You are on page 1of 43

4 ANALISA LANJUT SDKI 2007

Proximate Determinant
FERTILITAS DI INDONESIA

PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI


BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL
2009
Laporan ini merupakan hasil analisis lanjut dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesai (SDKI ) tahun
2007, yang bertujuan menggali lebih mendalam temuan-temuan strategis yang berkaitan dengan
fertilitas, keluarga berencana dan kesehatan ibu dan anak. Selain itu ada satu analisis lanjut dari data
Mini Survei.

Laporan analisis lanjut ini terdiri dari 10 buku yaitu : (1) Kelangsungan pemakaian kontrasepsi (2) Unmet
Need dan Kebutuhan Pelayanan KB (3) Karakteristik PUS MUPAR menurut provinsi dan kabupaten (4)
Proximate Determinant Fertilitas di Indonesia (5) Keinginan remaja untuk ber KB dan jumlah anak yang
diinginkan dimasa yang akan datang (6) Faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi jangka
panjang (MKJP) (7) Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap Fertilitas (8) Penggunaan
Kontrasepsi Pasca Melahirkan (9) Pengetahuan, Sikap, perilaku ber KB Pasangan Usia Subur Muda(10)
Peran Faktor Komposisional dan Faktor Kontekstual Terhadap Jumlah Anaka Yang Diinginkan di
Indonesia : Permodelan dengan Analisis Multilevel.

Informasi lebih lanjut tentang buku laporan hasil penelitian, dapat menghubungi Puslitbang KB dan
Kesehatan Reproduksi, BKKBN Jl. Permata no 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta
4 ANALISA LANJUT SDKI 2007

Proximate Determinant
FERTILITAS DI INDONESIA

Penulis
Dra. Iswarati, SU

Editor

Prof. Rusdi Muchtar, MA, APU


Drs. Edy Purnomo

PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI


BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL
2009
ANALISA LANJUT SDKI 2007

4 Proximate Determinant
FERTILITAS DI INDONESIA

Penulis
Dra. Iswarati, SU

Editor

Prof. Rusdi Muchtar, MA, APU


Drs. Edy Purnomo

Viii + 31 hal

ISBN : 978-602-8633-15-4

Hak cipta @2009 pada penerbit dilindungi Undang-Undang


Penerbit :Penerbit KB dan Kesehatan Reproduksi, BKKBN
Jl. Permata 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta -13650
KATA PENGANTAR

SDKI 2007 adalah survei demografi dan kesehatan berskala nasional yang dilakukan di
33 provinsi dan merupakan survei ke enam yang diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1987.
Survei SDKI 2007 mempunyai data yang cukup lengkap dan menarik untuk dianalisa lebih lanjut
dan mendalam untuk mengetahui faktor-faktor dan karakteristik yang berhubungan dengan kasus
tertentu dalam rangka mempelajari dan mendalami isu-isu khusus yang strategis.

Penentuan topik untuk analisa lanjut ini dilakukan melalui suatu proses yang diawali dari
pertemuan dengan komponen di lingkungan BKKBN untuk mendapatkan masukan dan
memperoleh informasi tentang prioritas program. Cukup banyak topik yang diajukan, namun
dengan keterbatasan dana yang tersedia maka dalam tahun 2009 dengan anggaran APBN telah
dipilih 10 topik yang dianggap prioritas untuk dilakukan analisa lebih lanjut. Salah satu topik
tersebut adalah .

Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih serta penghargaan yang sebesar-
besarnya kepada para penulis baik dari BKKBN, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada
maupun Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Indonesia

Kami menyadari bahwa analisis ini masih jauh dari sempurna. Namun demikian kami
mengharapkan analisis ini dapat bermanfaat bagi para penentu kebijakan dan para pengelola
program untuk membuat program-program intervensi. Untuk penyempurnaan tulisan ini,
khususnya untuk penerbitan di masa mendatang, saran serta kritik yang membangun sangat kami
hargai. Semoga upaya kita ini mendapatkan ridho dari Tuhan yang Maha Esa.

Jakarta, Desember 2009


PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI
Kepala,

DR. Ida Bagus Permana, MSc.


PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU BERKB PASANGAN USIA SUBUR MUDA DI INDONESIA
DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR .............. i


DAFTAR ISI . iii
DAFTAR TABEL . v
RINGKASAN ............... vii

BAB I. PENDAHULUAN ... .. 1


1.1. LATAR BELAKANG ........... 1
1.2. TUJUAN ................. 2
1.3. MANFAAT .... 2
1.4. KERANGKA PIKIR .. 2
1.5. HIPOTESA .... 3
1.6. VARIABEL YANG DIGUNAKAN ................. 4

BAB II. METODE ANALISIS .... 9

BAB III. HASIL ANALISIS 11


3.1. KARAKTERISTIK SOSIAL DEMOGRAFI WANITA (ANALISIS
UNIVARIAT ..... 11
3.2. PERBEDAAN FERTILITAS MENURUT LATAR BELAKANG
SOSIAL DEMOGRAFI ..... 13

BAB IV. FAKTOR DETERMINAN FERTILITAS 19


4.1. HUBUNGAN ANTARA FERTILITAS DENGAN FAKTOR SOSIAL,
EKONOMI, DAN DEMOGRAFI (ANALISIS BIVARIAT) .. 19
4.2. FAKTOR DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI FERTLITITAS
(ANALISIS MULTIVARIAT) .. 21

BAB V. PEMBAHASAN HASIL ... 25


BAB VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI . 29
DAFTAR PUSTAKA .. 31

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia iii


iv Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia
DAFTAR TABEL

HALAMAN

Tabel 1. Daftar varibel dan katagori. 4

Tabel 2. Distribusi persentase wanita menurut karakteristik sosial demografi wanita,


Indonesia 2007 12

Tabel 3. Distribusi persentase wanita menurut karakteristik sosial demografi wanita dan
jumlah anak lahir hidup, Indonesia 2007. 14

Tabel 4. Matrik korelasi antara anak lahir hidup dan faktor sosial, ekonomi, dan
demografi, Indonesia 2007.. 20

Tabel 5. Anak Lahir Hidup dan Koefisien Determinasi (R Square).. 23

Tabel 6. Hasil Akhir Analisis Multivariat Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas.. 24

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia v


vi Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia
RINGKASAN

Tingkat fertilitas merupakan salah satu faktor demografi yang paling menentukan di dalam
penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia. Secara nasional tingkat fertilitas di
Indonesia relatif masih cukup tinggi, variasi antar provinsi juga cukup besar. Target RPJM 2004-
2009 dengan tingkat fertilitas 2,2 anak per wanita belum tercapai, hasil SDKI 2007 tingkat
fertilitas di Indonesia 2,6 anak per wanita dengan rentang terendah 1,8 anak per wanita di DI
Yogyakarta hingga 4,2 anak per wanita di Nusa Tenggara Timur. Dengan diketahuinya faktor yang
dominan terhadap tingkat fertilitas diharapkan dapat dibuat kebijakan yang tepat sasaran dalam
upaya menurunkan tingkat fertilitas.

Secara umum tujuan dari analisis mendalam SDKI 2007 adalah untuk mencari faktor penentu
utama fertilitas wanita di Indonesia dan secara khusus untuk melihat hubungan antara tingkat
fertilitas dengan faktor sosial, ekonomi, dan demografi. Selain itu ingin mengetahui faktor yang
paling berpengaruh terhadap fertilitas. Hasil analisis diharapkan dapat memberi masukan bagi para
penentu kebijakan dalam membuat strategi operasional dalam upaya menurunkan fertilitas.

Populasi penelitian adalah semua wanita pernah kawin di Indonesia. Sedangkan sampel
penelitian adalah semua wanita pernah kawin umur 15-49 tahun. Data yang digunakan dalam
analisis mendalam adalah data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 yang
dilakukan di 33 provinsi dan dirancang untuk memperoleh gambaran tingkat provinsi. Dalam
analisis ini tingkat fertilitas yang digunakan adalah rata-rata jumlah anak lahir hidup (paritas).
Metode yang digunakan dalam analisis secara deskriptif dan analitik. Untuk menjelaskan
karakteristik variabel dependen dan variabel independen digunakan analisis univariat. Analisis
bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel latar belakang, variabel sosial-
ekonomi, dan variabel antara, sedangkan untuk menentukan faktor-faktor yang paling
mempengaruhi tingkat fertilitas dilakukan dengan menggunakan analisis multivariat.

Dengan data yang tersedia pada SDKI 2007, telah berhasil dilakukan analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi fertilitas sebagaimana kerangka analisis yang diajukan oleh Freedman yang
bersumber dari pola pikir Davis dan Blake. Model yang diajukan cenderung pada tingkat fertilitas
yang terjadi pada suatu saat, kemudian diteliti faktor-faktor yang melatar belakangi kehidupan
wanita. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara variabel sosial,
ekonomi, dan demografi dengan tingkat fertilitas.

Hubungan umur dengan anak lahir hidup menunjukkan hubungan yang kuat (r= 0,547) dan
ber pola positip, artinya semakin tua umur semakin banyak jumlah anak lahir hidup. Demikian

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia vii


pula hubungan antara jumlah anak meninggal dengan jumlah anak lahir hidup juga memiliki
hubungan kuat dan ber pola positip dengan r= 0,521, artinya semakin banyak jumlah anak
meninggal semakin banyak jumlak anak lahir hidup.

Hubungan ber pola negatip dengan kekuatan hubungan sedang terjadi pada hubungan antara
tingkat pendidikan wanita dengan anak lahir hidup (r = - 0,30) serta hubungan antara umur kumpul
pertama dengan anak lahir hidup (r = - 0,278). Dari ke dua variabel ini dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi tingkat pendidikan wanita semakin sedikit jumlah anak lahir hidup dan semakin
muda umur wanita saat kumpul pertama semakin banyak jumlah anak lahir hidup.

Hubungan ber pola negatip, tetapi dengan tingkat yang lemah terjadi antara anak lahir hidup
dengan indeks kekayaan kuintil (r = - 0,121), antara anak lahir hidup dengan pernah memakai
kontrasepsi (r = - 0, 102), antara anak lahir hidup dengan pekerjaan (r = - 0, 075), antara anak lahir
hidup dengan pemberian ASI eksklusif (r = -0,027), dan antara anak lahir hidup dengan saat ini
menggunakan kontrasepsi (r = - 0,023).

Hubungan ber pola positip dan kemungkinan dapat diabaikan terjadi antara anak lahir hidup
dengan tempat tinggal, agama, jumlah perkawinan, mendapatkan haid setelah melahirkan (kurang
dari 3 bulan), dan sudah kumpul setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan). Meskipun pengaruh
anak lahir hidup dengan variabel-variabel tersebut signifikan (p< 0,05), namun semuanya
mempunyai hubungan yang lemah , yakni nilai r kurang dari 0,08.

