You are on page 1of 16

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak Pelumas/ Oli


Minyak pelumas/ oli merupakan produk sulingan minyak
mentah melalui proses fisik kimia yang didihkan pada suhu 300
400 0C dengan atom karbon yaitu C15 C18 (Cookson, 1995).
Menurut Wartawan (1983) minyak mineral banyak digunakan
sebagai minyak pelumas karena memiliki gesekan yang
rendah,memberikan perlindungan terhadap terjadinya korosi.
Minyak mineral mengandung bahan bakar terutama dari elemen
elemen hidrogen dan karbon. Hidrogen dan karbon merupakan
elemen organik yang membentuk ikatan dan dikenal dengan nama
Hidrokarbon .

2.1.1 Sifat Minyak Mineral


Menurut Indriati (2006) sifat minyak mineral yang perlu
diketahui antara lain :
1. Warna
Minyak pelumas / Oli mempunyai beberapa warna mulai dari
warna bening (transparan) sampai dengan warna gelap. Warna
warna tersebut diantaranya adalah kuning, merah dan biru. Hal
hal tertentu warna dari minyak dapat menunjukkan jenis
minyaknya. Dari proses pengolahan minyak bumi umumnya
dapat diandai bahwa pada fraksi fraksi yang mempunyai titik
didih yang makin tinggi akan mempunyai warna gelap. Warna
dapat pula digunakan untuk membandingkan antara minyak
pelumas/oli baru dan minyak pelumas/oli bekas. Tingkatan dari
minyak pelumas/oli yang memberikan terjadinya perbedaan
warna.

2. Oksidasi
Oksidasi yang terjadi pada minyak pelumas/oli berlangsung
lambat di bawah kondisi ruangan. Oksidasi minyak dalam

5
6

lingkungan alamiah bergantung pada faktor faktor seperti suhu,


kadar garam, kepekatan hara makanan anorganik, tingkat dispersi
dalam air, ragam dan jenis jasad renik, serta komposisi kimia dari
minyak tersebut (Conell dan Miller, 1995).

3. Korosifitas
Ikatan sulfur terutama hidrogen sulfida dan polisufida yang
terkandung di dalam minyak mempunyai sifat korosif yang
menyebabkan iritasi. Oleh karena itu di dalam proses pengolahan
sulfat sulfat tersebut dikurangi sampai mencapai kadar sulfat
yang sedikit.

4. Emulsifikasi
Minyak mineral murni dicampur dengan air murni di dalam
waktu yang singkat akan terjadi pemisahan. Apabila minyak
terkontaminasi (terkotori) kekuatan tingkat pemisahannya akan
menurun dan terjadi emulsi.Kontaminasi terjadi pada minyakpada
minyak dikarenakan oleh bahan bahan seperti partikel partikel
logam, partikel debu, sejumlah asam logam alkali dan sebagainya.

5. Titik Nyala
Titik nyala secara prinsip untuk mengetahui bahaya
terbakarnya produk produk minyak bumi. Minyak Pelumas / oli
mempunyai titik nyala 2240C dan titik leleh sebesar 540C.

2.2 Karakteristik Limbah Cair B3


Limbah oli bekas merupakan limbah cair dari usaha
perbengkelan dan termasuk katagori limbah cair. Bahan
pelarut/pembersih pada umumnya mudah sekali menguap,
sehingga keberadaanya dapat menimbulkan pencemaran
lingkungan. Oli merupakan termasuk bahan bakar yang mudah
terbakar oleh nyala api dan juga bahan yang mudah sekali
terbawa oleh aliran air
Hasil analisis laboratorium kimia kandungan limbah oli
terdiri dari 18,32% air , 2,43 minyak (hidrokarbon), 57,16%
7

