You are on page 1of 16

Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PRE-HOSPITAL STAGE DENGAN KOMPLIKASI


SEKUNDER PADA PASIEN CEDERA KEPALA BERAT SETELAH KEDATANGAN PASIEN
DI IGD RSUD ULIN BANJARMASIN

Doni Wibowo*

STIKES Cahaya Bangsa


*Korespondensi Penulis. Telp. : 085747366066, E-mail : ners_doniwibowo@yahoo.co.id
ISSN: 2086-3454

ABSTRAK

Latar Belakang : Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama dikalangan usia
produktif antara 15 - 44 tahun. Pre-hospital stage merupakan faktor yang memiliki kontribusi besar
terhadap kualitas hidup penderita dengan cedera kepala berat.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara penolong pertama, lama penanganan pertama, dan alat
transportasi pasien dengan komplikasi sekunder pada pasien cedera kepala berat setelah kedatangan
pasien di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.
Metode : Jenis penelitian kuantitatif, non eksperimental menggunakan metode deskriptif
observasional. Bentuk rancangan penelitian secara cross sectional. Jumlah sampel adalah 31, uji
statistik Chi-Square dan Regresi Logistik.
Hasil : Adanya hubungan antara penolong pertama, lama penanganan pertama, dan alat transportasi
pasien dengan komplikasi sekunder dengan nilai p < 0,05. Berdasarkan uji regresi logistik diketahui
bahwa variabel yang paling berhubungan dengan komplikasi sekunder adalah lama penanganan
pertama dengan nilai Exp(B) 22.708.
Simpulan : Ada Hubungan antara faktor pre-hospital stage dengan komplikasi sekunder pada pasien
cedera kepala berat.

Kata kunci: Pre-hospital stage: Penolong pertama, lama penanganan pertama, alat transportasi
pasien, komplikasi sekunder, cedera kepala berat.

250
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

PENDAHULUAN awal (cedera otak primer). Cedera otak

Cedera kepala adalah salah satu sekunder sensitif terhadap terapi dan proses

penyebab kematian utama dikalangan usia terjadinya dapat dicegah.

produktif antara 15 - 44 tahun. Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Boto

Ginsberg (2007), penyebab dari cedera kepala (2005) mengungkapkan pasien dengan cedera

adalah kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, pukulan kepala berat, 20% meninggal dunia pada awal

atau trauma tumpul yang mengakibatkatkan pasien tiba di IGD, artinya 20% pasien cedera

benturan langsung pada kepala, kecelakaan kepala tidak mampu melakukan kompensasi

rumah tangga, olah raga, trauma tembak atau atau terdapat beberapa faktor yang

pecahan bom, kecelakaan kerja. Menurut mempengaruhi komplikasi sekunder tersebut

Irwana (2009) di Amerika kecelakaan lalu terus berlanjut sehingga pasien mengalami

lintas merupakan penyebab 48%-53% dari kematian biologis pada awal pasien tiba di IGD

insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena . Pre-hospital stage yang terdiri dari penolong

jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak pertama, lama penanganan pertama, dan alat

kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. transportasi pasien merupakan faktor yang

Menurut Basmatika, (2013) Cedera otak memiliki kontribusi yang besar terhadap

dibedakan atas kerusakan primer dan sekunder. kualitas hidup penderita dengan cedera kepala

Kerusakan otak primer adalah kerusakan otak berat.

tahap pertama yang diakibatkan oleh Berdasarkan hasil studi pendahuluan di

benturan/proses mekanik yang membentur IGD RSUD Ulin Banjarmasin kasus cedera

kepala. Cedera otak sekunder dideskripsikan kepala dari Januari-Juni 2015 adalah sebanyak

sebagai konsekuensi gangguan fisiologis, 106 kasus. Peran perawat dalam setiap kejadian

seperti iskemia, reperfusi, dan hipoksia pada cedera di Indonesia masih sangat kurang.

area otak yang beresiko, terjadi setelah cedera Perawat dan dokter lebih fokus pada pelayanan

251
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

pasien di fase intra-hospital saja. Pentingnya Sampel dalam penelitian ini adalah semua

peran perawat sebagai tenaga professional pasien CKB yang datang ke IGD RSUD Ulin

keperawatan pada pre-hospital stage telah di Banjarmasin pada tanggal 10 Oktober – 20

sampaikan oleh Chan (2010) yang mengatakan November 2015 sebanyak 31 sampel. Analisis

bahwa untuk menurunkan dampak yang bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji

ditimbulkan akibat cedera, dibutuhkan Chi-Square, dan analisis multivariate

dukungan berbagai pihak termasuk keterlibatan menggunakan uji regresi logistik.

perawat.

