You are on page 1of 10

KIMIA UNSUR

AFINITAS ELEKTRON

NAMA KELOMPOK :

1. WAHID ALBADAWI (1608511004)


2. SAKINATUL FATIMAH (1608511006)
3. MASNI WAHYUNI (1608511023)
4. IVAN APRILIYANTO ( 1608511030)
5. RAHMANINDYA MARSA DERISA (1608511041)
6. EKKI INUR INGTYAS MAWARNI (1608511044)
7. PUTU ELVIRA YULIANTHI (1608511050)
8. NI KADEK AYU OKTAPIANI (1608511052)
9. SUPARDIN (1608511053)
10. PATRICIA BERNADETTE LIMBONG (1608511054)
11. PUTU AYU RUPADEWI (1608511056)
12. DEWA GEDE MIARTA (1608511059)
13. KOMANG ARUNDHATI (1608511060)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
Alam semesta ini kaya akan kadungan unsur-unsur kimia. Hingga saat ini, unsur-unsur
kimia berjumlah sekitar 114 unsur. Unsur-unsur tersebut dikelompokkan berdasarkan kesamaan
sifatnya ke dalam beberapa golongan, yaitu golongan A (golongan utama) dan golongan B
(golongan transisi). Selain itu, unsur-unsur kimia dapat dikelompokkan menjadi unsur logam,
nonlogam, semilogam, dan gas mulia.

Beberapa unsur logam dan nonlogam, dalam bentuk unsur maupun senyawa, banyak
dimanfaatkan didalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan beberapa unsur logam dan nonlogam
meningkat dengan berkembang pesatnya industri, baik sebagai alat, bahan dasar, maupun sumber
energi.

Unsur-unsur logam umumnya diperoleh sebagai bijih logam dalam batuan. Alam
Indonesia sangat kaya akan sumber mineral bijih logam, karena itu perlu penguasaan teknologi
untuk mengolahnya menjadi logam yang dibutuhkan.

Unsur Logam yang sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari diantaranya adalah,
besi, tembaga, atau perak. Ternyata unsur natrium pun bersifat logam. Namun, karena tak stabil
dalam keadaan unsurnya, ia lebih banyak kita temui dalam bentuk senyawanya.

Keberadaan unsur-unsur kimia di alam sangat melipah. Sumber unsur-unsur kimia


terdapat di kerak bumi, dasar laut, dan atmosfer, baik dalam bentuk unsur bebas, senyawa
ataupun campurannya. Unsur-unsur kimia yang terdapat di alam dalam bentuk unsur bebasnya
(tidak bersenyawa dengan unsur lainnya), diantaranya logam platina (Pt), emas (Au), karbon (C),
gas nitrogen (N2), oksigen (O2), dan gas-gas mulia. Adapun unsur-unsur lainnya ditemukan
dalam bentuk bijih logam. Bijih logam merupakan campuran antara mineral yang mengandung
unsur-unsur kimia dan pengotornya. Mineral-mineral tersebut berbentuk senyawa oksida, halida,
fosfat, silikat, karbonat, sulfat, dan sulfida. Logam platina (Pt) dan emas (Au) disebut logam
mulia. Sumber logam mulia dan mineral-mineral dapat ditemukan di kerak bumi, sedangkan
sumber gas oksigen, nitrogen, dan gas mulia (kecuali He) terdapat di lapisan atmosfer.

Adanya berbagai unsur yang sangat melimpah di alam semesta menyebabkan para
ilmuwan berusaha untuk mengklasifikasikan unsur-unsur yang ada dialam. Dari hasil pemikiran
para ilmuwan maka terciptalah tabel periodik unsur. Sifat-sifat periodik unsur adalah sifat-sifat
yang ada hubunganya dengan letak unsur pada sistem periodik. Sifat-sifat tersebut berubah dan
berulang secara periodik sesuai dengan perubahan nomor atom dan konfigurasi elektron.

A. PENGERTIAN

Definisi Konvensional

Dalam penjelasan dari definisi konvensional, dikemukakan bahwa hampir semua


atom netral memiliki kapasitas dalam menerima paling tidak satu elektron tambahan,
lalu dikenal dengan sebutan afinitas elektron. Berbeda dengan proses pengeluaran
elektron dimana energi sangat penting keberadaanya, dalam proses ini umumnya justru
penggunaan energi dibebaskan.
Jadi sesuai dengan definisi konvensional afinitas elektron adalah energi yang
dibebaskan apabila tiap mol dari atom netral atau ion dalam keadaan gas menangkap
elektron lalu membentuk ion negatif. Oleh karena itu proses yang terjadi berkebalikan
dengan proses pelepasan elektron.

