You are on page 1of 44

KATA PENGANTAR

Puskesmas Banjarbaru Utara merupakan instansi di bawah Dinas Kesehatan


Kota Banjarbaru yang bertugas memberikan layanan kepada masyarakat
dalam bentuk jasa layanan kesehatan, tanpa mengutamakan mencari
keuntungan namun tetap menerapkan prinsip efisiensi dan produktivitas.

Dalam rangka melaksanakan Peraturan Menteri Dalam Negeri, Nomor 61


Tahun 2007, tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah, maka disusunlah Rencana Bisnis dan Anggaran Puskesmas
Banjarbaru Utara untuk tahun anggaran 2018.

Buku Rencana Bisnis dan Anggaran ini berisi program, kegiatan, target kinerja
dan anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara Tahun anggaran 2018, yang
merupakan panduan dan pegangan unit kerja dalam melaksanakan kegiatan
pada tahun anggaran 2018

Kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung penyusunan


Rencana Bisnis dan Anggaran ini kami sampaikan terima kasih. Semoga
Rencana Bisnis dan Anggaran ini akan dapat memberikan manfaat dalam
upaya meningkatkan kinerja Puskesmas Banjarbaru Utara.

Banjarbaru, November 2017


Pimpinan BLUD,

Bahrul Ilmi,SKM,MM
NIP.19700906 199002 1 001

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


i
RINGKASAN EKSEKUTIF

Secara umum dapat diartikan sebagai satu satuan organisasi yang


diberikan kewenangan kemandirian oleh dinas kesehatan untuk melaksanakan
tugas-tugas operasional pembangunan di wilayah kerja/kecamatan. Ada tiga
fungsi yang dijalankan Puskesmas yaitu, 1) Menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan, 2) Memberdayakan masyarakat dan keluarga, 3)
Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama (Depkes, 2002).
Mulai tanggal 1 Januari 2018, Puskesmas Banjarbaru Utara direncanakan
menerapkan konsep Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Menurut
Permendagri Nomor 61 tahun 2007, Badan Layanan Umum Daerah yang
selanjutnya disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit
Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah
yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi
dan produktivitas.
Visi puskesmas Banjarbaru Utara adalah Terwujudnya pelayanan kesehatan
masyarakat tingkat pertama yang profesional , mandiri , humanis, dan
berkarakter.
Visi tersebut mengandung pengertian bahwa kondisi Puskesmas
Banjarbaru Utara yang ingin diwujudkan kedepannya adalah Puskesmas yang
terdepan karena pelayanan yang diberikan berkualitas.
Dengan terdepannya pelayanan publik di Puskesmas Banjarbaru Utara,
maka akan menimbulkan multiple effect bagi pembangunan daerah, terutama dari
sisi ekonomi, karena diharapkan dalam beberapa tahun ke depan Banjarbaru
menjadi pusat investasi di Kalimantan Selatan

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


ii
Prognosa realisasi pendapatan dan biaya operasional tahun 2017 dibandingkan
dengan anggaran tahun 2018 adalah sebagai berikut:
Anggaran 2018 Prognosa 2017
No Uraian
(Rp) (Rp)
1. Prognosa Pendapatan Operasional 1.979.912.700 974.488.768
2. Prognosa Biaya Operasional 1.979.912.700 1.443.785.409
Kelebihan Pendapatan atas Biaya 0 -469.296.641

Proyeksi anggaran pendapatan tahun 2018 sebesar Rp1.979.912.700,00 atau


103,17% lebih besar dibandingkan prognosa pendapatan tahun 2017 adalah
sebesar Rp 974.488.768,00 , sedangkan proyeksi anggaran biaya tahun 2018
sebesar Rp 1.979.912.700,00 atau 37,13% lebih besar dibandingkan prognosa
biaya 2017 adalah sebesar Rp1.443.785.409,00. Dalam proyeksi pendapatan
tahun 2018 sudah termasuk anggaran pendapatan yang bersumber dari APBD.

Proyeksi belanja investasi tahun 2018 adalah sebesar Rp85.953.010,00 yaitu


untuk investasi pengadaan peralatan dan mesin serta aktiva tetap lainnya.
Sumber dana investasi tersebut berasal dari dana APBD Pemerintah Kota
Banjarbaru sebesar Rp22.500.000,00 dan dari pendapatan Puskesmas
Banjarbaru Utara sebesar Rp63.453.010,00.

Ambang batas belanja yang diusulkan sebagai antisipasi atas fluktuasi kegiatan
operasioanal rumah sakit adalah sebesar 20%. Besaran ambang batas tersebut
berlaku apabila pendapatan dalam tahun 2018 telah mencapai dan atau melebihi
target pendapatan yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis dan Anggaran
(RBA) Puskesmas Banjarbaru Utara,

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


iii
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar i
Ringkasan Eksekutif ii
Bab I Pendahuluan . 1
A. Gambaran Umum . 1
B. Visi dan Misi BLUD . 3
C. Budaya BLUD Puskesmas 5
D. Susunan Pejabat Pengelola BLUD .............. 6

Bab II Kinerja BLUD Tahun Berjalan (TA 2017) dan


Rencana Bisnis dan Anggaran BLUD TA 20 18 . 10
I. Gambaran Kondisi BLUD 10
II. Pencapaian Kinerja dan Target Kinerja BLUD 29
III. Informasi Lainnya Yang Perlu Disampaikan 36
IV. Ambang Batas Belanja BLUD 36
V. Prakiraan Maju Pendapatan dan Prakiraan
Maju Belanja 36

Bab III Penutup .. 38


A. Kesimpulan 38
B. Hal Lain Yang Perlu Mendapat Perhatian . 39

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


iv
BAB PENDAHULUAN

I
A. Gambaran Umum

1. Sejarah dan Landasan Hukum BLUD

Salah satu agenda reformasi di bidang keuangan negara adalah dari


penganggaran tradisional menjadi penganggaran berbasis kinerja. Dengan
berbasis kinerja ini, arah penggunaan dana pemerintah tidak lagi berorientasi
pada input tetapi pada output.

Pendekatan penganggaran berbasis kinerja sangat diperlukan bagi satuan


kerja pemerintah daerah yang memberikan pelayanan kepada publik dengan
cara mewiraswastakan pemerintah (enterprising the government) yang telah
diatur dalam UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara. Selanjutnya dengan
pasal 68 dan pasal 69, UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara,
instansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan
kepada masyarakat dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan yang
fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas.

Sebagai institusi pelayanan publik, ini merupakan peluang bagi Puskesmas


untuk berkiprah lebih baik bukan hanya output berupa pelayanan kesehatan
yang bermutu tetapi juga bersinergi untuk memperbaiki mutu input yang
selama ini dinilai masih kurang.

Secara umum dapat diartikan sebagai satu satuan organisasi yang diberikan
kewenangan kemandirian oleh dinas kesehatan untuk melaksanakan tugas-
tugas operasional pembangunan di wilayah kerja/kecamatan. Ada tiga fungsi
yang dijalankan Puskesmas yaitu, 1) Menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan, 2) Memberdayakan masyarakat dan keluarga, 3)
Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama (Depkes, 2002).

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


1
Sejalan dengan roda pembangunan yang menganut azas desentralisasi, kini
Puskesmas dituntut untuk lebih mampu memecahkan masalah kesehatan di
wilayah kerjanya masing-masing.
Oleh karena itu setiap perencanaan yang dibuat, tidak harus semua
puskesmas sama. Dalam pelaksanaannya, pelayanan kesehatan yang
diberikan Puskesmas Banjarbaru Utara sesuai dengan apa yang telah
digariskan dinas kesehatan walaupun secara operasional direncanakan
Puskesmas. Dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah di wilayah
kerjanya tentunya dengan bimbingan Dinas Kesehatan.

Mulai tanggal 1 Januari 2018, Puskesmas Banjarbaru Utara direncanakan


menerapkan konsep Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Menurut
Permendagri Nomor 61 tahun 2007, Badan Layanan Umum Daerah yang
selanjutnya disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit
Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah
Daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan
mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
prinsip efisiensi dan produktivitas.

Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD) memberikan fleksibilitas


berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat
untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa,
sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada
umumnya.

Dengan demikian Puskesmas diharapkan dapat mengelola pendapatannya


sendiri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk
memberikan jalan keluar pada puskesmas sebagai pelayanan publik yang
terkadang justru proses birokrasi dalam sistem pembiayaan yang selama ini
dianut kadang ikut menghambat kelancaran tugas dan kegiatan di
Puskesmas

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


2
.
2. Karakteristik Kegiatan/Layanan BLUD

Kegiatan Utama Puskesmas Banjarbaru Utara adalah dalam usaha


pelayanan kesehatan perorangan dengan pendekatan pelayanan medis,
tindakan medik dan keperawatan, pelayanan penunjang medik, dan upaya
rujukan. Dengan core bisnis adalah pelayanan medis.

Dalam upaya menghadapi persaingan global, terutama terhadap kompetitor


layanan sejenis di Kota Banjarbaru, Puskesmas Banjarbaru Utara berusaha
memenangkan persaingan dengan cara menjaga mutu layanan, Leader,
SDM dan Sarana Prasarana, serta terjangkau oleh semua lapisan
masyarakat.

Dengan berbekal sumber daya yang ada dan didukung dengan inovasi
layanan yang tidak dimiliki oleh puskesmas lain seperti Home care, Oneday
care, diharapkan mampu mengundang minat masyarakat baik di wilayah
kecamatan Banjarbaru Utara atau diluar wilayah Kecamatan Banjarbaru
Utara.

B. VISI dan MISI BLUD


1. VISI

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 yang kemudian


diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2005 tentang Badan
Layanan Umum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 61 tahun
2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah, lembaga-lembaga pelayanan sosial milik pemerintah baik
di Provinsi/Kabupaten/Kota dapat mengubah statusnya dari Lembaga
Birokratis menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang merupakan badan
yang memiliki otonomi atau semi otonomi dalam pengelolaan
keuangannya. Dalam peraturan pemerintah tersebut, puskesmas dapat
diklasifikasikan sebagai Lembaga Usaha Non Profit, dengan demikian
prinsip efisiensi dan produktifitas harus menjadi bagian dari social

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


3
management, hal inilah yang nantinya dapat dijadikan starting point untuk
meningkatkan sosial manajemen di Puskesmas pemerintah.

Terkait dengan adanya PP nomor 23 tahun 2005 dan Permendagri nomor


61 tahun 2007 tersebut, maka dalam upaya untuk pengusulan dan
penetapan satuan kerja Instansi Pemerintah untuk menerapkan PPK-
BLUD, Puskesmas Banjarbaru Utara termasuk salah satu instansi
pelayanan kesehatan yang juga berkewajiban memenuhi persyaratan
pada peraturan tersebut. Dengan pengelolaan Badan Layanan Umum
diharapkan Puskesmas Banjarbaru Utara akan lebih mampu bersaing
dengan kompetitor yang saat ini sudah jauh melangkah kedepan,
disamping juga akan lebih leluasa dalam menerapkan prinsip-prinsip
manajemen bisnis guna menjawab tuntutan pelayanan kepada
masyarakat yang paripurna dan prima.

Dalam rangka Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU)


disamping persyaratan substantif juga harus dipenuhi persyaratan teknis
dan administratif. Dengan latar belakang permasalahan seperti tersebut
diatas perlu dimaksimalkan peran dan fungsi Puskesmas Banjarbaru
Utara kearah fungsi sosial dan ekonomi.

Setelah melakukan telaahan secara mendalam dan pembahasan yang


melibatkan seluruh karyawan serta pendapat para stakeholder, maka
ditetapkanlah visi Puskesmas Banjarbaru Utara, yaitu:
Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tingkat Pertama
yang Profesional, Mandiri, Humanis dan Berkarakter.
Visi tersebut mengandung pengertian bahwa kondisi Puskesmas
Banjarbaru Utara yang ingin diwujudkan kedepannya adalah Puskesmas
yang mengutamakan mutu dan kepuasaan pelanggan.

Dengan peningkatan mutu pelayanan publik di Puskesmas Banjarbaru


Utara, maka akan menimbulkan multiple effect bagi pembangunan
daerah, terutama dari sisi ekonomi, karena diharapkan dalam beberapa

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


4
tahun ke depan Banjarbaru Utara menjadi pusat investasi di Kalimantan
Selatan.

2. MISI
Untuk mencapai visi tersebut, Puskesmas Banjarbaru Utara memiliki misi :

1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang profesional;

2. Mengembangkan sarana dan prasarana serta alat kesehatan yang


berkualitas

3. Mengembangkan pelayanan kesehatan yang berbasis terknologi


informasi.

4. Mengembangkan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan.

5. Mendorong terciptanya pembangunan yang berwawasan kesehatan,


bersih dan hijau.

C. Budaya BLUD Puskesmas

Budaya kerja merupakan sikap/perilaku seseorang dalam melaksanakan


kerja sehari-hari yang bermutu dengan selalu berdasarkan nilai-nilai yang
dianut, sehingga dapat menjadi motivasi dan memberi inspirasi untuk
senantiasa bekerja lebih baik.

Puskesmas Banjarbaru Utara telah membangun Kebersamaan yang harus


dihayati dan dilaksanakan oleh setiap karyawan puskesmas agar
produktivitas setiap Tenaga Medis, Paramedis dan Non Medis dapat
meningkat.
Budaya kerja Puskesmas yaitu : PRIMA
P : Profesional
R : Ramah
I : Inisiatif dan Inovatif
M : Malu
A : Akuntabel

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


5
D. Susunan Pejabat Pengelola UPT BLUD Puskesmas Banjarbaru
Utara dan Dewan Pengawas

I. Pejabat Pengelola BLUD


1. Pemimpin
2. Pejabat Keuangan
3. Pejabat Teknis.

II. Uraian Pembagian Tugas


1. Pemimpin BLUD
Pemimpin BLUD mempunyai kewenangan dan
bertanggungjawab atas tertib penata usahaan anggaran pada
BLUD yang dipimpinnya, termasuk melakukan pemeriksaan kas
yang dikelola oleh Bendahara Penerimaan dan Bendahara
Pengeluaran.
a. Tugas Pemimpin BLUD dalam pengelolaan keuangan
BLUD adalah sebagai berikut;
1) menyusun RBA BLUD;
2) menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran
(DPA) BLUD;
3) melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran atas beban anggaran belanja;
4) melaksanakan anggaran BLUD yang dipimpinnya;
5) melakukan pengujian atas tagihan dan
memerintahkan membayar;
6) melaksanakan pemungutan penerimaan negara
bukan pajak;
7) mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan
pihak lain dalam batas anggaran yang telah
ditetapkan;
8) menandatangani Surat Perintah Membayar
(SPM);
9) mengelola utang dan piutang yang menjadi
tanggungjawab BLUD yang dipimpinnya;

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


6
10)mengelola barang/kekayaan daerah yang menjadi
tanggung jawab BLUD yang dipimpinnya.
11) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan
BLUD yang dipimpinnya;
12)mengawasi pelaksanaan anggaran BLUD yang
dipimpinnya;
13)bertanggungjawab atas pelaksanaan tugasnya
kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
b. Pemimpin BLUD dapat melimpahkan sebagian
kewenangan tugas Pemimpin BLUD dalam hal
pengelolaan keuangan kepada Pejabat Keuangan
berdasarkan pertimbangan:
1) besar jumlah uang yang dikelola;
2) beban kerja;
3) kompetensi;
4) rentang kendali, dan/atau;
5) pertimbangan objektif lainnya.

c. Pelimpahan sebagian kewenangan ditetapkan oleh


Pemimpin BLUD.
d. Pelimpahan sebagian kewenangan meliputi:
1) melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran atas beban anggaran belanja
2) melaksanakan anggaran BLUD yang dipimpinnya;
3) melakukan pengujian atas tagihan dan
memerintahkan membayar;
4) menandatangani SPM;
5) Mengawasi pelaksanaan anggaran BLUD yang
dipimpinnya.