Berdasarkan uraian diatas adakah HASIL

hubungan antara penolong pertama, lama A. Analisis Univariat

penanganan pertama, dan alat transportasi 1. Gambaran tentang komplikasi sekunder

pasien dengan komplikasi sekunder pada pasien yang terdiri dari tanpa komplikasi dan

cedera kepala berat setelah kedatangan pasien komplikasi, pada kenyataan dilapangan,

di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. pasien dengan cedera kepala berat lebih

banyak mengalami komplikasi sekunder

METODE PENELITIAN dibanding tanpa mengalami komplikasi.

Penelitian ini menggunakan metode riset Data tentang gambaran komplikasi

kuantitatif dengan desain non eksperimental sekunder pada pasien cedera kepala

deskriptif korelasi yang bersifat potong lintang berat dapat dilihat pada Tabel 5.1:

(cross sectional). Populasi dalam penelitian ini Tabel 5.1Distribusi Responden Berdasarkan
Komplikasi Sekunder Pasien Cedera Kepala
Berat (n=31)
adalah seluruh pasien cedera kepala berat di No Komplikasi F %
Sekunder
IGD RSUD Ulin Banjarmasin pada tanggal 10 1 Tanpa Komplikasi 14 45.2
2 Komplikasi 17 54.8
Total 31 100.0
Oktober – 20 November 2015.

252
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

Data pada Tabel 5.1 menunjukan dengan 60 menit dan lama penanganan

persentase pasien komplikasi sekunder pertama lebih dari 60 menit. Kenyataan

adalah 54.8% dan 45.2% pasien tanpa dilapangan lama penanganan pertama

komplikasi sekunder. lebih dari 60 menit lebih banyak

dibanding dengan lama penanganan

2. Gambaran tentang penolong pertama pertama kurang atau sama dengan 60

yang terdiri dari penolong pertama menit. Data tentang lama penanganan

terlatih dan kurang terlatih. Kenyataan pertama pasien cedera kepala berat

dilapangan penolong pertama kurang dapat dilihat pada Tabel 5.3:

terlatih lebih banyak dibanding terlatih. Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Lama
Penanganan Pertama (n=31)
No Lama Penanganan F %
Data tentang gambaran penolong Pertama

1 Kurang dari 60 menit 15 48.4


pertama pasien cedera kepala berat 2 Lebih dari 60 Menit 16 51.6
Total 31 100.0
dapat dilihat pada Tabel 5.2:

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Penolong


Data Data pada Tabel 5.3 menunjukan
Pertama (n = 31)
No Penolong F % persentase mayoritas lama penanganan
pertama

1 Terlatih 11 35,5 pertama lebih dari 60 menit adalah


2 Kurang terlatih 20 64.5
Total 31 100.0 51.6% dan 48.4% lama penanganan

Data pada Tabel 5.2 menunjukan pertama kurang dari 60 menit.

persentase mayoritas penolong pertama 4. Gambaran alat transportasi pasien

kurang terlatih adalah 64.5% dan cedera kepala berat yang terdiri dari alat

35.5% terlatih. transportasi adekuat dan kurang adekuat

3. Gambaran tentang lama penanganan yaitu pasien yang mendapatkan fasilitas

pertama yang terdiri dari lama alat transportasi kurang adekuat lebih

penanganan pertama kurang atau sama besar dibanding pasien yang

253
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

mendapatkan fasilitas alat transportasi Data pada Tabel 5.5 menunjukan

adekuat. bahwa penolong pertama yang terlatih

Data tentang alat transportasi pasien lebih banyak membantu pasien tanpa

dapat dilihat pada Tabel 5.4: mengalami komplikasi sekunder yaitu

Tabel 5.4 Distribusi responden berdasarkan alat 81.8%, sedangkan penolong pertama
transportasi pasien (n=31).
Komplikasi Sekunder
Alat
Total Nilai yang kurang terlatih 75.0% menolong
transportasi Tanpa Komplikasi Komplikasi
p
pasien f % f % f %
Adekuat 11 73.3 4 26.7 15 100,0 0,002 pasien dengan komplikasi sekunder.
Kurang 3 18.7 13 81.3 16 100,0
adekuat
31 100,0
2. Adanya hubungan yang signifikan

Data pada Tabel 5.4 menunjukan antara lama penanganan pertama

persentase alat transportasi pasien dengan komplikasi sekunder pada

kurang adekuat adalah 51.6% dan pasien cedera kepala berat.

Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Lama


48.4% alat transportasi pasien adekuat. Penanganan Pertama dan Komplikasi Sekunder
(n=31)
Komplikasi Sekunder
Lama
Tanpa Komplikasi Total Nilai
penanganan
Komplikasi p
pertama
B. Analisis Bivariat f % f % f %
Kurang 10 66.7 5 33.3 15 100,0 0, 020
dari 60 menit
1. Adanya hubungan yang signifikan Lebih 4 25.0 12 75.0 16 100,0
dari 60 menit
antara penolong pertama dengan
31 100,0

komplikasi sekunder pada pasien cedera


Data pada Tabel 5.6 menunjukan bahwa
kepala berat.
lama penanganan pertama kurang dari 60
Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Penolong Pertama
dan KomplikasiSekunder (n=31) menit lebih banyak tanpa mengalami
Komplikasi Sekunder
Penolong
Tanpa Komplikasi Total Nilai
Pertama
p
komplikasi yaitu 66.7%, sedangkan
Komplikasi
f % f % f %
Terlatih 9 81.8 2 18.2 11 100,0 0,002 sejumlah 12 pasien (75.0%) dengan lama
Kurang 5 25.0 15 75.0 20 100,0
terlatih
31 100,0 penanganan pertama lebih dari 60 menit

lebih banyakmengalami komplikasi.

254
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

3. Adanya hubungan yang signifikan Tabel 5.8Distribusi Responden Berdasarkan Penolong Pertama, Lama
Penanganan Pertama, Alat Transportasi Pasien dan Komplikasi
Sekunder (n=31)
antara alat transportasi pasien dengan
B S.E Sig. Exp(B)
Variabel
komplikasi sekunder pada pasien cedera Penolong 2.148 1.046 .028 18.587
pertama
Lama penanganan 1.443 1.027 .031 22.708
kepala berat. pertama
Alat transportasi 2.183 1.001 .027 18.807
pasien
Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Alat
Transportasi Pasien dan Komplikasi Sekunder
Berdasarkan hasil uji regresi logistik
No Alat Transportasi F %
Pasien berganda menyatakan bahwa faktor yang
1 Adekuat 15 48.4
2 Kurang adekuat 16 51.6 paling berhubungan dengan komplikasi
Total 31 100.0
(n=31).
Data pada Tabel 5.7 menunjukan sekunder pada pasien cedera kepala berat

bahwa pasien yang mendapatkan adalah variabel lama penanganan pertama.

fasilitas alat transportasi adekuat lebih PEMBAHASAN

banyak tanpa mengalami komplikasi 1. Komplikasi Sekunder

yaitu 73.3%, sedangkan 81.3% pasien Berdasarkan hasil penelitian dari 31 pasien

yang mendapatkan fasilitas alat cedera kepala berat bahwa sebagian besar

transportasi kurang adekuat mengalami sampel pasien cedera kepala berat

komplikasi. mengalami komplikasi sekunder dibanding

C. Analisis Multivariat dengan sampel pasien cedera kepala berat

Ada faktor yang paling berhungan dengan tanpa mengalami komplikasi sekunder

komplikasi sekunder pada pasien cedera setelah kedatangan pasien di IGD RSUD

kepala berat yaitu faktor lama Ulin Banjarmasin.

penanganan pertama.
Hipotensi merupakan konsekuensi dari

cedera skunder pada pasien dengan cedera

kepala berat. Hipotensi menyebabkan

255
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

penurunan suplai darah dari jantung ke otak komplikasi sekunder dapat dicegah sejak

yang didalamnya membawa oksigen guna awal terjadinya trauma.

proses metabolisme di otak.