Dari analisis ini dapat disimpulkan bahwa faktor umur yang merupakan bentuk khas dari
fertilitas alami diposisikan sebagai variabel kontrol. Disisi lain variabel jumlah anak meninggal
mempunyai pengaruh paling kuat terhadap jumlah anak lahir hidup dibanding dari variabel-
variabel lain. Variabel penting lainnya setelah jumlah anak meninggal yang perlu mendapatkan
perhatian adalah tingkat pendidikan dan umur saat kumpul pertama.

Model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 55,5 persen variasi variabel anak lahir hidup,
atau dengan kata lain 13 variabel pengaruh yang dipakai sebagai model dapat menjelaskan variasi
anak lahir hidup sebesar 55,5 persen. Hasil analisis multivariat ditemukan bahwa jumlah anak
meninggal mempunyai pengaruh paling besar terhadap banyaknya jumlah anak lahir hidup. Pola
hubungan positip terlihat antara banyaknya jumlah anak yang meninggal dengan banyaknya
jumlah anak lahir hidup, semakin banyak jumlah anak yang meninggal dalam suatu keluarga
semakin banyak pula jumlah anak yang dilahirkan hidup. Hal ini berkaitan dengan upaya suatu
keluarga untuk menggantikan anak yang telah meninggal (replacement). Melihat kenyataan ini
menunjukkan bahwa kelangsungan hidup anak terancam, sehingga perlu meningkatkan kualitas
hidup anak agar anak bisa hidup sehat dan dapat bertahan hidup lebih lama. Program KB kiranya
sangat relevan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak, antara lain bisa dilakukan selain
memberikan KIE, juga memberikan bimbingan bagi ibu pasca persalinan.

viii Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Tingkat fertilitas merupakan salah satu faktor demografi yang paling menentukan di dalam
penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia. Di Indonesia laju pertumbuhan
penduduk telah mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 2,32 persen per tahun pada
periode 1971-1980 menjadi 1.49 persen per tahun periode 1990-2000, sedangkan pada periode
2000-2005 menjadi 1,21 persen per tahun (BPS, 2003, 2004, 2006). Penurunan laju pertumbuhan
penduduk juga diikuti dengan penurunan tingkat fertilitas dan mortalitas. Angka Kelahiran Total
(TFR) turun dari 5,605 anak per wanita pada periode 1967-1970 menjadi 2,78 anak per wanita
untuk periode 1995-1997 (BPS, 2000). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2002-
2003 juga mengindikasikan penurunan tingkat fertilitas menjadi 2,6 anak per wanita, namun
hasil SDKI 2007 terlihat tidak terjadi penurunan angka fertilitas, angkanya tetap 2,6 anak per
wanita. Angka kematian bayi (IMR) juga menurun pesat, jika pada tahun 1960 an IMR sebesar
143 per 1000 kelahiran, turun menjadi 112 per 1000 kelahiran pada tahun 1980, dan menjadi 71
per 1000 kelahiran pada tahun 1992. Keadaan ini berlanjut hingga menurun lagi menjadi 59 per
1000 kelahiran pada tahun 1997 dan turun tajam menjadi 35 per 1000 kelahiran pada tahun 2003,
namun setelah itu terjadi kenaikan menjadi 39 pada tahun 2007 (SDKI 2007).

Penurunan tingkat fertilitas di Indonesia tidak terlepas dari keberhasilan program


Keluarga Berencana yang mulai dilaksanakan pada awal tahun 70an. Secara nasional saat ini
tingkat fertilitas Indonesia relatif sudah cukup rendah bila dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, namun angkanya sangat bervariasi menurut provinsi. Keragaman fertilitas antar
provinsi relatif cukup besar, berkisar antara 1,8 anak per wanita di DI Yogyakarta hingga 4,2
anak per wanita di Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, tingkat fertilitas di beberapa provinsi
masih cukup tinggi dengan TFR diatas tiga anak per wanita, antara lain NAD, Sumut, Sumbar,
Kep. Riau, Kalteng, Sulteng, Sultra, Sulbar,Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat (BPS,
BKKBN, DepKes, dan Macro, 2007).

Dilihat dari pencapaian fertilitas dapat disimpulkan bahwa secara nasional tingkat
fertilitas di Indonesia relatif masih cukup tinggi, variasi antar provinsi juga cukup besar. Untuk
mencapai target RPJM 2004-2009 dengan tingkat fertilitas 2,2 anak per wanita atau untuk
pencapaian Replacement Level (Net Reproduction Rate/NRR = 1 atau TFR= 2.1) pada tahun
2015, maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut berkaitan dengan faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi tingkat fertilitas di Indonesia. Dengan diketahuinya faktor yang dominan

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 1


terhadap tingkat fertilitas diharapkan dapat dibuat kebijakan yang tepat sasaran dalam upaya
menurunkan tingkat fertilitas.

Permasalahan Penelitian
a. Apakah tinggi rendahnya fertilitas dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi (pendidikan,
agama, pekerjaan, dan kekayaan).
b. Apakah tinggi rendahnya fertilitas dipengaruhi oleh faktor demografi (umur, kematian anak,
umur kumpul pertama, jumlah perkawinan, dan pemakaian kontrasepsi).
c. Apakah tinggi rendahnya fertilitas dipengaruhi oleh segeranya mendapat haid setelah
melahirkan, segera kumpul setelah melahirkan, dan pemberian ASI ekslusif.

1.2. TUJUAN

Secara umum tujuan dari kajian mendalam adalah untuk mencari faktor penentu utama
fertilitas wanita di Indonesia.

Tujuan khusus dari analisis adalah:


a. Melihat hubungan antara tingkat fertilitas dengan beberapa faktor sosial, ekonomi,
dan demografi.
b. Menentukan faktor yang paling berpengaruh terhadap fertilitas.

1.3. MANFAAT

Hasil analisis diharapkan dapat memberi masukan bagi para penentu kebijakan dalam
membuat strategi operasional dalam upaya menurunkan fertilias, baik secara nasional maupun di
setiap provinsi.

1.4. KERANGKA PIKIR

Untuk mengetahui mengapa fertilitas di suatu tempat bisa lebih rendah atau lebih tinggi,
dapat digunakan variabel antara hasil klasifikasi Davis dan Blake (1956). Ada 11 variabel
antara yang dapat berpengaruh langsung terhadap fertilitas, sedangkan faktor-faktor sosial
ekonomi, bio sosial, dan lain-lain hanya dapat berpengaruh secara tidak langsung. Kesebelas
variabel antara itu digolongkan menjadi 3 kategori, antara lain variabel-variabel hubungan seks,
variabel-variabel konsepsi, dan variabel-variabel gestasi (wanita harus berhasil menyelesaikan
masa kehamilan). Davis dan Blake mencoba menunjukkan bagaimana faktor-faktor lain melalui
variabel-variabel ini dapat mempengaruhi fertilitas. Setiap variabel antara dapat mempunyai
pengaruh positip atau negatip terhadap fertilitas, sebagai contoh, jika suatu masyarakat sedang
menggunakan alat/cara KB, maka pengaruhnya terhadap fertilitas negatip. Sedangkan jika
alat/cara KB tersebut tidak digunakan, maka pengaruhnya positip terhadap fertilitas.

2 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


Mengukur hubungan antara variabel antara dan fertilitas ternyata sulit, oleh karena itu
untuk memudahkannya Bongaars (1978) menguranginya menjadi 8 variabel saja, misalnya
dalam kerangka kerjanya variabel 1-3 dijadikan satu faktor, yaitu proporsi telah kawin. Disisi
lain beberapa ahli ada yang mencoba menguraikan hubungan antara tingkat fertilitas dengan
variabel-variabel lainnya. Salah satu ahli tersebut adalah R. Freedman (1975), yang memberikan
suatu model antara tingkat fertilitas dan keadaan sosial dengan norma-norma yang berlaku.
Model yang Freedman berikan bersumber dari pola pikir Davis dan Blake. Model yang diajukan
oleh Freedman cenderung pada tingkat fertilitas yang terjadi pada suatu saat, kemudian diteliti
faktor-faktor yang melatar belakangi kehidupan individu dan masyarakat setempat. Namun
demikian dengan mempertimbangkan data yang tersedia dalam SDKI 2007 dan kerangka model
dari Freedman, maka dapat dibuat skema hubungan kausal antara variabel sosial ekonomi dan
variabel antara dengan fertilitas.

Skema : Hubungan antara variabel sosial, ekonomi, variabel antara dan fertilitas

F
Variabel Variabel Antara : E
Sosial Ekonomi: R
Variabel - Umur kumpul pertama T
Kontrol : - Jumlah perkawinan I
-Pendidikan
-Status bekerja - Pemakaian kontrasepsi L
-Umur - Segera haid setelah melahirkan I
-Tempat - Agama
-Jumlah anak meninggal - Segera kumpul setelah T
tinggal A
-Indeks kekayaan kuintil melahirkan
- ASI ekslusif S

1.5. HIPOTESA

a. Ada hubungan antara pendidikan, pekerjaan, agama, jumlah anak meninggal, dan indeks
kekayaan kuintil dengan jumlah anak lahir hidup.
b. Ada hubungan antara umur kumpul pertama, jumlah perkawinan, pemakaian
kontrasepsi, haid setelah melahirkan, kumpul setelah melahirkan, dan ASI ekslusif
dengan jumlah anak lahir hidup.
c. Ada hubungan antara umur ibu dan tempat tinggal dengan variabel sosial ekonomi, serta
variabel antara yang secara langsung mempengaruhi jumlah anak lahir hidup.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 3


1.6. VARIABEL YANG DIGUNAKAN

Variabel yang digunakan untuk analisis fertilitas beserta katagorinya dapat dilihat pada
tabel berikut :

Tabel 1. Daftar Varibel dan Katagori


No. Nama Variabel Katagori
1 Umur 15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
2 Tempat tinggal Perkotaan
Perdesaan
3 Pendidikan Tidak Sekolah
Tidak Tamat SD
Tamat SD
Tidak Tamat SMTA
SMTA+
4 Status bekerja Bekerja
Tidak Bekerja
5 Agama Islam
Non Islam
6 Jumlah anak yang meninggal Tidak ada
Satu
Dua
Tiga+
7 Indeks kekayaan kuintil Terbawah
Menengah Bawah
Menengah
Menengah Atas
Teratas
8 Umur kumpul pertama 15 tahun
16 19 tahun
20 - 24 tahun
> 25 tahun
9 Jumlah perkawinan Satu kali
Lebih dari Satu Kali
10 Pernah pakai kontrasepsi Pernah pakai
Tidak Pernah Pakai
11 Saat ini pakai kontrasepsi Pakai
Tidak Pakai
12 Haid lagi setelah melahirkan (< 3 bulan) Ya
Tidak
13 Kumpul lagi setelah melahirkan (< 3 bulan) Ya
Tidak
14 ASI eksklusif (6 bulan) Ya

4 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


Tidak
15 Jumlah anak lahir hidup (CEB) Tidak punya anak
1-2 anak
3-4 anak
>= 5 anak

Variabel Kontrol

1. Umur
Umur sebagai variabel kontrol dalam analisis fertilitas adalah penting, hal ini dapat
dijelaskan bahwa pada umumnya semakin tua umur wanita, maka semakin banyak jumlah anak
yang dilahirkan. Selain itu umumnya wanita mengalami masa reproduksi pada umur 15-49 tahun
dan bervariasi antara wanita satu dengan lainnya. Umur dalam analisis dikelompokkan dalam
lima tahunan.

