You are on page 1of 12

BAB.

1 PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan gejala semesta (fenomena universal) dan berlangsung sepanjang


hayat manusia dimanapun berada. Dimana ada kehidupan manusia, di situ pasti ada pendidikan
(Driyarkara, 1980:32). Pendidikan bermaksud membantu manusia untuk menumbuh
kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Oleh karena keberadaan manusia yang tidak dapat
terlepas dari lingkungannya maka berlangsungnya proses pendidikan itu selamanya akan
berkaitan erat dengan lingkungan dan akan saling mempengaruhi secara timbal balik.

Di dalam pendidikan terdapat komponen-komponen pendidikan yang satu sama lainnya


saling berkaitan. Ada komponen sentral dan beberapa komponen pendukung. Tiga komponen
sentral pendidikan tersebut adalah pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan. Maka, untuk
menyatukan antar komponen tersebut diperlukan sebuah sistem. Karena seperti yang dikatakan
Notonagoro (1973) sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan. Jika upaya
pendidikan hendak dilaksanakan secara teratur, keberadaan sebuah sistem sangat penting untuk
mengintegrasikan antar komponen supaya dapat membuahkan hasil yang optimal.

1
BAB. 2 PEMBAHASAN

A. SISTEM

Ada beberapa orang berpendapat tentang sebuah sistem bahwa jangan hanya terpaku
pada sistem karena sistem ini hanya akan menjadikan manusia sebagai robot atau orang yang
terikat tidak ada kebebasan. Pendapat ini tentu saja salah, dikarenakan tanpa adanya bantuan
sistem kehidupan seorang manusia tidak akan terarah dan menjadikan manusia tidak terintegrasi
dengan masyarakat. Untuk itulah sebagai manusia yang bermasyarakat dan bernegara maka
sangat penting dalam mempelajari tentang bagaimana itu system sebenarnya.

Pengertian Sistem

1. Menurut Roger A. Kaufman (1972: 1) sistem adalah jumlah keseluruhan dari bagian-
bagian yang bekerja secara independen dan bekerja bersama untuk mencapai hasil-
hasil yang dikehendaki berdasarkan atas kebutuhan-kebutuhan.
2. Menurut Notonagoro (1973) sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan, kebulatan,
kesatuan.
3. Menurut Webster’s Third New International Dictionary (1976: 2322) sistem adalah
 Suatu kesatuan kompleks yang dibentukdari berbagai bagian yang tunduk pada
rencana umum atau mengabdi suatu tujuan umum.
 Sekumpulan objek yang bekerja sama dalam interaksi yang teratur atau
interdependensi.

Kesimpulannya:

Sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan, kebulatan, kesatuan dari komponen-


komponen yang saling berinteraksi dan interdependensi dalam mencapai tujuan.

Berikut ini kandungan hal-hal yang ada dalam suatu sistem:

 Adanya suatu kesatuan organis.


 Adanya komponen-komponen yang membentuk kesatuan organis.
2
 Adanya hubungan keterkaitan antara komponen satu dengan komponen yang
lainnya maupun antara komponen dengan keseluruhan.
 Adanya gerak dan dinamika.
 Adanya tujuan yang ingin dicapai.

Sistem merupakan suatu hal yang aktif, bergerak, dan menuju ke arah atau produk
tertentu. Sistem tersebut merupakan gerak aktualisasi dari konsep dasar dan cita-cita
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Suatu sistem pendidikan akan selalu bersifat
dinamis kontekstual dan untuk itu suatu pendidikan haruslah terbuka terhadap tuntutan
kualitas dan relevansi. Sistem pendidikan nasional sebagai bagian dari sistem nasional
kita yaitu sistem kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

B. KOMPONEN-KOMPONEN UPAYA PENDIDIKAN

Dwi Siswoyo (Dirto Hadisusanto,


SuryatiSidharto, dan Dwi Siswoyo, 1995)
menegaskan bahwa proses pendidkan terjadi
apabila ada interaksi antar komponen
pendidikan yang terjalin secara sistematik.
Komponen pendidikan itu adalah tujuan
pendidikan, pendidik, peserta didik, isi atau
materi pendidikan, alat dan metode serta lingkungan pendidikan. Namun paling tidak dalam
proses pendidikan yang terjadi dalam keseharian, ada tiga komponensentral yang saling
berinteraksi yaitu tujuan pendidikan, pendidik, dan peserta didik.

Berikut ini penjelasan mengenai komponen-komponen upaya pendidikan :

1. Tujuan Pendidikan.

Tujuan Pendidikan Nasional dalam UU Sisdiknas: Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan
dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan,
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak

3
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.”