bahan organik, 8,65% SiO2, 6,7% AL2O3, dan 5,23%


CaO.Diketahui COD yang terkandung dalam sampel sebesar 536
mg/l dan kandungan TSS sebesar 2473 mg/l. Keberadaan bahan
organik dalam jumlah yang besar menyebabkan kebutuhan
oksigen yang meningkat dalam badan air. Hal ini jika tidak
terpenuhi dapat mengakibatkan penipisan oksigen dan kondisi
anoksik pada air yang dapat membahayakan kelangsungan hidup
biota air.
Minyak pelumas/ oli bekas adalah minyak pelumas/oli
yang telah digunakan pada suatu usaha atau kegiatan yang telah
berubah warna dan mengandung pertikel partikel logam yang
dapat dimanfaatkan kembali. Menurut Peraturan Pemerintah no.
85 tahun 1999 mengenai Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
no.18 tahun 1999 mengenai Pengelolaan Limbah B3, minyak
pelumas / oli bekas termasuk dalam katagori sumber limbah tidak
spesifik dan memerlukan penanganan tertentu agar tidak
mencemari lingkungan. Bahan bahan yang terkandung didalam
limbah oli bekas seperti hidrokarbon, logam dan bahan pengotor
lainnya termasuk dalam kategori B3 (Kompas, 2005).
Karakteristik limbah b3 yaitu:
1. mudah meledak
2. mudah terbakar
3. bersifat reaktif
4. beracun
5. infeksius
6. korosif

Limbah B3 mengandung zat beracun yang apabila tercuci


dapat mencemarkan air permukaan terutama tempat pembuangan
limbah oli bekas. Dampak terhadap lingkungan pada lapisan atas dan
vegetasi alami biasanya akan menyaring banyak dari polutan keluar
tetapi lapisan kedap air yang menutupi sebagian besar permukaan di
mana polutan tersebut berasal membawanya tepat ke badan saluran
air dan ke sungai sehingga meracuni biota air dan ikan yang kita
makan serta ekosistem. Kandungan yang terdapat pada limbah oli
8

bekas adalah hidrokarbon dan sulfur yang sangat berbahaya jika


terurai pada air ataupun tanah.
Air buangan limbah oli bekas kualitasnya bergantung dari
proses yang digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan
zat toksik pada air buangannya biasanya rendah. Untuk pengendalian
pencemaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengeluarkan
Peraturan Gubernur no.72 tahun 2013 tentang baku mutu air limbah,
air limbah oli bekas mengikuti pada baku mutu air limbah usaha
pencucian kendaraan bermotor karena limbah oli bekas juga
termasuk limbah usaha perbengkelan dimana usaha pencucian
kendaraan bermotor adalah usaha perbengkelan yang baku mutunya
tertera pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Baku Mutu Air Limbah Usaha Pencucian


Kendaran Bermotor

No Parameter Kadar Maksimum (mg/L)

1 Minyak dan Lemak 10


2 BOD 100
3 COD 250
4 TSS 100
5 pH 6-9
6 MBAS (Deterjen) 10
7 Fosfat (sebagai P2O4) 10
Sumber: Peraturan Gubernur Propinsi Jawa Timur No.72, Tahun 2013

2.3 Pencemaran Air dan Pengendaliannya


Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air
oleh kegiatan manusia, sehingga kualitasnya turun sampai tingkat
tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai
dengan peruntukannya. Menurut Connel dan Miller (1995)
terdapat beberapa kelompok pencemar air, yaitu :
9

1. Bahan organik
Pada dasarnya terdiri atas karbohidrat, protein dan lemak
yang menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dengan
cara menstimulasi pertumbuhan jasad renik.
2. Hara makanan tumbuhan
Makanan yang mengandung unsur hara biasanya kaya akan
nitrogen dan fosfor, dan mampu menstimulasi pertumbuhan
tanaman secara berlebihan.
3. Zat zat beracun
Kelompok ini mengganggu metabolisme dan aktivitas
fisiologis dalam cara yang merugikan dalam kepekatan
rendah.
4. Padatan Tersuspensi
Senyawa ini mempunyai pengaruh yang mirip dengan
senyawa beracun namun bertindak melalui hubungan
timbal balik fisik pada kepekatan yang cukup tinggi.
5. Energi
Pencemaran energi terutama disebabkan oleh pelepasan
panas. Pengaruhnya mirip dengan pengaruh zat beracun
namun aktivitas ini disebabkan masuknya energi panas.
6. Jasad renik patogen
Ini menyebabkan suatu pengaruh beracun pada makhluk
hidup dibandingkan dengan senyawaan kimia.

