You are on page 1of 11

Nama Peserta: Dendi Nugraha Islianto

Nama Wahana: PKM Pulo Gadung

Topik: Bells Palsy Sinistra

Tanggal (kasus): 22 Agustus 2017


Nama Pasien: Tn FS No. RM : P317209012182050

Tanggal Presentasi: 29 Agustus 2017 Nama Pendamping: dr. Lida Nurhisan

Tempat Presentasi: PKM Pulo Gadung

Obyektif Presentasi:

Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Lansia Bumil


Dewasa
Deskripsi: Pasien laki-laki usia 46 tahun, keluhan mulut mencong ke arah kanan sejak 11 hari yang lalu .

Tujuan: Melakukan diagnosis, menatalaksana, serta mencegah terjadinya komplikasi


Bahan bahasan: Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara membahas: Diskusi Presentasi dan Email Pos
Data utama untuk bahan diskusi: diskusi

1. Diagnosis:

Bells Palsy Sinistra

Diagnosis Banding

Trauma Kapitis

Sindroma Guialain-Bare

Tumor Intrakranialis
2. Riwayat Pengobatan:

Pasien sudah berobat ke puskesmas untuk mengurangi keluhan namun keluhan tidak berkurang.

3. Riwayat Kesehatan/Penyakit:

Pasien datang ke Poli Umum PKM Pulo Gadung mengeluhkan mulut mencong ke kanan sejak 11 hari yang lalu. Keluhan dirasakan terutama

saat pasien berkumur-kumur di pagi hari dan merasakan air keluar dari mulutnya. Awalnya pasien tidak memeriksakan kondisinya, karena

sibuk dengan pekerjaan, namun di pagi hari saat bangun pagi 8 hari lalu sebelum ke puskesmas, mulut penderita mencong ke kanan, mata kiri

tidak menutup sempurna sehingga terasa perih dan berair, pipi terasa kencang. Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, dan kaku. Makan baik, bila

minum air sering keluar dari sisi mulut sebelah kiri. Tidak ada keluhan nyeri di sekitar telinga kiri. Riwayat keluar cairan dari telinga kiri tidak

ada, tidak ada gangguan pendengaran. Keluhan lain yang dirasakan pasien merasakan sakit kepala sebelah kiri sejak 8 hari lalu hilang timbul.

Pasien memiliki riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari sebelumnya.Pada tanggal 14 Agustus 2017 pasien
4. Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien tidak mempunyai keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi. Riwayat penyakit kencing manis tidak

pernah dimiliki oleh pasien. Riwayat alergi makanan maupun obat-obatan dan asma disangkal.

5. Riwayat Keluarga dan Lingkungan:

Riwayat keluhan yang sama dikeluarga disangkal. Riwayat alergi makanan maupun obat-obatan dan asma disangkal.

6. Riwayat Sosial/Kebiasaan:

Pasien tidak pernah merokok. Pasien adalah seorang driver (Go-jek). Kebiasaan pasien setiap hari adalah bekerja dari jam 8 pagi sampai 8

malam dan hanya menggunakan helm half face. Pasien sering tidur di lantai dan menggunakan kipas angin karena cuaca sangat panas.

7. Lain-lain: -
Daftar Pustaka:

1. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2010


2. Lumbantobing SM. Neurogeriatri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2011
3. Tiemstra J,MD & Khatkhate Nandini. Bell's Palsy: Diagnosis and Management. University of Illinois at Chicago College of Medicine,
Chicago, Illinois : 2007. http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p997.html

4. C Taylor Danette, DO, MS. et all Bell Palsy. Clinical Assistant Professor, Department of Neurology and Ophthalmology, Michigan State
University College of Osteopathic Medicine; Senior Staff Neurologist, Henry Ford Health Systems: 2013
http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview#showall

5. Reginald Baugh MD. Et all. Clinical Practice Guidline Summary : Bells Palsy. AAO-HNS bulletin November : 2013
https://www.entnet.org/sites/default/files/Bulletin_BellsExecSummary_Final_102313.pdf
Hasil Pembelajaran:

a. Diagnosis Bells Palsy berdasarkan gejala dan pemeriksaan.

b. Etiologi dan penyebab Bells Palsy

c. Patofisiologi Bells Palsy

d. Penatalaksanaan Bells Palsy

e. Edukasi pada pasien mengenai Bells Palsy


1. Subyektif

Pasien mengeluhkan mulut mencong ke kanan sejak 11 hari yang lalu. Keluhan dirasakan terutama saat pasien berkumur-kumur di

pagi hari dan merasakan air keluar dari mulutnya. Awalnya pasien tidak memeriksakan kondisinya, karena sibuk dengan pekerjaan, namun

di pagi hari saat bangun pagi 8 hari lalu sebelum ke puskesmas, mulut penderita mencong ke kanan, mata kiri tidak menutup sempurna

sehingga terasa perih dan berair, pipi terasa kencang. Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, dan kaku. Makan baik, bila minum air sering

keluar dari sisi mulut sebelah kiri. Tidak ada keluhan nyeri di sekitar telinga kiri. Riwayat keluar cairan dari telinga kiri tidak ada, tidak ada

gangguan pendengaran. Keluhan lain yang dirasakan pasien merasakan sakit kepala sebelah kiri sejak 8 hari lalu hilang timbul. Pasien

memiliki riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari sebelumnya.Pada tanggal 14 Agustus 2017 pasien sudah

berobat ke Poli 24 jam dan diberi obat Asam mefenamat 3x1 Vit b12 2x1 Vit b 1 2x1, kemudian pada tanggal 18 agustus 2017 pasien

berobat kembali dan mengatakan tidak ada perubahan kemudian diberikan obat Prednison tablet 5 mg 3x2 mg Vit B12 50 mcg 2x2 tab Vit

B1 50 mcg 2x2 tab Anti migren ergotamin tatrat 1 mg + kafein 50 mg 2x1 tab. Pada tanggal 22 Agustus 2017 pasien berobat kembali dan

mengatakan mencong di wajah sudah berkurang dari keluhan sebelumnya.