Tujuan umum menyiratkan hal-hal umum yang hendaknya dicapai, sedangkan


tujuan khusus secara jelas mengemukakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh pendidik
untuk secara nyata dikuasai oleh peserta didik. Tujuan khusus ini menyatakan kepada
peserta didik:

 Penampilan apa yang diharapkan darinya.


 Sampai sejauh mana penampilan itu harus dikuasai sebagai penampilan yang
memenuhi syarat.
 Dalam kondisi yang bagaimana penampilan yang memenuhi syarat itu harus
ditampilkan.
2. Pendidik.

Dalam Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Dalam
undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Tenaga kependidikan adalah anggota
masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan
pendidikan. Sementara Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, konselor, pamongbelajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususnya, serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan pendidikan. Pendidik meliputi: usia pendidikan, tingkat
pendidikannya, kualitas pengalamannya, kehadirannya (langsung/tidak langsung),
kemampuannya, minat-minatnya, wataknya, statusnya, wibawanya, dan komitmennya
terhadap tugas dan kewajibannya.

3. Peserta didik.
Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri lewat proses pendidikan.

4
Peserta didik merupakan sosok yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa
tumbuh dan berkembang kearah kedewasaan. Peserta didik dapat meliputi: jumlah
peserta didik, tingkat perkembangannya, pembawaannya, tingkat kesiapannya, minat-
minatnya, motivasinya, dan cita-citanya.

4. Isi atau Materi Pendidikan.

Materi pembelajaran atau materi ajar (instructional materials) adalah pengetahuan, Sikap
dan keterampilan yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar
kompetensi yang telah ditentukan. Materi pelajaran diartikan pula sebagai bahan
pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran.

5. Alat dan Metode Pendidikan.

Metode Pendidikan: Cara-cara yang dipergunakan orang untuk membantu dan


membimbing anak dalam pertumbuhan jiwa dan seluruh pribadi.

6. Lingkungan Pendidikan.

Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses
pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alatpermainan, buku-buku, alat peraga, dll)
dinamakan lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu:

a. Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama karena


manusia pertama kalinya memperoleh pendidikan di lingkungan ini sebelum mengenal
lingkungan yang lain. Selain itu manusia mengalami proses pendidikan sejak lahir
bahkan sejak dalam kandungan. Pendidikan keluarga dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1. Pendidikan Prenatal (pendidikan dalam kandungan)


2. Pendidikan Postnatal (pendidikan setelah lahir)
5
Dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan meliputi:

1. Motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orangtua dengan anaknya.


2. Motivasi kewajiban moral orangtua terhadap anak.
3. Tanggung jawab social sebagai bagian dari keluarga.

b. Lingkungan Sekolah

Karena perkembangan peradaban manusia, orang tidak mampu lagi untuk


mendidik anaknya. Pada masyarakat yang semakin komplek, anak perlu persiapan
khusus untuk mencapai masa dewasa. Persiapan ini perlu waktu, tempat dan proses yang
khusus. Dengan demikian orang perlu lembaga tertentu untuk menggantikan sebagian
fungsinya sebagai pendidik. Lembaga ini disebut sekolah. Dasar tanggung jawab sekolah
akan pendidikan meliputi:

1. Tanggungjawab formal kelembagaan


2. Tanggungjawab keilmuan
3. Tanggungjawab fungsional

c. Lingkungan masyarakat

Ada 5 pranatasosial (social institutions) yang terdapat di dalam lingkungan sosialyaitu:

 Pranata pendidikan, bertugas dalam upaya sosialisasi.


 Pranata ekonomi, bertugas mengatur upaya pemenuhan kemakmuran.
 Pranata politik, bertugas menciptakan integritas dan stabilitas masyarakat.
 Pranata teknologi, bertugas menciptakan teknik untuk mempermudah manusia.
 Pranata moral dan etika, bertugas mengurusi nilai dan penyikapan dalam
pergaulan masyarakat.

6
C. SALING HUBUNGAN ANTAR KOMPONEN

Proses pendidikan terjadi apabila antar komponen pendidikan yang ada di dalam upaya
pendidikan itu saling berhubungan secara fungsional dalam suatu kesatuan yang terpadu. Ibarat
sebuah mobil akan dapat berjalan dengan baik apabila komponen mobil itu sendiri, dan sopir
jalan sebagai tempat bergerak, dalam
kondisi baik, dan masing-masing
berperan secara fungsional, yang
mendukung mobil itu dapat berjalan
dengan baik.

Peserta didik, pendidik dan


tujuan pendidikan merupan komponen
sentral dalam pendidikan. Dalam suatu
proses pendidikan, pendidik (dan juga
peserta didik) memiliki tujuan pendidikan tertentu yang hendaknya dicapai untuk kepentingan
peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini disamping ada berbagai sumber yang dapat
dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik untuk memperkaya isi pendidikan, pendidik juga
menggunakan metode dan alat pendidikan, yang semuanya menunjang pencapaian tujuan
pendidikan yang dimaksud.