Definisi Modern
Berbeda dengan pengertian afinitas elektron yang dijelaskan secara konvensional,
para ahli kimia saat ini menjelaskan bahwa afinitas elektron merupakan perubahan
entalpi dimana terjadi pada penambahan elektron ke dalam tiap mol atom atau ion
dalam keadaan gas.
Nilai dari afinitas elektron dalam beberapa unsur terdapat pada satu golongan dan satu
periode yang tidak teratur. Sebagai contoh yaitu unsur-unsur yang berada pada golongan
IIIA, IVA, dan VA.

Definisi Secara Umum


Afinitas elektron merupakan besaran energi yang dibebaskan oleh suatu atom
yang bersifat netral ke dalam bentuk wujud gas ketika sedang menerima satu electron
sehingga akan membentuk ion negatif. Energi dari ionisasi ini selalu akan ditekankan
kepada pembentukan ion positif sehingga afinitas electron akan ditekankan kepada ion
negatif dan keduanya nanti akan banyak dipakai untuk unsur unsur yang berada pada
golongan 6 dan 7 di tabel periodik.
Berbeda dengan energi ionisasi, afinitas elektron dapat berharga positif atau
negatif. Jika satu elektron ditambahkan kepada atom yang stabil dan sejumlah energi
diserap maka afinitas elektronnya berharga positif. Jika dilepaskan energi, afinitas
elektronnya berharga negatif. Contohnya, ketika gas klor menerima elektron untuk
membentuk ion negatif.
Cl(g) + e- Cl-(g)

Afinitas elektron dibagi menjadi beberapa yaitu:

1. Afinitas elektron pertama

Afinitas elektron pertama adalah energi yang dilepaskan ketika 1 mol atom gas
mendapatkan satu elektron untuk membentuk 1 mol ion gas 1-.

Lebih mudah dipahami dalam bentuk simbol.

Pada penggambaran di atas, afinitas elektron pertama diartikan sebagai energi yang
dilepaskan (per mol X) pada saat perubahan ini terjadi. Afinitas elektron pertama
memiliki harga negatif. Sebagai contoh, afinitas elektron pertama klor adalah -349 kJ
mol-1. Berdasarkan perjanjian, tanda negatif menunjukkan pelepasan energi.

Berikut afinitas elektron pertama pada unsur-unsur golongan ke 7:

F -328 kJ mol-1

Cl -349 kJ mol-1

Br -324 kJ mol-1
I -295 kJ mol-1

Afinitas elektron pertama memiliki pola yaitu jika kita bergerak dari atas ke bawah
dalam satu golongan, afinitas elektron pertama makin berkurang (artinya energi yang
dilepaskan makin berkurang ketika ion negatif terbentuk). Fluor tidak mengikuti aturan
itu. Afinitas elektron dihitung dari tarikan antara elektron yang datang dengan inti,
tarikan yang lebih kuat, energi yang dilepaskan semakin besar.

Faktor yang mempengaruhi tarikan ini sama dengan faktor yang berpengaruh pada
energi ionisasi, muatan inti, jarak dan penyaringan. Bertambahnya muatan inti dari atas
ke bawah dalam satu golongan terkurangi oleh tambahan penyaringan elektron. Masing-
masing elektron terluar mengalami tarikan 7+ dari pusat atom, untuk semua atom
golongan 7.

Sebagai contoh, atom fluor memiliki struktur elektron 1s22s22px22py22pz1. Terdapat


9 proton dalam inti. Elektron yang datang masuk ke tingkat-2, dan mengalami
penyaringan dari inti oleh 2 elektron 1s2 electrons. Oleh karena itu tarikan bersih dari inti
adalah 7+ (9 proton dikurangi 2 oleh penyaringan elektron). Berbeda dengan klor yang
memiliki struktur elektron 1s22s22p63s23px23py23pz1. Klor memiliki 17 proton pada inti.
Tetapi yang masuk merasakan tarikan bersih dari inti 7+ (17 proton dikurangi 10 oleh
penyaringan elektron pada tingkat pertama dan kedua).

Faktor yang menentukan adalah bertambahnya jarak antara elektron yang datang
dengan inti dari atas ke bawah dalam satu golongan. Makin besar jarak, tarikan berkurang
dan energi yang dilepaskan sebagai afinitas elektron juga berkurang.