Pengendalian merupakan suatu upaya pencegahan,


penanggulangan, dan pemulihan. Penetapan baku mutu
limbah cair adalah salah satu upaya pengendalian
pencemaran air. Untuk memastikan limbah yang dibuang
telah memenuhi baku mutu atau tidak, dilakukanlah
pemantauan menggunakan parameter fisik-kimia, tetapi ada
juga yang menggunakan parameter biologis (menggunakan
ikan) untuk mengetahui efeknya terhadap biota air.
10

2.4 Hubungan Konsentrasi dan Respon


Organisme tidak semuanya mempunyai respon yang sama
terhadap konsentrasi pemaparan yang sama.proses pada efek
dapat bervariasi terhadap organisme,ada yang pengaruhnya besar
tapi adapula yang sedikit bahkan tidak sama sekali. Variasi
biasanya lebih sedikit pengaruhnya pada organisme pada spesies
yang sama, pada umur yang sama dan pada kesehatan yang sama
(Rand dan Petrocelli ,1985).
Jumlah bahan kimia yang masuk ke dalam organisme
tidak dapat diukur.Dalam hal ini respon hasil observasi lebih tepat
berhubungan dengan konsentrasi sehingga didapat hubungan
konsentrasi respon. Dalam penentuan toksisitas relatif dari zat
kimia baru terhadap organisme aquatik, uji toksisitas akut
dilaksanakan dengan uji LC50 dari bahan kimia dalam air, dimana
organisme terpapar dengan bahan kimia tersebut. LC50 merupakan
perkiraan konsentrasi bahan kimia yang dapat menghasilkan efek
mortalitaspada 50% populasi dalam jumlah yang tidak terbatas,
dari suatu spesies dalam jangka waktu yang tidak terbatas pula
(Rand dan Petrocelli ,1985).

2.5 Toksikologi
Pengertian toksikologi adalah ilmu yang mempelajari efek
merugikan dari zat zat kimia terhadap organisme hidup dan
toksikologi juga mempelajari kemampuan racun pada biota uji
untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk ke dalam tubuh dan
lokasi organ yang rentan terhadapnya toksisitas dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain komposisi dan jenis toksikan,
konsentrasi toksikan, durasi dan frekuensi pemaparan, sifat
lingkungan, dan spesies biota penerima (USEPA, 2002).
Secara sederhana dan ringkas toksikologi dapat
didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek
berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk
hidup dan system biologi lainnya.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 pasal 6
disebutkan bahwa limbah B3 dapat diidentifikasi menurut sumber
11

atau uji karakterisasi atau uji toksisitas. Uji toksisitas adalah


untuk menentukan sifat akut atau khronik limbah. Pada dasarnya
pengujian toksisitas bertujuan untuk menilai efek racun terhadap
organisme, menganalisis secara obyektif resiko yang dihadapi
akibat adanya racun di lingkungan. Toksisitas akut terjadi pada
dosis tinggi, waktu pemaparan pendek dengan efek parah dan
mendadak, dimana organ absorpsi dan eksresi yant terkena
sedangkan toksisitas kronis terjadi pada dosis tidak tinggi
pemaparan menahun, gejala tidak mendadak atau gradual,
intensitas efek dapat parah / tidak. Jenis uji yang digunakan
tergantung pada penggunaan zat kimia dan manusia yang
terpapar. Ada beberapa tingkatan dalam uji toksisitas.

