You are on page 1of 13

KONSEP DAN TEORI BELAJAR

“...it is a mistake to think that the practice of my art has become easy to me. I
assure you, dear friend, no one has given so much care to the study of
composition as I. There is scarcely a famous master in music whose work I have
not frequently and diligently studied” (Wolfgang Amadeus Mozart)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam memaknai konsep maka akan berhubungan dengan teori, sedangkan
teori akan berkaitan dengan sesuatu yang dipandang secara ilmiah. Jika teori
berhubungan dengan konsep maka dalam uraiam konsep dasar belajar akan tertuju
pada landasan ilmiah pembelajaran.
Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang
ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan
kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman (melihat,
mengamati dan memahami sesuatu).
Dapat kita ketahui bahwa indikator belajar ditujukkan dengan perubahan
dalam tingkah laku. Dan untuk memantapkan fondasi pemahaman akan belajar,
tentu kita perlu mengetahui konsep dan teori belajar.
Atas dasar tersebutlah, penulis membuat makalah ini, kiranya kelak akan
menjadi sebuah ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi kita semua,
khususnya pelaku pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, agar pembahahasan dalam paper ini tetap
fokus terhadap pengaruh gaya belajar peserta didik, penulis mengemukakan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1) Apakah konsep definisi dan arti penting dari belajar?


2) Penjelasan tentang teori pokok belajar
3) Sekilas tentang proses dan fase belajar.

C. Tujuan dan Kegunaan

1
1 Tujuannya
1) Unuk mengetahui konsep, pengertian dan arti penting belajar;
2) Untuk mengetahui teori pokok belajar;
3) Untuk mengetahui sekilas tentang proses dan fase belajar;

2. Kegunaan
1) Memberikan masukan terhadap peserta didik, pendidik, dan lembaga
pendidikan dalam mematangkan konsep dan teori pokok belajar demi
tercapai tujuan belajar;
2) Menjadi salah satu sumber bahan bacaan serta rujukan mengenai konsep
belajar.

PEMBAHASAN

1.1 Konsep, Definisi dan Arti Penting Belajar


Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan atau menghafalkan fakta yang tersaji dalam bentuk materi
pelajaran. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar
sebagai pelatihan belaka seperti yang tampak pada pelatihan membaca dan
menulis.
Pertanyaannya ialah “bukankah seseorang harus mendapatkan
kepemahaman dari apa yang ia pelajari?” Memang benar belajar bisa melalui

2
hafalan, atau pelatihan. Tetapi itu semua tidaklah cukup jika peserta didik tidak
memahami hakikat yang ia pelajari atau konsep dari belajar itu sendiri belum
matang.
Konsep atau sebuah gagasan yang bermakna mengenai pengertian atau
kepamahaman suatu objek sangat penting. Sebagai tenaga pendidik tentu penting
untuk memahami tentang konsep belajar dan pembelajaran.
Seperti yang sudah kita ketahui, konsep pendekatan pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran,
yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya
masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada
guru (teacher centered approach).
Pengertian tentang belajar sendiri sudah banyak dikemukakan oleh
berbagai ahli dari berbagai belahan Negara. Berikut detail tentang pengertian
belajar:

 Belajar (Ing: to study) berasal dari kata benda dasar


ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui. Dengan
demikian belajar mempunyai beberapa arti yaitu berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu, berlatih dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang
disebabkan oleh pengalaman.
 Skinner seorang pakar teori belajar dalam buku Educational
Psychology berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi
(penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat
ini diungkapkan dengan pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “…
a proces of progressive behaviour adaptation”. Berdasarkan eksperimennya,
Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal
apabila belajar diberi penguat (reinforcer).
 Hintzman dalam bukunya The Pshycology of Learning and
Memory berpendapat bahwa: “learning is a change in organism due to experience
which can affect the organism’s behaviour”. Jadi dalam pandangan Hintzman,
perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman dapat dikatakan belajar apabila
mempengaruhi organisme. Dalam penjelasan selanjutnya, Hintzman menambahkan
bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan
untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga
berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang

3
bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan
everyday learning yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
 Biggs sendiri mendefinisikan belajar menjadi tiga macam rumusan, yaitu
rumusan kuantitatif, rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Dalam
rumusan-rumusan ini kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi
disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini menjadi kebenaran umum
yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Secara
kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif
dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang
dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa. Secara institusional,
belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap penguasaan siswa atas
materi-materi yang telah mereka pelajari. Ukurannya adalah semakin baik
mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan
siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
 Secara kualitatif, belajar adalah proses memperoleh arti-arti dan
pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling
siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya
pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang
sedang dan akan dialami siswa. Berdasarkan berbagai pendapat para pakar yang telah
diuraikan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Belajar merupakan key term yang paling vital dalam setiap usaha
pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.
Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapatkan tempat yang luas dari
berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan kependidikan, misalnya psikologi
pendidikan.
Di samping itu, peranan penting belajar adalah sebagai bentuk
mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia di tengah persaingan antar
bangsa lainnya yang lebih dulu maju karena belajar.

1.2 Teori Pokok Belajar

Secara pragmatis teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau
kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas
sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.

Tentu jika kita mencari tahu tentang teori belajar, akan muncul begitu
banyak teori belajar menurut berbagai ahli. Tetapi tiga macam yang sangat
menonjol dan merupakan suatu titik ilham yang mendorong para ahli untuk

4
mengembangkan teori baru yang berkaitan dengan belajar. Tiga teori pokok
belajar itu adalah sebagai berikut:

1. Disiplin Mental
Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti
dasar orientasinya adalah filosofis atau spekulatif. Dan teori ini masih
memberikan pengaruhnya terutama pada pelaksaan pengajaran di sekolah-
sekolah. Dalam teori ini menekankan pengembangan kekuatan,
kemampuan serta potensi tertentu dari individu.
Teori lain yang merupakan diferensial dari disiplin mental ialah
Herbartisme. Herbart ialah seorang psikolog asal Jerman yang menyebut
teorinya dengan sebutan Vorstellungen (tanggapan-tanggapan yang
tersimpan dalam kesadaran).
Teori disiplin mental lainnya ialah Naturalis Romantik dari Rosseau.
Menurut Jean Jacgues Rousseau anak memiliki potensi\potensi yang masih
terpendam, melalui belajar, anak harus diberi kesematan mengembangkan
atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak
memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan
mengembangkan dirinya sendiri.

2. Behaviorisme
 Koneksionisme
Teori ini ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-
1949). Menurut aliran ini bahwa belajar terjadi dengan ulangan dan
pembiasaan. Karena itu dalam psikologi ini terkenal dengan sebutan: S-R
Bond Theory, yakni teori stimulus S. setiap stimulus akan menimbulkan
respons atau jawaban tertentu. Ikatan stimulus dan respon ini akan
bertambah kuat apabila sering mendapat latihan-latihan, sehingga terjadi
asosiasi antara stimulus dan respon. Lama kelamaan asosiasi ini
membentuk kebiasaan-kebiasaan yang dapat berjalan secara otomatis. Dari

5
percobaan Thorndike yang menggunakan kucing dan stimulus trial &
error, ia akhirnya menyusun hukum belajar sebagai berikut:
 Hukum-hukum primair yang terdiri dari:
a. Law of readiness, artinya bahwa kesiapan untuk bertindak itu
timbul karena penyesuaian diri dengan alam sekitarnya, yang akan
member kepuasan. Apabila tidak memenuhi kesiapan bertindak, maka
tidak akan member kesiapan
b. Law of exercise, artinya bahwa pengaruh-pengaruh dari latihan.
Maksudnya bahwa suatu hubungan akan menjadi lemah atau hilang
apabila tidak ada latihan.
c. Law of effect, artinya bahwa kelakuan yang diikuti dengan
pengalaman yang memuaskan cenderung ingin diulang lagi, begitu
juga dengan sebaliknya.
 Hukum-hukum secondair, terdiri dari:
a. Law of multiple response, artinya bermacam-macam usaha coba-
coba dalam menghadapi situasi yang kompleks maka salah satu dari
percobaan itu akan berhasil juga. Disebut juga trial and error.
b. Law of assimilation artinya orang dapat menyesuaikan diri pada
situasi baru, asal situasi tersebut ada unsure-unsur yang bersamaan.
c. Law of partial activity artinya seseorang dapat bereaksi secara
selektif terhadap kemungkinan yang ada dalam situasi tertentu.