2. Objektif

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaaan umum tampak sakit ringan, suhu 36,3o C, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84

x/menit, RR 20 x/menit, berat badan 62 kg, tinggi badan 158 cm, status gizi normal (IMT :24,8). Pada status generalis kepala, mata,

telinga, hidung, mulut, leher, paru, jantung, abdomen semua dalam batas normal. Pada status neurologis, Nnervus fasialis didapatkan
tidak dapat mengerutkan dahi, menutup mata, mengangkat alis, dan menyeringai pada bagian sinistra wajah, serta pada daya pengecap 2/3

lidah tidah dapat merasakan rasa manis.

3. Assessment

Pada pasien ini dengan diagnosis kerja Bells Palsy Sinistra. Bell palsy adalah kelumpuhan perifer pada saraf wajah yang
menyebabkan kelemahan otot pada satu sisi wajah. Pasien yang terkena kelumpuhan wajah unilateral timbul selama satu hingga tiga hari
dengan keterlibatan dahi dan tidak ada kelainan neurologis lainnya. (JEFFREY D. TIEMSTRA, MD, et all-AFP).3 Untuk penegakan
diagnosis Bells Palsy, dapat digunakan :Anamnesa Bagian atas dan bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan.
Fisura palpebral tidak ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa
diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena lagoftalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara
wajar sehingga tertimbun di situ. Pemeriksaan motoris Pemeriksaan fungsi motorik N. Fasial yang sistematik yaitu dengan mengamati
kelainan asimetri yang timbul pada wajah akibat kelumpuhan salah satu otot wajah. Pemeriksaan sensoris Pemeriksaan fungsi sensorik
yaitu dengan menilai dengan daya pengecapan (citarasa). Hilangnya atau mengurangnya daya pengecapan dinamakan ageusia dan
hipogeusia. Bilamana pengecapan asin dirasakan sebagai asam-manis dan sebagainya, maka daya pengecapan yang abnormal itu dinamakan
Pargeusia.4 Sedangkan Kategori Bell palsy oleh House Brackmann Derajat 1 fungsional normal Derajat 2 angkat alis baik, menutup mata
komplit, mulut sedikit asimetris. Derajat 3 Angkat alis sedikit, menutup mata komplit dengan usaha, mulut bergerak sedikit lemah dengan
usaha maksimal. Derajat 4 tidak dapat mengangkat alis, menutup mata inkomplit dengan usaha, mulut bergerak asimetris dengan usaha
maksimal. Derajat 5 tidak dapat mengangkat alis, menutup mata inkomplit dengan usaha, mulut sedikit bergerak Derajat 6 tidak bergerak
sama sekali.5
4. Plan

Farmakologis

 Prednison tablet 5 mg 3x2 mg

 Vit B12 50 mcg 2x2 tab

 Vit B1 50 mcg 2x2 tab

 Anti migren ergotamin tatrat 1 mg + kafein 50 mg 2x1 tab

KIE :

1. Istirahat terutama pada keadaan akut .


2. Tiap malam mata diplester . Gunanya melatih mata yang tidak dapat menutup supaya dapat menutup bersamaan.
3. Melakukan massage pada daerah wajah yang tidak dapat digerakkan

Pedoman pengobatan bells palsy saat ini yang disarankan adalah Prednisone (1 mg/kgBB/hari) 80 mg sehari selama 5 hari
kemudian ditapering off tergantung dari progresifitas kelemahan yang bertambah berat atau stabil. Bila stabil, hentikan steroid tanpa
tapering atau tapering cepat dalam 4 hari berikutnya sampai total dosis 530 mg. Bila bertambah berat, tapering dalam 7 hari berkutnya
sampai total dosis 680 mg. Catatan: 5 mg prednisone equivalen dengan 0.6 mg-0.75 mg betamethasone, 25 mg of cortisone, 0.75 mg
dexamethasone, 20 mg hydrocortisone, 4 mg methylprednisolone, 5 mg prednisolone, dan 4 mg triamcinolone. Pemberian terapi antivirus
masih kontroversi. Penelitian menduga acyclovir kombinasi dengan prednisone kemungkinan efektif dalam meningkatkan keluaran
fungsional. Acyclovir, 400 mg lima kali sehari selama 7-10 hari dapat diberikan bila fungsi ginjal normal. Valacyclovir, 1 gr tiga kali sehari
sering digunakan karena frekuensi pemberian yang lebih jarang3,4.

Pada pasien ini awal diberikan asam mefenamat dan dilanjutkan pemberian dexamethason untuk mengurangi rasa nyeri pada wajah
dan untuk mengobati keluhan bells palsy. Pada pasien ini telah dilakukan intervensi karena didapatkan tidak ada perubahan pada keluhan

kemudian pasien diberikan prednisone, vitamin b12 dan vitamin b1. Pada pasien juga diberikan obat untuk mengurangi nyeri kepala berupa

antimigren ergotamin .

Prognosis pada pasien ini dalam hal quo ad vitam: dubia ad bonam dilihat dari kesehatan dan tanda-tanda vitalnya masih baik; quo ad

functionam: dubia ad bonam karena pasien masih bisa beraktivitas sehari-hari; dan quo ad sanationam: dubia ad bonam karena pasien masih

bisa melakukan fungsi sosial kepada masyarakat sekitar.