2.5.1 Toksisitas Akut


Toksisitas akut adalah sifat relatif toksikan berkaitan
dengan potensinya menimbulkan efek yang terjadi secara cepat
sebagai hasil pemaparan zat jangka pendek. Efek akut biasanya
memberikan respon seperti kematian. Data toksisitas sering
diekspreksikan sebagai LC50. Untuk LC50 hasil akhir adalah
mortalitas berakhir di waktu khusus. Lama dari pemaparan
biasanya 24 sampai 96 jam dan zat pemaparan umumnya sisa
ketetapan dalam seluruh periode waktu (Boyn et.al,2001).

2.5.2 Toksisitas Kronis


Dalam uji kronik biota uji dipapari toksikan selama kurun
waktu siklus hidupnya . Hal ini menunjukkan bahwa efek
toksikan dapat diketahui pada setiap tahap kehidupan biota uji.
Efek kronis atau sub kronis bisa terjadi karena zat menghasilkan
efek merusak sebagai hasil pemaparan tunggal, tetapi lebih sering
karena pemaparan yang panjang dan berulang-ulang. Berdasarkan
Mangkoediharjo (1999) efek kronis dapat menghasilkan:
a. Efek lethal: Kesalahan/penyimpangan produksi organisme
dalam jangka panjang.
12

b. Efek sub lethal: Perubahan kelakuan, perubahan fisiologis


(hambatan bagi pertumbuhan, reproduksi, perkembangan dan
lain-lain).

Perbandingan Toksisitas Akut dan Toksisitas Kronis


sangat berbeda dalam jumlah waktu dan biaya yang diperlukan
dalam waktu penelitian.
a. Uji kronis membutuhkan uji waktu yang panjang karena
untuk mengetahui siklus atau fase perkembangan yang kritis.
b. Toksisitas kronis membutuhkan banyak biaya dan
memerlukan lebih banyak sumber daya serta peningkatan
jumlah analisa laboratorium.
c. Toksisitas kronis memiliki revolusi waktu lebih besar
daripada toksisitas akut. Dalam kondisi perairan yang
beracun tinggi, organisme akan mati. Dalam kondisi perairan
yang beracun menengah, biota uji akan dapat bertahan hidup,
namun reproduksi biota uji akan terganggu di perairan
dibandingkan dengan dipelihara.

2.6 Toksikan dan Pemilihan Biota Uji


Toksikan merupakan zat yang dapat menghasilkan efek
negatif bagi semua atau sebagian dari tingkat organisasi biologis
(populasi, individu, organ, jaringan, sel, biomolekul) dalam
bentuk perusakan struktur maupun fungsi biologis. Toksikan
dapat menimbulkan efek negatif bagi biota dalam bentuk
perubahan struktur dan fungsional, baik secara akut maupun
kronis/ sub kronis.
Menurut APHA (2005) Uji toksisitas suatu bahan
pencemar dapat dilakukan melalui pengujian terhadap ikan. Biota
yang digunakan harus memenuhi kriteria tertentu yaitu:
Organisme harus sensitif terhadap material beracun dan
perubahan lingkungan.
Tersedia dalam jumlah yang banyak dengan berbagai
ukuran di sepanjang tahun.
Dapat dipelihara di laboratarium.
13

Merupakan sumber daya yang bernilai ekonomis.


Sesuai untuk kepentingan uji hayati.

2.7 Metode Perhitungan LC50


Menurut (Margiastuti, 2005) metode yang dapat
digunakan untuk menghitung LC50 adalah :
1. Straight-line graphical interpolation (Metode kalkulus
Grafis)
a. Gambaran cepat distribusi data untuk dilihat adanya
korelasi positif konsentrasi-efek akut.
b. Tidak memperhitungkan batas-batas kepercayaan LC50.
2. Moving average interpolation (metode rata-rata sudut
bergerak).
Metode ini dipakai apabila:
a. Tidak ada akut parsial dalam pengujian.
b. Sedikitnya terdapat dua data kosentrasi toksikan yang
lebih besar dari LC50.
c. Memperhitungkan batas-batas kepercayaan 95% dari
hasil LC50.
3. Lithfield-Wilcoxon Abbreviated Method
a. Harus ada efek akut parsial dalam pengujian.
b. Memperhitungkan batas-batas kepercayaan 95% dari
hasil LC50.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
metode Lithfield-Wilcoxon Abbreviated dimana menurut
Mangkoedihardjo dan Samudro (2009) prosedur perhitungannya
dengan cara sebagai berikut :
a) Memasukkan data kosentrasi toksikan dan proporsi respon
pada grafik serta menentukan garis korelasinya dengan
persamaanya. Garis korelasi tersebut merupakan garis proporsi
respon harapan.
14