 Teori Pembiasaan Klasik


Disebut juga dengan teori “conditioned reflex”. Teori ini dipelopori
oleh Ivan Petrovitch Pavlov (1849-1936). Dalam penyelidikannya Pavlov
menggunakan anjing sebagai obyek percobaan. Dari hasil percobaan yang
dilakukan dengan anjing itu Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa
gerakan-gerakan reflex itu dapat dipelajari, dapat berubah karena
mendapat latihan

Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam reflex ,


yaitu reflex yang wajar atau unconditioned reflex yaitu berupa keluar air
liur ketika melihat makanan yang lezat. Dan reflex bersyarat atau

6
conditioned reflex yaitu keluarnya air liur karena menerima/ bereaksi
terhadap warna sinar tertentu atau terhadap bunyi tertentu. unconditioned
reflex itus adalah merupakan hasil instink dan conditioned reflex sebagai
hasil belajar dan bukan instink. Dan dari perconaan yang dilakukan Pavlov
berlaku pula terhadap kelakuan manusia yang mekanis karena latihan yang
dibiasakan. Misalnya seorang murid yang menganggukkan badannya
sewaktu bertemu gurunya di jalan, dan menghormati bendera.
Percobaan lain yang dilakukan oleh Watson adalah tentang
perasaan takut pada anak. Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan
bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah dan dilatih. Anak percobaan
Watson mula-mula tidak takut dengan kelinci dibuat takut dengan kelinci.
Kemudian anak itu dibuat tidak takut lagi dengan kelinci. Penganut teori
ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah
hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau
kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat tertentu yang
dialaminnya di dalam kehidupannya.

 Teori Pembiasaan Perilaku Respon


Teori ini adalah teori yang berusia paling muda dan masih sangat
berpengaruh dikalangan para ahli psikiligi belajar masa kini. Burrhus
Frederic Skinner (1904) adalah pencipta dari teori ini yang dia adalah
seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontaversial. Operant
adalah sejumlah prilaku atau respon yang membawa efek yang sama
terhadap lingkungan yang dekat (Reber, 1988). Tidak seperti dalam
respondent conditioning (yang responsnya didatangkan dari stimulus
tertentu), respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer.
Reinforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja
diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical
respondent conditioning.

7
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor
tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang dikenal dengan “Skinner
Box”. Peti ini terdiri dari dua komponen yakni: reinforcement yang antara
lain berupa wadah makanan dan manipulandum yang artinya adalah
komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannnya berhubungan dengan
reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan
pengungkit.
Eksperimen tersebut mula-mula tikus mengeksplorasi peti sangkar
dengan cara berlari kesana kemari,mencium benda-benda yang di
sekitarnya, mencakar dinding dan sebagainya. Tingkah seperti itu disebut
“emitted behavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang
terpancar dari organisme tanpa memperdulikan stimulus tertentu.
Kemudian p[ada gilirannya, secara kebetulan salah satu emmited behavior
tersebut (sperti cakaran kakidepan atau sentuhan moncong) dapat menekan
pengunkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir
makanan yang muncul pada wadah makanan.
Butir-butir makanan yang muncul itu merupakan reinforcer bagi
penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah disebut tingkahg laku
operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement,
yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah
makanan.
Jelas sekali bahwa eksperimen Skinner di atas mirip sekali dengan
trial dan error learning yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hal ini,
fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan
satisfaction (kepuasaan), sedangkan menurut Skinner, fenomena tersebut
melibatkan reinforcement (penguatan)

3. Cognitive (Kognitif)
Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang
telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi
belajar sains kognitif merupaka himpunan disiplin yang terdiri atas : psikologi
kognitif , ilmu-ilmu computer, linguistic, inteligensi buatan, matematika, dan
epistemology.