2. Penolong Pertama
Metabolisme anaerob di otak menstimulasi
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
reseptor kimia nyeri dan terjadi peningkatan
bahwa dari 31 responden yang menjadi
permeabilitas kapiler sehingga proses
subyek penelitian sebagian besar penolong
iskemik dan edema otak akan terjadi.
pertama adalah kurang terlatih, hal ini
Adanya satu episode hipotensi dapat
menandakan bahwa masih banyaknya
menggandakan angka mortalitas dan
masyarakat awam yang masih belum
meningkatkan morbiditas, oleh karenanya
mengetahui bagaimana cara penanganan
koreksi terhadap hipotensi terbukti akan
korban kecelakaan dengan benar di tempat
menurunkan morbiditas dan mortalitas
kejadian.
(Sastrodiningrat,2006).

Perlu adanya pembahasan yang


Minimnya informasi tentang pertolongan
komprehensif bersama dinas kesehatan baik
pertama pada korban kecelakaan yang
propinsi maupun kota untuk membuat
didapat oleh penolong pertama merupakan
sebuah inovasi tentang peningkatan
faktor tingginya penolong pertama dengan
pelayanan pre-hospital care khusunya pada
kategori kurang terlatih. Tindakan untuk
peningkatan sumber daya manusia sebagai
melancarakan pernapasan dan bebat luka
penolong pertama, mempersingkat waktu
meruapakan tindakan yang dianggap
penanganan, dan meningkatkan kualitas dan
sensitif dan beresiko bagi seorang penolong
kuantitas alat transportasi ambulan sehingga
pertama kurang terlatih akibat minimnya
akan terjadi peningkatan kualitas hidup
pengetahuan dan keterampilan dalam
pasien cedera kepala berat karena

256
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

melakukan pertolongan pertama pada komunikasi diharapkan korban dapat diatasi

kecelakaan. secepat mungkin (Lumbu et all 2013). Perlu

Pernyataan diatas sejalan dengan penelitian adanya sistem informasi dan komunikasi

Listyana (2015) menyatakan bahwa antara penolong pertama dengan instansi

penolong pertama dalam kategori pemberi layanan pre-hospital care.

pengetahuan kurang baik disebabkan oleh Keberhasilan dalam penanganan gawat

minimnya informasi yang didapat oleh darurat tidak hanya ditentukan dengan

penolong pertama sehingga mempengaruhi keberhasilan dalam memaksimalkan waktu

kemampuan dan keterampilan dalam tanggap untuk menjalankan prosedur

melakukan pertolongan pertama pada ABCD pada fase rumah sakit, tetapi

korban kecelakaan lalu-lintas. penanganan fase pra rumah sakit berupa

3. Lama Penanganan Pertama sistem mobilisasi (transportasi) pasien

Berdasarkan hasil penelitian dari 31 sampel menuju fasilitas pelayanan gawat darurat

pasien dengan cedera kepala berat 51,6 % juga memegang peranan sangat penting

lama penanganan pertama lebih dari 60 dalam mempercepat waktu penanganan

menit. Faktor-faktor yang berhubungan pertama pada korban kecelakaan (Sukoco,

dengan lama penanganan pertama lebih dari 2010).

60 menit adalah sistem komunikasi, alat Proses transportasi menggunakan ambulan

transportasi, dan penentuan rute. akan mempercepat korban kecelakaan dari

Upaya dalam memberikan penanganan yang tempat kejadian ke tempat pelayanan

cepat terhadap korban kecelakaan, maka kegawat daruratan. Sesuai dengan Pasal 134

diperlukan sistem informasi yang dapat dan135 UU No 22 tahun 2009 mengenai

memberikan kemudahan, dengan hak dan prioritas kendaraan gawat darurat

menggunakan sistem informasi dan

257
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

untuk mendapatkan keutamaan dalam darurat dapat digunakan sebagai pendukung

berlalu-lintas. proses mitigasi gawat darurat.

