You are on page 1of 5

ANALISA LISSAJOUS

Supri Lestari (K1C016045)


Asisten: Mohammad Fachrurrozy
Tanggal Percobaan: 02/11/2017
PAF15210P-Praktikum Elektronika Dasar I
Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unsoed

Abstrak
2. STUDI PUSTAKA
Praktikum analisa lissajous telah dilakukan dengan
Gambar atau diagram lissajous adalah sebuah
tujuan untuk memahami prinsip dasar dari lissajous, dapat
penampakan pada layar osiloskop yang
menggunakan metode lissajous untuk mengukur beda
mencitrakan perbedaan atau perbandingan
fase dari dua sinyal listrik AC dan dapat menggunakan
antara beda fase, frekuensi dan amplitudo
metode lissajous untuk mengukur frekuensi dari sebuah
dari dua gelombang masukkan pada setiap chanel
sinyal listrik AC. Pengukuran beda fase dua sinyal dari
osiloskop. Frekuensi adalah suatu besaran yang
sebuah Low Pass Filter menghasilkan gambar lissajous
menyatakan banyaknya gelombang yang terjadi
berbentuk elips yang condong ke kanan, kemudian
setiap detiknya yang dinyatakan dalam satuan
dilakukan pengukuran terhadap titik-titik elips tersebut
Hz. Amplitudo merupakan simpangan terjauh
untuk mendapatkan nilai beda fase . Prinsip dasar
dari suatu gelombang atau juga dapat
metode lissajous adalah penampakan pola lissajous
didefinisikan sebagai nilai puncak atau
pada layar osiloskop dari perbandingan antara beda fase,
maksimum positif dari sebuah gelombang
frekuensi dan amplitude dari dua gelombang masukan
sinusoidal. Sedangkan beda fase adalah
pada setiap chanel osiloskop. Pada pengukuran beda fase
perbedaan sudut mulai antara dua gelombang
dalam praktikum diperoleh beda fase sebesar 156.422 .
sinusoidal yang sedang diamati. Bentuk pola
Pada pengukuran frekuensi sinyal terhadap sinyal standar
lissajous yang muncul pada osiloscop juga dapat
yang ditampilkan dalam gambar pola lissajous diperoleh hasil
dibentuk dari dua gelombang yang saling
perbandingan frekuensi f1 dan f2 adalah 1 : 1, 1 : 2, 1 :
tegak lurus dan mempunyai perbandingan
4 , 1 : 6 dan 1:8 dengan nilai f1 100 Hz, 200 Hz,
frekuensi (misal 1:2, 1:4 dan seterusnya). Gambar
400Hz, 600 Hz dan 800Hz.
di bawah ini memperlihatkan beberapa pola
Kata kunci: Lissajous, Frekuensi, Beda Fase, Lissajous dengan perbandingan frekuensi dan
Amplitudo. beda fasa yang berbeda-beda [1].

1. PENDAHULUAN
Metode lissajous merupakan metode sederhana
karena hanya menggunakan beberapa peralatan
sederhana seperti osiloskop sinar katoda(Cathode
RayOscilloscope / CRO), generator isyarat dan
trafo step-down. Osiloskop Dual Trace dapat
memperagakan dua buah sinyal sekaligus pada
saat yang sama. Cara ini biasanya digunakan
untuk melihat bentuk sinyal pada dua tempat
yang berbeda dalam suatu rangkaian elektronik.
Dua gelombang sinus dengan frekuensi yang
sama akan menghasilkan gambar Lissajous yang
bisa berbentuk : garis lurus, elips atau lingkaran,
bergantung pada fasa dan amplitude kedua sinyal Gambar 2-1 Pola Lissajous dengan
tersebut. Sebuah lingkaran hanya dapat frekuensi dan beda fase yang berbeda-
beda.
terbentuk, jika amplitude kedua sinyal sama,
Beda fasa adalah perbedaan waktu dua buah
jika kedua sinyal tidak sama dan/atau tidak
gelombang yang mempunyai frekuensi sama
sefasa akan terbentuk sebuah elips yang sumbu-
dalam berosilasi. Pengukuran beda fasa ini
sumbunya adalah bidang horizontal dan bidang
biasanya dilakukan pada gelombang input dan
vertikal. Bentuk pola lissajous juga dapat dibentuk
output suatu rangkaian. Dua buah gelombang bisa
dari dua gelombang yang saling tegak lurus dan
mempunyai besar amplitude dan frekuensi yang
mempunyai perbandingan frekuensi (misalnya
sama tetapi berbeda fasa[2].
1:2,1:4,1:6 dst).

