahulu dengan larutan pembawa (vial). Sediaan
parental, bisa diberikan dengan berbagai rute : intra vena (i.v), sub cutan (s.c),
intradermal, intramuskular (i.m), intra articular, dan intrathecal. Bentuk
sediaan sangat mempengaruhi cara (rute) pemberian. Sediaan bentuk suspensi,
misalnya tidak akan pernah diberikan secara intravena yang langsung masuk
ke dalam pembuluh darah karena adanya bahaya hambatan kapiler dari partikel
yang tidak larut, meskipun suspensi yang dibuat telah diberikan dengan ukuran
partikel dari fase dispersi yang dikontrol dengan hati - hati. Demikian pula obat
yang diberikan secara intraspinal (jaringan syaraf di otak), hanya bisa diberikan
dengan larutan dengan kemurnian paling tinggi, oleh karena sensivitas jaringan
syaraf terhadap iritasi dan kontaminasi (Priyambodo, B., 2007).
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk
yang dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui selaput

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 3


lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsikan atau
mensuspensikan sejumah obat kedalam sejumlah pelarut atau dengan
mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis
ganda (DepKes., 1979).
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi
yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya laruitan
obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa
diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada
pembuluh darah kapiler (DepKes., 1995).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, hal 10 larutan intravena volume
besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah
bertanda volume lebih dari 100 mL.
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml yang
diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang
cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman
dan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif sama, rasionya dalam tubuh adalah
air 57%; lemak 20,8%; protein 17,0%; serta mineral dan glikogen 6%. Ketika
terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus segera mendapatkan terapi
untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit larutan untuk infus
intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel (Lukas, Syamsuni, H.A.,
2006).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III halaman 12, infus intravenous
adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat
mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena,
dengan volume relatife banyak. Kecuali dinyatakan lain, infus intravenous
tidak diperbolehkan mengandung bakteriasida dan zat dapar. Larutan untuk
infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel.
Injeksi volume besar atau injeksi yang dimaksudkan untuk pemberian
langsung ke dalam pembuluh darah vena harus steril dan isotonis dengan darah,
dikemas dalam wadah tunggal berukuran 100 mL - 2000 mL. Tubuh manusia
mengandung 60 air dan terdiri atas cairan intraseluler (di dalam sel), 40 yang

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 4


mengandung ion-ion K+, Mg+, sulfat, fosfat, protein serta senyawa organik
asam fosfat seperti ATP, heksosa, monofosfat dan lain-lain. Air mengandung
cairan ekstraseluler (di luar sel) 20 yang kurang lebih mengandung 3 liter air
dan terbagi atas cairan intersesier (diantara kapiler) 15 dan plasma darah 5
dalam sistem peredaran darah serta mengandung beberapa ion seperti Na+,
klorida dan bikarbonat (Anief., 2008).
Menurut Anief tahun 2008 Injeksi dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Injeksi intrakutan atau intradermal (i.c)
Biasanya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikan
sedikit (0,1-0,2 mL). digunakan untuk tujuan diagnosa.
2. Injeksi subkutan atau hipoderma (s.c)
Umumnya larutan isotonus, jumlah larutan yang disuntikan tidak lebih dari
1 mL. Disuntikan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam “alveola”, kulit
mula-mula diusap dengan cairan desinfektan (etanlo 70%). Dapat
ditambahkan vasokonstriktor seperti epinefrina 0,1% untuk melokalisir efek
obat. Larutan harus sedapat mungkin isotonus, sedangpH-nya sebaiknya
netral, maksudkan untuk mengurangi iritasi jaringan dan mencegah
kemungkinan terjadi nekrosis (mengendornya kulit).
Jika tidak disuntikan secara infus, volume injeksi 3 Lt sampai 4 Lt sehari,
masih dapat disuntikkan secara subkutan dengan penambahan hialuronidase
ke dalam injeksi atau jika sebelumnya disuntik hialuronidase.
3. Injeksi intramuscular (i.m)
Merupakan larutan atau suspense dalam air atau minyak atau emulsi.
Disuntikkan masuk otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih
dari 4 mL. Penyuntikan volume besar dilakukan perlahan-lahan untuk
mencegah rasa sakit, sedapat mungkin tidak lebih dari 4 mL.
Ke dalam otot dada dapat disuntikkan sampai 200 mL, sedang otot lain
volume yang disuntikkan lebih kecil.
4. Injeksi intravenus (i.v)
Merupakan larutan, dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan
iritasi yang dapat bercampur dengan air, volume 1 mL sampai 10 mL.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 5


