You are on page 1of 10

TUGAS INDIVIDU STASE KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

INTERPRETASI AGD PADA Tn. R DENGAN STROKE NON HEMORAGIK


DI RUANG ICU Dr. TJITROWARDOJO
KABUPATEN PURWOREJO

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Stase Keperawatan GADAR


Dosen Pengampu : Mahfud, S.Kep., MMR

Di Susun Oleh :

Juli Budiarti, S.Kep


( 160 300 345 )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ALMA ATA
YOGYAKARTA
2017-2018

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 1


HALAMAN PENGESAHAN

TUGAS INDIVIDU STASE KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


INTERPRETASI AGD PADA Tn. R DENGAN STROKE NON HEMORAGIK
DI RUANG ICU Dr. TJITROWARDOJO
KABUPATEN PURWOREJO

Diajukan Oleh :
Juli Budiarti, S.Kep
( 160 300 345 )

Telah Disetujui Oleh :

Preceptor

Ruwiyah, S.Kep.Ns Tanggal : Januari 2018

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 2


FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ALMA ATA
PROGRAM STUDI NERS
Jl. Ringroad Barat Daya No.1, Tamantirto, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Tlp. (0274) 434 2288, 434 2277. Fax (0274) 4342269. Web:www.almaata.ac.id

FORMAT INTERPRETASI ANALISA GAS DARAH (AGD)

A. Pengumpulan Data

Identitas Klien :
Nama : Tn. R
No.RM : 374xxx
Umur : 72 tahun
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Cintungan01/01 Purworejo
Tanggal Masuk : 15/09/2016
Hari/Tgl/Jam : Jum’at 16/09/2016, Jam 15.00 WIB
Keadaan Umum Klien :
Keadaan umum: lemah, GCS:3 (E4,V5,M6), tingkat kesadaran: Composmentis,
sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal, memakai otot bantu pernapasan,
terpasang NGT, terpasang O2 NRM 10 lpm, terpasang DC (ukuran 18 cm), Infus RL
20 tpm, TD: 100/90 mmHg, N: 120 x/mnt S: 37 oC RR: 30 x/mnt.
Diagnosa Medis Klien :

Hasil Pemeriksaan AGD :


- pH 7,33 (7,35-7,45)
- PCO2 22 (35- 48 mmHg)
- HCO3- 11,6 (18 -23 mEq/L)

Hasil Interpretasi AGD :


pH : Turun ( asidosis )
PaCO2 : Turun
HCO3 : Turun
Asidosis metabolik terkompensasi sebagian
Asisosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan dengan ditandai
rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui
sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan
menurunnya ph darah, pernapasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai
usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara
menurunkan jumlah karbondioksida. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkatkan
jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam.
Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 3


Contohnya adalah methanol (alcohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).
Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.Tubuh dapat
menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme. Tubuh dapat
menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit;
salah satu diantaranya adalah diabetes mellitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali
dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut
keton. Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana
asam laktat dibentuk dari metabolisme gula.