2. Tempat Tinggal
Faktor tempat tinggal (desa, kota) merupakan faktor latar belakang yang cukup berpengaruh
terhadap tingkat fertilitas. Biasanya tingkat fertilitas wanita daerah perkotaan relatif sedikit lebih
rendah dibandingkan dengan wanita daerah perdesaan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
segala akses sarana dan prasarana antar daerah perkotaan dan perdesaan yang semakin baik.

Varibel Sosial-ekonomi, demografi

1. Pendidikan
Faktor pendidikan sangat erat kaitannya dengan sikap dan pandangan hidup suatu
masyarakat. Pendidikan jelas mempengaruhi usia kawin, dengan sekolah maka wanita akan
menunda perkawinannya, yang kemudian berdampak pada penundaan untuk memiliki anak.
Tingkat pendidikan disini adalah pendidikan yang ditamatkan, yang dalam analisis
dikelompokkan menjadi lima, yaitu Tidak Sekolah, Tidak Tamat SD, Tamat SD, Tidak Tamat
SMTA, dan SMTA+.

2. Status Bekerja
Status bekerja wanita mempunyai pengaruh terhadap tingkat fertilitas. Wanita yang bekerja
umumnya mempunyai tingkat fertilitas lebih rendah dari wanita yang tidak bekerja. Dalam
analisa status bekerja dibedakan antara wanita bekerja dan tidak bekerja.

3. Agama
Agama merupakan salah satu variabel pengaruh yang penting dalam kaitannya dengan
tingkat fertilitas. Menurut Hipotesis Theologi Khusus (Particularized Theology Hypothesis),

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 5


agama mempengaruhi fertilitas karena doktrin-doktrin tertentu dari gereja, atau ideologi agama
tentang pembatasan kelahiran dan norma-norma besarnya keluarga. Misalnya, gereja katolik
mengajarkan hanya abstinensi dan pantang berkala saja yang dapat diterima sebagai cara
pembatasan kelahiran (Jones and Nortman, 1968: 1). Menurut Kirk (1966), hubungan antara
agama dan fertilitas lebih erat pada kaum muslimin daripada pada agama lain. Faktor-faktor yang
mendorong tingginya fertilitas kaum muslimin antara lain sebagian besar hidup dalam
masyarakat pertanian tradisional, di mana anak mempunyai peranan ekonomi yang penting dan
tingkat pendidikan relatif rendah. Selain itu ada dorongan dari agama untuk kawin pada usia
muda serta wanita mempunyai kedudukan rendah dan kegiatannya terbatas pada rumah tangga
saja. Dalam analisis, agama dibedakan menjadi Islam dan non Islam.

4. Jumlah Anak yang Meninggal


Jumlah anak yang meninggal erat kaitannya dengan tingkat fertilitas. Ada kecenderungan
hubungan yang positif antara jumlah anak yang meninggal dengan fertilitas. Di banyak studi
menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah anak yang meninggal, semakin banyak jumlah anak
yang dimiliki seorang ibu. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan upaya seorang ibu untuk
mendapatkan ganti dari anak yang sudah meninggal. Dalam analisis, jumlah anak yang
meninggal dikelompokkan menjadi tidak ada, satu anak, dua anak, dan lebih dari tiga anak.

5. Indeks Kekayaan Kuintil


Pada umumnya masyarakat dari golongan status ekonomi yang lebih rendah mempunyai
fertilitas yang relatif lebih tinggi dibanding dengan golongan status ekonomi lebih tinggi. Dalam
SDKI 2007 tidak ditanyakan mengenai besarnya pendapatan, tetapi ditanyakan informasi
mengenai kepemilikan barang dalam rumah tangga, seperti radio, televisi, atau mobil, serta
karakteristik tempat tinggal dan fasilitas sanitasi. Berdasarkan informasi ini dihitung Indeks
Kekayaan Kuintil. Indeks kekayaan dihitung dengan cara memberi penimbang tertentu terhadap
setiap aset rumah tangga melalui analisis komponen. Penimbang untuk setiap rumah tangga
dijumlahkan dan setiap individu diurutkan berdasarkan besarnya jumlah penimbang dari rumah
tangga dimana dia berada. Kemudian dikelompokkan dalam kuintil penduduk, yaitu lima
kelompok dengan jumlah penduduk yang sama. Indeks kekayaan kuintil ini digunakan sebagai
pendekataan variabel pendapatan. Sebagai pendekatan variabel pendapatan, indeks kekayaan
kuintil diharapkan mempengaruhi tingkat fertilitas. Dalam analisis ini diharapkan bahwa wanita
dari kelompok kuintil terbawah mempunyai tingkat fertilitas tertinggi dibanding dengan
kelompok kuintil lainnya. Indeks kekayaan kuintil dibagi menjadi lima kelompok, yaitu
terbawah, menengah bawah, menengah, menengah atas, dan teratas.

6 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


Variabel Antara

1. Jumlah Perkawinan
Banyaknya jumlah perkawinan mempengaruhi banyaknya fertilitas, semakin banyak jumlah
perkawinan akan mengakibatkan rata-rata paritas semakin kecil. Jumlah perkawinan yang lebih
banyak akan mengurangi masa reproduksi wanita, hal ini disebabkan adanya tenggang waktu
antara dua perkawinan. Dengan berkurangnya masa reproduksi ini memungkinkan adanya
penurunan paritas. Dalam analisis jumlah perkawinan dikelompokkan menjadi dua, yaitu satu
kali dan lebih dari satu kali perkawinan.

2. Umur Kumpul Pertama


Umur kumpul pertama sangat berkaitan dengan tingkat fertilitas, karena umur kumpul
pertama menandakan dimulainya masa reproduksi wanita. Oleh karena itu semakin muda wanita
mulai aktif secara seksual, maka semakin panjang masa reproduksinya, dan pada akhirnya makin
besar pula kemungkinan mempunyai anak yang banyak. Umur kumpul pertama dikelompokkan
menjadi, 15 tahun, 16-17 tahun, 18-19 tahun, 20-29 tahun, dan 30+ tahun.

3. Pemakaian Alat/Cara Kontrasepsi


Penggunaan alat/cara kontrasepsi secara langsung dapat mempengaruhi fertilitas. Semakin
tinggi persentase wanita yang menggunakan alat/cara kontrasepsi, semakin rendah tingkat
fertilitasnya. Dalam analisis ini akan dilihat pengaruh penggunaan alat/cara kontrasepsi terhadap
tingkat fertilitas, baik untuk wanita yang pernah menggunakan alat/cara kontrasepsi, maupun
saat ini sedang menggunakan alat/cara kontrasepsi.

4. Mendapatkan haid lagi setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan)


Pada masa kini wanita banyak yang bekerja, sehingga pemberian ASI, khususnya ASI
eksklusif semakin pendek. Dengan tidak menyusui, maka masa amenore semakin pendek,
sehingga wanita akan mendapat haid lagi setelah melahirkan semakin cepat. Cepatnya wanita
mendapat haid kembali setelah melahirkan kemungkinan untuk menjadi hamil setelah
melahirkan juga tinggi dan pada akhirnya akan mempengaruhi fertilitas. Data SDKI 2007
menunjukkan bahwa persentase kelahiran pada wanita dalam tiga tahun sebelum survei (9.882
kelahiran) yang sudah haid sebanyak 50 persen wanita sudah haid kembali pada 2-3 bulan
setelah melahirkan.

5. Sudah kumpul lagi setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan)


Terlepas apakah wanita setelah melahirkan memberikan ASI eksklusif atau tidak, atau
wanita tersebut sudah haid kembali setelah melahirkan, maka pasangan suami isteri yang telah
melakukan hubungan seksual akan mempunyai kemungkinan untuk menjadi hamil dan pada
akhirnya akan mempengaruhi fertilitas. Data SDKI 2007 menunjukkan bahwa persentase

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 7


kelahiran pada wanita dalam tiga tahun sebelum survei (9.882 kelahiran) yang sudah kumpul
sebanyak 57 persen wanita sudah melakukan hubungan seksual setelah 2-3 bulan setelah
melahirkan.

6. ASI Eksklusif (6 bulan)


Menurut teori menyusui setelah melahirkan dapat melindungi wanita dari kehamilan
melalui periode lamanya amenore (kembalinya haid). Makin sering menyusui dan makin lama
menyusui eksklusif (tidak memberi makanan lainnya selain ASI) berhubungan dengan makin
lamanya amenore dan akan mempengaruhi fertilitas. Pada masyarakat kebiasaan menyusui yang
mempengaruhi tingkat fertilitas tidak tergantung pada berapa anak yang dimiliki oleh sepasang
suami isteri; artinya mereka tidak melakukan itu demi mencapai besar keluarga yang diinginkan
atau untuk membatasi jumlah anak. Bahkan umumnya masyarakat tidak mengetahui bahwa
dengan menyusui wanita dapat terhindar dari kehamilan.

8 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


BAB II
METODE ANALISIS

Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian adalah cros-sectional, dengan pendekatan
pengambilan data pada waktu tertentu, dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara
variabel independen dengan variabel dependen.

Populasi dan Sampel


Populasi penelitian adalah semua wanita pernah kawin di Indonesia. Sedangkan sampel
penelitian adalah semua wanita pernah kawin umur 15-49 tahun yang tercakup dalam data
SDKI 2007.

Sumber Data
Data yang digunakan dalam analisis mendalam adalah data Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2007. Salah satu tujuan dari survei ini adalah menyediakan data fertilitas,
keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian ibu, dan pengetahuan tentang AIDS.
SDKI 2007 dilakukan di 33 provinsi dan merupakan survei untuk gambaran tingkat provinsi.
Dengan adanya perbedaan dalam cakupan SDKI 2007 dengan SDKI 2002-2003, maka di dalam
membandingkan data antar SDKI harus selalu diingat perbedaan cakupan ini. Responden dari
SDKI 2007 adalah wanita pernah kawin umur 15-49 tahun. Dalam analisis ini tingkat fertilitas
yang digunakan adalah rata-rata jumlah anak lahir hidup (paritas).