2. Pejabat Keuangan
a. Pejabat Keuangan dijabat oleh Kepala Bagian Tata
Usaha. Pejabat Keuangan membawahi beberapa

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


7
bendahara, staf verifikasi dan staf akuntansi, mempunyai
tugas dan kewajiban :
1) mengkoordinasikan penyusunan RBA;
2) menyiapkan DPA-BLUD;
3) melakukan pengelolaan pendapatan dan biaya;
4) menyelenggarakan pengelolaan kas;
5) melakukan verifikasi SPM yang diajukan;
6) melakukan pengelolaan utang-piutang;
7) menyusun kebijakan pengelolaan barang, aset
tetap dan investasi;
8) menyelenggarakan sistim informasi manajemen
keuangan; dan
9) menyelenggarakan akuntansi dan penyusunan
laporan keuangan.
b. Pejabat Keuangan dalam melaksanakan tugas dan
kewajiban mempunyai fungsi sebagai penanggungjawab
keuangan BLUD.

3. PejabatTeknis
a. Pemimpin BLUD dalam melaksanakan program dan
kegiatan menunjuk seorang pejabat fungsional pada
masing-masing BLUD selaku Pejabat Teknis.
b. Pejabat Teknis yang ditunjuk bertanggung jawab atas
pelaksanaan tugasnya kepada Pemimpin BLUD.
c. Pejabat Teknis mempunyai tugas:
1) mengendalikan pelaksanaan kegiatan;
2) melaporkan perkembangan pelaksanaan
kegiatan; dan
3) menyiapkan dokumen anggaran atas beban
pengeluaran pelaksanaan kegiatan.

Dokumen anggaran yang disiapkan oleh Pejabat Teknis


mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


8
administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang
ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


9
BAB KINERJA BLUD PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
TAHUN BERJALAN 2017

II DAN
RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN
BLUD PUSKESMAS BANJARBARU UTARA TAHUN 2018

I. Gambaran Kondisi UPT BLUD Puskesmas Banjarbaru Utara

A. Kondisi Internal UPT BLUD Puskesmas Banjarbaru Utara


1. Organisasi
Puskesmas Banjarbaru Utara merupakan lembaga teknis daerah,
secara kelembagaan sebagai UPT, berada langsung dibawah Dinas
Kesehatan. Secara umum tidak banyak berperan dalam menentukan
kebijakan kesehatan di Kota Banjarbaru, karena kewenangan ada
pada Dinas Kesehatan.
Secara organisatoris, dari sudut pandang eselonisasi sebagian besar
karyawan lebih banyak sebagai pelaksana teknis, sehingga masih
mempunyai kelemahan dalam bargaining dengan pemerintah dalam
hal pencarian dana-dana, dan sumber daya lainnya.

2. Sumber Daya Manusia


Faktor sumberdaya manusia di Puskesmas sangat dominan. Dokter
berperan utama dalam pelayanan, sehingga dalam mencapai kinerja
yang telah ditentukan, mengedepankan kecepatan dan kelangsungan
pelayanan. Dengan demikian strategi yang diambil yaitu dengan
menyediakan dokter untuk setiap hari pelayanannya.
Untuk tenaga kerja medis perlu ada peningkatan skill sesuai dengan
standar kompetensi tenaga medis sedangkan untuk pelayanan
spesialistik perlu dilakukan kerjasama dengan RSUD Idaman
Banjarbaru atau rumah sakit lain untuk meningkatkan pelayanan
kepada pelanggan sesuai dengan pemetaan penyakit dan kebutuhan
pelanggan.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


10
3. Sarana Prasarana
Dalam mencapai target kinerja, Puskesmas dilengkapi dengan
sarana-prasarana yang mencukupi. Andalan dan keamanan sarana-
prasarana yang ada sangat mendukung dalam kinerja Puskesmas.
Hambatan yang ada adalah masih minimnya tenaga trampil yang
mampu mengoperasionalkan alat, dan biaya operasional.
Untuk pengembangan layanan baru, telah diupayakan menyediakan
sarana prasarana pendukung layanan, sehingga pada saat
operasional sudah tidak terkendala sarana.
Kendala lain dalam bidang sarana prasarana khususnya untuk alat-
alat medis dengan teknologi tinggi yang berpotensi menghambat
kinerja adalah biaya pemeliharaan, yang umumnya mahal, dan
ketersediaan suku cadang.

E. Perangkat Lunak
Dalam mencapai kinerja, Puskesmas dilengkapi dengan perangkat
lunak berupa prosedur-prosedur standar, petunjuk pelaksanaan,
petunjuk teknis, surat-surat keputusan, dan perangkat lunak sistem
informasi manajemen dan keuangan, sehingga apa yang
dilaksanakan dapat dipertanggungjawabkan. Adanya perangkat
lunak, disamping memudahkan pelaksanaan kerja juga dapat sebagai
acuan dalam bertindak dan penentu arah strategi dan kebijakan.

F. Dana
Bahwa operasional Puskesmas memerlukan dana yang besar untuk
memenuhi kebutuhan pembiayaan pembelian obat, bahan medis
habis pakai, jasa pelayanan, bahan makan pasien, operasional
kendaraan, pemeliharaan, gaji karyawan dan lain sebagainya.
Pengeluaran pembiayaan dapat dikatakan per hari bahkan per jam
pelayanan. Namun selama ini, Puskesmas terbentur pada aturan
pengelolaan keuangan berdasarkan Peraturan Daerah yang berlaku,

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


11
sehingga seringkali Puskesmas menghadapi kendala biaya
operasional, dan terhambat pencapaian kinerjanya.

B. Kondisi Eksternal UPT BLUD Puskesmas Banjarbaru Utara


Pencapaian kinerja sangat dipengaruhi oleh peraturan perundang-
undang, kebijakan pemerintah, keadaan persaingan, keadaan
perekonomian daerah dan nasional, perkembangan sosial budaya, dan
perkembangan teknologi antara lain:

1. Undang-undang dan peraturan


a. Permendagri
Dalam aturan Kementerian Dalam Negeri khususnya dalam
penatausahaan keuangan, semua pengeluaran belanja
berdasarkan program dan kegiatan. Dalam format aturan
tersebut, bisa dimungkinkan penambahan program dan kegiatan
berdasarkan kewenangan dan kemampuan daerah. Namun
dalam kenyataannya, pemerintah daerah sangat restriksi dengan
program dan kegiatan yang sudah ada di Permendagri. Dengan
demikian banyak program dan kegiatan upaya kesehatan
perorangan yang tidak bisa masuk dalam penganggaran.

Hal ini menyulitkan manajemen dalam penganggaran belanja,


contoh konkrit adalah belanja untuk jasa pelayanan, sampai saat
ini belum ada aturan, format baku atau kode rekening tentang
jasa pelayanan, sehingga manajemen Puskesmas kesulitan
dalam menyusun penganggaran jasa pelayanan, sementara
Pemerintah Daerah ragu-ragu untuk membuat program, kegiatan
dan kode rekening baru untuk dapat mewadahi belanja tersebut.

b. Permenkeu
Dasar hukum pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum
Daerah yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
pengelolaan dan pertanggungjawaban daerah diatur dalam BAB

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


12
XV Pasal 324, Pasal 325, Pasal 326, Pasal 327, Pasal 328 dan
Pasal 329.
Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. 1 ahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara telah membuka koridor baru kepada
Departemen/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota yang bertugas
memberikan pelayanan publik seperti layanan kesehatan,
pendidikan, pengelolaan kawasan, lisensi untuk menerapkan
pola pengelolaan keuangan yang fleksibel melalui pembentukan
Badan Layanan Umum yang diatur lebih lanjut dalam PP 23
tahun 2005.