B. Pembahasan
1. Hubungan Hasil Interpretasi AGD dengan Penyakit
Gangguan keseimbangan asam basa terjadi bila mekanisme homeostasis tubuh
tidak dapat mempertahankan pH dalam batas normal. Bila nilai pH darah arteri di
bawah normal disebut asidemia dan diatas normal disebut alkalemia. Proses
terjadinya asidemia disebut asidosis dan proses terjadinya alkalemia disebut
alkalosis. Yang berfungsi menjaga agar nilai pH tetap konstan adalah sistem dapar
plasma. Sistem ini dapat menghalangi gangguan keseimbangan asam basa yang
berlangsung dalam waktu singkat .Bila sistem dapar atau keseimbangan asam
basa terganggu, misalnya pada penyakit ginjal atau pada gangguan frekuensi
pernafasan melalui hipoventilasi atau hiperventilasi, maka akan terjadi pergeseran
nilai pH dalam plasma. Penurunan pH lebih dari 0.03 unit (pH normal 7,4) dikenal
sebagai asidosis. Berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbalch dari sistem
dapar bikarbonat, gangguan keseimbangan asam basa dapat terjadi pada
perubahan konsentrasi [HCO3-] dan [H2CO3]-PCO2. Bila gangguan utama pada
[HC03-] disebut metabolik sedangkan gangguan PCO2 disebut respiratorik. Oleh
karena itu ada empat gangguan keseimbangan asam basa utama, yaitu asidosis
metabolik, asidosis respiratorik, alkalosis metabolik, dan alkalosis respiratorik. Di
samping ke empat kelainan pokok tersebut terdapat pula kelainan campuran
dengan masing-masing kombinasinya (Siregar, 2007).
Asidosis metabolik disebabkan antara lain oleh produksi asam yang terlalu
banyak, berkurangnya ekskresi asam, atau hilangnya alkali tubuh. Pada analisa
gas darah menunjukan pH kurang dari 7,35 dan serum bikarbonat (HCO3-) kurang
dari 18 mRq/L. Tanda dan gejala asidosis metabolik tidaklah spesifik dan
Gawat Darurat Interpretasi AGD | 4
diagnosisnya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Keterlambatan dalam
diagnosis asidosis metabolik akan meningkatkan mortalitas dan
mordibitas.5 Asidosis metabolik juga merupakan kompensasi terhadap
peningkatan pCO2dalam darah. Penyebab lainnya termasuk akumulasi keton dan
asam laktat, gagal ginjal, konsumsi obat atau racun. Walaupun gejala dan tanda
asidosis tidak spesifik, namun umumnya berupa mual dan muntah, lethargi, serta
takipneu (Lewis, 2008).
Asidosis metabolik paling banyak dijumpai di klinik, dimana kadar garam
B+HCO3- pada keseimbangan Henderson-Hasselbalch menurun. Penurunan
timbul, karena garam B+ HCO3- dipergunakan untuk menanggulangi kelebihan
asam-asam organik produk metabolisme jaringan tubuh misalnya asam laktat,
asam piruvat, asam asetoasetat, beta-OH butirat. Reaksi: B+HCO3- - + H+ B+ +
H2C03 Disampingnya kandungan garam bikarbonat berkurang, kandungan asam
karbonat juga meningkat. Diperlukan ketiga sistem kompensasi tubuh. Sistem
dapar H2CO3 melepaskan H+ ke sistem dapar lainnya dan diharapkan kandungan
garam bikarbonat lebih ditingkatkan. Sistem respirasi H2CO3 meningkat, berarti
peningkatan pCO2, akibatnya pusat pernafasan di hipotalamus dirangsang, maka
terjadi hiperventilasi, diharapkan membantu penurunan kadar asain karbonat.
Diagnosa medis pada Tn. R adalah Stroke Non Hemoragik Stroke
hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak
pecah sehinggat i m b u l i s k h e m i k d a n h i p o k s i a d i h i l i r . P e n y e b a b
stroke hemoragi antara lain : h i p e r t e n s i , pecahnya aneurisma,
malformasi arteri, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun. Sesuai dengan hasil analisis gas darah pada Tn.R didapatkan
hasil yaitu metabolisme sel menghasilkan karbon dioksida (CO2). Oleh suatu
proses intraseluler yang reversible, CO2 bergabung dengan air membentuk asam
arang (H2CO3-). Asam karbon dapat terurai menjadi ion – ion hydrogen dan ion –
ion HCO3- secara reversible. Acidemiamerupakan tahap dimana terjadi
peningkatan konsentrasi H+ dan diukur dalam unit pH. Sel memiliki rentang
perubahan pH yang sempit untuk berfungsi secara optimal. Terdapat dua