Metode Analisis
Ada tiga metode analisis yang digunakan dalam studi ini. Pertama, untuk menjelaskan atau
mendiskripsikan karakteristik variabel dependen dan variabel independen digunakan analisis
univariat. Ke dua, analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel latar
belakang, variabel sosial-ekonomi, dan variabael antara, akan dilakukan dengan analisa tabel.
Ke tiga, untuk menentukan faktor-faktor yang paling mempengaruhi tingkat fertilitas dilakukan
dengan menggunakan analisis multivariat.

Analisa multivariat yang digunakan adalah regresi linier ganda. Langkah-langkah dalam
permodelan regresi linier ganda yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Melakukan analisis bivariat untuk menentukan variabel yang menjadi kandidat model.
Masing-masing variabel independen dihubungkan dengan variabel dependen (bivariat),
bila hasil uji bivariat nilai p<0,25 maka variabel tersebut dapat masuk dalam model
multivariat.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 9


b. Melakukan analisis secara bersamaan, dengan pemilihan variabel yang masuk dalam
model. Ada beberapa metode untuk melakukan pemilihan variabel independen dalam
analisis multivariat regresi linier ganda, namun yang akan dipakai adalah backward.
Metode ini dilakukan dengan memasukkan semua variabel ke dalam model, kemudian
satu per satu variabel independen dikeluarkan dari model berdasarkan kriteria kemaknaan
tertentu. Variabel yang pertama kali dikeluarkan adalah variabel yang mempunyai
korelasi partial terkecil dengan variabel dependen. Variabel yang mempunyai nilai
p0,10 dikeluarkan dari model.

10 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


BAB III
HASIL ANALISIS

3.1. KARAKTERISTIK SOSIAL DEMOGRAFI WANITA (ANALISIS UNIVARIAT)

Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran deskriptif karakteristik sosial


demografi wanita. Faktor sosial, ekonomi, dan demografi yang digunakan dalam analisis adalah
umur, tempat tinggal, agama, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak meninggal, indeks kekayaan
kuintil, umur kumpul pertama, pernah ber KB, saat ini ber KB, jumlah perkawinan, jumlah anak
lahir hidup. Selain itu variabel seperti ibu mendapatkan haid lagi setelah melahirkan (kurang
dari 3 bulan), ibu dan suami sudah kumpul sejak melahirkan (kurang dari 3 bulan) juga dipakai
dalam penelitian. Analisis masing-masing variabel secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2.
Umumnya wanita pernah kawin berada kelompok umur 30-39 tahun (37 persen), tinggal di
perdesaan (58 persen), beragama Islam (89 persen), berpendidikan tamat SD (31 persen), dan
bekerja (55 persen). Selain itu bila dilihat dari indeks kekayaan kuintil terlihat persentasenya
merata pada kelompok menengah bawah hingga kelompok kekayaan teratas (masing-masing 20
persen).

Umumnya wanita pernah kawin tidak pernah mengalami kematian anaknya (86 persen),
sedangkan yang pernah mengalami kematian anaknya (10 persen), dan yang telah kehilangan
lebih dari 2 anak meninggal mencapai 4 persen. Wanita yang pertama kali berhubungan seksual
dengan pasangannya relatif muda, yakni 40 persen melakukan hubungan seksual pertama kali
pada umur 16-19 tahun, sedangkan yang melakukannya pada umur 20-24 tahun juga sebanyak
40 persen, dan selebihnya dilakukan di atas umur 25 tahun (2 persen). Kebanyakan wanita
pernah kawin melakukan pernikahan hanya sekali (91 persen) dan 9 persen melakukan
pernikahan lebih dari sekali. Kebanyakan wanita pernah kawin mempunyai antara 1-2 anak lahir
hidup (53 persen), yang mempunyai 3-4 anak (28 persen), dan lebih dari 5 anak (12 persen),
sedangkan yang belum mempunyai anak relatif hanya sedikit (8 persen).

Di antara wanita pernah kawin (32.895), persentase kelahiran pada wanita dalam tiga tahun
sebelum survei yang mendapatkan haid lagi setelah melahirkan kurang dari 3 bulan sebesar 26
persen (8.654 orang). Sementara itu, wanita yang sudah melakukan hubungan seksual setelah
melahirkan kurang dari 3 bulan sebanyak 22 persen (7.171 orang) dan wanita yang memberi ASI
eksklusif selama 6 bulan hanya 7 persen (2.250 orang).

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 11


Tabel 2. Distribusi persentase wanita menurut karakteristik sosial demografi wanita, Indonesia 2007
Karakteristik Jumlah Persentase
Umur 15-19 845 2,6
20-24 4.094 12,4
25-29 5.771 17,5
30-34 6.020 18,3
35-39 6.004 18,3
40-44 5.365 16,3
45-49 4.795 14,6
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 13.745 41,8
Perdesaan 19.150 58,2
Agama Islam 29.104 88,5
Protestan/katolik, dll 3.791 11,5
Pendidikan Tidak sekolah 2.270 6,9
Tidak tamat sekolah 5.572 16,9
Tamat SD 10.077 30,6
Tidak tamat SMTA 6.781 20,6
Tamat SMTA+ 8.193 24,9
Pekerjaan Bekerja 17.965 54,6
Tidak bekerja 14.930 45,4
Jumlah Anak Meninggal
0 28.245 85,9
1 3.360 10,2
2 854 2,6
3+ 436 1,3
Indeks kekayaan kuintil
Terbawah 6.219 18,9
Menengah bawah 6.606 20,1
Menengah 6.710 20,4
Menengah atas 6.713 20,4
Teratas 6.647 20,2
Umur Kumpul Pertama
<=15 5.942 18,1
16-19 13.138 39,9
20-24 13.146 40,0
25-29 670 2,0
Pernah Menggunakan KB
Ya 24.144 73,4
Tidak 8.751 26,6
Saat Ini Menggunakan KB
Ya 19.124 58,1
Tidak 13.771 41,9
Jumlah Perkawinan
Sekali 29.899 90,9
Lebih dari 1 kali 2.996 9,1
Jumlah anak lahir hidup
Tidak Punya Anak 2.518 7,7
1 - 2 Anak 17.416 52,9
3 - 4 Anak 9.165 27,9
>= 5 Anak 3.796 11,5
Ibu mendapatkan haid lagi setelah melahirkan ( Kurang dari 3 bulan)
Ya 8.654 26,3
Tidak 24.241 73,7

Ibu dan suami sudah berhubungan seksual setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan)
Ya 7.171 21,8
Tidak 25.724 78,2
ASI Ekslusif (6 bulan)
Ya 2.250 6,8
Tidak 30.645 93,2
Jumlah 32.893 100,0

12 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


3.2. PERBEDAAN FERTILITAS MENURUT LATAR BELAKANG SOSIAL
DEMOGRAFI

Perbedaan fertilitas antara wanita pernah kawin dengan status sosial demografi dan ciri-
ciri lainnya disajikan pada Tabel 3. Tingkat fertilitas yang diukur dalam analisis ini adalah
jumlah anak lahir hidup, sedangkan status sosial ekonomi yang diukur adalah tingkat pendidikan
yang ditamatkan, tingkat kekayaan kuintil, status bekerja, dan agama. Status sosial demografi
antara lain meliputi umur wanita, jumlah anak lahir hidup, jumlah anak meninggal, umur kumpul
pertama, jumlah perkawinan, dan pernah atau saai ini sedang menggunakan kontrasepsi.
Sedangkan ciri lainnya meliputi kelahiran pada wanita dalam tiga tahun sebelum survei yang
mendapatkan haid lagi setelah melahirkan kurang dari 3 bulan, wanita yang sudah melakukan
hubungan seksual setelah melahirkan kurang dari 3 bulan, dan wanita yang memberi ASI
eksklusif selama 6 bulan.

Hubungan antara umur wanita dengan tingkat kelahiran menunjukkan hubungan positip,
yakni semakin tua umur semakin banyak kelahiran. Ibu berumur di bawah 24 tahun memiliki
rata-rata anak lahir hidup satu anak, sedangkan ibu berumur 35-39 tahun rata-rata anak lahir
hidup 3 anak, dan meningkat menjadi 4 anak pada ibu berumur di atas 45 tahun. Pengaruh umur
ibu terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).

Rata-rata jumlah anak lahir hidup antara wanita dari perdesaan dan perkotaan terlihat ada
sedikit berbedaan, untuk wanita di perkotaan 2,4 anak dan perdesaan 2,5 anak. Pengaruh daerah
tempat tinggal terhadap fertilitas signifikan (p<0,05). Wanita perkotaan umumnya lebih banyak
yang mempunyai 1-2 anak, sedangkan pada wanita perdesaan umumnya mempunyai lebih dari 5
anak.

Wanita pernah kawin yang beragama Islam ternyata mempunyai rata-rata jumlah anak
lahir hidup lebih rendah dibanding wanita dari agama Protestan/Katolik/lainnya, yakni 2,4
berbanding 2,7 anak dan pengaruh agama terhadap fertilitas signifikan (p<0,05). Lebih lanjut
bila diamati pada kelompok anak lahir hidup terlihat bahwa wanita yang beragama Islam
umumnya lebih banyak yang belum mempunyai anak dan yang mempunyai antara 1-2 anak,
sedangkan wanita bukan muslim umumnya lebih banyak yang mempunyai 3 anak atau lebih.

Hubungan antara tingkat pendidikan dan fertilitas menunjukkan hubungan yang negatif,
semakin tinggi pendidikan fertilitas semakin rendah. Wanita pernah kawin yang tidak pernah
sekolah mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup 3,7 anak, sedangkan wanita tamat SD
mempunyai 2,4 anak dan wanita yang berpendidikan tamat SMTA atau lebih mempunyai 1,9
anak. Pengaruh pendidikan terhadap fertilitas signifikan (p<0,005).