Sebagai kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan BLU


perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan keuangan disajikan
dan disusun sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
Kementerian/ Lembaga/Pemerintah Daerah. Untuk itu Laporan
Keuangan BLU disampaikan secara berkala kepada
Menteri/Piminan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai
dengan kewenanggannya untuk dikonsolidasikan dengan
laporan keuangan Kementrian Negara /Lembaga /SKPD /
Pemerintah Daerah.

Pembinaan keuangan BLUD dilakukan oleh Pejabat Pengelola


Keuangan Daerah (PPKD) dan pembinaan teknis dilakukan oleh
kepala yang bertanggung jawab atas urusan pemerintah yang
bersangkutan. Pembinaan Keuangan BLUD meliputi pemberian
pedoman, bimbingan, supervisi, pendidikan dan pelatihan di
bidang pengelolaan keuangan BLUD.
Permasalahan yang timbul adalah perbedaan standar akuntansi
sebagai dasar penyusunan laporan keuangan BLUD dengan
dasar penyusunan laporan keuangan Kementerian atau
Lembaga. Sesuai dengan pasal 26 ayat (2) PP 23 Tahun 2005
akuntansi dan laporan keuangan BLUD diselenggarakan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Hal ini menjadi

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


13
masalah ketika laporan tersebut dikonsolidasikan dengan
Laporan Keuangan SKPD/pemerintah daerah yang
menggunakan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).

Permasalahan lain timbul ketika satuan kerja tersebut menerima


dana dari APBN seperti pada kasus Puskesmas sebagai BLUD
yang mendapat dana dari APBD. Selain sebagai BLUD juga
berfungsi sebagai Satker yang wajib menyusun Laporan
Keuangan tahunan atas dana APBD yang diterima sesuai
dengan Sistem Akuntansi dimana Laporan Keuangannya disebut
Laporan Keuangan BLU.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005


tanggal 13 Juni 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum (BLU) pasal 26 antara lain menyatakan setiap
transaksi keuangan BLU harus diakuntansikan dan dokumen
pendukungnya dikelola secara tertib dan Akuntansi dan Laporan
Keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi
Akuntansi Indonesia.

Sementara itu Peraturan Menteri Keuangan Nomor


59/PMK.06/2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Sistem Akuntansi
dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat Bab VIII Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga pasal 32 antara lain
Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Tahunan
dilampiri Laporan Keuangan BLU yang berada dilingkungan
Kementerian Negara/Lembaga. Laporan Keuangan BLU
sebagaimana dimaksud disusun berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

c. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah


Peraturan Pemerintah tentang perumah sakitan sampai saat ini
belum begitu jelas, yang ada baru rancangan.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


14
Sedangkan Pemerintah Daerah sesuai dengan Peraturan
Pemerintah nomor 48 tahun 2007, Puskesmas masih dalam
koridor lembaga teknis daerah.

Walaupun ada peraturan Menteri Dalam Negeri dan Peraturan


Menteri Keuangan tentang Badan Layanan Umum, namun
aturan tersebut baru secara tegas untuk Instansi Vertikal,
sehingga untuk Puskesmas Banjarbaru Utara masih dalam
bentuk wacana yang perlu pengkajian secara mendalam.

2. Kondisi Ekonomi Daerah


Secara umum, ekonomi Pemerintah Kota Banjarbaru tergolong daerah
yang memiliki kemampuan ekonomi menengah, sehingga dalam
pengembangan pelayanan inovatif mungkin akan terbentur dalam hal
pentarifan. Walaupun demikian fenomena menarik masyarakat Kota
Banjarbaru adalah semakin banyaknya bermunculan institusi pelayanan
kesehatan swasta yang menawarkan jenis pelayanan kesehatan yang
beragam dengan tarif layanan yang beragam juga.

Dari keterbatasan pendapatan daerah, banyak program dan kegiatan


Puskesmas yang terkendala, sementara kebutuhan untuk pemeliharaan
dan operasional Puskesmas saja masih minim, bahkan tidak sesuai
dengan pendapatan operasional yang dicapai Puskesmas.

3. Sosial Budaya Masyarakat


Warga masyarakat Kota Banjarbaru, memiliki tipe atau berkarakteristik
tradisionil, sehingga budaya dan tradisi masyarakat masih cukup kental
bahkan sangat dilestarikan. Namun demikian ada beberapa perilaku
tradisi yang masih kurang mendukung dalam pembangunan kesehatan,
dan efisiensi pengeluaran masyarakat.

4. Perkembangan Teknologi Kesehatan


Perkembangan teknologi kesehatan sangat pesat dan semakin
canggih. Untuk institusi pelayanan kesehatan yang mampu, mereka

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


15
berlomba-lomba mengadakan alat-alat kesehatan karena didukung
pendanaan yang memudahkan inovasi dan diversifikasi pelayanan
kesehatan. Sementara Puskesmas umumnya gigit jari dan hanya mimpi
untuk dapat memperoleh alat-alat kesehatan dimaksud.

Dengan semakin berkembangnya teknologi kesehatan, banyak alat-alat


kesehatan yang sudah cukup umur tidak diproduksi lagi, dan sekaligus
tidak ada suku cadangnya, hal itu menyulitkan Puskesmas dalam
pemeliharaan alat yang dimiliki.
Artinya perkembangan teknologi kesehatan khususnya alat-alat medis
disamping dapat meningkatkan kinerja Puskesmas tetapi juga dapat
menghambat kinerja Puskesmas, karena ada beberapa alat kesehatan
untuk kerja pelayanan yang tidak sustainable lagi.

5. Perkembangan Teknologi Informasi


Teknologi informasi, mau tidak mau harus dikuasai oleh Puskesmas.
Untuk perangkat kerasnya, bagi kebanyakan Puskesmas daerah tidak
ada kendala, namun dalam pemeliharaan, software, petugas informasi
dan pemeliharaannya membutuhkan dana yang besar. Sementara
kebanyakan SDM Puskesmas masih berorientasi klerikal, dan kurang
peduli dengan data dan informasi.

Dengan adanya teknologi informasi, akan memudahkan manajemen


dalam mengambil keputusan, karena semua informasi dapat
diterangkan dalam sistem informasi manajemen secara terintegrasi.

6. Tingkat Inflasi, dan Nilai Kurs


Tingkat inflasi mempengaruhi operasional puskesmas dalam
mengadakan bahan habis pakai untuk operasional pelayanan, walaupun
secara tidak langsung berdampak pada kinerja puskesmas, namun ada
kekhawatiran adanya pengurangan pendanaan dari berbagai sumber
pendapatan puskesmas, yang kemudian akan mengubah prediksi
kinerja. Nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing utama juga memacu
fluktuasi harga-harga pasar terutama barang-barang untuk kesehatan

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


16
dari luar negeri apalagi dengan seringnya kebijakan pemerintah dalam
menaikkan harga BBM, yang membuat harga-harga domestik
melambung.

Dengan melihat posisi bisnis puskesmas, maka dapat disimpulkan


bahwa pada posisi tersebut menguntungkan, puskesmas mempunyai
peluang dan sekaligus kekuatan sehingga puskesmas dapat
memanfaatkan peluang yang ada, serta mampu mengerahkan semua
sumber daya yang belum optimal menjadi maksimal. Puskesmas dapat
memilih strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif
dengan mengakomodir isu-isu yang relevan yang sesuai dengan Visi
dan Misi antara lain :

1. Mengoptimalkan pelayanan USG dan EKG dengan cara kerja sama


dengan pihak ketiga.
2. Dengan adanya BLUD Puskesmas berpeluang untuk mengelola
keuangan yang lebih mandiri.

C. Asumsi Makro
1. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 5 (lima) tahun
belakangan ini menunjukkan signifikansi yang bagus, terutama
menunjukkan kebangkitan dari keterpurukan kondisi ekonomi Indonesia.
Iklim pertumbuhan ekonomi Indonesia ini diprediksikan akan terus
berkembang sehingga mampu lagi berswasembada dan menjadi macan
asia.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


17
Bahwa kondisi ekonomi yang terus membaik ini, tidak diikuti oleh
penurunan inflasi, sehingga dimungkinkan adanya kenaikan harga-harga
dasar, serta adanya kebutuhan kebutuhan masyarakat secara nasional
semisal kebutuhan pendidikan, sandang, pangan dan perumahan yang
semakin meningkat, maka dimungkinkan alokasi konsumsi kesehatan
penduduk menurun, dan harga-harga yang semakin naik akan
menyebabkan meningginya unit cost layanan kesehatan.