b) Mengindentifikasi proporsi respon harapan (RH) pada tiap


kosentrasi dengan memasukkan nilai kosentrasi toksikan pada
persamaan garis korelasi.
c) Menghitung perbedaan mutlak antara respon uji terkoreksi (R)
dan respon harapan (RH) untuk setiap kosentrasi.
d) Menghitung Chi2 tiap kosentrasi dengan bantuan nomograf
Chi2.
e) Menghitung tingkat kebebasan (N) dengan tabel Chi2 untuk
batasan kepercayaan 95%.
f) Menghitung LC50 berikut batas-batas kepercayaan 95%
berdasar garis korelasi proporsi respon harapan yang telah
diterima.

2.8 Ikan Mujair dan Ikan Nila


Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ikan Mujair (Tilapia missambicus) dan ikan nila (Oreocromis
niloticus). Kedua hewan uji tersebut mempunyai sifat dan
karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Adapun
spesifikasi pada kedua jenis ikan tersebut selanjutnya dijelaskan
sebagai berikut.

2.8.1 Deskripsi ikan Mujair


Ikan Mujair termasuk jenis ikan air tawar yang dapat
dikonsumsi. Ciri-ciri fisik ikan mujair adalah memiliki bentuk
badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Panjang
total maksimum ikan mujair dapat mencapai 40 cm. Ikan mujair
memiliki mulut yang agak besar dan rusuk yang tidak sempurna
menjadi 2 bagian. Sirip dan perut berwarna hitam kemerah-
merahan (Anonim, 2004). Menurut Barbara, F. dan Choir (1990)
dalam Sulistyani (1995), sistematika ikan mujair:

Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleastei
Ordo : Percomorphi
15

Sub Ordo : Pecoidea


Famili : Chicilidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Tilapia missambicus

Gambar 2. 1 Ikan Mujair

Siklus hidup yang terjadi pada ikan mujair yaitu ikan


mujair secara seksual akan matang pada usia 3 bulan atau lebih
(ukuran sekitar 10 cm, berat 60-100 gram). Sebelum reproduksi,
ikan mujair jantan akan merubah warna menjadi lebih gelap
Sebelum kawin, ikan mujair jantan akan mencari dasar air
berpasir sebagai tempat ideal sarang mereka. Lokasi vegetasi
lebih disukai, agar sarang mereka tidak mudah terdeteksi oleh
predator. Ikan mujair jantan kemudian membuat lubang dangkal
berdimeter 30 cm untuk tempat mujair betina meletakkan telur.
Setelah sarang disiapkan, mujair jantan melanjutkan aksinya
untuk meyakinkan mujair betina untuk kembali ke sarang.

2.8.2 Deskripsi ikan Nila


Menurut Klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah
ikan nila adalah Oreocromis niloticus. Nama Genus Oreocromis
menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia.
Perubahan nama tersebut dipelopori oleh Trewavas. Menurut
Trewavas (1982) dalam Suyanto, (2003) mempunyai klasifikasi
sebagai berikut:
Pylum : Osteichthyes
16