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 13


Tabel 3. Distribusi persentase wanita menurut karakteristik sosial demografi wanita dan jumlah anak lahir
hidup, Indonesia 2007
Jumlah Anak Lahir Hidup Rata-Rata Anak
P Value
0 1-2 anak 3 - 4 Anak >= 5 Anak Lahir Hidup
Umur Ibu
15 19 427 50,6 416 49,2 2 0,2 0 0,0 0,001 0,6
20 24 823 20,1 3148 76,9 120 2,9 4 0,1 1,0
25 -29 512 8,9 4461 77,3 744 12,9 55 0,9 1,6
30 34 279 4,6 3675 61,0 1790 29,7 276 4,6 2,2
35 39 184 3,1 2664 44,4 2439 40,6 716 11,9 2,8
40 44 144 2,7 1799 33,5 2217 41,3 1204 22,4 3,4
45 49 149 3,1 1253 26,1 1852 38,6 1541 32,1 3,9
Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan 1083 7,9 7456 54,2 3905 28,4 1300 9,5 0,001 2,4
Perdesaan 1435 7,5 9960 52,0 5259 27,5 2496 13,0 2,5
Agama
Islam 2257 7,8 15658 53,8 7973 27,4 3216 11,1 0,001 2,4
Non Islam 260 6,9 1758 46,4 1192 31,4 581 15,3 2,7
Pendidikan
Tidak sekolah 106 4.7 727 32.0 699 30.8 738 32.5 0,001 3,7
Tidak tamat SD 294 5.3 2143 38.5 1840 33.0 1296 23.3 3,2
Tamat SD 612 6.1 5459 54.2 3044 30.2 962 9.5 2,4
Tidak tamat SMTA 616 9.1 4038 59.5 1642 24.2 485 7.2 2,1
Tamat SMTA+ 891 10.9 5049 61.6 1938 23.7 316 3.9 1,9
Pekerjaan
Ya 1277 7,1 9112 50,7 5272 29,3 2304 12,8 0,001 2,5
Tidak 1241 8,3 8304 55,6 3893 26,1 1492 10,0 2,3
Jumlah Anak Meninggal
0 2518 8,9 16714 59,2 7163 25,4 1850 6,5 0,001 2,1
1 0 0,0 687 20,4 1648 49,0 1026 30,5 3,9
2 0 0,0 15 1,7 331 38,8 508 59,5 5,3
3+ 0 0,0 0 0,0 23 5,3 413 94,7 7,6
Indeks Kekayaan Kuintil
Terbawah 497 8,0 2805 45,1 1703 27,4 1214 19,5 0,001 2,9
Menengah bawah 447 6,8 3505 53,1 1806 27,3 849 12,9 2,5
Menengah 487 7,3 3642 54,3 1822 27,2 758 11,3 2,5
Menengah atas 557 8,3 3731 55,6 1850 27,6 575 8,6 2,3
Teratas 530 8,0 3734 56,2 1984 29,8 400 6,0 2,2
Umur Kumpul Pertama
<=15 203 3,4 2326 39,2 2039 34,3 1372 23,1 0,001 3,3
16-19 748 5,7 6890 52,4 3869 29,4 1631 12,4 2,6
20-24 1360 10,3 7793 59,3 3209 24,4 785 6,0 2,0
25-29 207 30,9 408 60,9 47 7,1 8 1,2 1,1
Pernah Menggunakan KB
Ya 335 1,4 13754 57,0 7449 30,9 2607 10,8 0,001 2,5
Tidak 2183 24,9 3662 41,8 1716 19,6 1190 13,6 2,2
Saat ini Menggunakan KB
Ya 193 1,0 11235 58,7 5973 31,2 1724 9,0 0,001 2,5
Tidak 2325 16,9 6181 44,9 3192 23,2 2072 15,0 2,4
Jumlah Perkawinan
Sekali 2348 7,9 16063 53,7 8212 27,5 3276 11,0 0,001 2,0
Lebih dari 1 kali 170 5,7 1353 45,2 953 31,8 520 17,4 3,0
Ibu mendapatkan haid lagi setelah melahirkan ( Kurang dari 3 bulan)
Ya 0 0,0 5978 69,1 2039 23,6 637 7,4 0,001 2,2
Tidak 2518 10,4 11438 47,2 7125 29,4 3160 13,0 2,5

Ibu dan suami sudah berhubungan seksual setelah melahiran (kurang dari 3 bulan)
Ya 0 0,0 4536 63,2 1971 27,5 665 9,3 0,001 2,4
Tidak 2518 9,8 12881 50,1 7194 28,0 3132 12,2 2,5
ASI Eksklusif
Ya 0 0,0 1311 58,3 661 29,4 278 12,4 0,001 2,6
Tidak 2518 8,2 16105 52,6 8504 27,8 3518 11,5 2,4
Jumlah wanita kawin 2.518 7,7 17.416 52,9 9.163 27,9 3.796 11,5

14 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


Wanita yang bekerja mempunyai fertilitas sedikit lebih tinggi dibanding wanita yang tidak
bekerja (2,5 dibanding 2,3 anak), dan pengaruh pekerjaan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
Bila dilihat menurut kelompok jumlah anak lahir hidup menunjukkan bahwa umumnya wanita
yang bekerja mempunyai jumlah anak lahir hidup 3 anak atau lebih, sedangkan wanita yang
tidak bekerja umumnya belum mempunyai anak dan mempunyai antara 1-2 anak.

Tingkat kekayaan juga mempunyai hubungan negatif dengan fertilitas, yakni semakin tinggi
indeks kekayaan kuintil semakin rendah fertilitas. Wanita pada kelompok indeks kekayaan
kuintil terendah rata-rata jumlah anak lahir hidup 2,9 anak, sedangkan wanita pada indeks
kekayaan teratas mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup 2,2 anak. Terlihat bahwa wanita
dengan indeks kekayaan teratas umumnya mempunyai jumlah anak lahir hidup lebih sedikit
dibandingkan dengan wanita dengan indeks kekayaan terendah. Pengaruh kekayaan terhadap
fertilitas terlihat signifikan (p<0,005).

Banyaknya jumlah anak meninggal sangat berhubungan dengan fertilitas dan di banyak
penelitian ditemukan hubungan positif antara jumlah anak meninggal dengan fertilitas, yakni
semakin banyak jumlah anak yang meninggal semakin banyak fertilitas. Tabel 3 menunjukkan
bahwa wanita pernah kawin yang tidak pernah mengalami kematian anaknya mempunyai rata-
rata jumlah anak lahir hidup 2,1 anak, kemudian meningkat menjadi 3,9 anak lahir hidup pada
wanita yang mempunyai seorang anak meninggal, menjadi 5,3 anak lahir hidup pada wanita
yang mempunyai 2 anak yang meninggal, dan tertinggi 7,6 anak lahir hidup pada wanita yang
mempunyai 3 anak atau lebih meninggal. Pengaruh jumlah anak meninggal terhadap fertilitas
signifikan (p<0,005).

Umur kumpul pertama merupakan salah satu dari sebelas variabel antara yang secara
langsung mempengaruhi fertilitas. Terdapat hubungan negatif antara umur kumpul pertama
dengan fertilitas, yaitu semakin muda umur kumpul pertama semakin tinggi fertilitas. Data pada
Tabel 3 menunjukkan bahwa wanita yang saat kumpul pertamanya berumur 15 tahun atau
kurang dari 15 tahun mempunyai rata-rata anak lahir hidup 3,3 anak, sedangkan wanita yang saat
kumpul pertama berumur 16-19 tahun mempunyai rata-rata anak lahir hidup 2,6 anak, demikian
seterusnya hingga pada wanita saat kumpul pertamanya umur 25-29 tahun mempunyai rata-rata
anak lahir hidup hanya 1,1 anak. Pengaruh umur kumpul pertama terhadap fertilitas signifikan
(p<0,005).

Jumlah perkawinan juga merupakan salah satu variabel antara yang secara langsung
mempengaruhi fertilitas. Banyaknya perkawinan akan menurunkan tingkat fertilitas, karena masa
reproduksi yang berisiko dapat hamil oleh wanita yang melakukan perkawinan lebih dari sekali
lebih pendek. Tabel 3 menunjukkan bahwa wanita yang melakukan sekali perkawinan terlihat
justru rata-rata jumlah anak lahir hidup lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita yang

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 15


melakukan perkawinan lebih dari satu kali (2 berbanding 3 anak). Hal ini kemungkinan
disebabkan karena wanita yang kawin lebih dari sekali sebelum melakukan perkawinan yang
berikutnya sudah mempunyai anak di atas 3 anak atau lebih (Tabel 3). Pengaruh jumlah
perkawinan terhadap fertilitas menunjukkan signifikan (p<0,005).

Variabel lainnya adalah penggunaan kontrasepsi yang merupakan salah satu variabel
antara yang secara langsung mempengaruhi fertilitas. Dalam analisis ini pemakaian kontrasepsi
dibedakan antara yang pernah memakai kontrasepsi dan saat ini memakai kontrasepsi. Tabel 3
menunjukkan bahwa wanita pernah kawin yang pernah memakai kontrasepsi mempunyai rata-
rata jumlah anak lahir hidup lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan
kontrasepsi (2,5 dibanding 2,2 anak). Demikian pula dengan wanita pernah kawin yang saat ini
memakai kontrasepsi juga memperlihatkan bahwa rata-rata jumlah anak lahir hidup pada wanita
saat ini memakai kontrasepsi lebih tinggi bila dibanding wanita yang saat ini tidak memakai
kontrasepsi (2,5 dibanding 2,4 anak). Pengaruh pernah memakai kontrasepsi dan saat ini
memakai kontrasepsi terhadap fertilitas signifikan (p<0,05). Pola penggunaan kontrasepsi pada
wanita pernah kawin yang pernah memakai kontrasepsi dan wanita pernah kawin yang saat ini
memakai kontrasepsi terlihat sama. Pemakaian kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang sudah
mempunyai 1-2 anak yang kemungkinan dilakukan untuk penjarangan, dan pada wanita yang
mempunyai 3-4 anak yang kemungkinan untuk mengakhiri kelahiran. Sebaliknya pada wanita
yang tidak memakai kontrasepsi umumnya belum mempunyai anak (umumnya ibu muda) dan
sudah mempunyai lebih dari 5 anak (umumnya ibu tua).

Kelahiran pada wanita dalam tiga tahun sebelum survei yang mendapatkan haid lagi setelah
melahirkan kurang dari 3 bulan merupakan salah satu variabel antara yang secara langsung
mempengaruhi fertilitas. Tabel 3 menunjukkan bahwa wanita pernah kawin yang mendapatkan
haid lagi setelah melahirkan kurang dari 3 bulan mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup
lebih rendah bila dibandingkan dengan wanita yang belum mendapat haid setelah melahirkan
kurang dari 3 bulan (2,2 dibanding 2,5 anak). Wanita yang sudah mendapat haid lagi setelah
melahirkan kurang dari 3 bulan umumnya ibu-ibu muda yang mempunyai anak lebih sedikit
(kurang dari 2 anak), sedangkan wanita yang belum haid setelah melahirkan kurang dari 3 bulan
mempunyai lebih dari 3 anak (termasuk pada golongan ibu-ibu tua). Pengaruh wanita pernah
kawin yang mendapatkan haid lagi setelah melahirkan kurang dari 3 bulan terhadap fertilitas
adalah signifikan (p<0,05).