Pertumbuhan Ekonomi Kota


Banjarbaru Periode 2010-2014

2. Tingkat Inflasi
Tingkat Inflasi Indonesia sejak tahun 1998 s/d 2002 sangat tinggi
hampir kearah hyper inflasi, hal ini dipicu oleh kondisi politik Indonesia yang
tidak stabil serta euphoria reformasi, meskipun euphoria tersebut masih
saja bergejolak sampai saat ini, namun masih bisa dikendalikan tidak
mempengaruhi kenaikan inflasi. Inflasi pada kurun waktu 2003 s/d 2007
dipengaruhi oleh harga BBM dalam negeri, sehingga masyarakat panik
untuk memborong semua (bahkan yang tidak perlu sekalipun) sehingga
harga-harga bahan pokok naik.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


18
Faktor inflasi yang mencapai dua digit pada tahun 2006 cukup
berperan pada kenaikan nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
perkapita. Meski secara nominal terjadi kenaikan PDRB perkapita yang
cukup tinggi, namun secara riel terjadi perlambatan pertumbuhan PDRB
perkapita. Pada tahun 2006 PDRB perkapita atas harga konstan 2000
tercatat Rp. 5,18 juta atau tumbuh 2,33% dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Angka pertumbuhan ini lebih kecil daripada pertumbuhan
tahun 2005 yang sebesar 3,31%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada
tahun 2006 diperkirakan menjadi faktor penekan PDRB perkaita riel karena
tahun-tahun sebelumnya indikator ini mampu tumbuh cukup besar seiring
dengan meningkatnya kinerja ekonomi.

Sepanjang 2009, laju inflasi Indonesia jauh di bawah target, yakni


hanya mencapai 2,78%. Pada Desember, inflasi hanya sebesar
0,33%. Inflasi sebesar 2,78% tercatat sebagai inflasi terendah sepanjang
sejarah Indonesia. Selama ini, inflasi Indonesia cenderung di atas 5%. Laju
inflasi yang rendah sepanjang 2009 disebabkan oleh terjadinya deflasi
pada barang-barang yang harganya ditetapkan oleh pemerintah, seperti
bahan bakar minyak dan listrik. Untuk harga barang yang ditetapkan
pemerintah malah terjadi deflasi minus 3,26%.

Gambaran inflasi Indonesia tahun 2007 s/d 2016 sebagai berikut

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


19
Sepanjang tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, tingkat inflasi
(tahunan) di Kalimantan Selatan mengalami gejolak naik dan turun. Inflasi
tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu mencapai 9,06 persen. Naiknya
inflasi pada periode ini diakibatkan kondisi cuaca yang kurang mendukung
dan gelombang yang tinggi sehingga jalur distribusi barang terhambat dan
pasokan barang menjadi terbatas.

Inflasi tahunan di Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2009 s/d.


2013, seperti berikut ini:

10
9.06
9

8 6.98
5.96
7
3.86 3.98
6

4
2009 2010 2011 2012 2013
3
Kalimantan Selatan
2

1 Selama tahun 2009 sampai dengan 2012 perkembangan nominal


PDRB0 Kota Banjarbaru terus meningkat dari sebesar 1.696,61 milyar
rupiah menjadi 2.360,08 milyar dan pada tahun 2013 meningkat sebesar
2.657,29 milyar rupiah. Besaran PDRB ini dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas kegiatan
ekonomi Kota Banjarbaru mengalami peningkatan baik dari nilai nominal
maupun realitas produksinya.
3. Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar Amerika
sangat rentan dengan issu-issu negatif tentang Indonesia, dan terkait erat
dengan harga harga saham. Mimpi buruk tidak berharganya mata uang
rupiah terhadap dollar Amerika dialami pada tahun 1997 s/d. tahun 2002.
kemudian berangsur-angsur membaik pada level Rp8.000,00 per dollar

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


20
Amerika sampai dengan tahun 2005. Kemudian turun lagi nilai rupiah, dan
terakhir pada level Rp9.300,00 / US dollar.

Paling tidak ada 3 (tiga) faktor yang akan mempengaruhi nilai tukar
rupiah 2013. Pertama, keluarnya sebagian besar investasi portofolio asing
dari Indonesia. Keluarnya investasi portofolio asing ini menurunkan nilai
tukar Rupiah karena dalam proses ini investor asing menukar Rupiah
dengan mata uang utama dunia, seperti Dolar US untuk diputar dan di
investasikan di negara lain. Hal ini berarti akan terjadi peningkatan
penawaran atas mata uang Rupiah. Peristiwa tersebut akan simetris
dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akan cenderung
turun sejalan dengan kecenderungan penurunan dari Rupiah. Ini
merupakan masalah klasik tentang mobilitas kapital internasional, mobilitas
kapital yang tinggi tentu akan menyebabkan naik-turunnya sebuah mata
uang. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan The Fed (Bank Sentral
Amerika Serikat) dalam rangka mengurangi Quantitative Easing (QE).

Rencana ini akan terus berlangsung sepanjang tahun fiskal 2014


dalam rangka menjalankan program ekonomi Obama dan penyelamatan
ekonomi AS. Arti dari QE ini adalah program Bank Sentral AS yaitu
kecenderungan akan terus mencetak uang dolar AS dalam rangka

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


21
membeli obligasi atau aset-aset keuangan lainnya dari bank dan lembaga
keuangan di AS. Program ini bertujuan menyuntikkan uang ke
intermediaries financial (Bank) di AS dalam rangka pemulihan ekonomi AS
yang terkapar krisis setidaknya sejak 5 (lima) tahun silam.

Harapan investor portofolio yang mengambil uangnya dari


negara emerging markets, seperti Indonesia karena peluang investasi
portofolio di AS memberikan hasil (yields) yang lebih menguntungkan
dibandingkan Indonesia dan negara sejenis. Karena memang yield obligasi
pemerintah AS (government bond) tinggi dan telah menjadi benchmark bagi
para investor tersebut.

Kedua, adalah faktor yang menyebabkan tingginya penawaran


dan rendahnya permintaan atas Rupiah, adalah neraca perdagangan
Indonesia yang defisit, ekspor lebih kecil daripada impor. Defisit neraca
perdagangan Indonesia selama 2014 diperkirakan akan tetap besar pada
sektor non migas, sedangkan sektor migas dan komoditas unggulan seperti
CPO misalnya tetap memberikan nilai surplus.

Hal tersebut disebabkan karena pengusaha kita telah membuat


kontrak yang besar di tahun 2014 ini terhadap import bahan mentah (raw
material) khususnya terhadap China yang akan digunakan guna kebutuhan
di dalam negeri.

Akar permasalahan inilah yang menjadikan nilai Rupiah melemah,


karena highly dependent on import, seharusnya merubah kultur menjadi
bangsa yang unggul, bangsa yang swasembada disegala bidang. Dengan
kekayaan alam dan potensi SDM seyogyanya kita mampu.

Atas dasar faktor kedua itu sehingga impor tersebut yang


menggunakan mata uang utama dunia (misalnya dollar) akan menaikkan
penawaran atas mata uang negara importir, karena dalam impor, biasanya
terjadi pertukaran mata uang negara importir dengan mata uang negara
asal. Karena selama 2013, impor Indonesia lebih besar daripada
ekspornya, maka situasi ini telah melemahkan nilai tukar Rupiah.
Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara
22
Tahun ini karena pengaruh perlemahan tahun lalu (2013) apabila
tren nilai Rupiah perlahan-lahan melemah akibat pengaruh ekonomi global,
yang akan terkena dampaknya adalah harga komoditas impor, baik bahan
baku serta barang modal.