Larutan ini biasanya isotonus atau hipertonus. Bila larutan hipertonus maka
disuntikan perlahan-lahan. Jika larutan yang diberikan banyak umumnya
lebih dari 10 mL disebut infus, larutan diusahakan supaya isotonus dan
diberikan dengan kecepatan 50 tetes tiap menit dan lebih baik pada suhu
badan.
Emulsi minyak-air dapat diberikan, asal ukuran butiran minyak cukup kecil
(emulsi mikro). Bentuk suspensi atau emulsi makro tidak boleh diberikan
melalui intravena.
5. Injeksi intraarterium (i.a)
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat
bercampur dengan air, volume yang disuntikan 1 mL sampai 10 mL dan
digunakan bila diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer.
6. Injeksi intrakor atau intrakardial (i.k.d)
Berupa larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, dan disuntikan ke
dalam otot jantung atau ventrikulus.
7. Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intradural
Berupa laturan harus isotonus, sebab sirkulasi cairan cerebropintal adalah
lambat, meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering
hipertonus. Larutan harus benar-benar steril, bersih sebab jaringan syaraf
daerah anatomi di sini sangat peka.
8. Injeksi intrakulus
Berupa larutan atau suspense dalam air yang disunikan ke dalam cairan
sendi dalam rongga sendi.
9. Injeksi subkonjungtiva
Berupa larutan atau suspensi dalam air yang untuk injeksi selaput lendir
mata bawah, umumnya tidak lebih dari 1 mL.
10. Injeksi yang digunakan lain:
a. Intraperitoneal (i.p) disuntikkan langusng ke dalam rongga perut,
penyerapan cepat, bahaya infeksi besar dan jarang dipakai.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 6


b. Peridural (p.d) ekstra dural, disuntikan ke dalam ruang epidural, terletak
diatas durameter, lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang
belakang.
c. Intrasisternal (i.s) disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang
belakang pada otak.

B. Tetapan Isotonis
Tabel II.1. Tetapan Isotonis
Sumber : Farmakope Indonesia Edisi IV (1995)

Osmolarita (M osmole/Liter) Tonisitas

> 350 Hipertonis


329 – 350 Sedekit hipertonis
270 – 328 Isotonis
250 - 269 Sedikit hipotonis
0 - 249 Hipotonis

C. Syarat-Syarat Infus
1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan dan efek toksis.
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
3. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
4. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan tubuh
lain yakni 7,4.
5. Sedapat mungkin isotonis, artinya mempunyai tekanan osmosis yang sama
dengan darah atau cairan tubuh yang lain tekanan osmosis cairan tubuh
seperti darah, air mata, cairan lumbai dengan tekanan osmosis larutan NaCl
0,9 %.
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari
mikroorganisme hidup dan patogen maupun non patogen, baik dalam
bentuk vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif (spora).
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat
menimbulkan demam. Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa kompleks

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 7


polisakarida dimana mengandung radikal yang ada unsur N, dan P. Selama
radikal masih terikat, selama itu dapat menimbulkan demam dan pirogen
bersifat termostabil.

D. Keuntungan Sediaan Infus


1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat.
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
3. Biovaibilitas obat dalam traktus gastrointenstinalis dapat dihindarkan.
4. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan
koma.
5. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinal dapat dihindarkan.

E. Kerugian Sediaan Infus


1. Rasa nyeri saat disuntikkan apalagi kalau harus diberikan berulang kali.
2. Memberikan efek fisikologis pada penderita yang takut suntik.
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hapir tidak mungkin diperbaiki
terutama sesudah pemberian intravena.
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita dirumah sakit atau ditempat
praktek dokter oleh perawat yang kompeten.
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril dikarenakan ketatnya
persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis dan
bebas partikel).