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPA Unsoed 1


atau elips. Gambar-gambar lissajous ini
kemudian dibandingkan dengan gambar
standar beda fase. Sinyal Vx dan sinyal Vy pada
nilai frekuensi tertentu membentuk gambar
lissajous[3].

2.1 JUDUL SUB-BAB


a. Pengukuran beda fase dari sebuah Low
Pass Filter
b. Pengukuran frekuensi

3. METODOLOGI

3.1 WAKTU DAN TEMPAT


Gambar 2-2 Berbagai Pola Lissajous Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium
Elektronika, Instrumentasi dan Geofisik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unsoed,,
Tanggal 02 November 2017, hari Kamis pukul
Pengurangan beda fase dua gelombang dapat
07.30 WIB sampai dengan 09.30 WIB.
dilakukan dengan menggunakan metode lissajous.
Pada mode X-Y osiloskop beda fase gelombang
3.2 ALAT DAN BAHAN
akan terlihat seperti gambar berikut:
Peralatan dan bahan yang digunakan antar lain :
1. Generator isyarat
2. Osiloskop dual trace
3. Resistor
4. Kapasitor
5. Trafo step-down

3.3 CARA KERJA


Gambar 2-3 Pola Lissajous lingkaran serong kanan
A. Pengukuran beda fase dari sebuah low
Pengukuran beda fase dalam lissajous untuk pola pass filter
seperti di atas (gambar miring ke kanan)
digunakan rumus:

= sin1

Sedangkan bila pola miring ke kiri digunakan
rumus:

= 180 sin1

Nila A diukur antara sumbu X dengan titik
dimana pola (elips) memotong sumbu Y.
sedangkan nilai B merupakan tinggi elips diukur
dari sumbu X. Untuk mendapatkan nilai-nilai ini
elips harus diset berada ditengah-tengah layar
osiloskop [2].
Pengukuran beda fase ada dua cara, yaitu: Dual
Trace dan Lissajous. Cara dua trace, yaitu dengan
melihat selisih gelombang keluaran chanel I dan
chanel II dari osiloskop. Cara lissajous (cara
langsung ) yaitu dengan memutar Time/dik
osiloskop pada posisi paling kanan sehingga
akan sehingga akan dihasilkan bentuk lingkaran
Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPA Unsoed 2
Rangkaian low pass filter dibuat Rangkaian low pass filter dibuat

Osiloskop terlebih dahulu dikalibrasi


Osiloskop terlebih dahulu dikalibrasi

Generator isyarat disetting pada posisi


gelombang sinus, frekuensi 1 Hz dan amplitudo
100 mV Generator isyarat disetting pada posisi gelombang
sinus, frekuensi 1 Hz dan amplitudo 100 mV
Osiloskop disetting pada posisi Time/Dive
1s/dive ,trigger auto, X-Y aktif, chanel A 50
mV/div dan chanel B 100 mV/div
Osiloskop disetting pada posisi Time/Dive 1s/dive
,trigger auto, X-Y aktif, chanel A 50 mV/div dan
chanel B 100 mV/div
Gambar lissajous ditempat di tengah layar
osiloskop

Frekuensi generator isyarat diatur sehingga dilayar


osiloskop diperoleh bentuk lissajous yang stabil
Gambar lissajous pada layar osiloskop difoto

Hasil pengukuran terhadap titik-titik (A dan B) Frekuensi pada generator isyarat dicacat
atau (C dan D) dicatat

Langkah keempat dilakukan kembali untuk


Langkah 3 sampai langkah 6 diulangi dengan mendapat pola lissajous yang lain dengan
variasi frekuensi perbandingan 1:1 dan 1:4

Gambar 3.2-3 Diagram cara kerja pengukuran beda fase


dari low pass filter
Gambar 3.2-2 Diagram cara kerja pengukuran beda fase
dari low pass filter
4. HASIL DAN ANALISIS
B. PENGUKURAN FREKUENSI Pada percobaan pertama mengenai pengukuran
beda fase dari sebuah low pass filter diperoleh
gambar lissajous berbentuk elips yang condong ke
kiri seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 4.1-1 Pola lissajous serong ke kiri