Harga komoditi impor dipatok dengan mata uang negara asal,


umumnya Dolar, sehingga jika nilai mata uang negara tujuan melemah,
maka harga komoditi impor otomatis naik. Contohnya sederhana nya,
apabila nilai tukar Rupiah jatuh sebesar 10% dari 1 Dollar AS = 12.000
Rupiah menjadi 1 Dollar AS = 13.200 Rupiah, maka harga sebuah komoditi
impor pun berbanding lurus atau naik sebesar 10%. Komoditi yang
harganya Rp 1 juta akan naik Rp100 ribu menjadi Rp1,1 juta.

Melemahnya nilai Rupiah tidak hanya berdampak pada kenaikan


harga komoditas impor saja, namun juga dari utang luar negeri, karena
utang luar negeri jelas-jelas ditetapkan dengan mata uang asing dan masih
ada yang tidak diasuransikan (lindung nilai). Apabila nilai tukar Rupiah
berbanding lurus dengan Dollar AS yang melemah sebesar 10%, maka
nilai Rupiah dari utang yang ditetapkan dalam Dollar AS itu juga akan naik
sebesar 10%.

Faktor ketiga, adalah faktor kultur bangsa kita yang bersifat


konsumtif dan boros serta kebijakan publik terkait hutang. Karena
Pemerintah akan kesulitan berhutang didalam negeri, maka kekurangannya
akan dilakukan dengan berhutang ke luar negeri.

4. Harga BBM
Dalam industri kesehatan, harga bahan bakar minyak, juga sangat
mempengaruhi operasional dan pemeliharaan Puskesmas. Hampir semua
bahan dasar untuk operasional Puskesmas dipengaruhi oleh harga BBM.
Dipicu oleh keputusan Pemerintah menaikkan harga BBM dalam kondisi
politik yang tidak stabil, meskipun kemudian dibatalkan, namun keputusan
tersebut sudah tidak mampu lagi meredam harga-harga bahan pokok.
Keputusan Pemerintah menaikkan harga BBM sampai dengan 60% pada

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


23
tahun 2005 memicu kenaikan barang pokok dan barang modal, meskipun
kemudian ada beberapa subsidi pemerintah kepada masyarakat
terdampak. Dampak dari kenaikan harga BBM tersebut bagi Puskesmas
sangat membebani dan menurunkan potensi kapasitas produksi layanan,
karena kebanyakan Puskesmas pemerintah diserbu oleh pelanggan
terdampak, yang nota bene adalah pembengkakan cost layanan.

5. Laju Pertumbuhan Penduduk


Indonesia menempati ranking keempat dari jumlah penduduk dunia,
dan menghadapi laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 1 persen,
jauh lebih tinggi dari Negara RRC yang hampir 0 persen.

Sumber data : Bappenas :Gambaran Ekonomi Makro

Jumlah penduduk Kota Banjarbaru mengalami peningkatan dari


tahun ke tahun. Pada tahun 2011 jumlah penduduk Kota Banjarbaru
sebesar 236.398 jiwa dan tahun 2012 menjadi 239.298 jiwa, kemudian
pada tahun 2013 kembali mengalami peningkatan mencapai 242.068 jiwa
yang terdiri dari 112.819 jiwa laki-laki dan 129.249 jiwa perempuan. Rata-
rata laju pertumbuhan penduduk Banjarbaru dari tahun 2009 s/d. 2013
sebesar 6,53% dengan tingkat kepadatan pada tahun 2013 mencapai 593
orang per km2. Jumlah pemanfaatan peserta BPJS di Banjarbaru sekitar
93.728 orang, sedangkan di Puskesmas Banjarbaru Utara jumlah
Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara
24
pemanfaatan peserta BPJS sebanyak 7.106 orang dan sesuai dengan
paradigma sehat yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan yang
diberlakukan secara nasional, persentase penduduk sehat 80% dan
penduduk bermasalah kesehatan sebanyak 20%.

Asumsi Makro lainnya difokuskan pada kebijakan, peraturan


perundang-undangan pusat maupun daerah.
1. Peraturan Pemerintah / Peraturan Menteri
Peraturan Menteri Dalam negeri No. 13 tahun 2006, mengharuskan
Pemerintah Daerah, dan Satuan Kerja Perangkat Daerah, merubah pola
pengelolaan keuangannya mulai dari perencanaan, sampai
pertanggungjawabannya, sehingga dimungkinkan waktu pelaksanaan
kegiatan mundur dari yang sudah dijadwalkan. Kemudian adanya wacana
baru Badan Layanan Umum Daerah, turut andil dalam dinamika kinerja
Puskesmas di daerah. Karena bagaimanapun juga, sebagai layanan publik
harus turut berubah sesuai kondisi yang menyertai.

Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam


rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan
uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan
dengan hak dan kewajiban daerah. Pengelolaan Keuangan Daerah
merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
penata usahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan
keuangan daerah. Untuk maksud tersebut perlu Sistem Keuangan Daerah
yaitu Akuntansi Keuangan Daerah. Akuntansi Keuangan Daerah adalah
sistem informasi keuangan daerah yang menghasilkan laporan bagi
berbagai pihak yang berkepentingan.

2. Peraturan Daerah
Kebijakan Akuntansi Keuangan daerah adalah merupakan prinsip,
dasar, konvensi, aturan dan praktik yang diterapkan dalam rangka
penyusunan dan penyajian laporan keuangan daerah. Kebijakan akuntansi
ini digunakan sebagai dasar dalam pengakuan, pengukuran, dan pelaporan

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


25
atas aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta
pelaporan keuangan daerah.

Laporan keuangan daerah (termasuk laporan keuangan SKPD)


merupakan laporan pertanggungjawaban bupati (kepala SKPD) atas
kegiatan keuangan dan sumber daya ekonomis yang dipercayakan serta
menunjukkan posisi keuangan yang sesuai dengan kebijakan akuntansi
keuangan daerah.

Dalam peraturan pengelolaan keuangan dan sistem akuntansi yang


diterapkan. Sistim pencatatan keuangan berdasarkan akrual (acrual basis)
yaitu asumsi akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa
lain pada saat kejadian, bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau
dibayar dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan
keuangan pada periode yang bersangkutan.

Sedangkan entitas pelaporan adalah Pemerintah kota banjarbaru dan


seluruh SKPD yang menurut peraturan perundang-undangan wajib
menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan
termasuk Puskesmas Banjarbaru Utara.

Dalam Kebijakan Akuntansi Keuangan Pemerintah Kota Banjarbaru,


laporan keuangan yang pokok terdiri dari :

1) Laporan Realisasi Anggaran


Yaitu laporan realisasi anggaran yang menyajikan ikhtisar sumber,
alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh
Pemerintah Daerah, yang menggambarkan perbandingan antara
anggaran dan realisasinya dalam suatu periode pelporan.

2) Neraca
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan
mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


26
3) Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menyajikan informasi
mengenai sumber, penggunaan, dan perubahan kas selama satu periode
akuntansi serta saldo kas pada tanggal pelaporan.

4) Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi pejelasan naratif atau rincian


dari angka yang tertera dalam realisasi anggaran, neraca dan laporan
arus kas.

Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di Kota Banjarbaru adalah


anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa dibuktikan agar
kebijakan akuntansi dapat diterapkan. Sejalan dengan itu, asumsi dasar
yang diterapkan di Puskesmas Banjarbaru Utara meliputi:

D. Asumsi Mikro
1. Volume Pelayanan
Asumsi jumlah penduduk kota yang bermasalah kesehatan
diperkirakan sebanyak 20% dari total jumlah penduduk. Dari asumsi
tersebut, secara kuantitatif minimal ada 29.981 jumlah kunjungan ke
Puskesmas, yang terbagi ke kunjungan rawat jalan sebanyak 28.361
kunjungan, dan 1.620 kunjungan rawat darurat.

2. Inovasi Pelayanan
Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta
memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, ada beberapa inovasi
pelayanan yaitu pelayanan home care, one day care, pelayanan
kesehatan sore hari dan pelayanan laboratorium lanjutan.