F. Fungsi Pemberian Infus


1. Dasar nutrisi, kebutuhan kalori untuk pasien dirumah sakit harus disuplai
via intravenous. Intravenous seperti protein dan karbohidrat.
2. Keseimbangan elektrolit digunakan pada pasien yang shock, diare, mual,
muntah, membutuhkann cairan inrravenous.
3. Pengganti cairan tubuh seperti dehidrasi.
4. Pembawa obat obat. Contohnya seperti antibiotik (Voight., 1995).

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 8


G. Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril.
Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai
akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep
ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative,
dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme
hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian
mikroba (Lachman., 1994).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan
panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas
digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab
atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas
kering atau sterilisasi kering. Sedangkan sterilisasi kimiawi dapat dilakukan
dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasdarkan pada
sifat bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, R. S., 1985).
Pada umumnya metode sterilisasi ini digunakan untuk sediaan farmasi dan
bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang dipergunakan dan
penembusan uap air, tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap
air tersebut.metode ini juga dipergunakan untuk larutan dalam jumlah besar,
alat – alat gelas, pembalut operasi dan instrumen. Tidak digunakan untuk
mensterilkan minyak-minyak, minyak lemak, dan sediaan-sediaan lain yang
tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang
mungkin rusak oleh uap air jenuh (Ansel., 1989).
Metode-metode sterilisasi menurut Ansel , yakni:
1. Sterilisasi uap (lembab panas), yakni sterilisasi yang dilakukan dalam
autoklaf dan menggunakan uap air dengan tekanan.
2. Sterilisasi panas kering, yakni sterilisasi yang biasa dilakukan dengan oven
pensteril yang dirancang khusus untuk tujuan sterilisasi. Oven dapat
dipanaskan dengan gas atau listrik dan umumnya temperatur diatur secara
otomatis.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 9


3. Sterilisasi dengan penyaringan, yakni sterilisasi yang tergantung pada
penghilangan mikroba secara fisik dengan adsorpsi pada media penyaring
atau dengan mekanispe penyaringan, digunakan untuk sterilisasi larutan
yang tidak tahan panas. Sediaan obat yang disterilkan dengan cara ini,
diharuskan menjalani pengesahan yang ketat dan memonitoring karena efek
produk hasil penyaringan dapat sangat dipengaruhi oleh banyaknya mikroba
dalam larutan yang difiltrasi.
4. Sterilisasi gas, sterilisasi gas dilakukan pada senyawa-senyawa yang tidak
tahan terhadap panas dan uap dimana dapat disterilkan dengan cara
memaparkan gas etilen oksida atau protilen oksida. Gas-gas ini sangat
mudah terbakar bila tercampur dengan udara, tetapi dapat digunakan dengan
aman bila diencerkan dengan gas iner seperti karbondioksida, atau
hidrokarbon terfluorinasi yang tepat sesuai.
5. Sterilisasi dengan radiasi pengionan, yakni teknik-teknik yang disediakan
untuk sterilisasi beberapa jenis sediaan-sediaan farmasi dengan sinar gama
dan sinar-sinar katoda, tetapi penggunaan teknik-teknik ini terbatas karena
memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh-pengaruh radiasi
pada produk-produk dan wadah-wadah.

H. Wadah
Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang tersedia
sekarang ini yang benar - benar tidak reaktif, terutama dengan larutan air. Sifat
fisika dan kimia mempengaruhi kestabilan produk tersebut, tetapi sifat fisika
diberikan pertimbangan utama dalam pemilihan wadah pelindung (Lachman.,
1994).
Wadah terbuat dari berbagai macam bahan, wadah plastik, wadah gelas, dan
wadah dari karet. Wadah plastik, bahan utama dari plastik yang digunakan
untuk wadah adalah polimer termoplastik, unit struktural organik dasar untuk
masing - masing type yang biasa terdapat dalam bidang medis. Sesuai dengan
namanya, polimer termoplastik meleleh pada temperatur yang meningkat.
Wadah plastik digunakan terutama karena bobotnya ringan, tidak dapat pecah,

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 10


serta bila mengandung bahan penambah dalam jumlah kecil, mempunyai
toksisitas dan reaktivitas dengan produk yang rendah. Suatu golongan plastik
baru, poliolefin, patut disebut secara khusus, yang saat ini mendapat perhatian
dalam bidang parenteral adalah polipropilen dan kopolimer polietilen -
polietilen (Lachman., 1994).
Wadah Gelas masih tetap merupakan bahan pilihan untuk wadah produk
yang dapat disuntikkan. Gelas pada dasarnya tersusun dari silkon dioksida
tetrahedron, dimodifikasi secara fisika dan kimia dengan oksida - oksida seperti
oksida natrium, kalium, kalsium, magnesium, alumunium, boron, dan besi.
Gelas yang paling tahan secara kimia hampir seluruhnya tersusun dari silikon
dioksida, tetapi gelas tersebut relatif rapuh dan hanya dapat dilelehkan dan
dicetak pada temperatur tinggi (Lachman., 1994).