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 5


mekanisme utama bagi sel untuk mempertahankan konsentrasi H+ yang konstan.
Sistem penyangga dari CO2 – HCO3-berperan penting.
Respon utama terhadap asidosis metabolik adalah peningkatan ventilasi,
hasilnya berupa peningkatan ekskresi CO2 melalui proses difusi di paru. Namun
hal ini mengakibatkan pH darah menurun. Selain itu kelebihan H+ dapat
dikeluarkan melalui konversi ke CO2. Formula untuk sistem penyangga yaitu H+ +
HCO3- ßà H2CO3- ßà CO2+ H2O. Mekanisme kedua untuk mempertahankan pH
adalah dua respon bertahap dari ginjal. Pertama, ion H+ diekskresikan dalam
tubulus proksimal, dimana ion H+ tersebut bergabung dengan HCO3- untuk
membentuk asam arang (H2CO3-). Pada perbatasan tubular sel, asam arang diubah
menjadi CO2 dan Air, lalu diabsorsi kembali. Kedua, Bikarbonat dapat dibentuk
kembali melalui proses reverse dari sistem penyangga di paru (CO2 +
H2O ßàH2CO3 ßà H+ + HCO3-). Oleh karena itu asidosis metabilok dapat terjadi
ketika kedua respon kompensasi ini gagal atau tidak berjalan.
Asidosis metabolik biasanya asimtomatik, namun jika gejalanya muncul
biasanya tidak spesifik dan dapat berupa fatigue, anoreksia, bingung, takikardi,
takipneu, dan dehidrasi. Manifestasi lainnya tergantung penyebabnya. Efek dari
memburuknya asidosis metabolik dapat mengancam kehidupan. Peningkatan
keasaman dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pulmonary sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan vaskuler paru. Keadaan ini jika
terus berlangsung dapat menyebabkan terjadinya gagal ventrikel kanan. Pada saat
pH arteri kurang dari 7,2 umumnya sering terjadi depresi miokard.

2. Penentuan Terapi yang Sesuai dengan Interpretasi AGD


Pada pasien dengan stroke hemoragik obat yang aman tanpa efek kolinergik
sistemik signifikan dan merupakan obat yang bisa ditoleransi. Karakteristik farmakologis
dan mekanisme aksi sitikoline menunjukkan bahwa obat ini dapat diindikasikan untuk
pengobatan penyakit pembuluh darah cerebral, cedera kepala dari berbagai tingkat
keparahan, dan gangguan kognitif dengan penyebab yang berbeda-beda. Sitikoline telah
dipelajari secara ekstensif dalam uji klinis pada sukarelawan dan lebih dari 11.000 pasien

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 6


dengan berbagai gangguan neurologis, termasuk SNH. Dalam semua studi ini, Sitikoline
memiliki efek samping minimal yang sama dengan plasebo.

3. Kesimpulan
Asidosis metabolik adalah. Pada Tn. R dengan SNH terjadi penurunan pH.
Terdapat dua mekanisme utama bagi sel untuk mempertahankan konsentrasi
H+ yang konstan. Sistem penyangga dari CO2 – HCO3- berperan penting. Respon
utama terhadap asidosis metabolik adalah peningkatan ventilasi, hasilnya berupa
peningkatan ekskresi CO2 melalui proses difusi di paru. Namun hal ini
mengakibatkan pH darah menurun. Selain itu kelebihan H+ dapat dikeluarkan
melalui konversi ke CO2. Formula untuk sistem penyangga yaitu H+ + HCO3-
ßà H2CO3- ßà CO2 + H2O. Mekanisme kedua untuk mempertahankan pH adalah
dua respon bertahap dari ginjal. pH arteri kurang dari 7,2 dapat menyebabkan
umumnya sering terjadi depresi miokard. Pada otot pembuluh darah arteri,
penurunan pH dapat memicu terjadinya vasodilatasi sistemik yang kemudian
menyebabkan terjadinya hipotensi dan kegagalan sirkulasi. Pengobatan asidosis
metabolik yang tidak dikompensasi terfokus pada memperbaiki masalah yang
mendasarinya. Bila asidosis metabolik berat dan tidak dapat lagi dikompensasi
memadai oleh paru-paru, menetralkan asidosis dengan infus bikarbonat mungkin
diperlukan. Dimana hal tersebut terjadi karena frekuensi pernafasan Tn, R 30x/m
yang berarti melebihi batas normal (<24x/m), nadi 120x/m, tekanan darah 100/90
mmHg. Penatalaksanaan pada Tn. R bisa menggunakan citicoline.
Salah satu tindakan untuk mencegah kerusakan sel otak akibat iskemik
selain memperbaiki sirkulasi ke daerah yang infark juga bisa dengan menjaga
keutuhan dan memperbaiki komponen membran sel itu sendiri. Adapun cara
pencegahan lainnya dengan mencegah enzim fosfolipase yang berperan dalam
pemecahan fosfolipid dan pembentukan asam arakhidonat serta mencegah
pembentukan radikal bebas. Komponen membran sel diperbaiki berarti juga
menurunkan kegiatan aktivitas fosfolipase sehingga menjaga keutuhan fosfolipid