3. Total Pendapatan
Dalam rencana strategik ini, total pendapatan Puskesmas Banjarbaru
Utara berasal dari Pendapatan fungsional, dan subsidi dari Pemerintah
Daerah serta dari Pemerintah Pusat. Total pendapatan fungsional
dikelola langsung oleh Puskesmas tanpa harus setor ke kas

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


27
Pemerintah Daerah, dan hanya dalam bentuk laporan keuangan saja.
Pendapatan dari Pemerintah Daerah adalah berupa subsidi operasional
yaitu: belanja tidak langsung (gaji PNS) dan investasi, sedangkan
pendapatan dari Pemerintah Pusat sebagai pendapatan untuk
operasional dan Investasi.

4. Total Biaya
Total biaya berupa biaya operasional dan biaya investasi. Biaya
operasional berupa biaya pegawai, dan biaya barang dan jasa. Biaya
investasi adalah biaya untuk pembelian sarana prasarana, serta
pengembangan.

Total pendapatan fungsional Puskesmas Banjarbaru Utara dipakai


untuk biaya pegawai dan biaya barang dan jasa. Sedangkan sisa lebih
anggaran (surplus) dipakai untuk biaya operasional Puskesmas tahun
selanjutnya.

5. Total Output
Total output dari kegiatan BLUD Puskesmas Banjarbaru Utara yaitu,
100% pasien warga miskin terlayani; pendapatan fungsional naik rata-
rata 20% per tahun, kunjungan meningkat 20% per tahun.

6. Unit Cost
Tarif per jenis layanan disesuaikan dengan analisis unit cost, dengan
menerapkan subsidi silang. Unit cost disusun setiap tahun dan dipakai
dasar untuk tarif pelayanan tahun berikutnya. Prinsip analisis unit cost
memakai sistem ABC (Activity Based Costing), dengan harga dasar
berlaku pada tahun penyusunan ditambah inflasi, dan margin yang
diharapkan.

E. Proses Penilaian Kinerja BLUD


Penilaian kinerja (Kemandirian Puskesmas) UPT Dinas Kesehatan Kota
Banjarbaru dilaksanakan oleh Tim Penilai Kinerja Dinas Kesehatan Kota
Banjarbaru setiap tahun sekali berdasarkan Peraturan Menteri

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


28
Kesehatan Nomor 24 Tahun 2015 tentang Penilaian Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama Berprestasi.
Penilaian kinerja ini meliputi :
1. Administrasi dan Manajemen
2. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat
3. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perorangan
4. Cek Ulang Administrasi Manajemen, UKM dan UKP
5. Indikator Kinerja Puskesmas
6. Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan, Upaya inovasi
dan Penghargaan
Dari hasil analisis SWOT, yang didapat dari perhitungan renstra Strategi
Bisnis puskesmas didapatkan posisi Puskesmas Banjarbaru Utara berada
pada Kuadran I , atau pada kuadran tumbuh dan agresif .

II. Pencapaian Kinerja dan Target Kinerja Satker BLUD

Pencapaian kinerja tahun berjalan (tahun 2017), dan target kinerja


yang akan dicapai (tahun 2018) dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pendapatan

Pencapaian kinerja tahun berjalan (2017) dan target kinerja yang akan
dicapai (2018) untuk Pendapatan digambarkan sebagai berikut:

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


29
2. Belanja

Pencapaian kinerja tahun berjalan (2017) dan target kinerja yang akan
dicapai (2018) untuk belanja digambarkan sebagai berikut:

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


30
Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara
31
Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara
32
3. Ikhtisar Target Pendapatan Menurut Program dan Kegiatan TA
2018

Target pendapatan menurut program dan kegiatan yang akan dicapai


Tahun Anggaran 2018 sebagai berikut :

4. Ikhtisar Belanja/Pembiayaan menurut Program dan Kegiatan


untuk TA 2018

Target belanja/pembiayaan per program dan kegiatan Tahun Anggaran


2018 sebagai berikut :

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


33
DINAS KESEHATAN KOTA BANJARBARU
PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
Alokasi (Rp) Target/
Uraian unit/program/IKU Program/Kegiatan/IKK/Out
Kode Belanja Belanja barang Volume
put/Sumber dana Belanja Modal
pegawai dan jasa satuan
1.04.02.01 Program : Pelayanan Administrasi Perkantoran
Kegiatan :
1.04.02.01.01 Penyediaan surat menyurat
1.04.02.01.02 Penyediaan jasa SD air dan listrik 38.400.000 12 bln
1.04.02.01.08 Penyediaan jasa Kebersihan kantor 14.400.000 12 bln
1.04.02.01.10 Penyediaan Alat Tulis Kantor 15.800.000 12 bln
1.04.02.01.11 Penyediaan Cetak & penggandaan 14.500.000 12 bln
1.04.02.01.13 Penyediaan Peralatan & perlengkapan kantor 9.000.000 12 bln
1.04.02.01.15 Penyediaan bhn bacaan & perundang undangan 1.200.000 12 bln
1.04.02.01.17 Penyediaan bahan makanan dan minuman 118.312.500 12 bln
1.04.02.01.18 Rapat koord dan konsultasi ke luar daerah 13.000.000 12 bln
1.04.02.01.19 Penyediaan jasa non PNS 8.400.000 12 bln
Out put
1.APBD 233.012.500 12 bln
2.APBN
3.BLUD

1.04.02.02 Program : Peningkatan Sarana Prasarana Aparatur


Kegiatan
1.04.02.02.24 Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional 54.700.000 12 bln
1.04.02.02.26 Pemeliharaan Rutin/berkala Peralatan Gedung Kantor 11.600.000 12 bln
1.04.02.02.28 Pemeliharaan Gedung Kantor 0
1.04.02.02.30 Pengadaan perlengkapan Gedung Kantor 22.500.000 12 bln
Out put
1.APBD 66.300.000 22.500.000 12 bln
2.APBN
3.BLUD

1.02.1.02.01.16 Program : Upaya Kesehatan Masyarakat


1.02.1.02.01.16.09 Kegiatan
Peningkatan Kesehatan Masyarakat 198.438.000 12 bln
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK/DAK NON FISIK) 606.198.800 12 bln
Out put
1.APBD 198.438.000 12 bln
2.APBN 606.198.800 12 bln
3.BLUD

Program : Kemitraan Peningkatan Pelayanan


Kesehatan
Kegiatan
Kemitraan Asuransi Kesehatan Masyarakat 36.000.000 754.010.300 63.453.010 12 bln
Out put
1.APBD
2.APBN
3.BLUD 36.000.000 754.010.300 63.453.010 12 bln

JUMLAH
Sumber Dana
APBD 497.750.500 12 bln
APBN 606.198.800 12 bln
BLUD 36.000.000 754.010.300 63.453.300 12 bln

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


34
5. Pendapatan dan Belanja Agregat

Pencapaian kinerja tahun berjalan (2017) dan target kinerja yang akan
dicapai (2018) untuk pendapatan dan belanja secara agregat dirinci
sebagai berikut:

Realisasi sd
Target 2018
No Uraian Oktober 2017
(Rp)
(Rp)
1 2 3 4
I. PENDAPATAN BLUD 667.851.392 853.463.400
1. Pendapatan Jasa Pelayanan 667.851.392 853.463.400
2. Pendapatan Hibah 0 0
3. Pendapatan Hasil kerjasama 0 0
4. Pendapatan BLUD lainnya 0 0

II. BELANJA OPERASIONAL 1.031.528.115 1.893.959.600


A. BELANJA BLUD 0 790.010.300
1. Belanja Pegawai 0 36.000.000
2. Belanja Barang Jasa 0 754.010.300
B. BELANJA APBD/APBN 1.031.528.115 1.103.949.300
1. Belanja APBD 1.031.528.115 1.103.949.300
- Belanja Pegawai 0 0
- Belanja Barang Jasa 1.031.528.115 1.103.949.300
- Belanja Lainnya 0 0
2. Belanja APBN 0 0
- Belanja Pegawai 0 0
- Belanja Barang Jasa 0 0
- Belanja Lainnya 0 0

