You are on page 1of 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kemiskinan merupakan permasalahan kompleks dan menyebabkan efek
yang hampir sama di setiap negara. Gejala sosial tersebut menyebabkan hilangnya
kesejahteraan bagi kalangan miskin (sandang, pangan, dan papan), tersingkir dari
pekerjaan yang layak secara kemanusiaan, serta kehilangan hak atas perlindungan
hukum, hak atas rasa aman, hak atas kesehatan, hak atas partisipasi terhadap
pemerintahan dan keputusan publik, hak atas spiritualitas, hak untuk berinovasi,
dan hak atas kebebasan hidup (Muttaqien, 2006).
Kemiskinan menyangkut banyak aspek yang berkaitan dengan pendapatan
rendah, buta huruf, derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar
jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup. Di samping itu, kemiskinan juga
berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan. Biasanya orang yang
dikategorikan miskin (the poor) yaitu tidak memiliki pekerjaan (pengangguran),
serta tingkat pendidikan dan kesehatan yang tidak memadai. Masalah kemiskinan
tidak dapat diatasi secara terpisah dari masalah pengangguran, pendidikan,
kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan
masalah kemiskinan. Dengan kata lain, pendekatannya harus dilakukan lintas
sektor, lintas pelaku secara terpadu, terkoordinasi dan terintegrasi (World Bank,
2004).
Selanjutnya, Suharto (2006) mengatakan bahwa ada tiga kategori
kemiskinan yang menjadi pusat perhatian pekerjaan sosial, yaitu : 1) kelompok
yang paling miskin, atau yang sering didefinisikan sebagai fakir miskin.
Kelompok ini secara absolut memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan,
umumnya tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali serta tidak memiliki
akses terhadap berbagai pelayanan social, 2) kelompok miskin (poor), kelompok
ini memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan namun secara relatif
memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar, 3) kelompok rentan (vunerable
group), kelompok ini dapat dikategorikan bebas dari kemiskinan karena memiliki

Universitas Sriwijaya

1
2

kehidupan yang relatif lebih baik ketimbang kelompok destitute maupun miskin.
Namun kelompok yang sering disebut agak miskin ini masih rentan terhadap
berbagai perubahan sosial di sekitarnya. Mereka seringkali berpindah dari status
rentan menjadi miskin dan bahkan destitute bila terjadi krisis ekonomi.
Masalah kemiskinan menjadi persoalan mendasar yang menjadi pusat
perhatian pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Besar
kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis
kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran perkapita perbulan lebih besar dari pada pendapatannya perbulan
atau di bawah garis kemiskinan. Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar
berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu
diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain
harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga
harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan
(BPS, 2016).
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan pokok yang dihadapi
bangsa Indonesia sejak dulu hingga sekarang dan sampai saat ini belum ada
penyelesaian yang tepat dari pemerintah. Meskipun berbagai perencanaan,
kebijakan serta program pembangunan telah dan akan dilaksanakan untuk
mengurangi jumlah penduduk miskin. Upaya pengentasan dan pengurangan
kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup seluruh aspek
kehidupan dan dilaksanakan secara terpadu. Kemiskinan terjadi karena
kemampuan masyarakat pelaku ekonomi tidak sama, sehingga terdapat
masyarakat yang tidak dapat ikut serta dalam proses pembangunan atau
menikmati hasil pembangunan (Soegijoko, 2001).
Terdapat dua masalah besar yang terjadi di negara berkembang. Pertama,
adanya kesenjangan ekonomi pada distribusi pendapatan antara kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah. Kedua, banyaknya sejumlah orang
yang berada dibawah garis kemiskinan atau lebih dikenal dengan orang miskin.
Kedua hal tersebut terdapat juga di Indonesia (M. T. Noor, 2005).
Dalam mengukur kemiskinan di Indonesia, BPS (Badan Pusat Statistik)
menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Melalui

Universitas Sriwijaya
3

pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi


untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari
sisi pengeluaran. Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Sampai saat ini yang
rutin dilakukan BPS setiap tahun adalah melakukan penghitungan kemiskinan dan
analisa deskriptif untuk kemiskinan perkotaan dan pedesaan untuk nasional,
provinsi dan kabupaten/kotamadya, dimana datanya diambil dari hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional atau Susenas (BPS, 2007). Berikut jumlah dan
persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 2005-2014.