Penentuan rute optimal berdasarkan waktu 4. Alat Transportasi Pasien

tempuh dilakukan dengan memperhatikan Berdasarkan hasil penelitian dari 31 sampel

kepadatan jalan. Kepadatan jalan pada pasien cedera kepala berat 51.6% pasien

waktu tertentu dapat mempengaruhi cepat mendapatkan fasilitas alat transportasi

atau lambatnya waktu tempuh yang kurang adekuat. Minimnya pelayanan pre-

dibutuhkan selama perjalanan hospital care di Indonesia menjadi kendala

(Sukoco,2010). Kepadatan jalan dalam penggunaan alat transportasi adekuat

mengakibatkan timbulnya kemacetan yang diberikan kepada korban kecelakaan.

apabila kepadatan jalan tersebut melampaui Kendala tersebut juga dialami di wilayah

kapasitas ruas jalan yang ada. Perlunya Kalimantan Selatan yang belum

pengembangan sistem penentuan rute maksimalnya pelayanan pre-hospital care

optimal menuju lokasi pelayananan gawat khususnya bagi korban kecelakaan.

darurat untuk mempercepat waktu tempuh. Ambulan 118 merupakan salah satu sistem

Data yang digunakan dalam sistem pre-hospital yang berkembang di Indonesia.

penentuan rute disimpan dan diolah Ambulan 118 baru berada di 5 kota besar di

menggunakan aplikasi Geographic Indonesia diantaranya adalah Jakarta,

Information Sistem (GIS). Pengolahan data Yogyakarta, Medan, Bali, dan Surabaya

menggunakan network analyst mampu (Pitt dan Pusponegoro, 2005).

membantu untuk menemukan rute optimal Ambulan 118 di Yogyakarta dikenal dengan

diantara dua tempat. Hasil pencarian rute nama ambulan Yogyakarta Emergency

optimal menuju lokasi pelayananan gawat Services (YES 118). Pengguna jasa

ambulan 118 untuk korban kecelakaan

258
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

setiap tahun semakin meningkat yaitu pada pakaian pasien, membersihkan hidung dan

tahun 2013 dilaporkan terdapat 955 kasus mulut pasien dari adanya benda asing

dengan rincian 344 kasus trauma, 470 kasus seperti darah, cairan, maupun benda asing.

medis dan 151 kasus non YES. Data diatas Tindakan tersebut dapat mengurangi resiko

menunjukkan bahwa kasus kecelakaan lalu terjadinya hipoksemia dan hipoksia pada

lintas atau trauma masih mendominasi jaringan otak.

kasus-kasus yang ditangani oleh YES 118 Pasien cedera kepala berat yang mengalami

dengan prevalensi yang terus meningkat perdarahan pada daerah kepala harus

setiap tahunnya (Purwanti, 2015). dilakukan tindakan bebat luka dengan

5. Hubungan Antara Faktor Penolong Pertama tujuan untuk membantu menghentikan

dengan Komplikasi Sekunder pada Pasien proses perdarahan sehingga pasien tidak

Cedera Kepala Berat. mengalami perdarahan secara masif.

Berdasarkan hasil penelitian ada hubungan Perdarahan tersebut dapat disebabkan

yang signifikan antara penolong pertama karena terjadinya laserasi pada kulit kepala

terlatih dengan tanpa komplikasi sekunder yang mengalami hematom. Perdarahan

81,8% dengan nilai p=0,002<0,05 pada hebat dan masif menyebabkan gangguan

pasien cedera kepala berat. Kualitas pada aliran darah serebral sehingga

penolong pertama sangat berhubungan menyebabkan iskemia global atau fokal.

dengan kualitas hidup pasien cedera kepala Gangguan vital pada pasien cedera kepala

berat. seperti airway, breathing, circulation,

Tindakan penolong pertama melancarkan disability sangat berkontribusi terhadap

pernapasan pasien merupakan tindakan komplikasi sekunder pada pasien cedera

yang sangat vital. Tindakan tersebut dapat kepala hingga berdampak pada kematian

dilakukan dengan cara melonggarkan (Benny, 2012).

259
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

Pasien trauma kepala berat wajib dicurigai Gangguan neurologik merupakan

adanya cedera servikal. Dampak cedera servikal manifestasi utama pada pasien dengan

mengakibatkan syok neurogenik, syok spinal, fraktur yang mengenai medulla spinalis,

hipoventilasi, hiperfleksia autonomic, gangguan dalam hal ini semua struktur atau organ

pada pernapasan, gangguan fungsi saraf pada yang dipersarafi oleh saraf yang

jari-jari tangan, otot bisep, otot trisep, dan otot- terkena/terganggu akan kehilangan

otot leher. Tindakan immobilisasi harus sudah fungsinya baik sebagaian maupun secara

dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan sampai keseluruhan. Pasien yang tidak ditangani

ke tempat pelayanan gawat daruratan. Tindakan dengan baik pada tahap awal cedera akan

pertama ialah immobilisasi dan stabilkan leher berlanjut pada kematian (Hanafiah, 2007).