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 11


BAB III
METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Praktikum


Tabel III.1. Alat dan Bahan Praktikum Pembuatan Larutan Infus

ALAT BAHAN

Beaker gelas (1000 ml) NaCl


Batang pengaduk Dekstrosa (glukosa)
Corong gelas Norit
Gelas ukur Aqua Pro Injection
Penangas air
Timbangan analitik
Kertas perkamen
Spatula

B. Data Zat Aktif


1. Nama zat aktif
a. NaCl (Natrium Klorida)
b. Glukosa (dekstrosa)
2. Uraian Fisik Obat
a. NaCl (Natrium Klorida)
NaCl (Natrium Klorida) mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak
lebih dari 101,0% NaCl dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Tidak mengandung zat tambahan. Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak
berwarna atau serbuk hablur putih, rasa asin (KemenKes., 2014).
b. Glukosa (Dekstrosa)
Glukosa (Dekstrosa) yaitu suatu gula yang diperoleh dari hidrolisis pati.
Mengandung satu molekul air hidrat atau anhidrat. Pemerian : Hablur
tidak berwarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih; tidak berbau; rasa
manis (KemenKes., 2014).

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 12


c. Norit adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang
sangat besar, norit digunakan untuk menyerap kontaminan. Pemeriannya
: hitam tidak berbau (DepKes., 1995., dan Reynolds., 1982).
3. Kelarutan
a. NaCl (Natrium Klorida)
Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam etanol, air
mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etanol (KemenKes.,
2014).
b. Glukosa (Dekstrosa)
Sangat mudah larut dalam air mendidih; sukar larut dalam etanol.
c. Norit (Arang/Karbon Aktif)
Praktis tidak larut dalam suasana pelarut biasa.
4. Indikasi
a. NaCl (Natrium Klorida) : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh.
b. Glukosa (Dekstrosa) : Sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis.
c. Norit (Arang/Karbon Aktif) : Untuk kelebihan H2O2 dalam Sediaan.
5. Stabilitas dan pH
a. NaCl
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas (Reynolds., 1982).
pH : Antara 4,5 dan 7,0 (KemenKes., 2014).
b. Glukosa (Dekstrosa)
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Dekstrosa stabil dalam keadaan
penyimpanan yang kering dengan pemanasan tinggi, dapat menyebabkan
reduksi pH dan karamelisasi dalam larutan. (Reynolds., 1982).
pH : Antara 3,2 dan 6,5 (KemenKes., 2014).
c. Norit (Arang/Karbon Aktif)
Stabilitas : Stabil ditempat yang tertutup dan kedap udara.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 13


6. Dosis dan cara pemakaian
a. NaCl (Natrium Klorida) : Lebih dari 0,9%. Injeksi intravena 3-5% dalam
100 ml selama satu jam. Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+
dalam p-plasma : 135-145 mEq/L
b. Glukosa (Dekstrosa) : 2,5-11% untuk intravena 0,5-0,8 g/Kg/jam untuk
hipoglikemia 20-50 ml (konsentrasi 50%)
7. Tak tersatukan zat aktif (OTT)
a. NaCl (Natrium Klorida) : Logam Ag, Hg, Fe (KemenKes., 2014).
b. Glukosa (Dekstrosa) : Sianokobalamin, kanamisin, SO4, novabiorin, Na
dan warfarin, eritromisin, vitamin A kompleks (Reynolds., 1982).