Wanita yang sudah melakukan hubungan seksual setelah melahirkan kurang dari 3 bulan
merupakan salah satu variabel antara yang secara langsung mempengaruhi fertilitas.
Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3, wanita yang sudah melakukan hubungan seksual setelah
melahirkan kurang dari 3 bulan mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup 2,4 anak,
sedangkan wanita yang belum melakukan hubungan seksual setelah melahirkan kurang dari 3
bulan mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup sebanyak 2,5 anak. Wanita yang sudah

16 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


melakukan hubungan seksual setelah melahirkan kurang dari 3 bulan ternyata umumnya berumur
muda dan mempunyai antara 1-2 anak, sementara wanita yang tidak melakukan hubungan
seksual setelah melahirkan kurang dari 3 bulan adalah wanita lebih tua dan telah memiliki lebih
dari 3 anak. Pengaruh wanita yang sudah melakukan hubungan seksual setelah melahirkan
kurang dari 3 bulan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).

Wanita yang memberi ASI eksklusif setelah melahirkan selama 6 bulan merupakan salah
satu variabel antara yang secara langsung mempengaruhi fertilitas. Wanita pernah kawin yang
memberi ASI eksklusif selama 6 bulan mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup 2,6 anak,
sedangkan wanita yang tidak memberi ASI eksklusif selama 6 bulan rata-rata jumlah anak lahir
hidup 2,4 anak. Pengaruh pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan terhadap fertilitas signifikan
(p<0,05). Jika dilihat wanita yang memberi ASI eksklusif setelah melahirkan selama 6 bulan
dengan kelompok jumlah anak lahir hidup terlihat umumnya pada setiap kelompok jumlah anak
lahir hidup persentasenya lebih tinggi dibanding wanita yang tidak memberi ASI eksklusif
setelah melahirkan selama 6 bulan.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 17


18 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia
BAB IV
FAKTOR DETERMINAN FERTILITAS

Pada kajian ini terlebih dahulu akan dibahas tentang hubungan kausal antara fertilitas
dengan berbagai faktor sosial, ekonomi, dan demografi, kemudian mengidentifikasi faktor-faktor
penentu (determinan) dari perbedaan tingkat fertilitas dengan menggunakan analisis multi
regresi. Analisis ini perlu dilakukan untuk mendukung temuan sebelumnya dan sekaligus untuk
mempertajam dalam membuat implikasi kebijakan.

4.1. HUBUNGAN ANTARA FERTILITAS DENGAN FAKTOR SOSIAL, EKONOMI,


DAN DEMOGRAFI (ANALISIS BIVARIAT)

Analisis korelasi seperti yang disajikan pada Tabel 4 berupa matrik antar variabel yang
akan dikorelasikan. Informasi yang ditampilkan terdapat tiga baris, yaitu baris pertama adalah
nilai korelasi (r), baris ke dua nilai p (p value), dan baris ke tiga adalah jumlah kasus (N).
Berkaitan dengan kekuatan hubungan antara dua variabel secara kualitatif, Colton membagi
dalam 4 area, yaitu tidak ada hubungan/hubungan lemah (r = 0,00 0,25), hubungan sedang (r =
0,26 -0,50), hubungan kuat (r = 0,51 0,75), dan hubungan sangat kuat (r = 0,76 1,00).

Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan umur dengan anak lahir hidup menunjukkan
hubungan yang kuat (r= 0,547) dan ber pola positip, artinya semakin tua umur semakin banyak
jumlah anak lahir hidup. Hasil uji statistik diperoleh ada hubungan yang signifikan antara umur
wanita dengan jumlah anak lahir hidup (p=0,000). Demikian pula hubungan antara jumlah anak
meninggal dengan jumlah anak lahir hidup juga memiliki hubungan kuat dan ber pola positip
dengan r= 0,521, artinya semakin banyak jumlah anak meninggal semakin banyak jumlak anak
lahir hidup. Hasil uji statistik juga diperoleh ada hubungan yang signifikan antara jumlah anak
meninggal dengan jumlah anak lahir hidup (p=0,000).

Hubungan ber pola negatip dengan kekuatan hubungan sedang terjadi pada hubungan
antara tingkat pendidikan wanita dengan anak lahir hidup (r = - 0,30) serta hubungan antara umur
kumpul pertama dengan anak lahir hidup (r = - 0,278). Dari ke dua variabel ini dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan wanita semakin sedikit jumlah anak lahir
hidup dan semakin muda umur wanita saat kumpul pertama semakin banyak jumlah anak lahir
hidup. Hasil uji statistik diperoleh ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan
wanita dan umur wanita saat kumpul pertama dengan jumlah anak lahir hidup (p=0,000).

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 19


Tabel 4. Matrik korelasi antara anak lahir hidup dan faktor sosial, ekonomi, dan demografi, Indonesia 2007

Anak lahir
hidup Umur Ibu Tempat Tinggal
Anak lahir hidup Pearson Correlation 1.0000 0.5465 0.0506
Sig. (2-tailed) . 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Umur Ibu Pearson Correlation 0.5465 1.0000 -0.0381
Sig. (2-tailed) 0.0000 . 0.0000

Tempat Tinggal Pearson Correlation 0.0506 -0.0381 1.0000


Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 .
N 32,895 32,895 32.895
Agama Pearson Correlation 0.0579 0.0282 0.0355
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Tingkat Pendidikan Pearson Correlation -0.2996 -0.2719 -0.2951
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Pekerjaan Pearson Correlation -0.0746 -0.2109 -0.0700
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Jumlah anak Meninggal Pearson Correlation 0.5212 0.2397 0.0812
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Indeks kekayaan kuintil Pearson Correlation -0.1205 0.0805 -0.5153
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Umur Kumpul pertama Pearson Correlation -0.2776 -0.0366 -0.2028
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Pernah Pakai alat kontrasepsi Pearson Correlation -0.1019 -0.0045 0.0446
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.4150 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Saat ini menggunakan KB Pearson Correlation -0.0225 0.1043 0.0129
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0197
N 32,895 32,895 32.895
Jumlah Perkawinan Pearson Correlation 0.0777 0.1437 0.0535
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Mendapatkan Haid kembali setelah melahirkan Pearson Correlation 0.0818 0.3319 0.0773
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895
Kumpul kembali setelah melahirkan usia < 3 bulan Pearson Correlation 0.0091 0.2747 0.0412
Sig. (2-tailed) 0.0986 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32,895
Pemberian ASI Pearson Correlation -0.0272 0.1503 -0.0423
Sig. (2-tailed) 0.0000 0.0000 0.0000
N 32,895 32,895 32.895

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Hubungan ber pola negatip, tetapi dengan tingkat yang lemah terjadi antara anak lahir hidup
dengan indeks kekayaan kuintil (r = - 0,121), antara anak lahir hidup dengan pernah memakai
20 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia
kontrasepsi (r = - 0, 102), antara anak lahir hidup dengan pekerjaan (r = - 0, 075), antara anak
lahir hidup dengan pemberian ASI eksklusif (r = -0,027), dan antara anak lahir hidup dengan saat
ini menggunakan kontrasepsi (r = - 0,023).

Hubungan ber pola positip dan kemungkinan dapat diabaikan terjadi antara anak lahir hidup
dengan tempat tinggal, agama, jumlah perkawinan, mendapatkan haid setelah melahirkan
(kurang dari 3 bulan), dan sudah kumpul setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan). Meskipun
pengaruh anak lahir hidup dengan variabel-variabel tempat tinggal, agama, jumlah perkawinan,
mendapatkan haid setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan), dan sudah kumpul setelah
melahirkan (kurang dari 3 bulan) signifikan (p< 0,05), namun semuanya mempunyai hubungan
yang lemah, yakni nilai r kurang dari 0,08.

Dari analisis ini dapat disimpulkan bahwa faktor umur yang merupakan bentuk khas dari
fertilitas alami diposisikan sebagai variabel kontrol. Disisi lain variabel jumlah anak meninggal
mempunyai pengaruh paling kuat terhadap jumlah anak lahir hidup dibanding dari variabel-
variabel lain. Variabel penting lainnya setelah jumlah anak meninggal yang perlu mendapatkan
perhatian adalah tingkat pendidikan dan umur saat kumpul pertama yang berkaitan dengan
umur melangsungkan perkawinan pertama.

4.2. FAKTOR DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS (ANALISIS


MULTIVARIAT)

Setelah melakukan analisis keterkaitan antara anak lahir hidup dengan berbagai variabel
sosial, ekonomi, demografi, dan variabel lain, berikutnya akan menganalisis faktor determinan
yang mempengaruhi perbedaan fertilitas di antara wanita pernah kawin di Indonesia. Analisis
dilakukan dengan multi regresi linear. Sebagai variabel dependen adalah anak lahir hidup/CEB,
sedangkan variabel independen adalah pendidikan, pekerjaan, agama, indeks kekayaan kuintil,
dan jumlah anak meninggal. Variabel antara adalah umur kumpul pertama, jumlah perkawinan,
pernah memakai kontrasepsi, saat ini memakai kontrasepsi, mendapat haid setelah melahirkan
(kurang dari 3 bulan), sudah kumpul setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan), dan pemberian
ASI eksklusif. Sedangkan variabel kontrol adalah umur ibu dan daerah tempat tinggal.

Langkah-langkah dalam permodelan multi regresi linear adalah sebagai berikut :

1. Melakukan analisis bivariat untuk menentukan variabel yang menjadi kandidat model.
Masing-masing variabel independen, variabel antara, dan variabel kontrol dihubungkan
dengan variabel dependen, bila hasil uji bivariat mempunyai nilai p<0,025, maka variabel
tersebut dimasukkan dalam model multivariat.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 21


2. Melakukan analisis secara bersamaan dengan cara memilih variabel yang masuk dalam
model. Metode yang dipilih untuk melakukan pemilihan variabel independen, variabel
kontrol, variabel antara dalam analisis multi regresi linear adalah BACKWARD. Metode
ini dilakukan dengan cara memasukkan semua variabel ke dalam model, kemudian satu
per satu dari variabel tersebut dikeluarkan dari model atas dasar kriteria kemaknaan
statistik tertentu (0,10). Variabel yang pertama kali dikeluarkan adalah variabel yang
mempunyai korelasi partial terkecil dengan variabel dependen. Kriteria pengeluaran
adalah apabila variabel yang mempunyai nilai p lebih besar atau sama dengan 0,10
dikeluarkan dari model.

Setelah dilakukan analisis dengan metode Backward, ternyata dari 14 variabel independen,
variabel antara, dan variabel kontrol, sebanyak 13 variabel yang masuk dalam model. Variabel
tersebut adalah pekerjaan, agama, indeks kekayaan kuintil, jumlah anak meninggal, umur
kumpul pertama, jumlah perkawinan, pernah memakai kontrasepsi, saat ini memakai
kontrasepsi, mendapat haid setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan), sudah kumpul setelah
melahirkan (kurang dari 3 bulan), dan pemberian ASI eksklusif. Koefisien determinasi (R
Square) menunjukkan nilai 0,555, artinya bahwa model regresi yang diperoleh dapat
menjelaskan 55,5 persen variasi variabel dependen anak lahir hidup, atau dengan kata lain 13
variabel pengaruh tersebut hanya dapat menjelaskan variasi anak lahir hidup sebesar 55,5 persen.
Hasil ini dapat dikatakan bahwa model bagus karena dapat menjelaskan 55,5 persen (Tabel 5).
Hasil uji anova (tabel tidak ditampilkan), F yang menunjukkan nilai p (sig. F) sebesar 0,000,
berarti pada alpha 5% kita dapat mengatakan bahwa model regresi cocok (fit) dengan data yang
ada, atau dapat diartikan bahwa ke 13 variabel tersebut secara signifikan dapat untuk
memprediksi variabel anak lahir hidup.