dalam posisi normal; dengan menggunakan Hipotensi merupakan manifestasi yangbiasa

’cervical collar’ untuk mencegah agar leher terjadi pada pasien dengan cedera kepala

tidak terputar (rotation) (Hanafiah, 2007). berat. Hipotensi pada pasien cedera kepala

Kegagalan penanganan frakur servikal berat diakibatkan oleh perdarahan masif

menyebabkan manifestasi yang semakin buruk. atau syok spinal yang dialami oleh pasien.

Cedera akan mengakibatkan blok syaraf Hipovolemik terjadi karena volume darah

parasimpatis dan menyebabkan kelumpuhan dalam sistem sirkulasi berkurang, perfusi

otot pernapasan sehingga terjadi iskemia, otak dapat terganggu sampai menurunkan

hipoksemia pada sel otak. Pelepasan mediator tingkat kesadaran. Mean arterial pressure

kimia akibat cedera servikal menyebabkan (MAP) harus ditargetkan diatas 70 mmHg

respon nyeri hebat dan akut, pasien dapat untuk menjaga sirkulasi agar tetap adekuat.

mengalami syok spinal dengan manifestasi MAP kurang dari 70 mmHg akan

hipotensi dan bradikardia. menyebabkan penurunan suplai darah dan

oksigen ke otak sehingga jaringan otak akan

260
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

mengalami iskemik yang dapat berlanjut cedera kepala berat semakin besar. Proses

pada kematian (Basmatika, 2013). insult otak sekunder menyebabkan

6. Hubungan Antara Faktor Lama Penanganan peninggian tekanan intrakranial (TIK)

Pertama dengan Komplikasi Sekunder pada secara berangsur-angsur dimana suatu saat

Pasien Cedera Kepala Berat. mencapai titik toleransi maksimal dari otak

Analisis hasil penelitian menunjukkan sehingga perfusi otak tidak cukup lagi untuk

bahwa ada hubungan yang signifikan antara mempertahankan integritas neuron disusul

lama penanganan pertama dengan oleh hipoksia/hipoksemia otak dan

komplikasi sekunder pada pasien cedera kematian akibat herniasi ( Basmatika,

kepala berat. Faktor lama penanganan 2013).

pertama pada kasus cedera kepala pada fase Kenaikan TIK ini dapat juga akibat

pre-hospital maupun intra-hospital yaitu hematom berlanjut misalnya pada

dalam waktu 1 jam pertama setelah kejadian hematoma epidural. Sebab TIK lainnya

memiliki kontribusi yang besar terhadap adalah kejang yang dapat menyebabkan

komplikasi sekunder pada pasien dengan asidosis dan vasospasme/ vasoparalisis

cedera kepala berat. karena oksigen tidak mencukupi. Keadaan

Waktu penanganan pertama lebih dari 60 hipotensi akibat perdarahan yang masif

menit memiliki persentase yang lebih besar pada trauma kepala dapat menyebabkan

terjadinya komplikasi sekunder pada pasien penurunan tekanan perfusi otak, berlanjut

cedera kepala berat. Lamanya waktu dengan iskemia global, gangguan aliran

penanganan pertama lebih dari 60 menit darah serebral (CBF), sehingga

memperbesar kesempatan terjadi proses menyebabkan iskemia serebral global atau

insult otak sekunder berlanjut sehingga fokal.

resiko komplikasi sekunder pada pasien

261
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

Pada iskemia serebral, perubahan yang cedera, maka angka kematian dan kesakitan

dominan terjadi adalah stres metabolik dan dapat di minimalkan. Penanganan pertama

gangguan ionik. Trauma kepala pada pasien cedera kepala juga dibahas oleh

menyebabkan jaringan otak mengalami Susilawati (2010) yang menyatakan bahwa

cedera struktural pada badan sel neuronal, penanganan awal dapat terwujud dengan

astrosit, mikroglia, mikrovaskuler serebral, memberikan bantuan sejak dari tempat

dan kerusakan sel endotel. Mekanisme kejadian, yaitu sejak tahap pre-hospital,

iskemik post traumatik meliputi cedera sehingga menurunkan angka kematian dan

morfologis (distorsi pembuluh darah) akibat kesakitan.