Tabel 1.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun


2005 - 2014

Jumlah Penduduk Miskin (juta) Persentase Penduduk Miskin


Perkotaan Perkotaan
Tahun
Perkotaan Pedesaan dan Perkotaan Pedesaan dan
Pedesaan Pedesaan
2005 12,40 22,70 35,10 11,68 19,98 15,97
2006 14,49 24,81 39,30 13,47 21,81 17,75
2007 13,56 23,61 37,17 12,52 20,37 16,58
2008 12,77 22,19 34,96 11,65 18,93 15,42
2009 11,91 20,62 32,53 10,72 17,35 14,15
2010 11,10 19,93 31,02 9,87 16,56 13,33
2011 11,08 19,04 30,12 9,23 15,72 12,49
2012 10,71 18,54 29,25 8,79 15,10 11,96
2013 10,39 17,78 28,17 8,42 14,28 11,36
2014 10,51 17,77 28,28 8,34 14,17 11,25
Sumber : Badan Pusat Statistik

Provinsi Sumatera Selatan menyumbang sebanyak 13,62% atau 1.085.800


jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada September 2012, jumlah penduduk
miskin di Sumsel mencapai 1.043.620 orang atau sekitar 13,48%, Maret 2013
sekitar 1.110.530 orang atau sekitar 14,24%, September 2013 penduduk miskin
mencapai 1.104.569 orang (14,06%) dan Maret 2014 sekitar 1.100.829 orang
(13,91%). Secara umum selama Maret-September 2014, garis kemiskinan sedikit
naik 2,90% dari Rp298.824 per kapita per bulan menjadi Rp307.488 per kapita
per bulan. Sementara garis kemiskinan perkotaan naik sekitar 2,76% dari
Rp336.929 per kapita per bulan pada Maret 2014 menjadi Rp346.238 per kapita

Universitas Sriwijaya
4

per bulan pada September 2014. Sedangkan garis kemiskinan perdesaan naik
2,98% (BPS Sumsel, 2014).
Dengan memperhatikan persoalan kemiskinan serta skala kemiskinan yang
ada, beban dan tantangan penanggulangan kemiskinan salah satunya dihadapi oleh
pemerintah Kabupaten Banyuasin. Persentase penduduk miskin di Kabupaten
Banyuasin yakni 12,39% dengan indeks keparahan kemiskinan 0,37. Banyuasin
menduduki urutan keempat proporsi konsumsi penduduk termiskin di Sumatera
Selatan yakni 9,42% (BPS Banyuasin, 2010).
Tanjung Lago merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuasin
dengan luas daerah 802,42 km2. Sebagian besar wilayah Kecamatan Tanjung Lago
merupakan dataran rendah pesisir yang terletak di bagian hilir aliran anak Sungai
Musi. Pada umumnya Kecamatan Tanjung Lago berupa lahan basah yang
terpengaruh pasang surut sehingga sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan
untuk pertanian pangan yaitu padi dan palawija. Program Peningkatan Beras
Nasional (P2BN) yang tengah dilakukan pemerintah seperti penyaluran pupuk
bersubsidi, benih unggul dan perluasan lahan sawah. Program P2NB dalam
rangka memperluas lahan sawah dan menyalurkan benih unggul kepada kelompok
tani padi dapat meningkatkan produkstivitas padi. Jumlah produksi padi tahun
2014 di Kecamatan Tanjung Lago sebanyak 67.454 ton dengan luas panen sekitar
12.734 Ha atau rata-rata 5,30 ton/hektar (BPS Tanjung Lago, 2014).
Kecamatan Tanjung Lago memiliki lahan pertanian yang cukup luas yang
hasil pertaniannya cukup besar sehingga mata pencaharian penduduk yang
utama adalah petani termasuk salah satunya adalah petani padi. Secara rata-rata
40,33% luas wilayah kecamatan Tanjung Lago dipergunakan untuk lahan
pertanian, 54,97% luas wilayah sebagai lahan usaha non pertanian termasuk
hutan rakyat, 4,73% dipergunakan untuk pemukiman, dan fasilitas umum
lainnya termasuk jalan. Lahan pertanian di Kecamatan Tanjung Lago
meliputi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan
dan perikanan Tetapi pada kenyataannya walaupun pertanian khususnya
pertanian tanaman padi merupakan yang paling besar memberikan kontribusi,
masih banyak petani padi kurang mampu mendapatkan penghasilan yang layak
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari demi kelangsungan hidup atau bisa