Lebih lanjut dengan melihat Tabel 6 tentang koefisien, dapat dibuat persamaan garisnya.
Pada kolom B (di bagian variabels in the equation) kita dapat mengetahui koefisien regresi
masing-masing variabel. Dari hasil tersebut dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

ALH = 4,100 + 0,384*Agama + 0,134*Pekerjaan + 1,233*Anak Meninggal 0,134*Kekayaan


0,491*Umur Kumpul I 0,312* Pernah KB 0,132*Ber KB 0,390*Jumlah Kawin
0,279*Haid 0,425*Kumpul 0,533*ASI + 0,571*Umur 0,153*Tempat.

Dengan model persamaan tersebut, kita dapat memperkirakan jumlah anak lahir hidup
(ALH) dengan menggunakan 13 variabel independen, variabel antara, dan variabel kontrol. Bila
nilai koefisien B positip menunjukkan hubungan positip, sebaliknya bila nilai koefisien B
negatip menunjukkan hubungan negatip. Sebagai contoh pada variabel agama +0,384, artinya
variabel ALH akan naik sebesar 0,384 anak bila wanita agamanya bukan Islam setelah dikontrol
dengan variabel pekerjaan, jumlah anak meninggal, indeks kekayaan kuintil, umur kumpul

22 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


pertama, pernah menggunakan kontrasepsi, saat ini memakai kontrasepsi, jumlah kawin, haid
setelah melahirkan, kumpul setelah melahirkan, ASI eksklusif, umur, dan tempat tinggal.

Pengaruh jumlah anak meninggal pada anak lahir hidup paling menonjol, Pada variabel
jumlah anak meninggal +1,233 menunjukkan bahwa variabel ALH akan naik sebanyak 1,233
anak bila wanita mempunyai banyak anak yang meninggal setelah dikontrol dengan variabel
agama, pekerjaan, indeks kekayaan kuintil, umur kumpul pertama, pernah menggunakan
kontrasepsi, saat ini memakai kontrasepsi, jumlah kawin, haid setelah melahirkan, kumpul
setelah melahirkan, ASI eksklusif, umur, dan tempat tinggal. Kolom t dan sig t menunjukkan uji
t yang dapat digunakan untuk mengetahui variabel mana saja yang berperan masuk dalam model.
Pada kolom tersebut hasil terakhir terlihat bahwa semua variabel memiliki nilai p< dari nilai
alpha (0,05), yang artinya dengan menggunakan alpha 5% semua variabel berperan dalam
menentukan jumlah anak lahir hidup.

Pada kolom Beta dapat diketahui variabel mana yang paling besar pengaruhnya dalam
menentukan variabel dependennya (anak lahir hidup/ALH). Semakin besar nilai Beta semakin
besar pengaruhnya dalam menentukan variabel dependennya (ALH). Pada hasil akhir analisis
multi regresi ganda, variabel yang paling besar pengaruhnya pada ALH adalah jumlah anak
meninggal, berikutnya umur kumpul pertama, dan indeks kekayaan kuintil.

Tabel 5. Anak Lahir Hidup dan Koefisien Determinasi (R Square)


Model Summary

Adjusted R Std. Error of


Model R R Square Square the Estimate

Terakhir 0.745 0.555 0.554 1.199

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 23


Tabel 6. Hasil Akhir Analisis Multivariat Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas

Standardized
Model Unstandardized Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) 4.100 0.086 47.572 0.000
Agama 0.384 0.021 0.068 18.137 0.000
Pekerjaan 0.134 0.014 0.037 9.785 0.000
Jumlah anak meninggal 1.233 0.013 0.368 94.338 0.000
Indeks kekayaan kuintil -0.134 0.006 -0.105 -23.699 0.000
Umur kumpul pertama -0.491 0.009 -0.211 -52.622 0.000
Pernah menggunakan kontrasepsi -0.312 0.017 -0.077 -18.209 0.000
Saat ini menggunakan kontrasepsi -0.132 0.016 -0.036 -8.436 0.000
Jumlah perkawinan -0.390 0.024 -0.062 -16.261 0.000
Ibu mendapatkan haid lagi setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan) -0.279 0.018 -0.068 -15.675 0.000
Ibu dan suami sudah kumpul setelah melahirkan -0.425 0.019 -0.098 -22.764 0.000
ASI ekslusif (6 bulan) -0.533 0.027 -0.075 -19.783 0.000
Umur ibu 0.571 0.004 0.536 126.999 0.000
Tempat tinggal -0.153 0.016 -0.042 -9.720 0.000
a Variabel dependen: CEB

24 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


BAB V
PEMBAHASAN HASIL

Tingkat kelahiran di Indonesia tidak hanya angkanya yang relatif masih tinggi, tetapi juga
ber variasi antar status sosial, ekonomi, dan demografi. Dari kajian fertilitas dengan pendekatan
model yang Freedman berikan bersumber dari pola pikir Davis dan Blake. SDKI sebagai sumber
data utama cukup memadai untuk melakukan pengujian terhadap faktor-faktor determinan
fertilitas.

Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan perubahan sikap, perilaku, pandangan, dan status
sosial ekonomi suatu masyarakat. Dengan perkembangan waktu tingkat pendidikan, terutama
pendidikan wanita semakin baik dibanding dengan waktu sebelum kemerdekaan. Wanita yang
memperoleh kesempatan pendidikan tidak hanya di daerah perkotaan saja, namun juga dialami
wanita di daerah perdesaan. Tingkat pendidikan bila dikaitkan dengan fertilitas menunjukkan
hubungan positip dan signifikan, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit jumlah
anak yang dilahirkan. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan akan mempengaruhi umur
perkawinan pertama, yang pada akhirnya akan mempengaruhi fertilitas. Wanita yang tingkat
pendidikannya lebih tinggi umumnya umur perkawinan pertama juga tinggi dan pada akhirnya
akan mempengaruhi jumlah anak yang dilahirkan yang akan lebih sedikit. Tingkat pendidikan
dalam mempengaruhi fertilitas adalah secara tidak langsung, akan tetapi melalui variabel lain
yang berkaitan secara langsung dengan fertilitas, yakni antara lain umur mulai kumpul pertama.

Umur wanita sangat besar pengaruhnya terhadap fertilitas, hal ini berkaitan dengan umur
perkawinan pertama dan umur kumpul pertama, semakin bertambah umur wanita semakin
banyak jumlah anak yang dilahirkan. Oleh karena itu umur wanita dipakai sebagai variabel
kontrol. Wanita yang berumur lebih tua biasanya umur kawinnya lebih muda, dengan demikian
tingkat pendidikannya juga lebih rendah dan keadaan sosial ekonominya lebih rendah.
Sebaliknya wanita-wanita muda jumlah anaknya lebih sedikit, karena umur kawin pertamanya
lebih tinggi, maka tingkat pendidikannya juga lebih tinggi, dan keadaan sosial ekonominya juga
lebih baik.

Bila dicermati dalam analisis multivariat menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dalam
model pertama mempunyai hubungan negatip dan pengaruhnya sangat signifikan terhadap
fertilitas, namun setelah dikontrol dengan variabel umur wanita dan tempat tinggal (model 2)
hubungan tingkat pendidikan dengan fertilitas menjadi kecil dan tidak signifikan pengaruhnya
terhadap fertilitas. Hal ini memperkuat dugaan bahwa memang tingkat pendidikan tidak secara
langsung mempengaruhi fertilitas, tetapi melalui variabel pendidikan memicu dalam perilaku
melakukan perkawinan, seperti dalam menentukan umur perkawinan pertama/kumpul pertama

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 25


yang secara langsung mempengaruhi fertilitas. Pada model 3 setelah dikontrol dengan umur
wanita dan tempat tinggal, ternyata hubungan variabel jumlah perkawinan dengan fertilitas
tersisih dari model. Menurut Davis dan Blake (1956) jumlah perkawinan merupakan salah satu
variabel antara yang secara langsung berpengaruh terhadap fertilitas, dikatakan bahwa jumlah
perkawinan lebih dari sekali akan menurunkan tingkat fertilitas, karena masa reproduksi yang
mempunyai risiko untuk hamil bagi wanita yang menikah lebih dari sekali lebih pendek. Namun
dari analisis bivariat terlihat bahwa wanita yang kawinnya lebih dari satu kali rata-rata jumlah
anak lahir hidup justru lebih banyak bila dibandingkan dengan wanita yang kawinnya satu kali.
Hal ini kemungkinan disebabkan wanita yang kawin lebih dari satu kali dalam melangsungkan
pernikahan berikutnya memang sudah memiliki anak banyak.

Wanita yang pernah dan sedang menggunakan kontrasepsi terlihat fertilitasnya sedikit lebih
tinggi daripada wanita yang tidak pernah atau saat ini tidak menggunakan kontrasepsi. Dalam
melihat hal ini kita harus hati-hati menyikapinya, karena teori menyatakan bahwa pemakaian
kontrasepsi secara langsung dapat menurunkan fertilitas, namun dari studi ini hasilnya
sebaliknya justru wanita yang tidak pakai kontrasepsi jumlah anaknya lebih banyak daripada
wanita yang menggunakan kontrasepsi. Kalau dicermati menurut umur, wanita berumur di
bawah 40 tahun sebagian besar (83 persen) mempunyai jumlah anak lahir hidup antara 1-2 anak
dan umumnya mereka pernah dan saat ini menggunakan kontrasepsi. Sedangkan wanita berumur
di atas 40 tahun umumnya (72 persen) telah mempunyai lebih dari 5 anak dan kebanyakan
mereka tidak pernah memakai kontrasepsi dan saat ini juga tidak menggunakan kontrasepsi. Ini
menunjukkan bahwa wanita lebih muda mulai menggunakan kontrasepsi lebih awal dibanding
wanita lebih tua.

Telah disampaikan bahwa tingkat pendidikan erat kaitannya dengan status sosial ekonomi
masyarakat, wanita yang tingkat pendidikannya tinggi pada umumnya status sosial ekonominya
juga tinggi dan pada akhirnya mempengaruhi jumlah anak yang dimiliki. Kecenderungan wanita
yang status sosial ekonominya tinggi jumlah anak yang dimiliki lebih sedikit, karena umumnya
pada mereka ini selain disibukkan dengan pekerjaan juga kegiatan sosial kemasyarakatan,
sehingga jumlah anak yang banyak akan menghalangi kegiatan mereka. Hasil studi
memperlihatkan bahwa baik tingkat pendidikan maupun status kekayaan wanita menunjukkan
hubungan negatip dengan fertilitas. Semakin tinggi tingkat pendidikan wanita dan semakin tinggi
status kekayaan wanita, semakin sedikit jumlah anak lahir hidup yang dimiliki.