mekanisme peregangan, hipotensi karena 7. Hubungan Antara Faktor Alat Transportasi

kegagalan autoregulasi, penurunan nitrit Pasien dengan Komplikasi Sekunder pada

oksida dan neurotransmiter kolinergik, serta Pasien Cedera Kepala Berat.

penurunan potensiasi prostaglandin, yang Berdasarkan analisis hasil penelitian

memicu vasokonstriksi. Gangguan pada menunjukan bahwa adanya hubungan yang

mekanisme regulasi tersebut meningkatkan signifikan antara alat transportasi pasien

resiko cedera otak sekunder. dengan komplikasi sekunder pada pasien

Pembahasan diatas sejalan dengan pendapat cedera kepala berat. Alat transportasi

Stiver (2008) menyatakan bahwa pada merupakan fasilitas yang digunakan pasien

penanganan pasien trauma, termasuk cedera dari tempat kejadian menuju tempat

kepala, dikenal istilah ‘golden hour’, yaitu pelayanan kegawat daruratan.

satu jam pertama setelah cedera yang

merupakan waktu terbaik untuk Kelengkapan alat transportasi ambulan

memberikan pertolongan, jika tindakan seperti collar neck, stretcher ambulance

dilakukan dalam 1 jam pertama setelah berfungsi untuk imobilisasi pasien. Collar

262
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

neck berfungsi untuk melindungi bagian peningkatan kualitas tenaga medis yang

leher/servikal agar tidak terjadi komplikasi bekerja di sistem pre-hospital care (WHO,

atau bertambahnya cedera pada tulang 2009). Alat transportasi adekuat akan

servikal akibat hiperekstensi, fleksi, mempercepat waktu tanggap dan

maupun rotasi. Stretcher ambulance memberikan fasilitas pelayanan yang

berfungsi untuk melakukan imobilisasi mendukung terhadap kebutuhan atas

pasien dari ekstremitas bawah sampai masalah yang dialami pasien cedera kepala

kepala. Bertambahnya cedera servikal berat selama proses transportasi. Zaharudin

akibat pertolongan pertama yang tidak tepat et al. (2009 disitasi oleh Nasution 2013)

dapat terjadi blok pada syaraf parasimpatis menyatakan bahwa tingkat resiko kematian

yang akan menyebabkan hipoventilasi dan seorang pasien sangat bergantung pada

hipotensi sehingga otak akan mengalami waktu respon ambulan terhadap permintaan

iskemik yang berakhir pada kematian. layanan ambulans.

Alat transportasi ambulan wajib memiliki 8. Berdasarkan hasil uji regresi logistik

fasilitas oksigen yang siap digunakan. berganda menyatakan bahwa variabel yang

Oksigen merupakan kebutuhan primer bagi paling berhubungan dengan komplikasi

tubuh manusia. Fasilitas oksigen pada sekunder pada pasien cedera kepala berat

ambulan berfungsi untuk suplai oksigen adalah variabel lama penanganan pertama

selama proses tranportasi yang diberikan yang diberikan kepada pasien trauma baik

kepada pasien cedera kepala berat sehingga pada fase pre-hospital care maupun intra-

iskemik sel otak dapat dicegah. hospital care.

Peningkatan pelayanan pre-hospital care Semakin lama penanganan pertama yang

dapat dilakukan dengan peningkatan diberikan kepada pasien cedera kepala berat

fasilitas, peningkatan sarana dan akan memberikan kesempatan terhadap

263
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

berlangsungnya proses insult otak sekunder yang dapat menyebabkan asidosis dan

berlanjut sehingga resiko komplikasi sekunder vasospasme / vasoparalisis karena oksigen

pada pasien cedera kepala berat semakin besar. tidak mencukupi.

