You are on page 1of 8

TUGAS SKALA

BLOK METODOLOGI PENELITIAN

Oleh :
Wifqi Azlia
151610101011

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
Skala Likert
Skala linkert pertama kali dikembangkan oleh Rensis Linkert pada
tahun 1932 dalam untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang. Skala ini menggunakan teknik self report dari pengukuran sikap
dimana subjek diminta untuk mengindikasikan tingkat kesetujuan atau
ketidaksetujuan mereka terhadap masing-masing pernyataan. Skala likert
adalah salah satu teknik pengukuran sikap yangpaling sering digunakan
dalam riset pemasaran.
Dalam pembuatan skala likert, periset membuat beberapa
pernyataan yang berhubungan dengan suatu isu atau objek, seperti
menggambarkan secara kasar posisi individu dalam kelompoknya (posisi
relatif), membandingkan skor subjek dengan kelompok normatifnya ,
menyusun skala pengukuran yang sederhana dan mudah dibuat.
Kemudian, subjek atau responden diminta untuk mengindikasikan tingkat
kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka terhadap masing-masing
pernyataan.
Biasanya cara pengisian kuisioner jenis ini dengan menggunakan
cecklist atau pilihan ganda. Kemudian untuk masingmasing sikap di beri
bobot. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan
menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai
titik tolak ukur menyusun item - item yang dapat berupa pertanyaan atau
pernyataan. Contoh skala Likert adalah :
Prosedur dalam membuat skala linkert adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan item-item yang cukup banyak dan relevan dengan masalah
yang sedang diteliti, berupa item yang cukup terang disukai dan
yangcukup terang tidak disukai
2. Item-item tersebut dicoba kepada sekelompok responden yang cukup
representatif dari populasi yang ingin diteliti.
3. Pengumpulan responsi dari responden untuk kemudian diberikan skor,
untuk jawaban yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor
tertinggi.
4. Total skor dari masing
o masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing item
dari individu tersebut
5. Responsi dianalisa untuk mengetahui item
o item mana yang sangat nyata batasan antara skortinggi dan skor
rendah dalam skala total. Untuk mempertahankan konsistensi
internal dari pertanyaan maka item yang tidak menunjukkan
korelasi dengan total skor atau tidak menunjukkan beda yang nyata
apakah masuk kedalam skor tinggi atau rendah dibuang.

Kelebihan skala linkert:


1) Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas korelasinya masih
dapat dimasukkan dalam skala.
2) Lebih mudah membuatnya dari pada skala thurstone.
3) Mempunyai reliabilitas yang relatif tinggi dibanding skala thurstone untuk
jumlah item yang sama. Juga dapat memperlihatkan item yang dinyatakan
dalam beberapa responsi alternatif.
4) Dapat memberikan keterangan yang lebih nyata tentang pendapat atau
sikap responden.

Kelemahan skala linkert:


1) Hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat
membandingkan berapa kali individu lebih baik dari individu lainya.
2) Kadang kala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas,
banyak pola response terhadap beberapa item akan memberikan skor yang
sama.
Validitas dari skala linkert masih memerlukan penelitian empirik.

Skala Guttman
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini mempunyai
ciri penting, yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu dimensi saja
dari satu variabel yang multi dimensi, yaitu skala yang menghasilkan kumulatif
jawaban yang butir soalnya berkaitan satu dengan yang lain sehingga skala ini
termasuk mempunyai sifat undimensional.. Contoh: seorang respoden yang setuju
dengan pernyataan nomor satu, dia akan setuju juga dengan pernyataan nomor
dua, tiga dan seterusnya.
Skala Guttman yang disebut juga metode scalogram atau analisa skala
(scale analysis) sangat baik untuk menyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi
dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi universal (universe of
content) atau atribut universal (universe attribute). Pada skala Guttman jawaban
yang diberikan sangat tegas, misalnya setuju atau tidak setuju, ya atau tidak,
positif atau negatif, dan sebagainya. Bentuk soal bisa berbentuk pilihan ganda
atau chek list. Setiap jawaban diberi skor 1 dan 0
Contoh :
Pernahkah pimpinan anda melakukan supervisi di tempat anda bekerja?
A. Pernah 1
B. Tidak Pernah 0

Cara membuat skala guttman adalah sebagai berikut:


1. Susunlah sejumlah pertanyaan yang relevan dengan masalah yang ingin
diselidiki.
2. Lakukan penelitiaan permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang
akan diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50.
3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang.
Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui
oleh lebih dari 80% responden.
4. Susunlah jawaban pada tabel Guttman.
5. Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.