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 7


dan meningkatkan pembentukan fosfotidilkholin sebagai komponen dari sel
membrane.
Pemberian sitikoline berguna sebagai neuroproteksi pada iskemik karena
sifatnya sebagai bahan pengadaan kardiolipin dan sfingomielin, sumber
fosfatidilkholin serta stimulasi sintesis glutation sebagai antioksidan endogen dan
menjamin keseimbangan aktivitas neurotransmisi Na+K+-ATPase antar sel di
sistem saraf pusat (SSP). Pemberian sitikoline pada hewan percobaan
menunjukkan pengurangan edema serta meminimalkan pemecahan fosfolipid
sehingga menekan pemecahan asam lemak bebas terutama asam arakhidonat.
Dengan mencegah pelepasan asam arakhidonat berarti juga mencegah proses
inflamasi. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan sitikoline
pada penderita stroke memiliki efek sebagai neuroprotektor serta mencegah
radikal bebas yang diakibatkan oleh iskemik

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 8


Daftar Pustaka

Graber, Mark A. 2000 . Terapi Cairan Elektrolit dan Metabolik Edisi Pertama. Jakarta:
Framedia.
Kidney Health Australia. (2012). Chronic kidney Disease (CKD) Management in
General Practice. Second Edition. Melbourne: Kidney Health Australia.
Natalia, Dewi., Saryono., Indriati, Dina. 2007. Efektifitas Pursed Lip breathing dan tiup
balon dalam peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) pasien asma bronchiale
di RSUD Banyumas [PDF] Dari: http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/do
wnload.php?id=335 [22 Januari 2014].
Nield, Margaret A., Soo Hoo,Guy W., Roper, Janice M., Santiago, Silverio. 2007,
Efficacy Of Pursed-Lips Breathing A Breathing Pattern Retraining Strategy For
Dyspnea Reduction, [PDF]. http://www.nursingcenter.com/lnc/journal
article?Article_ID=741753 [25 januari 2014].
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (2006). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses
Proses Penyakit. Edisi keempat. Jakarta: EGC
Price, S.A and Wilson, L.M. 2006. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Riyanto, Hisyam b.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Obstruksi Saluran
Pernafasan Akut. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI.
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth. Ed.8, Vol. 1,2, Alih bahasa oleh Agung Waluyo,
Jakarta: EGC.
Siregar, P. 2007. Gangguan Keseimbangan Asam Basa Metabolik In: Sudoyo,
A.W. (eds. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta: Penerbitan FKUI pp
143 – 146

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 9


Priestley, M.A. 2010. Acidosis Metabolic. (Online). (Available at
http://emedicine.medscape.com/article/906440-overview. (Diakses 20 September
2016).
Charles, J.C and Heilman, R.L. 2005. Clinical Review Article:Asidosis
Metabolic. (Online). (Available at http://www.turner–white.com. (Diakses 20
September 2016).
Lewis, J.L. 2008. Acidosis Metabolic. (Online). (Available at
http://www.merck.com/mmpe/sec12/ch157/ch157c.html. Diakses 20 September
2016).
Quinn, A. 2008. Metabolic Acidosis. (Online). (Available at
http://emedicine.medscape.com/article/768268-overview. (Diakses 20 September
2016)

Gawat Darurat Interpretasi AGD | 10