C. Perhitungan Isotonis / Isohidri


1. Metode White-Vincent
Rumus :
V = W x E x 111,1

Gambar III.1. Rumus White-Vincent


Sumber : Smith, Blaine Templar (2016)

Keterangan :
V = Volume yang harus digunakan untuk melarutkan zat supaya
isotonis
W = Berat zat dalam gram
E = Ekivalensi NaCl dari bahan obat
111,1 = Volume dari 1 gram NaCl yang isotonis

Perhitungan :
V = W x E x 111,1
V = (0,52 + 8,66) X 3,85 X 111,1
V = 9,18 X 3,85 X 111,1
= 3926, 6073

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 14


Diketahui E NaCl = 0,16
V = W X E x 111,1
V = 8,66 X 0,16 X 111,1
= 153, 94 mL
Karena harus dibuat isotonis maka perlu ditambahkan air sampai 153,94 ml
dan ditambahkan pelarut isotonis sampai 220 ml.
Jadi, 220 ml – 153,94 = 46,06

2. Metode penurunan titik beku


Rumus :
B = 0,52 – (b1 x c) : b2

Gambar III.2. Rumus Penurunan Titik Beku


Sumber : Anonim (2016)
Keterangan :
B = Bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100 mL akhir
supaya didapatkan larutan isotonis
b1 = Penurunan titik beku air yang disebabkan oleh 1 % zat
berkhasiat
b2 = Penurunan titik beku air yang disebabkan oleh penambahan 1 %
zat tambahan
c = Kadar zat berkhasiat dalam % b/v

Perhitungan :
NaCl : penurunan titik beku 0,576
Glukosa : penurunan titik beku 0,091
Kadar NaCl = 0,52 / 200 mL = 2,6 X 10-3 = 0,0026 %
Glukosa = 8,6625 / 200 mL = 4,33 %
0,52−(𝑏1 𝑥 𝑐 )
B =
𝑏2
0,52−(0,0026 𝑥 0,576 )+(8,6625 𝑥 0,091)
=
0.576
0,52−1,4976+0,39403
=
0.576

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 15


0,1275
=
0.576
= 0,2214 gram

3. Metode Kryoskopi
Rumus :
d = u x k x g (1000 / M x 1)

Gambar III.3. Rumus Perhitungan Isotonis / Isohidri dengan Metode Kryoskopi


Sumber : Anonim (2016)

Keterangan :
d = Penurunan titik beku yang disebabkan penambahan zat berkhasiat
u = Jumlah ion
k = Konstanta kryoskopi (1,86)
g = Gram zat yang terlarut
M = BM zat terlarut
1 = Berat larutan

Perhitungan :
Diketahui : NaCl = 58,44 g/mol
Glukosa = 180,18 g/mol
Jawab : BM glukosa – BM air = 180,18 – 36 = 144,18
Berat air – berat NaCl = 200 mL – 8,6625 = 191, 3375 gram
Berat glukosa bebas air = 144,18 / 180,18 x 8,6625
= 6,9317 gram
d= u x k x g (1000/ M x 1 )
d = 1 x 1,86 x 6,9317 (1000/ 144,18 X 191,3375)
d = 12,893 (1000 / 144,18 X 191,3375)
d = 12,893 (1000/ 27587,0407)
d = 12,893 x 0,0362 = 0,4667 gram
Penurunan titik beku darah 0,52. Jadi yang belum isotonis adalah :
0,52 – 0,4667 = 0,0533

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 16


D. Perhitungan dan Penimbangan Bahan
Cl- ∑mEq
Na+ 38,5 38,5
mEq 38,5
NaCl = 38,5 mEq = 1 gram NaCl = 17,1 mEq

38,5
X 1 gram = 2,2515 g/l
17,1
200 mL + 10 % = 220 ml

220
1. NaCl = X 2,2515 = 0,4953 + 5% = 0,52 g / 220 ml
1000
220
2. Glukosa = X 37,5 gram = 8,25 + 5 % = 8,6625 g/220 ml
1000
3. Norit = 220 X 0,1 % = 0,22 gram

Penimbangan Bahan :
1. NaCl = 0,52 gram
2. Glukosa = 8,6625 gram
3. Norit = 0,22 gram
4. Aqua Pro Injection = 220 mL