Perbedaan afinitas elektron pada golongan ke 6 dan 7 adalah afinitas elektron


pertama oksigen (-142 kJ mol-1) lebih rendah dari fluor (-328 kJ mol-1). Sama dengan
sulfur (-200 kJ mol-1) yang lebih rendah dari klor (-349 kJ mol-1). Dikarenakan, unsur
golongan 6 memiliki 1 proton pada inti yang lebih sedikit daripada tetangganya,
golongan 7. Banyaknya penyaringan pada keduanya sama. Itu artinya bahwa tarikan
bersih dari inti pada golongan 6 lebih sedikit daripada golongan 7, sehingga afinitas
elektron lebih rendah.
Hubungan antara afinitas elektron dengan rektivitas adalah reaktivitas unsur
golongan 7 turun dari atas ke bawah dalam satu golongan fluor merupakan unsur yang
paling reaktif dan iod paling tak reaktif.

Seringkali pada reaksinya unsur-unsur ini membentuk ion negatif. Pada GCSE
kadang-kadang ditunjukkan penurunan reaktivitas karena tarikan terhadap elektron yang
datang berkurang kekuatannya dari atas ke bawah dalam satu golongan, sehingga
pembentukan ion negatif kurang disukai. Penjelasan itu masih dapat diterima kecuali
untuk fluor.

Reaksi keseluruhan terdiri dari banyak tahapan yang berbeda yang semuanya
melibatkan perubahan energi, dan untuk menjelaskan kecenderungan yang ada tidak
cukup hanya dengan mengamati salah satu tahap saja. Fluor lebih reaktif daripada klor
(walaupun afinitas elektronnya lebih rendah) karena energi yang dilepaskan pada salah
satu langkah reaksinya mengurangi energi yang dilepaskan sebagai afinitas elektron.

2. Afinitas Elektron Kedua

Afinitas elektron kedua adalah energi yang diperlukan untuk menambah satu elektron
pada masing-masing ion dari 1 mol ion gas 1- untuk menghasilkan 1 mol ion gas 2-.

Lebih mudah dipahami dalam bentuk simbol.

Pada penggambaran di atas, afinitas elektron kedua diartikan sebagai energi yang
dibutuhkan untuk membawa perubahan per mol X-.
Afinitas Elektron dalam Tabel Periodik

Nilai afinitas elektron untuk beberapa unsur dalam satu golongan dan satu periode tidak
teratur. Sebagai contoh, unsur-unsur dalam golongan IIIA, IVA, dan VA. Meskipun
demikian, secara umum keperiodikan afinitas elektron dalam tabel periodik adalah dalam
satu periode, dari kiri ke kanan, afinitas elektron cenderung semakin besar. Adapun
dalam satu golongan, dari bawah ke atas, afinitas elektron cenderung semakin besar.
Afinitas Elektron Terbesar

Semua unsur golongan utama mempunyai afinitas elektron bertanda negatif. Kecuali
unsur alkali tanah (IIA) dan gas mulia (VIIIA). Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh
unsur halogen (VIIA) karena unsur golongan ini yang paling mudah menangkap elektron.
Jadi, unsur yang memiliki afinitas elektron terbesar adalah Klor dengan nilai afinitas
349,0.

Afinitas Elektron Terkecil

Afinitas elektron terkecil menurut kecenderungan tabel periodik adalah Fransium. Tetapi
pada kenyataannya afinitas elektron terkecil adalah Berilium dengan nilai afinitas +240,0.
PERTANYAAN :

1. Mengapa ketika menerima satu elektron, harus melepaskan energi?

2. Apa yang menyebabkan afinitas elektron pada golongan 2A dan golongan 8A berharga
positif?

3. Kenapa afinitas elektron dibagi menjadi dua, yaitu afinitas elektron pertama dan afinitas
elektron kedua?

JAWABAN :

1. Kecenderungan atom untuk berikatan disebabkan karena adanya elektron yang tidak
berpasangan pada kulit terluar suatu atom. Sifat lain yang sangat mempengaruhi perilaku
kimia atom-atom adalah kemampuannya untuk menerima satu atau lebih elektron, dimana
kemampuan ini disebut afinitas elektron. Berbeda dengan energi ionisasi, afinitas elektron
dapat berharga positif atau negatif. Jika satu elektron ditambahkan kepada atom yang stabil
dan sejumlah energi diserap maka afinitas elektronnya berharga positif. Jika dilepaskan
energi, afinitas elektronnya berharga negatif. Contohnya, ketika gas klor menerima elektron
untuk membentuk ion negatif.

Cl(g) + e- Cl-(g)

Dengan kata lain, energi ionisasi positif berarti bahwa energi harus diberikan untuk melepas
satu elektron. Di sisi lain, afinitas elektron postif berarti bahwa energi yang dilepaskan
ketika satu elektron ditambahkan ke suatu atom.

2.