Untuk membentuk sebuah lingkaran pola lissajous


dibutuhkan kedua sinyal masukan amplitudo
yang sama, jika ingin membentuk sebuah elips
dibutuhkan kedua sinyal amplitudo tidak sefase
Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPA Unsoed 3
dengan sumbunya pada bidang vertical dan
horizontal. Pola lissajous pada gambar di atas
hanya terdiri dari satu elips saja menunjukkan
bahwa kedua gelombang tersebut mempunyai
frekuensi yang sama. Pola lissajous di atas
condong ke kiri sehingga untuk menghitung
beda fasenya digunakan rumus sebagai berikut :


= 180 sin1
Gambar 4.1-4 Pola lissajous pada frekuensi 600 Hz
0.4
= 180 sin1
1
= 180 23,578
= 158.422
Sehingga nilai beda fase diperoleh sebesar
158.422.
Pada percobaan kedua dilakukan pengukuran
frekuensi sinyal dengan cara membandingkannya
terhadap sinyal standar yang keduanya
ditampilkan dalam bentuk gambar lissajous. Gambar 4.1-4 Pola lissajous pada frekuensi 800 Hz
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,
maka didapat hasil data pengamatan sebagai
berikut : Berdasarkan gambar hasil percobaan diatas dapat
diketahui bahwa :
a) Ketika perbandingannya 1:1 nilai
frekuensinya sebesar 100 Hz
b) Ketika perbandingannya 1:2 nilai
frekuensinya sebesar 200 Hz
c) Ketika perbandingannya 1:4 nilai
frekuensinya sebesar 400 Hz
d) Ketika perbandingannya 1:6 nilai
frekuensinya sebesar 600 Hz
Gambar 4.1-2 Pola lissajous pada frekuensi 200 Hz
e) Ketika perbandingannya 1:8 nilai
frekuensinya sebesar 800 Hz
Dari data diatas dapat di simpulkan, semakin
besar frekuensi maka akan semakin besar pula
perbandingan frekuensinya. Sehingga pengaruh
frekuensi pada metode lissajous adalah perubahan
perbadingan frekuensinya dan banyak gelombang
yang terbentuk pada layar osiloskop.
Pada percobaan metode lissajous menggunakan
dua buah sumber frekuensi yang mernpunyai
frekuensi yang sama atau kelipatannya, gambar
Gambar 4.1-3 Pola lissajous pada frekuensi 400 Hz lissajous yang terbentuk merupakan perpaduan
antar kedua frekuensi tersebut. Pada saat
frekuensi minimum pada generator isyarat,
pola lissajous yang terbentuk secara
horizontal namun tidak stabil hingga
frekuensi dinaikkan pada nilai tertentu bentuk
lissajous berubah menjadi vertikal dan lebih
stabil. Besarnya frekuensi berpengaruh
terhadap posisi gambar lissajous vertikal atau
Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPA Unsoed 4
horizontal. Apabila gambar lissajous horizontal
maka frekuensi pada generator isyarat (f1)
lebih besar dari frekuensi pada trafo (f2),
sedangkan apabila gambar lissajous vertical maka
frekuensi pada trafo step down lebih besar
daripada frekuensi generator isyarat.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah
dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan
yaitu :

1. Prinsip dasar metode lissajous


adalah penampakan pola lissajous
pada layar osiloskop dari perbandingan
antara beda fase, frekuensi dan
amplitude dari dua gelombang
masukan pada setiap chanel osiloskop.
2. Besar Beda fase dari dua sinyal listrik
AC yang diukur adalah 156.422.
3. Pada pengukuran frekuensi sinyal
terhadap sinyal standar yang
ditampilkan dalam gambar pola
lissajous diperoleh hasil perbandingan
frekuensi f1 dan f2 adalah 1 : 1, 1 : 2, 1 :
4 , 1 : 6 dan 1:8 dengan nilai f1 100 Hz,
200 Hz, 400Hz, 600 Hz dan 800Hz.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Hartono, Modul Praktikum, Elektronika
Dasar I, Purwokerto, 2015.
[2] https://www.academia.edu/18484385/Beda_
Fasa?auto=download , 09 November 2017 ,
19.45 WIB.
[3] http://issuu.com/muammarhafidz/docs/lap
oran_rl_2, 09 November 2017, pukul 20.15
WIB.

LAMPIRAN

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPA Unsoed 5