8
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses
internal, mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku yang
tampak dapat diukur dan diterangkan tanpa melobatkan proses mental, seperti:
motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya.
Meskipun pendekatan kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan
behavioristic, tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran behaviorisme.
Hanya, menurut para ahli psikilogi kognitif, aliran behaviorisme itu tidak lengkap
sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang
berdimensi ranah cipta seperti berfikir, mempetimbangkan pilihan dalam
mengambil keputusan. Selain ini, aliran behaviorisme juga tidak mau tahu urusan
ranah rasa.
Dalam psikologi kognitif, balajar pada asasnya adalah peritiwa mental,
bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang
bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar
siswa. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis,
misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan
tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena yang dilakukan anak
tersebut bukan semata-mata respons atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih
penting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya.
Teori belajar kognitif ini sebenarnya lebih menekankan pada belajar,
karena belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.
Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu
aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan
pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan
berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu
proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia
sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk
memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah
laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

9
Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih
cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya
tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku.
Salah satu teori yang menjadi turunan dari kognitif ialah Teori Gestalt.
Teori ini berkembang di Jerman dengan pendirinya yang utama adalah Max
Werthaimer. Menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hunungan
anatar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan
mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan dan keharmonisan dari sesuatu.
Teori medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam
suatu medan atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang
ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan.
Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan
Kognitif adalah sebagai berikut :
 Proses atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan
Stimulus, Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif
 Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya
misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa.
Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya
keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri

1.3. Sekilas Proses dan Fase Belajar


Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif,
afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri peserta didik. Perubahan tersebut
bersifat positif dalam arti berorientasi kea rah yang lebih maju daripada keadaan
sebelumnya.
Karena belajar itu merupakan aktifitas berproses tentu terdapat perunahan
bertahap atau yang biasa disebut dengan fase. Menurut Jerome S. Bruner, salah
seorang penentang teori S-R Bond (Barlow, 1985), dalam proses berlajar, siswa
menempuh tiga fase yaitu:
1. Fase Informasi ( tahap penerimaan materi)
Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan
berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan
memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
2. Fase Transformasi (tahap pengubahan materi)

10
Setelah melalui proses penerimaan informasi, maka akan dilakukan
analisi, pengubahan atau transformasi menjadi bentuk abstrak atau
konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal
yang lebih luas. Terkadang peserta didik membutuhkan bimbingan tenaga
pendidik dalam fase transformasi ini.
3. Fase Evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam fase ini peserta didik akan menilai sendiri sampai sejauh mana
informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk
memahami gejala lain atau sebagai sebuah pemecahan masalah yang
dihadapi.
Sementara menurut Wittig dalam bukuny Psychology of Learning, tahaan
belajar mencakup Acquisition (penerimaan informasi), storage (penyimpanan
informasi), dan retrieval (mendapatkan kembali informasi).
Meskipun memiliki istilah yang berbeda, namun kita dapat menarik benar
merah yang sama mengenai skema tahap/fase belajar.

11
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Belajar merupakan key term yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan,
sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.

Di samping itu, peranan penting belajar adalah sebagai bentuk


mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia di tengah persaingan antar
bangsa lainnya yang lebih dulu maju karena belajar

Teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip
yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan
penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar

Teori pokok belajar terdiri dari tiga, yaitu disiplin mental, behaviorisme, dan
kognitif. Dan fase belajar terdiri dari fase informasi, fase transformasi, dan fase
evaluasi. Sementara Wittig menyebutnya dengan Aqcuisition, Storage, dan
Retrieval.

2. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, terdapat beberapa saran sebagai berikut:

1. Untuk pendidik sebaiknya lebih memahami arti penting dan teori pokok
dari belajar, agar ada pendidik dapat mendampingi serta mebimbing secara
efektif.
2. Tenaga pendidik hendaknya dapat memantau serta membimbing peserta
didik selama fase belajar.
3. Diharapkan dengan tenaga pendidik memiliki kepemahaman yang baik
mengenai konsep dan teori belaja, maka akan semakin mempermudah
peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.


2003
2. Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
2006
3. Jurnal Konsep Dasar Pembelajaran, Dr. Deni Darmawan, M.Pd
4. https://andi1988.wordpress.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2/

5. https://ml.scribd.com/doc/45156411/teori-dlm-belajar

13