Kelemahan pokok dari Skala Guttman, yaitu:


1. Skala ini bisa jadi tidak mungkin menjadi dasar yang efektif baik intuk
mengukur sikap terhadap objek yang kompleks atau pun untuk membuat
prediksi tentang perilaku objek tersebut.
2. Satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk satu kelompok
tetapi ganda untuk kelompok lain, ataupun berdimensi satu untuk satu
waktu dan mempunyai dimensi ganda untuk waktu yang lain.

Skala semantic differential

suatu skala pengukuran yang disusun dalam suatu garis dimana jawaban
sangat positif terletak dibagian kanan garis, sedangkan jawaban sangat negatif
terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya.
Merupakan salah satu teknik self report untuk pengukuran sikap diman
asubjek diminta memilih satu kata sifat atau frase dari sekelompok pasangan kata
sifat atau pasangan frase yang disediakan yang paling mampu menggambarkan
perasaan mereka terhadap suatu objek. Misalnya kita menggunakan persoalan
pengukuran sikap terhadap bank. Periset perlu membuat daftar pasangan kata sifat
atau pasangan frase berkutub-dua. Jawaban positif ada disebelah kiri; dan jawaban
negatif ada di bagian kanan garis. Melalui garis kontinuum ini, skor sikap seorang
responden dapat dibandingkan dengan skor sikap suatu kelompok dan pola
penilaian responden juga dapat dibandingkan dengan pola penilaian orang lain

Skala yang telah dibuat kemudian disebarkan pada suatu sampel


responden. Setiap responden diminta membaca seluruh frase berkutup dua dan
menandai frase yang paling mampu menggambarkan perasaannya. Responden
biasanya diberi tahu bahwa frase ujung adalah objek paling deskriptif, frase
tengah adalah netral, dan frase antara sebagai yang agak deskriptif serta frase
yang cukup deskriptif. Jadi sebagai contoh, jika seorang responden merasa bahwa
pelayanan bank A berkualitas sedang, maka dia akan menandai frase keenam dari
kiri.

Contoh:

Menurut pendapat Anda Televisi Merk X :


1. Kualitas gambar bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus
2. Kualitas suara bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus
3. Harga murah 5 4 3 2 1 mahal
4. Pelayanan purna jual bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus

Skala Rating

Pada skala Likert, skala Guttman dan Semantik diferensial data yang
diperoleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Pada rating scale yaitu data
mentah yang dapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian
kualitatif. skala pengukuran ini biasanya responden menjawab salah satu jawaban
kuantitatif yang disediakan Rating scale digunakan untuk mengukur sikap, gejala
atau fenomena sosial misalnya : ekonomi, ipteks, instansi, kinerja dosen, kegiatan
PBM, kepuasan pelanggan, produktivitas kerja, motivasi pegawai, dll.

Contoh:

Seberapa baik televisi merek X?


Berilah jawaban angka : 4 bila produk sangat baik
3 bila produk cukup baik
2 bila produk kurang baik
1 bila produk sangat tidak baik

Contoh kuesioner dengan skala rating, jawablah dengan melingkari


interval jawaban.
Misalnya jumlah responden 5 orang, maka kita buat tabulasi sebagai
berikut:

Jumlah skor kriterium (skor tertinggi) = 4 x 4 x 5 = 80

Jumlah skor terkumpul = 52

Kualitas televisi merek X menurut responden = 52/80 = 65% dari kriteria


yang ditetapkan. Secara kontinum dibuat kategori sebagai berikut:

Nilai 52 terletak pada kategori baik.


DAFTAR PUSTAKA
1. Churchill, Gilbert A. 2005. Dasar-Dasar Riset Pemasaran, Edisi 4, Jilid
I, Alih Bahasa Oleh Andriani, Dkk, Penerbit Erlangga, Jakarta.
2. Moh. Nasir, Ph.D, 1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia.
3. M. Singarimbun, Sofian Effendi, 1997, Metode Penelitian Survai, LP3ES.