You are on page 1of 3

Seperti dilansir Mayo Clinic, Kamis (22/8/2013), afasia (aphasia) adalah sebuah sindrom pada

sistem saraf (neurologis) yang merusak kemampuan bahasa. Memori otak mereka mengalami
kecacatan. Orang yang menderita penyakit ini akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan
pikiran dan sulit memahami serta menemukan kata-kata saat berkomunikasi. Tentunya, hal ini akan
menimbulkan masalah pada hidup penderitanya. Sebab, komunikasi adalah salah satu hal penting
dalam kehidupan. Biasanya penyakit ini akan terjadi secara tiba-tiba setelah Anda mengalami stroke
atau cedera pada kepala.

Penyakit ini juga akan berkembang secara bertahap dan memungkinkan pengidapnya menjadi bisu.
Selain itu, pengidapnya juga mungkin dapat mengidap penyakit demensia. Para pengidap afasia
juga akan mengembangkan masalah pada perilaku. Mereka akan berubah menjadi pribadi yang
cemas dan sering marah.

Afasia dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Nonfluent aphasia

Jenis afsia ini akan terjadi bila ada kerusakan pada jaringan bahasa yang letaknya di dekat daerah
frontal otak bagian kiri. Ketika berkomunikasi, orang yang yang mengalami penyakit ini akan
menggunakan kalimat yang tidak lengkap. Namun, biasanya, pendengar masih bisa memahami
maksud dari pesan yang disampaikan olehnya. Pengidap jenis aphasia ini juga mampu memahami
apa yang orang lain katakan, namun tidak sesempurna seperti orang pada umumnya. Selain itu,
pengidapnya juga mungkin akan mengalami kelumpuhan pada tubuh mereka, khususnya tubuh sisi
kanan.

2. Fluent aphasia

Jenis penyakit ini disebut juga dengan istilah wernicke aphasia. Hal ini dapat terjadi akibat jaringan
bahasa yang terletak di sisi kiri tengah otak mengalami kerusakan. Namun, orang yang mengalami
jenis aphasia ini dapat berbicara dengan lancar. Umumnya, penderita akan menggunakan kalimat
yang panjang, kompleks, dan seringkali tidak masuk akal. Sebab, kata-kata yang digunakan kurang
dapat dipahami oleh orang lain. Pengidapnya biasanya juga tidak dapat memahami bahasa lisan
dengan baik.

3. Global aphasia

Jenis aphasia ini akan terjadi bila jaringan bahasa pada otak sudah mengalami kerusakan yang
parah dan meluas. Para penderitanya akan mengalami kecacatan yang tergolong berat dalam hal
memahami dan berekspresi.

Gejala

Antara satu orang dengan orang lain akan mengalami perbedaan dalam hal tanda dan gejala yang
dialami. Tanda dan gejala yang muncul tergantung pada bagian mana dari pusat bahasa di otak
yang mengalami masalah atau kerusakan. Umunya, gejala dan tanda yang akan dialami oleh para
pengidapnya adalah dalam hal penggunaan bahasa. Berikut beberapa jenis gejala yang dapat
ditimbulkan dari penyakit afasia:

Sering mengucapkan kata-kata yang tidak dikenali


Sulit memahami pembicaraan orang lain
Sering menafsirkan bahasa kiasan harafiah
Hanya mengucapkan kalimat pendek dan tidak lengkap ketika berbicara
Sering menggunakan kalimat-kalimat yang tidak masuk akal ketika berbicara ataupun
menulis

Tanda dan gejala yang timbul dari tiap jenis penyakit afasia juga mungkin akan berbeda.

Penyebab

Umumnya, penyakit afasia timbul akibat lobus frontal dan temporal yang ada dalam otak, khususnya
pada sisi kiri otak, mengalami penyusutan (atrofi). Hal ini akan mempengaruhi pusat bahasa yang
ada dalam otak. Jaringan parut dan protein yang abnormal juga dapat terjadi. Selain itu, penyakit
afasia juga dapat muncul akibat otak mengalami kerusakan karena cedera pada kepala, penyakit
stroke, tumor, infeksi, penyumbatan, dan pecahnya pembuluh darah di otak. Akibatnya, suplai darah
pada otak akan terganggu dan menyebabkan sel otak mati. Selain itu, area bahasa yang ada pada
otak juga akan mengalami kerusakan. Tak hanya itu saja, ada beberapa faktor lain yang dapat
menjadi faktor penyebab timbulnya penyakit afasia, yakni:

1. Mutasi gen tertentu

Mutasi gen langka telah dikaitkan dengan penyakit afasia. Jika ada dari keluarga Anda yang
menderita penyakit ini, Anda lebih mungkin untuk mengembangkan dan juga mengalaminya.

2. Penyakit yang menyebabkan ketidakmampuan belajar

Orang yang mengalami masalah memori, misalnya tidak mampu belajar akibat penyakit tertentu,
terutama disleksia, akan berisiko lebih tinggi mengalami penyakit afasia. Sebab, hal itu juga
mempengaruhi daerah bahasa dalam otak.

Pengobatan

Penyakit afasia tidak dapat disembuhkan. Obat untuk jenis penyakit ini juga belum ditemukan. Satu-
satunya pengobatan untuk penyakit afasia adalah dengan melakukan terapi wicara. Jenis terapi ini
dilakukan untuk memulihkan keterampilan bahasa dari para pengidapnya. Biasanya, saat
melakukan jenis terapi ini, Anda akan dibimbing oleh seorang ahli patologi wicara-bahasa. Namun,
pemulihan ini akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Tapi sudah ada banyak orang yang
mengalami kemajuan yang signifikan setelah melakukan jenis terapi ini. Namun, sebelum Anda
melakukan jenis terapi ini, Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Biasanya dokter akan
melakukan beberapa jenis pemeriksaan untuk memastikan apakah Anda mengidap penyakit afasia
atau tidak. Berikut jenis-jenis pemeriksaan untuk penyakit afasia:

1. Tes genetik

Awalnya, dokter pasti akan meminta Anda untuk melakukan jenis tes ini. Hal ini dilakukan untuk
melihat apakah Anda memiliki mutasi genetik yang terkait dengan penyakit afasia atau kondisi
neurologis lainnya.

2. Tes darah

Dokter mungkin akan meminta Anda untuk melakukan tes darah guna memeriksa infeksi sekaligus
memberikan bantuan dalam menentukan jenis obat dan dosis obat.

3. Tes pencitraan

Tes pencitraan ini dilakukan untuk melihat kondisi otak Anda (scan otak). Dokter akan memberikan
pilihan jenis tes pencitraan, seperti computerized tomography (CT) scan atau magnetic resonance
imaging (MRI). Hal ini dapat membantu dokter dalam usaha mengidentifikasi apa yang
menyebabkan afasia, mendeteksi daerah-daerah dalam otak yang menyusut, sekaligus
menunjukkan daerah dari otak yang sudah dan akan terpengaruh. Namun, single-photon emission
computerized tomography (PET) juga dapat dilakukan untuk melihat alirah darah atau kelainan
metabolisme glukosa pada area di otak Anda.

Selain melakukan ketiga jenis pemeriksaan di atas, dokter biasanya juga akan melakukan tes dan
observasi informal untuk menilai kemampuan bahasa Anda. Anda mungkin akan disuruh melakukan
pidato kemudian dokter akan mengukur hasil pidato Anda, baik dari segi pemahaman bahasa,
keterampilan, penamaan benda, ingatan, dan faktor lainnya.