D. TUJUAN YANG DICAPAI DARI SISTEM PENDIDIKAN

Sistem pendidikan memiliki komponen yang saling berhubungan dan system tersebut
dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam bidang pendidikan. Dalam pencapaian
tujuan system pendidikan dilaksanakan secara efektif dan efisien. Selain itu juga, komponen
harus disusun dan difungsionalkan suatu system penyelenggaraan pendidikan yang baik.
Komponennya dalam system perludi kenali, dipahami dan dikembangkan secara seksama,
sehingga pencapaian tujuan dapat maksimalkan. Apabila komponen telah dikenali dan dipahami
maka akan dengan mudah ditemukan kelemahan-kelemahan di dalam sistem sehingga dapat di
lakukan perbaikan supaya penyelenggaran sistem pendidikan dapat terselenggara dengan baik
dan efektif.
7
Tujuan yang dimaksud adalah sasaran kemana. Sasaran yang ingin dicapai melalui
pendidikan, dimaknakan sebagai suatu system nilai yang disepakati kebenaran dan
kepentingannya yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan.

Tujuan Pendidikan Nasiona ldalam UU Sisdiknas: Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan
dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

E. KOMPONEN POKOK DALAM SISTEM PENDIDIKAN

8
INTERAKSI ANTARA SUATU SISTEM PENDIDIKAN DAN LINGKUNGANNYA

F. TANTANGAN SISTEM PENDIDIKAN

Setiap bangsa atau masyarakat yang ingin mempertahankan serta mengembangkan


eksistensinya hendaknya senantiasa berupaya untuk menjadikan sistem pendidikan yang
dimilikinya lebih dinamis dan lebih responsif terhadap perubahan-perubahan serta
kecenderungan-kecenderungan yang sedang berlangsung. Seiring dengan perkembangan zaman
pemikiran, tingkah laku, dan peradaban manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Dalam perubahan tersebut tentunya dalam setiap aspek sistem mengalami suatu kendala dan
tantangan untuk menjadi sistem yang terbaharui. Begitu pula dengan sistem pendidikan,
komponen-komponennya mengalami perubahan dan ter-upgrade sehingga hal tersebut yang
menjadikan sebagai tantangan dalam sistem pendidikan.

Hal ini berarti, dalam zaman kita sedang berubah dengan cepatnya ini, sistem pendidikan
kita dituntut untuk memiliki tiga kemampuan (Moechtar Buchori, 1994:44) yaitu :

9
1. kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dan
kecenderungan yang sedang berjalan.
2. Kemampuan untuk menyusun gambar tentang dampak yang akan
ditimbulkan oleh kecenderungan-kecendurungan yang sedang berjalan
tadi.
3. Kemampuan untuk menyusun progam-progam penyesuaian diri yang
akan ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu.

Kegagalan untuk mengembangkan ketiga jenis kemampuan jenis diatas akan


mengakibatkan terperangkapnya suatu sistem pendidikan dalam rutinisme, suatu sistem
pendidikan akan menjadi beku. Ini akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi diri
bangsa itu sendiri, terutama generasi mudanya sebagai penerus perjuangan dan kemajuan
bangsa.

10
BAB 3. PENUTUP

KESIMPULAN

Sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan, kebulatan, kesatuan dari


komponen-komponen yang saling berinteraksi dan interdependensi dalam mencapai
tujuan. Pendidikan memiliki komponen-komponen yang memiliki satu kesatuan yang
organis dan berjalan seperti sebuah sistem. Antara komponen satu dengan komponen
yang lainnya memiliki suatu hubungan dan keterkaitan. Sistem berjalan untuk
mendapatkan sebuah tujuan yang akan dicapai nantinya. Dalam sistem pendidikan di
Indonesia berjalan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang ada pada UU No.
20 tahun 2003.

Seiring berjalanya waktu system juga dapat mendapat tantangan yang akan
terus berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban dari manusia itu sendiri.
Pentingnya mempelajari sistem pendidikan ini adalah karena meskipun jika
diibaratkan sebuah benda sistem pendidikan merupakan skrup kecil yang menopang
sistem-sistem lainnya. Tapi apabila sistem pendidikan tidak berjalan dengan baik
maka akan mempengaruhi sistem yang lainnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Siswoyo, dwi, dkk. 2013. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY PERS.

Rohman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:


Laksbang Mediatama.

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2288410-pengertian-materi-
pelajaran/#ixzz2vFakA5RC

12