E. Cara Kerja Pembuatan Larutan Infus


1. Pembuatan larutan infus umumnya sama dengan pembuatan larutan injeksi.
Obat dilarutkan dalam aquadest, dimasukkan dalam beaker gelas 1000 ml.
2. Kedalam larutan ini ditambahkan karbon aktif sebanyak 0,1 % cukupkan
volumenya, ditutup dengan perkamen (ikat dengan tali).
3. Panaskan larutan ini diatas nyala api spiritus pada suhu 60-70 oC selama 15
menit sambal diaduk-aduk dengan batang pengaduk.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 17


4. Larutan disaring langsung kedalam botol infus yang akan diserahkan
(terlebih dahulu di sterilkan), menggunakan kertas saring rangkap dua.
Pengerjaan ini dilakukan di lemari aseptis.
5. Kemudian di sterilkan dengan autoclave.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 18


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan
Dalam praktikum kali ini, praktikan membuat larutan infus gula. Larutan
infus gula dibuat dengan mencampurkan tiga bahan yaitu natrium klorida
(NaCl), glukosa (dekstrosa) dan norit (arang serap). Didapatkan hasil
percobaan sebagai berikut :
Tabel IV.1. Hasil Uji Terhadap Sediaan Parenteral

No Evaluasi Sediaan Hasil

1 Uji pH Netral
2 Uji kejernihan dan warna Jernih tanpa partikulat
3 Uji Kebocoran Tidak bocor

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan pembuatan sediaan steril berupa
sediaan infus dengan bahan aktif berupa glukosa yang dibuat dengan sterilisasi
akhir. Tujuan suatu sediaan dibuat steril, karena berhubungan langsung dengan
darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap
zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan
dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini
tidak berlaku relative steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu
steril dan tidak steril. Dan infus merupakan sediaan yang perlu di sterilkan dan
harus bebas dari mikroorganisme hidup maupun pirogen. Sifat glukosa yang
stabil pada pH 3,5- 6,5 dan tahan terhadap pemanasan merupakan alasan
digunakannya metode sterilisasi akhir dalam pembuatan infus glukosa.
Sehingga semua peralatan yang akan digunakan juga harus disterilkan terlebih
dahulu sebelum digunakan. Karena cairan infus digunakan secara intravena,
maka sediaan infus harus isotonis, isohidri, bebas dari kuman dan pirogen,
semua bahan tersatukan tanpa terjadi reaksi dan bebas partikel melayang. Oleh

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 19


karena itu, perlu ditambahkan NaCl 0,9 % sebagai agen tonisitas dan carbon
aktif 0,1 % untuk membebaskan sediaan dari pirogen,untuk mencegah demam
dan untuk menyerap cemaran.
Pembuatan larutan infus harus dilakukan secara steril, setelah pembuatan
larutan infus selesai dibuat, yang selanjutnya dilakukan adalah evaluasi sediaan
larutan infus yang meliputi uji pH, uji kerjernihan dan warna serta uji
kebocoran.
Setelah dilkukan uji pH menggunakan kertas lakmus, pada lakmus merah
tidak menunjukan perubahan warna dan pada lakmus biru juga tidak
menunjukan perubahan warna. Ini menunjukan bahwa pH sediaan infus kami
adalah 7 (netral), artinya sediaan kami tidak sesuai dengan standar yang telah
ditentukan pada FI edisi 3 yaitu 3,5-5,5. Hal ini mungkin disebabkan karena
human error (penimbangan glokosa terlalu berlebih).
Selanjutnya dilakukan uji kejernihan dan warna, dengan cara pengamatan
visual secara langsung hasilnya adalah sediaan kami jernih dan tidak tampak
warna apapun artinya tidak ada zat pengotor dan bebas partikel melayang.
Evaluasi terakhir yang dilakukan yaitu evaluasi kebocoran. Larutan yang
telah di masukkan kedalam botol kemudian dilakukan uji kebocoran yang
dilakukan dengan cara menyiapkan larutan gantian violet dalam beaker glass
kemudian sediaan tersebut dimasukkan kedalam larutan gantian violet tersebut
dengan cara di balikkan, yaitu posisi tutup botol di bawah. Setelah dilakukan
uji kebocoran ternyata larutan infus dalam botol tidak bocor yang ditandai
dengan larutan infus dalam botol tidak mengalami perubahan warna. Ketidak
bocoran kemasan yang digunakan ini akan meminimalisir terjadinnya
kontaminasi.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 20


BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Praktikum pembuatan larutan infus glukosa dibuat dengan menggunakan
natrium klorida (NaCl) dan glukosa (dekstrosa) sebagai zat aktif dan norit
sebagai zat tambahan. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, pada
evaluasi sediaan dengan uji pH diperoleh hasil netral. Ini menunjukkan bahwa
adanya ketidaksesuaian dengan yang tercantum pada Farmakope Indonesia
edisi III yaitu infus glukosa pHnya berkisar 3,5-5,5. Hal ini, bisa disebabkan
oleh kesalahan individu (human error) ketika melakukan penimbangan bahan.
Namun, untuk evaluasi sediaan uji kejernihan dan warna diperoleh larutan
infus glukosa yang jernih dan bebas partikulat. Ini berarti bahwa larutan yang
dibuat sudah memenuhi syarat yang berlaku untuk pembuatan sediaan
parenteral. Pada evaluasi sediaan uji kebocoran-pun sudah memenuhi syarat
yang berlaku untuk sediaan parenteral karena larutan infus glukosa yang
ditempatkan pada botol kaca tidak bocor ketika botol dibalik dan dimasukkan
kedalam larutan yang berisi gentian violet.

B. Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada kekurangan dan kritik yang ingin disampaikan kepada
kami, kami akan sangat mnghargai itu dan kami akan menerima untuk
memperbaiki makalah-makalah kami yang selanjutnya, Terimakasih.

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 21


DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh., 2008. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Press

Anonim., 2016. Penuntun Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Steril.


Tangerang : STF Muhammadiyah Tangerang

Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi ke 4. Jakarta :


Penerbit Universitas Indonesia

Brunner and Suddarth., 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa
: Agung Waluyo, dkk, Edisi 8. Jakarta : EGC

DepKes., 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan


Republik Indonesia

DepKes., 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan


Republik Indonesia

Hadioetomo, R. S., 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta : PT.


Gramedia

KemenKes., 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia

Lachman, Lieberman, Kanig., 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Jakarta
: Penerbit Universitas Indonesia

Lukas, Syamsuni, H.A., 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC

Potter, P.A, Perry, A.G., 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik, Edisi 4. Volume 2, Alih Bahasa : Renata
Komalasari,dkk. Jakarta : EGC

Priyambodo, B., 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global Pustaka


Utama

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 22


Reynolds, J.E.F (editor)., 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia, Edisi 28.
London : The Pharmaceutical Press

Smith, Blaine Templar., 2016. Remington Education, Physical Pharmacy. London


: The Pharmaceutical Press

Voight, R., 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press

Laporan Hasil Praktikum FTS Steril 23


LAMPIRAN

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

SEDIAAN SOLID
Lampiran Praktikum Larutan Parenteral 1

BROSUR PRODUK

Gambar 1.1. Brosur Produk Lafusa® Bagian Depan Dan Belakang


Lampiran Praktikum Larutan Parenteral 2

LABEL (ETIKET) DAN KEMASAN PRODUK

Gambar 2.1. Lable/Etiket Produk Lafusa® Pada Kemasan Botol Gelas

Gambar 2.2. Kemasan Sekunder (Box Produk) Lafusa®


Lampiran Praktikum Larutan Parenteral 3

DOKUMENTASI PRAKTIKUM

Gambar 3.1. Penuangan Glukosa Gambar 3.2. Penuangan NaCl


Ke Dalam Erlenmeyer Ke Dalam Erlenmeyer

Gambar 3.3. Penambahan WPI Gambar 3.4. Pengadukan Larutan


Ke Dalam Erlenmeyer Glukosa Dan NaCl
`
Gambar 3.5. Penambahan Arang Gambar 3.6. Proses Pemanasan Larutan
Aktif Ke Dalam Larutan Glukosa, NaCl dan Arang Aktif

Gambar 3.7. Proses Sterilisasi Tutup Gambar 3.8. Proses Penyaringan


Botol Larutan Kedalam Botol Steril
Gambar 3.9. Uji pH Pada Larutan Gambar 3.10. Proses Uji Kebocoran
Infus Pada Larutan Infus

Gambar 3.11. Produk Larutan Infus Gambar 3.12. Produk Infus


Yang Telah Lulus Uji Kebocoran LAFUSA® Beserta Kemasan