Klas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Familia : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis niloticus
Bentuk tubuh ikan nila mirip ikan mujair namun
warnanya lebih cerah dan dapat tumbuh lebih besar, panjang
tubuhnya dapat mencapai 50 cm. Ikan nila bersaudara dekat
dengan ikan mujair yang telah tersebar luas di Indonesia. Hal ini
dikarenakan kedua ikan tersebut berasal dari genus yang sama.
Ciri ikan nila adalah garis vertikal yang bewarna gelap di sirip
ekor sebanyak 6 buah. Garis seperti itu juga terdapat di sirip
punggung dan sirip dubur sedangkan ikan mujair tidak memiliki
garis garis vertikal di ekor, sirip punggung dan sirip dubur
(Suyanto, 2003).
Ikan Nila terkenal sebagai ikan yang tahan terhadap
perubahan lingkungan hidup. Ikan nila dapat hidup di lingkungan
air tawar,air payau dan air asin. Pemindahan ikan nila secara
mendadak ke dalam air yang kadar garamnya berbeda dapat
mengakibatkan stress dan kematian pada ikan. Ikan Nila yang
masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan
dibandingkan ikan nila yang sudah besar. Nilai pH air tempat
hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5 tetapi pertumbuhan
optimalnya terjadi pada pH 7 8 (Suyanto,2003).

Gambar 2. 2 Ikan Nila


17

2.9 Kondisi Optimum Untuk Ikan


Menurut Ghufran dan Kordi (2004), air merupakan media
yang vital untuk kehidupan ikan. Ada beberapa parameter yang
biasa diamati untuk menentukan kualitas suatu perairan,
diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Oksigen
Oksigen (O2) terlarut adalah jenis gas terlarut dalam air
dengan jumlah yang banyak. Oksigen merupakan satu faktor
pembatas, sehingga bila ketersediaannya di dalam air tidak
mencukupi kebutuhan ikan, maka segala aktivitas ikan akan
terhambat. Menurut Zonneveld dan kawan-kawan (1991)
kebutuhan oksigen mempunyai dua aspek, yaitu kebutuhan
lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang
terkandung pada keadaan metabolisme ikan. Meskipun beberapa
jenis ikan mampu bertahan hidup pada perairan dengan
konsentrasi 3 ppm, namun konsentrasi minimum yang masih
dapat diterima sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan
baik adalah 5 ppm. Pada perairan dengan konsentrasi oksigen
dibawah 4 ppm, ikan mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu
makan ikan mulai menurun.

2. pH
pH pada air menunjukkan terdapatnya aktivitas ion hidrogen
dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion
hidrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu atau dapat
ditulis pH = - log (H)+. Pada pH rendah (keasaman yang tinggi)
kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya
konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik, dan selera
makan akan berkurang. Pengaruh hubungan pH terhadap
kebutuhan hidup ikan dapat dilihat pada Tabel 2.2.
18

Tabel 2. 2 Hubungan pH Air dan Kehidupan Ikan


pH Pengaruh Terhadap Ikan
< 4,5 Air bersifat racun bagi ikan

Pertumbuhan ikan terhambat dan ikan


5 6,5
sangat sensitive pada bakteri dan parasit

6,5 9,0 Ikan mengalami pertumbuhan optimal

> 9,0 Pertumbuhan ikan terhambat


Sumber: Ghufran dan Kordi, 2004

3. Suhu
Suhu sangat mempengaruhi aktivitas metabolisme
organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan
maupun di perairan tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut.
Kisaran suhu optimum bagi kehidupan ikan adalah 25-52 C.
Bila suhu rendah, ikan akan kehilangan napsu makan dan
pertumbuhannya terhambat, begitu juga sebaliknya bila suhu
tinggi ikan akan stress bahkan mati dan kehabisan oksigen.
4. Pencemaran
Air yang digunakan sebagai kehidupan ikan harus terbebas
dari bahan pencemar. Bahan pencemar dapat berasal dari limbah
rumah tangga seperti deterjen, limbah pertanian seperti pestisida,
dan limbah industri seperti logam-logam berat. Selain berbahaya
bagi ikan, bahan pencemar tersebut juga berbahaya bagi manusia
yang mengkonsumsi ikan tersebut.