Jumlah anak meninggal erat kaitannya dengan fertilitas. Dalam analisis ini ditemukan
bahwa jumlah anak meninggal mempunyai pengaruh paling besar terhadap banyaknya jumlah
anak lahir hidup, demikian pula hasil studi sebelumnya juga menunjukkan hasil yang sama
(Irawan, 2004). Pola hubungan positip terlihat antara banyaknya jumlah anak yang meninggal
dengan banyaknya jumlah anak lahir hidup, semakin banyak jumlah anak yang meninggal dalam
suatu keluarga semakin banyak pula jumlah anak yang dilahirkan hidup. Hal ini berkaitan
dengan upaya suatu keluarga untuk menggantikan anak yang telah meninggal (replacement).

26 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


Hasil menunjukkan bahwa 95 persen wanita yang memiliki lebih dari 5 anak telah mengalami
kematian lebih dari 3 anak yang meninggal, sedangkan wanita yang memiliki antara 1-2 anak
lahir hidup 59 persen tidak pernah mengalami kematian anaknya. Dengan melihat kenyataan ini
menunjukkan bahwa kelangsungan hidup anak memang terancam, sehingga perlu meningkatkan
kualitas hidup anak agar anak bisa hidup sehat dan dapat bertahan hidup lebih lama. Program KB
kiranya sangat relevan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak, antara lain bisa
dilakukan selain memberikan KIE, juga memberikan bimbingan bagi ibu pasca persalinan.

Kalau kita amati variabel yang besar peranannya dalam mempengaruhi fertilitas selain
variabel umur wanita sebagai kontrol, terutama adalah variabel jumlah anak meninggal, umur
kumpul pertama, dan indeks kekayaan kuintil. Variabel-variabel lainnya meskipun ada
pengaruhnya terhadap fertilitas dan sangat signifikan, namun dengan nilai koefisien B kecil.
Meskipun demikian dengan nilai koefisien B yang rendah, variabel-variabel ini sangat penting
dalam mengontrol kekuatan variabel lainnya dalam pengaruhnya terhadap fertilitas. Koefisien
determinasi (R Square) dari 13 variabel menunjukkan nilai 0,555, hasil ini dapat dikatakan
bahwa model bagus karena dapat menjelaskan 55,5 persen. Demikian pula hasil uji anova, F
yang menunjukkan nilai p (sig. F) sebesar 0,000, yang dapat diartikan bahwa ke 13 variabel
tersebut secara signifikan dapat untuk memprediksi variabel anak lahir hidup. Tentunya masih
ada variabel lainnya di luar model yang turut berperan dalam memprediksi variabel anak lahir
hidup.

Jumlah anak yang meninggal merupakan faktor determinan utama terhadap anak lahir
hidup, hal ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan masyarakat mempunyai anak banyak
karena takut bila ada kejadian di antara anaknya yang meninggal, bisa jadi mempunyai anak
banyak karena ada di antara anaknya yang meninggal. Untuk mengatasi hal ini upaya pelayanan
kesehatan dan program KB perlu dilakukan lebih intensif. Tingkat pendapatan yang rendah juga
merefleksikan perilaku fertilitas di Indonesia, ada kecenderungan keluarga menginginkan anak
banyak karena dapat membantu dalam memperoleh penghasilan keluarga. Tidak mengherankan
di beberapa tempat tenaga kerja di bawah umur dipekerjakan untuk membantu menambah
penghasilan keluarga. Berdasarkan hasil studi ini dapat dirancang berbagai bentuk intervensi apa
saja yang bisa dilakukan dalam upaya menurunkan fertilitas.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 27


28 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN

Hasil analisis mendalam tentang hubungan antara fertilitas dengan faktor sosial-ekonomi
dan demografi dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan (p<0,05) antara daerah tempat tinggal terhadap
fertilitas. Rata-rata jumlah anak lahir hidup wanita tinggal di perkotaan lebih sedikit
dibanding wanita dari perdesaan.
2. Wanita beragama Islam mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup lebih rendah
dibanding wanita beragama non Islam. Pengaruh agama terhadap fertilitas signifikan
(p<0,05).
3. Hubungan negatip terlihat antara tingkat pendidikan dengan fertilitas, semakin tinggi
pendidikan semakin sedikit jumlah anak lahir hidup. Pengaruh pendidikan terhadap
fertilitas signifikan (p<0,05).
4. Wanita yang bekerja mempunyai jumlah anak lahir hidup sedikit lebih tinggi dibanding
dengan wanita yang tidak bekerja. Pengaruh pekerjaan terhadap fertilitas signifikan
(p<0,05).
5. Tingkat kekayaan mempunyai hubungan negatip terhadap fertilitas, semakin tinggi
indeks kekayaan kuintil semakin rendah jumlah anak yang dilahirkan hidup. Pengaruh
kekayaan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
6. Banyaknya jumlah anak yang meninggal sangat berhubungan dengan banyaknya jumlah
anak yang dilahirkan hidup, semakin banyak anak yang meninggal semakin banyak
jumlah anak lahir hidup. Pengaruh jumlah anak meninggal terhadap fertilitas signifikan
(p<0,05).
7. Terdapat hubungan negatip antara umur kumpul pertama dengan fertilitas, semakin
muda umur kumpul pertama semakin tinggi jumlah anak lahir hidup. Pengaruh umur
kumpul pertama terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
8. Wanita yang melakukan perkawinan sekali mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup
lebih sedikit dibanding wanita yang melakukan perkawinan lebih dari sekali. Pengaruh
banyaknya jumlah perkawinan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
9. Wanita yang pernah dan sedang menggunakan kontrasepsi mempunyai rata-rata jumlah
anak lahir hidup lebih banyak dibanding wanita yang tidak pernah pakai kontrasepsi dan
saat ini tidak menggunakan kontrasepsi. Ke dua variabel ini pengaruhnya terhadap
fertilitas signifikan (p<0,05).
10. Wanita yang telah mendapat haid lagi setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan)
mempunyai rata-rata jumlah anak lahir hidup lebih rendah dibandingkan wanita yang

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 29


belum mendapat haid setelah melahirkan. Pengaruh haid lagi setelah melahirkan kurang
dari 3 bulan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
11. Wanita yang sudah kumpul setelah melahirkan (kurang dari 3 bulan) mempunyai rata-
rata jumlah anak lahir hidup sedikit lebih rendah dibandingkan wanita yang belum
kumpul setelah melahirkan kurang dari 3 bulan. Pengaruh kumpul setelah melahirkan
kurang dari 3 bulan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).
12. Wanita yang memberi ASI eksklusif selama 6 bulan mempunyai rata-rata jumlah anak
lahir hidup sedikit lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak memberi ASI eksklusif.
Pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap fertilitas signifikan (p<0,05).

Berdasarkan hasil analisa korelasi dan multi regresi linear antara variabel sosial, ekonomi,
demografi, dan variabel antara terhadap fertilitas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari 13 variabel pengaruh dapat menjelaskan variasi anak lahir hidup sebesar 55,5
persen.
2. Hasil multi regresi linear menunjukkan bahwa jumlah anak meninggal merupakan faktor
determinan utama dalam menjelaskan perubahan pada jumlah anak lahir hidup. Semakin
banyak jumlah anak yang meninggal semakin banyak jumlah anak yang dilahirkan hidup.
3. Faktor penting lainnya yang dapat menjelaskan perubahan jumlah anak lahir hidup adalah
umur mulai melakukan hubungan seksual (kumpul) pertama kali. Semakin muda umur
mulai kumpul pertama semakin banyak jumlah anak lahir hidup.
4. Terdapat hubungan negatip yang kuat antara jumlah anak lahir hidup dengan kekayaan.
Semakin rendah indeks kekayaan kuintil semakin banyak jumlah anak lahir hidup.
5. Faktor-faktor lainnya meskipun signifikan, namun pengaruhnya relatif kecil dalam
menjelaskan perubahan pada jumlah anak lahir hidup.

REKOMENDASI
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dibuat beberapa rekomendasi untuk pembuat
kebijakan yang berkaitan dengan masalah kependudukan, khususnya dalam upaya menurunkan
tingkat kelahiran di Indonesia, antara lain :
1. Menurunkan tingkat kematian anak dengan peningkatan pelayanan kesehatan, terutama
diutamakan pada keluarga kurang mampu.
2. Program keluarga berencana lebih diintensifkan lagi agar tingkat fertilitas juga turun,
karena banyaknya jumlah anak yang meninggal sangat berpengaruh terhadap tingkat
fertilitas.
3. Meningkatkan pendidikan wanita agar umur mulai kumpul pertama dapat ditingkatkan,
karena dengan pendeknya masa reproduksi diharapkan dapat menurunkan tingkat
fertilitas.
4. Meningkatkan penghasilan keluarga miskin agar dapat memenuhi kebutuhan gizi
keluarga, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup dan dapat memperpanjang harapan
hidup anak, yang pada akhirnya dapat menekan tingkat kelahiran.

30 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia


DAFTAR PUSTAKA

Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). 2009. Telaah Program KB Nasional Tahun 2009.
Evaluasi Pelaksanaan Program KB Nasional Semester I Tahun 2009. Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2004. Statistik Indonesia 2003. Jakarta, Indonesia: BPS

Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen
Kesehatan, dan Macro International Inc. (MI). 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
2002-2003. Jakarta: BPS dan MI.

Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen
Kesehatan, dan Macro International Inc. (MI). 2007. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
2007. Calverton, Maryland, USA: BPS dan MI.

Bongaarts dan R.G. Potter, 1983. Fertility, Biology and Behaviour: an Analysis of the Proximate
Determinants, New York: Academic Press.

Bongaarts, 1978. A Framework for Analyzing the Proximate Determinants of Fertility, Population and
Development Review 4(1): 105-132.

Davis, Kingsley and Judith Blake. 1956. Sosial Structure and Fertility: An Analytical Framework.
Economic Development and Cultural Change. Vol. 4. No. 3.

Davis, McDonald, Young and Christabel Young, 1982. Pengantar kependudukan. Gadjah Mada
University Press. PPSK UGM. Yogyakarta

Freedman, Ronald. 1975. The Sociology of Human Fertility. New York.

Hastono, Sutanto P. 2001. Analisis Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta.

Irawan, Tati Irwati. 2004. Faktor Penentu Fertilitas. Analisis Lanjut SDKI 2002-2003. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduks, BKKBN. Jakarta.

Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia 31