III. BELANJA MODAL 27.905.350 85.953.010


A. BELANJA MODAL BLUD 0 63.453.010
1. Belanja Modal Tanah 0 0
2. Belanja Modal Gedung/Bangunan 0 0
3. Belanja Modal Peralatan dan Mesin 0 63.453.010
4. Belanja Modal Jalan dan Jaringan 0 0
5. Belanja Modal Lainnya 0 0
B. BELANJA MODAL APBD/APBN 27.905.350 22.500.000
1. Belanja Modal Tanah 0 0
2. Belanja Modal Gedung/Bangunan 0 0
3. Belanja Modal Peralatan dan Mesin 27.905.350 22.500.000
4. Belanja Modal Jalan dan Jaringan 0 0
5. Belanja Modal Lainnya 0 0

IV. Surplus/Defisit (I-II) -363.676.723 -1.040.496.200


V. Penggunaan Saldo Kas BLUD 0 0
VI. Surplus/Defisit Sebelum Penerimaan APBD/APBN (IV+V) -363.676.723 -1.040.496.200
VII. Penerimaan APBD/APBN (II B + III B) 1.059.433.465 1.126.449.300
VIII. Surplus/Defisit Setelah Penerimaan APBD/APBN (VI+VII) 695.756.742 85.953.100
IX. Total Anggaran Pendapatan ( I+VII) 695.756.742 85.953.100
X. Total Anggaran Belanja (II+III) 1.059.433.465 1.979.912.610

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


35
6. Biaya Layanan

Perhitungan realisasi biaya layanan TA 2017 dan target biaya layanan


TA 2018 sebagai berikut :

Realisasi sd Oktober Tahun Anggaran 2018


No Uraian
2017 (Rp) (Rp)
1 2 3 4
1 Biaya Langsung
1. Biaya Pegawai 5.400.000 36.000.000
2. Biaya Bahan -
3. Biaya Jasa Layanan -
4. Biaya Pemeliharaan -
5. Biaya Barang dan Jasa 1.406.926.409,20 1.857.959.690
6. Biaya Penyusutan - -
7. Biaya Lainnya/Modal 31.459.000 85.953.010
Jumlah Biaya Langsung 1.443.785.409,20 1.979.912.700

2. Biaya Tidak Langsung - -

1. Biaya Pegawai - -
2. Biaya Administrasi - -
perkantoran
3. Biaya Pemeliharaan - -
4. Biaya Barang dan Jasa - -
5. Biaya Promosi dan Marketing - -
6. Biaya Penyusutan - -
7. Biaya Lainnya - -
8. Biaya Bunga - -
9. Biaya Administrasi Bank - -
10. Biaya Lainnya - -
Jumlah Biaya Tidak Langsung - -

TOTAL BIAYA 1.443.785.409,20 1.979.912.700

III. Informasi Lainnya Yang Perlu Disampaikan


Informasi lainnya meliputi pencapaian kinerja non keuangan seperti :
- Capaian SPM tahun lalu dan tahun berjalan
- Perolehan Akreditasi untuk standar kualitas dan mutu

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


36
IV. Ambang Batas Belanja BLUD
Ambang batas belanja yang diusulkan sebagai antisipasi atau
fluktuasi kegiatan operasional Puskesmas adalah sebesar 20%.
Besaran ambang batas tersebut berlaku apabila pendapatan pada
tahun 2018 telah mencapai dan/atau melebihi target pendapatan yang
telah ditetapkan dalam rencana bisnis dan anggaran.

V. Prakiraan Maju Pendapatan dan Prakiraan Maju Belanja


Prakiraan Maju Pendapatan dan Prakiraan Maju Belanja untuk 3
(tiga) tahun kedepan merupakan proyeksi pendapatan dan belanja yang
harus dihitung dengan memperhatikan output prioritas awal tahun
anggaran berikutnya, dengan gambaran sebagai berikut:

1. Prakiraan Maju Pendapatan BLUD

No Uraian 2016 2017 2018 2019 2020


1 2 3 4 5 6 7
1 Pendapatan Jasa Layanan 763.027.844 795.835.758 1.109.358.933 1.197.052.148 1.302.185.783
Umum
2 Pendapatan Hibah BLUD - - - - -
3 Pendapatan Hasil Kerjasama - - - - -
BLUD
4 Pendapatan BLUD Lainnya - - 8.000.000 8.750.00 10.027.500
Jumlah Pendapatan 763.027.844 795.835.758 1.117.358.933 1.205.802.148 1.312.213.283

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


37
2. Prakiraan Maju Belanja BLUD

Program/Kegiatan/Sumber TA TA TA TA TA
Pendapatan/Kode Akun 2016 2017 2018 2019 2020
1 2 3 4 5 6
Program/Kegiatan/Sumber Pendapatan
1. Program Upaya Kesehatan 18.248.153 19.160.561 20.118.589 21.124.518 22.180744
Masyarakat
2. Program Peningkatan Sarana 51.660.000 54.243.000 56.955.150 59.802.907 62.793.052
dan Prasarana Aparatur
3. Program Pelayanan 255.390.000 268.159.500 281.567.475 295.645.848 310.428.141
Administrasi Perkantoran
4. Program Kemitraan 300.000.000 315.000.000 330.750.000 347.287.500 564.651.875
Peningkatan Pelayanan
Kesehatan (JKN)
Toatal Belanja 625.298.153 656.563.061 689.391.241 723.860.775 760.053.813

Tahun Belanja Target Pendapatan


2016 625.298.153 763.027.844
2017 656.563.061 795.835.758
2018 689.391.241 1.117.358.933
2019 723.860.775 1.205.802.148
2020 760.053.813 1.312.213.283

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


38
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Puskesmas Banjarbaru Utara adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan
masyarakat di kota Banjarbaru dengan letak yang sangat strategis di pusat
Kota dan pemukiman masyarakat.
Puskesmas Banjarbaru Utara juga merupakan suatu unit pelaksana fungsional
yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan
peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara
menyeluruh, terpadu yang berkesinambungan.

Dalam mencapai kegiatannya Puskesmas Banjarbaru Utara ditunjang oleh


tenaga kesehatan yang professional dibidangnya, serta sarana dan prasarana
yang cukup memadai dalam mengedepankan Pelayanan yang berkualitas,
bermutu untuk kepuasan pelanggan

Namun sejauh ini masih dirasakan kendala dalam pelayanan, utamanya


belum adanya tenaga professional yang sesuai profesi untuk menangani
kasus-kasus tertentu terutama Penyakit degenerative dan tidak menular
yang semakin meningkat saat ini. Selain itu tenaga administrasi khususnya
tenaga pengelola keuangan yang kurang mengakibatkan masih adanya
pekerjaan rangkap.

Dengan adanya Kebijakan pemerintah tentang Jaminan Kesehatan / BPJS


maka terjadi peningkatan pendapatan Puskesmas melalui Kapitasi namun
disisi lain pendapatan Puskesmas dari Umum atau diluar Kapitasi BPJS
terjadi penurunan

Saran yang perlu diperhatikan adalah menambah Sumberdaya Manusia


disemua lini profesi untuk menunjang peningkatan mutu layanan
Puskesmas serta kerjasama profesi spesialis untuk beberapa layanan.

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


39
Perlu juga diupayakan menambah usaha lain diantaranya pengelolaan
kios, apotik pelengkap, pengelolaan parkir untuk menunjang atau
menambah pendapatan puskesmas.

B. Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian


Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka
melaksanakan kegiatan BLUD PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
meliputi antara lain :
1. Penghapusan piutang;
2. Penghapusan persediaan;
3. Penghapusan aset tetap;
4. Penghapusan aset lain-lain;
5. Pemberian pinjaman;
6. Kerjasama dengan Pihak Ketiga

Rencana Bisnis Anggaran Puskesmas Banjarbaru Utara


40