2.10 Parameter Penelitian


Pengujian dalam laboratorium ada beberapa parameter
penelitian untuk mengetahui bahwa penelitian memenuhi
persyaratan.
1. Dissolved Oxygen (DO)
Menurut C.Fred Gurnham (1965) dalam Yanti (2007)
oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung
19

dalam air dan diukur dalam satuan milligram per liter. Oksigen
adalah gas yang tak berbau,tak berasa dan hanya sedikit terlarut.
Oksigen terlarut dapat dijadikan ukuran dalam menentukan
kualitas air dan makhluk hidup yang tinggal dalam air sangat
bergantung pada oksigen terlarut. Oksigen terlarut ini digunakan
untuk tanda derajat pengotoran limbah yang ada, semakin besar
oksigen terlarut maka menunjukkan derajat pengotoran yang
relatif kecil.

2. Suhu
Pada Badan Air yang digunakan untuk perikanan,
temperature mempunyai peranan yang sangat penting dimana
tingkat metabolism ikan akan berhubungan secara langsung
dalam temperatur air. Huet dan Timmermans (1971) dalam Yanti
(2007) menyatakan bahwa temperatur mempunyai pengaruh yang
sangat besar dalam atifitas vital ikan seperti pernapasan,
pertumbuhan dan reproduksinya. Peningkatan temperatur dengan
rendahnya kadar DO dalam air akan menyebabkan banyak
oksigen (Polpasert,1989 dalam Yanti 2007).

3. pH
Konsentrasi ion hidrogen adalah ukuran kualitas air. Kadar
ph yang baik adalah kadar yang masih memungkinkan kehidupan
biologis di dalam air berjalan dengan baik. Keadaan air dengan
konsentrasi yang tidak netral akan menyulitkan proses biologis
sehingga mengganggu proses penjernihannya. Ph yang baik bagi
kualitas air adalah netral (7) (Sugiharto,1987 dalam Yanti 2007).

2.11 Penelitian Terdahulu


Untuk menunjang pengetahuan dalam penelitian ini,
diperlukan pula dari penelitian - penelitian terdahulu. Berikut
adalah penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan :
20

Tabel 2. 3 Daftar Penelitian Terdahulu


No. Peneliti Judul Penelitian Hasil

Nilai LC50 untuk Ikan Nila


sebesar (10.50 3.01)%
Uji Toksisitas volume toksikan dan
Limbah Tahu pada bersifat toksik akut
1. Adiguno, 2004
Ikan Nila dan Ikan sedangkan Nilai LC50 untuk
Tawes ikan tawes sebesar (5.50
1.66)% dan bersifat toksik
akut.
Biochemical
biomarkers in Nile Efek toksik biodiesel dan
tilapia campuran dengan
(Oreochromis petroleum diesel pada
Nogueira et al.,
2. niloticus) after hewan akuatik dapat
2011
short-term exposure menentukan lethal
to diesel oil, pure concentration for D.magna
biodiesel and dan O.mykiss.
biodiesel blends
Tingkat toksisitas limbah
3. pelumas pada ikan mas
Penggunaan Ikan tergolong toksik akut
Mas sebagai lemah. Nilai LC50 pada ikan
Indriati, 2006 Bioindikator Zat mas dengan limbah pelumas
Pencemar Sisa adalah (55.92 1.03 ) mg/l
Pelumas. toksikan dan pada ikan mas
dengan minyak pelumas
(64.80 1.04 mg/l toksikan.
Hasil dari Nilai LC50 untuk
Ikan Nila sebesar (9.85
1.15)% volume toksikan
Uji Toksisitas sedangkan Nilai LC50 untuk
Konsentrasi ikan tawes sebesar (4.33
4. Margiastuti, 2005 Deterjen pada Ikan 2.13)% .Konsentrasi
Nila dan Ikan deterjen untuk ikan nila
Tawes memiliki konsentrasi
sebesar 2.5 mg/l dan
konsentrasi deterjen pada
ikan tawes sebesar 2.0 mg/l.