Universitas Sriwijaya
5

dikatakan tergolong miskin (BPS Tanjung Lago, 2014). Berikut jumlah


penduduk miskin di Kecamatan Tanjung Lago tahun 2014.

Tabel 1.2. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera per desa di Kecamatan
Tanjung Lago Tahun 2014

No. Desa/Kelurahan Pra Sejahtera Sejahtera


1. Sebalik 318 50
2. Tanjung Lago 732 164
3. Manggar Raya 426 51
4. Banyu Urip 829 93
5. Sukadamai 744 102
6. Muara Sugih 304 31
7. Sukatani 530 58
8. Srimenanti 292 30
9. Bangun Sari 888 120
10. Sumber.M.M 620 61
11. Kuala Puntian 513 65
12. Telangsari 596 24
13. Mulya Sari 783 41
14. Purwosari 369 59
15. Bunga Karang 409 23
Jumlah 8.416 972
2013 8.811 966
2012 8.772 840
2011 8.424 807
2010 8.688 1037
Sumber : BPS Kabupaten Banyuasin

Tanjung Lago memiliki 15 desa/kelurahan, 2 (dua) diantaranya yaitu Desa


Telangsari dan Desa Purwosari. Desa Telangsari dan Desa Purwosari merupakan
2 (dua) desa dengan luas lahan tersempit di Kecamatan Tanjung Lago. Desa
Telangsari memiliki luas wilayah 13,89 Km2 atau hanya 1,70% dari total luas
Kecamatan Tanjung Lago. Sedangkan Desa Purwosari luas wilayahnya 7,23 Km 2
atau memiliki persentase luas wilayahnya sebesar 0,89%. Potensi kedua desa tersebut
yaitu memiliki persentase lahan pertanian terluas di Kecamatan Tanjung Lago
sehingga penduduknya bermata psencaharian sebagai petani padi pasang surut.
Sebanyak 71,49% luas total keseluruhan dari Desa Telangsari dan 95,71% dari Desa

Universitas Sriwijaya
6

Purwosari digunakan sebagai lahan pertanian tetapi masih banyak petani yang
termasuk dalam kategori belum sejahtera (BPS Tanjung Lago, 2014).
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi sosial ekonomi pertanian di Kecamatan Tanjung
Lago ?
2. Bagaimana tingkat kemiskinan petani padi pasang surut di Kecamatan
Tanjung Lago ?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan petani padi
pasang surut di Kecamatan Tanjung Lago ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Berdasarkan permasalahan yang diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi pertanian di Kecamatan
Tanjung Lago.
2. Menghitung tingkat kemiskinan petani padi pasang surut di Kecamatan
Tanjung Lago.
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan petani padi
pasang surut di Kecamatan Tanjung Lago.

Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan informasi


kepada semua pihak terkait tentang kemiskinan petani padi pasang surut. Selain
itu diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan literature, informasi serta
pengetahuan bagi pembaca yang memerlukannya.

Universitas Sriwijaya