Stiver (2008) berpendapat bahwa pada UCAPAN TERIMAKASIH

penanganan pasien trauma, termasuk cedera Peneliti mengucapkan terimakasih kepada

kepala, dikenal istilah ‘golden hour’, yaitu satu Kepala Diklat RSUD DR. H. Moch Ansari

jam pertama setelah cedera yang merupakan Saleh Banjarmasin, yang telah memberikan ijin

waktu terbaik untuk memberikan pertolongan, dan tempat untuk penelitian dan kepada tim

jika tindakan dilakukan dalam 1 jam pertama yang telah membantu penelitian ini.

setelah cedera, maka angka kematian dan


DAFTAR PUSTAKA
kesakitan dapat di minimalkan.
Basmatika, IA.(2013) Cedera otak sekunder.
Menurut Basmatika (2013) bahwa Kepaniteraan Klinik Madya Bagian/SMF
Ilmu Fakultas Kedokteran Universitas
proses insult otak sekunder menyebabkan Udayana Rumah Sakit Umum Pusat
Sanglah. (Diakses 19 September 2015).
peninggian tekanan intrakranial (TIK) secara
Benny, (2012). Karakteristik dari Penderita
berangsur-angsur dimana suatu saat mencapai Cedera Medula Spinalis Traumatik. FK
Universitas Sumatera Utara. Medan.
titik toleransi maksimal dari otak sehingga (Diakses tanggal 11 Desember 2015).

perfusi otak tidak cukup lagi untuk Boto, GR.(2006). Severe head injury and risk of
early death. Madrid: J.Neuro surgery
mempertahankan integritas neuron disusul oleh psychiatry.

hipoksia/hipoksemia otak. Kematian akibat Chan, S, Chan, W., Cheng, Y., Fung, O., Lai, T,
K., Leung, A, W, K., Leung, K., Li Sijian,
herniasi, kenaikan TIK dapat juga diakibatkan Yip, A., Pang, S. (2010). Development and
Evaluation of an Undergraduate Training
oleh hematom yang berlanjut misalnya pada Course for Developing International
Council of Nurses Disaster Nursing
hematoma epidural. TIK lainnya adalah kejang Competencies in

China. Journal of Nursing Scholarship. 42 Ginsberg Lionel, (2007). Lecture Notes


(Diakses tanggal 02 Oktober 2015). Neurologi. Jakarta; Erlangga.

264
Dinamika Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016 Wibowo, Hubungan Antara Faktor ......

Hanafiah Hafas, (2007). Penatalaksanaan Purwanti, F.D.(2015). Tingkat Pengetahuan


Trauma Spinal. Divisi Ilmu Bedah Perawat Prehospital Dalam Penanganan
Orthopaedi dan Traumatologi Departemen Korban Kecelakaan Lalu Lintas Kota
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Yogyakarta. UGM. (Diakses tanggal 01
Universitas Sumatera Utara.(Diakses Desember 2015).
tanggal 10 Januari 2016).
Sastrodiningrat AG. (2006). Memahami Faktor-
Irwana Olva, (2009). Cedera Kepala (Head Faktor yang Mempengaruhi Prognosa
Injury). Fakultas Kedokteran Universitas Cedera Kepala Berat. Majalah Kedokteran
Riau. (Diakses tanggal 02 September 2015). Nusantara Vol 39 No.3,2006. (Diakses
tanggal 05 September 2015).
Listyana Anisa, (2015). Hubungan
Pengetahuan dengan Penatalaksanaan Stiver, Shirley. I. (2008). Prehospital
Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu- Management of Traumatic Brain Injury.
Lintas di Satlantas Polresta Surakarta. California : Journal of
STIKES Kusuma Husada. neurosurgery.(Diakses tanggal 05
Surakarta.(Diakses tanggal 11 Desember September 2015).
2015).
Sukoco Budi. (2010). Penentuan Rute Optimal
Lumbu RS., Niswar M., Baharuddin M.(2013) Menuju Lokasi Pelayanan Gawat Darurat
Management Information System For Berdasarkan Waktu Tempuh Tercepat.
Coping With Disaster Victims. Universitas Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Hasanuddin. (Diakses tanggal 18 September (Diakses tanggal 12 November 2015
2015).

Susilawati, D. (2010). Hubungan Waktu WHO, (2009). Global status report on road
Prehospital dan Nilai Tekanan Darah safety: time for action. diakses dari
dengan Survival dalam 6 Jam Pertama http://www.un.org/ar/roadsafety/pdf/roadsaf
pada Pasien Cedera Kepala Berat di IGD etyreport (Diakses tanggal 01 Desember
RSUP. Dr.M.Djamil Padang. Universitas 2015).
Andalas.

265